Spirit Bound ~ Bahasa Indonesia (Chapter 3) part 3

Friday, September 7, 2012 0 komentar
G aun yang kupakai untuk makan malam ini berwarna marun, membuat bahan tipisnya bercahaya sehingga terlihat bagus untuk musim panas. Garis lehernya terlihat sopan dengan lengan baju yang tertutup sedikit memberikan nuansa berkelas. Rambutku diikat ekor kuda pendek sehingga dapat menutupi tatoku yang sedang dalam masa penyembuhan dengan rapi, aku hampir terlihat seperti seorang pacar yang terhormat --- yang hanya muncul untuk menunjukkan bagaimana penampilan itu bisa memperdayai orang lain, mengingat aku adalah bagian dari sebuah rencana gila dalam misi membawa pacar ku yang sebelumnya kembali dari kematian.

Adrian menilaiku dari kepala sampai ujung kaki saat aku tiba di rumah mewah orang tuanya. Mereka membuat sebuah kediaman permanen disini, di istana. Senyuman kecil di wajahnya mengatakan kalau dia menyukai apa yang ia lihat.

“Kau menyukainya?” tanyaku sambil berputar.
Dia menyisipkan satu lengannya ke pinggangku. “Sayangya, iya. Padahal aku berharap kau akan tampil dengan sesuatu yang lebih liar. Sesuatu yang bisa membuat skandal di antara kedua orang tuaku.”
“Terkadang kau terdengar seperti tidak peduli kalau aku adalah manusia,” aku memberikan pengamatanku saat kami berjalan masuk. “Seolah kau hanya menggunakanku untuk nilai kejutan saja.”
“Sebenarnya keduanya, dhampir kecil. Aku peduli padamu, dan aku menggunakanmu untuk nilai kejutan.”


Aku menyembunyikan senyumanku saat pelayan keluarga Ivashkov mengantar kami menuju ruang makan. Istana sebenarnya memiliki restoran dan kafe yang disisipkan ke dalam bangunan ini, namun bangsawan seperti orang tua Adrian akan beranggapan kalau mereka akan terlihat lebih berkelas dengan memiliki ruang makan mewah di dalam rumah mereka sendiri. Diriku, aku akan lebih memilih keluar ke tengah orang banyak. Lebih banyak pilihan untuk melarikan diri.

“Kau pastilah Rose.” Penilaianku terhadap jalan keluar terganggu saat seorang wanita Moroi yang sangat tinggi, sangat elegan, masuk ke dalam ruangan. Dia mengenakan gaun satin panjang berwarna hijau gelap yang seolah membuatku menjadi bukan bagian dari tempat ini dan gaun itu sangat cocok dengan matanya --- mata Adrian. 

Rambut hitamnya disanggul dan dia tersenyum padaku saat menyalamiku dengan kehangatan yang tidak dibuat-buat.
“Aku Daniella Ivashkov,” katanya. “Senang sekali akhirnya aku bisa bertemu denganmu.”

Benarkah? Tanganku secara otomatis menjabat tangannya. “Senang bertemu denganmu juga, Nyonya Ivashkov.”

“Tolong panggil aku Daniella saja.” Dia berbalik ke arah Adrian dan bertanya sambil merapikan kerah kemeja yang tidak Adrian kancing. “Sejujurnya, sayang,” katanya. “Apa kau bahkan sudah melihat ke kaca sebelum kau keluar dari pintu? Rambutmu berantakan.”

Adrian mengelak saat ibunya itu meraih kepalanya. “Apa kau bercanda? Aku menghabiskan berjam-jam di depan kaca untuk membuatnya terlihat seperti ini.”

Dia mendesah tersiksa. “Suatu hari aku tidak akan bisa memutuskan apakah aku beruntung atau tidak untuk tidak memiliki anak selain dirimu.” Di belakang Daniella, pelayan yang diam menyiapkan makanan di meja. Uap naik dari piring-piring besar dan perutku bergemuruh. Kuharap tidak ada yang mendengar. Daniella melirik ke seluruh aula entah kemana.
“Nathan, bisakah kau bergegas? Makanannya akan segera dingin.”
Beberapa saat kemudian, suara langkah berat terdengar di lantai kayu berhias, dan Nathan Ivashkov berayun memasuki ruangan. Seperti istrinya, dia berpakaian resmi, dasi satin birunya bercahaya di samping setelan jas berat berwarna hitam gelap yang terlihat dingin. Aku senang mereka punya AC disini, atau pria ini akan segera meleleh dengan kain yang berat. Perawakannya yang sedang berdiri adalah yang paling aku ingat sebelumnya: rambut perak yang jelas terlihat dan berkumis. Aku penasaran apakah rambut Adrian akan terlihat seperti itu ketika ia bertambah tua. Ah, aku tidak akan pernah tahu. Adrian mungkin akan menyemir rambutnya saat pertama kali melihat rambut abu-abu – atau perak itu. Kenyataannya, dia terlihat benar-benar kaget melihatku.

