Blood Promise ~ Bahasa Indonesia (Chapter 8)

Thursday, July 21, 2011 0 komentar
R EAKSI DIANTARA ANGGOTA KELUARGA DIMITRI campur aduk. Sebagian menangis. Sebagian mematung. Dan sebagian lagi – khususnya Yeva dan Viktoria – dengan tenang menerimanya dan tetap menjaga agar emosi mereka tidak nampak di wajah mereka, sama seperti yang selalu Dimitri lakukan. Itu membuatku sedih sebanyak air mata yang kukeluarkan; karena sangat mengingatkanku pada Dimitri. Diantara mereka semua, Sonya yang hamil – yang datang di menit-menit pertama setelah berita itu pecah –memiliki reaksi fisik yang paling terlihat. Dia berlari tersedu-sedu ke kamarnya dan tidak keluar lagi.

Namun tidak perlu waktu lama bagi Yeva dan Olena untuk memunculkan aksi mereka. Mereka berbicara dalam bahasa Rusia dengan cepat, jelas sedang merencanakan sesuatu. Beberapa kali menelepon dan Viktoria bertugas untuk mencari apa yang disuruh. Tidak satupun yang terlihat membutuhkan aku, jadi aku lebih banyak berkeliling rumah dan mencoba untuk tidak ikut campur kegiatan mereka. Aku menemukan diriku sendiri tengah mempelajari rak buku yang kulihat sebelumnya, menjalankan tanganku sepanjang punggung buku kulit itu, Judulnya dalam tulisan Cyrillic, tapi itu tidak masalah. Menyentuh buku-buku itu dan membayangkan Dimitri pernah memeluknya dan membacanya membuatku merasa semakin dekat dengannya.

“Sedang mencari bacaan ringan?” Sydney berjalan mendekat dan berdiri di sampingku. Dia tidak berada disini sebelumnya tapi pasti sudah mendengar beritanya.

“Sangat ringan, mengingat aku tidak mengerti satupun dari buku-buku ini,” jawabku. Aku menunjuk dengan isyarat ke arah anggota keluarga yang sibuk. “Apa yang terjadi disini?”

“Mereka sedang merencanakan pemakaman Dimitri,” Sydney menjelaskan. “Atau sebenarnya acara mengenang dirinya.”

Aku tidak setuju, “Tapi ia tidak mati –“
“Shh.” Sydney memotong kata-kataku dengan isyarat tajam dan melirik khawatir ke arah yang lain yang sedang buru-buru bekerja. “Jangan katakan itu.”

“Tapi itu benar,” aku mendesis balik.
Dia menganggukan kepalanya. “Tidak bagi mereka. Di luar sini ... di desa ini ... tidak ada kata dalam keadaan di tengah-tengahnya. Kau hidup atau kau mati. Mereka tidak akan mengakuinya sebagai salah satu dari ... makhluk itu.” Dia tidak bisa menyembunyikan rasa jijik yang keluar dari suaranya. “Untuk semua maksud dan tujuan, dia telah meninggal bagi mereka. Mereka akan berkabung dan merelakannya. Begitu juga harusnya dirimu.” Aku tidak menyerangnya karena sikap kasarnya karena aku tahu dia tidak bermaksud begitu. Begitulah cara ia menyempaikannya.

Masalahnya adalah, dalam keadaan di tengah-tengah itu sangat jelas bagiku, dan tidak mungkin bagiku untuk melupakannya. Belum.

“Rose ...” Sydney memulai setelah beberapa detik jeda dalam keheningan. Dia tidak menatap mataku. “Maaf.”

“Maksudmu, untuk Dimitri?”
“Ya ... aku tidak tahu. Aku tidak pernah benar-benar bersikap baik padamu. Maksudku, aku tidak bersikap kalau aku merasa nyaman berada disekitar jenismu, tapi kalian semua masih ... sebenarnya, bukan manusia, jelas sekali. Tapi ... aku tidak tahu. Kalian masih punya perasaan; kalian masih mencintai dan terluka. Dan ketika kita datang kesini, kau membawa berita mengerikan itu di dalam dirimu, dan aku bahkan tidak membuatnya lebih mudah untukmu. Jadi aku minta maaf untuk semua itu. dan aku minta maaf karena memikirkan hal buruk tentangmu.”

