Spirit Bound ~ Bahasa Indonesia (Chapter 3) part 2

Tuesday, September 4, 2012 0 komentar
K ubilang padanya kalau aku akan pergi, dan keputusanku membuatnya berada dalam suasana hati yang baik sehingga dia tidak bertanya banyak saat Lissa dan aku mengatakan kalau kami akan melakukan 'hal kami’ siang nanti. Teman-teman sekelasku mendapatkan sebuah tur di istana dan ini sebenarnya adalah sebagai bagian dari rencana indoktrinasi mereka, tapi aku sudah pernah melihatnya dan bisa berlenggang santai karenanya. Aku dan Lissa meletakkan barang-barang kami di kamar dan kemudian pergi kesisi yang lebih jauh dari istana, dimana tidak terlalu banyak masyarakat bangsawan tinggal.

“Apa kau sudah bisa mengatakan padaku apa bagian lain dari rencanamu ini?” tanya Lissa.
Semenjak Abe menjelaskan tentang penjara Victor, aku telah membuat daftar imajiner dari masalah yang akan kami lakukan saat melakukannya. Terutama dua hal, yang salah satunya akan berkurang jika dari awal aku berbicara dengan Abe. Bukan hal yang benar-benar bisa dianggap mudah. Pertama, kami sama sekali tidak memiliki bayangan dibagian Alaska mana Victor berada. Kedua, kami tidak tahu bentuk pertahanan dan rancangan bangunannya seperti apa. Kami tidak tahu apa yang akan kami lalui.



Namun, sesuatu memberitahuku kalau semua dari pertanyaan ini bisa ditemukan di satu sumber, yang artinya aku benar-benar hanya memerlukan satu masalah mendesak saja: bagaimana cara mendapatkan sumber tersebut, Untungnya, aku mengenal seseorang yang mungkin bisa membantu kami kesana,

“Kita akan menemui Mia,” kataku padanya.
Mia Rinaldi adalah Moroi bekas teman sekelas kami – bekas musuh, sebenarnya. Dia juga seorang poster berjalan dalam hal makeover penampilan. Dia menghilang dari sikap menjadi seorang wanita jalang licik yang bersedia menghancurkan – dan tidur dengan – siapa pun yang menhalanginya mencapai popularitas menjadi wanita yang bersahaja, gadis yang percaya diri untuk belajar mempertajhankan dirinya sendiri dan orang lain dari serangan Strigoi. Dia tinggal disini, di istana, bersama ayahnya.

“Kau pikir Mia tahu caranya melewati sebuah penjara?”
“Mia itu baik, tapi aku tidak merasa kalau dia sebaik iyu. Dia mungkin bisa membantu kita untuk mendapatkan orang dalam.”
Lissa mengerang. “Aku tidak percaya kalau kau baru saja menggunakan kata-kata ‘orang dalam’. Ini benar-benar berubah menjadi film mata-mata,” dia berbicara sembrono, tapi aku bisa merasakan nada kekhawatiran di dalam dirinya. Nada suaranya yang ringan menutupi ketakutannya, kegelisahannya masih terasa mengingat kebebasan Victor, meskipun ia telah berjanji padaku.

Orang-orang bukan bangsawan yang bekerja dan melakukan hal-hal biasa di dalam kehidupan istana tinggal di apartemen, jauh dari daerah Ratu dan aula penerimaan. Aku telah mendapatkan alamat Mia sebelumnya dan kami keluar menyebrangi tanah yang terawat sempurna, mengerang satu sama lain tentang beytapa panasnya hari ini. Kami menemukan Mia di rumahnya, mengenakan busana kasual dengan celana jean, kaos , dan es loli di tangannya. Matanya melebar saat dirinya melihat kami berada di balik pintu rumahnya.
“Baiklah, aku akan dikutuk,” katanya.
Aku tertawa. Itu adalah sejenis respon yang aku biasa berikan. Senang bertemu denganmu juga. Bisa kami masuk?”
“Tentu saja!” di melangkah mundur. “Apa kalian ingin es loli?”

Pernah kah aku menolak? Aku mengambil rasa anggur dan duduk dengan Mia dan Lissa di ruang tamu kecilnya. Tempat ini sangat jauhjika dibandingkan dengan ruang tamu bangsawan yang mewah, tapi tempatnya bersih dan nyaman dan tidak di ragukan lagi merupakan tempat yang dicintai oleh Mia dan ayahnya.
“Aku tahu teman sekolah akan datang,” kata Mia, menyisir helaian rambut pirang ikalnya dari wajahnya. “Tapi aku tidak yakin apakah kalian datang bersama mereka atau tidak. Apa kau bisa lulus?”

