Spirit Bound ~ Bahasa Indonesia (Chapter 5) part 1

Tuesday, April 30, 2013 2 komentar
A KU MEMUTUSKAN KALAU LEBIH BAIK jika aku dan Lissa menunggu sampai malam saat kami kembali ke kamar Lissa, membaca dokumen-dokumen itu dengan rajin. Perasaan Lissa campur aduk saat kuceritakan tentang pertemuanku dengan Mikhail --- yang tidak kuceritakan pada Mia. Reaksi Lissa pada awalnya adalah kaget, tapi ada hal lain juga. Ketakutan terhadap masalah yang bisa kudapatkan. Sedikit kehangatan romantis terhadap apa yang aku dan Mikhail lakukan dengan penuh kerelaan untuk orang yang kami cintai. Bertanya-tanya apakah dirinya -- Lissa -- akan melakukan hal yang sama jika Christian berada di dalam situasi yang sama.

Secara instan dia memutuskan kalau dia bisa melakukannya; cintanya pada Christian masih begitu kuat. Kemudian dia mengatakan pada dirinya sendiri kalau dia sebenarnya sudah tidak peduli lagi tentang Christian, yang kurasa menyebalkan untuk kudengarkan sekarang jika aku tidak sedang pusing.

“Ada apa?” tanyanya.

Aku menghela nafas dengan cemas tanpa sadar saat aku membaca pikiran Lissa. Tidak ingin ia tahu kalau aku baru saja membaca pikirannya, aku menunjuk ke arah kertas-kertas yang berhamburan di atas tempat tidurnya. “Hanya mencoba membuat semua ini masuk akal.” Pernyataan yang tidak terlalu jauh dari kenyataan.

Bentuk penjaranya rumit. Tiap sel terdiri dari dua lantai dan kecil -- hanya satu narapidana dalam satu sel. Kertas-kertas itu tidak menjelaskan mengapa, namun alasannya jelas sangat terlihat. Hal ini sejalan dengan apa yang telah dikatakan Abe tentang menjaga para penjahat agar tidak berubah menjadi Strigoi. Jika aku terkunci di dalam penjara selama bertahun-tahun, aku bisa memahami godaan untuk menghancurkan dan membunuh teman sekamarku untuk menjadi Strigoi dan kabur. Sel nya juga di letakkan di pusat bangunan, dikeliling oleh para pengawal, ruang-runag kantor, “ruang-ruang latihan”, sebuah dapur, dan sebuah ruang makan - ruang khusus untuk mengigit para sukarelawan. Dokumen-dokumen itu menjelaskan perputaran para pengawal, begitupula dengan jadwal makan para tahanan. Kelihatannya, para tahanan itu di kawal ke tempat sukarelawan secara bergiliran, dengan pengawalan ketat, dan hanya dizinkan untuk mengisap sedikit darah. Lagi-lagi semuanya dibuat untuk menjaga agar para tahanan tetap lemah dan mencegah mereka untuk berubah menjadi Strigoi.

Semua itu adalah informasi yang bagus, namun aku tidak memiliki alasan kuat untuk percaya bahwa semua informasi itu adalah informasi terkini, mengingat dokumen-dokumen ini sudah berusia lima tahun. Dan sepertinya sekarang penjara telah memiliki berbagai peralatan pengaman baru di tempat tersebut. Kemungkinan satu-satunya hal yang bisa kami yakini tetap sama adalah lokasi penjara dan latar belakang bangunan.
“Seberapa yakin perasaanmu tetang keahlian pembuatan jimatmu?” tanyaku pada Lissa.

