Blood Promise ~ Bahasa Indonesia (Chapter 11)

Tuesday, October 4, 2011 0 komentar
A KU MENATAP MARK SELAMA beberapa detik. Akhirnya, dengan bodohnya, aku bertanya, “Apa baru saja kau bilang...menyembuhkan?"
Mark menatapku dengan keterkejutan yang sama. “Ya, tentu saja. Dia bisa menyembuhkan hal lain kan? Mengapa yang ini tidak bisa?”
“Sebab ...” aku mengerutkan dahi. “Hal itu tidak ada gunanya. Kegelapan itu ... semua efek jahat ... semua itu datang dari Lissa. Jika dia bisa menyembuhkannya begitu saja, mengapa dia tidak menyembuhkan dirinya sendiri?”

“Sebab ketika kegelapan itu berada di dalam dirinya, kegelapan itu sudah terlalu melekat pada dirinya. Terlalu terikat dalam dirinya. Dia tidak dapat menyembuhkannya dengan cara yang biasa ia lakukan ketika ia menyembuhkan hal lain. Tapi ketika belahan jiwamu menarik kegelapannya ke dalam dirimu, kegelapan itu akan menjadi penyakit yang biasa ia sembuhkan.” Jantungku berdegup keras dalam dadaku. Apa yang ia sarankan begitu mudah dan menggelikan. Tidak, hanya menggelikan. Semua itu rasanya tidak mungkin setelah semua hal yang sudah kami lalui kalau Lissa bisa menyembuhkan amarah dan depresi sama seperti dia melakukannya pada penyakit flu atau pada kaki yang patah. Victor Dashkov, mengesampingkan rencana jahatnya, sudah mengetahui sejumlah informasi roh dan sudah menjelaskannya kepada kami semua. Empat elemen yang lain lebih berupa elemen fisik dalam kehidupan, tapi elemen roh datang dari pikiran dan jiwa. Menggunakan begitu banyak energi mental – sehingga mampu untuk melakukan sejumlah hal-hal yang mengagumkan – tidak bisa dilakukan tanpa adanya efek yang merusak. Kami sudah bertarung dengan efek-efek jahat itu dari awal, pertama adalah Lissa kemudian kepadaku. Mereka tidak bisa begitu saja menghilang. 

“Jika semua itu memungkinkan,” kataku pelan,” lalu setiap orang bisa melakukannya. Nona Karp tidak akan kehilangan akal sehatnya. Anna tidak akan bunuh diri. Apa yang baru saja kau katakan terlalu mudah untuk dilakukan.” Mark tidak mengenal siapa saja yang aku bicarakan, tapi jelas orang-orang itu tidak menghalangi apa yang ingin ia ekspresikan. 

“Kau benar. Tidak mudah sebenarnya. Penyembuhan itu membutuhkan keseimbangan dengan hati-hati, lingkaran kepercayaan dan kekuatan dari dua orang. Oksana dan aku perlu waktu lama untuk mempelajari penyembuhan ini ... melewati tahun-tahun yang sulit ...” Wajahnya menggelap, dan aku hanya bisa membayangkan bagaimana kelihatannya tahun-tahun yang sulit itu. Waktuku yang singkat bersama Lissa sudah cukup buruk. Mereka harus hidup dengan semua ini dalam waktu yang lebih lama dari detik-detk yang pernah kami lalui. Sungguh merupakan hari-hari yang tidak tertahankan. Perlahan, mengimajinasikan, aku memberanikan diri untuk mempercayai kata-katanya. 

“Tapi sekarang kalian baik-baik saja kan?” 
“Hmm.” Ada kerlipan dalam senyum masam di bibirnya. “Sulit untukku mengatakan kalau kami sudah benar-benar baik-baik saja. Hanya ada beberpa hal yang bisa ia lakukan, tapi itu membuat hidup kami lebih teratur. Dia memberikan jarak diantara waktu penyembuhan, dan itu membatasi keseluruhan tenaganya."
"Apa maksudmu?” Dia mengangkat bahu. “Dia masih bisa melakukan hal lain ... menyembuhkan, kompulsi ...tapi tidak dalam level yang bisa ia tangani jika ia tidak menyembuhkanku.” Harapanku goyah.

“Oh. Kalau begitu ... aku tidak dapat melakukannya. Aku tidak dapat melakukannya pada Lissa.”

“Dibandingkan dengan apa yang sudah ia lakukan padamu? Rose. Aku merasa dia berpikir kalau ini adalah pertukaran yang adil.” Aku kembali memikirkan pertemuan terakhir kami. Aku mengingat tentang bagaimana aku meninggalkannya disana, mengacuhkan ia yang memohon padaku. Aku mengingat hal-hal rendah yang ia alami dalam ketidakhadiranku. Aku mengingat bagaimana ia menolak menyembuhkan Dimitri ketika aku berpikir kalau masih ada harapan untuk Dimitri. Kami berdua telah menjadi teman yang buruk. Aku menggelengkan kepala. 
“Aku tidak tahu.” kataku dalam suara kecil. “Aku tidak tahu apakah dia mau melakukannya.” Mark memberikan tatapan penilaian yang lama, tapi dia tidak memaksaku. Dia melirik ke arah matahari, hampir seperti mengatakan jam berapa dengan cara itu. Dia mungkin memang melakukannya. Dia pernah memiliki perasaan berjuang dalam kegilaan dalam dirinya.

