Sunday, February 19, 2012

Spirit Bound ~ Bahasa Indonesia (Chapter 2) part I

U JIANKU TERASA TERLIHAT SAMAR.
Kau pasti berpikir, mengingat ujian ini merupakan bagian paling penting dalan kehidupan pendidikanku di ST. Vladimir, sehingga aku harusnya mengingat segalanya dalam kesempurnaan, detil yang mengagumkan. Namun pikiran terbaruku sepertinya menyadarkanku. Bagaimana bisa semua ukuran ini sebanding dengan apa yang pernah aku alami? Bagaimana bisa pertempuran pura-pura ini dibandingkan dengan kepungan Strigoi yang menyerbu sekolah kami? Aku harus berdiri memunggungi perasaan aneh yang melimpah, tidak mengetahui jika dia yang kucintai masih hidup atau telah mati.

Dan bagaimana bisa aku takut pada pertarungan dengan satu dari instruktur sekolahku setelah mengalami perkelahian dengan Dimitri? Dia sangan mematikan saat menjadi dhampir dan tambah parah saat menjadi Strigoi. Tidak satupun dari semua yag aku maksudkan itu bisa menerangi ujian ini. Ujian ini serius. Banyak novis yang gagal dalam ujian ini selama ini, dan aku menolak untuk menjadi salah satu dari mereka. Aku telah diserang dari segala sisi, oleh para pengawal yang telah bertarung dan melindungi Moroi sejak sebelum aku nlahir. Arena pertarungan tidak datar, yang artinya begitu rumit di segala bagian. Mereka memenuhi arena dengan alat-alat aneh dan banyak rintangan, balok dan pijakan yang menguji keseimbanganku – termasuk sebuah jembatan yang telah mengingatkanku secara menyakitkan tentang malam terakhir aku melihat Dimitri. Aku mendorongnya setalh menancapkan sebuah pasah perak ke jantungnya – sebuah pasak yang jatuh saat ia terjerembab ke dalam sungai di bawah jembatan.



Jembatan di arena sedikit berbeda dengan jembatan kayu yang kuat seperti tempat dimana Dimitri dan aku berkelahi di Siberia. Jembatan yang ini reyot, jalan kecil dengan konstruksi yang buruk yang terbuat dari potongan kayu dengan hanya ada tali yang memagari sebagi dukungan terhadap jembatan itu.n Setiap langakh membuat seluruh jembatan bergoyang dan mengayun, dan lubang-lubang di papan menunjukkan padaku dimana tempat para mantan teman sekelasku (dengan tidak beruntung bagi mereka) menemui titik kelemahan. 

Ujian yang mereka tugaskan untuku di jemabatn mungkin adalah yang paling burung diantara semuanya. Tujuanku adalah unutk mendapatkan “Moroi” dan menjauhkannya dari kelompok “Strigoi” yang sedang mengejar. Moroi sedang diperankan oleh Daniel, pengawal baru yang datang bersama pengawal lai ke sekolah untuk menggantikan para pengawal yang terbunuh dalam penyerangan. Aku tidak terlalu mengenalnya, tapi untuk ujian kali ini, dia berperan sungguh sangat jinak dan tidak berguna – bahakn sedikit ketakutan, sama seeprti Moroi manapun yang mungkin akan ku kawal kelak.

Dia memberiku sedikit perlawanan saat menginjak jembatan itu, dan aku menggunakan keahlian ketenanganku, lebih banyak menggunakan suara membujuk agar membuatnyapada akhirnya mau berjalan di depanku. Sebenarnya mereka sedang menguji keahlian orang-orang sama baiknya dengan keahlian bertarung. 
Tidak jauh di belakang kami di jalan itu, aku telah tahu para pengawal yang berperan sebagai Strigoi akan datang. Danial melangkah dan aku membayanginya, masih memberikan jamina kemanan saat semua inderaku terus dalam kondisi waspada. Jembatan berayun menggila, mengatakan padaku dengan sebuah sentakan kalau para pengejar kami sudah bergabung. Aku melirik ke belakang dan melihat tiga “Strigoi” mendatangi kami. Para pengawal yang memainkan peran Strigoi telah melakukan pekerjaan yang mengagumkan – bergerak dengan ketangkasan dan kecepatan yang sama dengan Strigoi asli bisa lakukan. Mereka akan menyusul kami jika kami tidak bergerak maju.

“Kau mekakukannya dengan bagus sekali,” kataku pada Daniel. Sangat sulit untuk tetap menjaga nada suaraku dengan tepat. Berteriak kepada Moroi mungkin akan membuat mereka syok. Terlalu benayak kelembutan membuat mereka berpikir kalau in tidak seirus. “Dan aku tahu kau bisa bergerak lebih cepat lagi. Kita perlu mendahului mereka – mereka semakin dekat. Aku tahu kau pasti bisa melakukannya. Ayolah.”

Aku harus melewati bagian membujuk dari ujian ini karena dia jelas mempercepat langkahnya – tidak cukup cepat untuk menandingi kecepatan empat pengejar kami, tapi itu hanyalah awalnya. Jembatan bergerak menggila lagi. Daniel memekik dengan meyakinkan dan membeku, mencengkarm sisi tali dengan kuat. Di depan dia, aku melihat pengawal lai – sebagai- Strigoi menunggu di sisi berlawanan dari jembatan. Aku yakin namanya adalah Randall, instruktur baru yang lain. Aku seperti roti lapis diantara dia dan gerombolan di belakangku. Tapi Randall tetap diam, menunggu di kayu pertama jembatan sehingga dia bisa menggoyangkan jembatan ini dan membuatnya semakin sulit bagi kami.

“Terus berjalan,” aku mendorongnya, pikiranku berputar. “Kau bisa melakukannya.”
“Tapi ada Strigoi disana! Kita terjebak,” Daniel berteriak.
“Jangan khawatir. Aku akan melawannya. Bergerak saja.”
Suaraku terdengar hebat kali ini, dan Daniel merangkak maju, terdorong oleh perintahku. Saat-saat berikutnya aku memerlukan perhitungan waktu yang tepat. Aku harus mewaspadai “Strigoi” di kedua sisi kami dan tetap membuat Daniel bergerak, semua itu dilakukan saat aku memperhitungkan dimana kami berada di jembatan. Ketika kami sudah berada hampir di tiga per lima jalan menyebrang, aku mendesis, “Berhenti di langkah keempat sekarang! cepat!”

Dia menurut, bersiap berhenti. Aku berlutut, masih berbicara dengan nada rendah: “Aku akan berteriak padamu. Acuhkan saja.” dengan suara keras, agar mendapatkan keuntungan dari mereka yang mengejar kami, aku berseru, “Apa yang kau lakukan? Kita tidak bisa berhenti!”

Daniel tidak peduli, dan aku kembali berbicara dengan suara kecil. “Bagus. Lihat dimana tali itu terhubung dengan dasar pagar? Pegang tali-tali itu. Pegang sekuat yang kau bisa, dan jangan lepaskan, apapun yang terjadi. Belitkan di tanganmu jika itu perlu. Lakukan sekarang!”

Dia menurut. Jam terus berdetik dan aku tidak ingin membuang waktu lagi. Dalam satu gerakan, ketika masih dalam posisi membungkuk, aku berbalik dan memotong tali dengan sebuah pisau yang diberikan sepaket dengan pasakku. Mata pisaunya begitu tajam, terima kasih Tuhan. Para pengawal yang bertugas dalam ujian ini tidak pernah mengacaukannya. Pisau ini tidak serta merta mengiris talinya, tetapi aku memotongnya dengan cepat sehingga si “Strigoi” di sisi kami yang lain tidak punya waktu untuk bereaksi.

