Blood Promise ~ Bahasa Indonesia (Chapter 9)

Thursday, August 4, 2011 4 komentar
"K UPIKIR KAU ITU CUMA MIMPI,” KATAKU.
Mereka semua tetap berdiri, para dhampir menyebar di sekeliling Moroi mereka sebagai bentuk formasi perlindungan. Abe adalah wajah yang paling asing yang aku lihat setelah aku masuk dan keluar dari kesadaranku setelah pertempuran di lumbung kala itu. Dia lebih tua dariku, hampir sebaya dengan Olena. Rambutnya hitam dan seperti bulu kambing, dan mengenai kulit kecoklatannya yang ia miliki. Jika kau pernah melihat orang-orang berkulit cokelat atau hitam sedang sakit dan menjadi pucat, nah hampir seperti itulah kulitnya terlihat. Ada beberapa pigmen warna dalam kulitnya, tapi ditegaskan dengan warna pucat yang intens. Yang paling mencengangkan darinya adalah pakaiannya. Dia mengenakan jas panjang berwarna gelap yang seolah meneriakkan kata ‘uang’, dipasangkan dengan syal kashmir berwarna merah. Di bawahnya, aku bisa melihat sedikit warna emas, sebuah rantai yang dicocokkan dengan anting bulat yang dia pakai di salah satu telinganya. Kesan awalku ketika melihat flamboyan ini adalah seorang bajak laut atau germo. Sesaat kemudian, aku mengubah pikiranku. Sesuatu tentang dirinya mengatakan kalau dia adalah jenis lelaki yang bisa menghancurkan tempurung lutut siapa saja yang menghalangi jalannya.

“Mimpi, eh? Itu, ...” Moroi itu berbicara dengan sedikit senyum yang tersembunyi, “... adalah sesuatu yang jarang kudengar. Sebenarnya, tidak pernah sama sekali.” Dia berpikir ulang. “Aku kadang-kadang muncul dalam mimpi buruk orang-orang.” Dia bukan orang Amerika ataupun Rusia; aku tidak bisa memastikan asal logat bicaranya.


Apa dia sedang mencoba membuatku terpesona atau mengintimidasiku dengan reputasi buruknya yang besar? Sydney tidak pernah merasa takut padanya, tentu saja, tapi dia jelas sekali waspada terhadap orang ini.

“Nah, aku duga kau sudah tahu siapa aku,” kataku. “Jadi, pertanyaannya sekarang adalah, apa yang sedang kau lakukan disini?”

“Tidak,” katanya, senyumannya mengeras. “Pertanyaannya adalah, apa yang kau lakukan disini?”

Aku menunjuk ke belakang, ke arah rumah, mencoba bereaksi setenang mungkin. “Aku akan pergi ke pemakaman.”

“Bukan itu alasan mengapa kau datang ke Rusia.”

“Aku datang ke Rusia untuk menyampaikan kepada keluarga Belikov kalau Dimitri sudah meninggal, melihat tidak ada yang merasa ingin melakukannya.” Alasan itu menjadi penjelasan yang berguna bagiku untuk berada disini, tapi ketika Abe memperhatikanku, rasa merinding menyapu punggungku, sama seperti ketika Yeva menatapku. Sama seperti wanita tua gila itu, dia tidak mempercayaiku, dan lagi-lagi aku merasakan ujung bahaya dari kebalikan kepribadian riangnya.

Abe menganggukan kepalanya, dan sekarang senyumannya menghilang sama sekali. “Itu juga bukan alasannya. Jangan berbohong padaku, gadis kecil.”

Aku merasakan kemarahanku naik. “Dan jangan menanyaiku, orang tua. Tidak sampai kau siap mengatakan padaku mengapa kau dan asistenmu ini membahayakan nyawa kalian dengan menyetir turun ke jalan untuk menjemput Sydney dan aku.” Para dhampir Abe menegang saat aku menyebutkan kata ‘orang tua’, tapi aku terkejut, dia ternyata tersenyum lagi – meski senyumannya tidak mencapai kedua matanya.

“Mungkin aku hanya ingin menolong.”
“Tidak dari apa yang aku dengar. Kau lah yang menyuruh para Alkemis untuk mengirimkan Sydney bersama kesini.”

“Oh?” Dia menaikkan alis matanya. “Diakah yang mengatakan hal itu? Mmmm ... itu adalah bagian dari perilaku buruk yang ia miliki. Atasannya tidak akan bertidak seperti itu. Tidak sama sekali.”