Awalnya, kupikir dia sedang membicarakan tentang pemikiran kalau aku adalah iblis, tapi kemudian aku mengerti. Selama ini ia telah berpikir kalau aku benar-benar datang kesini untuk menjadi pelacur-darah dan sekarang percaya kalau menyampaikan berita kepada keluarga Dimitri adalah satu-satunya tujuanku. Aku tidak mencoba untuk membenarkannya.

“Terimakasih, kau tidak bisa mengetahuinya. Dan sejujurnya, jika aku berada di posisimu ... entahlah. Aku rasa aku akan melakukan hal yang sama.”

“Tidak,” katanya. “Kau tidak akan melakukanya. Kau selalu baik kepada orang lain.”

Aku memberinya tatapan tidak masuk akal. “Pernahkah kau bepergian dengan orang lain di beberapa hari terakhir ini? Di kampung halamanku, aku punya reputasi tidak selalu bisa bersikap baik. Aku punya pendirian dan aku tahu itu.”

Dia tersenyum. “Ya, kau punya. Tapi kau juga mengatakan hal yang sebenarnya kepada orang-orang ketika kau harus melakukannya. Mengatakan kepada keluarga Belikov apa yang telah kau lakukan ... entahlah, itu tentu sangat berat. Dan apa pun yang kau katakan, kau bisa bersikap sopan dan menjauh agar membuat semua orang merasa nyaman. Hampir sepanjang hari.”

Aku sedikit kaget. Begitukah aku terlihat? Perempuan jalang yang terburu-buru dan mencoba untuk berpikir tentang perilakuku dengannya beberapa hari yang lalu. Aku sudah sering saling bertahan dan menyerang dengannya, tapi diantara sikapku sejak kami bertemu, aku harusnya bersikap ramah.

“Terimakasih,” kataku, tidak tahu lagi apa yang harus kukatakan.
“Apa kau sudah melihat Abe? Ketika kau berkelilng kota?”
“Tidak,” kataku, menyadari kalau aku sudah terlupa dengan kabar penyelamat misteriusku itu. “Haruskah aku melakukannya?”
“Kupikir dia akan menemukanmu.”
“Siapa dia? Mengapa ia menyelamatkan kita ketika kau mengatakan padanya kalau aku sedang terluka?”
Sydney ragu-ragu dan kupikir aku akan berusaha diam untuk tidak menanyakan hal Alkemis beberapa saat. Kemudian, setelah melirik sekeliling dengan khawatir, dia berkata dalam suara rendah, “Abe bukan bangsawan, tapi dia beanr-benar pria penting. Dia juga bukan orang Rusia, tapi dia sering di negara ini, selalu dalam kodisi bisnis – baik legal maupun ilegal, kurasa. Teman-temannya adalah kalangan penting kaum Moroi dan terkadang dia terlihat mengontrol para Alkemis juga. Aku tahu dia terlibat dalam proses pembuatan tato kami ... tapi bisnisnya lebih dalam dari pada itu. Kami punya nama panggilan di belakang punggungnya ... Zmey.”

“Zma apa?” aku jarang mendengar kata itu. Terdengar seperti ‘zz’ mungkin. Jelas sekali belum pernah kudengar sebelumnya.

Dia memberiku senyum kecil di sela-sela kebingunganku. “Zmey dalam bahasa Rusia berarti ‘ular’. Tapi bukan sembarang ular.” Matanya manatap tajam saat ia mempertimbangkan penjelasan yang lebih baik. “Seringkali nama itu digunakan dalam banyak cerita mitos. Terkadang pahlawan ular raksasa yang berperang. Juga ada beberapa cerita tentang para penyihir dengan darah ular yang mereka panggil. Ular dari kebun surga? Yang membuat Hawa jatuh? Juga disebut Zmey.”

