Shadow Kiss ~ Bahasa Indonesia (chapter 3)

Wednesday, August 11, 2010 0 komentar

T iga: “MENGAPA TERLIHAT BEGITU MURAM, DHAMPIR KECIL?”


Aku sedang menyebrangi lapangan seperti biasa ketika aku mendeteksi adanya aroma rokok cengkeh. Aku mengeluh.


“Adrian, kau adalah orang terakhir yang ingin ketemui hari ini.” Adrian Ivashakov bergegas menyamai langkah disampingku, meniupkan asap rokok ke udara yang tentu saja berbalik ke arahku. Aku melambaikan tanganku untuk menghilangkan asap itu dan membuat pertunjukkan yang bagus dengan batuk yang berlebihan.


Adrian adalah salah satu bangsawan Moroi yang kami ‘peroleh’ dari perjalanan liburan ski kami. Dia beberapa tahun lebih tua dariku dan kembali ke St. Vladimir untuk mempelajari roh bersama Lissa. Sejauh ini, hanya dia pengendali roh yang kami tahu. Dia sombong dan manja dan menghabiskan sebagian besar dari waktunya dengan rokok, alkohol, dan wanita. Dia juga tergila-gila denganku – atau paling tidak menginginkan aku di ranjang.


“Tampaknya,” katanya. “Aku sangat susah bertemu denganmu sejak kita kembali. Jika aku tidak tahu kebenarannya, aku mungkin berpikir kalau kau sedang mengacuhkanku.”


“Aku memang sedang mengacuhkanmu.”
Dia menarik nafas keras dan mengarahkan tangannya ke rambut hitam kecoklatannya yang selalu terlihat penuh gaya, berantakan.

“Dengar, Rose. Kau tidak perlu lagi berurusan dengan hal sulit untuk memperoleh sesuatu. Kau sudah mendapatkan aku.” Adrian tahu dengan baik kalau aku tidak pernah berusaha keras untuk mendapatkan sesuatu,tapi dia selalu mendapatkan kesenangan dengan menggodaku.

“Aku benar-benar sedang tidak ingin berurusan dengan daya tarikmu hari ini.”

“Apa yang terjadi sebenarnya? Kau menginjak setiap genangan air yang bisa kau temukan, kau terlihat seperti ingin memukul orang yang pertama kali kau lihat.”

“Jadi, kenapa kau masih ada disekitar sini? Apa kau tidak khawatir mendapatkan salah satu pukulan?

“Aw, kau tidak akan menyakitiku. Wajahku terlalu tampan.”

“Tidak cukup tampan untuk membersihkan kotoran dari asap penyebab kanker yang bertiup di wajahku. Bagaimana kau melakukannya? Merokok tidak diizinkan di kampus. Abby Badica mendapat hukuman selama dua minggu karena tertangkap basah.”

“Aku diluar jangkauan peraturan, Rose. Aku bukan murid juga buka staf, hanya sebuah semangat bebas yang mengembara di sekolahmu.”

“Mungkin kau harus pergi melakukan beberapa pengembaraan sekarang.”

“Kau ingin bebas dariku, berarti kau harus katakan apa yang sedang terjadi.”
Tidak ada yang bisa di acuhkan dalam hal ini. Disamping itu, dia akan segera tahu. Setiap orang akan tahu.

“Aku mendapatkan Christian sebagai tugas lapanganku.”Ada jeda, dan kemudian Adrian meledak tertawa. Pada kenyataannya, kau sebenarnya terlihat sangat tenang.”

“Aku harusnya mendapatkan Lissa,” aku mengeram. “Aku tidak percaya mereka melakukan semua ini padaku.”

“Apa yang ‘mereka’ lakukan? Apakah ada kemungkinan kau tidak akan bersama Lissa setelah kau lulus nanti?”

“Tidak. Mereka melihat semua ini sebagai latihan untuk membuatku menjadi lebih hebat. Dimitri dan aku akan tetap menjadi pengawalnya nanti.” Adrian memiringkan matanya.

“Oh, aku yakin semua itu akan membuatmu sangat menderita.” Ini menjadi satu dari keanehan di alam semesta kenapa Lissa tidak pernah menyadari perasaanku pada Dimitri sedangkan Adrian sudah mengetahuinya.

“Seperti kataku tadi, komentarmu sangat tidak dibutuhkan hari ini.” Dia jelas tidak setuju. Aku punya perasaan curiga kalau dia habis minum, dan bahkan sekarang baru saja waktu makan siang. “Apa masalahnya? Bagaimanapun juga, Christian akan bersama Lissa sepanjang waktu.”

