Shadow Kiss ~ Bahasa Indonesia (chapter 8)

Saturday, January 22, 2011 0 komentar

U UNTUK BEBERAPA HARI SELANJUTNYA, aku mengikuti Christian kemana-mana tanpa ada kesulitan. Dan seperti sudah seharusnnya aku, aku menemukan diriku sendiri berkembang menjadi lebih dan lebih tidak sabaran. Untuk satu hal, aku menemukan kalau hal terbanyak yang dilakukan ketika menjadi pengawal adalah menunggu di sekitar Moroimu. Sebenarnya, aku sudah tahu hal itu, tapi ternyata kenyataannya lebih susah dari apa yang aku bayangkan. Keberadaan pengawal tentu saja sangat penting ketika Strigoi memutuskan untuk menyerang. Tapi bagaimana penyerangan itu? Umumnya sangat jarang terjadi. Waktu bisa saja berlalu – tahun demi tahun berlalu – tanpa perlu berhubungan dengan pertarungan apa pun. Ketika instrukturku, tentu saja, tidak membuat kami menunggu lama penyerangan itu selama masa pelatihan ini, mereka sama sekali tidak mengajari kami untuk bersabar dan betapa pentingnya untuk tidak bersantai ketika tidak ada penyerangan selama beberapa waktu. Kami juga berpegangan sebisa mungkin pada kondisi ketelitian seorang pengawal: selalu berdiri dan selalu terlihat resmi. Lebih sering dari pada tidak melakukannya, pengawal yang tinggal dengan keluarga Moroi berlaku santai di rumah mereka dan melakukan hal biasa seperti membaca atau menonton TV – tapi masih tetap waspada pada gangguan apapun. Kami tidak bisa mengharapkan itu, meskipun begitu, kami harus berlatih cara keras ketika di sekolah.



Level kesabaranku tidak bekerja dengan baik dalam hal menunggu, tapi rasa frustasiku lebih tinggi dibandingkan dengan kegelisahanku. Aku menderita menahan kesempatan untuk membuktikan diriku sendiri, untuk mengubah anggapan kalau aku tidak bereaksi ketika Stan menyerang. Aku tidak mendapatkan penglihatan tentang Mason lagi dan sudah memutuskan kalau apa yang aku lihat sesungguhnya hanyalah karena kelelahan – dan stres. Pemikiran itu membuatku bahagia sebab hal tersebut merupakan alasan yang jauh lebih baik daripada menjadi gila atau tidak waras.

Tapi ada hal pasti yang membuatku lebih tidak bahagia. Ketika Christian dan aku bertemu dengan Lissa setelah kelas suatu hari, aku bisa merasakan rasa khawatir dan ketakutan dan amarah yang Lissa pancarkan. Meskipun begitu, hanya ikatan batin ini yang bisa memberi petunjuk padaku. Untuk semua keseluruhan penampilannya, dia terlihat baik-baik saja. Eddie dan Christian, yang sedang membicarakan sesuatu berdua, tidak menyadari apa pun. Aku mendekatinya dan melingkarkan tanganku ketika kami berjalan.

“Semua akan baik-baik saja. Semuanya akan berjalan baik-baik saja.” Aku tahu apa yang sedang mengganggunya. Victor.

Kami memutuskan kalau Christian menganggap – meskipun kemauannya untuk “peduli pada sesuatu” – mungkin saja bukan pilihan terbaik untuk membiarkan kami mengikuti persidangan Victor. Jadi, Lissa harus memainkan diplomasi di hari lainnya dan sangat sopan berbicara pada Alberta tentang kemungkinan untuk memberikan kesaksian. 

Alberta juga sudah mengatakan padanya, juga dengan kesopanan yang sama, kalau itu hal yang tidak perlu.
“Aku merasa jika kita hanya memberikan penjelasan – kenapa ini sangat penting- mereka akan membiarkan kita pergi,” dia berbisik padaku. “Rose, aku tidak bisa tidur. ... Aku selalu memikirkan hal ini. Bagaimana jika dia berhasil bebas? Bagaimana kalau mereka benar-benar membiarkannya bebas?”

Suaranya bergetar, dan disana terdapat kerapuhan yang dulu pernah ada. Segala macam hal yang datang umumnya mematikan alarm peringatanku, tapi kali ini, semua ini memicu kenangan dengan dorongan yang aneh. Saat ketika Lissa sangat bergantung padaku. Aku senang melihat betapa kuatnya ia dan hanya ingin memastikan ia akan tetap seperti itu.

Aku mengencangkan pelukanku, sulit melakukannya sambil berjalan. “Dia tidak akan bebas,” kukatakan dengan sengit. “Kita akan pergi ke persidangan. Aku pastikan itu. Kau tau aku tidak akan membiarkan apa pun terjadi padamu.”

Dia menyandarkan kepalanya di bahuku, senyuman kecil merekah di wajahnya.
“Karena itulah aku mencintaimu. Kau sama sekali tidak tahu bagaimana caranya membawa kita semua ke persidangan itu, tapi kau masih terus saja mendorongku agar aku merasa lebih baik.”