Meskipun dia belum mampu untuk meletakkan banyak roh penyembuh ke dalam cicinku seperti yang dilakukan oleh wanita yang ku kenal bernama Oksana, aku telah menyadari kalau kegelapan dalam diriku menjadi sedikit lebih tenang. Lissa membuatkan sebuah cincin untuk Adrian juga, meskipun aku tidak yakin apakan benda itu membantunya untuk mengontrol sifat buruknya kahir-akhir ini -- sifat buruk yang biasanya muncul setelah mengendalikan roh. Dia mengangkat bahu dan berguling dengan punggungnya. Keletihan memenuhi dirinya, namun dia sedang mencoba untuk tetap bangun demi diriku.

“Lebih baik. Kuharap aku bisa bertemu Oksana.”
“Mungkin suatu hari,” kataku samar-samar. Aku tidak yakin Oksana mau meninggalkan Siberia. Dia kabur dengan pengawalnya dan ingin tetap tidak diketemukan. Selain itu, aku tidak ingin Lissa segera pergi kesana setelah siksaan yang kudapatkan.

“Pernahkah kau mencoba untuk meletakkan sesuatu selain penyembuhan?” sesaat kemudian, aku menjawan sendiri pertanyaanku. “Oh, benar. Sendoknya!”

Lissa meringis, namun ringisannya berubuah menjadi kuap. “Aku tidak yakin kalau benda itu benar-benar bekerja.”
“Hmm.”
“Hmm?”
Aku melirik lagi cetak biru. “Aku sedang berpikir jika kau bisa membuat beberapa jimat kompulsi lagi, benda tersebut akan sangat membantu dalam hal ini. Kita perlu membuat orang-orang melihat apa yang kita ingin mereka lihat.” Tentu saja jika Victor -- yang memiliki kekuatan kompulsi yang berada entah dimana dekat dengannya -- telah membuat sebuah jimat gairah, Lissa bisa melakukan apa yang aku perlukan. Lissa hanya perlu banyak berlatih. Dia memahami prinsip dasarnya namun terhalang saat membuat efek yang ia inginkan terakhir kali. Satu-satunya masalah adalah memintanya untuk melakukan hal ini, aku sedang membuatnya agar menggunakan roh lebih banyak lagi.

Meskipun efek sampingnya tidak muncul saat itu juga, mereka bisa saja datang menghantui masa depannya. Lissa melirikku dengan penasaran, namun saat aku melihat ia menguap lagi, aku mengatakan padanya untuk tidak usah mengkhawatirkan hal ini. Aku akan menjelaskannya besok. Dia tidak menolak, dan setelah sebuah pelukan cepat, kami beristirahat di kasur kami masing-masing. Kami tidak akan mendapatkan tidur yang cukup, tapi kami harus mendapatkan apa yang kami bisa dapatkan. Besok adalah hari besar.

Aku pernah memakai pakaian resmi pengawal berwarna hitam-putih saat aku pergi ke pengadilan Victor. Dalan situasi normal pengawal, kami mengenakan pakaian kasual biasa. Namun untuk acara mewah, mereka menginginkan kami terlihat segar dan profesional. Pagi hari setelah istirahat, aku menggunakan cita rasa fashion pengawalku untuk pertama kalinya.

Aku mengenakan pakaian saat pengadilan Victor namun dengan pakaian resmi pengawal, dijahit sesuai dengan ukuranku: celana panjang lurus berwarna hitam, blus putih dengan kancing hingga leher, dan jaket gaun hitam yang muat dengan sangat sempurna ditubuhku. Pakaian ini jelas bukan bermaksud untuk terlihat seksi, tapi caranya memeluk perut dan pinggangku membuat tubuhku terlihat bagus sekali. Aku merasa puas melihat pantulan diriku sendiri di cermin, dan setelah berpikir selama beberapa menit, aku mengikat rambutku dengan kepang tinggi ke atas sehingga menunjukkan tanda molinjaku. Kulitnya masih terlihat merah, namun paling tidak perbannya sudah tidak ada lagi. Aku terlihat sangat ... profesional. Aku seolah mengingatkan diriku pada Sydney. Dia seorang Alkemis -- manusia yang bekerjasama dengan Moroi dan dhampir untuk menyembunyikan vampir dari dunia. Dengan cita rasa sempurnanya terhadap fashion, dia selalu terlihat siap untuk pertemuan bisnis. Aku selalu ingin mengiriminya sebuah koper untuk natal. Jika hari-hari tersebut adalah waktuku untuk berlagak, hari ini adalah harinya. Setelah ujian dan kelulusan, ini adalah langkah terbesar berikutnya untuk menjadi seorang pengawal. Hari ini adalah jamuan makan siang yang dihadiri oleh semua lulusan baru, para Moroi yang memenuhi syarat untuk memiliki pengawal baru juga datang, berharap untuk mengambil para kandidat.