Adrian benar. Tidak satupun dari bagian diriku yang bisa menyangkalnya. Lalu, dalam perhatian jangka pendeknya, dia mengganti subjek pembicaraan ketika kami sudah mendekati gedung.

“Sudahkah aku menyebutkan tentang auramu?” dia bertanya tiba-tiba. Ada nada yang asing dalam suaranya. Keragu-raguan. Keingintahuan. Sangat tidak berkarakter. Apapun yang ia katakan selalu merupakan ejekan.

“Aku tidak tahu. Ya, sekali. Kau bilang auraku gelap atau apalah itu. Kenapa?” Aura adalah medan cahaya yang mengelilingi setiap orang. Warna dan keterangannya kata orang tergantung kepribadian dan energi seseorang. Hanya pengendali roh yang bisa melihatnya. Adrian sudah melakukannya selama yang pernah ia ingat sedangkan Lissa masih mempelajarinya.

“Sulit untuk dijelaskan. Mungkin tidak berarti apa-apa” Dia berhenti di dekat pintu dan menghisap dalam-dalam rokoknya. Dia mencoba menjauhkan asapnya dariku tapi angin membawanya kembali.

“Aura itu aneh. Warna dan keterangan mereka berkurang, mengalir dan berubah. sebagian warnanya hidup, sebagiannya lagi berwarna pucat. Sekali-sekali seseorang akan selesai dan terbakar dengan warna yang murni yang bisa kau ...” Dia merebahkan kepalanya ke belakang, menatap langit. Aku mengenali tanda ‘kegusaran’ aneh yang mampu menariknya jatuh.

“Kau bisa langsung memahaminya kan. Hanya seperti melihat ke dalam jiwamu.” Aku tersenyum.

“Tapi kau tidak bisa mengartikan milikku, huh? Atau apa arti dari warna-warna ini?”

Dia mengangkat bahu. “Aku mencoba mengartikannya. Kau berbicara dengan cukup banyak orang, meraba-raba untuk apa yang mereka suka dan kemudian mulai melihat orang-orang yang memiliki kesamaan dengan warna yang sama..... Setelah semua itu, warna-warna itu akan mulai terlihat berarti sesuatu.”

“Bagaimana auraku terlihat sekarang?” dia melirik ke arahku.

“Eh, aku tidak bisa benar-benar memahaminya hari ini.”

“Aku sudah tahu. Kau habis minum.” Zat-zat seperti alkohol atau obat-obat yang tepat, dapat menumpulkan kemampuan roh.

”Cukup tentang membicarakan hal-hal pengalih perhatian itu. Toh aku bisa menebak bagaimana auramu sekarang terlihat. Auranya seperti biasa sama saja dengan yang lainnya, jenis semacam warna-warna yang berputar-putar – hanyalah jenis dari sisi di dalam kegelapan. Seperti, kau selalu memiliki bayangan yang mengikutimu.” Sesuatu dalam suaranya membuatku menggigil. Meskipun aku mendengar dia dan Lissa banyak membicarakan tentang aura, aku tidak pernah benar-benar memikirkan kalau aku perlu mengkhawatirkan semua hal mengenai itu. Mereka hanya seperti bagian dari salah satu permainan saja – sebuah hal keren dengan tingkat kepentingan yang kecil.

“Semua itu sangat membantu,” kataku. “Apa kau pernah berpikir untuk memberikan pidato motivasi?” Wajah membingungkannya memudar dan wajah gembiranya normal kembali.

“Jangan takut, Dhampir kecil. Kau mungkin saja dikelilingi oleh awan, tapi kau selalu tampak seperti matahari yang bersinar terang untukku.” Aku memutar mataku. Dia melemparkan rokoknya ke samping jalan dan mematikannya dengan kakinya.

“Harus pergi. Sampai jumpa nanti.” Dia memberikan bungkukan menghormat padaku lalu mulai berjalan menjauh menuju rumah tamu.

“Kau melanggar aturan!” aku berteriak.

“Di luar aturan, Rose,” dia memanggil kembali. “Di luar aturan.”