“Yang lain akan bertanya-tanya apa yang sedang kita lakukan. Sebelum kita pergi ...” Dia merogoh sakunya dan menarik sebuah cincin perak kecil dengan bentuk yang sederhana.

“Mempelajari penyembuhan itu akan memakan waktu yang lama. Namun yang paling membuatku khawatir adalah suasana hatimu yang selalu waspada. Kegelapan itu hanya akan membuat hal itu semakin buruk. Ambil ini.” Dia mengulurkan cincin itu padaku. Aku ragu-ragu dan kemudian aku meraihnya. 

“Apa ini?” “Oksana memasukkan sihir roh ke dalam cincin ini. Ini jimat penyembuh.” Sekali lagi, rasa kaget menyerangku. Selalu saja, benda jimat dari Moroi dengan elemen di dalamnya. Pasak di isi dengan keempat sihir elemen kehidupan, membuat mereka menjadi benda yang mematikan bagi Strigoi. Victor juga menyihir sebuah kalung dengan sihir tanah, menggunakan dasar alam dari tanah untuk mengubah kalung itu menjadi jimat gairah. Bahkan tato milik Sydney juga merupakan semacam jimat. Aku mengira kalau tidak ada alasan bagi roh untuk tidak bisa membuat benda jimat juga, tapi hal itu tidak pernah terpikir olehku sebelumnya, mungkin karena kekuatan Lissa masih terlalu baru dan terlalu asing. 

“Apa yang bisa dilakukan benda ini? Maksudku, penyembuhan seperti apa?” 
“Ini menolongmu mengendalikan suasana hatimu. Benda ini tidak bisa menghilangkannya, tapi ini bisa mengurangi efeknya – menolongmu untuk berpikir lebih jernih. Memungkinkan mu untuk terhindar dari masalah. Oksana membuatkan ini untukku untuk menolongki saat masa penyembuhan.” Aku hendak memakainya di jariku, tapi ia menggelengkan kepalanya.

“Simpan ini untuk saat dimana kau merasa tidak dapat mengendalikan dirimu lagi. Sihirnya tidak bisa bertahan selamanya. Sihirnya akan memudar sama seperti jimat yang lain.” Aku menatap cincin itu, pikiranku tiba-tiba terbuka berbagai kemungkinan baru. Beberapa saat kemudian, aku memasukkannya kedalam saku jaketku. 

Paul menjulurkan kepalanya dari balik pintu. “Nenek ingin pergi sekarang,” katanya padaku. “Dia ingin tahu mengapa kau begitu lama dan dia bertanya mengapa kau membuat seseorang setua dia menunggu dan menderita dengan punggungnya.” Aku mengingat seberapa cepat Yeva berjalan ketika aku bertahan untuk mengikutinya bersama barang-barang bawaanku. Punggungnya tidak terlihat buruk bagiku, tapi lagi, aku ingat kalau Paul hanyalah penyampai pesan dan aku mengurangi komentarku terhadapnya. 

“Ok, aku akan segera kesana.” Ketika Paul mengilang, aku menggelengkan kepalaku. “Sulit untuk menjadi berharga.” aku bergerak ke arah pintu, kemudian melirik ke arah Mark, pikiran acak mengaliriku. “Kau mengatakan padaku kalau melakukan apa yang dhampir disini lakukan adalah hal buruk ...tapi kau juga bukan penjaga.” Dia tersenyum padaku lagi, satu dari senyum yang menyiratkan kesedihan, senyuman masam. 

“Dulu aku pernah menjadi penjaga. Kemudian Oksana menyelamatkan nyawaku. Kami terikat dan bahkan saling jatuh cinta. Aku tidak bisa terpisah darinya setelah itu, dan para penjaga juga sudah memecatku. Aku harus pergi.” 

“Apakah sulit meninggalkan mereka?” 

“Sangat. Perbedaan usia kami semakin membuat hubungan kami menjadi skandal.” Rasa dingin mengaliri diriku. Mark dan Oksana adalah perwujudan dari dua bagian kehidupanku. Mereka berjuang melawan ikatan dicium bayangan sama seperti Lissa dan aku lakukan dan juga menghadapi hukuman untuk hubungan mereka seperti apa yang aku dan Dimitri rasakan. 

Mark melanjutkan, “Tapi terkadang, kita harus mendengarkan hati kita. Dan meskipun aku harus pergi, aku tidak berada di luar sana meresikokan diriku sendiri mengejar Strigoi. Itu berbeda – jangan lupakan hal itu.” Pikiranku terhuyung-huyung ketika aku kembali ke rumah Belikov. Tanpa batu bata, perjalanan pulang terasa lebih mudah. Memberikanku kesempatan untuk merenungkan kata-kata Mark. Aku merasa seperti menerima informasi seumur hidup dalam percakapan satu jam. 

Olena sedang berada dalam rumah, mengerjakan tugas-tugas normalnya, memasak dan bersih-bersih. Saat aku dengan jujur tidak pernah ingin menghabiskan hari-hariku melakukan sejenis perkerjaan rumah tangga seperti itu, aku harus mengakui kalau ada sesuatu yang menenangkan ketika selalu memiliki seseorang di sekitarmu, siap untuk memasak dan mengkhawatirkanku untuk hal-hal dasar sehari-hari. Aku tahu kalau ini murni hasrat yang egois, karena aku tahu kalau ibu kandungku sedang melakukan hal-hal penting dalam hidupnya. Aku tidak seharusnya menghakiminya. Namun, merasakan Olena memperlakukan seperti anak perempuanya sendiri ketika dia sudah mengetahui siapa diriku, membuatku merasakan apa itu kehangatan dan perhatian . 

