Blood Promise ~ Bahasa Indonesia (Chapter 7)

Wednesday, June 15, 2011 6 komentar
T ERASA SEPERTI DI PAGI NATAL.
Aku biasanya tidak terlalu percaya pada Tuhan atau taqdir, tapi sekarang aku serius berpikir ulang. Setelah pingsan, Sydney rupanya menelpon dalam keadaan panik dan seseorang yang ia kenal di Baia mendatangi kami – mempertaruhkan nyawanya dalam kegelapan – untuk menyelamatkan kami dan membawa kami ke tempat aku bisa disembuhkan. Tidak diragukan lagi alasan mengapa aku mendapatkan sensasi samar berada di mobil selama aku mengigau; karena itu bukanlah bagian dari mimpi.

Dan kemudian, entah bagaimana, dari semua dhampir yang berada di Baia, aku ditolong oleh ibunya Dimitri sendiri. Itu sudah cukup untuk membuatku mempertimbangkan bahwa mungkin memang benar ada kekuatan yang lebih besar dari pada diriku yang bekerja di alam ini. Tidak ada satupun yang memberitahukanku dengan jelas bagaimana semua ini bisa terjadi, tapi aku segera menyadari kalau Olena Belikova memiliki reputasi dari semua penyembuh di kota ini – dan bahkan bukanlah termasuk penyembuh dengan sihir. Dia pernah mengikuti pelatihan medis dan merupakan salah satu dhampir – dan bahkan beberapa Moroi – yang pergi ke daerah ini ketika mereka ingin menghindari perhatian manusia. Masih. Kebetulan yang menakutkan dan aku tidak bisa menolak untuk berpikir kalau ada sesuatu yang terjadi yang masih belum bisa aku mengerti. Untuk sekarang, aku tidak terlalu khawatir tentang bagaimana dan mengapa situasiku menjadi seperti ini. Aku terlalu sibuk menatap dengan mata yang lebar kesekitarku dan orang-orang yang berada disini. Olena tidak hidup sendiri. Semua saudara perempuan Dimitri – tiga dari mereka – tinggal di rumah ini juga bersama anak-anak mereka. Kemiripan dalam keluarga ini juga mengejutkan. Tidak satupun dari mereka yang benar-benar mirip dengan Dimitri, tapi disetiap wajah mereka aku bisa menemukan Dimitri. Mata itu. Senyuman itu. Bahkan rasa humornya. Melihat mereka menarik kembali ingatan tentang Dimitri yang menghilang – dan memperparah keadaan dalam waktu yang sama. Kapanpun aku melihat mereka di luar dari fungsi perangkat penglihatanku, kurasa aku melihat Dimitri. Seperti sebuah rumah kaca, dengan refleksi yang berserakan dimana-mana.

Bahkan rumahnya membuatku merinding. Tidak ada tanda-tanda yang jelas kalau Dimitri pernah tinggal disini, tapi aku terus berpikir, disinilah tempat ia tumbuh. Dia berjalan di lantai ini, menyentuh dinding-dinding ini .... Saat aku berjalan dari kamar ke kamar, ku sentuh juga dinding-dinding itu, mencoba menarik energi Dimitri dari benda-benda itu. Aku membayangkan ia duduk-duduk di sofa, beristirahat sepulang sekolah. Aku bertanya-tanya, apakah ia pernah meluncur di tangga ini ketika masih kecil. Gambaran itu terasa sangat nyata sehingga aku harus terus mengingatkan diriku sendiri kalau Dimitri sudah lama tidak kembali ke tempat ini.

“Kau memiliki kekuatan pemulihan yang luar biasa,” catatan Olena di pagi berikutnya setelah ia membawaku bersamanya. Dia memberikan tatapan persetujuan ketika aku menghirup sepiring blini. Blini itu adalah pancake super tipis yang ditumpuk dan dilapisi mentega dan selai.

Tubuhku selalu meminta banyak makanan untuk memulihkan kembali kekuatanku. Dan aku membayangkan, selama aku tidak mengunyah dengan mulut terbuka atau apapun sejenisnya, aku tidak punya alasan untuk merasa bersalah karena makan banyak.

“Kupikir kau sudah mati ketika Abe dan Sydney membawamu kesini.”
“Siapa?” tanyaku diantara gigitan makanan yang kukunyah.

Sydney duduk di meja itu beserta seluruh sisa keluarga ini, hampir tidak menyentuh makanannya seperti biasa. Dia tampak gelisah dikelilingi oleh rumah penuh dengan dhampir, tapi ketika pertama kali aku turuh pagi ini, aku yakin sekali melihat kelegaan di matanya.

