Senin, 04 Januari 2010

ABBA SOS Indonesian Lyric


Dimana hari-hari bahagia itu, mereka seperti sangat susah ditemukan.

Aku berusaha menjangkaumu, Tapi kau menutup pikiranmu

Apa yang terjadi dengan cinta kita

IKuharap aku bisa mengerti

Itu akan lebih mudah, itu akan lebih baik


 

Jadi, ketika kau dekat dengan diriku, Bisakah kau mendengarku , sayang?

SOS

Tidak ada yang bisa menyelamatkanku selain cinta yang kau beri untukku

SOS

Ketika kau pergi

Bagaimana aku bisa mencoba untuk bertahan?

Ketika kau pergi

Pikirkan bagaimana aku bisa melanjutkan hidupku?


 

Kau terlihat sangat jauh walaupun kau berdiri di dekatku

Kau telah membuatku merasa hidup, tapi aku takut sesuatu telah mati

Aku benar-benar mencoba untuk mengerti semua itu

Kuharap aku mengerti


 

Note: Aku harap aku benar2 bisa mengerti keadaannya, keadaan kami, keadaanku sendiri.

Aku benar-benar merasa sakit sekaligus bingung.

SOS!!!!


 


 


 

Continue reading...

ABBA SOS Lyric


Where are those happy days, they seem so hard to find

I try to reach for you, but you have closed your mind

Whatever happened to our love

I wish I understood

It used to be so nice, it used to be so good


 

So when you're near me, darling can't you hear me

SOS

The love you gave me, nothing else can save me

SOS

When you're gone (when you're gone)

How can I even try to go on

When you're gone (when you're gone)

Though I try how can I carry on


 

You seem so far away though you are standing near

You made me feel alive, but something died I fear

I really tried to make it out

I wish I understood

What happened to our love, it used to be so good


 

So when you're near me, darling can't you hear me

SOS

The love you gave me, nothing else can save me

SOS

When you're gone (when your gone)

How can I even try to go on

When you're gone (when your gone)

Though I try how can I carry on


 

So when you're near me, darling can't you hear me

SOS

And the love you gave me, nothing else can save me

SOS

When you're gone (when you're gone)

How can I even try to go on


 

When you're gone (when you're gone)

Though I try how can I carry on

When you're gone (when you're gone)

How can I even try to go on

When you're gone (when your gone)

Though I try how can I carry on


 

Note: This is my song in this month!!


 

Continue reading...

Rabu, 21 Oktober 2009

Geisha: Seniman



Honestly, aku bener-bener seneng sama yang namanya Geisha, ceritanya, novel tentang geisha 'Memoirs Of Geisha' karya Arthur Golden, trus film yang diangkat dari novel itu, Novelnya Remy Sylado 'Kembang Jepun', bahkan komiknya pun aku suka ('Madamoseille Butterfly').
Geisha sendiri berarti seniman. Mengesampingkan pekerjaan mereka dengan 'menghibur pelanggan', keterikatan mereka terhadap budaya mereka, membuatku bener-bener salut.

Sebenernya ga ada hubungannya dengan cerita yang di atas, tapi sekarang ada band yang namanya Geisha dan lagu-lagunya itu loooooo,,,,dalem,,,,
Satu lagu yang kadang-kadang bikin aku nangis kalo lagi denger sendiri. Judulnya 'Jika Cinta Dia' .
Terlampau sering kau buang air mataku
Tak pernah kau tau dalamnya rasa cintaku
Tak banyak inginku
Jangan kau ulangi
Menyakiti aku sesuka kelakuanmu
Ku bukan manusia yang tidak berpikir
Berulang kali kau lakukan itu padaku
Teramat sering kau membuat patah hatiku
Kau datang padanya
Tak pernah ku tau
Kau tinggalkan aku
Disaat kubutuhkanmu
Cinta tak begini selama ku tau
Tetapi ku lemah karena Cintaku padamu*

* Liriknya bikin seolah ada adegan flashback di depan mataku!
**buat reff nya terkadang aku rada gimana gituh dengernya,, jadi terkadang aku plesetin buat menghibur diri sendiri (maap) jadi gini : Jika tak cinta dia, Lupakan dirinya, Tinggalkan dia disana tanpa senyumanmu, Jika tak cinta dia, kucoba mengerti, dia cuma mainan sesaatmu,,,, (hahahahahahaha)



Continue reading...