Oh, sial. Aku berbicara tanpa berpikir. Aku tidak ingin Sydney terlibat masalah. Jika Abe benar-benar sejenis mafia kaum Moroi – bagaimana Sydney memanggilnnya? Zmey? Sang Ular? – aku tidak ragu kalau dia bisa berbicara dengan Alkemis lain untuk membuat hidup Sydney semakin susah.

“Aku memaksanya untuk mengatakan hal itu,” aku berbohong. “Aku ... aku mengancamnya di kereta. Bukan hal yang sulit. Dia sudah takut sampai mati padaku.”

“Aku tidak ragu kalau ia takut. Mereka semua takut pada kita, terikat berabad-abad dengan tradisi dan bersembuyi di belakang salib mereka untuk melindungi diri - meskipun kelebihan mereka di dapat dari tato-tato mereka. Dalam banyak hal, mereka memiliki kesamaan sifat denganmu sebagai dhampir – bukanlah hal yang penting.” Dia menatap kosong ke arah bintang ketika ia berbicara, seperti seorang filsuf yang sedang merenungkan misteri dari alam semesta. Entah bagaimana, membuatku semakin marah. Dia menanggapi semua ini sebagai lelucon, ketika sangat jelas kalau dia sedang memiliki beberapa rencana yang berkaitan dengan diriku. Aku tidak suka menjadi bagian dari rencana orang lain – khususnya ketika aku tidak tahu apa rencananya.

“Ya, ya, aku yakin kita bisa mengobrol tentang Alkemis dan bagaimana kau mengatur mereka setiap malam ,” tukasku. “Tapi aku masih ingin tahu apa yang kau inginkan dariku.”

“Tidak ada,” katanya dengan mudah.
“Tidak ada? Kau melalui banyak masalah untuk memerangkapku bersama Sydney dan mengikuti kesini tanpa alasan.”

Dia kembali menunduk dan ada kilatan berbahaya dari matanya. “Kau tidak menarik bagiku. Aku punya bisnis sendiri yang akan ku kerjakan. Aku datang atas nama orang yang tertarik padamu.”

Aku menengang, dan akhirnya, ketakutan yang sebenarnya mengaliri diriku. Sial. Ada yang mencariku. Tapi siapa? Lissa? Adrian? Tatiana? Lagi-lagi, yang terakhir membuatku gugup. Yang lain akan mencariku karena mereka peduli padaku. Tapi Tatiana ... Tatiana takut aku kawin lari dengan Adrian. Sekali lagi aku memikirkan kalau dia menginginkan aku ditemukan, dikarenakan dia ingin yakin kalau aku tidak akan kembali. Bagiku Abe adalah sejenis orang yang bisa menghilangkan keberadaan orang lain. 

“Dan apa yang mereka inginkan? Apa mereka ingin aku pulang?” tanyaku, mencoba untuk tidak terlihat takut. “Apa kau pikir kau hanya perlu datang kesini dan bisa menarikku pulang ke Amerika?”

Senyum rahasia Abe kembali. “Kau pikir aku hanya akan menarikmu kembali?” 
“Yah,” ejekku, kembali tanpa berpikir, “Kau tidak bisa melakukannya sendiri. Kalian semua yang disini bisa. Sebenarnya, mungkin. Aku mungkin bisa melawan mereka semua.”

Abe tertawa nyaring untuk pertama kalinya, suara dari orang kaya dengan nada rendah karena benar-benar merasa geli. “Kau memang hidup dengan reputasi kurang ajarmu. Menarik.” Bagus. Abe mungkin saja memiliki seluruh informasi tentang diriku disuatu tempat. Dia mungkin saja tahu sarapan apa yang aku suka. “Aku akan melakukan pertukaran denganmu. Katakan mengapa kau kesini, dan aku akan mengatakan padamu mengapa aku kesini.”

“Aku sudah mengatakannya padamu.” Sekilas, tawa itu menghilang. Dia mengambil langkah mendekati tempat aku duduk, dan aku melihat para pengawalnya meneggang. 
“Dan aku sudah bilang padamu untuk tidak berbohong padaku. Kau punya alasan mengapa kau ada disini. Aku perlu tahu apa itu.”