Aku merinding. Ok, cerita itu sedikit gila, tapi terlihat pas dengan tempat ini. Para alkemis sepertinya memiliki ikatan dengan para pemimpin dan pemilik kekuasaan, dan Abe rupanya memegang pengaruh besar pada mereka.

“Apakah Abe yang memintamu untuk mengikutiku ke Baia? Alasan para Alkemis yang membuatmu sampai kesini?”

Lagi, dia terdiam, kemudian mengangguk. “Ya ... ketika aku menelepon di malam kita ketika berada di St. Petersburg, aku bilang kalau ada yang sedang melakukan pencarian. Abe memberi perintah melalui para Alkemis agar aku mendampingimu hingga dia bisa bertemu dengan kita disini. Dia sepertinya sedang mencarimu untuk kepentingan seseorang.”

Aku membeku. Ketakutanku berubah menjadi nyata. Orang-orang mencariku. Tapi siapa? Jika Lissa yang menyuruh pencarian itu, aku pastilah bisa merasakannya ketika aku mengunjungi pikirannya. Aku juga merasa kalau ini bukan tindakan Adrian, tidak dari cara dia memperlihatkan rasa putus asanya dan ketidaktahuannya tentang dimana aku berada. Ditambah lagi, dia terlihat menerima alasanku dalam pencarian ini.

Jadi siapa yang sedang mencariku? Dan untuk alasan apa? Orang yang bernama Abe ini terdengar seperti orang yang memiliki kedudukan tinggi – sekalipun ia adalah seseorang yang terlibat dalam bisnis yang curang – seseorang yang mungkin memiliki hubungan dekat dengan sang ratu atau orang lain yang sama hampir sama pentingnya. Diakah yang memerintahkan untuk menemukanku dan membawaku kembali? Atau – mempertimbangkan seberapa besarnya kebencian sang ratu padaku – apakah dia diperintahkan untuk memastikan kalau aku tidak kembali? Apakah aku sedang berurusan dengan seorang pembunuh bayaran? Jelas sekali Sydney terlihat menghargainya dengan campuran aneh antara ketakutan dan rasa hormat.

“Mungkin aku tidak ingin bertemu dengannya,” kataku.

“Menurutku dia tidak akan menyakitimu. Maksudku, jika dia ingin melakukannya, dia pasti sudah melakukannya. Tapi berhati-hatilah. Dia selalu memainkan beberapa permainan dalam sekali waktu. Dan dia punya cukup perjanjian rahasia untuk menandingi para Alkemis.”

“Jadi kau tidak mempercayainya?” Dia memberiku seringai menyedihkan saat ia berbalik menjauh. “Kau lupa: aku tidak mempercayai satu pun dari kalian.”

Ketika Sydney menghilang, aku memutuskan untuk pergi keluar, jauh dari penderitaan dan kegiatan di dalam rumah. Aku duduk di tangga paling atas di serambi belakang, melihat Paul bermain. Dia sedang membangun sebuah benteng untuk beberapa mainan tokoh aksinya. Ketika rasa sensitif terhadap kesedihan di dalam keluarganya merebak, sangat sulit baginya untuk bisa memahami “kematian” dari satu-satunya paman yang baru ia temui beberapa kali. Berita itu tidak berarti banyak baginya, tidak seperti kami.

Dengan waktu yang cukup banyak dalam genggamanku di sepanjang sisa hari ini, aku memutuskan untuk melakukan pemeriksaan cepat ke dalam kepala Lissa. Selain diriku sendiri, aku penasaran tentang bagaimana keadaannya dengan Avery Lazar.


Ketika perasaan lisa sedang baik, dia masih memiliki rasa kuatir karena membawa Avery bersamanya untuk makan siang. Namun sebelum semua kekhawatiran itu berlanjut, dia secara terkejut merasa senang melihat Avery yang bisa berbaur dengan sempurna, memesona Adrian dan Christian. Tak dapat disangkal, Adrian selalu tertarik dengan wanita cantik manapun. Christian lebih sulit untuk luluh, tapi dia bahkan terlihat mulai menyukai Avery – mungkin karena Avery terus saja menggoda Adrian. Siapapun yang bisa membuat lelucon atas Adrian memiliki peringkat tinggi dalam daftar Christian.