Senin, 12 Oktober 2009

Virginitas : Save or Not ?



BANJARMASIN – Mempertanyakan pentingnya sebuah virginitas bukan lagi hal yang baru di Indonesia. Ketabuan jadi semakin longgar selaras dengan budaya asing yang full demokrasi perlahan masuk mengkontaminasi pikiran putra putri bangsa. Hal yang dulu dianggap 'famali' untuk dibicarakan, sekarang bebas untuk diteriakkan oleh siapapun. Bahkan anak kecil baru belajar bicara pun mulai tahu beberapa kosakata yang belum pantas untuk umurannya.

Terlepas dari pantas tidaknya kosakata tersebut, virginitas ibarat bunga yang menyeruak di tengah musim semi, selalu menjadi bahan perbincangan yang tidak pernah aus setiap detiknya. Meski berulang kali menjadi judul pembahasan yang hangat, penting tidaknya virginitas sebelum menikah selalu mendapat jawaban berbeda dari tiap sisi wajah.

Menurut Naning Pranoto dalam bukunya Virgin? Sex and Teens, keperawanan atau virginitas (virginity) disebut pula sebagai selaput dara atau hymen. Ia berupa selaput tipis yang menutupi 'pintu' rongga vagina. Selaput ini akan robek bila yang empunya melakukan hubungan seksual dengan lawan jenis. Itulah makanya, seorang cewek yang belum robek hymennya disebut masih gadis atau masih perawan.

Bagi masyarakat Banjarmasin sendiri, keperawanan merupakan hal yang perlu dipertahankan. Terlebih sebagian besar masyarakat di provinsi ini merupakan masyarakat agamis yang masih berpegang teguh pada norma agama.

Namun tak elak jika terjadi perbedaan pendapat antara kaum tua dengan kaum muda. Faktanya, di antara orang-orang yang masih menganggap keperawanan sebagai lambang kesucian yang sakral, yang harus dipertahankan sampai menginjak singgasana pelaminan, ada sebagian remaja yang tampak mulai mengikis anggapan itu.

Sebut saja Arini (bukan nama sebenarnya), gadis berdarah jawa-banjar ini mengaku sudah tidak perawan lagi sejak duduk di bangku SMA. Meski terkesan malu-malu, ia mengungkapkan alasan yang ia percaya sebagai dasar untuk membenarkan perbuatannya. "Keperawanan itu penting, namun cinta itu lebih penting," ujarnya. Ketika ditanya perihal apakah menyesal setelah tidak lagi menjadi seorang 'gadis perawan', Arini menjawab dengan mantap,"Saya tidak menyesal, karena saya memberikannya kepada orang yang saya cintai."

Apa yang terjadi terhadap Arini biasa disebut oleh masyarakat konvensional sebagai 'cinta buta'. Menurut Naning, apa yang dialami oleh Arini itu bukanlah cinta melainkan libido. Libido merupakan keinginan atau dorongan untuk melakukan hubungan seks. Di dalam bukunya, ia menjelaskan bahwa hampir 97% seseorang jatuh cinta pada lawan jenisnya karena didorong atau digerakkan oleh libidonya. Jadi, hanya 3% yang jatuh cinta pada lawan jenisnya karena pure atau murni jatuh cinta.

Lain Arini lain pula Isna. Gadis perantauan yang baru saja mengenal Banjarmasin ini juga mengaku sudah tidak perawan lagi. Setelah mengenal Andi, seorang pemuda gaul Banjarmasin, Isna kehilangan keperawanannya tepat sebulan setelah 'jadian'. "Mau gimana lagi, teman-teman di kost saya pada manas-manasin. Katanya rugi kalau nggak pernah ML. Mereka juga cerita kalau mereka sudah sering begituan," ujarnya dengan mata menerawang.

Karena tergoda oleh iming-iming kenikmatan sesaat oleh teman satu atap, Isna akhirnya tidak mampu mempertahankan kesuciannya. "Pacarku bilang katanya ini untuk pembuktian cinta. Trus dia bilang dia bakal bertanggung jawab kalau ada apa-apa," lanjutnya sambil memain-mainkan rambut rebonding-nya.

