Spirit Bound ~ Bahasa Indonesia (Chapter 4) part 1

Thursday, October 25, 2012 0 komentar
MENURUTKU, UNTUK TIDAK MENYEBUT-NYEBUT PEMBICARAANKU TERHADAP IBUNYA adalah hal yang tepat untuk kulakukan kepada Adrian. Aku tidak membutuhkan kekuatan gaib untuk merasaka perasaannya yang bercampur baur saat kami berjalan menuju kamar tamu. Ayahnya membuatnya kesal, namun penerimaan ibunya terlihat mampu membangkitkan semangatnya. Aku tidak ingin merusaknya dengan membiarkannya tahu kalau ibunya menerima kami berpacaran karena dia menduga kalau hubungan kami hanya sementara, Cuma sebatas kesenangan.
“Jadi kau akan pergi dengan Lissa?” tanyanya saat kami sampai ke kamarku.
“Yup, maafkan aku. Kau tahu -- hal-hal cewek.” Dan dengan kata ‘hal-hal cewek’, maksudku adalah berpisah dan masuk. Adrian terkihat sedikit kecewa, tapi aku tahu dia tidak akan cemburu dengan persahaban ku dan Lissa. Dia tersenyum kecil dan melingkarkan tangannya di pinggangku, merunduk untuk menciumku. Bibir kami bertemu, dan kehangatan yang selalu mengejutkanku mengalir ke dalam tubuhku. Setelah beberapa saat yang manis, kami berpisah, namun tatapan matanya mengatakan kalau hal ini tidak mudah untuknya.
"Sampai jumpa lagi," kataku. Dia memberiku satu ciuman cepat dan kemudian kembali ke kamarnya.
Aku segera menemui Lissa, yang sedang santai di kamarnya. Dia sedang menatap sebuah sendok perak dengan tajam, dan melalui ikatan kami, aku bisa merasakan apa maksud ia melakukan hal itu. Dia sedang mencoba untuk memasukkan kompulsi roh ke dalam sendok itu, jadi siapa pun yang memegangnya akan merasa bahagia. Aku menebak-nebak apakah dia melakukannya untuk dirinya sendiri atau hanya melakukan percobaan secara acak. Aku tidak menggali pikirannya untuk mencari tahu.
"Sebuah sendok?" tanyaku geli. Dia mengangkat bahu dan meletakkan sendoknya.
"Hey, tidak mudah untuk membuatnya masuk ke dalam pera. Aku harus menggunakan apa yang bisa aku dapatkan."
"Well, benda itu dibuat untuk pesta makan malam yang menyenangkan," dia tersenyum dan meletakkan kakinya di atas meja kopi eboni yang berada di tengah-tengah ruang tamu kecil mewahnya. Setiap kali aku melihatnya, aku tidak bisa menolak untuk tidak mengingat barang-barang berwarna hitam dan mengkilat yang berada di ruangan tahanan mewahku dulu di Rusia. Aku telah melawan Dimitri dengan sebuah pasak yang terbuat dari kaki meja yang memiliki bentuk yang sama.
"Ngomong-ngomong, bagaimana pesta makan malammu?"
"Tidak seburuk yang aku bayangkan," aku mengakui. "Meskipun aku tidak pernah mengira seberapa kurang ajarnya ayah Adrian. Tapi ibunya sebenarnya cukup keren. Dia tidaka masalah mengetahui kalau aku dan Adrian berpacaran."
"Ya, aku sudah pernah bertemu dengannya. Dia baik, meskipun aku tidak pernah berpikir kalau dia cukup baik untuk menerima hubungan skandal. Tebakanku yang mulia tidak datang, kan?" Lissa bercanda, jadi responku mengagetkannya.
"Dia datang, dan ... sebenarnya tidak terlalu buruk juga."
"Apa? Apa kau baru saja bilang 'tidak terlalu buruk'?"
"Aku mengerti, mengerti. Terdengar gila memang. Sebenarnya itu hanya kunjungan cepat untuk Adrian, dan dia bereaksi seolah bukan masalah melihatku ada disana." Aku tidak menyebutkan tentang pandangan politik Tatiana tentang para Moroi yang berlatih untuk bertarung. "Tentu saja, siapa yang bisa tahu apa yang akan terjadi jika dia bertahan lebih lama saat tu? Mungkin dia akan berubah menjadi dirinya yang biasa. Aku mungkin memerlukan satu set perlengkapan perak kalau begitu -- untuk menghentikanku melemparkan pisau kearahnya."
Lissa mengerang. "Rose, kau tidak bisa membuat leluco dari hal seperti itu."
Aku menyeringai. "Aku menbgucapkan hal yang tdak berani kau ucapkan." Ucapanku mengembalikan senyuman di wajah Lissa.
"Sudah lama aku tidak mendengarnya," katanya lembut. 
--to be continued--

0 komentar:

Post a Comment

 

Blog archive

Please, Keep in Touch!

©Copyright 2011 Love Your Life | TNB