Shadow Kiss ~ Bahasa Indonesia (chapter 2)

Friday, July 30, 2010 4 komentar

A TAU, SEBENARNYA, DIA TERLIHAT SEPERTI MASON.

Dia – atau itu atau apapun – sangat sulit untuk dilihat. Aku harus memicingkan dan mengedipkan kedua mataku untuk memfokuskannya. Bentuknya seperti sebuah ilusi – hampir tembus cahaya – dan terus memudar dan hilang dari jarak pandangku.

Tapi ya, dari apa yang aku lihat, dia jelas terlihat seperti Mason. Roman wajahnya seolah memudar, membuat kulit putihnya semakin terlihat pucat dari yang pernah kuingat. Rambut kemerah-merahannya sekarang terlihat redup, seperti warna jeruk. Aku bahkan hampir tidak bisa melihat bintik-bintiknya. Dia mengenakan pakaian yang jelas sekali sama dengan yang terakhir kulihat: jeans dan jaket kuning dari bulu domba. Tepi sweater hijau mengintip dari ujung bawah lapisan jaketnya. Warna-warna itu, juga, terlihat sangat kabur. Dia terlihat seperti sebuah foto yang ditinggalkan seseorang di bawah matahari, membuatnya terlihat semakin memudar. Sebuah kilau yang sangat-sangat lemah terlihat disebagian besar roman wajahnya.

Bagian yang paling banyak mengenaiku – mengeyampingkan kenyataan bahwa dia seharusnya sudah mati – adalah bagaimana wajahnya terlihat. Wajahnya terlihat sedih – sangat, sangat sedih. Tegambar jelas dari matanya, aku merasa hatiku hancur. Semua ingatan mengenai apa yang telah terjadi beberapa minggu yang lalu mendadak kembali menyibukkan pikiranku.




Aku seakan melihat semuanya itu lagi: tubuhnya jatuh, wajah Strigoi yang kejam .... Sebuah gumpalan terbentuk di kerongkonganku. aku berdiri membeku, kaku dan tak mampu untuk bergerak. Dia menatapku juga, mempelajariku, ekspresinya tidak berubah. Sedih. Suram. Serius. Dia membuka mulutnya, seperti ingin bicara, dan kemudian menutup lagi. Beberapa kejadian berat menngantung diantara kami, dan dia mengangkat tangannya dan melambai padaku. Sesuatu dalam gerakan itu menghentakku keluar dari kelinglunganku. Tidak, ini tidak mungkin terjadi. Aku tidak benar-benar melihat semua ini. Mason sudah meninggal. Aku melihatnya meninggal. Aku memeluk jasadnya.

Jari-jarinya bergerak sedikit, seolah ia sedang memanggil, dan aku panik. Mempersiapkan beberapa langkah, aku memberi jarak diantara kami dan menunggu apa yang terjadi. Dia tidak mengejar. Dia hanya berdiri disana, tangan yang masih tergantung diudara. Hatiku meluncur dan berbalik, lalu lari. Ketika aku hampir meraih pintu, aku berhenti dan mengintip ke belakang, membiarkan nafasku yang tidak teratur menjadi tenang. Tempat dia tadinya berdiri sudah kosong. Aku berhasil mencapai kamarku dan membanting pintu di belakangku. Aku tenggelam di tempat tidurku dan mengulang apa yang baru saja terjadi. 

Bagaimana mungkin? Itu semua tidak nyata. Tidak mungkin. Mason sudah mati, dan semua orang tahu orang yang mati tidak mungkin kembali. Well, ya, aku memang hidup lagi ... tapi situasinya berbeda.

Jelas sekali aku hanya berimajinasi. Pasti begitu. Aku pasti begitu. Aku terlalu lelah dan masih berputar-putar pada masalah Lissa dan Christian, juga ketidakjelasan kabar Victor Dashkov. Mungkin cuaca dingin sudah membekukan sebagian otakku juga. Ya, semakin aku memikirkannya, semakin aku bisa memutuskan bahwa ada seribu penjelasan mengenai apa yang sudah terjadi. 

Tidak peduli seberapa sering aku mengatakan pada diriku sendiri, aku tidak bisa kembali tidur. Aku berbaring di tempat tidur, menutupi diriku sendiri hingga ujung daguku sebagai usahaku untuk menghilangkan gambaran menyeramkan dari pikiranku. Aku tak mampu. Segala yang mampu kulihat hanyalah kesedihan, mata yang sedih, mata itu seakan ingin mengatakan, Rose, kenapa kau biarkan ini terjadi padaku?