Talinya bergemertaak saat aku kembali mengingatkan daniel untuk terus berpegangan. Jembatan yang membagi dua berayun menuju sisi dari tangga kayu, terbawa oleh beratnya orang-orang yang berada di atasnya. Sebenarnya, berat kami lah yang paling tidak membuat keadaannya jadi begitu. Daniel dan aku telah bersiap-siap. Ketiga pengejar di belakang kami tampaknya belum siap. Dua dari mereka jatuh. Satu hanya berusaha memegang sebuah papan, tergelincir sedikit sebelum memperbaiki pegangannya. Jarak jatuhnya sebenarnya setinggi enam kaki, tapi aku sudah di peringatkan untuk tetap menganggapnya berjarak 50 kaki – sebuah jarak yang mungkin akan membunuhku dan Daniel jika kami terjatuh. 

Mengesampingkan semua keanehan, daniel masih berpegangan pada tali. Aku juga berpegangan sebaik mungkin, dan sekali tali dan kayu itu rebah datar memunggungi sisi tangga-tangga itu, aku mulai berjuang mnaikinya seolah yang kuinjak itu tangga. Tidak mudah untuk memanjat dengan menggunakan daniel, tapi aku melakukannya, memberiku satu kesempatan lagi untuk mengatakan padanya agar terus bertahan. Randall, yang menunggu di depan kami, belum terjatuh. Dia berhasil memijakkan kakinya saat aku memotong jembatannya, dan cukup kaget saat ia kehilangan keseimbangannya. Pulih dengan cepat, dia bergoyang-goyang di tali, mencoba menaiki permukaan yang aman di atas. Dia lebih dekat dengan permukaan itu ketimbang aku, tapi aku menangkap kakinya dan menghentikannya. Aku menyentak dirinya ke arahku. Dia mencoba memperbaiki pegangannya pada jembatan, dan kami sama-sama berjuang. Aku tahu kecil kemungkinan aku bisa menjatuhkannya, tapi aku mampu untuk memperdekat jarak kami. Akhirnya, aku melepaskan pisau yang terus kupegang dan berusaha mengambil pasak dari ikat pinggangku – sesuatu menguji keseimbanganku. Posisi Randall yang canggung memberiku kesempatan untuk menusuk jantungnya, dan aku melakukannya.

Untuk ujian, kami diberikan pasak yang tumpul, tidak akan melukai kulit tetapi saat digunakan, pasak ini cukup kuat untuk meyakinkan lawan kita kalau kita tahu apa yang sedang kita lakukan. Posisiku sangat sempurna, dan Randall, mengakui kali ini merupakan pukulan yang membunuhnya, melepaskan pegangannya dan jatuh dari jembatan.

Meninggalkan tugas yang menyakitkan untuk membujuk daniel naik. Butuh waktu yang cukup lama, tapi lagi-lagi, tingkahnya tidak mirip dengan karakter bagaimana seorang Moroi yang ketakutan berperilaku. Aku hanya bersyukur karena dia tidak memutuskan kalau Moroi yang sesungguhnya mungkin tidak akan bertahan untuk bertahan dan akan jatuh. 

Setelah semua rintangan yang datang semakin banyak, tetapi aku terus melawan, tidak pernah memperlambat seranganku atau membiarkan rasa lelah menggangguku. Aku masuk dalam tipe siap berperang, semua inderaku fokus terhadap insting terdasarku: lawan, menghindar, bunuh.

Dan saat terus mendengarkan insting itu, aku masih harus berinovasi dan untuk tidak dalam ketenangan. Sebaliknya, aku tidak akan mampu untuk bereaksi terhadapa sebuah kejutan seperti di jembatan tadi. Aku mengatur semuanya, melawan dengan satu-satunya pikiran untuk terus mendahulukan tugasku daripada diriku sendiri. Aku mencoba untuk tidak berpikir kalau para instrukturku adalh orang-orang yang sduah aku kenal. Aku memperlakukan mereka seperti aku memperlakukan Strigoi. Aku menark tanpa memukul.

Ketika ujian ini akhirnya berakhir, aku hampir tidak menyadarinya sama sekali. Aku terus saja berdiri di tengah-tengah arena tanpa adanya penyerang yang mendatangiku. Aku sendirian. Perlahan, aku menjadi lebih waspada dengan setiap detilnya. Para penonton di pinggir arena bersorak. Beberapa instruktur saling menganggukkan kepala saat mereka bergabung.

Jantungku berdetak keras. 
Detakannya ridak berhenti sampai Alberta dengan seringaiannya menyentuh tanganku yang akhirnya menyadarkanku kalau ujian ini sudah selesai. Ujian yang akku tunggu selama ini, berakhir serasa dalam sekejap mata saja.

“Ayo,” katanya, merangkulkan tangannya di bahuku dan membimbingku ke arah pintu keluar.
“Kau perlu minum dan duduk.”

Bingung, aku membiarkannya membimbingku keluar dari arena, orang-orang di sekeliling kami masih bersorak dan meneriakkan namaku. Di belakang kami, aku mendengar orang-orang berkata kalau mereka harus istirahat dan memperbaiki jembatannya. 

Alberta membawaku kembali ke ruang tunggu dan dengan lembut mendorongku ke sebuah kursi panjang. Seseorang duduk di sampingku dan menyerahkan sebotol air. Aku berpaling dan aku menemukan ibuku disampingku. Wajahnya mengekspresikan sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya: tulus, kebanggan yang luar biasa.

“Hanya itu?” tanyaku akhirnya.
Dia mengejutkanku lagi dengan tawa gelinya. 

“Hanya itu?” dia mengulangi perkataanku. “Rose, kau ada di sana hampir selama satu jam. Kau melewati ujian ini dengan warna berbeda – mungkin satu dari ujian terbaik yang pernah diperlihatkan di sekolah ini.”

“Benarkah? Hanya saja ini terasa ...” mudah bukanlah kata yang cukup tepat. “ Terasa membingungkan, hanya itu.”

Ibuku meremas tanganku. “Kau luar biasa. Aku sangat sangat bangga padamu.”

Semua kenyataan ini benar-benar, benar-benar menyadarkanku kemudia, dan aku merasakan sebuah senyuman mekar di bibirku.
“Sekarang apa yang akan terjadi?” tanyaku
“Sekarang kau menjadi pengawal.”

Aku sudah sering kali ditato, tapi tidak satupun dari acara itu bisa disamakan dengan upacara dan keriuhan yang terjadi saat mendapatkan tanda sumpahku.

Sebelum aku mendapatkan tanda molinja karena telah melakukan pembunuhan yang tidak kuharapkan, kekacauan yang targis: bertarung dengan Strigoi di Spokane, penyerangan sekolah, dan misi penyelamatan yang mneyebabkan duka cita, bukan perayaan. 

Setelah semua pembunuhan itu, kami tidak lagi bisa menghitung jumlahnya, dan saat pelukis tato masih mencoba untuk menghitung setiap orang yang dibunuh, mereka akhirnya memberiku sebuah tanda berbentuk bintang yang dengan cara hebat menyatakan kalau kami tidak lagi bisa menghitung berapa Strigoi yang sudah kubunuh.

Membubuhkan Tato bukan proses yang cepat, meskipu kau hanya mendapatkan ukuran yang kecil, dan seluruh teman sekelasku yang lulus mendapatkannya. Upacaranya berlokasi dia gedung yang biasanya menjadi ruang makan Akademi, sebuah ruangan yang mampu dengan mengagumkan diubah menjadi sesuatu yang semewah dan seluas ruangan yang pernah kami temukan di istana.

