Shadow Kiss ~ Bahasa Indonesia (chapter 5)

Thursday, August 26, 2010 0 komentar

S EBAGIAN BESAR MASALAH KEDISIPLINAN
di Akademi diserahkan pada Kepala Sekolah Kirova. Dia mengawasi Moroi dan dhampir dengan cara yang sama dan sangat dikenal dengan kreativitasnya yang sering menggunakan sederat panjang hukuman. Dia tidak kejam, pastinya, tapi dia juga tidak lembut. Dia hanya memandang serius masalah sikap siswa dan menanganinya sesuai dengan apa yang ia lihat cocok dengan hukumannya.

Ada beberapa masalah yang berada di luar jangkauan kekuasaannya. Pengawal sekolah berkumpul bersama-sama membentuk komite displin yang jarang sekali terdengar, sangat jarang sekali. Kau harus melakukan sesuatu yang sangat serius untuk memancing respon mereka. Seperti, katakanlah, sengaja membahayakan seorang Moroi. Atau terhipnotis sengaja membahayakan seorang Moroi.




“Untuk terakhir kalinya,” aku mengeram, “aku tidak melakukannya dengan sengaja.” Aku duduk di salah satu ruang pertemuan pengawal, berhadapan dengan komiteku: Alberta, Emil, dan satu dari pengawal perempuan yang jarang ada di kampus, Celeste. Mereka duduk si sepanjang meja, terlihat penting, sedangkan aku duduk di kursi sendiri dan merasa sangat mudah diserang. Sebagian para pengawal lain duduk dan melihat, tapi untunglah, tidak satupun dari teman sekelasku ada disini melihatku dipermalukan. 


Dimitri duduk diantara para penonton itu. Dia bukan bagian komite dan aku berangan-angan jika mereka menjauhkan Dimitri karena dia berpotensi untuk memihakku karena ia mentorku.

“Nona Hathaway,” kata Alberta, berada dalam mode seorang kapten, “kau harus tahu mengapa kami sangat sulit untuk mempercayai semua itu.”

Celeste mengangguk. “Pengawal Alto melihatmu. Kau menolak untuk melindungi dua Moroi – termasuk orang yang secara spesifik adalah orang yang ditugaskan untuk kau lindungi.”

“Aku tidak menolak!” aku berteriak. “Aku...meleset.”

“Itu bukan meleset,” kata Stan dari kerumunan penonton. Dia melirik Alberta untuk meminta izin berbicara. “Bolehkah?” Dia mengangguk dan berbalik ke arahku.

“Jika kau menghalangiku atau menyerangku dan kemudian gagal, itu baru bisa dikatakan meleset. Tapi kau tidak menghalangi. Kau tidak menyerang. Kau bahkan tidak mencoba. Kau hanya berdiri disana seperti patung dan tidak melakukan apapun.”

Dapat dimengerti, aku merasa terhina. pemikiran mengenai aku yang dengan sengaja meninggalkan Christian dan Brandon untuk ‘dibunuh’ oleh seorang Strigoi adalah sangat tidak masuk akal. Tapi apa yang bisa aku lakukan? Aku mengaku kalau aku mengacaukan keseluruhannya atau telah melihat hantu. Tidak dari kedua pilihan itu yang menarik, tapi aku harus menghilangkan kerugianku: yang satu membuatku terlihat tidak mampu. Yang satunya membuatku terlihat gila. Aku tidak ingin dihubungkan dengan keduanya. Aku lebih memilih dikaitkan dengan gambaran diriku yang biasa seperti “gegabah” dan “pengacau”.

“Mengapa aku mendapatkan masalah untuk kekacauan ini?” aku bertanya hati-hati. “Maksudku, aku melihat Ryan lebih dulu mengacau. Dia tidak mendapatkan masalah. Apakah ini yang merupakan tujuan utama dari latihan ini? Praktek? Jika kami sudah sempurna, kalian pastilah sudah melepaskan kami ke dunia luar!”