“Ini adalah, ah, teman Adrian, Rose Hathway,” kata Daniella lembut. “Kau ingat --- dia bilang dia akan membawanya malam ini.”
“Senang bertemu dengamu, Tuan Ivashkov.”
Tidak seperti istrinya, dia tidak menawarkanku untuk memanggilnya dengan nama depannya, yang membuatku sedikit lega. Strigoi yang mengubah Dimitri secara paksa juga bernama Nathan, dan itu bukanlah nama yang ingin kuucapkan dengan nyaring. 

Ayah Adrian melihat keseluruhan tampilanku, namun tidak dengan apresiasi seperti yang Adrian lakukan sebelumnya. Rasanya aku lebih terlihat seperti makhluk aneh.
“Oh. Gadis dhampir.” Dia sebenarnya tidak kasar, hanya tidak tertarik. Maksudku, dia tidak memanggilku dengan sebutan pelacur darah atau semacamnya. Kami semua duduk untuk makan dan meskipun Adrian menahan tipikal senyuman peduli setan di wajahnya, aku kembali mendapatkan firasat kalau dia sungguh, sungguh-sungguh memerlukan rokok. Mungkin alkohol keras juga. Kebersamaan dengan orang tunya merupakan sesuatu yang tidak bisa ia nikmati. Saat satu dari pelayannya menungkan wine kepada kami, Adrian terlihat sangat lega dan tidak menahan diri lagi. Aku menembaknya dengan tatapan waspada yang ia acuhkan.

Nathan mampu mendapatkan medali untuk melahap babi dengan sempurna namun masih bisa terlihat elegan dan sopan. “Jadi,” katanya, perhatian terfokus ke Adrian, “Sekarang Vasilisa telah lulus, apa yang akan kau lakukan dengan dirimu sendiri? Kau tidak akan terus ikut melarat dan bersenang-senang dengan anak SMA kan? Tidak ada alasan lagi untukmu berada disana.”

“Aku tidak tahu,” kata Adrian malas. Ia menggelengkan kepalanya, semakin mengusutkan rambutnya yang telah kusut dengan hati-hati itu. “Aku senang bergaul dengan mereka. Mereka berpikir kalau aku lebih lucu daripada aku yang sebenarnya.”

“Tidak mengejutkan,” jawab ayahnya. “Kau tidak lucu sama sekali. Ini waktunya untukmu melakukan hal yang lebih bermanfaat. Jika kau tidak ingin kembali ke kampus, kau harusnya paling tidak mulai duduk di dalam beberapa pertemuan bisnis keluarga. Tatiana memanjakanmu, tapi kau bisa belajar banyak dari Rufus.”

Aku cukup tahu tentang politik bangsawan dengan mengenali nama mereka. Anggota tertua dari setiap keluarga biasanya merupakan ‘pangeran’ atau ‘putri’ mereka dan menduduki Dewan Bangsawan --- dan memiliki peluang untuk menjadi raja atau ratu. Saaat Tatiana naik tahta, Rufus menjadi pangeran dari keluarga Ivashkov karena dia anggota keluarga yang tertua berikutnya.

“Benar,” sahut Adrian dengan mimik muka yang tidak berubah. Dia tidak terlalu makan dan hanya memainkan makananya saja. “Aku benar-benar ingin tahu bagaimana ia bisa merahasiakan dua gundiknya dari sang istri.”
“Adrian!” tegur Daniella, rona merah memenuhi pipinya yang pucat. “Jangan katakan hal seperti itu di meja makan kita --- dan tentu saja tidak di depan seorang tamu.”