“Sudah,” kataku. “Aku mendapatkan tanda sumpahku dan sebagainya.” Aku mengangkat rambutku sehingga dia bisa melihat perbannya.

“Aku kaget karena mereka mengizikanmu kembali setelah kepergianmu untuk bersenang-senang membunuh Strigoi. Atau kau mendapatkan tambahan nilai karena hal itu?”
Kelihatannya Mia telah mendengarkan dongen panjang yang sama tentang petualanganku seperti yang didengar setiap orang. Bagiku tidak apa-apa. Aku tidak ingin mengatakan yang sesungguhnya. Aku tidak ingin berbicara tentang Dimitri.

“Apa kau pikir seseorang bisa menghentikan Rose untuk melakukan apa yang ia inginkan?” tanya Lissa sambil tersenyum. Dia sedang mencoba menjaga kami untuk tidak terlalu detil membicarakan tentang kisah lalu ku itu, dan aku sangat berterimakasih karenanya. Mia tertawa dan mengoyangkan segelas besar es lemon. Heran juga kenapa otaknya tidak beku karena semua yg ia makan. 

“Benar.” Senyumnya menghilang saat dia menagkap sesuatu dari kedatangan kami. Mata birunya, selalu terlihat cerdik, mempelajariku dalam diam beberapa saat.

“Dan Rose menginginkan sesuatu sekarang.”
“Hey, kami hanya senang bertemu denganmu,” kataku.
“Aku percaya padamu. Tapi aku juga percaya kalau kau punya motif tersembunyi.” Senyum Lissa merekah. Dia geli melihatku tertangkap basah dalam permainan mata-mataku sendiri. “Apa yang membuatmu mengatakan hal itu? Bisakah kau membaca Rose dengan baik atau hanya karena kau selalu percaya kalau dia selalu memliki motif tersembunyi?”
Sekarang Mia tersenyum lagi. “Keduanya.” Dengan cepat ia mendekati sofa, menatapku dengan tatapan serius. Sejak kapan ia tumbuh menjadi sangat cepat mengerti?

“Oke. Tidak ada gunanya membuang waktu. Bantuan apa yang kau perlukan dariku?”
Aku menarik nafas panjang, kalah. “Aku perlu masuk ke dalam kantor utama penjaga keaamanan.”

Di sampingku, Lissa seperti mengeluarkan suara tercekik. Aku merasa bersalah padanya. Saat ia bisa menyembunyikan pikirannya dariku pada beberapa hal, tidak terlalu banyak yang bisa ia lakukan atau katakan sehingga tidak bisa menjadi kejutan yang sebenarnya. Aku? Aku terus menerus membuatnya buta di sisiku. Dia tidak tahu menahu apa yang akan terjadi di separuh waktu perjalanan kami, namun sejujurnya jika kami sedang merencanakan pembebasan seorang kriminal tersohor keluar dari penjara, jadi menerobos ke dalam kantor pengaman harusnya bukanlah menjadi kejutan yang besar.

“Wow,” kata Mia. “Kau tidak membuang waktu untuk jal yang kecil.” Seringaiannya mengejang sedikit. “Tentu saja kau tidak akan datang padaku untuk hal yang kecil. Kau bisa melakukannya sendiri.”

“Bisakah kau memasukkan kami kesana?” tanyaku. “Kau berteman dengan beberapa penjaga disii ... dan ayahmu memiliki akses ke banyak tempat. ...” Aku tidak terlalu tahu apa sebenarnya pekerjaan Tuan Rinaldi, tapi kupikir ada kaitannya dengan hal itu.

“Apa yang sedang kau cari?” tanyanya. Dia mengangkat satu tangannya saat aku akan membuka mulutku untuk protes. “Tidak. Tidak. Aku tidak butuh rinciannya. Hanya gagasan umumnya sehingga aku bisa mengira-ngira. Aku tahu kau tidak kesana hanya untuk bertamasya di sana.”
“Aku hanya memerlukan beberapa data,” jelasku.
Alisnya naik. “Anggota pengawal? Mencoba mendapatkan pekerjaan sendiri?”