“Apa kau lapar?” ia secara otomatis bertanya padaku. Kurasa satu dari ketakutan terbesar dalam hidupnya adalah jika seseorang mungkin kelaparan di dalam rumahnya. Kebiasaan Sydney yang selalu terlihat tidak nafsu makan telah menjadi kekhawatiran Olena tanpa henti, Aku menyembunyikan senyumanku. 

“Tidak, kami sudah makan di rumah Mark dan Oksana.” 
“Ah, dari sana kau ternyata? Mereka adalah orang-orang yang baik.” 
“Dimana semua orang?” tanyaku. Rumah ini sepi, tidak seperti biasanya. 
“Sonya dan Karolina bekerja. Viktoria pergi ke rumah temannya, tapi dia akan senang karena kau sudah kembali.” 
“Bagaimana dengan Sydney?” 
“Dia baru pergi beberapa saat yang lalu. Dia bilang dia kembali ke Saint Petersburg.” 
“Apa?” aku berseru. “Pergi demi kebaikan? Hanya seperti itu?” Sydney memiliki sifat yang agak kasar, tapi ini terlalu kasar bahkan untuk orang seperti dia. 

“Para alkemis ... sebenarnya, merekalah yang selalu membuat rencana.” Olena memberikan sepotong kertas. “Dia meninggalkan ini untukmu.” Aku mengambil catatan itu dan buru-buru membukanya. tulisan Sydney sangat rapi dan teratur. Entah bagaimana hal ini tidak mengejutkanku. 

Rose, 
Aku minta maaf aku harus pergi begitu cepat, tapi ketika Alkemis menyuruhku untuk melompat ... yah, aku akan lompat. Aku menumpang sebuah kendaraan kembali ke kota petani tampat kita pernah tinggal waktu itu jadi aku bisa mengambil si ‘Bencana Merah’, dan kemudian aku akan sampai ke Saint Petersburg. Rupanya, setelah sekarang kau sudah diantarkan ke Baia, mereka tidak ingin aku berada disana lagi. 

Aku berharap aku bisa mengatakan lebih banyak tentang Abe dan apa yang ia inginkan padamu. Namun, meskipun aku dizinkan pun, tidak cukup banyak hal yang bisa dikatakan. Dalam beberapa hal, dia sama misteriusnya bagiku. Seperti yang selalu kukatakan, sebagian besar bisnis yang ia lakukan adalah ilegal – baik diantara manusia maupun kaum Moroi. Saat-saat ia secara langsung berhubungan dengan oran lain adalah ketika ada sesuatu yang berhubungan dengan bisnis – atau kalau ada kasus yang sangat, sangat spesial. Kupikir kau adalah satu dari kasus itu, dan meskipun dia tidak berniat untuk mencelakaimu, dia mungkin ingin menggunakanmu untuk kepentingan dirinya sendiri. Bisa jadi keinginannya sesederhana seperti menginginkanmu untuk dikontrak sebagai penjaganya, melihat dirimu yang begitu liar. Mungkin dia ingin menggunakan dirimu untuk mendapatkan seseorang. Mungkin ini semua adalah bagian dari rencana orang lain, seseorang yang bahkan lebih misterius dari dirinya. Mungkin dia sedang melakukan kepentingan seseorang. 

Zmey bisa jadi sangat berbahaya atau sejenisnya, semua itu tergantung dengan apa yang sedang ia kerjakan. Aku tidak pernah berpikir aku cukup peduli untuk mengatakan hal ini kepada seorang dhampir, tapi berhati-hatilah. Aku tidak tahu apa rencanamu sekarang, tapi aku punya firasat kalau masalah sedang mengikutimu. Hubungi aku jika ada sesuatu yang bisa kubantu, tapi jika kau kembali ke kota untuk berburu Strigoi, jangan tinggalkan mayat lagi tanpa dibersihkan! 

Untuk semua yang terbaik, 

Sydney 

P.S. “Si Bencana Merah’ adalah nama yang kuberikan pada mobil itu. 
P.P.S. Hanya karena aku menyukaimu, itu tidak berarti aku berhenti menganggapmu sebagai makhluk jahat dari malam. Karena kau memang seperti itu. 

Nomor ponselnya tertera di bagian bawah, aku tidak bisa menahan senyumku membaca surat itu. Karena kami menumpang Abe dan para pengawalnya saat ke Baia, Sydney harus meninggalkan mobilnya, yang mana membuatnya trauma hampir sama banyaknya dengan rasa traumanya terhadap Strigoi. Kuharap para Alkemis membiarkannya memiliki mobil itu. 