Nathan terlihat menyadari kehadiranku lagi dan mengangkat bahu tidak peduli. “Wanita ini bukan masalah.” Aku menggigit bibirku, menahan keinginan peluang jika aku bisa melelmparkan piring cina dengan gaya Frisbee dan memukulnya tepat di kepala. Aku memutuskan untuk tidak melakukannya. Tidak hanya akan mengacaukan makan malam, namun piringnya mungkin tidak akan melayang sepeti yang aku inginkan. Nathan kembali menatap marah kearah Adrian. “Tapi kau lah yang bermasalah. Aku tidak ingin melihat kau duduk tanpa melakukan apa pun --- menggunakan uang kita untuk membiayai apa yang kau lakukan.”

Sesuatu mengatakan padaku untuk menjauh dari hal ini, tapi aku tidak bisa diam saja melihat Adrian direndahkan oleh ayahnya yang menyebalkan ini. Adrian memang hanya duduk-duduk saja dan membuang-buang uang, Tapi Nathan tidak punya hak untuk membuatnya menjadi bahan celaan. Maksudku, tentu saja aku juga telah sering melakukannya. Tapi itu adalah hal yang berbeda.

“Mungkin kau bisa pergi ke Lehigh bersama Lissa,” aku menawarkan. “Melanjutkan belajar roh dengannya dan kemudian ... melakukan apa pun yang pernah kau lakukan saat kau kuliah ...”
“Minum dan membolos,” sambung Nathan.
“Seni,” jawa Daniella. “Adrian mengambil kelas seni.”
“Benarkah?” tanyaku, berbalik ke arah Adrian dengan kaget. Entah bagaimana, aku bisa membayangkan dirinya sebagai lelaki bertipe seni. Cocok sekali degan sikap tidak menentunya. “Kalau begitu ini sempurna. Kau bisa mengambilnya lagi.”
Adrian mengangkat bahu dan menghabiskan gelas wine keduanya.

“Aku tidak tahu. Kampus itu mungkin memiliki masalah yang sama dengan kampus terakhir yang pernah kumasuki.”
Aku merengut, “Apa itu?”
“PR.”
“Adrian,” Ayahnya mengeram.
“Tidak apa-apa,” jawab Adrian riang, dia mengistirahatkan lengannya dengan santai di meja. “Aku tidak benar-benar butuh sebuah pekerjaan atau uang tambahan. Setelah Rose dan aku menikah, anak-anak dan aku akan hidup dari bayaran Rose sebagai pengawal.”

Kami semua membeku, bahkan aku. Aku tahu benar kalau ia hanya bercanda. Maksudku, meskipun ia memang mempunyai fantasi untuk menikah dan memiliki anak-anak (dan aku yakin dia tidak memilikinya), gaji yang kecil sebagai pengawal tidak akan pernah cukup untuk menghidupinya di dalam kemewahan hidup yang ia perlukan.

Namun, ayah Adrian jelas tidak berpikir kalau ia sedang bercanda. Daniella terlihat tidak bisa memutuskan. Aku, aku hanya merasa tidak nyaman. Ini merupakan topik yang sangat, sangat buruk untuk dibicarakan di acara makan malam seperti ini, dan aku tidak percaya kalau Adrian bisa berbicara seperti itu. Aku bahkan tidak berpikir kalau wine yang ia minum patut dipersalahkan. Adrian hanya sangat suka menyiksa ayahnya seperti itu.

Keheningan tumbuh semakin tebal dan tebal. Naluri keberanianku ingin mengisi percakapan hampa yang penuh kemarahan ini, namun sesuatu menyuruhku untuk tetap diam. Tekanan meningkat. Saat bel pintu berbunyi, kami berempat hampir meloncat dari kursi kami masing-masing.

Pelayannya, Torrie, menjawab dengan cepat dan aku bernafas lega. Seorang pengunjung tidak diharapkan akan menolong untuk mengurangi ketegangan. 

Atau mungkin tidak. 

Torrie membersihkan kerongkongannya saat ia kembali, jelas terlihat bingung saat melihat dan mengubag tatapannya dari Daniella ke Nathan. “Yang mulia Ratu Tatiana ada disini.”
Tidak, mungkin.

Ketiga Ivashkov berdiri mendadak, dan setengah detik kemudian, aku bergabung bersama mereka. Aku tidak mempercayai perkataan Adrian sebelumnya yang megatakan kalau Tatiana mungkin akan datang. Dari wajahnya, dia terlihat cukup kaget juga sekarang. Namun cukup jelas, dia berada disana. Dia berayun masuk ke dalam ruangan, anggun untuk sesuatu yang berkaitan dengan bisnis santai untuknya: celana panjang hitam yang dipadukan dengan jaket berbahan sutra merah dan blus berenda di bagian bawah. Jepit rambut permata kecil berkilau di rambut gelapnya, dan mata angkuhnya mengintip ke bawah, kearah kami semua saat kami membungkuk dengan tergesa-gesa. Bahkan keluarganya sendiri mengikuti formalitas itu.