Para undangan – teman-teman, keluarga, dan para pengawal – memenuhi ruangan saat Alberta memanggil nama kami satu persatu dan membacakan nilai kami saat kami mendekati penato. Nilai ini sangat penting. Nilai ini diumumkan dan bersamaan dengan keselurahan peringkat kami, jumlah nilainya akan mempengaruhi penugasan kami selanjutnya. Moroi bisa meminta nilai khusus agar bisa menjadi pengawalnya. Lissa sudah memintaku, tentu saja, tapi meski dengan nilai terbaik di dunia sekalipun, nilai itu tidak akan bisa dibandingkan dengan semua nilai kelakuan buruk di dalam catatanku. 

Tidak ada Moroi dalam upacara ini, meskipun begitu ruangan ini dipenuhi oleh orang-orang yang diundang sebagai tamu oleh para lulusan baru. Kelompok lain yang berkumpul adalah para dhampir: baik yang sudah menjadi pengawal maupun yang akan menjadi pengawal seperti aku. 

Para tamu duduk di bagian belakang, dan para pengawal senior duduk di depan. Teman-teman sekelasku dan aku berdiri sepanjang acara, mungkin sebagai ujian terakhir dalam hal daya tahan.

Aku tidak keberatan. Aku sudah mengganti pakaianku yang sobek dan kotor menjadi pakaian kedur dan sebuah sweater, pakaian yang terlihat resmi saat masih merasakan perasaan khidmat. Pakaian ini cukup enak dikenakan karena udara di dalam ruangan dipenuhi ketegangan, semua ekspresiwajah merupakan campucaran dan kebahagian karena keberhasilan kami tap juga rasa khawatir tentang peran baru dan mematikan kami di dunia. Aku menonton dengan mata bersinar saat teman-temanku dipanggil naik, terkejut dan terkesan dengan beberapa nilai temanku.

Eddi Castile, seorang teman dekatku, mendapatkan sebuah nilai tingi khusu dalam perlindungan Moroi satu lawan satu. Aku tidak bisa menahan senyum saat melihat penato memberikan Eddie tatonya.
“Aku penasaran bagaimana ia menangani Moroinya di atas jembatan,” aku berbisik dengan nada rendaj. Eddie cukup cerdik biasanya. Disampingku, temanku yang lain, Meredith, menatapku bingung.

“Apa yang sedang kau bicarakan?” Suaranya juga sama rendahnya.
“Saat kita kejar di jemabatan dengan Moroi kita. Moroiku adalah Daniel.” Dia masih terlihat bingung, dan aku menambahkan. “Dan mereka menempatkan Strigoi di masing-masing sisinya?”

“Aku melintasi jembatan,” dia berbisik, “Tapi hanya aku sendiri yang dikejar. Aku menempatkan Moroiku melalu jalan memutar.”

Sebuah tatapan dari teman sekelas di dekat kami membuat kami diam, aku menyembunyikan ekspresi ketidaksukaanku. Munkin bukan aku satu-satunya yang kebingungan melewati ujian ini. Meredith mendapatkan kenyataan kalau ia mengacau dalam tesnya sendiri. 

Saat namaku dipanggil, aku mendengar beberapa suara decak kagum saat Alberta membacakan nilaiku. Aku mendapakan nilai tertinggi sejauh ini. Aku senang dia tidak menyebutkan nilai akademikku. Mereka pasti akan menarik kembali kekaguman di sisa penampilanku. Aku selalu menyelesaikan kelas bertarungku dengan baik, tapi matematika dan sejarah ... sebenarnya, kedua hal itu sangat memprihatinkan, khususnya sejak aku keluar masuk dari sekolah.

Rambutku digelung ketat, dengans etiap helainya dijepit sehingga penato tidak akan menemukan gangguan saat ia bekerja. I membungkukkan tubuhku dan memberinya pemandangan bagus dan mendengar sungutan keterkejutan. Leher belakangku telah ditutupi banyak sekali tanda, dia harus lebih cerdik menempatkan tanda baruku. Biasanya, pengawal baru memberikan kanvas kosong. Pria ini cukup pintar dan pada akhirnya menempatkan tandaku dengan hati-hati di tengah-tengah leherku. Tanda sumpah itu terlihat berbentuk huruf S yang memanjang dan renggang dengan bentuk ikal diujungnya. Dia menemppatkannya diantara tanda molinja, membiarkannya terlihat seperti dikelilingi seolah seperti depeluk. Proses tatonya menyakitkan, tapi aku tetap menjaga wajahku agar tetap tanpa ekspresi, tidak membiarkan wajahku mengerutkan dahi. Hasil akhirnya ditunjukkan padaku dari sebuah kaca sebelum dia menutupnya dengan perban sehingga luka tato ini bisa sembuh dengan bersih.

Setelah itu, aku bergabung kembali dengan teman-teman sekelasku dan menonton sisa dari mereka yang akan menerima tato. Ini artinya berdiri untuk dua jam lagi, tapi aku tidak keberataan. Otakku masih berputar mengingat semua yang terjadi hari ini. Aku telah menjadi pengawal. Pengawal yang akan membaw kebaikan yang tulus sungguhan. Dan bersamaan dengan pemikiran tentang itu munculah banyak pertanyaan, Apa yang akan terjadi sekarang? Akankah nilaiku cuku baik untuk menghapus catatan kelakuan burukku? Akankah aku menjadi pengawal Lissa? Dan bagaimana tentang Viktor? Bagaimana dengan Dimitri?

Perasaanku berubah menjadi ttidak nyaman saat efek penuh dari upacara pengawal ini menimpaku. Semua ini bukan hanya tentang Dimitri dan Viktor. Ini tentang aku – tentang sisa hidupku. Kehidupan sekolah telah berakhir. Aku tidak akan lagi memiliki guru yang mengikuti setiap gerakanku atau memperbaiki saat aku melakukan kesalahan. Semua keputusan akan bergantung pada diriku sendiri saat aku melindungi seseorang. Moroi dan dhampir yang lebih muda akan menganggapku memiliki kekuasaan. Dan aku tidak lagi mendapakan kemewahan dari latihan bertarung satu meit dan bersantai di kamarku setelah itu. Tidak ada lagi jeda istirahat saat kelas berlangsung. Aku akan bertugas sepanjang waktu.

To be continue ...

Read More...

Thursday, February 16, 2012

OST Dream High season 2

D ream High 2 (Korean: 드림하이 2) adalah drama TV serial terbaru di Korea Selatan yang di rilis KBS di tahun 2012 ini. Film ini merupakan sekuel dari Dream High yang pernah dibintangi oleh Kim Soo Hyun, Suzy 'Miss A', Taecyeon '2PM', Ham Eun Jung 'T-ara', Wooyoung '2PM', dan IU. Sekarang, Dream High musim kedua ini akan dibintangi oleh Kang Sora, Jin Woon '2AM', Ji-yeon 'T-ara', Hyorin 'Sistar', dan memperkenalkan para trainee dari JYP Entertainment yakni Im Jae Bum, dan trainee dari KeyEast Entertainment Park Seo Joon. Film ini akan dijadwalkan main sebanyak 16 episode yang mulai tayang pada 30 Januari 2012 di Korea Selatan dan dijadwalkan selesai pada 20 Maret 2012.