“Apa itu bekerja?”

“Ya.”

Kekhawatiran masih mengintai dalam dirinya, tapi rasa gelinya membuang efek itu sedikit. Ditambah lagi, disamping dia menggodaku dengan janjiku yang gagah berani, kata-kataku benar-benar bisa meyakinkannya.

Sayangnya, kami segera menemukan kalau Lissa memiliki alasan lain untuk frustasi. Dia sedang menunggu penghapusan pengobatannya dalam jadwalnya dan mengizinkannya untuk memperoleh izin penuh untuk menggunakan sihir. Sihir itu ada disana – kami berdua bisa merasakannya - tapi dia masih memiliki masalah untuk menyetuhnya.

Tiga hari sudah berlalu, dan tidak ada yang berubah dari diri Lissa. Aku bisa merasakannya, tapi konsentrasi terbesarku adalah bagian mentalnya – yang mana masih tetap bersih.

“Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi,” dia mengeluh. Kami hampir sampai ke jadwal biasa. Lisssa dan Christian berencana menonton film. Aku setengah membayangkan seberapa sulit untukku tetap waspada sambil menonton film.

“Ini terasa kalau seharusnya aku mampu melakukan sesuatu tapi aku masih tidak bisa. Aku merasa buntu.”

“Mungkin bukan hal yang buruk,” aku mengeluarkan pendapatku, menjauh dari Lissa agar aku bisa memindai jalan kecil lebih dulu. Dia melemparkan pandangan sedih padaku.

“Kau tukang khawatir. Kupikir itu tugasku.”
“Hey, tugasku adalah menjagamu.”

“Sebenarnya, itu tugasku,” sahut Eddie, mempertunjukkan candaan yang jarang terjadi.

“Kalian berdua pastilah sangat khawatir,” dia mendebat. “Tidak tentang ini.”
Christian menyelipkan tangannya di pinggang Lissa. “Kau lebih tidak penyabar dibandingkan Rose disini. Yang kau butuhkan untuk dilakukan adalah – “

Sebuah kejadian déjà vu terjadi.

Stan melompat dari belakang pepohonan dan menjangkau Lissa, melilitkan tangannya ke tubuh Lissa dan menyentak Lissa ke arahnya. Tubuhku merespon spontan, tidak ada keragu-raguan ketika aku bergerak untuk ‘menyelamatkannya’. Satu-satunya masalah adalah ketika Eddie merespon spontan juga, dan dia sangat dekat, yang berarti membuatnya berada di depanku. Aku memutar, mencoba masuk dalam aksi tersebut, tapi posisi mereka berdua menghalangiku untuk bisa bergerak efektif.

Eddie mendatangi Stan dari samping, sengit dan cepat, menarik tangan Stan dari Lissa dengan kekuatan yang hampir cukup untuk merobek persendian Stan. Bentuk tubuh kurus Eddie selalu bisa melindungi kenyataan betapa berototnya sebenarnya dirinya. Tangan Stan menangkap sisi wajah Eddie, kuku menancap dalam, tapi itu cukup sehingga Lissa bisa bergeliat bebas dan berlari menghampiri Christian di belakangku. Dengan dirinya yang sudah lepas dari cengkraman Stan, aku bergerak ke arah sisi lain, berharap bisa membantu Eddie – tapi itu tidak perlu. Tanpa kehilangan tempo pertarungan, dia menangkap Stan dan melemparnya jatuh ke tanah. Separuh tarikan nafas kemudian, pasak latihan Eddie sudah dalam posisi di atas jantung Stan.

Stan terpana, lebih tepatnya merasa puas. “Kerja bagus, Castile.”

Eddie menarik pasaknya dan menolong mentornya itu berdiri. Setelah aksi itu berakhir, aku bisa melihat sekarang betapa banyaknya lebam dan benjolan di wajah Stan. Penyerangan bagi kami para novis mungkin hanya terjadi sesekali dengan jeda yang lama, tapi para penjaga kami bertarung setiap hari selama pelatihan ini. Mereka semua mendapatkan kekerasan, tapi mereka menghadapinya dengan senang dan humor yang bagus. 

“Trimakasih, Pak,” kata Eddie. Dia terlihat puas tapi tidak kelihatan sombong.
“Aku akan lebih cepat dan kuat jika aku menjadi Strigoi, tentu saja, tapi aku bersumpah, kau bisa mendapatkan saingan dengan kecepatanmu disaat itu.” Stan melirik Lissa. “Kau baik-baik saja?”
“Baik,” jawab Lissa, terlihat bersinar. Bisa kurasakan kalau dia sebenarnya menikmati kehebohan ini. Adrenalinnya berpacu cepat.

Senyum Stan menghilang ketika ia mengalihkan perhatiannya padaku. “Dan kau – apa yang kau lakukan?”
Mataku membelalak, terperanjat dengan nada kasarnya. Itu sesuatu yang ia katakan tempo lalu.
“Apa maksudmu?” seruku. “Aku tidak membeku atau apapun sekarang! Aku sudah siap untuk membantunya, mencari kesempatan untuk bergabung dengannya.”