“Jadi, jelaskan,” kata Avery, memainkan makanan di garpunya. “Kau hanya, apa, berkeliling di akademi ini seharian? Apa kau mencoba untuk mengulang pengalaman masa SMA mu?”

“Tidak mengulang,” jawab Adrian angkuh. “Aku jelas dulu sudah menguasai sekolahku. Kata-kataku adalah titah dan diriku begitu dikagumi – semua itu bukanlah hal yang mengejutkan.” Disampingnya, Christian tersedak makanannya.

“Jadi ... kau sedang mencoba untuk menghidupkan kembali masa-masa berjayamu itu. Semua itu sudah hilang berlalu sejak hal itu terjadi, kan?”

“Tidak seperti itu,” kata Adrian. “Aku seperti anggur yang bagus. Semakin enak seiring bertambahnya usia. Yang terbaik yang akan datang.”

“Sepertinya hal itu akan semakin tua setelah beberapa lama,” kata Avery, sepertinya tidak terpengaruh dengan pemaksaan pengibaratan anggur. “Aku jelas sekali bosan, dan bahkan menghabiskan sebagian waktuku membantu ayahku.”

“Adrian tidur hampir sepanjang waktu,” catat Lissa, mencoba untuk tetap menunjukkan wajah datarnya.
“Jadi dia sebenarnya tidak perlu khawatir untuk menemukan sesuatu.”

“Hey, aku menghabiskan banyak dari porsi waktuku yang berarti untuk membantumu berlatih misteri dari kekuatan roh.” Adrian mengingatkannya.

Avery memajukan tubuhnya, penasaran memenuhi wajah cantiknya. “Jadi itu benar-benar nyata? Aku pernah mendengar beberapa cerita tentang roh ... tentang bagaimana kalian bisa menyembuhkan orang?”

Kata-kata itu mempengaruhi Lisa untuk merespon. Dia tidak yakin kalau dia pernah menggunakan sihirnya sebagai bahan pembicaraan terbuka sekarang. “Diantara hal-hal lain. Kami masih mencobanya.”

Adrian lebih bernafsu untuk membahasnya dibandingkan Lissa – mungkin dengan harapan untuk menarik perhatian Avery – dan memberikan ringkasan cepat dari kemampuan sihir, seperti aura dan kompulsi. “Dan,” dia menambahkan, “Aku bisa mengunjungi orang-orang dalam mimpi mereka.”

Christian mengangkat tangan. “Berhenti. Aku bisa merasakan akan ada komentar tentang bagaimana wanita-wanita sudah bermimpi tentang dirimu. Aku baru makan, kau tau!”

“Aku tidak berencana untuk mengatakanh al itu,” kata Adrian. Tapi dia terlihat seolah dia berharap kalau dialah yang pertama kali memikirkan ide candaan itu. Aku tidak bisa menahan rasa geliku. Adrian selalu terlihat kurang ajar dan bermulut usil di depan umum ... dan kemudian, dalam mimpiku, dia menunjukkan sisi serius dan suka khawatir. Dia lebih rumit dari pada yang dipikirkan orang lain.

Avery menatap lantai. “Teman. Dulunya kupikir menggunakan sihir udara itu keren. Kurasa sekarang tidak lagi.” Tiba-tiba angin sepoi-sepoi meniup rambut belakangnya, membuatnya terlihat seperti ketika dia sedang berpose untuk pemotretan pakaian renang. Dia memberikan senyuman mempesona. Yang kurang hanyalah fotografernya saja.

Suara bel membuat mereka semua berdiri. Cristian menyadari kalau ia telah meninggalkan PR nya di kelas lain dan bergegas pergi untuk mengambilnya – setelah memberikan ciuman perpisahan kepada Lissa tentu saja.

Kepergian Adrian juga hampir sama cepatnya. “Para guru akan mulai memberikan pandangan kotor padaku jika aku berada disekitar sini ketika kelas dimulai.” Dia memberikan Lissa dan Avery salam membungkuk kecil.
“Sampai jumpa di lain waktu, gadis-gadis.”