Aku memaksa mataku menutup, mencoba untuk tidak memikirkan Mason lagi. Semenjak pemakaman Mason, aku bekerja sangat keras untuk melanjutkan hidup dan bersikap seolah-olah aku kuat. Tapi kenyataannya adalah, aku begitu dekat dan tidak berdaya saat ia meninggal. Aku menyiksa diriku sendiri hari demi hari dengan pertanyaan bagaimana jika? Bagaimana jika seandainya aku bisa lebih cepat dan lebih kuat selama penyerangan strigoi itu? Bagaimana jika seandainya aku tidak mengatakan padanya dimana sarang Strigoi? Dan bagaimana jika seandainya aku menerima cintanya? Yang manapun dari pengandaian itu akan membuat Mason tetap hidup, tapi tidak satupun dari semua itu terjadi. Dan semua adalah salahku.

“Aku hanya menghayal,” aku berbisik nyaring pada kegelapan kamarku. Aku pastilah sedang berkhayal. Mason sudah menghantui mimpi-mimpiku. Aku tidak ingin melihatnya ketika aku terbangun juga. 

“Itu bukan dia,” satu-satunya yang mungkin adalah ...well, itu adalah hal yang tidak ingin aku pikirkan. Sebab ketika aku mempercayai adanya vampir, sihir, dan kekuatan fisik, aku harusnya tidak boleh percaya dengan keberadaan hantu. Tampaknya aku tidak bisa percaya pada ‘tidur’ juga, karena aku tidak cukup bayak mendapatkannya setiap malam. Aku terhempas dan berputar, tidak mampu untuk mendiamkan pikiranku sendiri. Aku akhirnya merasa melayang , tapi ini sepertinya dikarenakan aku mematikan alarmku dengan cepat supaya aku bisa tidur lebih lama beberapa menit lagi.

Bagi manusia, cahaya siang hari cenderung jauh dari kejaran mimpi buruk dan ketakutan. Aku tidak punya cahaya siang semacam itu, aku bangun dalam kegelapan. Tapi hanya terjadi apabila aku menjadi manusia normal untuk bisa merasakan efek yang sama, dan selama aku sudah sarapan dan melakukan latihan pagiku, aku menemukan bahwa apa yang aku lihat malam tadi – atau apa yang aku pikir lihat malam tadi – semakin tumbuh menakutkan dan semakin menakutkan dalam ingatanku.

Keanehan dalam pertemuan itu sudah tergantikan oleh sesuatu yang lain: kehebohan. Inilah saatnya. Hari besar. Latihan lapangan kami dimulai. Selama enam minggu ke depan, aku tidak perlu belajar di kelas. Aku akan menghabiskan waktuku bersama Lissa. Dan hal yang harus kulakukan saat itu hanyalah menulis laporan harian sepanjang setengah halaman saja. Mudah. Dan ya, tentu saja aku akan bertugas sebagai pengawal, tapi aku tidak terlalu memikirkannya. Karena hal tersebut adalah hal kedua yang sudah tumbuh alami dalam diriku. Dia dan aku sudah pernah hidup diantara manusia selama dua tahun, aku sudah melindunginya sepanjang waktu. Selain itu, ketika aku masih siswa baru, aku pernah melihat para pengawal merencanakan jenis tes latihan ini untuk para novis. Cobaannya hanyalah pura-pura, tentu saja. Seorang novis harus selalu waspada dan tidak boleh lengah – dan selalu siap untuk bertahan dan menyerang jika diperlukan. Tidak satupun dari semua itu membuatku khawatir. Lissa dan aku sudah ketinggalan tahun pertama dan kedua kami di sekolah. Terima kasih untuk latihan tambahanku dengan Dimitri, aku berhasil dengan cepat mengejar ketinggalanku dan menjadi yang terbaik di kelas sekarang. 

“Hey, Rose.”
Eddie Castile menyapaku ketika aku berjalan ke arah tempat latihan dimana pembukaan ujian lapangan akan dimulai. Selama beberapa saat, melihat Eddie seperti membuatku merasakan keberadaan Mason lagi, menatap dengan wajahnya yang terlihat menderita. 

Eddie – berjalan bersama pacar Lissa, Christian, dan seorang Moroi bernama Mia – merupakan bagian grup kami yang ikut tertangkap oleh Strigoi. Eddie tidak mati, tentu saja, tapi ia hampir mati. Strigoi yang memanfaatkan kami menggunakannya sebagai makanan, ia merupakan umpan dari Strigoi selama kami ditangkap dengan maksud untuk menggoda Moroi dan menakuti para dhampir. Ia berhasil, aku sangat ketakutan. 