“Ya,” dia setuju. “Itu jelas masalah. Kau terlalu tak sabar untuk memukul sehingga kau lupa kalau ada dua moroi di belakangmu. Mereka mungkin tidak nyata dalam pikiranmu. Kau keluar dari awal, dan kau membelakangi mereka.” Aku melangkah maju dan meliriknya tajam, tidak berpikir masalah kesopanan.

“Itu tidak adil. Jika kita berada dalam kejadian yang sebenarnya dan Strigoi menyerang, kau tidak bisa mengatakan padaku kalau penjaga yang lain tidak akan meloncat masuk dan melakukan apapun yang bisa mereka lakukan untuk melumpuhkan Strigoi itu secepat mungkin.”

“Kau mungkin benar,” jawab Stan. “Tapi kau tidak berpikir untuk menghilangkan gangguan seefisien mungkin. Kau tidak memikirkan Moroimu yang tidak terlindungi. Kau hanya berpikir tentang bagaimana kau bisa secepatnya melakukan sesuatu yang luar biasa dan membebaskan dirimu sendiri dari kesalahan yang sudah kau perbuat.”

“Ap-Apa? Apa kau sedang membuat beberapa lompatan disana? Kau sedang menilaiku dari apa yang kau pikirkan sebagai motivasiku. Bagaimana bisa kau begitu yakin dengan apa yang sedang aku pikirkan?” Aku bahkan tidak tahu hampir di separuh waktu yang berjalan ini.

“Naluri,” jawabnya misterius. Dia mengambil bloknot kecil kertas dan membuat beberapa catatan disana. Aku memicingkan mataku, berharap aku bisa melihat langsung melalui catatan itu dan melihat apa yang ia tulis tentang diriku. Ketika dia selesai, dia menyimpan catatan itu dibalik jubahnya dan mengangguk pada kami semua.

“Sampai jumpa.”
Kami melihatnya berjalan melintasi tanah bersalju menuju ke arah aula dimana para dhampir berlatih. Mulutku masih terbuka dan aku bahkan tidak bisa mendapatkan satu kata pun pada awalnya. Kapan semua ini berakhir dengan mereka? Aku sedang terbakar lagi dan lagi karena masalah teknis yang bodoh yang sama sekali tidak ada hubunganya dengan aksiku di dunia nyata.

“Itu semua bahkan tidak adil. Bagaimana bisa dia menghakimiku dengan pikirannya mengenai apa yang aku pikirkan?” Eddie mengangkat bahu ketika kami melanjutkan perjalanan kami ke asrama.

“Dia bisa berpikir sekehendak hatinya. Dia instruktur kita.”

“Ya, tapi dia akan memberikan aku nilai buruk lagi! Pengalaman lapangan itu sia-sia jika tidak benar-benar bisa menunjukkan bagaimana caranya kita melawan Strigoi. Aku tidak percaya ini. Aku hebat – aku sangat hebat. Bagaimana bisa aku gagal dalam hal ini?” Tidak seorang pun yang menjawab, tapi Lissa memberikan catatan yang tidak menyenangkan.

“Well ...mengesampingkan apakah dia adil atau tidak, dia benar tentang satu hal : Kau hebat, Eddie.”
Aku melirik kearah Eddie dan merasa begiru buruk karena aku membiarkan diriku hanyut dalam dramaku sendiri dan melupakan kesuksesan Eddie. Aku marah – sangat marah – tapi kesalahan Stan lah satu-satunya yang menjadi masalah yang aku hadapi. Penampilan Eddie sangat mengagumkan, dan setiap orang memujinya dalam perjalanan hingga membuatku bisa melihat rona merah di pipinya. Atau mungkin itu hanya karena cuaca yang begitu dingin. Bagaimanapun juga, aku merasa bahagia untuknya.

Kami turun ke ruang duduk, senang karena menemukan tidak ada satupun orang yang membicarakan tentang hal itu – dan tempatnya hangat serta nyaman. Setiap asrama memiliki beberapa ruang duduk seperti ini, dan semua tersedia dengan berbagai fasilitas seperti film-film dan game serta banyak kursi empuk dan dipan. Hal-hal tersebut hanya tersedia untuk siswa pada jam-jam tertentu. Di hari libur, hal tersebut tersedia sepanjang hari, tapi di hari sekolah, waktu untuk memakainya dibatasi – agaknya untuk mendorong kami agar mengerjakan pekerjaan rumah kami.