“Abe Mazur,” kata Sydney. Kecuali aku salah, beberapa orang di meja ini saling bertukar lirikan.

“Dia adalah seorang Moroi. Aku ... aku tidak tahu seberapa parah kau terluka malam kemarin, jadi aku memanggilnya. Dia menyetir bersama para pengawalnya. Dialah yang membawamu kesini.”

Para pengawal. Berarti jamak. “Apa dia seorang bangsawan?” Mazur bukanlah nama bangsawan, tapi hal itu juga tidak bisa menjamin garis keturunan seseorang. Dan ketika aku mencoba mempercayai jaringan dan koneksi Sydney terhadap orang-orang berkuasa, aku tidak bisa membayangkan mengapa seorang bangsawan mau keluar dari tempat yang aman demi aku. Mungkin dia berhutang budi dengan para Alkemis.

“Tidak,” katanya terus terang. Aku mengerutkan dahi. Seorang yang bukan bangsawan dengan lebih dari satu pengawal? Sangat aneh. Jelas sekali Sydney tidak akan beribicara lebih lagi – paling tidak sampai sekarang.

Aku menelan semulut penuh blini dan mengembalikan perhatianku kembali ke Olena.
“Terimakasih telah mengajakku kemari.”

Kakak tertua Dimitri, Karolina, juga duduk di meja itu, bersama bayi perempuannya dan anak lelakinya, Paul. Paul berusia sekitar sepuluh tahun dan terlihat terpesona olehku.

Saudara remaja Dimitri, Viktoria, juga disana. Dia tampak sedikit lebih muda dariku. Saudara perempuan ketiga Belikov bernama Sonya dan sudah pergi bekerja sebelum aku bangun. Aku harus menunggu jika ingin bertemu dengannya.

“Apakah kau membunuh dua Strigoi sendirian?” Paul bertanya padaku.
“Paul,” tegur Karolina. “Itu bukan pertanyaan yang bagus.”
“Tapi merupakan salah satu hal yang menarik,” kata Viktoria sambil menyeringai.
Rambut cokelatnya diselingi oleh helaian emas, tapi mata gelapnya berkilau dan sangat mirip dengan Dimitri ketika ia sedang senang, sehingga menarik hatiku. Sekali lagi, aku merasakan sensasi mengejek kalau Dimitri ada disini tapi tidak berada disini.

“Dia melakukannya,” kata Sydney. “Aku melihat mayatnya. Seperti biasanya.” Dia memakai ekspresi lucu yang terlihat menyakitinya dan tertawa. “Paling tidak aku meninggalkan mereka dimana kau bisa langsung menemukan mereka sekarang.” Humorku mendadak redup.

“Apa ada orang ... manusia yang menyadari atau mendengar?”
“Aku sudah memusnahkan tubuhnya sebelum satu orang pun melihat,” katanya. “Jika ada orang mendengar apa pun ... Well, tempat-tempat terpencil seperti itu selalu diisi dengan cerita takhayul dan hantu. Mereka tidak benar-benar memiliki data-data faktual tentang vampir, tapi disana selalu ada kepercayaan tentang kekuatan gaib dan ada sesuatu yang berbahaya di luar sana. Sedikit yang mereka ketahui.”

Dia mengatakan “cerita hantu” tanpa ada perubahan ekspresi di wajahnya. Aku bertanya-tanya apa dia melihat roh-roh semalam tapi akhirnya aku memutuskan kalau dia tidak mungkin melihatnya. Dia keluar rumah mendatangi ku saat sudah berada di bagian akhir pertarungan dan jika mengingat adanya indikasi bukti-bukti di masa lampau, tidak ada satu orang pun yang bisa melihat roh yang kulihat – kecuali Strigoi, ternyata.

“Kau pastinya telah dilatih dengan baik dulu,” kata Karolina, mengubah posisi sehingga bayinya bersandar di bahunya. “Kau terlihat masih harus berada di sekolah.”

“Aku baru saja keluar,” kataku, menatap Sydney.

“Kau orang Amerika,” kata Olena tanpa berbelit-belit. “Apa yang bisa membawamu sampai kemari?