Aku menggelengkan kepalaku, lebih memilih geli ketimbang memikirkan peringatannya terhadap Abe. Si Bencana Merah. Saat aku menaiki tangga ke arah kamarku, senyumku memudar. Mengesampingkan sikapnya yang kasar, aku akan merindukan Sydney. Dia mungkin tidak bisa disebut sebagai teman – atau begitukan ia? – dalam waktu yang singkat ini, aku akan menghargainya selama sepanjang hidupku. Aku tidak punya banyak hal seperti itu lagi yang tersisa. Aku merasa terapung-apung, tidak yakin akan hal yang akan ku lakukan. Aku datang kesini untuk membawa kedamaian bagi Dimitri dan hanya berakhir dengan membawa kesedihan bagi keluarganya. Dan meskipun apa yang dikatakan setiap orang benar, aku tidak akan menemukan banyak Strigoi disini, di Baia. Entah bagaimana, aku tidak bisa membayangkan Dimitri, berkeluyuran di jalanan dan perkebunan untuk memangsa sesekali. Meskipun sebagai Strigoi – dan kata itu membunuhku hanya dengan memikirkannya saja – Dimitri pastilah memiliki tujuan. Jika dia sama sekali tidak kembali untuk melihat keluarganya di kampung halamannya, kemudian dia melakukan hal-hal lain yang lebih berguna – sebanyak yang bisa dilakukan Strigoi. 

Komentar Sydney di catatan membuktikan apa yang selalu aku dengar terus menerus: Strigoi ada di kota. Tapi kota mana? Dimana Dimitri berada? Sekarang aku lah yang tidak memiliki tujuan. Di atas semuanya, aku mengulang kata-kata Mark. Apakah aku berada dalam misi gila? Apakah aku sudah bertindak bodoh dengan mengejar kematianku sendiri? Atau aku bertindak bodoh mengejar .... hal yang tidak ada? Apakah aku konyol menghabiskan sisa hariku dengan keluyuran? Sendirian? Duduk di tampat tidurku, aku merasa suasana hatiku terjungkir balik dan aku tahu aku harus mengalihkan pikiranku sendiri. Aku terlalu mudah terkena emosi gelap selama Lissa menggunakan sihir roh; aku tidak perlu untuk semakin mendorong mereka keluar. Aku memakai cincin yang diberikan Mark padaku, berharap benda ini akan membawa semacam kejernihan dan ketenangan padaku. Aku tidak merasakan perbedaan, dan memutuskan untuk mencari kedamaian dari tempat yang sama yang selalu aku lakukan: pikiran Lissa. 

Dia bersama Adrian, dan mereka berdua sedang berlatih sihir roh lagi. Setelah beberapa benjolan awal di dalam prosesnya, Adrian sedang membuktikan kecepatan belajarnya dalam hal menyembuhkan. Itu adalah saat pertama kalinya dari kekuatan Lissa untuk ditunjukkan, dan hal ini selalu membuatnya kesal kalau melihat Adrian membuat kemajuan dengan apa yang ia ajarkan dibandingkan sebaliknya. 

“Aku akan memberikan banyak hal untuk kau sembuhkan,” katanya, meletakkan tanaman kecil dalam pot di atas meja. “Kecuali kita mulai mengoyak-ngoyak mangsa atau sesuatu.”

Adrian tersenyum. “Aku pernah menggoda Rose dengan kata-kata itu, bagaimana aku bisa membutanya kagum dengan menyembuhkan hal yang diamputasi atau sesuatu yang sama tidak jelasnya.” 

“Oh, dan aku yakin dia mempunyai tanggapan yang cerdas untukmu setiap kali kau menggodanya.” 

“Ya, ya, dia memang melakukannya,” wajah Adrian terlihat begitu mengasihi ketika dia mengingat kembali memori itu. Ada sebagian kegilaan dari diriku yang selalu penasaran untuk mendengar apa yang mereka bicarakan tentang ku .... meskipun diwaktu yang sama, aku selalu merasa bersalah saat ada getar kesedihan hadir saat namaku disebutkan. Lissa mengerang dan merenggangkan tubuhnya di karpet lantai. Mereka ada di kursi panjang di asrama, dan jam tidur segera tiba, “Aku ingin berbicara padanya, Adrian.” 

“Kau tidak bisa melakukannya,” katanya. Ada nada serius yang tidak biasa di dalam suaranya. “Aku tahu dia masih memeriksa ke dalam pikiranmu - dan itu adalah cara paling dekat untuk bisa berbicara dengannya. Dan sejujurnya? Itu tidaklah begitu buruk. Kau bisa mengatakan langsung bagaimana perasaanmu dengan jelas padanya.” 

“Ya, tapi aku ingin mendengar ia berbicara balik padaku seperti yang kau lakukan dalam mimpimu.” Ini membuatnya tersenyum lagi. 

“Dia cukup banyak berbicara, percayalah padaku.” Lissa duduk tegak. 

“Lakukan sekarang.” 
“Melakukan apa?” 
“Pergi kunjungi mimpinya. Kau selalu mencoba menjelaskannya padaku, tapi aku tidak pernah benar-benar melihatnya. Biarkan aku melihatnya.” Dia menatap diam, kehilangan kata-kata. 
“Itu sejenis aktivitas seks yang tidak normal.” 
“Adrian! Aku ingin mempelajarinya, dan kita sudah mencoba berbagai hal. Aku bisa merasakan sihir disekelilingmu kadang-kadang. Lakukan saja, ok?” Adrian mulai memprotes lagi tapi kemudian menahan komentarnya setelah mempelajari wajah Lissa beberapa saat. Kata-kata Lissa sangat tajam dan menuntut – sangat tidak berkarakter untuk orang seperti Lissa. 