Eddie dan aku menilai ruangan dan membuat rencana, kemudian mengambil posisi kami. Berdiri membelakangi dinding, aku mengawasi dipan Lissa dan Christian yang tergeletak dengan rasa sangat iri. Kupikir filmnya akan mengalihkanku dari kewaspadaan, tapi sebenarnya, itu hanyalah bentukkan perasaanku untuk menjaga pikiranku agar terus bekerja. Aku masih tidak percaya Stan mengatakan apa yang sudah ia katakan. Dia bahkan tidak mengakui kalau dalam panasnya pertarungan, penjaga manapun akan mecoba untuk ikut dalam pertarungan. Pendapatnya mengenai diriku yang memiliki motifasi tersembunyi, motivasi pengumpulan pujian adalah omong kosong. Aku berandai-andai, jika aku dalam keadaan gawat karena gagal dalam ujian ini. Jelas sekali, setelah aku lulus, mereka tidak akan membiarkanku menjadi penjaga Lissa setelah kelulusan? Alberta dan Dimitri berkata kalau semua ini hanyalah sebuah percobaan untuk memberikan latihan yang baru bagiku dan Lissa, tapi tiba-tiba, bagian ketakutanku mulai menerka-nerka. Eddie melakukan pekerjaan yang bagus saat menjaga Lissa. Mungkin mereka sedang ingin mengetahui seberapa bagus Lissa bisa bekerjasama dengan penjaga lain. Mungkin mereka khawatir kalau aku hanya bagus ketika melindungi Lissa saja dan tidak dengan Moroi yang lain – aku kenyatannya membiarkan Mason mati, kan? Mungkin tes yang sebenarnya adalah untuk melihat apakah aku perlu digantikan. Dari semua itu, sebenarnya aku ini siapa, sungguh? Seorang pengawal muda yang akan habis. Dia adalah putri Dragomir. Dia selalu dilindungi – dan pelindunggnya tidak harus aku. Ikatan batin itu tidak penting jika aku pada akhirnya membuktikan ketidakmampuanku.

Pesona Adrian membuat pikiran ketakutanku yang semakin kalut berhenti sejenak. Dia masuk ke ruangan yang mulai menggelap, mengedipkan mata ketika ia menyentak duduk di kursi didekatku. Aku sudah menduga, hanya soal waktu sebelum ia muncul ke permukaan. Kurasa kami hanyalah hiburannya di akademi. Atau mungkin tidak, menilai bau alkohol yang kuat dari sekitar tubuhnya.

“Apa kau mabuk?” aku menanyakannya ketika film berakhir.

“Cukup mabuk. Apa yang akan kalian lakukan?” Adrian tidak mengunjungi mimpiku lagi sejak yang terakhir ketika kami berada di taman. Dia juga tidak memunculkan beberapa godaannya yang keterlaluan. Kebanyakan penampakkanya dengan kami hanyalah ketika ia bekerja denga Lissa atau untuk mengurangi kebosanannya.

Kami menceritakan secara singkat pertemuan kami dengan Stan pada Adrian, bangga pada keberanian Eddie dan tidak peduli pada usahaku.

“Kerja bagus,” kata Adrian.” Terlihat kalau kau mendapatkan luka dari pertempuran juga.” Dia menunjuk pada sisi wajah Eddie dimana tiga tanda merah melirik ke arah kami. “Aku ingat saat kuku Stan mengenai Eddie selama ia berjuang membebaskan Lissa.

Eddie dengan lembut menyentuh pipinya. “Aku hampir tidak merasakannya.” Lissa memiringkan tubuhnya dan mempelajarinya.

“Kau mendapatkannya saat melindungiku.”

“Aku mendapatkannya agar aku bisa lulus ujian lapangan,” godanya. “Jangan khawatirkan hal ini.” Dan saat itulah terjadi. Aku melihat sesuatu meraih Lissa, rasa kasihan dan desakan yang tidak dapat ditolak untuk menolong orang lain seketika mengisi jiwanya. Dia tidak bisa memahami rasa sakit, tidak bisa memahami untuk duduk diam tanpa melakukan sesuatu. Aku merasakan kekuatan terbentuk dalam diri Lissa. Sebuah perasaan kemuliaan dan lingkaran menggelitik tumitku. Aku tengah mengalami bagaimana kekuatan itu mempengaruhi Lissa. Itu adalah api dan kebahagian. Memabukkan. Lissa menjulurkan tangannya dan meraih wajah Eddie ....
Dan luka itu menghilang.
Lissa menjatuhkan tangannya, dan euforia roh mengabur dari kami berdua. 

“Anak perempuan jalang,” Adrian tersengal. “Kau tidak bercanda tentang hal itu.” Dia memandang pipi Eddie tajam.

“Tidak ada bekasnya sama sekali.” Lissa berdiri dan sekarang merosot kembali ke dipan. Dia menyandarkan kepalanya dan menutup matanya. 

“Aku melakukannya. Aku masih bisa melakukannya.”

“Tentu saja kau bisa,” kata Adrian. “Sekarang kau harus menunjukkan padaku bagaimana cara melakukannya.”

Lissa membuka matanya. “Itu tidak mudah.”

“Oh, aku mengerti,” katanya dengan nada yang dilebih-lebihkan. “Kau menanyaiku terus menerus seperti orang gila tentang bagaimana caranya melihat aura dan berjalan dalam mimpi, tapi sekarang kau tidak mau menunjukkan rahasiamu untuk ditukarkan.”