Eddie yang malang sama sekali tidak sadar ketika siksaan itu terjadi, terima kasih pada darah yang hilang dan hormon endorfin yang datang dari gigitan vampir. Dia adalah sahabat Mason yang sama-sama lucu dan periang.

Tapi semenjak kami terbebas, Eddie berubah, sama seperti aku. Dia masih suka tersenyum dan tertawa, tapi ada sebuah aura suram dalam dirinya sekarang, dan tatapan matanya yang gelap dan serius seolah ia selalu waspada terhadap hal buruk yang mungkin terjadi setiap saat. Semua itu dapat dimengerti, tentu saja. Dia memang sudah melihat hal yang buruk pernah terjadi. Sama seperti kematian Mason, aku merasa bertanggung jawab atas perubahan dalam diri Eddie dan untuk semua penderitaannya ketika dalam genggaman Strigoi. Ini mungkin tidak adil bagiku, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku merasa seakan aku berhutang padanya sekarang, seakan aku harus melindunginya atau entah bagaiamana dekat dengan nya. 

Dan lucunya, aku merasa kalau Eddie juga berusaha melindungiku. Dia seperti membuntutiku atau apapun itu, tapi aku tidak terlalu memperhatikan tindakan pengawasannya. Kurasa setelah apa yang sudah terjadi, dia merasa berhutang terhadap mason dan membayarnya dengan cara menjaga pacarnya. Aku tidak terpikir untuk mengatakan kebenaran bahwa aku tidak pernah menjadi pacar Mason kepada Eddie, tidak dengan kata-kata langsung, sama seperti ketika aku tidak pernah memarahi Eddie untuk tingkahnya yang berulah seakan dia adalah kakakku. 

Aku bisa menjaga diriku sendiri. Tapi setiap kali aku mendengar ia memperingatkan cowok-cowok untuk tidak berani coba-coba mendekatiku, menunjukkan dengan sangat jelas kalau aku belum ingin berkencan dengan siapa pun, aku melihat kalau akau tidak punya alasan untuk menampik hal itu. Karena semuanya benar. Aku tidak siap untuk berkencan lagi.

Eddie memberikan senyuman miring di wajah panjang kekanak-kanakannya. “Apa kau bersemangat?”

“Tentu saja,” kataku. Teman-teman sekelas kami memenuhi satu sisi tempat latihan, dan kami menemukan area kosong di tengah-tengah ruangan. “Ini seperti mendapatkan perjalanan liburan. Aku dan Lissa, bersama-sama selama enam minggu.” Meski terkadang aku frustasi dengan ikatan yang ada di antara kami, namun ikatan itulah yang membuatku menjadi pengawal yang paling ideal bagi Lissa. Aku selalu tahu dimana ia berada dan apa yang sedang terjadi padanya. Ketika kami lulus dan melangkah ke dunia luar, aku akan menjadi pengawal resmi Lissa.

Eddie tiba-tiba terlihat berpikir. “Ya, kurasa kau tidak perlu terlalu khawatir. Kau tahu siapa yang akan menjadi tanggung jawabmu setelah lulus. Kebanyakan dari kami tidak seberuntung dirimu.”

“Kau sudah bisa menduga siapa keluarga kerajaan yang akan kau serang?” aku mengodanya. 

“Sebenarnya, itu bukan masalah. Kebanyakan dari para pengawal akan menjadi pengawal keluarga kerajaan sebenarnya.”
Dia benar. Kaum dhampir – setengah vampir seperti aku – jumlahnya sangat sedikit dan para keluarga kerajaalah yang mendapatkan kesempatan pertama untuk memilih pengawal. Memang pernah ada suatu masa dimana kaum Morai, baik keluarga kerajaan atau rakyat biasa, pasti memiliki seorang pengawal, dan para novis harus bersaing ketat untuk bisa menjadi pengawal resmi orang penting. Sekarang hampir tidak ada pemilihan karena setiap pengawal akan bekerja pada keluarga kerajaan. Kami tidak memiliki cukup banyak dhampir untuk keluarga yang kurang berpengaruh.

“Tetap saja,” kataku, “Rasanya tadi aku bertanya tentang keluarga kerajaan mana yang akan kau pilih, benarkan? Maksudku, sebagian dari mereka suka membanggakan diri, tapi banyak dari mereka yang tenang. Cari seseorang yang benar-benar kaya dan berkuasa dan kau akan tinggal bersama keluarga kerajaan dan bisa melakukan perjalanan ke tempat-tempat eksotis di dunia.” Bagian terakhir itu benar-benar menggambarkan tentang diriku. Aku selalu berfantasi kalau aku dan Lissa pergi keliling dunia.