“Ok. Aku akan mencobanya.” Pada akhirnya, seluruh ide agar Adrian mencoba untuk masuk ke dalam kepalaku saat aku sedang melihatnya melalui kepala Lissa adalah hal yang tidak mungkin. Aku tidak terlalu yakin apa yang bisa diharapkan dari Adrian. Aku selalu bertanya-tanya apakah ia harus jatuh tertidur atau paling tidak menutup matanya untuk melakukannya. Tapi sepertinya tidak. Dia malahan menatap diam, matanya menjadi kosong saat pikirannya meninggalkan dunia disekelilingnya. Melalui mata Lissa, aku bisa merasakan sebagian sihir terpancar dari dirinya dan auranya, dan Lissa mencoba menganalisa setiap helainya. Lalu, tanpa peringatan, semua sihir itu menghilang. Dia mengerjap dan menggelengkan kepala. 

“Maaf. Aku tidak bisa melakukannya.” 
“Mengapa tidak?” 
“Mungkin karena ia sedang bangun. Apa kau belajar sesuatu dari melihat?” 
“Sedikit. Mungkin akan lebih berguna jika kau benar-benar menghubunginya.” Lagi, Lissa mengeluarkan nada marahnya. 
“Dia bisa berada dimana saja di dunia ini kau tahu, dalam jam waktu mana pun.” Suaranya melemah karena menguap. “Mungkin kita bisa mencoba di jam berbeda. Aku bisa menemuinya .... sebenarnya, hampir sama dengan jam sekarang. Atau terkadang aku medapatkannya di pagi buta.” 
“Dia bisa jadi bisa ditemui sebentar lagi,” kata Lissa. 
“Atau dalam jadwal siang manusia di beberapa bagian di dunia.” Rasa antusias Lissa menurun. 
“Benar. Itu juga.” 

“Bagaimana bisa kalian tidak pernah terlihat sedang melakukan sesuatu?” Christian berjalan memasuki ruangan, terlihat geli melihat Lissa duduk di lantai dan Adrian yang tergeletak di atas sofa. Berdiri di belakang Christian, seseorang yang tidak pernah kupikirkan bisa aku lihat segera. Adrian, yang bisa mendeteksi wanita bermil-mil jauhnya, juga mendadak menyadari pendatang baru di ruangan itu. 

“Dimana kau dapatkan gadis di bawah umur itu?” tanyanya. Christian memberi tatapan peringatan pada Adrian. 
“Ini Jill.” Jill Mastrano membiarkan dirinya di dorong ke depan, mata hijau terangnya tidak memungkinkan selebar itu saat ia melihat ke sekelilingnya. 
“Jill, ini Lissa dan Adrian.” Jill adalah satu dari orang-orang terakhir yang kuharapkan bisa terlihat disini. Aku pernah bertemu dengannya beberapa bulan yang lalu. Dia di kelas sembilan, yang berarti dia berada disini di kampus atas di musim gugur. Dia memiliki bentuk tubuh super-ramping yang sama seperti yang dimiliki Moroi kebanyakan, tapi tubuhnya itu dipasangkan dengan tinggi yang mengagumkan bahkan dengan standar vampir. Itu membuatnya semakin ramping. Rambutnya cokelat muda bergelombangnya terurai di tengah-tengah punggungnya dan akan sangat terlihat cantik – jika dia belajar bagaimana menatanya dengan pantas. Untuk sekarang, terlihat acak-acakan, dan keseluruhan kesannya – sebenarnya imut – terlihat canggung. 

“H-hai,” katanya, menatap dari satu wajah ke wajah yang lain. Sejauh yang ia perhatikan, orang-orang ini adalah para selebritis kelas atas kaum Moroi. Dia hampir pingsan ketika pertama kali dia bertemu denganku dan Dimitri, terima kasih pada reputasi kami. Dari ekspresinya sekarang, dia tengah berada dalam kondisi yang sama. 

“Jill ingin belajar bagaimana menggunakan kekuatannya untuk kebaikan daripada melawan setan,” kata Christian dengan sebuah kedipan yang berlebihan. Itu adalah leluconnya untuk menagatakan kalau Jill ingin belajar bagaimana berkelahi dengan menggunakan sihirnya. Dia pernah mengekspresikan ketertarikannya itu padaku, dan kukatakan padanya untuk menemui Christian. Aku senang dia memberanikan diri untuk mengikuti nasihatku. Christian adalah seleb kampus juga, sekalipun ia termasuk dari golongan yang tidak terkenal.

“Anggota baru lagi?” tanya Lissa, menggoyang-goyangkan kepalanya. “Kupikir kau akan bisa mempertahankan yang satu ini?” 

Jill menatap Christian bingung. “Apa maksudnya?” 
“Setelah penyerangan, banyak orang yang berkata kalau mereka ingin belajar bertarung dengan sihir,” jelas Christian. “Jadi mereka menemuiku, dan kami bekerja sama ... sekali dua kali. Kamudian setiap orang mulai menghilang setiap kali latihannya mulai keras, dan kemudian menyadari kalau mereka harus terus berlatih.” 

“Itu tidak menolong, kau memang guru yang kejam,” tuduh Lissa. “Dan sekarang kau merekrut beberapa anak-anak,” kata Adrian sungguh-sungguh. 