“Ini bukan hal mengenai ketidakmauan. Tapi ketidakmungkinan.”

“Karena itu, sepupu, cobalah.” Kemudian dia tiba-tiba menggarukkan kuku di tangannya dan mengeluarkan darah.

“Oh Tuhan!” aku berteriak.

“Apa kau sudah gila?” Siapa yang aku maksudkan? Tentu saja dia. Lissa meraih tangannya dan memegangnya, dan seperti sebelumnya, dia menyembukan kullit itu. Kegembiraan mengisi diri Lissa, tapi perasaanku tiba-tiba memburuk tanpa sebab. Mereka berdua masuk dalam diskusi yang tidak bisa kuikuti, menggunakan istilah sihir sebaik beberapa istilah yang aku yakin baru saja mereka temukan. Menilai dari wajah Christian, terlihat kalau ia juga tidak mengerti, dan semakin jelas kalau Adrian dan Lissa telah melupakan kami dengan semangat membara mengenai misteri roh.

Christian akhirnya berdiri, terlihat bosan. “Ayolah, Rose. Jika kau ingin mendengar semua ini, aku akan kembali ke kelas. Aku lapar.”

Lisa melirik. “Makan malam tidak untuk beberapa jam.”

“Darah,” katanya. “Aku belum mengambil bagianku hari ini.” Dia mencium leher Lissa kemudian pergi. Aku mengikutinya. Hari mulai bersalju lagi, dan aku melirik butiran salju yang melayang turun di sekeliling kami. Dulu ketika salju mulai datang pertama kali di awal Desember, aku merasa sangat bersemangat. Sekarang benda putih ini hanya menjadi benda cantik tua. Seperti beberapa malam sebelumnya, berada di luar dengan cuaca yang begitu kejam sedikit mengurangi suasana buruk hatiku, udara dingin merupakan sejenis hal yang bisa mengigitku keluar dari semua ini. Semakin dekat kami dengan para donor, aku merasa semakin tenang. “Pendonor” adalah sebutan kami kepada manusia yang suka rela menjadi sumber darah harian untuk Moroi. Tidak seperti Strigoi, yang membunuh korban yang mereka hisap darahnya, Moroi hanya mengambil sedikit saja setiap harinya dan tidak perlu membunuh pendonor. Manusia-manusia ini hidup untuk merasakan kenikmatan yang mereka dapat dari gigitan vampir dan terlihat mendapatkan kebahagiaan sempurna untuk menghabiskan waktu mereka dengan cara itu dan terpisah dari kehidupan normal manusia yang lain. Sebenarnya sangat aneh tapi sangat penting untuk kaum Moroi.

Sekolah selalu menyediakan satu atau dua pendonor di asrama Moroi untuk jam malam, tapi untuk jam-jam selebihnya, siswa harus pergi ke ruang umum untuk mendapatkan jatah harian mereka.

Selama aku melanjutkan perjalanan, aku hanya melihat pemandangan dari pohon yang memutih, pagar yang memutih, batu besar yang memutih, serta sesuatu yang berwarna putih yang lain di pemandangan itu, menangkap perhatianku. Sebenarnya, warnanya tidak terlalu putih. Warnanya – pucat, warna yang kabur.

Aku berhenti mendadak dan merasakan kedua mataku membesar. Mason berdiri disisi lain lapangan, hampir tersamar oleh pohon dan pos penjaga. Tidak, pikirku. Aku meyakinkan diriku sendiri bahwa semua ini sudah berakhir, tapi disanalah ia, menatapku dengan tatapan penderitaan, wajah hantu. Dia menunjuk, jauh menuju ke belakang sekolah. Aku melirik tempat itu tapi kembali tidak menemukan petunjuk apa pun dari yang aku lihat. Aku kembali menatapnya, aku hanya bisa menatap, rasa takut berputar dalam diriku. 
Sebuah tangan sedingin batu es menyentuh sisi leherku, dan aku berputar. Tangan itu milik Christian. 

“Ada apa?” tanyanya.
Aku menatap ke belakang dimana aku melihat Mason tadi. Dia sudah menghilang, tentu saja. Aku menutup mataku keras selama sejenak dan mendesah. Kemudian, kembali menatap Christian, aku kembali berjalan dan berkata,

“Tidak ada apa-apa.”
Christian biasanya selalu memiliki beberapa lelucon yang meluncur begitu saja kapanpun kami bersama, tapi dia begitu diam sekarang hingga sisa perjalanan kami hampir usai. Aku terfokus dengan pikiranku sendiri dan mengkhawatirkan tentang Mason, jadi aku juga hanya berbicara sedikit. Penglihatan itu hanya bertahan beberapa detik. Mempertimbangkan betapa sulitnya untuk melihat di luar sana, sepertinya semua hal tadi hanyalah tipuan mata belaka, benarkan? Aku mencoba untuk meyakinkan diriku sendiri tentang hal ini di sisa waktu perjalanan kami. Ketika kami memasuki ruang donor dan keluar dari cuaca dingin, membuatku menyadari ada sesuatu yang salah dengan Christian.