Sambil menggelengkan kepala, aku mengambil puntung rokok yang dingin itu sekarang dan membuangnya ke bak sampah yang berada di luar gedung. Ketika aku masuk, hawa hangat dari dalam ruangan memberikan sambutan menyenangkan sembari aku menghentak-hentakkan kaki untuk membuang lumpur salju dari kedua sepatu bot ku. Jauh di dalam kantin, aku menemukan makan siang sudah terbungkus. Disini, dhampir duduk berdampingan dengan Moroi, memberikan pembelajaran dalam perbedaan. Dhampirs, dengan setengah darah manusia kami, terlihat lebih besar – tidak terlalu tinggi – dan lebih terbentuk kuat. Tubuh para novis wanita lebih berlekuk daripada gadis-gadis Moroi yang sangat kurus, novis laki-laki jauh lebih berotot dari pada rekan vampir mereka. Warna kulit Moroi pucat dan lembut, seperti keramik, sementara kulit kami lebih gelap karena mendapatkan lebih banyak sinar matahari di luar.

Lissa duduk sendirian di kursinya, terlihat tenang dan sangat anggun dalam balutan sweater putihnya. Rambut pirang pucatnya menjuntai indah hingga bahunya. Dia melirik kedatanganku dan rasa kegembiraan mengalir ke dalam diriku melalui ikatan batin kami.

Dia meringis. “Oh, lihat wajahmu. Apakah semua itu benar, benarkah? Kau sungguh ditugaskan dengan Christian.” Aku membelalakan mata.

“Apakah semua ini akan membunuhmu dan menjadikanmu sengsara?” Dia memberikan sebuah celaan padaku sebelum ia menunjukkan tampang gelinya sambil menjilat habis yogurt strawbery terakhir dari sendoknya.

“Maksudku, dia adalah pacarku sebenarnya. Aku bersamannya sepanjang waktu. Ini bukanlah hal yang buruk.”

“Kau punya kesabaran seorang biksu,” aku menggerutu, membungkuk di kursi. “Dan disamping itu, kau tidak jalan terus bersamanya selama 24/7.”

“Kau juga tidak. Kau hanya melakukannya selama 24/6.”

“Tidak ada bedanya. Ini sangat mungkin seperti 24/10.” Dia mengerutkan dahi. “Semua itu tidak mempengaruhi apa pun.” Aku mengabaikan ucapan idiotku dan menatap kosong keseputar ruang makan siang. Ruangan dipenuhi oleh dengungan berita ujian lapangan yang akan segera tiba, dimana akan segera dimulai secepat makan siang berakhir.

Sahabat Camille dipasangkan dengan sahabat Ryan, dan mereka berempat bergerombol riang gembira bersama, seolah mereka berpikiran untuk mulai berencana melakukan kencan ganda di enam minggu mendatang. Akhirnya seseorang menikmati semua ini. Aku menarik nafas panjang. Christian, seseorang yang akan segera menjadi tanggung jawabku, sedang berurusan dengan para donor – para manusia yang dengan senang hati mendonorkan darahnya untuk kaum Moroi.

Melalui ikatan kami, aku merasa Lissa ingin mengatakan sesuatu padaku. Dia menahannya sebab dia khawatir dengan suasana hatiku yang buruk dan ingin memastikan aku cukup banyak mendapatkan dukungan dulu. Aku tersenyum.

“Berhentilah mengkhawatirkan aku. Ada apa?” Dia tersenyum balik, bibir ber-lipgloss pinknya menyembunyikan taringnya.

“Aku mendapatkan izin.”

“Izin untuk -- ?” Jawaban melayang lebih cepat dari pikirannya dari pada ketika ia dapat mengatakannya.

“Apa?” Aku berseru. “Kau akan menghentikan konsumsi obatmu?” Roh adalah kekuatan yang luar biasa, satu dari kemampuan keren yang bisa kita mulai bayangkan. Kekuatan ini memiliki sisi buruk, seperti: dapat menjadikanya depresi dan gila. Bagian dari alasan Adrian kenapa ia minum begitu banyak (mengesampingkan kegemaran naturalnya untuk berpesta) yakni untuk menumpulkan kekuatannya dan melawan efek ini. Lissa lebih memilih jalan sehat dari pada melakukan apa yang dilakukan Adrian.

Dia meminum obat anti-depresi yang mampu menghilangkan kekuatannya sekaligus. Dia benci karena tidak mampu bekerja dengan roh lagi, tapi semua itu adalah pertukaran yang pantas untuk tidak menjadi gila. Sebenarnya, begitulah sebelumnya kurasa. Dia sebenarnya terlihat tidak setuju jika dia mempertimbangkan uji coba gila ini. Aku tahu dia ingin mencoba sihir lagi, tapi aku tidak pernah terpikir kalau ia akan memilih cara ini – atau bahwa seseorang mengizinkannya untuk melakukannya.