“Hey,” kata Jill marah. “Aku empat belas tahun.” Tiba-tiba dia bersemangat memberanikan diri berbicara dengan tegas pada Adrian. Adrian menggap hal itu lucu, seperti yang biasa ia lakukan pada hal lain. 

“Salahku,” kata Adrian. “Apa elemenmu?” 
“Air.” 
“Api dan air, ya?” Adrian meraih sesuatu ke dalam sakunya dan menarik selembar uang seratus dollar. Dia melambaikannya dan berbicara langsung. 

“Sayang, aku akan memberimu sebuah perjanjian. Jika kau bisa membuat seember air muncul dan menumpahkannya di atas kepala Christian, aku akan memberikan mu ini.” 

“Kutambahkan sepuluh.” tawa Lissa. Jill terlihat tegang, tapi aku menduga hal itu karena Adrian memanggilnya ‘sayang’. Aku sering mengabaikan apa yang dilakukan Adrian sehingga mudah bagiku untuk lupa kalau ia adalah lelaki yang seksi. 


>Christian mendorong Jill menuju pintu. “Abaikan mereka. Mereka hanya iri karena pengguna roh tidak bisa pergi menyerang di dalam pertarungan seperti yang bisa kita lakukan.” Dia berlutut ke arah Lissa di lantai dan memberinya ciuman singkat. 

“Kami berlatih dia ruang atas, tapi aku harus mengantarnya pulang sekarang. Ketemu besok lagi ya.” 

“Kau tidak perlu melakukannya,” kata Jill. “Aku bisa pulang sendiri. Aku tidak ingin menyebabkan masalah.” 

Adrian berdiri. “Kau tidak perlu pulang sendiri. Jika ada seseorang yang akan maju dan menjadi ksatria dengan baju baja berkilau disini, dia pastilah diriku. Aku akan mengantarkanmu dan meninggalkan burung-burung cinta ini dia sarang burung cinta mereka.” Dia memberikan hormat dengan cara membungkuk pada Jill. “Mari?” 

“Adrian –“ kata Lissa, nada yang tajam dalam suaranya. 
“Oh ayolah,” kataya, memutar matanya. “Toh aku juga harus kembali – kalian berdua tidak ada gunanya saat jam malam dimulai. Dan sejujurnya, berikan aku sedikit kepercayaan disini. Aku juga punya batas.” Dia memberi kan tatapan penuh arti pada Lissa, satu berarti mengatakan pada Lissa kalau dia idiot karena berpikir Adrian akan menggoda Jill. Lissa menatap Adrian selama beberapa saat dan sadar kalau pria itu benar. Adrian dulunya memang bajingan dan tidak pernah menjadikan ketertarikannya padaku sebagai sebuah rahasia, tapi mengantarkan Jill ke rumah bukanlah bagian dari godaan menyenangkan. Dia benar-benan ingin bersikap baik. 

“Baiklah,” kata Lissa. “Aku akan menjumpaimu besok. Senang bertemu denganmu, Jill.” 

“Aku juga,” sahut Jill. Dia memberanikan diri tersenyum pada Christian. 
“Terimakasih lagi.” 
“Kau sebaiknya menunjukkan keahlianmu di latihan kita berikutnya,” Christian memperingatkan. Adrian dan Jill mulai melangkah pergi dari pintu, saat Avery masuk melaluinya. 

“Hey, Adrian.” Avery memberikan Jill sekali lirikan. “Siapa gadis di bawah umur mu ini?” 

“Bisakah kalian berhenti memanggilku seperti itu?” seru Jill. Adrian menunjuk pada Avery. 

“Hush. Aku akan beurusan denganmu nanti, Lazar.” 
“Aku jelas mengharapkan hal itu juga,” dia berbicara dengan suara berirama. “Aku akan membiarkan pintunya tidak terkunci.” Jill dan Adrian pergi, dan Avery duduk didekat Lissa. 

Dia terlihat cukup mabuk, tapi Lissa tidak mencium bau alkohol dari dirinya. Lissa dengan cepat mempelajari kalau sebagian dari diri Avery selalu gembira dan riang, tidak menghiraukan keadaannya yang mabuk. 

“Apakah kau sungguh-sungguh mengundang Adrian ke kamarmu nanti?” tanya Lissa. Dia berbicara untuk menggodanya tapi seseungguhnya ia sedang mereka-reka apakah ada sesuatu yang terjadi pada mereka berdua. Dan ya, itu membuat kami berdua penasaran. 

Avery mengangkat bahu. “Aku tidak tahu. Mungkin. Terkadang kami bersama saat kalian berdua bermain di tempat tidur kalian. Kau tidak cemburukan?” 
“Tidak,” Lissa tertawa. “Hanya penasaran. Adrian adalah cowok yang baik.” 
“Oh?” tanya Christian. “Defenisi ‘baik’.” 

Avery merengkuh tangan Lissa dan mulai memeberi tanda centang pada setiap kata yang ia sebutkan dengan jari-jarinya. “Ketampananya menghancurkan, lucu, kaya, berkeluarga dengan sang ratu ...” 

“Kau sudah memilih warna baju pengantinmu?” tanya Lissa, masih dengan tertawa. 

“Belum,” sahut Avery. “Aku masih menguji airnya. Aku sedang mengira-ngira dia bisa menjadi mudah untuk diikat dengan ikat pinggang Avery Lazar, tapi dia itu cowok yang sulit dibaca.” 