Nilai kami dari sekolah dan ujian akan menjadi pengetahuan umum dari sekarang, dan ini adalah kesempatan untuk para Moroi bertemu dengan kami dan menawar siapa yang mereka inginkan untuk mengawal mereka. Alaminya, kebanyakn para tamu adalah para bangsawan, namun beberapa Moroi penting juga memiliki kualifikasi untuk ikut.

Aku tidak memiliki minat untuk menunjukkan kemampuanku dan di tawar oleh keluarga kaya. Lissa adalah satu-satunya yang ingin kujaga. Namun, aku tetap harus membuat kesan yang baik. Aku perlu membuat hal ini jelas bahwa aku adalah orang yang tepat untuk ada bersama Lissa.

Lissa dan aku berjalan berkeliling ruang pesta bersama. Ini adalah satu-satunya tempat yang cukup besar untuk menampung kami semua, mengingat lebih dari lulusan St. Vladimir yang hadir, semua sekolah di Amerika telah mengirim lulusan mereka yang baru, dan untuk sesaat, aku menemukan lautan hitam dan putih yang memusingkan kepalaku. Sedikit warna -- para bangsawan yang mengenakan pakaian terbaik mereka -- menghidupkan sedikit kanvasnya. Di sekitar kami, lukisan dinding dengan cat air berwarna lembut membuat dinding terlihat bersinar.

Lissa tidak mengenakan gaun pesta atau apapun, namun dia terlihat sangat anggun dengan gaun pas badan yang terbuat dari sutra. Para bangsawan bergaul dengan dorongan sosial yang dibesarkan bersama mereka, namun teman-temanku bergerak dengan sangat tidak nyaman. Tidak seorang pun terlihat keberatan. Bukanlah pekerjaan kami untuk mencari yang lain; kami yang akan didekati. Semua lulusan mengenakan label nama -- di ukir di bahan logam. Tidak ada stiker HELO, NAMAKU ADALAH ... disini. Label tersebut membuat kami dikenali sehingga para bangsawan dapat datang menghampiri kami dan melakukan negosiasi. Aku tidak mengharapkan seseorang kecuali temanku untuk berbicara padaku, jadi Lissa dan aku berjalan ke arah lemari dan kemudian diam di sudut ruangan untuk menguyah cemilan dan caviar kami. Sebenarnya, Lissa yang memakan caviar. Benda itu terlalu mengingatkanku pada Rusia.

Adrian, tentu saja, yang melihat kami untuk pertama kalinya. Aku menyeringai ke arahnya.
“Apa yang kau lakukan disini? Aku tahu kau tidak memenuhi syarat untuk seorang pengawal.” Tanpa rencana konkrit untuk masa depannya, dapat diasumsikan kalau Adrian akan tinggal di istana. Dan dalam hal sepert itu, dia tidak memerlukan proteksi luar -- meskipun dia jelas memiliki kualifikasi jika dia memilih untuk pergi ke dunia luar.

“Itu benar, tapi aku sulit untuk tidak menghadiri sebuah pesta,” katanya. Dia memegang segelas sampanye di tangannya dan aku bertanya-tanya apakag efek dari cincin yang diberkan Lissa tidak ia pakai. Tentu saja, minum sekali-sekali bukanlah akhir dari dunia, dan janji saat lamaran sebelum berkencan tidak termasuk hal itu. Isinya lebih banyak tentang rokok yang aku ingin ia jauhi.