Berikut nih daftar pemain di Dream High season 2:
"Pemain Utama"
Kang Sora sebagai Shin Hae Sung
Jung Jin Woon sebagai Jin Yoo Jin
Park Ji Yeon sebagai Lian
JB sebagai JB
Hyo Rin sebagai Nana
Park Seo Joon sebagai Si Woo

"Pengajar di Sekolah Kirin"
Park Jin-young sebagai Yang Jin Man (Guru Bahasa Inggris)
Choi Yeo Jin sebagai Ahn Tae Yeon (Guru Vokal)
Kahi 'After School' sebagai Hyun Ji Soo (Guru Tari)
Kwon Hae Hyo sebagai Joo Jung Wan (Kepala Sekolah)
Kim Jung Tae sebagai Lee Kang Chul (Direktur Kirin dan Oz Entertainment)

"Siswa Kirin"
Ailee sebagai Ailee
Yoo So Young sebagai Park Soon Dong
Kim Ji Soo sebagai Park Hong Joo
Park Jin-young (Jr) sebagai Jung Wi Bong
Jung Yeon Joo sebagai Yi Seule

"Cameo"
IU (ep 1)
Kim Soo Hyun (ep 1)
TOXIC (ep 1)
MYNAME (ep 2)
Ham Eun Jung (ep 3)
PSY (ep 5)
Suzy
Taecyeon
Wooyoung

OST Dream High season 2

((Click the title to download))


Lagu Latar Belakang

HerShe: Superstar (EP 1)
Eden: Dreaming - TOXIC (EP 1)
Hyun Ji Soo & Jin Man: The DJ is Mine - Wonder Girls (EP 4)
Jin Man: Mm Mm Mm - Park Jin Young (EP 4)
Ailee & Soon Dong (EP 5)
Yoo Jin,Rian,Hong Joo and the bands: Superstar - Lee Han Chul (EP 6)

Read More...

Friday, January 6, 2012

OST Nobita and Dinosaur : Sukima Switch ~ ボクノート (Boku Note)


G ara-gara tadi pagi nonton Doraemon: Nobita and Dinosaur - The best Doraemon's movie I ever see meski udah nonta berkali-kali - aku sukaaa banget sama soundtracknya. Jadi kali ini mw posting Lirik and link buat downloadnya HUHUHUHUHU

ボクノート (Boku Note)
Artist : Sukima Switch
Album/Single: Yuukaze Blend
Lyrics: Oohashi Takuya, Shintaro Tokita
Music: Oohashi Takuya, Shintaro Tokita

Mimi wo sumasuto kasukani
kikoeru ame no oto
Omoi wo tsuzurou to koko ni suwatte
kotoba sagashite iru

Kangaete kaite tsumazuite
keshitara moto douri
12 jikan tatte narabeta mon wa kami kuzu datta

Kimi ni tsutaetakute umaku wa ikanakute
Tsunori tsumoru kanjou wa fukurete yuku dake
Hakidasu koto mo dekizuni

Ima boku no naka ni aru kotoba no kakera
Nodo no oku, surudoku togatte tsukisasaru
Kirei janakuttate
sukoshizutsu datte iinda
Kono itami wo tada katachini surunda

Naniwo shitemo tsuzukanai kodomo no korono bokuwa
"Korezotte mono" te kikaretemo
kotae ni komatteta
Sonna boku ni demo
ataerareta mono ga aruto iyuunara
Mayoi tachidomatta jibun jishin mo
shinjite itaina
Find More lyrics at www.sweetslyrics.com

Boku ga iru kono basho wa
sukoshi kyuukutsu dakedo
Ai ni michita hyoujyou de
nukumori afurete
Soshite kimi no koe ga suru

Ashimoto ni nagesuteta
agaita ato mo
Mogaiteru jibun mo zenbu boku dakara
Kakaeteru omoi wo hitasura ni sakebunda
Sono koe no saki ni kimi ga irunda

Mimi wo sumasuto tashikani kikoeru boku no oto
Sora wa nakiyande kumo ga kireteku

Ima boku ga tsumuideiku kotoba no kakera
Hitozutsu orikasanatte uta ni naru
Kirei janakutatte sukoshizutsu datte iinda
Hikari ga sashikomu

Kono koe ga kareru made utai tsuzukete
Kimi ni furu kanashimi nanka
harasereba ii
Arinomama no boku wo kimi ni todoketainda
Sagashiteta mono wa, menomae ni atta

English

If I listen closely, I can faintly hear the sound of rain
I sit here and try to compose my memories, searching for the words
I think about it and write it down, I fumble with it, and it disappears, as always
12 hours pass, and the things that I had all set become trash
I want to tell you, but I can’t do it very well
The emotions that I’ve built up just swell up
I can’t manage to spit anything out
Now, the pieces of words inside of me
In my throat, they pierce me sharply
They’re not pretty, but little by little, they’ll be alright
This pain will take shape
When I was a kid who couldn’t continue on, no matter what I did
I was worried about being asked about “being a man”
If I say that I’ve been given things even though I’m like this
Then I’d like to believe that I’ve stopped being confused
This place that I’m in is a little confined
But your expression that’s full of love overflows with warmth
And then you speak
The prints that struggled underfoot, having been cast aside
And my impatient self, all of that is me
So I do nothing but cry out the feelings that I carry with me
Up ahead of that voice, is you
If you listen closely, you can most certainly hear the sound of me
The sky cries itself out of tears, and the clouds break apart
Now, the pieces of the words that I’m spinning
Are piling up one by one, they’ll become a song
They’re not pretty, but little by little, they’ll be alright
The light shines in
I’ll keep singing until I lose my voice
I hope the sadness that rains onto you clears up
I want to show myself to you as I am
The thing that I was searching for, was right before my eyes
Download Boku Note by Sukima Switch

Read More...

Tuesday, January 3, 2012

Spirit Bound ~ Bahasa Indonesia (Chapter 1)

A DA SEBUAH PERBEDAAN BESAR ANTARA surat ancaman kematian dengan surat cinta – meskipun orang yang menulis surat ancaman kematian ini masih menyatakan kalau ia sesungguhnya mencintaimu. Tentu saja, mempertimbangkan satu kali upaya pembunuhan yang pernah kucoba lakukan kepada orang yang kucintai, mungkin aku tidak berhak untuk menghakiminya.

Surat hari ini sangatlah tepat waktu, bukanlah sesuatu yang harusnya tidak terlalu kuharapkan. Aku sudah membacanya sebanyak empat kali sejauh ini, dan meskipun aku akan terlambat, aku tidak bisa menolak membaca untuk yang kelima kalinya.


Roseku tersayang, 
Satu dari beberapa sisi yang tidak menguntungkan dari menjadi yang dibangkitkan adalah kami tidak lagi membutuhkan tidur; karena itulah kami juga tidak lagi bermimpi. Ini memalukan, karena jika aku bisa tidur, aku tahu aku akan memimpikanmu. Aku akan memimpikan bagaimana aroma tubuhmu dan bagaimana rambutmu yang hitam terasa seperti sutra diantara jemariku. Aku akan memimpikan bagimana halusnya kulitmu dan buasnya bibirmu saat kita berciuman.
Tanpa mimpi-mimpi itu, aku harus mengisi diriku dengan imajinasiku sendiri – yang rasanya hampir sama menyenangkannya. Aku bisa membayangkan semua hal itu dengan sempurna, sesempurna saat semua ini terjadi ketika aku mengambil hidupmu dari dunia ini. Sesuatu yang kusesali untuk dilakukan, tapi kau membuatku tidak lagi meiliki pilihan. Penolakkanmu untuk bergabung denganku dalam kehidupan abadi dan cinta tidak meninggalkan jalan lain, dan aku tidak bisa mengizinkan seseorang sebahaya dirimu untuk hidup. Lagipula, meskipun aku memaksamu untuk bangkit, kau sekarang terlalu banyak memiliki musuh diantara para Strigoi yang satu diantaranya akan membunuhmu. Jika kau harus mati, maka kematianmu haruslah ditanganku. Bukan orang lain. Meskipun demikian, aku harap kau akan bertindak hebat saat kau menjalani ujianmu – bukan karena kau perlu keberuntungan. Jika mereka benar-benar membuatmu melawan mereka, itu hanya akan membuang waktu setiap orang. Kau yang terbaik dalam tim, dan mulai malam ini kau akan mengenakan tanda janjimu. Tentu saja, itu berarti kau akan menjadi lebih menantang saat kita bertemu lagi – yang nantinya akan sangat kunikmati.