“Yup,” Eddie setuju. Dia mengangguk pada beberapa cowok di deretan depan. “Kau tidak akan percaya kalau mereka bertiga menjilat beberapa keluarga Ivashkovs dan Szelskys. Padahal itu tidak akan berefek pada tugas kita disini, tentu saja, tapi kau bisa bilang kalau mereka mencoba mengatur rencana untuk mereka setelah kelulusan nanti.”

“Well, latihan lapangan memang dapat mempengaruhi. Nilai kita akan mempengaruhi catatan kita.”
Eddie mengangguk lagi dan mulai berbicara lagi ketika suara nyaring seorang wanita memutuskan percakapan kami. 

Kami berdua menengadah. Ketika kami bicara tadi, instruktur kami sudah berkumpul di bangku depan dan sekarang berdiri menatap ke arah kami yang sudah berbaris mengesankan.

Dimitri ada diantara mereka; gelap, mengagumkan, dan sangat menarik. Alberta sedang mencoba mendapatkan perhatian dari kami. Kerumunan kami mendadak diam. 

“Baiklah,” dia memulai. Alberta sebenarnya sudah terlihat berusia 50 tahunan. Melihat dia mengingatkanku pada percakapannya dengan Dimitri kemarin malam, tapi akan kusimpan itu untuk nanti. Victor Dashkov tidak boleh mengganggu momen ini.

“Kalian semua tahu kenapa kalian berada disini.” Kami menjadi semakin tenang, sangat menghayati dan bersemangat dengan suaranya yang bergaum di tempat berkumpul ini. “Ini merupakan hari terpenting dalam pedidikan kalian sebelum kalian menghadapai ujian akhir. Hari ini kalian akan mengetahui Moroi mana yang akan bersama kalian. Minggu lalu, kalian diberikan sebuah buku kecil dengan penjelasan penuh bagaimana enam minggu nanti berjalan. Aku percaya kalian akan membacanya dari sekarang.” Sebenarnya, aku sudah. Aku mungkin tidak pernah benar-benar mengahayati buku yang kubaca seperti itu sebelumnya dalam hidupku. 

“Hanya mengulang kembali, Pengawal Alto akan menerangkan bagaimana aturan utama dari latihan ini.” Dia menyerahkan sebuah clipboard pada Pengawal Alto. Dia adalah instruktur favorit terakhir dalam daftarku, tetapi setelah kematian Mason, beberapa ketegangan diantara kami sudah mulai membaik. Kami saling mengerti dengan lebih baik sekarang.

“Ini dia,” kata Stan dengan suara keras. “Kalian akan bertugas selama enam hari seminggu. Ini benar-benar sungguhan. Di dunia nyata, kalian biasanya bekerja setiap hari. Kalian akan menemani Moroi kalian kemanapun – ke kelas, asrama mereka, ketika mereka makan. Semua hal. Ini semua tergantung kalian untuk bisa beradaptasi dengan kehidupan mereka. Beberapa Moroi berinteraksi dengan pengawalnya seperti teman; sebagiannya lagi lebih memilih menganggap kalian seperti hantu yang tak terlihat yang tidak boleh berbicara dengan mereka.” Apakah dia benar-benar menyebut kata ‘hantu’? 

“Setiap situasi berbeda, dan kalian berdua akan menemukan penyelesaian terbaik bersama untuk memastikan keselamatan mereka. Serangan dapat datang kapan saja, dimana saja, dan kami akan berpakaian hitam ketika semua itu terjadi. Kalian harus selalu siap untuk melindungi. Ingat, meskipun kalian tahu benar kalau kamilah yang melakukan penyerangan, bukan Strigoi asli, tapi kalian harus merespon seakan hidup kalian dalam bahaya, bahaya yang datang mendadak. Jangan takut untuk menyakiti kami. Aku tahu sebagian dari kalian tidak ingin mendapat masalah nantinya karena menyakiti kami.” Beberapa siswa di dalam kerumunan terkikik.

“Sebagian dari kalian mungkin akan menahan diri karena rasa takut mendapatkan masalah. Jangan. Kalian akan semakin mendapat banyak masalah kalau kalian tidak melawan. Jangan khawatir. Kami bisa mengatasinya.”

Dia membalik lembar berikutnya di clipboard. “Kalian akan bertugas 24 jam perhari selama enam hari kerja, tapi kalian boleh tidur selama siang hari ketika para Moroi juga tidur. Waspadalah akan hal tersebut, meskipun Strigoi sangat jarang menyerang pada siang hari, mereka akan sangat mungkin berada di dalam ruangan, dan kalian tidak akan merasa ‘aman’ selama masa itu.”