“Tidakkah kau mendengarkan?” tanya Stan. Aku bersumpah melihat urat berdenyut di dahinya. Kupikir hanya dia yang memiliki kemarahan yang sama denganku. Di saat-saat paling akhir, dialah satu-satunya (selain aku) yang menujukkan emosinya. Yang lain menggunakan wajah bertaruh, tapi kemudian, tidak satupun dari mereka yang menyaksikan apa yang sedang terjadi. Jika aku berada di posisi Stan, aku mungkin memiliki pikiran yang lebih buruk terhadap diriku juga.

“Kau tidak mengacau, sebab ‘mengacau’ itu berarti kau telah melakukan sesuatu.”

“Baiklah kalau begitu. Aku membeku.” Aku menatapnya menantang. “Tidakkah itu dihitung sebagai tidak mengacau juga? Aku kalah di bawah tekanan dan kosong. Itu berarti aku tidak siap. Saat itu datang dan aku panik. Ini terjadi pada semua novis sepanjang waktu.”

“Untuk seorang novis yang sudah pernah membunuh strigoi?” tanya Emil. Dia dari Romania, aksennya sedikit tebal dari aksen Rusia Dimitri. Tidak terdengar bagus sebenarnya.

"Itu sungguh tidak dapat dipercaya.” 

Aku memberikat tatapan tajam padanya dan semua orang yang ada di ruangan itu. “Oh, aku mengerti. Setelah satu kali insiden, sekarang aku diharapkan sebagai ahli pembunuh Strigoi? Aku tidak boleh panik atau menjadi takut atau apapun? Masuk akal. Trims, teman-teman. Adil. Benar-benar adil.” Aku merosot kembali di tempat dudukku, tangan menyilang di dadaku. Tidak ada gunanya menentang mereka. Aku sudah cukup mengeluarkan isi hatiku. Alberta mengelus dan membungkuk ke depan.

“Kita sedang memperdebatkan arti dari ucapanmu. Masalah teknik bukan inti masalah disini. Apa yang terpenting adalah apa yang terjadi tadi pagi, kau memperjelas kalau kau tidak ingin menjaga christian Ozera. Faktanya ... kurasa kau bahkan berkata kalau kau ingin kami yakin kalau kami memahami bahwa apa yang kau melawan kehendakmu sendiri dengan menjaga Ozera dan dengan cepat kami tahu betapa mengerikannya ide itu.” Ugh. Aku sudah mengatakan itu. Sejujurnya, apa yang sedang aku pikirkan?

“Dan kemudian, ketika tes pertamamu datang, kami menemukan kau sama sekali dan benar-benar tidak merespon.”

Aku hampir terbang dari kursiku. “Jadi itulah inti dari semua ini? Kau pikir aku tidak melindungi dia karena beberapa jenis dendam aneh?” Mereka bertiga menatapku.
“Kau tidak dikenal sebagai orang yang bisa menerima sesuatu yang tidak kau suka dengan tenang dan anggun,” dia menjawab kecut.

Kali ini, aku berdiri, mengacungkan jariku ke arahnya. “Tidak benar. aku sudah mengikuti setiap aturan yang Kirova perintahkan untukku sejak aku datang kembali kesini. Aku sudah pergi ke semua latihan dan mematuhi setiap jam malam.” Well, aku berbohong dengan beberapa jam malamku tapi itu semua tidak disengaja. semua itu kulakukan untuk mendapatkan yang lebih baik.

“Tidak ada alasan untukku melakukan hal-hal tersebut hanya karena dendam! Hal baik apa yang bisa kudapatkan? Sta – Pengawal Alto tidak benar-benar menyakiti Christian, jadi ini tidak seperti aku melihatnya dipukul atau sesuatu. satu-satunya hal yang bisa membuatku accomplish adalah dibawa ke tengah situasi seperti ini dan kemungkinan akan berhadapan dengan pemberhentian dari ujian lapangan.”

“Kau sedang menghadapi pemberhentian dari ujian lapangan,” jawab Celeste datar.

“Oh.” aku terduduk, tiba-tiba tidak merasakan tidak seberani tadi. Sunyi menggantung di dalam ruangan untuk beberapa lama, dan kemudian aku mendengar suara dimitri berbicara dari belakangku.