Dan kita akan bertemu lagi. Dengan kelulusan, kau akan keluar dari Akademi, dan sekali kau berada di luar ruangan, aku akan menemukanmu. Tidak ada satu tempat pun di dunia ini yang bisa menyembunyikanmu dariku. Aku mengawasimu.

Dengan cinta,

Dimitri

Sekalipun dalam “doanya yang hangat”, aku tidak menemukan surat ini bisa mengispirasiku saat aku melemparkannya ke tempat tidur dan dengan mengantuk meninggalkan ruangan. Aku mencoba untuk tidak membiarkan kata-katanya merasuki diriku, meskipun sangat tidak mungkin untuk tidak takut terhadap hal seperti itu. Tidak ada satu pun tempat di dunia ini yang bisa menyembunyikanmu dariku. 

Aku tidak meragukannya. Aku sudah tahu Dimitri memiliki mata-mata. Sejak mantan instruktur-sekaligus kekasihku itu telah berubah menjadi sesosok iblis, vampir yang tidak bisa mati, dia juga menjadi semacam pemimpin di antara mereka - sesuatu yang merupakan hasil dari campur tanganku ketika aku membunuh mantan bosnya, Aku menduga banyak dari mata-matanya adalah manusia, mengintaiku saat aku melangkah keluar dari batas sekolahku. Tidak ada Strigoi yang bisa tinggal mengintai selama 24 jam. Manusia bisa, dan aku baru-baru saja mempelajari kalau sebagian manusia bersedia untuk mengabdi kepada Strigoi dengan imbalan dijanjikan akan diubah suatu hari nanti. Manusia-manusia itu menganggap hidup abadi itu setimpal dengan menjual jiwa mereka dan membunuh manusia lain untuk tetap bisa bertahan hidup. Manusia-manusia seperti itu membuatku mual.

Tapi bukan manusia-manusia itu yang membuat langkah ku terputus-putus ketika aku berjalan melalui rerumputan yang berubah warna menjadi hijau cerah dengan sentuhan musim panas. Dimitrilah yang bisa melakukannya. Selalu Dimitri. Dimitri, lelaki yang kucintai. Dimitri, sesosok Strigoi yang ingin kuselamatkan. Dimitri, seekor monster yang harus kubunuh. Cinta yang kami bagi selalu membara dalam tubuhku, tidak peduli seberapa sering aku mengingatkan diriku untuk melupakannya, tidak peduli seberapa banyak dunia berpikir kalau aku harus melupakannya. Dia selalu bersamaku, selalu dalam pikiranku, selalu membuatku menanyakan diriku sendiri. 

“Kau terlihat seolah siap menghadapi satu pasukan tempur.” Aku mengalihkan pikiran kelamku. Aku terlalu dalam memikirkan Dimitri dan suratnya saat aku berjalan menyebrangi kampus, terlupa pada dunia, dan tidak menyadari keberadaan sahabatku, Lissa, mensejajarkan langkahnya denganku, sebuah senyuman menggoda di wajahnya. Sangat jarang sekali ia menangkap basah aku yang terkejut karena dirinya, karena kami berbagi ikatan batin, yang selalu membuatku waspada dengan kedatangannya dan perasaannya. Pikiranku pastilah sedang terganggu sehingga tidak menyadari kehadirannya, dan jika pernah ada sebuah gangguan yang terjadi dalam hidupku, itu pastilah seseorang yang ingin membunuhku.

Aku memberikan Lissa sebuah senyuman yang kuharap bisa meyakinkan dirinya. Dia sudah tahu apa yang telah terjadi pada Dimitri dan bagaimana dia menunggu untuk membunuhku sekarang setelah aku pernah gagal – membunuhnya. Meskipun begitu, surat-surat yang aku terima dari Dimitri setiap minggu membuat Lissa khawatir, dan dia sudah cukup berat menghadapi hidupnya sendiri tanpa ditambah lagi dengan penguntitku-yang-tidak-bisa-mati dalam daftarnya.

“Aku memang sedang bersiap menghadapi satu pasukan,” aku menunjuk. Malam masih belum larut, tapi musim panas yang terlambat masih menemukan sang matahari di atas langit Montana, memandikan kami dengan cahaya emas saat kami berjalan. Aku suka ini, tapi sebagai Moroi – seorang vampir hidup yang damai – Lissa biasanya menjadi lemah dan tidak nyaman dengan semua ini.

Dia tertawa dan menyampirkan rambut pirang-platinanya ke bahunya. Matahari menyinari warna pucat menjadi warna cemerlang sang bidadari.

“Kurasa. Aku tidak berpikir kau akan menjadi sangat khawatir.” Aku bisa memahami alasannya. Bahkan Dimitri sudah pernah mengatakan kalau hal ini hanya menghabiskan waktuku. Tapi tetap saja, aku menghilang ke Rusia untuk mencarinya dan telah bertemu Strigoi asli – membunuh sebagian dari mareka sendirian. Mungkin aku tidak seharusnya takut dengan test yang akan segera kuhadapi ini, namun semua keriuhan dan harapan mendadak menekan diriku. Detak jantungku meningkat. Bagaimana jika aku tidak bisa melakukannya? Bagaimana jika aku ternyata tidak sebagus yang aku kira? Para penjaga yang akan menantangku disini mungkin bukanlah Strigoi yang sebenarnya, tapi mereka semua terlatih dan sudah pernah bertarung lebih lama dari diriku. Kesombongan bisa membawaku dalam banyak masalah, dan jika aku gagal, aku akan melakukannya di depan semua orang yang peduli padaku. Semua orang yang percaya padaku. Satu hal yang juga menjadi pikiranku.

“Aku khawatir kalau nilai tes ini akan berdampak pada masa depanku.” kataku. Itu yang sebenarnya. Ujian adalah tes terakhir untuk seorang novis pengawal seperti aku. Mereka yakin kalau aku bisa lulus dari Akademi Vladimir dan mengambil posisiku dengan para penjaga yang sebenarnya yang melindungi Moroi dari Strigoi. Ujiannya benar-benar mempengaruhi pilihan Moroi mana yang akan ditugaskan untuk para pengawal.

Melalui ikatan batin kami, aku merasakan rasa kasihan Lissa – dan kekhawatirannya.
“Alberta pikir kalau kita punya kemungkinan besar untuk bisa tetap bersama – kalau kau masih akan menjadi pengawalku.”

Aku menyeringai. “Kurasa Alberta mengatakan kalau ia ingin menahanku di sekolah.” Aku keluar dari sekolah untuk memburu Dimitri beberapa bulan yang lalu dan kemudian kembali – sesuatu yang tidak terlihat bagus dalam catatan akademisku. Ada juga kenyataan kecil kalau sang ratu Moroi, Tatiana, membenciku dan mungkin akan melakukan segala cara yang ia bisa untuk mempengaruhi penugasanku – tapi itu cerita lain.

“Kurasa Alberta tahu kalau satu-satunya cara mereka untuk melindungimu adalah jika aku merupakan pengawal terakhir di bumi ini. Dan saat itu tiba, rintanganku sudah semakin sedikit.”

