Spirit Bound ~ Bahasa Indonesia (Chapter 10) Part 1

Saturday, August 6, 2016 3 komentar
DAN SATU DIANTARA MEREKA … SATU DARI MEREKA …

“Tidak,” aku menarik napasku, bahkan saat aku melompat ke arah salah satu yang terdekat denganku — seorang wanita. Jumlah mereka telah bertambah menjadi tiga di hadapan kami.

Eddie pun sudah bergerak, dan kami berdua mencoba untuk mendorong Moroi dibelakang kami. Mereka tidak perlu banyak peringatan untuk memahami kode itu. Saat Strigoi menampakkan diri, para Moroi harus segera dilindungi — menciptakan sebuah kemacetan. Diantara refleks spontan Eddie dan kepanikan para Moroi, aku sangat yakin tidak ada satupun dari mereka menyadari apa yang sudah aku lihat.

Dimitri ada diantara mereka.

Tidak, tidak, tidak, kataku, kali ini untuk diriku sendiri. Dia memperingatkanku. Berkali-kali dia menyampaikan di suratnya bahwa segera aku berada di luar zona aman, dia akan datang untukku. Aku mempercayainya, namun… melihat kenyataannya langsung ternyata adalah sesuatu yang berbeda. Sudah tiga bulan, namun dalam jangka waktu yang singkat itu, jutaan kenangan berlari melewati pikiranku dalam tampilan tajam yang sangat jelas. Saat Dimitri menahanku. Cara bibirnya — yang sangat, sangat hangat meskipun kulitnya begitu dingin — mencium bibirku. Sensasi taringnya yang menancap ke leherku dan kenikmatan yang manis yang mengikuti setelahnya …

Dia terlihat sama, dengan suasana warna pucat seputih kapur dan merah - mata yang bulat yang sangat berlawanan dengan kelembutan, rambut cokelat sedagu, dan garis wajah yang menawan di wajahnya. Dia bahkan memakai mantel kulit yang sepertinya masih baru, mengingat mantel lamanya telah benar-benar hancur saat pertarungan terakhir kami di jembatan dulu. Dimana dia bisa mendapatkan mantel-mantel itu?

“Keluar!” aku berteriak. Kata-kataku kutujukan untuk para Moroi, bahkan saat pasakku sedang kutusukkan ke jantung si Strigoi wanita. Kondisi kebingungan yang terjadi pada kami semua di lorong memberikan efek yang lebih merugikan untuk strigoi wanita itu dari pada untukku. Aku mendapatkan kesempatan yang pas terhadapnya, dan jelas sekali ia tidak menyangka kalau aku bisa begitu cepat. Aku telah membunuh banyak Strigoi karena mereka meremehkanku.

Eddie tidak memperoleh keberuntungan yang aku punya. Dia tersandung saat Victor mendorong melewatinya, membuat Strigoi yang lain - seorang laki-laki - yang berada di depan memiting Eddie ke dinding. Namun, ini adalah hal yang selalu aku dan Eddie hadapi, dan Eddie bisa menanggapinya dengan cantik. Eddie mendadak berbalik dari pukulan itu dan dengan Moroi yang sudah menyingkir, Eddie mampu menerjang strigoi itu dan bertarung melawannya. 

Dan aku? Perhatianku tertuju pada Dimitri.

Aku melangkahi Strigoi wanita yang tumbang itu tanpa melihat ke arah si Strigoi. Dimitri tengah menunggu dibagian belakang, mengirimkan kaki tangannya ke garis depan pertarungan. Mungkin karena aku sudah mengenal Dimitri terlalu dalam, tapi aku menduga bahwa dia tidak terkejut saat aku begitu cepat melumpuhkan salah satu kaki tangannya dan Eddie memberikan perlawanan yang menyiksa untuk yang satunya. Aku ragu kalau Dimitri peduli apakah mereka hidup atau mati. Baginya, mereka hanyalah pengecoh untuk mendapatkan aku.