“Dia benar,” katanya. Jantungku berdebar nyaring dalam dadaku. Dimitri tahu sekali kalau aku tidak akan mungkin mengambil resiko seperti ini. Dia tidak berpendapat kalau aku adalah orang yang berpikiran picik.

“Jika dia ingin protes atau balas dendam, dia akan melakukannya dengan cara lain. Well, tidak terlalu picik paling tidak.

Celeste mengerutkan dahi, “ Ya, tapi setelah apa yang ia lakukan tadi pagi ...”

Dimitri mengambil beberapa langkah ke depan dan berdiri di samping kursiku. Memiliki kehadirannya yang mendukung di dekatku, membuatku terhibur. Aku mendapatkan kilatan Dimitri déjà vu, kembali ke saat dimana Lissa dan aku kembali ke Akademi musim gugur yang lalu. Kepala sekolah kirova hampir mengusirku dan saat itu Dimitri berdiri untukku juga.

“Semua hal terperinci ini,” katanya. “Terlepas dari bagaimana mecurigakannya sesuatu yang kau lihat, tidak ada bukti. Mengeluarkannya dari ujian lapangan – dan khususnya menunda kelulusannya – sedikit keterlaluan tanpa adanya sedikitpun kepastian mengenai hal ini.” Komite terlihat memikirkan, dan aku memfokuskan perhatianku pada Alberta. Dia yang paling memiliki kuasa disini. Aku selalu menyukainya, dan dalam waktu kebersamaan kami, dia menjadi keras tapi selalu adil hingga ke hal-hal kecil. Kuharap hal itu benar ada dalam dirinya. Ia memberi isyarat Celeste dan Emil untuk mendekatinya, dan dua pengawal lain mencondongkan diri mendekatinya. Mereka melakukan pembicaraan berbisik. Aberta memberikan sebuah anggukan menyudahi dan yang lain mundur. 

"Miss Hathaway, apa kau memiliki sesuatu yang ingin kau katakan sebelum kami menyatakan keputusan kami?” Yang ingin kukatakan? Ya. Ada berton-ton hal yang ingin ku katakan. Aku ingin mengatakan kalau aku bukannya tidak mampu. Aku ingin mengatakan pada mereka kalau akan adah salah satu novis terbaik disini. Aku ingin mengatakan kalau aku melihat Stan datang dan hampir bereaksi. aku khususnya ingin mengatakan pada mereka kalau aku tidak ingin mendapatkan tanda ini dalam catatanku. Meski jika aku tetap melaksanakan ujian lapangan, aku pasti mendapatkan nilai F untuk tes pertamanku. Itu mempengaruhi keseluruhan nilaiku, dan setelah itu mempengaruhi masa depanku.

Tapi kemudian, pilihan apa yang aku punya? mengatakan pada mereka kalau aku baru saja melihat sesosok hantu? hantu dari seorang cowok yang pernah tergila-gila padaku dan mati karena kegilaan itu? aku masih tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan penghlihatan ini. Pertama kali aku bisa melupakannya dengan keletihan ... tapi aku masih melihatnya – atau itu – dua kali sekarang. apakah dia nyata? Akal tertinggiku mengatakan tidak, tapi sejujurnya, itu tidak masalah saat itu. Jika dia nyata dan aku mengatakan pada mereka, mereka akan berpikir kalau aku sudah gila. Jika dia tidak nyata dan aku mengatakan pada mereka, mereka akan menganggap aku sudah gila – dan mereka benar. aku tidak bisa menang disini.

“Tidak ada, Pengawal Petrov,” kataku, berharap suaraku terdengar menurut. “Tidak ada yang ingin ditambahkan.”

“Baiklah,” katanya dengan lelah. “Inilah yang sudah kami putuskan. Kau beruntung memiliki pengawal Belikov yang membelamu, atau keputusan ini mungkin akan menjadi berbeda. Kami memberikan kau keuntungan dari keragu-raguan ini. Kau akan melanjutkan ujian lapangan dan tetap melanjutkan menjaga Tuan Ozera. Kau dalam semacam masa percobaan.”