“Bibi Tatiana,” kata Nathan, memaksakan sebuah senyuman di wajahnya. Aku tidak yakin dia sering melakukannya. “Maukah kau bergabung bersama kami untuk makan malam?”

Dia melambaikan tangannya dengan acuh. “Tidak, tidak. Aku tidak bisa tinggal. Aku dalam perjalanan untuk bertemu dengan Priscilla tapi kupikir aku bisa berhenti sebentar saat aku mendengar Adrian telah kembali.” Pandangannya jatuh kepada Adrian. “Aku tidak percaya kau disini seharian dan tidak datang mengunjungiku.” Suaranya dingin namun aku bersumpah ada binar geli di matanya. Mengerikan. Aku tidak bisa membayangkan dirinya hangat dan berbulu. Seluruh pengalaman melihat penampilannya berada di luar di salah satu ruang upacaranya benar-benar terasa tidak nyata.

Adrian menyeringai ke arahnya. Dia jelas sekali adalah orang yang paling terlihat nyaman di ruangan ini sekarang. Untuk alasan yang tidak pernah aku pahami. Tatiana mencintai dan memanjakan Adrian. Bukan berarti aku mengatakan kalau dia tidak mencintai anggota keluarganya yang lain, hanya seja jelas sekali kalau Adrian adalah favoritnya. Hal ini selalu mengagetkanku, mempertimbangkan betapa begajulannya Adrian kadang-kadang.

“Aw, kupikir kau punya hal yang lebih penting dari pada melihatku,” kata Adrian padanya, “Lagipula, aku sudah berhenti merokok, jadi sekarang kita tidak bisa lagi pergi merokok sembunyi-sembunyi di belakang ruang takhta bersama.”

“Adrian!” bentak Nathan, wajahnya berubah merah. Terpikir olehku bahwa aku bisa memggunakan permainan minum untuk taruhan sekitar berapa kali ia berseru menyebut nama anaknya dengan tidak setuju. “Bibi, aku minta ---“

Tatiana mengangkat sebelah tangannya lagi, “Oh, diamlah Nathan. Tidak satu pun orang yang ingin mendengarnya.” Aku hampir tersedak. Berada di ruangan yang sama dengan sang ratu sudah cukup mengerikan, tapi hal itu sebanding dengan melihat ia mengucapkan tamparan-kasar kepada Tuan Ivashkov.

Tatiana kembali lagi kepada Adrian, wajahnya kembali ramah. “Kau sudah berhenti merokok? Itu hanya soal waktu. Aku menduga kalo ini adalah kerjaanmu?”

Butuh waktu beberapa saat untukku menyadari kalau dia sedang berbicara padaku. Sampai detik itu, aku berharap kalau dia tidak menyadari keberadaanku. Kelihatannya satu-satunya penjelasan mengapa ia tidak berteriak kepada mereka untuk menghilangkan sikap pemberontak pelacur-darah ini. Mengejutkan. Suaranya pun tidak terdengar menuduh juga. Suaranya terdengar ... kagum.

“Se-sebenarnya, itu bukan saya Yang Mulia,” jawabku, kelemahlembutanku ini jauh dari perilakuku pada pertemuan terakhir kami. “Adrian sendiri yang, eh, menetapkan hati untuk melakukannya.”

Jadi tolonglah aku, Tatiana terkikik. “Sangat diplomatis. Mereka harusnya menugaskanmu untuk mengawal seorang politisi.”

Nathan tidak suka perhatiannya beralih padaku. Aku tidak yakin aku menyukainya juga, separuh senang atau tidak. “Apa kau dan Pricillia akan melakukan bisnis malam ini? Atau hanya makan malam bersama sahabat?”

Tatiana menarik tatapannya dariku. “Keduanya. Ada beberapa percekcokan antar keluarga yang terjadi. Tidak terbuka untuk umum, tapi berita ini sudah keluar. Orang-orang ribut tentang keamanan. Beberapa orang telah bersiap untuk mulai berlatih dari sekarang. Yang lain masih berpikir apakah para pengawal masih bisa bekerja tanpa tidur.” Dia memutar matanya. “ Dan itu adalah saran yang paling lemah dari semua saran.”