“Aku sungguh tidak ingin mendengar hal ini,” kata Christian. 

“Terkadang dia bertingkah seolah mencintai mereka dan meninggalkan mereka. Di waktu yang lain, dia muram seolah sedang patah hati dengan cara yang romantis.” Lissa bertukar lirikan penuh arti dengan Christian saat Avery tidak menangkapnya ketika ia sedang asik bicara.

“Ngomong-ngomong, aku tidak berada disini untuk membicarakannya. Aku disini untuk mengatakan tentang kau dan aku meninggalkan tempat ini.” Avery melingkarkan tangannya pada Lissa yang hampir jatuh terbaring. 

“Pergi dari mana? Dari asrama?” 
“Tidak. Dari sekolah ini. Kita akan pergi dalam acara liar akhir minggu di istana.” 
“Apa, akhir minggu ini?” Lissa merasa dia berada tiga langkah di belakang, dan aku tidak menyalahkannya. 

“Mengapa?”
“Sebab itu hari Paskah. Dan yang mulia ratu merasa kalau hal itu akan menjadi ‘indah’ jika kau bisa bergabung dengannya dalam liburan kali ini.” Suara Avery terdengar agung dan tinggi. 

“Dan, sejak aku bergaul denganmu, Ayah memutuskan kalau aku telah bersikap baik sekarang.” 

“Bajingan yang nggak sadar, kasihan,” Christian mengeluh. 

“Jadi dia bilang aku bisa pergi denganmu.” Avery melirik Christian. “Kau juga bisa pergi, kurasa. Sang Ratu bilang Lissa boleh membawa seorang teman – dengan tambahan diriku, tentu saja.” Lissa menatap wajah Avery yang berseri-seri dan tidak membagi rasa antusiasnya padanya. 

“Aku benci kalau harus pergi ke istana. Tatiana hanya terus menyuruh-nyuruh, mengatakan apa yang ia pikirkan seolah itu adalah nasihat yang berguna. Rasanya selalu membosankan dan menyedihkan sekarang.” Lissa tidak menambahkan kalau dia pernah sekali merasa istana itu menyenangkan – ketika aku pergi bersamanya. 

“Itu karena kau belum pergi denganku. Aku akan menjadi terobosan! Aku tahu dimana semua hal-hal menyenangkan. Dan aku bertaruh Adrian juga akan datang. Dia bisa mendorong jalannya ke hal apapun. Ini akan menjadi semacam kencan ganda.” Perlahan, Lissa mulai mengakui kalau kali ini akan menjadi menyenangkan. Dia dan aku pernah menemukan sedikit ‘hal menyenangkan’ yang tersembunyi dari permukaan mengkilap dalam kehidupan istana. Setiap kunjungannya yang lainnya sama saja seperti yang ia gambarkan – pengap dan dan berbau bisnis. Tapi sekarang, pergi dengan Christian dan Avery yang liar dan spontan? Akan menjadi hal yang potensial. Hingga Christian mengacaukannya. 

“Well, jangan hitung aku dalam daftar yang ikut,” katanya. “Jika kau hanya bisa membawa satu orang, bawalah Jill.” 

“Siapa?” tanya Avery. 
“Gadis di bawah umur,” jelas Lissa. Dia menatap Christian dengan heran. “Demi Tuhan mengapa aku harus membawa Jill? Aku baru bertemu dengannya.” 

“Sebab dia sebenarnya serius mempelajari bagaimana mempertahankan diri. Kau harus memperkenalkan ia kepada Mia. Mereka sama-sama pengguna air.” 
“Benar,” kata Lissa mengerti. “Dan fakta kalau kau membenci acara di istana tidak bisa diubah?” 
“Well....” 
“Christian!” Lissa mendadak menjadi marah. “Mengapa kau tidak melakukan ini untukku?” 

“Karena aku benci cara Ratu jalang itu menatapku,” katanya. Lissa masih belum merasa yakin. 
“Ya, tapi ketika kita lulus, aku akan tinggal disana. Kau juga akan pergi ke sana.” 
“Ya, well, kalau begitu anggap kau memberi liburan awal untukku.” Rasa kesal Lissa tumbuh. 
“Oh, aku mengerti sekarang. Aku harus menerima semua ucapan sampahmu selama ini, tapi kau tidak mau pergi untukku.” Avery melirik mereka dan berdiri. 

“Aku akan meninggalkan kalian anak-anak untuk menyelesaikan masalah ini dengan cara kalian. Aku tidak peduli apakah si gadis di bawah umur atau Christian yang akan pergi, selama kau ada disana Lissa.” Dia manatap tajam ke arah Lissa. “Kau akan pergi, kan?” 

“Ya, aku akan pergi.” Jika apapun dari penolakan Christian mendadak hal itu memacu Lissa lebih jauh. Avery menyeringai.