“Aku ... aku mencari seseorang,” kata yang bisa kukeluarkan setelah beberapa saat keraguanku. Aku takut mereka akan menanyakan setiap detil atau menduga kalau dia adalah seorang pelacur-darah juga, tapi kemudian, pintu dapur terbuka dan nenek Dimitri, Yeva, masuk. Sebelumnya dia telah menjulurkan kepalanya dari awal dan sumpah, ia membuatku takut. Dimitri pernah bilang padaku kalau dia adalah semacam penyihir dan aku bisa percaya hal itu. Dia terlihat seperti singa Gazil tua dan sangat kurus, dan ajaibnya angin tidak bisa meniup dirinya hingga terbang. Dia hampir setinggi lima kaki dan kepalanya ditutupi oleh rambutnya yang berwarna abu-abu sebagian. Tapi sebenarnya matanyalah yang membuatku takut. Sisanya terlihat lemah tetapi mata gelap itu sangat tajam dan waspada dan terlihat bosan melihat ke dalam jiwaku. Bahkan tanpa penjelasan Dimitri, aku pasti akan langsung menduga kalau dia adalah penyihir. Dia adalah satu-satunya orang di dalam keluarga ini yang tidak bisa berbahasa Inggris.

Dia duduk di satu kursi kosong dan Olena buru-buru melompat untuk mengambilkan blini. Yeva mengumamkan sesuatu dalam bahasa Rusia dan membuat yang lain terlihat tidak nyaman. Bibir Sydney berkedut membentuk senyuman kecil. Mata Yeva menatapku ketika ia berbicara dan aku melirik kesana-kemari untuk meminta terjemahannya.
“Apa?” tanyaku.

“Nenek bilang kau tidak mengatakan seluruh cerita yang sebenarnya tentang mengapa kau berada disini. Kata nenek, semakin lama kau menunda untuk mengatakannya, semakin buruk hasilnya,” Viktoria menjelaskan. Dia kemudian memberikan Sydney pandangan meminta maaf. “Dan dia juga ingin tahu kapan si Alkemis pergi.”

“Secepatnya,” kata Sydney datar.

“Well, mengapa aku disini ... ceritanya panjang.” Bisakah aku menceritakan semuanya sejelas-jelasnya? Yeva mengatakan sesuatu dan Olena menawabnya dengan erangan. Kepadaku ia berbicara dengan lembut: “Abaikan dia, Rose. Suasana hatinya sedang tidak bagus. Mengapa kau disini adalah urusanmu – meskipun aku yakin Abe akan menanyakanmu hal yang sama.” Dia mengerenyit sedikit dan aku diingatkan oleh pandangan orang-orang di meja itu. “Kau harus ingat untuk berterima kasih kepadanya. Dia terlihat sangat mengkhawatirkanmu.”

“Aku juga ingin bertemu dengannya,” aku bergumam, masih penasaran dengan pengawalan dirinya, Moroi bukan bangsawan yang memberikanku tumpangan dan tampaknya membuat semua orang tidak tenang. Bersemangat untuk menghindari pembicaraan mengenai mengapa aku ada disini, aku buru-buru mengubah topik pembicaraan.

“Aku juga ingin sekali berkeliling Baia. Aku tidak pernah berada di tempat seperti ini sebelumnya – dimana ada banyak sekali dhmapir tinggal, maksudku.”

Wajah Viktoria berubah cerah. “Aku bisa menemanimu berkeliling – jika kau yakin sudah merasa baikan. Atau jika kau tidak harus pergi sekarang.”

Dia percaya aku hanya singgah disini, sama seperti sebelumnya. Jujur, aku sama sekali tidak yakin apa yang harus aku lakukan lagi, sekarang sepertinya terlihat kalau Dimitri tidak ada di daerah ini. Aku melirik Sydney, bertanya.

Dia mengangkat bahunya. “Lakukan apa yang ingin kau lakukan. Aku tidak akan pergi kemanapun.” Aku menemukan ada sedikit kebingungan disana. Dia membawaku kesini atas perintah atasannya – tapi sekarang apa? Nah, itu akan menjadi perhatian kami untuk nanti. Segera setelah aku menghabiskan makananku, Viktoria praktis menyeretku ke luar, seolah aku adalah hal menarik yang terjadi di sekitar sini sementara, Yeva tidak mengalihkan pandangannya ke arahku selama ia menghabiskan makanannya dan meskipun ia tidak mengatakan hal apa pun, kecurigaannya bahwa ia tidak percaya satu pun kata-kata yang kuucapkan jelas tampak dari pandangannya. Aku mengajak Sydney beralan-jalan keluar, tapi dia menolak, memilih mengunci dirinya di kamar dan membaca tentang candi di Yunani atau mengontrol dunia dengan teleponnya atau melakukan apa pun yang pernah ia lakukan.

Viktoria bilang kalau pusat kota tidak jauh dari dimana mereka tinggal dan sangat mudah jika kesana dengan berjalan kaki. Harinya cerah dan sejuk, dengan sinar matahari yang cukup untuk membuat suasana di luar menjadi nyaman.