“Aku – tidak.” Hah. Itubukanlah adalah ide yang buruk, menimbang posisiku yang sekarang cukup genting tentang apakah akan ditugaskan menjaga Lissa. Tapi tidak. Satu masalah untuk satu waktu.

“Aku memerlukan beberapa data tentang pengamanan luar di tempat lain – sekolah, rumah bangsawan, penjara.” Aku mencoba agar mimik wajahku terlihat biasa saat aku menyebutkan hal yang terakhir.

Mia telah mengalami banyak hal gila, namu bahkan dia pun memiliki batas. “Aku menebak mereka pastilah menyimpan hal-hal tersebut dia kantor itu?”
“Memang,” jawabnya. “Tapi sebagian besar beberbentuk elektronik. Dan bukannya meremehkan, tapi hal itu kemungkinan besar jauh berada di atas kemampuanmu. Meskipun kita bisa mendapatkan satu dari komputer mereka, semuanya dilindungi oleh password. Dan jika mereka pergi, mereka akan mengunci komputer mereka. Aku menebak kalau kau belum pernah menjadi hacker sejak terakhir kali aku melihatmu.”

Tidak, kelas tidak. Dan tidak seperti pahlawan dia film-film mata-mata yang Lissa katakan untuk menggodaku, aku tida memiliki teman dengan kemampuan teknologi canggih yang bisa datang untuk menembus jenis enskripsi dan pengamanan. Sial. Aku manatap kakiku dengan muram, berandai-andai kalau saja aku punya kesempatan lagi untuk mendapatkan informasi lebih dari Abe.

“Tapi,” kata Mia, “jika informasi yang kau butuhkan tidak terlalu mutakhir, kemungkinan informasi tersebut masih berupa kertas.”
Aku menghentakkan kepalaku. “Dimana?”
“Mereka memiliki ruang penyimpanan data, terselip jauh di salah ruang bawah tanah. Berkas dan berkas. Masih memerlukan gembok dan kunci – namun mungkin lebih mudah untuk mendapatkannya dari pada bertarung melawan komputer. Lagi, tergantung dengan apa yang kau butuhkan. Seberapa tua hal ini.”

Abe memberikan kesan kalau Penjara Tarasov pernah berada di sekitar sini selamam beberapa lama. Tentu saja ada catatan tenang semua ini di arsip. Aku tidak meragukan para penjaga telah memperbaharui data dengan digital beberapa waktu yang lalu, yang berarti kami mungkin tidak dapat menemukan rincian keamanaa penjara itu dalam beberapa menit, namun aku bisa membereskannya dengan cetak biru.
“Itu mungkin yang kami butuhkan. Bisakah kau membuat kami masuk kesana?”
Mia dia selama beberap detik, dan aku bisa melihat pikirannya menderu.
“Mungkin.” Dia melirik ke Lissa. “Masih bisakah kau memaksa seseorang untuk menjadi budakmu?”

Lissa meringis. “Aku tidak suka memikirkannya seperti itu, tapi ya, aku masih bisa.” Itu adalah keunggulan lain dari pengguna roh.
Mia mempertimbangkan selama beberapa saat lagi dan kemudian memberikan anggukan cepat.

“Oke. Datang kembali sekitar jam dua, dan kita lihat apa yang bisa kita lakukan.”
Jam dua di siang hari adalah masa beristirahat di duni yang berarti tengah malam untuk Moroi, yang melakukan kegitan di malam hari. Keluar dia tengah hari tidak terasa seperti melakukan hal dengan diam-diam, tapi aku menduga rencana Mia disini didasari atas fakta bahwa hanya beberapa orang yang menggunakan waktu siang disini. 

Aku sedang mencoba jika kami bisa lebih bersosialisai atau keluar saat sebuah ketukan menginterupsi pikiranku. Mia tersentak dan mendadak terlihat tidak nyaman. Dia bangkit dan menghampiri pintu, dan sebuah suara yang familiar mengalir turun ke arah kami.
“Maaf aku datang terlalu cepat, tapi aku –“
Christian masuk ke dalam ruang tamu. Dia mendadak diam saat melihat Lissa dan aku. Semua orang terlihat membeku, jadi sepertinya ini tergantung padaku untuk berpura-pura kalau ini bukanlah situasi canggung yang mengerikan.