“Baiklah,” kataku. Aku sudah banyak mendapatkan masa percobaan dalam kehidupan akademikku. “Terima aksih.”

“Dan,” dia menambahkan. Ooh. “Sebab kecurigaan belum sepenuhnya hilang, kau akan menghabiskan hari liburmu minggu ini untuk melakukan pelayanan komunitas.” aku meloncat lagi dari kursiku.

“Apa?” tangan Dimitri menahan lenganku, jari-jarinya hangat dan mengontrol. 

“Duduk,” dia mengumam di telingaku, menarik ku kembali ke kursi. “ambil apa yang bisa kau dapatkan.”

“Jika ini menjadi masalah, kami bisa menjadikannya dua minggu,” Celeste memperingatkan. “dan lima minggu berikutnya.” Aku terduduk dan menggelengkan kepala.

“Maafkan aku. Terima kasih.” 

Sidang bubar, dan aku pergi dengan perasaan lelah dan seperti habis dipukuli. kehilangan satu-satunya hari yang kupunya? Jelas sekali semangat yang kurasakan sebelum ujian lapangan beberapa minggu lalu tidak terjadi pagi ini. Alberta menyuruhku untuk menemukan Christian, tapi Dimitri berkata kalau dia punya waktu berdua denganku. Alberta setuju, tidak diragukan lagi kalau dia berharap Dimitri mengaturku untuk tetap lurus dan terkendali.
Ruangan kosong, dan kupikir dia akan duduk dan berbicara denganku seketika itu juga, tapi ia malah berjalan menjauh ke meja kecil dimana dispenser air berada, kopi, dan beberapa minuman.

“Kau ingin cokelat panas?” tanyanya.

Aku tidak menduganya sebelumnya. “tentu.”
Dia memasukkan empat bungkus cokelat panas instan ke dalam dua gelas Styrofoam dan kemudian menambahkan air panas.

“Menggandakannya adalah rahasianya,” katanya ketika gelasnya penuh.
dia menyerahkan miliku beserta pengaduk kayu dan kamudian berjalan ke arah sisi pintu. Memberanikan diri bahwa seharusnya aku mengikutinya, aku bergegas mengejarnya tanpa menumpahkan cokelat panasku. 

“Kemana kita akan – oh.”
aku melangkah menuju pintu dan menemukan diriku sendiri berada di teras kaca tertutup kecil yang dipenuhi oleh meja teras kecil. Aku tidak tahu teras ini berdekatan dengan ruang pertemuan, tapi meskipun begitu, ini adalah gedung tempat dimana pengawal mengerjakan segala kepentingan kampus. Novis sangat jarang dizinkan masuk. Aku juga tidak menyadari gedung ini dibangun mengelilingi halaman kecil, tempat yang diperlihatkan teras ini. Pada musim panas, aku membayangkan dapat membuka jendelanya dan dikelilingi oleh nuansa hijau dan udara yang hangat. Sekarang, terbungkus dalam kaca dan beku, aku merasakan seperti aku sedang berada di semacam istana es.

dimitri menyapukan tangannya ke kursi, menghilangkan debu. aku melakukan hal yang sama dan duduk di hadapannya. Sebenarnya ruangan ini tidak berguna banyak untuk digunakan dalam musim dingin. Sebab ruangan ini mengurung, udara dalam ruangan biasanyalebih hangat daripada di luar, tapi tidak terlalu panas sebenarnya. Udara terasa sejuk, dan aku menghangatkan kedua tanganku pada gelasku. kesunyian terasa diantara Dimitri dan aku. Satu-satunya suara datang dariku yang sedang meniup-niup cokelat panasku. Dia langsung meminum miliknya. Dia sudah membunuh Strigoi bertahun-tahun. Apakah panas airnya menjadi tidak terasa seketika juga? 