“Aku sudah menyampaikan kepadamu,” kata Dimitri, matanya tajam sekaligus terlihat senang. Dia memperhatikan setiap gerakanku, kami berdua secara bawah sadar menirukan gerakan masing-masing saat kami menunggu serangan pembuka. “Aku sudah bilang bahwa aku akan menemukanmu.”

“Ya,” jawabku, mencoba mengabaikan geraman Eddie dan Strigoi  yang satunya. Eddie bisa mengatasinya. Aku tahu dia mampu. “Aku membaca memonya.”

Senyuman hantu melingkar di bibir Dimitri, menunjukkan taring yang entah mengapa memicu campuran antara kerinduan dan kebencian di dalam diriku. Segera, aku mendorong perasaan itu menjauh. Aku pernah ragu sebelumnya saat aku bersama Dimitri dulu dan hampir mati karenanya. Aku menolak membiarkan itu terjadi lagi, dan adrenalin yang memompa keras melalui tubuhku menjadi pengingat yang bagus bahwa ini adalah situasi dengan pilihan lakukan atau mati.

Dia memulai serangan dan aku mengelak — hampir menyadari bahwa dia memang akan menyerang. Itu adalah masalah kami berdua. Kami terlalu saling memahami — saling mengenal baik gerakan masing-masing. Tentu saja, itu bukan berarti bahwa kami adalah lawan yang seimbang. Bahkan saat ia masih hidup, dia memiliki pengalaman yang lebih banyak dari diriku, dan kemampuan Strigoinya menaikkan skalanya.

“Namun kau ada disini,” katanya, masih dengan tersenyum. “Dengan konyolnya keluar dimana seharusnya kau tetap tinggal di istana yang aman. Aku bahkan hampir tidak percaya saat  mata-mataku menginformasikan hal ini padaku.”

Aku tidak menjawab apapun, dan mencoba menusukkan pasakku dengan keras ke arahnya. Dia telah menyadarinya dan menghindarinya juga. Dia yang ternyata memiliki mata-mata tidak mengejutkanku - bahkan di siang hari. Dia mengendalikan sebuah jaringan Strigoi dan manusia, dan aku tahu dia punya mata dan telinga yang mengamati istana. Pertanyaanya adalah: Bagaimana bisa dia masuk ke hotel ini di tengah hari bolong? Meskipun dengan mata-mata manusia yang mengamati kami di bandara atau memonitor kartu kredit seperti yang dilakukan Adrian, Dimitri dan teman Strigoinya harusnya menunggu hingga malam tiba untuk sampai kesini.

Tidak, itu tidak penting, aku baru menyadarinya kemudian. Strigoi biasanya memiliki kaki tangan. Truk dan mobil van dengan ruang yang benar-benar gelap dan tertutup. Melalui jalur bawah tanah. Moroi yang ingin mencoba bermain kasino dari Witching Hour tahu tentang lorong rahasia yang menghubungkan gedung-gedung tertentu. Dimitri pastinya tahu tentang hal ini juga. Jika dia menungguku untuk keluar dari istana dia pastinya sudah melakukan cara apapun untuk mendapatkanku. Aku tahu lebih baik dari orang lain bagaimana cerdasnya dia. 

Aku juga tahu bahwa dia sedang mengalihkan perhatianku dengan berbicara.

“Dan yang paling aneh adalah,” lanjutnya, “kau tidak datang sendirian. Kau membawa Moroi. Kau selalu mengambil resiko dengan hidupmu, tapi aku tidak menyangka kalau kau menjadi begitu gegabah dengan hidup mereka.”

Sesuatu terjadi padaku kemudian. Disamping dengungan samar dari kasino di ujung lorong dan suara pertarungan kami, yang lain terasa sunyi. Kami melupakan sebuah suara keributan yang penting. Katakanlah seperti suara dari alarm pintu kebakaran.

“Lissa!” teriakku. “Keluar dari sini! Bawa semuanya keluar dari sini!”