“Kami tidak memiliki banyak pengunjung,” ia menjelaskan. “Kecuali Moroi pria, tapi kebanyakan mereka tidak tinggal lama.”

Dia tidak menambahkan penjelasan itu, tapi aku menduga-duga maksud di dalamnya. Apakah para Moroi pria ini pergi kesini untuk beraksi dengan dhampir wanita? Aku dibesarkan dengan pemikiran mengenai wanita-wanita ini, dhampir yang memilih untuk tidak menjadi pengawal adalah dhampir hina dan kotor. Satu yang kutemui di Nightingale jelas merupakan gambaran pelacur darah, tapi Dimitri meyakinkanku kalau tidak semua dhampir wanita seperti itu. Setelah bertemu keluarga Belikov, aku mempercayainya.

Setelah kami hampir sampai di pusat kota, segera aku menemukan mitos yang lain hancur juga. Orang-orang selalu membicarakan tentang pelacur darah yang tinggal di sebuah perkemahan atau kelompok yang hidup bersama, tapi hal itu tidak ada disini. Baia bukanlah kota yang besar, tidak seperti St. Petersburg atau bahkan Omsk, tapi ini adalah kota sungguhan dengan banyak populasi manusia di dalamnya. Hampir tidak ada perkemahan pedesaan atau pemukiman peternakan. Semua pengaturan kota normal dan menakjubkan, dan ketika kami sampai di pusat kota, toko kecil dan restoran berbaris di sisinya, sangat terlihat seperti tempat lain di dunia ini dimana manusia tinggal. Modern dan biasa, hanya dengan sedikit sentuhan desa.

“Dimana semua dhampir?” aku bertanya-tanya dengan suara keras. Sydney pernah berkata kalau ada kehidupan rahasia vampir, tapi aku tidak menemukan tanda-tanda apapun mengenai keberadaan mereka.

Viktoria tersenyum. “Oh mereka disni. Kami punya banyak bisnis dan tempat lain yang tidak diketahui manusia.” Saat aku memahami kalau para dhampir tidak terdeteksi di kota besar, rasanya luar biasa untuk menyamakan pemikiran seperti itu disini. “Dan banyak dari kami yang tinggal dan bekerja dengan manusia.” Dia menunjuk sebuah tempat seperti toka obat dengan dagunya. “Itu tempat Sonya bekerja sekarang.”

“Sekarang?”

“Sekarang dia sedang hamil.” Viktoria memutar matanya. “Aku akan membawamu menemuinya, tapi dia jadi pemarah belakangan ini. Kuharap bayinya segera dilahirkan.” Dia menghentikan penjelasannya sampai disitu dan aku lagi-lagi bertanya-tanya tentang dinamika hubungan dhampir dan Moroi disini. Viktoria sangat mudah untuk disukai dan hanya dalam waktu satu jam kami saling cocok seolah kami sudah kenal lama. Mungkin hubunganku dengan Dimitri mengikatku pada keluarganya juga.

Pikiranku terpotong ketika seseorang memanggil nama Viktoria. Kami berbalik dan melihat seorang dampir pria yang imut menyebrang jalan. Rambutnya berwarna perunggu dan matanya gelap, umurnya kira-kira ada diantara usiaku dan Viktoria. Dia membicarakan sesuatu dengan santai kepadanya. Dia tersenyum pada pria itu dan kemudian menunjuk padaku, memperkenalkanku dalam bahasa Rusia.
“Ini Nikolai,” kata Viktoria dalam bahasa Inggris.
“Senang berkenalan denganmu,” katanya, juga mengubah bahasanya. Dia sepertinya memberikan penilaian capat terhadapku seperti yang biasa dilakukan laki-laki, tapi ketika ia memalingkan wajahnya ke Viktoria, sangat jelas siapa yang sebenarnya ia sukai.
“Kau harusnya membawa Rose ke pesta Marina. Acaranya Minggu malam.” Dia ragu-ragu, berubah sedikit malu-malu. “Kau akan pergi, kan?”

Viktoria terlihat memikirkan dan aku sadar kalau dia jelas mengerti tentang perasaan Nikolai.
“Aku akan datang, tapi ...” dia berpaling ke arahku. “Apa kamu masih tinggal disini?”

“Aku tidak tahu,” jawabku jujur. “Tapi aku akan datang jika aku masih disini. Pesta apa?”

“Marina itu teman sekolah,” jelas Viktoria. “Kami hanya perlu kumpul-kumpul dan berpesta sebelum kami kembali.”