Avery, yanng tidak peduli tentang bagaimana pikiran para guru, berjalan dengan Lissa ke kelasnya selanjutnya. Wajah gadis yang lebih tua terlihat berpikir. “Jadi ... kau benar-benar bersama Christian?” Jika Avery melihat separuh hal yang sudah kulihar antara Christian dan Lissa lakukan melalui ikatan kami, pasti tidak akan ada pertanyaan.

Lissa tertawa. “Ya, kenapa?”

Avery ragu-ragu, kesal dengan rasa penasaran Lissa. “Sebenarnya ... aku mendengar kalau kau ada hubungan dengan Adrian.”

Lissa hampir berhenti berjalan. “Dimana kau mendengar hal itu?”

“Di istana. Sang ratu bilang betapa bahagiannya dia karena kalian berdua menjadi pasangan dan bagaimana kalian selalu bersama.”

Lissa mengerang. “Itu karena kapanpun aku pergi ke istana, dia mengundang Adrian juga dan kemudian mengirim kami berdua untuk melakukan hal-hal untuk dirinya. Itu terjadi karena kami tidak punya pilihan ... nah, maksudku jangan salah paham padaku. Aku tidak keberatan menghabiskan waktu dengannya, tapi alasan mengapa kami selalu bersama adalah karena Tatiana yang mengaturnya.”

“Meskipun begitu Ratu terlihat begitu menyukaimu. Dia membicarakanmu sepanjang waktu, tentang betapa banyak potensi yang kau miliki dan betapa bangganya ia padamu.”

“Kurasa dia bangga karena bisa memanipulasi diriku. Pergi kesana itu menyakitkan. Dia jelas juga mengabaikan kenyataan kalau aku berpacaran dengan Christian atau selalu mengambil kesempatan kapanpun untuk bisa masuk menghina Christian.” Ratu Tatiana, sama seperti yang lain, tidak bisa memaafkan orang tua Christian yang secara sukarela berubah menjadi Strigoi.

“Maaf,” kata Avery, terlihat seolah dia sangat merasa bersalah. “Aku tidak bermaksud membawa tema pembicaraan yang buruk seperti itu. Aku hanya ingin tahu apakan Adrian belum punya pacar atau tidak, hanya itu.”

Lissa tidak marah pada Avery. Kemarahannya sudah berubah untuk sang ratu, saat bagaimana ia mengira kalau setiap orang akan bertindak seperti yang ia inginkan dan berdansa saat ia memerintahkannya. Dunia Moroi memang dipimpin oleh seorang raja atau seorang ratu sejak pertama kali, dan terkadang, Lissa berpikir kala sudah saatnya untuk berubah. Mereka memerlukan sebuah sistem dimana setiap orang memiliki kesamaan hak untu bicara – bangsawan atau bukan bangsawan. Bahkan para dhampir.

Semakin banyak dia memikirkan hal ini, semakin bertambah pula dia merasa emosinya memaku dirinya, kemarahan dan rasa frustasi membara, yang sebenarnya lebih terlihat seperti diriku daripada dirinya. Rasa ini membuat Lissa terkadang ingin berteriak, berjalan ke arah Tatiana dan mengatakan padanya kalau perjanjian batal. Tidak ada kampus manapun yang sepadan dengan semua ini. Bahkan mungkin dia akan mengatakan pada Tatiana kalau ingilah waktunya untuk revolusi, saatnya untuk menggulingkan keterbelakangan Moroi – Lissa berkedip, heran melihat dirinya sendiri yang gemetar. Darimana datangnya emosi itu? Kemarahan pada Tatiana adalah satu hal, tapi semua ini ...? Dia belum pernah kehilangan kontrol dalam masalah amarahnya sejak pertama kali menggunakan roh. Dengan menarik nafas yang dalam, dia mencoba untuk menggunakan beberapa teknik yang sudah ia pelajari untuk menenangkan dirinya sehingga Avery tidak akan mengetahui tentang kegilaannya yang hampir muncul.