“Apakah kau sudah ditemui oleh lusinan orang-orang yang berharap padamu?”
Aku menggelengkan kepalaku. “Siapa yang menginginkan Rose Hathway yang ugak-ugalan? Orang yang putus sekolah tanpa peringatan untuk melakukan apa yang ia inginkan?”
“Banyak,” katanya. “Aku yakin banyak. Kau menang di pertarungan, dan ingat -- semua orang berpikir kalau kau pergi untuk jalan-jalan melakukan perburuan Strigoi. Beberapa mungkin berpikir kalau ini sesuai dengan karakter gilamu.”

“Dia benar” sebuah suara tiba-tiba berkata. Aku menatap asal suara itu dan melihat Tasha Ozera berdiri didekat kami, sebuah senyuman kecil di wajahnya yang memilki bekas luka. Bukannya berpikir kalau luka tersebut membuatnya terlihat jelek, aku malah menganggap kalau dia terlihat cantik hari ini -- lebih bangsawan dari yang pernah kulihat didirinya. Rambut hitam panjangnya berkilau dan dia mengenakan rok biru laut dan atasan terbuka berenda. Dia bahkan mengenakan sepatu berhak tinggi dan perhiaan -- sesuatu yang aku yakin belum pernah kulihat ia pakai sebelumnya.

Aku bahagia melihatnya; aku tidak tahu kalau dia datang ke istana. Pikiran yang aneh menyerangku.

“Apakah mereka sudah mengizinkanmu untuk memiliki seorang pengawal?” Para bangsawan memiliki banyak cara yang tenang, cara sopan untuk menghindari orang -orang yang dianggap tidak hormat. Dalam kasus Ozera, jatah pengawal mereka telah dihentikan sebagai bagian hukuman untuk apa yang telah orang tua Christian lakukan. Hal tersebut sungguh-sungguh tidak adil. Para keluarga Ozera layak untuk mendapatkan hak yang sama seperti keluarga bangsawan yang lain.

Dia mengangguk. “Kupikir mereka berharap kalau hal ini akan membuatlu diam tenyang Moroi yang bertarung bersama para dhampir. Sejenis sogokan.”
“Kau tidak akan menyerah untuk hal itu, aku yakin.”
“Tidak. Hal ini hanya memberiku seseorang untuk berlatih.” Senyumnya menghilang dan dia menatap tak pasti diantara kami. “Aku harap kau tidak akan merasa terganggu ... tapi aku ingin memintamu untuk menjadi pengawalku, Rose."

Lissa dan aku bertukar pandangan kaget.
“Oh.” Aku tidak tahu apa yang bisa aku ucapkan.
“Aku berharap mereka akan mengizikanmu bersama Lissa,” Tasha segera menambahkan, jelas merasa tidak enak.
“Tapi sang ratu terlihat sangat keras terhadap pilihannya sendiri. Jika hal itu terjadi ...”
“Tidak apa-apa,” kataku. “Jika aku tidak bisa bersama Lissa, makan aku pasti akan memilih bersamamu.” Ucapanku sungguh-sungguh. Aku menginginkan lissa lebih dari siapapun di dunia ini, namun jika mereka memisahkan kami, maka aku jelas akan memilih Tasha daripada bangsawan angkuh lain. Tentu saja, aku sangat yakin kalau penugasanku bersamanya akan menjadi pilihan seburuk penugasanku bersama Lissa. Mereka yang marah padaku karena melarikan diri akan melakukan apa yang mereka bisa untuk meletakkanku pada situasi yang tidak menyenangkan sebisa mungkin. Dan meskipun dia sudah dijanjikan seorang pengawal, aku punya firasat kalau pilihan Tasha tidak akan menjadi prioritas tertinggi. Masa depanku masih menjadi tanda tanya besar.