Stan membaca beberapa masalah teknis lain dan aku menemukan diriku mengacuhkannya. Aku sudah tahu hal-hal itu. Kami semua tahu. Melirik kesekelilingku, aku bisa melihat bukan hanya diriku yang tidak sabar. Semangat dan kekhawatiran berderak di kerumunan. Tangan terkepal. Mata terbuka lebar. Kami ingin tahu siapa yang menjadi tanggung jawab kami. Kami ingin ini semua dimulai.

Ketika Stan selesai, dia mengembalikan clipboard kepada Alberta. “Baiklah,” katanya. “Aku akan memanggil nama kalian satu per satu dan akan mengumumkan dengan siapa kalian akan dipasangkan. Saat itu, silakan maju kesini dan Pengawal Chase akan memberikan paket berisikan informasi mengenai jadwal kegiatan Moroi kalian, masa lalu, dan lain-lain.”

Kami semua berdiri saat dia membalik kertasnya. Para siswa berbisik. Disampingku, Eddie menarik nafas berat. “Oh Tuhan. Kuharap aku mendapatkan seseorang yang baik,” dia menggumam. “Aku tidak ingin mendapatkan kisah menyedihkan untuk enam minggu mendatang.”

Aku meremas tangannya untuk menenangkannya. “Kau akan...” aku berbisik. “mendapatkan seseorang yang baik, maksudku. Tidak akan menjadi menyedihkan.”

“Ryan Aylesworth,” Alberta mengumumkan dengan jelas. Eddie tersentak dan aku langsung tahu mengapa. Dulu, Mason Ashford selalu menjadi yang pertama dipanggil dalam daftar kelas. Semua itu tidak akan terjadi lagi. “Kau berpasangan dengan Camille Conta.”

“Sial,” seseorang menggumam di belakang kami, siapa sebenarnya yang begitu berharap mendapatkan Camille. Ryan adalah orang yang berada di deretan paling depan dan dia menyeringai lebar ketika berjalan mengambil paketnya. Keluarga Conta adalah keluarga kerajaan yang sedang naik daun. Ada sebuah rumor mengatakan kalau ratu Moroi akan menuliskan keluarga Conta sebagai calon ahli warisnya. Ditambah lagi Camille sangat cantik. Mengikutinya kemana-mana bukanlah hal yang sulit bagi laki-laki manapun. Ryan berjalan dengan angkuh, terlihat sangat puas dengan dirinya sendiri.

“Dean Barners,” panggilnya lagi. “Kau dengan Jesse Zeklos.”

“Ugh,” Eddie dan aku sama-sama mengeram. Jika aku ditugaskan bersama Jesse, dia perlu pengawal tambahan untuk melindunginya. Dari aku.

Alberta terus menyebutkan nama, dan aku menduga Eddie berkeringat. “Tolong, tolong berikan aku orang yang baik,” dia menggumam.

“Kau akan mendapatkannya,”kataku. “Kau pasti akan mendapatkannya.”
“Edison Castile,” Alberta mengumumkan. Dia menelan ludah. “Vasilisa Dragomir.”
Eddie dan aku sama-sama membeku di lantai. Ketika ia melangkah melewati bangku-bangku, ia menatapku cepat, kepanikan terlihat diseluruh bahunya. Ekspresinya terlihat berkata, Aku tidak tahu apa-apa! Aku tidak tahu apa-apa!

Dunia disekitarku perlahan mengabur. Alberta terus memanggil nama-nama, tapi aku tidak mendengarkannya. Apa yang tengah terjadi? Jelas, seseorang telah membuat kesalahan. Lissa adalah tugasku. Dia harusnya menjadi tugasku. Aku akan menjadi pengawalnya ketika dia lulus nanti. Ini semua tidak masuk akal. Jantungku berdetak cepat, aku melihat Eddie melintasi Pengawal Chase dan mendapatkan paket dan tongkatnya. Dia segera melirik kearah kertasnya, dan aku menduga kalau dia sedang memeriksa ulang nama yang tertera disitu, memastikan kesalahan yang ada disana.

Ekspresi wajahnya ketika ia menengadah seakan mengatakan bahwa nama Lissa lah yang ia temukan. Aku mengambil nafas dalam. Oke. Jangan panik dulu. Seseorang melakukan kesalahan tulis disini, dimana masih bisa diperbaiki. Kebenarannya akan muncul, mereka harus segara memperbaikinya. Ketika mereka membaca namaku dan nama Lissa lagi, mereka akan sadar kalau mereka sudah mencatat dua kali nama Moroi yang sama.