Dihadapan kami, gemuruh suara kerumunan semakin nyaring. Satu dari lapangan olahraga sekolah sudah berubah menjadi sebuah arena yang sama dengan sesuatu yang berasal dari zaman gladiator Roma. Tempat duduk di stadion sudah di bangun, diubah dari tempat duduk kayu sederhana menjadi bangku dengan sofa mewah dan dengan tenda untuk melindungi Moroi dari matahari. Bendera-bendera mengelilingi lapangan, warna mereka yang cerah terlihat dari sini saat mereka melambai. Aku belum melihatnya, tapi aku sudah tahu bahwa ada sejenis barak yang dibangun di dekat pintu masuk stadion, tempat dimana para novis menunggu, gelisah. Lapangan sendiri sudah dirubah menjadi sebuah rangkaian rintangan tes berbahaya. Dan dari suara semangat yang memekakan telinga, sebagian besar sudah berada disana untuk menyaksikan acara ini.

“Harapanku tidak akan menyerah,” kata Lissa. Melalui ikatan kami, aku tahu dia bersungguh-sungguh. Itulah satu hal yang mengagumkan dari dirinya – sebuah kesetiaan untuk percaya dan rasa optimis yang ia berikan di saat-saat cobaan terburuk. Sangat bertolak belakang dengan sikap sinisku. “Dan aku punya sesuatu yang bisa membantumu hari ini.”

Dia mendekatiku kemudian berhenti dan meraih sesuatu ke dalam kantung jeans nya, mengambil sebuah cincin perak kecil dengan batu-batu kecil yang tersebar di sekitarnya sehingga terlihat seperti peridot. Aku tidak butuh ikatan apapun untuk mengetahui apa yang ia berikan.

“Oh Liss... Aku tidak tahu. Aku tidak ingin hal semacam , um, keuntungan yang tidak adil.” Lissa memutar bola matanya.

“Itu bukan masalah, dan kau tahu itu. Yang ini aman, aku bersumpah.”

Cincin yang ia berikan adalah sebuah jimat, yang telah dimasukkan tipe sihir langka yang ia punya. Semua Moroi mengontrol satu dari lima elemen: tanah, udara, air, atau roh. Roh adalah elemen yang paling langka – sangat langka, yang sudah terlupakan selama berabad-abad. Lalu kemudian Lissa dan beberapa orang muncul dengan kemampuan ini. Tidak seperti elemen yang lain, yang lebih condong bersifat alami dan fisik, roh terikat dengan pikiran dan semua fenomena gaib. Tidak satupun orang mereka yang benar-benar bisa memahaminya.

Membuat jimat dengan roh adalah sesuatu yang baru-baru ini Lissa coba – dan dia tidak terlalu bagus dalam hal ini. Kemampuan roh terbaiknya adalah menyembuhkan, jadi dia terus mencoba untuk membuat jimat penyembuh. Yang terakhir adalah sebuah gelang yang tergantung di tanganku.

“Yang satu ini bekerja. Hanya sedikit, tapi benda ini akan menolong untuk menjauhkan kegelapan selama tes.” Dia berbicara dengan ringan, tapi kami berdua tahu keseriusan dari makna kata-katanya.


Dengan semua anugerah yang diberikan sihir roh, maka ada harga yang harus dibayarkan: kegelapan yang ditunjukkan sekarang dengan kemarahan dan kebingungan, dan bahkan terkadang mengarah ke arah kegilaan. Kegelapan yang terkadang mengalir kepadaku melalui ikatan kami. Lissa dan aku pernah membicarakan tentang jimat dan kekuatan penyembuhnya, kami bisa melawan ini semua. Yang juga merupakan sesuatu yang harus kami kuasai.

Aku memberinya senyuman yang lemah, bergerak demi menanggapi perhatiannya, dan menerima cincin itu. Benda ini tidak membakar tanganku yang berarti tanda-tanda yang menjanjikan. Cincin ini kecil dan hanya muat untuk jari kelingkingku. Aku tidak merasakaan hal apapun saat aku memakainya. Terkadang hal itu terjadi dengan jimat penyembuh. Atau ini berarti cincin ini benar-benar tidak ada gunanya. Sepanjang ini tidak ada hal yang menyakiti terjadi.

“Trims,” kataku. Aku merasa kebahagian menyapu diriku melalui pikirannya dan kami melanjutkan perjalanan kami.

Aku mengangkat tanganku, mengagumi bagaimana batu-batu hijau berkerlap-kerlip. Perhiasan bukanlah ide yang bagus untuk dilibatkan dalam aktivitas fisik yang akan kuhadapi, tapi aku bisa memakai sarung tangan untuk menutupinya.

“Sulit rasanya mempercayai setelah semua ini, kita akan berakhir disini dan akan segera keluar ke dunia nyata,” aku merenung terlalu keras, tidak terlalu mempertimbangkan kata-kataku sendiri.

Di sampingku, tubuh Lissa mengeras, dan aku mendadak menyesali ucapanku. ‘Keluar ke dunia nyata’ maksudnya Lissa dan aku akan berada di bawah kendali sebuah tugas yang pernah dia -- dengan berat hati – janjikan untuk menolongku beberapa bulan yang lalu. 

Saat di Siberia, aku mempelajari kalau ada kemungkinan untuk mengembalikan Dimitri menjadi seorang dhampir lagi seperti aku. Kesempatannya kecil – mungkin hanya sebuah kebohongan – dan mempertimbangkan bagaimana dia mencoba untuk membunuhku, aku tidak memiliki ilusi kalau aku memiliki pilihan lain selain membunuh dia jika kematian menimpanya atau diriku. Tapi jika ada sebuah cara yang memungkinkan diriku untuk menyelamatkannya sebelum hal tersebut terjadi, aku harus menemukannya.

Sayangnya, satu-satunya cara bagi kami untuk membuat keajaiban ini menjadi nyata harus lah melalui tindak kriminal. Tidak hanya melalui orang kriminal juga: Victor Dashkov, seorang Moroi bangsawan yang telah menyiksa Lissa dan melakukan segala tindak kekejaman yang membuat kehidupan kami terasa seperti di neraka. Keadilan sudah ditegakkan dan Victor telah terkunci jauh di penjara, namun sebenarnya merupakan hal yang rumit. Kami menyadari sepanjang keberadaannya yang ditakdirkan untuk hidup di belakang jeruji tahanan, dia merasa tidak memliki alasan untuk berbagi apa yang dia tahu tentang saudara laki-laki tirinya –seseorang yang pernah diduga menyelamatkan seorang Strigoi. Aku memutuskan – mungkin secara tidak logis – kalau Victor mungkin akan menyerahkan informasi itu jika kami menawarkan kepadanya satu hal yang tidak bisa diberikan orang lain: kebebasan. 

Ide ini bukanlah sesuatu yang konyol untuk bisa dilakukan dengan banyak alasan. Pertama, aku tidak yakin kalau rencana itu bisa berhasil. Hal ini sejenis sebuah rencana yang besar. Kedua, aku sama sekali tidak tahu bagaimana cara mementaskan adegan sebuah pembobolan penjara, bahkan kami tidak tahu dimana penjaranya. Dan terakhir, sebuah fakta kalau kami harus melepaskan musuh abadi kami. 

Hal in cukup menghancurkanku, membiarkan Lissa sendirian. Apalagi ada banyak masalah yang dihadirkan ide ini untuknya – dan percayai aku, memang begitu – dia telah bersumpah akan menolongku.

Aku sudah menawarkan untuk membebaskannya dari sumpahnya itu berlusin-lusin kali di beberapa bulan terakhir ini, tapi dia tetap bersikeras. Tentu saja, mempertimbangkan kami bahkan tidak memiliki cara untuk menemukan penjaranya, sumpahnya mungkin tidak akan menjadi masalah pada akhirnya.

Aku mencoba mengisi keheningan yang canggung diantara kami, langsung menjelaskan kalau aku bersungguh-sungguh untuk bisa merayakan ulang tahunnya dengan gaya minggu depan. 