“Menakjubkan. Aku akan pergi duluan dari sini, tapi kalian berdua haruslah berciuman dan berbaikan setelah aku pergi.” Kakak Avery, Reed tiba-tiba muncul di pintu. 
“Apa kau siap?” Reed bertanya pada Avery. Setiap kali dia berbicara, suaranya selalu terdengar seperti sebuah omelan. Avery memberikan sekilas tatapan kemenangan. 
“Lihat? Kakakku yang sopan, datang menjemputku sebelum ibu asrama mulai meneriakiku untuk pergi. Sekarang Adrian harus menemukan cara baru yang lebih menarik untuk membuktikan jiwa ksatrianya.” Reed tidak terlihat sangat sopan ataupun ksatria, tapi kurasa dia sungguh baik mau menjemput dan mengantar Avery ke kamarnya. Pemilihan waktunya selalu saja menakutkan sebenarnya. Mungkin Avery benar tentang kakanya itu, dia tidaklah seburuk yang orang-orang pikirkan. Segera setelah Avery pergi, Lissa mengembalikan perhatiannya pada Adrian. 

“Apa kau benar serius menyuruhku membawa Jill daripada membawamu?” 
“Yep,” sahut Christian. Dia mencoba untuk berbaring di pangkuan Lissa, tapi Lissa mendorongnya menjauh. 
“Tapi aku akan menghitung setiap detiknya sampai kau kembali.” 
“Aku tidak percaya kau menganggap semua ini lelucon.” 
“Aku tidak menganggapnya seperti itu,” katanya. “Dengar, bukan maksudku untuk tidak mau bekerjasama denganmu, Ok? Tapi sungguh ... aku hanya tidak ingin berurusan dengan segala macam hal yang berhubungan dengan drama istana. Dan ini akan bagus untuk Jill.” 

Dia cemberut. “Kau tidak punya masalah untuk menolak dia kan?” 
“Aku bahkan tidak mengenalnya,” sahut Lissa. Dia masih marah – sangat marah dari apa yang aku harapkan, yang artinya sangat aneh. Christian menggenggam tangan Lissa, dengan wajah yang serius. Mata biru yang dicintai Lissa mampu meredakan sedikit kemarahan dalam diri Lissa. 

“Kumohon, aku tidak sedang mencoba membuatmu marah. Jika hal ini benar-benar penting ....” Hanya dengan seperti itu, kemarah Lissa merebak hilang. Rasanya mendadak, seperti ada semacam tombol perubah. 

“Tidak, tidak. Aku tidak masalah membawa Jill – meskipun aku tidak yakin apakah dia akan bergabung dengan kami dan melakukan apapun yang ada dalam pikiran Avery.” 

“Berikan Jill pada Mia. Dia akan menjaganya di akhir minggu itu.” Lissa mengangguk, bertanya-tanya mengapa Christian begitu tertarik pada Jill. 

“Ok. Tapi kau tidak melakukan hal ini karena kau tidak menyukai Avery kan?” 
“Tidak, aku suka Avery. Dia membuatmu lebih banyak tersenyum.” 
“Kau yang membuatku tersenyum.” 
“Itulah kenapa kutambahkan kata ‘lebih’.” Christian mencium tangan Lissa dengan lembut. 

“Kau menjadi begitu bersedih setelah kepergian Rose. Aku senang kau mau bergaul dengan orang lain – maksudku, untuk semua kebutuhan yang tidak bisa kaudapatkan dariku.” 

“Avery bukan pengganti Rose,” jawab Lissa cepat. 
“Aku tahu. Tapi dia mengingatkan ku pada Rose.” 
“Apa? Mereka tidak memiliki kesamaan sedikit pun.” Christian menegakkan tubuhnya dan duduk di samping Lissa, mengistirahatkan wajahnya di pundak Lissa. 
“Avery seperti Rose dulu, sebelum kalian berdua pergi.” Baik Lissa maupun aku terhenti sejenak merenungkan hal itu. Apakah dia benar? Sebelum kekuatan roh Lissa mulai nampak, dia dan aku hidup dalam gaya hidup gadis pesta. Dan ya, separuhnya dari waktu itu, akulah yang selalu memberikan ide gila untuk menemukan waktu yang menyenangkan dan membuat kami masuk dalam masalah. Tapi apakah aku benar-benar terlihat seperti Avery kala itu? 

“Tidak akan ada Rose yang lain,” kata Lissa sedih. 
“Tidak,” Christian membenarkan. Dia memberikan ciuman singkat dan lembut di bibirnya. “Tapi akan terus ada teman baru.” 

Aku tahu dia benar, tapi aku tidak bisa menolak untuk merasa sedikit cemburu. Aku juga tidak bisa menghentikan sedikit rasa khawatirku. Semburan kemarahan singkat yang dialami Lissa sejenis kesedihan. Aku bisa memahami betapa ia berharap Christian bisa menemaninya, tapi tingkahnya yang sedikit menyebalkan – dan rasa-hampir-cemburunya pada Jill pun juga aneh. Lissa tidak punya alasan untuk meragukan perasaan Christian, jelas tidak perlu apalagi pada seseorang seperti Jill. Suasana hati Lissa mengingatkanku pada diriku dulu. Lebih banyak terlihat karana dia terlalu lelah, tapi sebagian firasatku – mungkin ini bagian dari ikatan kami – mengatakan padaku ada sesuatu yang salah pada dirinya. Seperti sensasi yang cepat berlalu, yang tidak bisa aku benar-benar pahami, seperti air yang mengalir di jari-jariku. Namun, firasatku selalu benar sebelumnya, dan kuputuskan untuk lebih sering memeriksa keadaan Lissa. __

0 komentar:

Post a Comment

 

Blog archive

Please, Keep in Touch!

©Copyright 2011 Love Your Life | TNB