Tidak ada pertanyaan tentang hal ini. Kunjungan ini menjadi lebih menarik. 
“Kuharap kau menutup mulut mereka yang ingin menjadi calon militan,” rutuk Nathan. “Kita bertarung bersama para penjaga adalah hal yang konyol.”

“Yang konyol,” kata Tatiana, “adalah memiliki perselisihan di kalangan kelas istana. Itulah yang ingin kututup mulutnya.” Nada suaranya menjadi agung, sangat terdengar keratuannya. “Kita adalah pemimpin diantara kaum Moroi. Kita harus menjadi contoh. Kita perlu bersatu untuk bertahan hidup.”

Aku mempelajarinya dengan penasaran. Apa maksudnya ini? Dia setuju atau tidak setuju dengan pernyataan Nathan tentang Moroi yang bertarung. Dia hanya menyebutkan berdirinyya kedamaian diantara orang-orangnya. Tapi bagaimana? Apakah metodenya adalah dengan mendorong gerakan baru ini atau menghancurkannya? Keamaanan adalah perhatian yang besar untuk setiap orang setelah penyerangan dan hal ini jatuh kepadanya untuk dipikirkan.

“Terdengar sulit untukku,” kata Adrian, jelas masih bermain-main dengan masalah yang serius ini. “Jika kau ingin merokok setelahnya, aku akan membuat pengecualian.”

“Aku akan mengatur waktu untukmu, agar kau melakukan kunjungan yang pantas besok.” Katanya masam. “Tinggalkan rokoknya di rumah.” Dia melirik ke arah gelas wine Adrian yang telah kosong. “Dan yang lainnya.” Sebuah kilatan tekad baja menyeberangi tatapannya, dan meskipun itu mencair secepat ia datang, aku hampir merasa lega. Itu adalah Tatiana dingin yang kukenal.

Adrian menghormat. “Kucatat itu.”
Tatiana memberi kami tatapan singkat. “Semoga malam kalian menyenangkan,” adalah satu-satunya salam perpisahannya. Kami menunduk lagi dan kemudian di kembali melalui pintu depan. Setelah ia keluar, aku mendengar suara ribut dan bisikan. Aku baru menyadari kalau ia sedang berjalan dengan sebuah rombongan, dan meninggalkan mereka semua di serambi saat ia mengucapkan helo untuk Adrian.

Suasana makan malam menjadi lebih sunyi setelah itu. Kunjungan Tatiana telah meninggalkan perasaan heran di kepala kami semua. Paling tidak hal ini membuatku tidak harus mendengarkan percekcokkan Adrian dan ayahnya lagi. Daniella yang paling banyak memperbaiki situasi ini dengan percakapan kecil, berusaha menyelidiki tentang ketertarikanku dan aku sadar dia sama sekali tidak berbicara selama kunjungan singkat Tatiana tadi. Daniella harus menikah dengan Ivashkovs, dan aku bertanya-tanya apakah dia merasakan intimidasi sang ratu.

Saat waktu untuk kami pergi tiba, Daniella terus tersenyum sedangkan Nathan pergi untuk melanjukan pekerjaannya.

“Datanglah lebih sering,” katanya pada Adrian, merapikan rambut anaknya itu di tengah protes Adrian. “Dan kau diterima kapanpun, Rose.”
“Terima kasih,” sahutku heran. Aku terus menganalisis wajahnya untuk melihat apakah ia sedang berbohong, namun kurasa tidak. Ini tidak masuk akal. Moroi tidak menyetujui hubungan jangka panjang dengan dhampir. Khususnya bangsawan Moroi. Dan bangsawan Moroi yang memiliki ikatan keluarga dengan sang ratu sudah pasti tidak boleh, paling tidak sepeti itu lah pengalaman yang terjadi yang mengindikasikan terhadap kesimpulan tersebut.

Adrian mengeluh. “Mungkin jika dia (ayahnya) tidak ada disini. Oh sial. Itu mengingatkanku. Aku meninggalkan jasku disini terakhir kali aku kesini --- aku ingin pergi terlalu cepat saat itu.”
“Kau punya lima puluh jas,” aku menegurnya.
“Tanya Torrie,” kata Daniella. “Dia akan tahu dimana tempatnya.”
Adrian pergi untuk mencari si pelayan, meninggalkanku dengan ibunya. Aku harusnya bersikap sopan, sedikit berbasa-basi, namun rasa penasaranku lebih besar dalam diriku.