“Ada yang salah?” tanyaku, mencoba untuk tidak memikirkan Mason. “Apa kau baik-baik saja?”

“Baik,” katanya.

“Caramu mengatakan hal itu membuktikan kalau kau tidak baik-baik saja.” Dia mengacuhkanku ketika kami memasuki ruang pendonor. Terlihat sangat sibuk dari yang aku kira, dan semua kubikel kecil dimana para pendonor duduk penuh dengan Moroi. Brandon Lazar adalah satu diantaranya. Ketika dia makan, aku menangkap sebuah noda hijau yang memudar di lehernya dan aku merasa tidak pernah mendengar siapa yang menyerangnya. Christian mengantri dengan Moroi lain di pintu dan kemudian di tempat menunggu hingga dia dipanggil. Aku menyiksa otakku dengan mencoba menduga-duga apa yang menyebabkan Christian kesal.

“Ada apa? Apa kau tidak suka filmnya?” Tidak ada jawaban.

“Merasa jijik dengan aksi mutilasi diri sendiri oleh Adrian?” Memberikan Christian waktu yang sulit adalah kesenangan yang membuat perasaan bersalah. Aku bisa melakukan ini semalaman. Tidak ada jawaban.

“Apa kau – Oh.” Sesuatu menyentuhku kemudian. Aku kaget karena belum memikirkan hal ini sebelumnya. 

“Apa kau marah karena Lissa ingin membicarakan sihir dengan Adrian?” Dia memelorotkan bahunya, yang mengisyaratkan kalau aku mendapatkan apa yang aku ingin ketahui.

“Ayolah, dia tidak menyukai sihir sebesar dia menyukaimu. Ini hanyalah sesuatu yang bersamanya selama ini, kau tahu kan? Dia menghabiskan beberapa tahun ini dengan berpikir kalau dia tidak benar-benar bisa menggunakan sihir sungguhan, dan kemudian menemukan kalau dia bisa – kecuali semua ini sinting, sesuatu yang tidak bisa diprediksikan. Dia hanya mencoba untuk memahaminya.”

“Aku tahu,” katanya singkat, menatap ruangan yang luas tanpa benar-benar fokus terhadap siapa pun . “Bukan itu masalahnya.”

“Lalu kenapa ...” Aku membiarkan kata-kataku memudar seiring munculnya penjelasan yang kusadari. “Kau cemburu pada Adrian.”

Christian memperbaiki mata biru-esnya padaku, dan bisa kubilang aku memukul tepat di sasarannya.
“Aku tidak cemburu. Aku hanya –“

“ – merasa tidak aman dihadapkan pada fakta kalau pacarmu menghabiskan banyak waktu bersama seorang cowok kaya dan tampan yang mungkin akan dia sukai. Atau, yang biasa kita sebut sebagai rasa cemburu.” Dia memalingkan muka dariku, benar-benar terlihat kesal.

“Bulan madu mungkin sudah berakhir diantara kami berdua, Rose. Sial. Kenapa orang-orang ini begitu lama?”

“Dengar,”kataku, mengubah cara berdiriku. Kakiku sakit setelah terlalu banyak berdiri. “Apa kau tidak mendengar pidato kisah asmaraku tentang berada di dalam hati Lissa kemarin? Dia tergila-gila padamu. Kau satu-satunya yang ia inginkan, dan percaya padaku, aku bisa yakiin 100 persen. Jika ada orang lain dalam hatinya, aku pasti sudah tahu.”

Senyum tersembunyi terlihat di bibirnya. 
“Kau sahabatnya. Kau bisa menutupinya untuknya.”

Aku mengejek.
“Tidak jika dia bersama Adrian. Aku jamin padamu, dia tidak tertarik sama sekali dengan Adrian, terima kasih Tuhan – paling tidak, bukan dalam hal romantis.”

“Dia bisa sangat memikat. Dia bisa memakai kompulsinya ...”

“Dia tidak menggunakannya pada Lissa. Aku bahkan tidak tahu dia bisa melakukannya – Kurasa mereka sama-sama tidak terpengaruh dengan kompulsi itu. Selain itu, apa kau tidak mendengarkan? Akulah objek tidak beruntung yang menjadi perhatian Adrian.”

“Benarkah? tanya Christian, benar-benar terkejut. Laki-laki bisa lupa pada sekitarnya jika mendengar tentang hal seperti ini. “Aku tahu dia menggoda – “

“Dan muncul dalam mimpi tanpa diundang. Sepertinya aku tidak bisa melarikan diri, memberikannya kesempatan sempurna untuk mengajariku dengan sesuatu yang ia sebut sebagai pesonanya dan percobaan untuk menjadi romantis.”

Dia berubah menjadi curiga. “Dia juga muncul di mimpi Lissa.”
Benar. Seharusnya aku tidak mengatakan apapun mengenai mimpi. Apa yang telah dikatakan Adrian?
“Mimpi Lissa hanya berbentuk instruksi. Aku rasa kau tidak perlu khawatir.”