Usahaku itu diinterupsi oleh Stan, satu dari instruktur lamaku.
“Hathaway!” Dia menyalak, datang dari arah lapangan. “Senang melihat kau bergabung dengan kami. Masuk kau sekarang!”

Pikiran tentang Victor menghilang dari pikiran Lissa. Lissa memberikan pelukan kilat untukku.

“Semoga berhasil,” dia berbisik. “Tapi kamu tidak memerlukannya.”

Ekspresi Stan mengatakan padaku kalau ucapan perpisahan-sepuluh-detik ini lebih lama dari kenyataannya. Aku menyeringai pada Lissa sebagai ucapan terimakasih, dan kemudian dia pergi untuk mencari teman-teman kami yang berada di tempat penonton saat aku mengekori Stan.


“Kau beruntung karena tidak menjadi salah satu yang mendapat giliran pertama,” dia menggeram. “Orang-orang bahkan membuat taruhan apakah kau muncul atau tidak.”
“Benarkah?” aku bertanya senang. “Rintangan apa yang ada disana? Karena aku bisa saja merubah pikiranku dan mengambil uang taruhanku. Untuk menambah sedikit uang saku.”

Matanya yang tajam mengarah padaku, memperingatkan kalau tidak ada lagi kata-kata yang dibutuhkan saat kami memasuki area tempat menunggu untuk ke lapangan, berseberangan dari tempat penonton. Hal ini selalu membuatku terkagum-kagum di masa lalu tentang bagaimana jerih upaya untuk bisa sampai ke ujian ini, aku rasa kagumku tidak berkurang sekarang saat aku menatapnya lebih dekat. 

Barak tempat para novis menunggu dibangun dari kayu, lengkap dengan atapnya. Bentuknya terlihat seolah merupakan bagian dari stadion in sejak lama. Bangunan ini dibangun dengan sangat cepat and juga akan dengan sangat cepat di hancurkan sesaat setelah ujian ini selesai. Sebuah pintu masuk seluas tiga orang berjajar memberikan celah untuk melihat ke lapangan, dimana satu dari teman sekelasku tengah menunggu dengan cemas, menunggu namanya dipanggil. Segala rintangan sudah diatur disini, tantangan tes keseimbangan dan koordinasi saat tengah bertarung dan menghindari para pengawal dewasa yang bisa saja bersembunyi di sekitar benda-benda dan sudut. Dinding kayu telah dibangun di sisi lapangan, menciptakan jalan-jalan yang memusingkan. Jaring-jaring dan panggung yang bergoyang-goyang menggantung di sepanjang area, dirancang untuk mengetes seberapa baik kami bertarung di bawah kondisi yang sulit.

Beberapa novis lain berkerumun di pintu masuk, berharap mendapat keuntungan dengan menonton yang sudah lebih dulu masuk dari mereka. Tidak termasuk aku. Aku akan masuk kesana dengan kondisi buta, yakin untuk menghadapi apa pun yang mereka lempar padaku. Mempelajari lapangan sekarang hanya akan membuatku terlalu banyak berpikir dan panik. Tenang adalah satu-satunya hal yang aku butuhkan sekarang. 

Jadi aku bersandar di satu dari dinding barak dan memperhatikan sekelilingku. Kelihatannya aku benar-benar akan muncul paling terakhir dan aku menduga-duga berapa banyak orang yang kehilangan uangnya karena bertaruh atas kehadiranku. Beberapa teman sekelasku berbisik-bisik dalam kelompok. Beberapa sedang melakukan latihan pemanasan dan perenggangan.

Yang lain berdiri dengan para instruktur yang menjadi mentor. Guru-guru itu berbicara dengan sungguh-sungguh kepada murid-murid mereka, memberikan kata-kata nasihat terakhir. aku terus mendengar kata fokus dan tenang.

Melihat para instruktur itu membuat jantungku sesak. Begitulah yang kubayangkan dulu tentang hari ini. Aku membayangkan Dimitri dan aku berdiri bersama, bersamanya yang terus mengatakan padaku untuk menganggap hal ini serius dan tidak kehilangan ketenanganku saat aku berada di lapangan. Alberta telah memberikan latihan yang lumayan untukku sejak aku kembali dari Rusia, tapi sebagai kapten, dia berada di lapangan sekarang, sibuk dengan segala macam hal yang berbau tanggung jawab. Dia tidak punya waktu untuk datang kesini dan menggenggam tanganku. 

Teman-temanku yang mungkin menawarkan kehangatan – Eddie, Meredith, dan yang lainnya – tengah berpegangan dalam ketakutan mereka bersama. Aku sendirian.

Tanpa Lissa atau dimitri – atau, siapapun – aku merasakan rasa sakit yang mengejutkan dari kesendirian yang membanjiri tubuhku. Ini tidak benar. Aku tidak seharusnya sendirian. Dimitri harusnya disini bersamaku. Itulah yang seharusnya terjadi. Aku menutup mataku, membiarkan diriku sendiri berpura-pura kalau dia ada disini, hanya beberapa inci saat kami berbicara.

“Jangan khawatir, komrad. Aku bisa melakukan semua ini dengan menutup mata. Hei, mungkin aku benar-benar bisa melakukannya. Apa kau punya sesuatu yang bisa aku gunakan? Jika kau baik padaku, aku bahkan akan membiarkanmu mengikatkannya sendiri padaku.” Mengingat fantasi ini terjadi setelah kami tidur bersama, ada kemungkinan besar dia mau membantu membukakan penutup mataku – daripada hal yang lain.

Aku bisa dengan jelas membayangkan gelengan jengkel kepalanya yang kupuroleh oleh ulahku. “Rose, aku bersumpah, terkadang setiap hari bersamamu terasa seperti ujian personal bagi diriku sendiri.”

Tapi aku tahu dia tersenyum dan ada rasa bangga yang ia perlihatkan serta dorongan yang ia berikan padaku saat aku melangkah ke lapangan adalah satu-satunya hal yang aku perlukan untuk melalui ujian itu –

“Apa kau sedang meditasi?”
Aku membuka mataku, heran dengan suara itu. “Ibu? Apa yang kau lakukan disini?”

Ibuku, Janine Hathway, berdiri di depanku. Dia hanya beberapa inci lebih pendek dariku tapi sudah cukup memiliki pengalaman bertarung untuk seseorang yang ukurannya dua kali lipat dari badanku. Tampilan berbahaya dari wajah kecokelatannya berani mengahadapi siapapun yang membawa tantangan. Dia memberikanku senyuman masam dan meletakkan satu tangannya ke pinggulnya.

“Sejujurnya, apa kau merasa aku tidak akan datang melihatmu?”
“Aku tidak tahu,” aku mengakui, merasa sedikit bersalah karena meragukan kehadirannya. Dia dan aku tidak terlalu sering berhubungan selama beberapa tahun, dan tes ini adalah kesempatan terbaru kami --- sebagian besar merupakan kesempatan yang buruk – untuk memulai membangun kembali hubungan kami. 

Selama sebagian besar hidupku, aku masih tidak tahu bagaimana perasaanku mengenai dirinya. Aku terombang-ambing diantara gadis kecil yang membutuhkan kehadirannya sebagi seorang ibu yang selalu tidak ada dan kemarahan seorang remaja karena merasa dibuang. Aku juga tidak benar-benar yakin apakah aku sudah memaafkannya pada saat secara ‘tidak sengaja’ ia memukulku dalam sebuah pertarungan pura-pura. 