“Ke sekolah?” tanyaku bodoh. Entah mengapa, bagiku tidak pernah terbayangkan dhampir di luar sini bersekolah.

“Kami sedang liburan sekarang,” kata Nikolai. “Untuk hari Paskah.”

“Oh,” sudah akhir April, tapi aku tidak tahu kapan tepatnya hari paskah jatuh pada tahun ini. Aku sudah tidak mengikuti hari apa hari ini. Hari Paskah belum terjadi, jadi sekolah mereka pastilah mengambil liburan di minggu sebelum hari Paskah. St. Vladimir mengambil liburan Paskah sesudahnya.

“Dimana sekolahmu?”
“Sekitar tiga jam dari sini. Bahkan lebih terpencil dari tempat ini.” Viktoria mengubah mimik wajahnya.

“Baia tidak seburuk itu,” goda Nikolai.

“Mudah bagimu berkata begitu. Kau toh pada akhirnya akan pergi dan melihat tempat-tempat baru dan menyenangkan.”

“Apa kau tidak bisa melakukannya?” tanyaku pada Viktoria.
Dia merengut, tiba-tiba merasa tidak nyaman. “Sebenarnya, aku bisa ... tapi bukan seperti itu cara yang kami lakukan disini – paling tidak, tidak di keluargaku. Nenek memiliki ... beberapa pendapat yang kuat tentang pria dan wanita. Nikolai akan menjadi seorang pengawal, tapi aku akan tetap tinggal disini bersama keluargaku.”

Nikolai mendadak memiliki penilaian baru. “Apa kau seorang pengawal?”

“Ah, bagaimana ya...” sekarang aku lah yang merasa tidak nyaman.

Viktoria berbicara sebelum aku menemukan kata-kata yang ingin kuucapkan. “Dia telah membunuh dua Strigoi di luar kota. Sendirian.”

Nikolai terlihat kagum. “Kau seorang pengawal.”

“Sebenarnya, tidak ... aku sudah pernah membunuh sebelumnya, tapi sesungguhnya pekerjaanku belum disumpah sebagai pengawal.” Aku berpaling dan mengangkat rambutku untuk menunjukkan leherku. Selain tanda molinjaku, aku juga memiliki tato berbentuk bintang kecil yang artinya aku pernah berperang. Mereka berdua tersentak dan Nikolai mengatakan sesuatu dalam bahasa Rusia.

Aku menutupinya dengan rambut lagi dan melihat mereka kembali. “Apa?”

“Kau ...” Viktoria menggigit bibirnya, matanya merenung ketika mencari-cari kata-kata yang ingin ia ucapkan. “yang tidak diperjanjikan? Aku tidak tahu bahasa Inggrisnya bagaimana.”

“Yang tidak diperjanjikan?” ulangku. “Kurasa ... tapi secara teknis bukankan semua wanita seperti itu ada disini?”

“Meskipun jika kami bukanlah pengawal, kami masih bisa diberi tanda yang menunjukkan kelengkapan pelatihan kami. Meskipun bukan tanda yang dijanjikan. Kau yang sudah membunuh banyak Strigoi dan tidak memiliki kesetian kepada sekolah atau pengawal ...” Viktoria mengangkat bahu. “Kami menyebutnya yang tidak diperjanjikan – itu adalah hal yang aneh.”

“Hal itu juga dianggap aneh di tempat aku berasal,” aku mengakui. Sungguh tidak pernah terdengar sebelumnya. Sangat banyak sehingga kami tidak memiliki istilah untuk menyebutkan hal tersebut. Hanya saja dianggap sebagai belum selesai.

“Aku harus membiarkan kalian pergi,” kata Nikolai, mata mabuk cintanya kembali ke Viktoria. “Tapi aku sudah pasti akan melihat kalian di pesta Marina kan? Mungkin lebih cepat?”

“Ya,” Viktoria setuju. Mereka mengucapkan salam dalam bahasa Rusia dan kemudian Nikolai melompat melewati jalan dengan mudah, berkah tubuh atletis pengawal dengan latihan. Sedikit mengingatkanku pada Dimitri.

“Aku pasti sudah menakutinya,” kataku.
“Tidak, dia berpikir kalau kau menakjubkan.”

“Tidak semenakjubkan dirimu menurut dia.”

Alis Viktoria naik. “Apa?”
“Dia menyukaimu ... maksudku, mencintaimu. Apa kau tidak menyadarinya?”

“Oh. Kami hanya teman.” Aku sadar dari sikapnya, Viktoria bersungguh-sungguh dengan kata-katanya. Dia benar-benar tidak peduli dengan cowok itu, yang berarti tidak bagus. Nikolai cowok yang tampan dan ramah. Kubiarkan rasa kasihanku pada Nikolai pergi, aku kembali ke topik pengawal lagi. Aku penasaran tentang perbedaan sikap disini.