“Aku hanya tidak suka orang-orang yang membicarakanku, hanya itu,” kata Lissa akhirnya.
Avery tidak terlihat menyadari perubahan emosi Lissa. “Nah, jika ini membuatmu merasa lebih baik, tidak semua orang berpikir hal itu tentang dirimu. Aku pernah bertemu seorang gadis ... Mia? Ya, itulah namanya. Hanya bukan bangsawan.” Nada suara berbeda dalam ucapan Avery menunjukkan kalau ia memiliki pandangan yang sama dengan sebagian besar bangsawan lain terhadap Moroi ‘biasa’.

“Dia menertawakan kabar tentang kebersamaan kau dan Adrian. Katanya hal itu sangat konyol.” Lissa hampir tersenyum karena itu. Mia pernah menjadi saingan Lissa dan merupakan seorang cewek sombong egois. Tapi setelah Strigoi membunuh ibunya, Mia berubah menjadi galak, patuh, yang membuatku dan Lissa merasa sangat senang. Mia tinggal di istana dengan ayahnya, diam-diam berlatih bertarung sehingga dia bisa melawan Strigoi suatu saat nanti.

“Oh,” kata Avery tiba-tiba. “Itu Simon. Aku harus pergi.” Lissa menatap keseberang aula dan melihat pengawal Avery yang keras itu. Simon mungkin tidak seperti saudara laki-laki Avery, Reed, tapi dia masih memiliki kesamaan dalam hal wajah yang kaku dan masam ketika pertamakali Lissa bertemu dengannya. Meskipun begitu, Avery terlihat baik-baik saja bersama dengannya.

“Baiklah,” jawab Lissa. “Aku akan menemuimu nanti.”
“Oh tentu saja,” jawab Avery lalu mulai berbalik.

“Oh, dan Avery?”
Avery melirik Lissa, “Ya?”
“Adrian masih sendiri.”

Avery hanya menjawab dengan seringaian cepat sebelum dia menyusul untuk bergabung bersama Simon. Kembali ke keluarga Belikov di Baia, acara mengenang akan dimulai. Para tetangga dan teman-teman, semua dhampir, perlahan berdatangan, kebanyakan membawa makanan. Ini adalah pengalaman pertamaku berada dalam komunitas dhampir, meskipun tidak terlihat semisterius yang pernah digambarkan Sydney. Dapur berubah menjadi ruang perjamuan, dengan setiap permukaan meja pajangan dan meja besar ditutupi oleh makanan. Beberapa makanan yang aku kenal, dan ada banyak makanan penutup – kue-kue kering ditutupi kacang dan membeku yang menyebarkan aroma baru keluar dari panggangan. Beberapa makanan belum pernah aku lihat sebelumnya dan tidak yakin kalau aku ingin melihatnya lagi. Khususnya ada semangkuk kol berlumpur yang membuatku untuk menolaknya. Tapi sebelum kami makan, setiap orang pergi keluar dan berkumpul dalam lingkaran di halaman belakang. Ini adalah tempat satu-satunya yang bisa menampung orang sebanyak ini. Seorang pendeta kemudian datang, seorang manusia. Membuatku terkejut sedikit, tapi aku seharusnya bertindak wajar ketika tinggal di kota manusia, dhampir akan mendatangi gereja manusia. Dan bagi sebagian besar manusia, dhampir terlihat sama seperti mereka, jadi pendeta itu tidak ragu kalau dia sedang melakukan pelayanan ke rumah seperti biasa.

Segelintir Moroi yang aku lihat di kota juga berdatangan, tapi mereka juga bisa lebih atau kurang mirip dengan manusia – pucat – jika mereka bisa berhati-hati dengan taring mereka. Manusia tidak berharap untuk bisa melihat dunia supernatural, jadi pikiran mereka jarang menjadikannya sebagai pilihan, meskipun ketika hal tersebut tepat berada di depan hidung mereka sendiri.