"Tapi jangankan bertanggung jawab, sekarang aja kami udah nggak punya hubungan apa-apa lagi. Udah putus beberapa bulan yang lalu," katanya sambil tertawa kecil. Tidak terlihat rasa penyesalan sedikitpun di wajah cantiknya. Untungnya, Isna tidak merasa dunia akan segera kiamat setelah ia pisah dengan lelaki yang sudah merenggut harta keperempuanannya itu. Ia bahkan membanggakan pacar barunya yang 'katanya' menerima ia apa adanya.

Berbalik sudut pandang, tanggapan berbeda didapat ketika masalah virginitas ini ditanyakan kepada para kaum Adam. Keyya misalnya, cowok yang masih berstatus mahasiswa ini berpendapat tidak masalah kalau perempuan sudah tidak lagi perawan. Baginya kecocokan lebih penting dibanding mempermasalahkan keperawanan di dalam hubungan yang ia bina. "Toh aku juga udah nggak perjaka lagi, jadi nggak masalah sih bagiku kalau dapat pacar atau istri yang juga udah nggak perawan lagi," ungkapnya jujur. "Yang penting dalam hubungan itu adalah kesetiaan," lanjutnya lagi serius.

Laki-laki yang hanya bisa ditanyai via telepon ini mengaku sudah beberapa kali 'mecah duren' anak perawan. "Kami melakukannya lantaran sama-sama suka. Nggak ada unsur paksaan kok," ujarnya kalem.

Berbeda dengan Keyya, Ayan tidak sependapat jika keperawanan dijadikan masalah kesekian dalam membangun suatu hubungan. "Keperawanan itu penting karena merupakan bukti bahwa seorang gadis bisa menjaga dirinya dengan baik," kata mahasiwa disatu PTN di Banjarmasin itu. Saat ditanya bagaimana jika wanita yang ia cintai ternyata sudah tidak perawan lagi, Ayan menjawab dengan tegas, "Lebih baik putus saja. Jika dari awal tidak ada kejujuran, hubungan tidak bisa dilanjutkan ke arah yang lebih serius."

Ayan pun menambahkan, gadis baik-baik juga akan mendapat laki-laki yang baik pula. Menurutnya tidak pantas jika seorang lelaki yang tidak lagi perjaka mengharapkan gadis yang masih virgin. "Wanita sudah seharusnya menjaga harta mereka yang paling berharga dan sebagai laki-laki sudah sepantasnya menghargai seorang wanita."

"Keperawanan itu penting, tapi bukan yang utama," ujar Shesa. Gadis manis keturunan Cina ini berpendapat masih banyak hal yang lebih penting dari sekedar meributkan perawan tidaknya seorang gadis. Namun ia tetap setuju bahwa virginitas tetap harus dijaga sampai seorang gadis resmi berubah status menjadi seorang istri. "Saya tentu saja akan menyimpan keperawanan saya sebagai kado terindah untuk suami saya kelak,"lanjutnya pasti.

Serupa dengan Shesa, Rina pun berpendapat sama. Hanya saja ia tidak menolak jika seandainya harus menyerahakan keperawanannya kepada orang yang ia cintai. "Asalkan udah pasti seratus persen bakal nikah," kata gadis yang masih virgin ini sambil tertawa keras.

"Keperawanan adalah simbol kesucian seorang wanita. Apalagi sebagai gadis timur yang beragama, sudah sepatutnyalah kita menjaga apa yang memang seharusnya kita jaga. Malam pertama akan lebih berkesan jika dilakukan dalam suasana yang sakral atas restu orang tua serta sah di mata agama dan hukum. Tentu saja kita tidak bisa meniru masyarakat barat yang kebanyakan berpendapat kalau virginity hanyalah persoalan selaput dara semata. Sehingga mereka menghalalkan reparasi hymen hanya untuk mengembalikan selaput daranya seperti sedia kala. Padahal keperawanan tidak hanya berfokus pada rusak tidaknya selaput dara, tapi pernah tidaknya kita menyerahkan diri sepenuhnya kepada seseorang," papar Enna, seorang mahasiswa tingkat 3 di Banjarmasin.(Enoy)

Continue reading...