Saat kami duduk dan diam tumbuh, aku mempelajarinya dari tepi gelasku. Dia tidak menatapku, tapi aku tahu dia tahu aku sedang menatapnya. Seperti waktu-waktu yang lain ketika aku menatapnya, aku selalu terhenti saat manatapnya. rambut yang berwarna hitam lembut yang selalu ia sampirkan ke belakang telinganya tanpa ia sadari, rambut yang tidak pernah diam ingin selalu menjadi dasi yang melingkari lehernya. Matanya juga cokelat, yang entah bagaimana terlihat lembut dan ganas di saat yang sama. bibirnya memiliki kualitas yang berlawanan, kurasa. Ketika ia bertempur atau berurusan dengan sesuatu yang kejam, bibir itu akan licin dan keras. Tapi diwaktu yang lain ... ketika ia tertawa atau mencium ... well, bibir itu akan menjadi lembut dan mengagumkan.

Hari ini, lebih dari tampilan luarnya menyentuhku. Aku merasa hangat dan aman hanya karena bersamanya. dia membawa rasa nyaman setelah hari burukku. Sangat sering bersama orang lain, aku merasa butuh menjadi pusat perhatian, lucu, dan selalu punya hal pintar yang bisa kukatakan pada orang-orang. Itu adalah kebiasaan yang aku butuhkan untuk menjadi seorang pengawal, melihat pekerjaan itu membutuhkan lebih banyak diam. 

Tapi dengan dimitri, aku tidak pernah merasakan kalau aku harus menjadi sesuatu atau lebih dari apa yang aku punya. Aku tidak perlu menghiburnya atau memikirkan guraan atau bahkan menggoda. Sudah cukup kebersamaan dengannya, menjadi nyaman dengan keberadaan masing-masing – selain ketegangan seksual yang membara – yang menghilangkan pengedalian diri – kesadaran.

aku menarik nafas dan meminum cocoa ku.
“Apa yangs ebenarnya terjadi?” dia bertanya akhirnya, bertemu dengan tatapanku. “Perhatianmu tidak teralih di bawah tekanan.”

Suaranya terdengar penasaran, bukan menuduh. Kusadari dia tidak memperlakukanku sebagai seorang siswa sekarang. Dia menganggap kedudukan kami sama. Dia hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku. Tidak ada disiplin dan mengkuliahi disini. Dan itu membuat semua ini semakin buruk ketika aku harus berbohong padanya. 

“Tentu saja seperti itu,” kataku, menatap ke bawah ke arah gelasku. “Kecuali jika kau percaya aku benar-benar membiarkan Stan ‘menyerang’ Christian.”

“Tidak,” katanya. “Aku tidak percaya itu. Tidak pernah. aku tahu kau akan tidak bahagia ketika mengetahui tentang tugasmu, tapi aku tidak pernah sekalipun meragukan apa yang kalu lakukan untuk ujian lapangan ini. aku tahu kalau kau tidak akan membiarkan perasaan pribadi menghalangi tugasku.”
aku mendongak dan menatap matanya, sangat penuh dengan kesetiaan dan rasa percaya padaku.

“Aku tidak melakukan itu. Aku marah ... masih sedikit. tapi sekali aku mengatakan aku akan melakukannya, maka aku bersungguh-sungguh dengan perkataan itu. Dan setelah menghabiskan beberapa waktu dengan christian ... well, aku tidak membencinya. Aku sebenarnya berpikir kalau dia baik untuk Lissa, dan dia peduli padanya, jadi aku tdak bisa marah tentang semua itu. Dia dan aku betengkar kadang-kadang, hanya itu ... tapi kami benar-benar bagus bersama melawan Strigoi. Aku ingat ketika aku bersamanya hari ini dan berdebat mengenai tugas ini sangat terlihat konyol. Jadi aku memutuskan untuk melakukan pekerjaan yang terbaik yang bisa aku lakukan.” Aku tidak bermaksud untuk berbicara terlalu banyak, tapi aku merasa baik untuk membiarkan apa yang ada dalam diriku keluar, dan wajah dimitri terlihat mengerti apapu yang aku katakan. 

Hampir apapun. “Apa yang terjadi selanjutnya?” tanyanya. “Dengan Stan?” Aku mengalihkan pandanganku dan bermain dengan gelasku lagi. Aku benci menyimpan rahasia darinya, tapi aku tidak bisa mengatakan hal ini padanya. dalam kehidupan manusia, vampir dan dhampir adalah makhluk mitos dan legenda – cerita sebelum tidur untuk menakuti anak-anak. manusia tidak tahu kami nyata dan berjalan di bumi. Tapi hanya karena kami nyata tidak berarti setiap makhluk dalam cerita misteri itu ada. Kami tahu itu dan memiliki mitos sendiri dan cerita pengantar tidur lain yang tidak kami percayai. Werewolf. Bogeyman. Hantu.