Mereka akan segera meluruskannya dan memberikan Eddie Moroi lain. Selain itu, masih ada banyak Moroi yang bisa dipasangakan. Mereka lebih banyak daripada dhampir.

“Rosemarie Hathaway.” Aku menegang.”Christian Ozera.”
Aku menatap Alberta, tidak mampu bergerak atau merespon. Tidak. Dia tidak mengatakan apa yang sudah aku pikirkan. Beberapa orang yang menyadari lambatnya pergerakanku, menatapku. Aku kaget. Ini tidak mungkin terjadi. Khayalan Masonku malam tadi terlihat lebih nyata daripada semua ini. beberapa saat kemudian, Alberta juga menyadari aku tidak bergerak. Dia mengangkat wajahnya dari kertasnya dengan kesal, memindai kerumunan.

“Rose Hathaway?”
Seseorang menyikutku, seolah mungkin aku tidak menyadari namaku sendiri. Aku berdiri dan berjalan di belakang kursi-kursi itu, seperti robot. Ada yang salah. Pasti ada yang salah. Aku menuju Pengawal Chase, merasa seperti boneka yang dikontrol oleh seseorang. Dia menyerahkan paketku dan tongkat latihan yang dimaksudkan untuk ‘membunuh’ para guardian dewasa, dan aku menuju orang berikutnya. Tidak percaya, aku membaca nama yanga ada di paket itu tiga kali. Christian Ozera. 

Paket itu terbuka, aku melihat kisah hidup Christian terhampar di depanku. Foto terbaru. Jadwal kelasnya. Riwayat keluarganya. Biodatanya. Bahkan tertulis detil sejarah tragis orang tuanya, bagaimana mereka memilih untuk menjadi Strigoi dan sempat membunuh beberapa orang sebelum akhirnya di buru dan dibunuh.

Jalan cerita kami setelah ini telah terbaca berdasarkan berkas yang kami miliki, mengemas tas, kemudian bertemu dengan Moroi kami di saat makan siang. Semakin banyak nama-nama disebutkan, semakin banyak teman sekelsku yang bertahan di sekitar tempat berkumpul, berbicara dengan temannya dan menyombongkan paket mereka. Aku melayang-layang di dekat satu grup, diam-diam menunggu kesempatan untuk berbicara dengan Alberta dan Dimitri. Ini adalah tanda keberhasilan dari latihan kesabaranku karena aku tidak segera mendatangi mereka dan menuntut jawaban. Percaya padaku, aku ingin sekali. Malah, aku membiarkan mereka menyelesaikan daftar itu, tapi ini seperti selamanya, lama sekali. Sejujurnya, berapa lama sih waktu yang dibutuhkan untuk membaca semua nama itu?

Ketika novis terakhir mendapatkan nama Moroi yang ditugaskan kepadanya, Stan meneriaki kami yang sedang hiruk pikuk untuk bergerak ke tahap tugas berikutnya dan mencoba untuk mengeluarkan teman-teman sekelasku. Aku memotong kerumunan dan berjalan ke arah Dimitri dan Alberta , yang syukurlah sedang berdiri berdampingan. Mereka sedang berbicara mengenai hal administrasi dan tidak menyadari kehadiranku pada awalnya.

Ketika mereka akhirnya melirik padaku, aku menodongkan paketku dan menujuk. “Apa ini?” Wajah Alberta terlihat kosong dan bingung. Sesuatu dari gerakan Dimitri mengatakan bahwa ia tahu hal ini akan terjadi. 

“Itu adalah tugasmu, Nona Hathaway,” Alberta menjawab.

“Bukan,” aku berkata sambil mengertakkan gigi. “Bukan ini. Ini adalah tugas orang lain.”

“Tugas dalam latihan lapangan bukan pilihan,” katanya tegas.

“Sama seperti tugasmu di dunia nyata nanti. Kau tidak bisa memilih siapa yang akan kau pilih berdasarkan hasrat dan keinginan, tidak disini dan jelas tidak setelah kelulusan.”

“Tapi setelah kelulusan, aku akan menjadi pengawal Lissa!” aku berseru. “Semua orang tahu itu. Aku seharusnya memilikinya dalam hal ini.”

“Aku tahu bahwa hal tersebut merupakan ide yang bisa diterima kalau kalian akan bersama setelah kelulusan, tapi aku tidak bisa mengubah hukum wajib manapun yang mengatakan bahwa kau ‘sudah seharusnya’ memiliki dia atau siapapun yang ada disini, di sekolah. Kau harus menerima siapapun yang sudah menjadi tugasmu.”

“Christian?” aku melempar paketku ke lantai. “Kau sudah gila kalau kau berpikir aku mau melindunginya.”