Kamis, 08 Oktober 2009

Kritik Sastra : Perempuan Bali dan Tiga Versi Cinta dalam Tarian Bumi



Oleh Noor Sa'adah

Jika perempuan dan cinta bisa diibaratkan dengan sesuatu, maka kita seperti berhadapan dengan satu paket komplit yang isinya saling melengkapi. Ada wanita maka ada cinta, katanya. Kata siapa? Kata orang-orang yang sudah diliputi oleh paradigma perempuan pakai perasaan, lelaki pakai logika. Entah benar tidaknya, kembali kepada pengandaian semula ketika perempuan dan cinta disamadengankan dengan sesuatu. Sayangnya, tidak ada kata yang pantas untuk membandingkan kedua 'hal' tersebut dengan benda, barang atau bentuk-bentuk konkret yang lain. Bukannya bermaksud meninggikan, tapi perempuan dan cinta merupakan anugerah dari Tuhan yang patut dan seharusnya dijaga, jelas bukan barang yang mudah dibuang-buang.

Dari zaman baheula hingga era hi-tech seperti sekarang, anggapan tentang perempuan sebagai sosok yang lebih melankolis tidak pernah terkikis, meski Kartini-Kartini moderen telah lahir dan dengan gagah berani menentang diskriminasi, perempuan tetap saja perempuan. Makhluk Tuhan yang kerap kali tersakiti, baik karena kelemahannya maupun karena kesabarannya.

Bagi Perempuan, kaum Adam adalah kaum yang egosentris, sedang bagi laki-laki perempuan adalah bagian dari kehidupan yang sangat komplek. Memahami satu sama lain bukan hal yang mudah, tapi bukan hal yang tidak mungkin pula. Deskripsi perempuan di mata laki-laki dan perempuan di mata perempuan sering kali berbeda. Perbedaan pandangan ini dapat tercermin dari banyak hal yang sudah ada di sekeliling kita, misalnya lirik lagu, film, dan karya sastra. Namun secara umum dapat ditarik kesimpulan tetang bagaimana sosok perempuan digambarkan dari kacamata laki-laki yang memang berbeda dari sisi perempuan sendiri.

Kaitan antara perempuan dan cinta pun seumpama jarum dan benang, saling berhubungan satu sama lain. Perempuan membawa cinta dalam tiga masa kehidupannya, ketika ia menjadi seorang anak, seorang istri, dan seorang ibu. Ketiga sosok perempuan dengan cinta mereka itulah yang direfleksikan dengan apik oleh Oka Rusmini dalam Tarian Bumi. Sebuah novel yang menceritakan sosok perempuan Bali yang terkungkung dalam budaya patriarki dan adat budaya yang kental dari sudut pandang seorang penulis perempuan.

Novel karya penulis yang sering memperoleh penghargaan ini mengangkat tiga tokoh perempuan perkasa yang berjuang untuk meraih mimpi dan cinta meski itu berarti penderitaan seumur hidup bagi mereka. Mengagumakan sekaligus membingungkan. Itulah kesan pertama yang saya dapat ketika pertama kali membacanya. Saya baru menyadari daya tarik novel ini yang begitu kuat setelah membacanya untuk kedua kalinya.

Mengagumkan karena dalam novel ini perempuan digambarkan kuat di atas kelemahan yang mereka miliki. Mengagumkan karena sosok perempuan Bali tergambar jelas, nyata, tanpa terasa melebih-lebihkan. Novel ini serasa membawa Bali kehadapan kita dan seolah membuat kita seperti telah lama mengenal Bali bersama adat budayanya, tidak hanya sekedar pengetahuan dangkal tentang Bali dan pariwisatanya. Ibaratnya, jika dulu saya mengenal Bali lewat cover keindahan dan keunikan daerah dan masyarakatnya saja, sekarang saya benar-benar seperti diperbolehkan menyentuh bagian Bali yang rahasia.

Tiga perempuan Bali dalam novel ini, Ida Ayu Sagra Pidada, Luh Sekar (Jero Kenanga) dan Ida Ayu Telaga Pidada, cukup mewakilkan sosok perempuan bali meski mungkin belum semuanya. Konflik yang terjadi dalam novel yang membuat penulisnya terpilih sebagai "Penerima Penghargaan Penulisan Karya sastra 2003" Oleh Departemen Pendidikan Nasional Indonesia ini cukup rumit. Ada ambisi, ego, dan cinta yang mewarnai jalinan kisahnya.