“Orang-orang tidak akan melotot jika muncul di pesta bersama Adrian.”
“Ah,” kataku. “Jadi inilah masalah sebenarnya. Kau pikir kau membuat kebangasawanannya jatuh?”

“Aku tidak baik ... terhadap segala sesuatu yang berbau sosial,” Christian mengaku dalam pertunjukkan terluka yang jarang terjadi.

“Dan kurasa, Adrian memiliki reputasi yang lebih bagus dariku.”
“Apa kau bercanda?”
“Ayolah, Rose. Mabuk dan merokok tidak bisa disamakan dengan pikiran orang-orang mengenai dirimu yang akan berubah menjadi Strigoi. Aku melihat cara orang-orang bereaksi ketika dia membawaku pada makan malam dan acara di tempat ski. Aku tidak mampu. Dia satu-satunya perwakilan dari keluarganya. Dia akan menghabiskan sisa hidupnya terikat dengan politik, mencoba untuk selalu bersikap ramah terhadap semua orang. Adrian bisa melakukan lebih untuknya dibandingkan aku.”

Aku menolak kepentingan untuk mengartikan beberapa perasaan tercampur untuknya.
“Aku bisa memahami dari mana kau berasal, tapi ada satu kekurangan dalam pikiran sempurnamu itu. Tidak ada apa pun antara Lissa dan Adrian.”

Dia memalingkan muka dan tidak mengatakan apapun lagi. Kurasa perasaannya dikarenakan Lissa bersama laki-laki lain. Seperti yang sudah ia akui, dia merasa tergelitik karena merasa tidak aman mengenai Lissa. Bersama Lissa membuatnya menjalani hal-hal bagus untuk sikap dan rasa sosialnya, tapi di akhir hari, dia masih memiliki masalah karena berhadapan dengan predikat keluarga yang “tercemar”. Dia masih khawatir tentang tidak cukup baik untuk Lissa.

“Rose benar,” sebuah suara tidak diundang muncul dari belakang kami. Bersiap dengan lirikan tajam terbaikku, aku berpaling ke arah Jesse. Alaminya, Ralf bersembunyi didekatnya. Pengawal latihan yang bertugas untukknya, Dean, berdiri sambil memperhatikan dari pintu masuk. Mereka sebenarnya terlihat seperti bodyguard resmi. Jesse dan Ralf tidak berada di antrian ketika kami datang, tapi mereka sepertinya menyimpang dan cukup jelas mendengar bagian percakapan kami.

“Kau masih seorang bangsawan. Kau punya semua kemampuan untuk bersama Lissa.”
“Wow, berbicara mengenai hal ini,” kataku. “Bukankah kalian yang dulu mengatakan padaku bagaimana Christian bisa saja berubah menjadi Strigoi kapan saja? Aku memperhatikan lehermu, jika aku jadi kamu, dia terlihat berbahaya.”

Jesse melorot. “Hey, kau bilang dia bersih, dan jika seseorang tahu mengenai Strigoi, itu adalah dirimu. Selain itu, kami sebenarnya mulai menyadari kalau perlawanan merupakan sifat alami Ozera yang baik.”

Aku menatapnya curiga, menyimpulkan kalau ada sesuatu trik yang tersembunyi disini. Tapi dia terlihat bersungguh-sungguh, seperti dia percaya kalau Christian tidak berbahaya.

“Terima kasih,” kata Christian, seringaian meremehkan berputar di bibirnya. “Sekarang setelah kau mengakui aku dan keluargaku, aku akhirnya bisa melanjutkan hidupku. Itulah yang selama ini menahanku.”

“Aku serius,” sahut Jesse. “ Keluarga Ozera memang tidak terdengar sekarang, tapi mereka pernah menjadi satu dari kelaurga bangsawan terkuat di luar sana. Mereka bisa saja menjadi seperti itu lagi – terutama dirimu. Kau tidak takut melakukan sesuatu yang seharusnya tidak kau lakukan. Kami suka itu. Jika kau sudah selesai dengan omong kosong rasa anti-sosial, kau bisa memiliki banyak teman dan pergi keluar. Membuat kau berhenti mengkhawatirkan Lissa secara berlebihan.”

Christian dan aku bertukar lirikan. “Apa yang kau mau?” tanyanya.
Jesse tersenyum dan melemparkan lirikan tersembunyi kepada kami.
“Beberapa dari kami berkumpul bersama. Kami membentuk kelompok – cara cepat untuk kita dari keluarga terbaik bersatu, kau tahu? Segalanya mulai gila, apa yang terjadi dengan penyerangan Strigoi bulan lalu dan orang-orang tidak tahu apa yang harus dilakukan. Kita juga membicarakan mengenai pembentukan diri kita untuk bertarung dan menemukan cara baru sehingga kita tidak perlu pengawal lagi.” Katanya sambil menyeringai, dan bulu kudukku meremang ketika mendengar dia menyebut pengawal seolah hanyalah sebuah objek.