“Rose? Bisakah kau kemari?” Dari rumah keluarga Belikov, suara jernih Viktoria memecah malam. Aku melirik ke belakang, kulihat ia berdiri di depan pintu masuk. Tiba-tiba, aku ingin segera menjauh dari Abe. Ada sesuatu yang mengerikan di balik wajah ceria dan mencolok itu dan aku tidak ingin menghabiskan menit-menit yang lain bersamanya. Dengan melompat bangun, aku mulai berbalik menuju rumah, setengah berharap kalau lebih baik para pengawalnya datang untuk menculikku daripada kata-kata Abe menjadi kebenaran. Orang-orang itu tetap diam ditempat mereka, tapi mata mereka mengawasiku. Senyum aneh Abe kembali ke wajahnya.

“Maaf, aku tidak bisa tinggal dan mengobrol,” kataku.
“Tidak apa-apa,” jawabnya anggun. “Kita akan punya waktu lagi nanti.”
“Sepertinya tidak,” kataku. Dia tertawa, dan aku tergesa-gesa mengikuti Viktoria ke rumah, merasa tidak aman sampai aku bisa menutup pintu. 

“Aku tidak suka lelaki itu.”
“Abe?” tanyanya. “Kupikir dia temanmu.”
“Tidak. Dia sejenis mafia, kan?”
“Mungkin saja,” katanya, seolah itu bukan masalah. “Tapi dialah alasan mengapa kau ada disini.”

“Ya, aku tahu tentang dia yang datang menyelamatkan kami.” Viktoria menggeleng.

“Tidak, maksudku kesini. Kurasa ketika kau ada di mobil, kau terus saja berkata, ‘Belikov, Belikov’. Abe menduga kau mengenal kami. Itulah mengapa ia membawamu ke rumah kami.”

Awalnya hal itulah yang mengherankanku. Aku tengah memimpikan Dimitri, jadi tentu saja aku menyebutkan nama terakhirnya. Tapi aku tidak tahu bagaimana aku bisa berakhir disini. Kupikir karena Olena memiliki kemampuan perawatan. Kemudian Viktoria menambahkan hal yang paling mengejutkan. “Ketika dia sadar kami tidak mengenalmu, dia ingin membawamu ketempat yang lain – tapi nenek bilang kami harus menjagamu. Kurasa dia mendapatkan mimpi kedatanganmu kepada kami sebelumnya.”

“Apa?” Yeva yang gila dan mengerikan? “Yeva memimpikan aku?”

Viktoria mengangguk. “Itu adalah kemampuan yang ia miliki. Apa kau yakin kau tidak mengenal Abe? Waktunya terlalu berharga untuk berada disini tanpa alasan.”

Olena buru-buru menghampiri kami sebelum aku bisa menjawab. Dia menangkap tanganku.
“Kami mencarimu. Kenapa kamu pergi sangat lama?” Pertanyaan ini langsung ditujukan kepada Viktoria.

“Abe sedang –“
Olena menggelengkan kepalanya. “Tidak apa-apa. Ayo. Semua orang menunggu.”

“Untuk apa?” tanyaku, membiarkan dia menarikku melalui rumah menuju halaman belakang.
“Aku harusnya mengatakannya padamu,” jelas Viktoria, bergegas menyusul. “Ini bagian dimana setiap orang duduk dan mengingat Dimitri dengan menceritakan dirinya.”

“Tidak seorangpun yang pernah melihatnya dalam waktu yang lama, kami tidak tahu apa saja yang terjadi padanya,” kata Olena. “Kami ingin kau mengatakannya pada kami.”

Aku tersentak. Aku? Aku menolak hal itu, khususnya ketika kami muncul di halaman dan aku melihat semua wajah yang mengelilingi api unggun. Aku tidak mengenal satu pun dari mereka. Bagaimana bisa aku membicarakan Dimitri? Bagaimana bisa aku menunjukkan apa yang sesungguhnya ada dalam hatiku? Setiap orang terlihat mengabur satu sama lain, dan kupikir aku akan pingsan. 

Untuk sementara, tidak satupun dari mereka menyadari kehadiranku. Karolina sedang berbicara, bayinya ada ditangannya. Setiap kali dia berhenti berbicara, yang lain akan tertawa.

Viktoria duduk di atas selimut yang menutupi tanah dan menarikku di sampingnya. Sydney bergabung bersama kami setelah itu.