Dalam novel ini, penggambaran positif tentang perempuan dan laki-laki memang agak kurang seimbang. Penulis cenderung memihak kepada kaum Hawa yang lebih banyak tertindas dan terjebak aturan. Meski kakek Telaga, Ida bagus Tugur, digambarkan baik pada bagian-bagian terakhir, tetap saja pada awalnya sosok Tugur digambarkan sebagai laki-laki yang egois. Saya merasa ini hanya taktik penulis untuk menyeimbangkan peran gender dalam novel ini, karena akan terasa jelek jika semua laki-laki dalam novel ini terus-terusan digambarkan sebagai makhluk kasar yang tidak pernah sadar. Kaum Adam seolah menjadi kaum antagonis yang egois dan suka merendahkan perempuan dalam beberapa bagian dalam novel ini. Seperti yang tergambar dalam percakan Luh Kenten, perempuan Sudra dengan ibunya berikut ini.

"Sungguh, Meme, aku ingin melakukannya. Bahkan kudengar laki-laki yang sering mencubit pantatku istrinya dua. Laki-laki tukang kawin. Padahal dia tidak punya pekerjaan yang bisa menopang keluarganya. Meme tahu apa yang dia katakana ke teman-temannya?"

"Bicara apa dia?!"

"Carilah perempuan yang mandiri dan mendatangkan uang. Itu kuncinya agar hidup laki-laki bisa makmur, bisa tenang. Perempuan tidak menuntut apa-apa. Mereka cuma perlu kasih sayang, cinta, dan perhatian. Kalau itu sudah bisa kita penuhi, mereka tak akan cerewet. Puji-puji saja mereka. Lebih sering bohong lebih baik. Mereka menyukainya. Itulah ketololan perempuan. Tapi ketika berhadapan dengan mereka, mainkanlah peran pengabdian, hamba mereka. Pada saat seperti itu perempuan akan menghargai kita. Melayani kita tanpa kita minta. Itu kata laki-laki di warung, Meme. Benarkah kata-kata itu?"

Selain percakapan di atas masih banyak lagi sifat negatif laki-laki yang dimunculkan dalam novel ini. Namun dengan lihai pula, penulis memunculkan sedikit perilaku negatif kaum Hawa sebagai penyeimbangnya.

Tokoh perempuan yang digambarkan dalam novel ini penuh konflik yang berasal dari diri mereka masing-masing serta pengaruh faktor 'x' dari lingkungan dan laki-laki mereka. Konflik itu dipengaruhi oleh 'id, ego, dan superego' (Teori Kepribadian Freud). Bahkan ada konflik batin tentang 'cinta terlarang' antara Luh Sekar dan Luh Kenten. Cinta yang tulus dari seorang perempuan untuk perempuan.

Menurut Freud, kepribadian seseorang dapat terbentuk dengan baik jika id, ego, dan superego-nya seimbang. Dalam Novel ini, yang paling seimbang struktur kepribadiannya adalah Telaga, sang tokoh utama. Perempuan ini digambarkan mampu mengatasi guncangan jiwanya dengan baik. Berbeda dengan dua tokoh yang lain, Sagra Pidada dan Luh Sekar, yang faktor id-nya lebih dominan daripada ego dan superego-nya sehingga membentuk pribadi yang keras dan tidak bisa mengontrol emosi. Ketidakstabilan merekalah yang menimbulkan kecemasan yang melahirkan konflik-konflik seru dan membuat warna tersendiri dalam cerita ini. Menariknya, ketiga tokoh perempuannyanya sama-sama memiliki ambisi yang kuat, Pidada yang ingin memurnikan kastanya, Sekar yang ingin menaikan derajatnya, dan Telaga yang rela melepas semua yang ia miliki demi mengejar cinta sejatinya.