“Rose!” bentak Dimitri, ikut dalam akhir pembicaraan. Suaranya yang sangat keras dan tajam mengejutkanku dan membuatku lupa dengan apa yang baru saja aku katakan. “Kau sudah kelewatan. Kau tidak boleh bicara seperti itu kepada instrukturmu.”

Aku benci disalahkan oleh orang-orang. Khususnya disalahkan olehnya. Dan aku sangat benci disalahkan olehnya ketika ia memang benar. Tapi aku tak mampu menolong diriku sendiri. Aku sangat marah dan korban dari kurang tidur. Sarafku terasa sakit dan tegang, membuat hal kecil terlihat sangat sulit untuk diterima. Dan hal besar seperti ini? Tidak mungkin untuk diterima.

“Maaf,” aku berkata dengan rasa enggan. “tapi ini sangat bodoh. Sama bodohnya dengan tidak membawa kami ke persidangan Victor Dashkov.”

Alberta mengedipkan mata, terkejut. “Bagaimana kau tahu – sudahlah. Kita akan membicarakannya nanti. Untuk sekarang, ini adalah tugasmu, dan kau harus melakukannya.”

Eddie tiba-tiba berbicara disampingku, suaranya dipenuhi keprihatinan. Aku sempat melupakannya beberapa saat yang lalu. 
“Dengar ... Aku tidak keberatan ... kita bisa bertukar ...”

Alberta menunjukkan tatapan batunya kepadaku dan Eddie. “Tidak, tentu saja kalian tidak bisa melakukannya. Vasilisa Dragomir adalah tugasmu.” Dia memandangku lagi. “Dan Christian Ozera adalah milikmu. Diskusi berakhir.”

“Ini sungguh bodoh!” aku mengulang lagi. “Kenapa aku harus membuang waktuku dengan Christian? Lissa lah yang akan bersamaku setelah kelulusan. Harusnya jika kalian ingin aku mampu melakukan tugasku dengan baik, kalian sudah semestinya memasangkan aku dengan Lissa.”

“Kau akan melakukan yang terbaik untuknya,” jawab Dimitri. “Sebab kau mengenalnya. dan kau memiliki ikatan. Tapi disuatu tempat, suatu hari, kau mungkin akan berakhir dengan Moroi yang berbeda. Kau perlu belajar bagaimana cara melindungi seseorang yang tidak pernah bersamamu sebelumnya.”

“Aku pernah bersama-sama dengan Christian,” aku menggerutu. “Itulah masalahnya. Aku membencinya.”Ok, sekarang memang sudah sangat berlebihan. Christian membuatku kesal, sungguh, tapi aku tidak benar-benar membencinya. Seperti yang sudah kukatakan, bekerja sama melawan Strigoi sudah mengubah banyak hal. Lagi, aku merasa sepertinya rasa kurang tidur dan rasa marah yang umum terjadi, membuatku seperi orang sinting yang mencari-carai kesalahan dimana saja.

“Itu lebih baik,” kata Alberta. “Tidak semua orang yang akan kau lindungi adalah temanmu. Kau harus mempelajari semua ini.”

“Aku perlu belajar bagaimana caranya melawan Strigoi,” jawabku. “aku sudah mempelajarinya di kelas.” aku meralat dengan tatapan tajam, siap untuk memainkan kartu truf ku. “Dan aku sudah melatihnya dengan seseorang.”

“Masih ada banyak hal lain yang harus dikerjakan dari pada hanya masalah teknis seperti ini, Miss Hathaway. Semua ini hanya karena aspek pribadi, jika kau bisa menyadarinya – yang artinya kami tidak akan menyetuh terlalu banyak di kelas. Kami mengajari mu bagaimana caranya berhadapan dengan Strigoi. Kau perlu tau caranya belajar menghadapi Moroi sendirian. Dan dalam kasusmu kau harus belajar bagaimana caranya menghadapi Moroi yang bukan menjadi teman baikmu selama bertahun-tahun.”

“Kau juga harus belajar bagaimana caranya bekerja dengan seseorang yang tidak bisa secara langsung kau ketahui dalam bahaya,” tambah Dimitri.

“Benar,” Alberta setuju. “Ini adalah rintangan. Jika kau ingin menjadi pengawal yang hebat – jika kau ingin menjadi pengawal yang unggul – berarti kau harus melakukan apa yang kami katakan padamu.”

Aku membuka mulutku untuk melawan semua ini, untuk menyatakan pendapat bahwa dengan berlatih bersama seseorang yang sudah kukenal baik akan membuatku lebih cepat menjadi pengawal yang hebat bagi Moroi manapun. Dimitri memotong keinginanku.