“Kau bilang kau tidak bisa ... tapi apa kau ingin menjadi pengawal?”
Dia ragu-ragu. “Aku belum pernah benar-benar memikirkannya. Aku mendapatkan latihan yang sama di sekolah dan aku senang bisa mempertahankan diri. Tapi aku lebih memilih menggunakannya untuk melindungi keluargaku daripada Moroi. Kurasa terdengar seperti ...” Dia berhenti sejenak untuk memikirkan kata-kata yang tepat lagi. “ ... diskriminasi? Tapi, laki-laki yang akan menjadi pengawal dan wanita tinggal di rumah. Hanya kakakku yang pergi.”

Aku hampir tersandung. “Kakakmu?” tanyaku, menjaga suaraku sestabil mungkin.

“Dimitri,” katanya. “Dia lebih tua dariku dan sudah menjadi pengawal selama ini. Dia di Amerika sebenarnya. Kami belum pernah bertemu dia lagi untuk waktu yang lama.”

“Huh.” Aku merasa jahat dan bersalah. Bersalah karena aku merahasiakan kebenaran dari Viktoria dan yang lainnya. Jahat karena ternyata tidak ada satupun dari kampung halamanku yang mau mengabarkan berita itu ke keluarganya. Viktoria tersenyum mengingat kenangannya sehingga tidak menyadari perubahan suasana hatiku.

“Paul sebenarnya terlihat sangat mirip dengan Dimitri seusianya. Aku akan menunjukkan gambarnya – dan yang terbaru juga. Dimitri sangat tampan. Sebagai kakakku maksudku.”

Aku sangat yakin melihat foto Dimitri sewaktu kecil akan merobek-robek hatiku. Seperti sebelumnya, semakin banyak Viktoria berbicara mengenai dirinya, semakin sakit yang kurasakan. Dia sama sekali tidak tahu apa yang sudah terjadi dan meskipun sudah beberapa tahun sejak ia bertemu dengannya, sangat jelas dia dan seluruh keluarganya sangat merindukan Dimitri. Sekarang hal itu tidak lagi mengejutkan. (Dan sungguh, siapa yang tidak bisa mencintai Dimitri?) Hanya satu hari bersama mereka sudah menunjukkan padaku betapa dekat hubungan mereka semua. Aku tahu dari cerita Dimitri kalau dia juga merindukan keluarganya.

“Rose? Apa kau baik-baik saja?” Viktoria mengintip ke arahku, khawatir, mungkin karena aku tidak mengatakan apa pun lagi di sepuluh menit terakhir.

Kami sudah berkeliling dan hampir sampai dirumah. Melihat ke arahnya, keterbukaannya, wajah yang ramah dan mata yang teramat mirip dengan mata Dimitri, aku sadar kalau aku punya tugas sebelum kembali pergi mencari Dimitri, dimanapun ia berada. Aku menelan ludah.

“Aku ... ya. Kurasa ... kurasa aku perlu berbicara denganmu dan seluruh keluargamu.”
“Ok,” katanya, kekhawatiran masih ada di suaranya.
Di dalam rumah, Olena sedang sibuk di dapur dengan Karolina. Kupikir mereka sedang membuat rencana untuk makanan nanti malam, mengejutkan mengingat kami baru saja sarapan besar. Aku jelas bisa beradaptasi dengan cara mereka makan disini. Di ruang tamu, Paul sedang membuat tempat pacuan kuda dengan lego. Yeva duduk di kursi batu dan muncul sebagai nenek paling klise di dunia saat sedang merajut kaus kaki. Kecuali tidak terlihat seperti seorang nenek yang bisa mengutukmu dengan sekali lirikan.

Olena sedang berbicara dngan Karolina dalam bahasa Rusia tapi kemudia n ia mengubahnya dalam bahasa Inggris ketika ia melihatku.

“Kalian berdua kembali lebih cepat daripada dugaanku.”
“Kami melihat-lihat kota,” jawab Viktoria. “Dan ... Rose ingin berbicara padamu. Pada kita semua.”

Olena menatapku bingung dan khawatir sama seperti Viktoria tadi. “Ada apa?”

Semua mata keluarga Belikov yang memandangku membuat jantungku berdebar-debar di dadaku. Bagaimana aku melakukannya? Bagaimana aku bisa menjelaskan sesuatu yang tidak pernah kukatakan selama berminggu-minggu? Aku tidak bisa terima kalau aku harus memasukkan mereka – atau diriku sendiri – untuk melalui semua ini. Ketika Yeva bergegas masuk, membuat semua hal menjadi tambah buruk. Mungkin dia mendapat tanda-tanda mistik kalau sesuatu yang besar akan diungkapkan.