Di tengah amukan konflik mengenai kebangsawanan, ternyata aroma cinta tidak bisa dihilangkan dalam novel ini sekalipun. Meski di kelilingi oleh sumpah serapah yang diedarkan secara lugas, baik oleh tokohnya maupun dari sisi penceritanya, cinta masih ada dalam bentuk aneka rupa. Cinta terpendam Pidada terhadap suaminya sendiri yang akhirnya berbuah bertepuk sebelah tangan. Cintanya terhadap anak laki-laki satu-satunya yang akhirnya juga menghancurkan hatinya sendiri. Cinta Luh Sekar terhadap sebuah kebangsawanan. Rasa sakit dan penderitaan yang membuatnya buta terhadap arti kebahagian yang sesungguhnya. Atau cinta Pidada kepada seorang pria Sudra yang membuatnya rela menghilangkan kebangsawanannya yang ironisnya didapatkanya dari seorang ibu yang mau menukar kebangsawaanaan itu dengan penderitaan sepanjang hayat.

Cinta dalam novel ini mengagumkan, bukan cinta yang 'Lebai', bukan cinta yang berderai-derai air mata. Tapi cinta yang disuguhkan dengan cara yang berbeda, cinta yang biasanya bukan menjadi doa setiap manusia. Jenis cinta yang biasanya tidak diharapkan oleh kebanyakan orang. Cinta yang hadir dalam sebuah realita bukan sekedar ilusi atau mimpi. Tiga versi cinta dalam novel ini, yakni cinta ibu kepada anak, perempuan kepada kekasihnya, dan anak kepada ibu, menunjukkan bahwa cinta itu murni meski tanpa disadari diracuni oleh ambisi.

Akan tetapi, selain mengagumi, ada hal-hal yang membingungkan dalam novel ini yakni dari sisi penceritaannya. Mungkin tidak terlalu masalah karena sudut pandangnya adalah sudut pandang pencerita. Namun, yang aneh adalah tokoh di dalam cerita akan menceritakan tokoh lain dari masa lalunya yang kemudian disambung dengan tokoh lain yang berbeda. Alhasil saya dibuat pusing menebak-nebak siapa yang saat itu sedang diceritakan. Mungkin, penulis bermaksid membuat novel ini sedikit berbeda, tapi bagi saya hal ini sedikit memusingkan. Untungnya hal ini tidak menjadi soal ketika saya membacanya sekali lagi.

Sayangnya, novel ini hanya memaparkan konflik perempuan-perempuan Bali bersama cintanya dalam 182 halaman saja. Jika dibandingkan dengan novel bertemakan perjuangan kaum Hawa yang lain, novel ini masih terbilang tipis.

Akhirnya memang tidak ada yang digambarkan sempurna dalam novel ini, tidak perempuannya tidak pula laki-lakinya. Memang tidak ada yang sempurna meski masih banyak orang yang masih saja mengejar-ngejar kesempurnaan itu. Tidak pula cinta, seperti satu dari beberapa pesan yang tertulis liar dalam buku ini.

"Kelak, Kalau kau jatuh cinta pada seorang laki-laki, kau harus mengumpulkan beratus-ratus pertanyaan yang harus kausimpan. Jangan pernah ada orang lain tahu bahwa kau sedang menguji dirimu apakah kau memiliki cinta yang sesungguhnya atau sebaliknya. Bila kau bisa menjawab beratus-ratus pertanyaan itu, kau mulai memasuki tahap berikutnya. Apa untungnya laki-laki itu untukmu? Kau harus berani menjawabnya. Kau harus yakin dengan kesimpulan-kesimpulan yang kau munculkan sendiri. Setelah itu, endapkan! Biarkan jawaban-jawaban dari ratusan pertanyaanmu itu menguasai otakmu. Jangan pernah menikah hanya karena kebutuhan atau dipaksa oleh sistem. Menikahlah kau dengan laki-laki yang mampu memberimu ketenangan, cinta, dan kasih. Yakinkan dirimu bahwa kau memang memerlukan laki-laki itu dalam hidupmu. Kalau kau tak yakin, jangan coba-coba mengambil resiko."

Cukup satu ungkapan yang bisa menggambarkan pesan di atas, luar biasa!

Continue reading...

,,eclipse,,

 

teRsEsaT daLaM kAbuT? Copyright © 2009 Cosmetic Girl Designed by Ipietoon | In Collaboration with FIFA
Girl Illustration Copyrighted to Dapino Colada