Semua orang menjadi hening. Matahari sudah terbenam sekarang, dengan warna jingga api terbakar dia langit barat, dan bayangan jatuh diantara kami semua. Pendeta memulai acara pemakaman dalam bahasa Rusia, menyanyikan lagu-lagu pujian yang terdengar wajar di halaman yang gelap.

Semua acara gereja yang pernah aku datangi dalam bahasa Inggris, tapi aku bisa melihat bagaimana semua ini terasa sama. Setiap kali, mereka yang berkumpul akan mengaminkan diri. Aku tidak memahami tata caranya, jadi aku hanya melihat dan menunggu, membiarkan suara sedih pendeta mengisi jiwaku. Perasaanku untuk Dimitri melilit dalam tubuhku seolah sebuah badai membesar dan aku mencoba keras untuk menyimpannya, menguncinya dalam hatiku. ketika acara itu akhirnya selesai, ketegangan yang menakutkan yang telah menelan orang-orang itu menghilang. Orang-orang bergerak lagi, memeluk satu persatu keluarga Belikov dan menjabat tangan pendeta. Dia kemudian pergi setelah itu.

Makanan akhirnya menyusul, Piring-piring terisi terus dan masing-masing orang duduk diamanpun mereka bisa menemukan tempat yang nyaman, baik di dalam rumah atau di halaman belakang. Tidak satupun dari tamu-tamu itu yang benar-benar mengenalku dan keluarga Dimitri terlalu sibuk untuk memperhatikanku. Mereka berlari kesana kemari dan mencoba untuk membuat semuara orang merasa nyaman.

Sydney bersamaku hampir disepanjang waktu, dan selama pembicaraaan ringan kami, aku merasa nyaman dengan kehadirannya. Kami duduk di lantai ruang tamu, bersandar di dinding dekat rak buku. Dia memilah-milah makanannya, seperti biasa, yang membuatku tersenyum. Ada sesuatu yang menenangkan melihat kebiasaan yang familiar itu.

Ketika makan malam selesai, orang-orang kemudian berbincang-bincang dalam kelompok-kelompok kecil. Aku tidak bisa mengerti satupun yang mereka katakan, tapi aku tetap mendengar namannya disebut-sebut: Dimitri, Dimitri. mengingatkanku pada bisikkan yang bisa kumengerti datang dari para hantu selama kunjungan mereka. Rasanya seperti ditindas dan menyesakkan, kekuatan dari namanya menekan jantungku. Dimitri, Dimitri. Setelah beberapa saat, semua itu berkembang semakin banyak. Sydney melangkah pergi sebentar, jadi aku pergi keluar untuk mendapatkan udara segar. Beberapa orang membuat api unggung kecil dan duduk mengelilinginya, masih membicarakan Dimitri, jadi aku pergi ke arah halaman depan. Aku berjalan di pinggir jalan, tidak ingin berjalan terlalu jauh. Suasana malam terasa hangat dan bersih, dengan bulan dan bintang-bintang terbakar terang di kegelapan yang membentang di atasku.

Perasaanku kusut dan sekarang ketika aku cukup jauh dari yang lain, aku membiarkan sedikit meledakkan emosiku yang terpendam, keluar bersama air mata sunyi yang keluar dari pipiku. Ketika aku berada di luar berjarak dua rumah dari rumah keluarga Belikov, aku duduk di trotoar, beristirahat dan menikmati keheningan di sekitarku. Namun, kedamaikan tidak berumur panjang, pendengaranku yang tajam menangkap suara yang datang dari rumah keluarga Belikov. Tiga sosok muncul. Satu, tinggi dan ramping, seorang Moroi, dan yang lain adalah dhampir. Aku menatap mereka ketika sosok bertiga itu berhenti di hadapanku. Tidak mengganggu secara formal, aku menyadari diamana aku sekarang berada, menatap kedua mata gelap Moroi itu. Aku tidak menyadari kelompok ini di acara tadi – tapi aku mengenali Moroi ini dari tempat lain. Aku memberikan sebuah senyumah setengah masam.

“Abe Mazur, ku kira.”

0 komentar:

Post a Comment

 

Please, Keep in Touch!

©Copyright 2011 Love Your Life | TNB