“Aku harus periksa dengan nona Carmack setiap hari dan secara teratus berbicara dengan pembimbing konseling.” Lissa membuat wajah yakin di bagian terakhir ini, namun perasaanya secara keseluruhan masih tidak menentu. “Aku tidak bisa menunggu untuk mengetahui apa yang bisa aku lakukan dengan Adrian.”

“Adrian adalah pengaruh buruk.”

“Dia tidak menyuruhku untuk melakukan ini, Rose. Aku yang memilih semua ini.” Ketika aku tidak menjawab, dia perlahan-lahan menyentuh tanganku. “ Hey, dengar. jangan khawatir. Aku akan sangat baik-baik saja dan ada banyak orang-orang yang menunggu diriku kembali seperti dulu.”

“Semua orang kecuali aku,” aku berkata prihatin. Di seberang ruangan, Christian masuk melalui pintu kembar dan mendatangi kami. Jam menunjukkan waktu makan siang akan berakhir lima menit lagi.

“Oh Tuhan. Waktu akan segera berakhir.” Christian menarik sebuah kursi di meja kami dan memutarnya ke belakang, membiarkan dagunya beristirahat di kedudukan kursinya. Dia menjauhkan rambut hitamnya dari mata birunya dan memberikan kami sebuah senyum angkuh. Aku merasakan hati Lissa menjadi ringan karena kedatangannya.

“Aku tidak bisa menunggu sampai pertunjukkan segera berlangsung,” katanya. “Kau dan aku akan mengalami hal-hal yang menyenangkan, Rose. Menyibak tirai, saling menatakan rambut bersama, membicarakan cerita hantu.” Rujukan mengenai ‘cerita hantu’ lebih membuatku merasa lebih nyaman dan familiar. Bukan karena tidak memilih menyibak tirai dan saling menyisir terlihat lebih menyenangkan. Aku menggelengkan kepala dengan jengkel dan berdiri.

“Aku akan meninggalkan kalian berduaan saja untuk beberapa menit terakhir momen pribadi kalian ini.” Mereka tertawa.

Aku berjalan di antrian makan siang, berharap menemukan beberapa donat yang terlewatkan dari sarapan. Sejauh ini, aku melihat croissants, quiche, dan rebusan buah pir. Ini pastilah hari mengangkat alis untuk kantin. Apakah adonan goreng kering terlalu berlebihan untuk menu disini? Eddie berdiri di depanku. Wajahnya langsung berubah menunjukkan permintaan maaf ketika ia melihatku.

“Rose, aku sungguh minta maaf –“
Aku mengangkat tangan untuk menghentikannya. “Jangan khawatir. Ini bukan kesalahanmu. Hanya saja berjanjilah padaku kalau kau akan melakukan sebaik yang kau bisa untuk menjaganya.”

Ini merupakan perasaan konyol karena Lissa tidak benar-benar dalam bahaya, tapi aku tidak pernah benar-benar bisa berhenti mengkhawatirkannya – khususnya mengenai kejelasan perkembangan Lissa mengenai pengobatannya.

Eddie tetap serius, rupanya ia tidak berpikir kalau permintaanku itu konyol. Dia adalah satu dari beberapa orang yang tahu tentang kemampuan Lissa – dan sisi lainnya, yang kemungkinan karena itu lah ia dipilih untuk menjaga Lissa.

“Aku tidak akan membiarkan satu halpun terjadinya padanya. Aku bersungguh-sungguh.”

Aku tidak dapat menolak untuk tersenyum, meski suasana hatiku sedang suram. Pengalamannya dengan Strigoi membuatnya melihat semua ini lebih serius dibandingkan dengan semua novis lain yang ada disini. Selain aku, dia mungkin adalah pilihan terbaik untuk mengawal Lissa.

“Rose, apa benar kau memukul Pengawal Petrov?” Aku berbalik dan melihat wajah dua Moroi, Jesse Zeklos dan Ralf Sarcozy. Mereka memasuki antrian diantara aku dan Eddie dan terlihat sangat sombong dan mengesalkan daripada biasanya. Jesse adalah cowok tampan dan pemikir cepat. Ralf adalah sisi kebalikannya: tidak menarik dan tidak pintar. Mereka mungkin adalah dua orang yang paling kubenci di sekolah ini, terutama karena beberapa gosip kotor yang mereka sebarkan tentang diriku yang melakukan beberapa hal bohong dengan mereka. Karena tangan kuat Masonlah yang mampu memaksa mereka untuk mengatakan yang sebenarnya kepada seluruh orang di sekolah, dan aku tidak terpikir kalau mereka bisa memaafkan aku karena semua itu.