“Apa yang mereka bicarakn?” Aku berbisik. Viktoria mendengarkan kakaknya berbicara untuk beberapa saat dan kemudian bersandar padaku. 

“Dia sedang menceritakan Dimitri saat masih kecil, bagaimana dia selalu memohon kepadanya dan teman-temannya agar diperbolehkan bermain bersama mereka. Umurnya enam tahun dan mereka semua berumur delapan tahun dan tidak ingin dia ikut mereka.” Viktoria berhenti lagi untuk mendengarkan bagian selanjutnya dari cerita itu. “akhirnya, Karolina mengatakan padanya dia bisa bergabung dengan mereka apabila dia setuju untuk menikahi boneka mereka. Jadi Karolina dan teman-temannya mendandani ia dan boneka-boneka itu berkali-kali dan terus mengadakan upacara pernikahan. Dimitri menikah paling tidak sepuluh kali saat itu.”

Aku tidak bisa menahan tawa saat aku membayangkan, Dimitri yang seksi membiarkan dirinya didandani oleh kakaknya. Dia mungkin menghadapi acara pernikahan dengan boneka itu seserius dan setenang ketika dia menjalankan tugas pengawal. Yang lain berbicara, dan aku mencoba memahami terjemahannya. Semua cerita berisikan kebaikan dan kekuatan watak Dimitri. Bahkan ketika tidak berhadapan dengan yang tidak mati, Dimitri selalu ada disana untuk menolong yang membutuhkan. Hampir semua orang bisa menceritakan kembali kapan Dimitri melangkah untuk menolong orang lain, keluar seusuai keyakinannya untuk melakukan segalan kebenaran yang ia percayai, bahkan dalam situasi yang beresiko untuknya sekalipun. Hal itu tidak mengejutkanku. Dimitri selalu melakukan hal yang benar.

Dan itulah sikapnya yang membuatku begitu mencintainya. Aku memiliki sikap yang mirip dengannya. Aku juga akan segera turun tangan ketika orang lain membutuhkanku, kadang-kadang ketika sebenarnya aku tidak perlu ikut terlibat. Yang lain mangangapku gila karena hal itu, tapi Dimitri mengerti diriku. Dia selalu bisa memahamiku, dan bagian dimana kami harus bekerja sama adalah bagaimana cara mengendalikan emosi dengan alasan dan perhitungan yang tepat yang merupakan kebutuhan menurutkan kata hati dan bisa menjatuhkan kami dalam situasi berbahaya. Aku merasa bahwa tidak ada satupun di dunia ini yang bisa mengerti aku sepertinya dirinya. 

Aku tidak menyadari betapa kuat air mata yang turun di pipiku hingga semua orang menatapku. Awalnya, kupikir mereka menganggapku gila karena menangis, tapi kemudian aku sadar kalau seseorang sudah menanyakan satu pertanyaan padaku.

“Mereka ingin kau menceritakan tentang Dimitri di hari-hari terakhirnya,” kata Viktoria. “Katakan pada kami seusatu tentang dirinya. Apa yang telah ia lakukan. Bagaimana ia terlihat.”

Aku mengenakan lengan bajuku untuk membersihkan wajahku dan memalingkan pandanganku, fokus pada api unggun. Aku pernah berbicara di hadapan orang lain tanpa ragu-ragu sebelumnya, tapi kali ini berbeda.

“Aku ... aku tidak bisa,” kataku pada Viktoria, suaraku tegang dan lembut. “ Aku tidak bisa membicarakan dirinya.” Dia meremas tanganku.
“Tolonglah. Mereka perlu mendengar cerita tentang dirinya. Mereka harus tahu. Cukup ceritakan apapun pada kami. Bagaimana ia terlihat?”

“Dia .... dia saudaramu. Kau tahu.”
“Ya,” katanya lembut. “Tapi kami ingin tahu bagaimana pendapatmu tentang dirinya.”

Mataku masih terasa berada dalam api, memandang bagaimana kobaran api unggun menari-nari dan berganti warna dari jingga ke biru. “Dia ... Dia adalah laki-laki terbaik yang pernah aku temui.”