“Makan malam yang enak,” kataku jujur. “Dan kuharap Anda tidak salah paham,...tapi maksudku ... sebenarnya, Anda terlihat baik-baik saja melihat saya dan Adrian berpacaran.”

Dia mengangguk dengan jelas. “Memang.”
“Dan ...” Ini harus dikatakan. “Tat --- Ratu Tatiana terlihat menerima dengan hal ini juga.”
“Memang.”
Aku harus meyakinkan diriku untuk tidak menjatuhkan rahangku ke lantai. “Tapi ... maksud saya, terakhir kali saya berbicara dengannya, dia sangat marah. Dia terus dan terus berkata pada saya bagaimana dia tidak akan pernah mengizinkan kami bersama di masa depan atau menikah atau sesuatu yang sejenis dengan hal itu.” Aku meringis mengingat candaan Adrian. “Kupikir Anda merasakan hal yang sama. Tuan Ivashkov terlihat tidak menerimaku. Anda tidak benar-benar ingin anak Anda akan bersama dengan seorang dhampir selamanya.”

Senyum Daniella terlihat tulus namun masam. “Apa kau berencana untuk bersamanya selamanya? Apa kau berencana untuk menikahinya dan tetap diam dan tinggal seperti itu selamanya?”

Pertanyaan itu benar-benar meruntuhkan pertahanan diriku. “Saya ... tidak ... maksud saya, bukan bermaksud menyakiti Adrian. Saya hanya tidak pernah ---“
“Berencana untuk tetap diam dan tinggal seperti itu sama sekali?” Dia mengangguk bijak. “Itulah yang aku pikirkan. Percayalah padaku, aku tahu Adrian tidak serius mengatakan hal tadi. Setiap orang melompat untuk menyimpulkan sesuatu yang bahkan tidak akan terjadi. Aku sudah mendengar semua tentangmu Rose --- setiap orang sudah pernah mendengar tentangmu. Dan aku mengagumimu. Dan berdasarkan dari apa yang aku pelajari, aku menebak kalau kau bukan tipe orang yang akan berhenti menjadi pengawal untuk menjadi ibu rumah tangga.”
“Kau benar,” aku mengakui.
“Jadi aku tidak melihat masalah disini. Kalian berdua masih muda. Kalian masih boleh bersenang-senang dan melakukan apa yang kalian inginkan, tapi aku --- kau dan aku – tahu bahwa meskipun jika kau melihat Adrian keluar dan masuk ke dalam sisa hidupmu, kau tidak akan menikah atau tinggal berdiam diri bersamanya. Ini tidak ada hubungannya dengan perkataan Nathan atau siapa pun. Ini adalah jalan kehidupan. Ini adalah jenis dirimu yang sesungguhnya. Aku bisa melihatnya di matamu. Tatiana menyadarinya juga, dan karena itulah ia melunak. Kau perlu keluar sana untuk bertarung, dan itulah yang akan kau lakukan. Paling tidak jika kau memang benar-benar ingin menjadi seorang pengawal.”

“Aku memang seperti itu.” Aku menatapnya heran. Sikapnya sangat mengagumkan. Dia adalah bangsawan pertama yang aku temui yang tidak mendadak sinting dan gila dengan ide Moroi dan dhampir berpasangan. Jika orang lain berbagi pandangan dengannya, itu akan membuat hidup menjadi lebih mudah. Dan dia memang benar. Ini tidak ada hubungannya dengan apa yang Nathan pikirkan. Ini bahkan bukan masalah jika Dimitri ada di luar sana. Yang perlu di garis bawahi adalah aku dan Adrian tidak akan bersama selama sisa hidup kami karena aku akan selalu berada dalam tugas sebagai pengawal, tidak terus bersantai seperti yang ia lakukan. Menyadari hal itu membuat bebanku menjadi bebas ... namun ini membuatku sedikit sedih juga.

Di belakangnya, aku bisa melihat Adrian turun ke tempat kami. Daniella merunduk ke arahku, merendahkan nada suaranya kepadaku. Ada nada sedih dalam kata-katanya saat ia berbicara, nada dari rasa perhatian seorang ibu.
“Tapi Rose, karena aku menerima kalian berdua berpacaran dan berbahagia, tolong cobalah untuk tidak menghancurkan hatinya terlalu dalam saat waktunya tiba.”

0 komentar:

Post a Comment

 

Please, Keep in Touch!

©Copyright 2011 Love Your Life | TNB