“Bekerja dengan Moroi yang lain juga akan menolong Lissa untuk tetap bisa bertahan hidup,” katanya. Membuatku menutup mulutku. Hanya itu satu-satunya alasan yang tidak bisa kusanggah, dan sialnya, Dimitri tahu itu.

“Apa maksudmu?” tanyaku.

“Lissa juga memiliki rintangan – kau. Jika dia tidak pernah belajar bagaimana rasanya dijaga oleh seseorang tanpa hubungan batin, dia mungkin akan mengalami banyak resiko ketika diserang. Melindungi seseorang adalah hubungan sesungguhnya antara dua orang. Tugas ini adalah latihan lapangan untuk kebaikanmu dan juga dirinya.”

Aku tetap diam ketika memproses kata-katanya. Kata-kata itu hampir menyentuhku.

“Dan,” Alberta menambahkan,”ini adalah satu-satunya tugas yang bisa kau dapatkan. Jika kau menolak, maka kau keluar dari latihan lapangan ini.”

Keluar? Apa dia sudah gila? Ini bukan kelas yang bisa kutinggalkan pergi untuk satu hari. Jika aku tidak melakukan latihan lapanganku, aku tidak bisa lulus. Aku ingin meledak karena semua ketidakadilan ini, tapi Dimitri menghentikanku tanpa menggunakan sepatah kata pun. Ia terus menunjukkan tatapan mata yang tenang di kedua mata hitamnya yang menahanku untuk bertindak, mendorongku untuk menerimanya dengan hati lapang – atau semampu yang aku bisa. 

Dengan malas aku mengambil paketku. “Baik,” kataku dingin. “Aku akan melakukannya. Tapi aku ingin semua ini dicatat sebagai bentuk perlawananku atas penolakan kehendak.”

“Kurasa kami sudah bisa menduganya, Miss Hathaway,” Alberta berkomentar datar.

“Terserahlah. Aku masih berpikir kalau ini adalah ide yang buruk dan kau nantinya juga akan menyadarinya.”

Aku berbalik dan bergegas pergi melintasi ruang tersebut sebelum satu dari mereka bisa meresponnya. Dengan melakukan ini, aku mengerti benar kalau aku terlihat seperti pecundang kecil. Tapi jika mereka bisa menahan kehidupan seks sahabatnya, terlihat seperti hantu, dan selalu mendapatkesulitan ketika tidur, artinya mereka juga pecundang. ditambah lagi, aku akan menghabiskan enam minggu bersama Christian Ozera. Dia sinis, sangat menyulitkan, dan membuat lelucon mengenai semua hal.

Sebenarnya, dia sangat mirip denganku.
Ini akan menjadi enam minggu yang panjang.

{Diterjemahkan langsung dari Shadow Kissed karya Richelle Mead}



Terjemahan ini kubuat hanya sebagai rasa cintaku terhadap Vampire Academy the Series, tidak bermaksud apa-apa, jadi aku akan tetap setia menunggu buku k-3 terbit hehehe

4 comments:

  1. Hebaat banget!! Apa kamu ngetik semua bagian bab novel ini?
    Aku lihat library blog-mu dan langsung heboh gak jelas di depan laptop. WOW!! KEREEN BGT!! xD

    Well, bbrp hri lalu aku beli novel ini, dan tema hantu"nya sukses bikin aku merinding semalem.
    Setidaknya yang ada di bayanganku bukan Mason yang menjadi hantu, tapi lebih mirip ke hantu2 indonesia yg cukup bikin aku mrinding.. sperti kuntilanak atw pnampakannya mgkin?^^

    Dan yahh, aku senang menemukan blog ini
    ^___^

    ReplyDelete
  2. Thanks a loooot.... hehehehe

    sebenernya, nggak semua juga ku translate in, hanya novel-novel tertentu saja yang aku suka, (sama subtitle film juga,,,gkgkgk)

    Jah, masa ngebayangin masonnya kayak hantu indonesia sih,,,kan masonnya cakep,,, hantu indonesia mah pada berdarah-darah...hahaha

    ReplyDelete
  3. Waaahhh keren euy nerjemahin buku tebal begini. Mmg sih ada banyak typo, tp mending deh drpd kudu baca bahasa asli....

    ReplyDelete
  4. @Lita Lukitasari Hehehe, makasih ;) Harap maklum dengan typonya, soalnya kadang ngerjainnya pas di sela2 waktu kerja, jadi buru2. Hihihi

    ReplyDelete

 

Blog archive

Please, Keep in Touch!

©Copyright 2011 Love Your Life | TNB