Aku berhenti untuk menenangkan diriku sendiri dan Viktoria menggunakan kesempatan itu untuk menerjemahkan kata-kataku ke dalam bahasa Rusia. “Dan dia adalah satu dari penjaga terbaik. Maksudku, dia lebih muda jika dibandingkan dengan mereka kebanyakan, tapi semua orang tahu siapa dirinya. Mereka semua tahu catatan keberhasilannya, dan banyak sekali orang-orang yang mengandalkan sarannya. Mereka memanggilnya sang Dewa. Dan kapanpun pertempuran terjadi ... atau bahaya ... dia selalau menjadi yang pertama berada disana. Dia tidak pernah lari. Dan beberapa bulan yang lalu, ketika sekolah kami diserang ...” Aku merasa tercekik ketika membicarakannya. Keluara Belikov sudah pernah mengatakan kalau mereka mengetahui penyerangan itu – kalau semua orang mengetahuinya – dan dari semua wajah yang ada disini, itu benar. Aku tidak ingin menguraikan cerita malam itu, hal mengerikan yang aku lihat.

“Malam itu,” aku melanjutkan, “Dimitri bergegas menghadapi Strigoi. Dia dan aku bersama-sama ketika kami sadar kalau mereka menyerang. Aku ingin tinggal dan menolongnya, tapi dia tidak membiarkanku. Dia hanya memintaku untuk pergi, untuk berlari dan memperingatkan yang lain. Dan dia tinggal di belakang – tanpa tahu berapa banyak Strigoi yang harus ia hadapi selama aku pergi meminta bantuan. Aku masih tidak tahu berapa banyak ia sudah berkelahi – tapi mereka bergerombol. Dan dia menghadapi mereka semua sendirian.”

Aku memberanikan diri menatap wajah-wajah di sekelilingku. Semua orang diam dan tidak bergerak sehingga membuatku penasaran apakah mereka bernafas atau tidak. “Itu sangat berat bagiku,” kataku pada mereka. Tanpa sadar, suaraku jatuh menjadi bisikan saat mengucapkan hal itu.

Aku harus mengulangnya lebih keras lagi. “Itu sangat berat bagiku. Aku tidak ingin meninggalkannya, tapi aku tahu aku harus melakukannya. Dia sudah mengajariku banyak hal, tapi satu hal terbesar yang ia ajarkan adalah melindungi yang lain. Adalah tugasku untuk memperingatkan yang lain, meskipun aku ingin tinggal bersamanya. Sepanjang jalan, hatiku terus berkata, ‘berbalik, berbalik. Kembali kepadanya!’ Tapi aku tahu apa yang harus aku lakukan – dan aku juga selalu tahu ada bagian dari dirinya yang mencoba membuatku aman. Dan jika peran kami bertukar pun ... aku akan melakukan hal yang sama untuk menyuruhnya lari juga.”

Aku menarik nafas, kaget karena aku menunjukkan begitu banyak perasaanku. Aku kembali pada tujuanku. “Meskipun ketika penjaga yang lain bergabung dengannya, Dimitri tidak pernah mundur. Dia malah lebih banyak menghadapi Strigoi dibandingkan yang lain.” Christian dan aku sebenarnya yang melakukan pembunuhan terbanyak. “Dia ... dia sangat luar biasa.”

Di sisa cerita, aku mengatakan pada mereka apa yang sudah kuceritakan pada keluarga Belikov. Hanya saja kali ini aku sebenarnya berusaha untuk menjelaskan sesedikit mungkin, mengatakan cerita yang samar tentang bagaimana berani dan hebatnya ia. Kata-kata itu menyakiti ku ketika aku berbicara, dan hampir terasa lega membiarkan nya diucapkan. Aku terus menjaga kenangan di malam itu untuk berada dekat denganku. Tapi akhirnya, aku harus menceritakan pada mereka tentang gua itu. Dan itulah ... itulah saat terburuk.

“Kami menjebak para Strigoi di sebuah gua. Gua itu hanya memiliki dua pintu masuk, dan kami mendatangi mereka dari kedua pintu masuk itu. Sebagian dari orang-orang kami terperangkap, dan ada banyak Strigoi lebih dari yang kami bayangkan. Kami kehilangan orang-orang ... tapi kami akan kehilangan lebih banyak orang lagi jika Dimitri tidak ada disana. Dia tidak pergi sampai semua orang keluar. Dia tidak peduli dengan resiko untuk dirinya sendiri. Dia hanya tahu kalau dia harus menyelamatkan yang lain ...” Aku pernah melihat di matanya, keteguhan hati itu. Rencana kami akhirnya adalah mundur sesegera yang bisa kami semua lakukan, tapi aku merasakan kalau dia ingin tinggal dan membunuh setiap Strigoi yang bisa ia temukan. Tapi dia juga mengikuti perintah, akhirnya mulai mundur saat yang lain aman. Dan di saat-saat terakhir itu, hanya sesaat sebelum Strigoi mengigitnya, Dimitri menatap mataku dangan tatapan penuh cinta yang membuat seisi goa terasa penuh dengan cahaya. Ekspresinya seolah bicara tentang apa yang kami bicarakan sebelumnya: Kita akan bersama, Rosa. segera. Kita hampir mendapatkannya. Dan tidak ada apapun yang bisa memisahkan kita lagi ....