Dia harusnya tahu lebih baik. Mereka seharusnya sudah tahu lebih jelas. Pintu itu mengarah ke lantai atas - tempat terbuka. Matahari masih terang. Tidak masalah jika alarm membawa pihak keamanan hotel ke arah kami. Mungkin akan menakut-nakuti para Strigoi. Yang terpenting adalah, para Moroi bisa aman.

Namun kesadaran cepat dari ikatan kami berdua menyampaikan sebuah masalah. Lissa membeku. Kaku. Dia tiba-tiba menyadari dengan siapa aku bertarung, dan kekagetan itu terlalu banyak untuknya. Mengetahui Dimitri telah menjadi Strigoi adalah satu hal. Melihatnya langsung — benar-benar melihat ke arahnya — rasanya berbeda. Aku tahu dari pengalaman pribadiku. Bahkah setelah mempersiapkan diri untuk melihatnya, penampilannya masih membuatku terkesima. 

Cukup dengan sekali detakan jantung aku bisa menilai bagaimana perasaannya, namun di dalam sebuah pertarungan melawan Strigoi, satu detik bisa menjadi faktor yang menentukan antara hidup dan mati. Taktik omongan Dimitri berhasil, dan meskipun aku sedang menatapnya dan berpikir kalau kewaspadaanku sudah terpasang, dia berhasil meraihku dan mendorongku ke arah dinding, tangannya menjepit lenganku dengan sangat menyakitkan sehingga aku kehilangan pegangan ke pasakku.

Dia mengarahkan wajahnya tepat ke wajahku, sangat dekat sehingga dahi kami bersentuhan.
“Roza …” dia berbisik. Napasnya hangat dan manis di kulitku. Harusnya nafasnya beraroma kematian atau busuk, namun tidak. “Kenapa? Kenapa kau harus mempersulit semua ini? Kita bisa menghabiskan keabadian ini bersama…”

Jantungku bergumuruh di dadaku. Aku takut, ketakutan akan kematian yang aku tahu hanya berjarak beberapa detik saja sekarang. Pada waktu yang sama, aku dipenuhi rasa penyesalan karena telah kehilangan dirinya. Menatap wajahnya, mendengar aksen yang sama dari suaranya yang bahkan sekarang membungkusku seperti beludru … aku merasakan hatiku kembali hancur. Kenapa? Kenapa ini harus terjadi kepada kita berdua? Kenapa alam semesta begitu kejam kepada kita?

Aku berhasil menghidupkan  kesadaranku kembali, sekali lagi membunuh fakta bahwa dia adalah Dimitri. Kami adalah predator dan mangsa - dan aku sedang dalam bahaya sebagai mangsa yang akan segera dimakan.

“Maaf,” jawabku melalui gigiku yang bergemeretak, mendorongnya keras - dan gagal - untuk melepaskan cengkramannya. “Keabadianku tidak termasuk menjadi bagian mafia mayat hidup.”

“Aku tahu,” katanya. Aku bisa bersumpah kalau aku baru saja melihat kesedihan di wajahnya namun kemudian aku meyakinkan diriku sendiri bahwa aku hanyalah sedang berhalusinasi. “Keabadian akan menjadi sepi tanpa dirimu.”

Bersambung ke Chapter 10 part 2 .: Coming Soon :.
Diterjemahkan langsung dari Novel Vampir Academy: Spirit Bound karya Richelle Mead oleh Noor Saadah. This is truly  fanmade and  no profit work.

3 comments:

  1. Ceritanya seru banget. Aku tunggu kelanjutannya secepatnya ya kak......

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dear Ika Febiana,

      Terima kasih telah membaca. Sip. Akan segera dilanjutkan.

      Terima kasih

      Delete
  2. Kapan dilanjut kak? Penasaran banget

    ReplyDelete

 

Please, Keep in Touch!

©Copyright 2011 Love Your Life | TNB