“Aku pikir kau punya, kau tahu kan, banyak hal penting yang harus dilakukan.”
“Tidak mungkin aku melewatkan acara ini.” Dia mencondongkan kepalanya ke arah barisan penonton, membuat rambut pirang keritingnya bergoyang. “Begitu juga ayahmu.”
“APA?”
Aku segera menuju ke arah pintu masuk dan mengintip ke arah lapangan. Pandanganku ke arah penonton tidaklah sangat bagus, terima kasih kepada semua rintangan di lapangan, tapi cukup baik. Disanalah dia: Abe Mazur. Dia mudah terlihat, dengan janggut dan kumis hitamnya, sebagus skarf rajut hijau jamrud berpadu padan dengan kemejanya. Aku bahkan bisa melihat kilauan dari anting emasnya. Dia mungkin akan meleleh dengan hawa panas disini, tapi aku menduga dia membutuhkan lebih dari sekedar keringat untuk menjinakkan selera dandanan nya yang mewah. 

Jika hubunganku dengan ibuku cukup sederhana, hubunganku dengan ayahku kenyataannya tidak pernah ada. Aku pernah bertemu dengannya di bulan Mei dan bahkan setelah itu aku tidak tahu, tidak sampai aku kembali dan mengetahui kalau aku adalah putrinya.
Semua dhampir memiliki satu orang tua Moroi, dan dia adalah orang tuaku. Aku masih tidak yakin bagaimana perasaanku padanya. Kebanyakan dari latar belakangnya masih merupakan misteri, tapi ada banyak gosip yang mengatakan kalau ia terlibat bisnis ilegal. Orang-orang juga bertingkah seolah dia adalah tipe pematah lutut seseorang. Di Rusia, mereka memanggilnya Zmey: sang ular.

Saat aku menatapnya dengan heran, ibuku berjalan kesampingku.
“Dia akan senang kau melakukannya tepat waktu,” katanya. “Dia bertaruh banyak kalau kau akan muncul. Dia bertaruh uang untukmu, jika itu bisa membuatmu merasa lebih baik.”

Aku mengerang “Tentu saja. Tentu saja dia akan menjadi bandar dari semua itu. Harusnya aku sudah tahu sesegera –“ rahangku terasa jatuh. “Apa dia sedang berbicara dengan Adrian?”

Yup. Seseorang yang sedang duduk di samping Abe, Adrian Ivashkov – pacar lebih atau kurangku. Adrian adalah seorang Royal bangsawan – dan pengguna sihir roh seperti Lissa. Dia tergila-gila padaku (Dan seringnya hanya gila) sejak pertama kali kami bertemu, tapi mataku hanya untuk Dimitri. Setelah kegagalanku di Rusia, aku kembali dan berjanji memberikan Adrian sebuah kesempatan. Yang mengagetkanku, segala hal ... berjalan dengan baik diantara kami. Bahkan sangat baik. Dia telah menuliskan sebuah proposal mengapa mengencaninya terdengar sebagai keputusan. Proposal itu termasuk hal-hal seperti ‘aku akan berhenti merokok, kecuali aku benar-benar, sungguh-sungguh membutuhkannya’ dan ‘aku akan memberikan kejutan romantis setiap minggu, seperti: sebuah piknik mendadak, mawar-mawar, atau sebuah perjalanan ke Paris – tapi bukan satu dari beberapa hal tersebut karena mereka tidak lagi merupakan kejutan sekarang.

Bersamanya tidak seperti saat aku bersama Dimitri, tapi kemudian, aku menduga kalau tidak ada dua hubungan yang bisa-bisa terasa sama. Ada dua laki-laki berbeda. Aku masih terbangun sepanjang waktu, kesakitan atas hilangnya Dimitri dan cinta kami. Aku menyikasa diriku sendiri atas kegagalanku membunuhnya di Siberia dan membebaskannya dari kondisi tidak-bisa-mati. Meskipun begitu, rasa kehilangan itu tidak mengartikan kalau kehidupan romantisku telah berakhir – terkadang aku membutuhkan waktu untuk menerimanya. 

Melupakan sangatlah sulit, tapi Adrian telah membuatku bahagia. Dan untuk sekarang, semua yang ia berikan cukup bagiku. Tapi itu bukan berarti aku ingin dia bersantai-santai dengan ayah mafiaku juga.

“Dia itu pengaruh buruk!” Aku protes.
Ibuku mendengus. “Aku ragu Adrian akan bisa banyak mempengaruhi Abe.”
“Bukan Adrian! ABE! Adrian sedang belajar berperilaku baik. Abe akan mengacaukan semaunya.” Bersamaan dengan merokok, Adrian sudah bersumpah untuk berhenti minum dan semua sifat buruk lain dalam proposal berkencannya. Aku mengerling ke arah Adrian dan Abe di seberang padatnya penonton, mencoba menduga topik apa yang bisa menjadi sangat menarik.

“Apa yang sedang mereka bicarakan?”
“Kurasa topiknya paling tidak masalah-masalahmu sekarang.” Janine Hathway bukan siapa-siapa dalan hal yang tidak berhubungan dengan yang berbau praktek. “Jangan terlalu mengkhawatirkan mereka dan lebih khawatirkan ujiannya.”
“Apa kau rasa mereka sedang membicarakan aku?”
“Rose!” Ibuku memberikan pukulan ringan dilenganku dan aku kembali menarik fokus mataku ke arahnya.
“Kau harus menganggap hal ini seirus. Tetaplah tenang dan fokusmu jangan teralihkan.”

Kata-katanya sangat mirip dengan apa yang dikatakan Dimitri dalam imajinasiku, membuat sebuah senyuman perlahan muncul di wajahku. Aku tidak sendirian disini ternyata.

“Apa yang lucu?” dia bertanya khawatir.
“Bukan apa-apa,” kataku, memeluknya. Dia menegang awalnya dan kemudian badanya terasa santai, sebenarnya memelukku balik sebentar dan melepaskannya.
“Aku senang kau ada disini.”

Ibuku bukanlah seseorang yang bisa menunjukkan rasa kasih sayangnya dan aku mendapatkannya lengah. “Baiklah,” katanya, jelas sekali terlihat bingung, “Aku sudah bilang padamu kalau aku tidak akan melewatkannya.”

Aku melirik kembali ke arah penonton. “Abe, sebaliknya, aku tidak terlalu yakin.” Atau ... tunggu. Sebuah ide aneh datang padaku. Tidak, sebenarnya tidak terlalu aneh. Curang atau tidak, Abe memiliki koneksi – seseorang yang cukup berkuasa untuk menyelipkan sebuah pesan ke Victor Dashkov di penjara. 

Abe adalah seseorang yang pernah dimintai informasi tentang Robert Doru, Saudara laki-laki Victor yang menguasai roh, sebagai kebaikan hatinya untukku. Ketika Victor sudah mengirim balik suratnya dan mengatakan kalau dia tidak memiliki alasan untuk menolong Abe untuk apa yang ia butuhkan, aku dengan cepat mengubah pemikiran dari meminta bantuan ayaku dan melompat ke ide membobol penjara. Tapi sekarang –

“Rosemarie Hathaway!”
Alberta yang memanggilku, suaranya memekik dan kencang. Terdengar seperti terompet, sebuah panggilan untuk bertarung. Semua pikiran tentang Abe dan Adrian – dan ya, bahkan Dimitri – menghilang dari pikiranku. Kurasa ibuku mengharapkan agar aku berhasil, tapi kata-kata tepatnya sudah tidak terdengar lagi saat aku berdiri menghadapi Alberta dan lapangan. Gelombang adrenalin menggelora dalam diriku. Semua perhatianku sudah berada pada apa yang ditempatkan di depanku: Ujian yang akhirnya akan menjadikanku seorang pengawal.

(Diterjemahkan langsung dari Spirit Bound by Richelle Mead)

Read More...