Meskipun begitu, aku tidak menyebutkan bagian itu. Ketika aku telah menyelesaikan sisa dongengku, wajah-wajah itu terlihat suram tapi penuh dengan rasa khidmat dan hormat. Dekat di belakang kerumunan, aku baru menyadari kalau Abe dan penjaganya mendengarkan juga. Ekspresinya tidak terbaca. Sulit, tapi bukan marah maupun takut. Cangkir kecil mulai diputar ke sekeliling kelompok itu satu persatu dan seseorang memberikannya padaku. Seorang dhampir yang tidak kukenal, satu dari laki-laki yang hadir, berdiri dan mengangkat cangkirnya ke udara. Dia berbicara dengan keras dan hormat, dan aku mendengar nama Dimitri disebutkan beberapa kali. Ketika dia selesai, dia minum dari cangkir itu. Semua orang juga melakukan hal yang sama, jadi aku juga mengikuti. Dan hampir tercekik sampai mati. Rasanya seperti api dalam bentuk cairan. Aku memerlukan setiap ons kekuatanku ketika aku menelannya dan tidak menyemburkannya keselilingku.

“Ap ... apa ini?” tanyaku, terbatuk-batuk.
Viktoria menyeringai. “Vodka.”

Aku meneliti gelas itu. “Tidak, buka vodka. Aku pernah minum Vodka sebelumnya.”

“Bukan Vodka Rusia.”
Sebenarnya memang belum pernah. Aku berjuang untuk menghabiskan sisa Vodka di cangkir itu untuk menghormati Dimitri, meskipun aku punya perasaan kalau dia berada disini, dia akan menggelengkan kepalanya padaku. Kupikir aku sudah cukup menjadi sorotan setelah ceritaku selesai, tapi ternyata tidak. Setiap orang terus saja bertanya padaku. Mereka ingin tahu lebih banyak tentang Dimitri, lebih banyak tentang bagaimana kehidupannya. Mereka juga ingin tahu tentang hubunganku dan Dimitri sebagai pasangan. Mereka semua sudah menduga kalau Dimitri dan aku sudah saling jatuh cinta – dan mereka tidak masalah dengan hal itu. Aku ditanyai bagaimana kami bertemu, berapa lama kami sudah bersama ...

Dan sepanjang waktu, orang-orang terus mengisi ulang cangkirku. Memutuskan agar tidak terlihat idiot lagi, aku terus minum sampai aku akhirnya bisa minum Vodka itu tanpa batuk atau meludah. Semakin banyak aku minum, semakin nyaring dan semakin bergerak cerita yang kusampaikan. Lenganku mulai terasa geli dan bagian dari diriku tahu kalau semua ini mungkin ide yang buruk. Ok, diriku sepenuhnya menyadarinya. Akhirnya, orang-orang mulai pergi. Aku tidak tahu jam berapa sekarang, tapi kurasa ini sudah tengah malam. Mungkin lewat dari itu. Aku berdiri tegak, menyadari kalau tenryata lebih susah dari yang aku harapkan. Dunia terasa bergoyang dan perutku terasa tidak bahagia menjadi bagian dari diriku. Seseorang memegangi tanganku dan membantuku berdiri seimbang.

“Tenang,” kata Sydney. “Jangan dipaksakan.” Perlahan, dengan hati-hati, dia menuntunku menuju rumah. 
“Tuhan,” aku mendesah. “Apakah mereka menggunakan benda itu untuk bahan bakar roket?”
“Tidak ada yang menyuruhmu meminumnya.”
“Hey, jangan berkhotbah. Lagipula, aku harus bersikap sopan.”
“Tentu,” katanya.

Kami berhasil masuk ke dalam dan kemudian menaiki tangga menuju kamar Olena yang disiapkan untukku menjadi pekerjaan yang tidak mungkin. Setiap langkah terasa nyeri. 