“Terlalu banyak orang yang bukan bangsawan mencoba mengambil kepemimpinan.”

“Apa masalahnya jika ide mereka bagus?” kataku menuntut.
“Ide mereka tidak bagus. Mereke tidak tahu tempat mereka. Sebagian dari kita mulai berpikir cara untuk melindungi diri sendiri dari semua itu dan mengawasi satu sama lain. Kurasa kau akan suka dengan apa yang kami lakukan. Dan sebenarnya, kitalah yang harus membuat keputusan, bukan dhampir dan Moroi bukan bangsawan. Kita kaum elit. Yang terbaik. Bergabunglah bersama kami, dan akan ada cara untuk kami membantumu dengan Lissa.”

Aku tidak bisa menahannya. Aku tertawa. Christian serta merta terlihat jijik.
“Aku tarik kembali apa yang kukatakan tadi,” kata Christian. “Ini apa yang aku tunggu seumur hidupku. Sebuah undangan untuk bergabung dalam klub rumah pohon.”
Ralf, besar dan lamban, mengambil satu langkah maju. “Jangan bercanda dengan kami. Ini serius.”

Christian menghela nafas. “Kalau begitu, jangan bercanda denganku. Jika kau benar-benar berpikir aku mau bergabung dengan kalian dan mencoba melakukan sesuatu yang lebih baik untuk Moroi yang sudah manja dan keras kepala duluan, itu berarti kalian lebih bodoh dari pada yang aku pikirkan selama ini. Dan yang tadi itu sangat bodoh.”
Rasa marah dan malu memenuhi wajah Jesse dan Ralf, tapi untunglah, nama Christian dipanggil setelah itu. Dia terlihat senang ketika kami masuk ke dalam. Tidak seperti baru saja di pancing oleh dua orang brengsek yang mencoba membuatmu merasa lebih baik dalam kehidupan cintamu.

Pendonor untuk Christian malam ini adalah seorang wanita bernama Alice, yang merupakan pendonor tertua di sekolah. Sebagian besar Moroi lebih memilih pendonor muda, tapi Christian, tetap menjadi dirinya yang aneh, menyukainya hanya karena wanita itu pikun. Dia tidak setua itu –enam puluh tahunan – tapi terlalu banyak hormon vampir yang masuk sepanjang hidupnya mempengaruhinya secara permanen. 

“Rose,” kata Alice, memutar bola mata birunya kearahku. 
“Kau tidak biasanya bersama Christian. Apa kau dan Vasilisa bertengkar?”

“Nggak,” kataku. “Hanya mengubah pemandangan.”

“Pemandangan,” Alice berbisik, melirik ke arah jendela terdekat. Moroi menjaga jendela-jendela dicat untuk mencegah sinar dari luar masuk, dan aku ragu manusia bisa melihat apapun.
“Pemandangan selalu berubah. Apa kau menyadarinya?”

“Tidak pemandangan kita,” kata Christian, duduk disebelah Alice. “Salju-salju itu tidak pergi kemanapun. Tidak untuk beberapa bulan.”

Alice mengeluh dan menatap Christian dengan gusar. 
“Aku tidak sedang membicarakan tentang pemandangan.”

Christian tersenyum geli padaku, kemudian memiringkan kepalanya dan menancapkan giginya ke leher Alice. Ekspresi Alice mengendur segala percakapan mengenai pemandangan dan apa pun yang ia maksudkan terlupakan saat Christian meminum darahnya. Aku hidup disekitar vampir dan aku tidak pernah terpikir mengenai taring mereka. Sebagian besar kaum Moroi sangat pintar menyembunyikan taring mereka. Hanya di saat seperti ini aku ingat kekuatan yang dimiliki oleh vampir.

Biasanya, ketika aku melihat vampir yang sedang meminum darah, mengingatkanku ketika Lissa dan aku melarikan diri dari Akademi, dan aku membiarkan lissa meminum darahku. Aku tidak pernah mencapai tingkat ketagihan menggila menjadi pendonor, tapi aku menikmati rasa melayangnya. Aku pernah menginginkannya , yang tidak pernah kuakui kepada siapa pun. Dalam dunia kami, hanya manusia yang boleh memberikan darahnya. Dhampir yang melakukannya akan dianggap murahan dan memalukan. 

Meringis, aku kembali kepada Christian dan Alice.
Ketika kami meninggalkan ruang pendonor, Christian terlihat lebih bersemangat dan menggebu-gebu.

“Akhir minggu ini, Rose. Tidak ada kelas – dan kau bisa mendapatkan hari liburmu.”

“Tidak,” kataku, hampir lupa. Sial. Kenapa dia harus mengingatkanku? Aku hampir mulai merasa lebih baik setelah kejadian Stan. Aku mengeluh.

“Aku punya tugas pelayanan sosial.”


0 komentar:

Post a Comment

 

Blog archive

Please, Keep in Touch!

©Copyright 2011 Love Your Life | TNB