“Kita harus duduk,” kataku.

Paul tinggal di ruang tamu, untuk hal itu aku merasa bersyukur. Aku sangat yakin aku tidak tahu bagaimana menyampaikan hal ini dengan anak kecil – yang terlihat mirip seperti Dimitri - yang menatapku.

“Rose, ada apa?” tanya Olena. Dia terlihat manis dan, yah ... keibuan, yang membuatku hampir menangis. Kapanpun aku marah dengan ibuku sendiri karena tidak pernah berada di sisiku atau melakukan tugas seorang ibu dengan baik, aku selalu membandingkannya dengan beberapa gambaran ideal seorang ibu – seorang ibu yang seperti ibunya Dimitri, aku sadari hal itu.

Saudara-saudara perempuan Dimitri juga sama khawatirnya, seolah aku adalah seseorang yang telah lama mereka kenal. Penerimaan dan perhatian meraka membuat mataku lebih terbakar, padahal mereka baru bertemu diriku pagi ini. Yeva memasang ekspresi asing di wajahnya, namun – hampir terlihat seperti sedang mengharapkan sesuatu yang ia tunggu-tunggu selama ini.

“Sebenarnya ... alasan mengapa aku datang kesini, ke Baia, adalah untuk mencari kalian.” Hal itu tidak sepenuhnya benar. Aku datang untuk mencari Dimitri. aku tidak pernah terpikir untuk mencari keluarganya, tapi sekarang, aku sadar itu lah yang terbaik yang bisa aku sampaikan.

“Kalian tahu, Viktoria sudah membicarakan tentang Dimitri sebelumnya.” Wajah Olena cerah ketika aku menyebut nama putranya. “Dan ... aku sudah – er, kenal dia. Dia pernah menjadi pengawal di sekolahku. Guruku, sebenarnya.”

Karolina dan Viktoria menyela . “Bagaimana keadaannya?” tanya Karolina. “Sudah lama sekali sejak kami bersamanya. Apa kau tahu kapan ia akan datang berkunjung kesini?”

Aku bahkan tidak bisa berpikir tentang bagaimana menjawab pertanyaan itu, jadi aku tetap memaksa diriku untuk meneruskan ceritaku sebelum aku kehilangan keberanian di depan seluruh wajah yang penuh cinta kasih ini. Saat kata-kata keluar dari mulutku, seolah kata-kata itu berasal dari orang lain dan aku hanya menonton dari jauh.

“Sebulan yang lalu ... sekolah kami diserang oleh Strigoi. Penyerangan yang sangat mengerikan ... Segerombolan besar Strigoi. Kami kehilangan banyak orang – Moroi dan dhampir, keduanya.”

Olena menjerit dalam bahasa Rusia. Viktoria bersandar padaku.
“St. Vladimir?”

Aku terhenti bercerita, terkejut. “Kau pernah mendengarnya?”

“Semua orang mendengar kabarnya,” kata Karolina. “Kami semua tahu apa yang terjadi. Itu sekolahmu? Kau ada disana malam itu?”
Aku mengangguk.

“Pantas saja kau punya banyak tanda molinja,” Viktoria menghela nafas sambil berandai-andai.
“Dan disanalah Dimitri sekarang?” tanya Olena. “Kami kehilangan kabar kemana tugas ia selanjutnya.”
“Um, ya ...” Lidahku serasa tebal di tenggorokanku. Aku tidak bisa bernafas. “Aku ada di sekolah saat penyerang malam itu terjadi,” aku membenarkan. “Dan disanalah Dimitri. Dia adalah satu dari pemimpin pasukan pada pertarungan ... dan cara ia bertarung ... dia ... dia sangat berani ... dan ...”

Kata-kataku terputus hingga disitu, tapi pada intinya, yang lain menangkap maksud apa kelanjutannya.
Olena terkesiap dan berbisik lagi dengan bahasa Rusia. Aku mendengar kata “Tuhan”. Karolina duduk membeku, tapi Viktoria bersandar padaku. Mata mereka yang sangat mirip dengan mata Saudara lelaki mereka menatapku dengan sungguh-sungguh, sama seperti ketika mata Dimitri mendorongku untuk berkata jujur, sesakit apapun kejujuran itu.