Hantu bermain dalam ketidaknyataan di dunia kami, menjadi makanan untuk bahan candaan dan cerita api unggun. Hantu pasti keluar di hari Hallowen dan beberapa legenda memudar bertahan bertahun-tahun. Tapi di kehidupan nyata? Tidak ada hantu. Jika kau kembali dari kematian itu karena kau adalah Strigoi.

Paling tidak, itulah yang selalu kupikirkan. aku sejujurnya tidak cukup tahu sekarang apa yang sedang aku katakan. Diriku membayangkan Mason terlihat lebih wajar daripada memikirkan dia menjadi hantu, tapi, itu artinya aku mungkin benar-benar serius berada pada daerah gila. selama ini, aku mengkhawatirkan Lissa kehilangan akal sehatnya. Siapa yang tahu aku yang malah mungkin kehilangan akal sehat?

Dimitri masih menatapku, menunggu jawabanku.
“Aku tidak tahu apa yang terjadi di sana. Niatku bagus ... aku hanya ... aku hanya mengacaukannya.”

“Rose. Kau pembohong yang buruk.” 

Aku meliriknya. “Tidak, aku tidak seperti itu. Aku sudah sering mengatakan kebohongan yang bagus dalam hidupku. Orang-orang mempercayainya.”

Dia tersenyum sedikit. “ Aku yakin. Tapi itu tidak terjadi padaku. Untuk satu hal, kau tidak menatap mataku. Untuk yang lain ... aku tidak tahu. Aku hanya dapat merasakannya.” Sial. dia bisa menyadarinya. Dia mengenalku sangat baik. Aku berdiri dan bergeser ke pintu, membiarkan punggungku menatapnya. Normalnya, aku menhargai setiap menitku bersamanya, tapi aku tidak bisa melakukan hal itu hari ini. Aku benci berbohong, tapi aku tidak ingin mengatakan kebenarannya terlalu cepat. Aku harus pergi.

“Dengar, aku menghargai kau mengkhawatirkanku ... tapi sungguh, aku baik-baik saja. aku hanya mengacaukannya. Aku malu tentang semua ini – dan maaf, aku sudah membuat latihan mengagumkanmu menjadi memalukan – tapi aku akan berusaha lagi. Lain waktu, pantat Stan milikku.”

Aku tidak mendengar dia berdiri, tapi tiba-tiba, Dimitri sudah berada di belakangku. Dia meletakkan tangannya di bahuku, dan aku membeku di depan pintu. Dia tidak menyentuhku di tempat lain. Dia tidak mencoba untuk menarikku mendekat. Tapi, oh, satu tangan yang menyentuh bahuku itu menggengam semua kekuasaan di dunia.

"Rose," katanya, dan aku tau dia tak lagi tersenyum. “Aku tidak mengapa kau berbohong, tapi aku tahu kau tidak akan melakukan kebohongan ini tanpa alasan yang bagus. Dan jika ada sesuatu yang salah – sesuatu yang kau takut untuk dibicarakan dengan orang lain – “ Aku berbalik cepat yang entah bagaimana peralihan poros itu tidak menggerakkan tangannya dari bahuku.

“Aku tidak takut,” tangisku. “aku punya alasan, dan percaya padaku, apa yang terjadi dengan Stan bukan apa-apa. Sungguh. semua ini hanyalah sesuatu yang bodoh yang meledak keluar dari bagian diriku. Jangan merasa bersalah untukku atau merasa kau harus melakukan apapun. Apa yang terjadi sangat payah, tapi aku menggulingkannya dan menerima tanda kesalahan. Aku menjaga semua hal. Aku menjaga diriku sendiri.” Ini mengambil semua kekuatanku agar akau tidak gemetar. Bagaimana mungkin hari ini menjadi sangat aneh dan lepas kendali?