“Memukul Alberta? Hampir.” Aku hendak berbalik, tapi Ralf terus berbicara.

“Kami dengar kau melempar sebuah serangan celaan di tempat berkumpul ketika kau mengetahui dengan siapa kau dipasangkan.”

“Serangan celaan? Berapa umur kalian, enam tahun? Apa yang kulakkan adalah – “ Aku berhenti dan berhati-hati untuk memilih kata-kataku. “- menyatakan pendapatku.”

“Baiklah,” kata Jesse. “Aku menduga siapapun yang seharusnya waspada terhadap Strigoi palsu, sangat mungkin adalah dirimu orangnya. Kau orang teragresif disekitar sini.”

Nada balas dendam di dalam suaranya seolah ia sedang memujiku. Aku sama sekali tidak bisa melihat dalam cara pandang itu. Sebelum dia mengucapkan kata yang lain, aku berdiri tepat di depannya, dengan jarak yang sangat dekat. Dari apa yang kusebut sebagai kesadaranku terhadap pertanda dari kedisiplinan, aku tidak meletakkan tanganku di lehernya. Matanya melebar terkejut.

“Christian tidak punya urusan apa-apa dengan Strigoi manapun,” kataku dalam suara rendah.

“Orang tuanya – “

“Itu orang tuanya. Dan dia adalah Christian. Jangan menghubung-hubungkan mereka.” Jesse salah mengartikan sisi kemarahanku sebelumnya. Dia mengingat dengan jelas semua itu, dan ketakutannya berperang melawan hasratnya sendiri untuk membicarakan keburukan Christian di depanku. Mengejutkan sekali hal terakhir tersebut tidak keluar.

“Baru saja kau bertingkah seolah dunia akan berakhir ketika kau dipasangkan dengannya, dan sekarang kau membelanya? Kau tahu bagaimana dia – dia melanggar aturan setiap saat. Apa kau serius mau bilang kalau kau tidak percaya bahwa ada kemungkinan dia berubah menjadi Strigoi seperti orang tuanya nanti?”

“Tidak ada kemungkinan,” kataku. “Sama sekali tidak mungkin. Christian lebih mungkin mengambil posisi untuk menyerang Strigoi dibandingkan semua Moroi lain disini.” Mata Jesse mengerjap penasaran ke arah Ralf sebelum kembali menatapku.

“Dia bahkan menolongku melawan Strigoi di Spokane. Tidak pernah ada kemungkinan dari dalam dirinya untuk menjadi Strigoi.” Aku menyiksa otakku, mencoba mengingat siapa yang bertugas menjaga Jesse di latihan lapangan nanti.

“Dan jika aku mendengar kau menyebarkan bualan tentang semua itu, Dean tidak akan mampu menyelamatkanmu dariku.”

“Atau aku,” tambah eddie, yang datang dan berdiri di samping kanan ku. Jesse menelan ludah dan mengambil langkah mundur.

“Kalian pembohong. Kalian tidak bisa menyentuhku. Jika kalian mendapat hukuman sekarang, kalian tidak akan pernah bisa lulus.” Dia benar, tentu saja, tapi aku tersenyum.

“Mungkin itu sebanding dengan apa yang aku lakukan. Kita akan lihat nanti, huh?” Itu merupakan tanda kalau Jesse dan Ralf memutuskan kalau mereka tidak menginginkan apa-apa dari antrian makan siang. Mereka berjalan menjauh dan aku mendengar sesuatu yang mencurigkan seperti “perempuan jalang gila.”

“Orang-orang tolol,” aku memberengut. Kemudian hatiku kembali cerah. “Oh, lihat. Donat.”

Aku mendapatkan segelas cokelat dan kemudian Eddie dan aku segera kembali kepada Moroi kami dan kembali ke kelas. Dia menyeringai kearahku.

“Jika aku tidak tahu apapun, aku bisa mengira kalau kau sedang membela kehormatan Christian. Apakah dia membuatmu merasa sakit?”

“Ya,” kataku sambil menjilati es di jari-jariku. “Dia memang menyakitiku. Tapi untuk enam minggu mendatang, dia yang akan menjadi rasa sakitku.”




{diterjemahkan dari Shadow Kissed karya Richelle Mead}
dibuat hanya untuk kesenangan pribadi, terjemahan ini merupakan fanmade, masih tetap setia menunggu bukunya terbit!


0 komentar:

Post a Comment

 

Blog archive

Please, Keep in Touch!

©Copyright 2011 Love Your Life | TNB