“Apa yang terjadi?” Tanyanya menuntut. “Apa yang terjadi pada Dimitri?”
Aku membuang muka dari wajahnya, mataku melayang ke ruang keluarga. Di dinding yang jauh, aku menangkap kilau sebuah rak buku yang diisi dengan buku tua bersampul kulit. Ada tulisan bercetak emas timbul di punggung bukunya. Sangat acak, tapi aku mendadak ingat kalau Dimitri pernah menyebutkan tentang hal itu. Itu adalah buku-buku novel petualangan tua yang di koleksi ibuku, begitu ia pernah bilang dulu. Sampulnya sangat indah dan aku menyukainya. Jika aku bisa berhati-hati, Olena akan meminjamkan mereka padaku suatu hari. Pemikiran tentang Dimitri yang duduk di depan rak buku itu, berhati-hati memindahkan halaman-halamannya – dan oh, dia sangat berhati-hati – hampir saja membuatku lupa. Pernahkah terjadi dimana ia mengembangkan rasa cintanya kepada novel koboinya.
Aku melupakannya. Pikiranku terganggu sejenak. Awalnya aku tidak mungkin mampu mengatakan hal yang sebenarnya pada mereka. Emosiku tumbuh sangat kuat. Ingatanku membanjiri tubuhku ketika aku berjuang melawan untuk memikirkan sesuatu – apapun – yang tidak terkait dengan pertarungan mengerikan itu.

Kemudian aku melirik ke arah Yeva lagi, dan sesuatu tentang kengerian dirinya, ekspresi tahu yang tidak dapat dijelaskan mendorongku berani. Aku harus melakukannya. Aku berpaling kepada yang lain.

“Dia bertarung dengan sangat berani pada pertempuran itu, dan setelah itu, dia menolong memimpin misi penyelamatan untuk menyelamatkan orang-orang yang di tangkap Strigoi. Dia juga sangat mengagumkkan disana, hanya ... dia ...”
Aku berhenti lagi dan sadar air mata sudah jatuh menyusuri pipiku. Dalam pikiranku, aku sedang mengulang kembali adegan mengerikan di gua itu, dengan Dimitri yang sangat dekat dengan kebebasan dan kemudian ditangkap Strigoi di menit-menit terakhir. Menjauhkan pikiran itu pergi, aku menarik nafas lagi. Aku harus menyelesaikannya. Aku berhutang kepada keluarganya.

Tidak ada cara sopan untuk mengatakannya. “Satu dari Strigoi ada disana ... dia menyergap Dimitri.”

Karolina membenamkan wajahnya di bahu ibunya, dan Olena tidak berusaha menutupi air matanya. Viktoria tidak menangis, tapi wajahnya hilang dalam kediaman yang sempurna. Dia bekerja keras menjaga emosinya di pipinya, sama seperti yang dilakukan Dimitri. Dia mencari wajahku, ingin tahu lebih jelas.
“Dimitri telah meninggal,” katanya.

Itu adalah pernyataan, bukan pertanyaan, tapi dia menatapku untuk meminta kebenaran dari kata-katanya. Aku bertanya-tanya apakah aku memberikan sesuatu, seperti sebuah isyarat kalau masih ada cerita setelah itu. Atau mungkin dia hanya ingin memastikan kata-katanya. Itulah yang akan dikatakan oleh pihak Akademi pada mereka, apa yang akan dikatakan para pengawal pada mereka – meski hal itu bukanlah kebohongan yang enak untuk dilakukan. Dimitri pastilah ingin seluruh kebenaran dan keluarganya juga begitu.

“Tidak,” kataku, dan detak jantungku, berharap lepas di wajah setiap orang – paling tidak sampai aku bisa berbicara lagi. “Dimitri menjadi Strigoi.”

6 comments:

  1. kapan chapter 8 keluar ??hiks tolong cpt y!!!

    ReplyDelete
  2. On Monday, Thanks for reading this blog hehe ;)

    ReplyDelete
  3. oh....thx y I love this blog.......

    ReplyDelete
  4. Terima kuasieeeh ... hehehe ;)

    ReplyDelete
  5. tanya : Blood Promise sampai chapter berapa ya?
    anyway makasih udh posting ceritanya..seneng bacanya.
    kpn neh chapter 8? ne udh monday..ga sabar..hehe:-)

    ReplyDelete
  6. sowi sowi... gara2 modem rusak jadi gag bisa posting, tapi hari ini udah bisa dibaca kuk yang chp. 8. mmm sampe chp berapa ya... heheheh kalo peasaran dunlot aja versi englishnya di libraryku ...gratis kuk ;)

    ReplyDelete

 

Blog archive

Please, Keep in Touch!

©Copyright 2011 Love Your Life | TNB