“Mereka semua mengetahui tentang hubunganku dengan Dimitri,” kataku, berpikir apakah aku mengatakannya dengan suara yang tenang. “Tapi aku tidak pernah mengatakan pada mereka kalau kamu bersama.”

“Kau tidak perlu mengatakannya. Semuanya sudah tertulis di wajahmu.”
“Mereka bereaksi seolah aku adalah jandanya atau sejenisnya.”
“Kau mungkin terlihat seperti itu.” Kami mencapai kamarku dan dia menolongku duduk di ranjang. “Tidak banyak dari orang-orang disini yang menikah. Jika kau pernah bersama seseorang dengan cukup lama, mereka akan menganggap hal tersebut hampir sama dengan menikah.”

Aku menarik nafas lelah dan menatap tanpa fokus terhadap sesuatu. “Aku sangat merindukannya.”
“Aku turut berduka cita,” katanya.
“Akankah perasaan ini bisa membaik?” Pertanyaan ini terlihat membuatnya terkejut. 
“Aku ... aku tidak tahu.”
“Apa kau pernah jatuh cinta?”
Dia menggelengkan kepalanya, “Tidak.”
Aku tidak yakin apakah hal itu membuatnya beruntung atau tidak. Aku tidak yakin apakah semua hari yang cerah yang aku miliki bersama Dimitri setimpal dengan rasa sakit yang aku rasakan sekarang. Sesaat kemudian, aku tahu kebenarannya.
“Tentu saja setimpal.”
“Huh?” tanya Sydney.
Aku sadar telah mengatakan pikiranku dengan nyaring. “Tidak apa-apa. Hanya berbicara pada diriku sendiri. Aku sepertinya harus tidur.”
“Apa kau perlu sesuatu yang lain? Apa kau sakit?”
Aku menilai rasa mual di perutku. “Tidak, tapi terima kasih.”
“Ok.” Dan dengan sikap acuhnya yang biasa, dia pergi, mematikan lampu dan menutup pintu.

Aku pikir aku akan pingsan setelah itu. Jujur, aku ingin begitu. Hatiku telah terbuka terlalu banyak dengan menceritakan Dimitri malam ini dan aku ingin rasa sakitnya pergi. Aku ingin kegelapan dan lupa. Malahan, mungkin karena aku telah kebal dengan hukuman, hatiku memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaan ini dan merobek-robeknya sehingga jelas terbuka.
Aku pergi mengunjungi Lissa. 

(Diterjemahkan langsung dari buku Vampire Academy #4: Blood Promise karya Richelle Mead)

4 comments:

  1. chapter selanjutnya ditunggu ya :)

    ReplyDelete
  2. sip...coming soon yaaa hehehe ;)

    ReplyDelete
  3. kak blood promise ini lgsg dr chapter 9 ya? Chapter 1-8nya mana? Kok aku gabisa liatya:(

    ReplyDelete
  4. To Anonim
    Chapter 1 : http://duestinae89.blogspot.com/2011/03/blood-promise-bahasa-indonesia-chapter.html

    Chapter 2: http://duestinae89.blogspot.com/2011/03/blood-promise-bahasa-indonesia-chapter_19.html

    Chapter 3: http://duestinae89.blogspot.com/2011/04/blood-promise-bahasa-indonesia-chapter.html

    Chapter 4: http://duestinae89.blogspot.com/2011/04/blood-promise-bahasa-indonesia-chapter_13.html

    Chapter 5: http://duestinae89.blogspot.com/2011/05/blood-promise-bahasa-indonesia-chapter.html

    Chapter 6: http://duestinae89.blogspot.com/2011/06/blood-promise-bahasa-indonesia-chapter.html

    Chapter 7: http://duestinae89.blogspot.com/2011/06/blood-promise-bahasa-indonesia-chapter_15.html

    Chapter 8: http://duestinae89.blogspot.com/2011/07/blood-promise-bahasa-indonesia-chapter.html

    Chapter 11: http://duestinae89.blogspot.com/2011/10/blood-promise-bahasa-indonesia-chapter.html

    Chapter 12: http://duestinae89.blogspot.com/2011/10/blood-promise-bahasa-indonesia-chapter_21.html

    ReplyDelete

 

Blog archive

Please, Keep in Touch!

©Copyright 2011 Love Your Life | TNB