Dimitri tidak mengatakan apapun. dia hanya menatapku, dan ekspresi di wajahnya tidak pernah kulihat sebelumnya. aku tidak bisa menafsirkannya. apa dia marah? Tidak menerima? aku tidak mengerti. Jari-jari dibahuku sedikit mengeras kemudian melemah. 

“Kau tidak harus melakukan ini sendirian,” dia berkata akhirnya. Suaranya hampir terdengar sedih, yang artinya tidak berarti apa-apa. dialah orang yang slema ini mengatakan kepadaku kalau aku harus menjadi kuat. Aku ingin melemparkan tubuhku sendiri ke pelukannya, tapi aku tahu aku tidak mampu. 

Aku tidak bisa menahan senyum. “Kau berkata seperti itu ... tapi katakan padaku yang sejujurnya. Apa kau berlari ke arah orang lain jika kau memiliki masalah?”

“Itu tidak sama – “

“Jawab pertanyaan itu, rekan.”

“Jangan panggil aku dengan sebutan itu.”

“Dan jangan mengelak dari pertanyaan.”

“Tidak,” katanya. “Aku mencoba untuk menghadapai masalahku sendiri.” 

Aku menyingkirkan tangannya. “Benarkan?”

“Tapi kau punya banyak orang dalam hidupmu yang bisa kau percaya, orang-orang yang peduli padamu. Itu merubah sesuatu.”

Aku menatapnya terkejut. “Kau tidak memiliki orang yang peduli padamu?”

Dia mengerutkan kening, jelas sedang memikirkan kembali kata-katanya sendiri. “Sebenarnya aku selalu memiliki orang-orang yang baik dalam hidupku ... dan orang-orang yang peduli padaku. Tapi itu tidak berarti aku bisa mempercayai mereka dan mengatakan semuanya.”

Aku selalu merasa terganggu dengan keanehan hubungan kami yang jarang terpikir olehku mengenai Dimitri sebagai seseorang yang memiliki kehidupan yang jauh berbeda dariku. Dia dihormati oleh setiap orang di kampus. Para pengajar dan murid mengenalnya sebagai pengawal yang mematikan disini. Kapanpun mereka pergi sebagai pengawal di luar sekolah, mereka tetap tahu dan menghormatinya juga. Tapi aku tidak pernah melihatnya bersosialisasi. Dia tidak muncul dengan teman dekat diantara para pengawal – hanya rekan kerja yang ia sukai. Keramahan yang pernah aku lihat darinya untuk orang lain hanya pada bibi Christian, Tasha Ozera, pengunjung. Mereka saling mengenal satu sama lain dalam waktu yang lama, tapi ternyata semua itu tidak cukup untuk Dimitri mengejar Tasha ketika kunjungannya selesai. 

Dimitri dalam kesendirian yang mengerikan, aku sadar, novel koboinya sebagai pengisi kekosongannya ketika ia tidak bekerja. Aku sering merasa sendirian, tapi sesungguhnya, aku hampir selalu dikelilingi banyak orang. Dengan dirinya sebagai pengajarku, aku cenderung melihat pada satu sisi: dia adalah seseorang yang selalu memberiku sesuatu, nasihat atau latihan. Tapi aku memberikannya sesuatu juga, sesuatu yang sulit untuk dijelaskan – hubungan dengan orang lain.

“Apa kau mempercayaiku?” tanyaku.

Keragu-raguan sangat singkat. “Ya.”

“Jadi percayalah padaku sekarang dan jangan khawatirkan aku sekali ini saja.” Aku berjalan menjauh, diluar jangkauan tangannya, dan dia tidak berkata apapun lagi untuk mencoba menghentikanku. memotong jalan di ruangan sidang ini, aku menju pintu keluar utama gedung, melemparkan sisa-sisa cokelat panas ke tong sampah sembari aku berjalan menjauh.

Diterjemahkan langsung dari Shadow Kissed karya Richelle Mead

0 komentar:

Post a Comment

 

Blog archive

Please, Keep in Touch!

©Copyright 2011 Love Your Life | TNB