“Hey, Christian,” kataku dengan ceria. “Bagaimana kabarmu?”
Matanya menatap Lissa dan butuh beberapa saat untuk mengubahnya ke arahku.
“Baik”. Dia melirik Mia. “Aku bisa kembali lagi ...”

Lissa terburu-buru berdiri. “Tidak,” katanya, dengan sura dingin dan terdengar seperti seorang putri.
“Rose dan aku memang sudah saat pergi.”
“Ya,” aku setuju, mengikuti perintahnya. “Kami punya ... hal ... untuk dilakukan. Dan kami tidak ingin menggangu apa yang kalian ...” Sial, aku tidak tahu apa yang akan mereka lakukan. Tidak yakin kalau aku ingin tahu.

Mia menemukan suaranya kembali. “Christian ingin melihat beberapa gerakan yang aku latih bersama penjaga kampus.”
“Keren.” Aku tetap menahan senyum di wajahku saat Lissa dan aku bergerak menuju pintu. Lissa melangkah sejauh yang ia bisa dari Christian. “Jill akan cemburu.”

Dan bukan hanya Jill. Setelah seri salam perpisahan berikutnya, aku dan Lissa pergi dan kemba;i menyebrangi jalan kami tadi. Aku bisa merasakan rasa marah dan cemburu terpancar melalui ikatan kami.

“Ini hanya tentang klub bertarung mereka, Lissa,” kataku, tidak perlu menunggunya bicara untuk memulai perbincangan kami. “Tidak ada yang terjadi. Mereka akan membicarakan tentang pukulan dan tendangan dan hal-hal membosankan yang lain,” Sebenarnya hal itu benar-benar manis tapi aku tidak akan memuji bagaimana Christian dan Mia menghabiskan waktu bersama. “Mungkin sekarang tidak ada yang terjadi,” dia meneram, menatap beku ke depan.
“Tapi siapa yang yahu apa yang akan terjadi? Mereka menghabiskan waktu bersama, mempraktekkan beberapa gerakan fisik, yang satu akan membimbing yang lain –“
“Itu konyol,” kataku. “Hal seperti tidak ada romantis-romantisnya sama sekali.”
Kebohongan yang lain, mengingat begitulah bagaimana hubunganku bermulai dengan Dimitri. Lagi, lebih baik tidak menyebutkan hal itu. “Lagi pula, Christian tidak bsa terus berhubungan dengan setiap gadis yang ia ajak bergaul. Mia, Jill – bukan bermaksud kasar, tapi dia benar-benar buka tipe pria playboy.”
“Dia itu tampan,” Lissa mendebat, perasaan gelap itu masih mengitarinya.
“Ya,” aku mengakui, menjaga mataku memperhatikan jalan dengan hati-hati. “Tapi itu membutahkan lebih dari sekedar tampan. Dan lagi pula, kupikir kau tidak lagi peduli dengan apa yang ia lakukan.”
“Aku tidak peduli,” dia setuju, bahkan tidak untuk meyakinkan dirinya sendiri, membiarkan ku sendiri. “Tidak sama sekali.”

Usahaku untuk mengacaukan apa yang ia yakini cukup sia-sia selama sisa hari. Kata-kata Tasha kembali lagi padaku : Mengapa kau tidak memperbaiki ini?
Karena Lissa dan Christian terlalu sial tanpa alasan, mereka berdua terperangkan dalam kemarahan mereka sendiri yang membuatku kesal juga sebagai kebalikannya. Christian akan sangat membantu salam petualnagn gilaku, namu aku harus menjaga jarak demi Lissa.

Aku akhirnya meninggalkan Lissa dengan suasana hatinya yang buruk saat waktu makan malam tiba. Membandingkan dengan situasi romantisnya, hubunganku dengan playboy bangsawan separo-manja dari keluarga yang tidak menerimaku terlihat jauh dari optimis. Begitu sedih dan mengerikannya dunia ini sekarang. Aku meyakinkan Lissa kalau aku akan langsung kebali setelah makan malam dan kami akan menemui Mia bersama. Menyebut nama Mia membuat Lissa tidak bahagia, namun pikiran tentang jalan keluar yang potensial cukup mengalihkan perhatiannya dari Christian.

(Bersambung... ke part 3)

0 komentar:

Post a Comment

 

Please, Keep in Touch!

©Copyright 2011 Love Your Life | TNB