“Hey,” seru Adrian, kesal karena aku tidak menyebutkan namanya sebagai pilihan keduaku.

Aku menggelengkan kepalaku padanya. “Kau tahu mereka akan menugaskanku dengan seorang wanita. Lagi pula, kau harys melakukan sesuatu dengan hidup mu untuk mendpatkan seorang pengawal.” Aku bermaksud bercanda, namun sebuah rengutan membuatku berpikir, aku mungkin telag menyakiti perasaanya. Sementara itu, Tasha terlihat lega.

“Aku senang kau tidak keberatan. Sebelum hal itu terjadi, aku akan melakukan yang aku bisa untuk menolong kalian berdua.” Dia memutar matanya. “Opiniku tidak banyak membantu.”

Berbagi perasaan kuatir dengan Tasha karena masalah penugasan terlihat sia-sia. Daripada hal itu, aku ingin berterima kasih padanya untuk tawarannya, namun kami kedatangan pengunjung baru. Daniella Ivashkov.

“Adrian,” dia berucap dengan lembut, seubah senyuman kecil di wajahnya, “kau tidak bisa menyimpan Rose dan Vasilisa sekaligus untuk dirimu.” Dia berbalik ke arah Lissa dan aku. “Sang ratu ingin bertemu kalian berdua.”

Menyenangkan. Kami berdiri, namun Adrian memilih untuk duduk, tidak memiliki keinginan untuk mengunjungi bibinya. Tasha pun sepertinya tidak ingin bergabung dengan kami. Melihat Tasha, Daniella menganggu sopan dan kaku. “Nyonya Ozera.” Kemudian daniella berjalan menjauh, mengganggap kami mengikutinya. Aku menemukan ironi saat Daniella terlihat ikhlas menerimaku namun masih menyimpan prasangka menyisihkan Ozera. Kurasa kebaikannya hanya pergi terlalu jauh.

Namun Tasha telah tumbuh dengan daya tahan yang kuat dari sikap tersebut. “Selamat bersenang-senang,” katanya. Dia berbalik menatap Adrian. “Sampanye lagi?”

“Nyonya Ozera,” katanya hormat, “kau dan aku adalah dua akal dengan satu pemikiran.”

Aku ragu sebelum mengikuti Lissa untuk bertemu Tatiana. Aku terfokus pada penamplan anggun Tasha namun hanya tertarik pada sesuatu. “ Itu semua adalah perhiasan perakmu?” tanyaku.

Dia tanpa sadar menyentuh kalung oval yang melingkari lehernya. Jarinya dihiasi dengan tiga cincin.
“Ya,” jawabnya bingung. “Kenapa?”
“Ini mungkin terdengar aneh ... well, mungkin tidak bisa dibandingkan dengan keanehanku biasanya. Tapi bisakah kami, um, meminjam semua itu?”
Lissa menatapku dan tiba-tiba menebak apa maksudku. Kami memerlukan lebih banyak jimat dan haruslah terbuat dari perak. Tasha menaikan alisnya, tapi sama seperti banyak temanku, dia memiliki kemampuan mengagumkan untuk setuju dengan ide yang aneh.

“Tentu,” jawabnya. “Tapi bisakan aku memberikannya padamu nanti? Aku tiidak ingin mencopot semua perhiasanku di tengah-tengah pesta .”
“Tidak masalah.”
“Aku akan mengirimkannya ke kamarmu.”
Setelah hal itu beres, Lissa dan aku berjalan ke tempat dimana Tatiana dikelilingin oleh para pengagum dan mereka yang ingin mencari muka. Daniella pastinya salah dengan mengatakan kalau Tatiana ingin melihat kami berdua. Ingatan saat dia meneriaki tentang Adrian masih membara di kepalaku, dan makan malam di kediaman Ivashkovs tidak bisa membodohiku untuk berpikir kalau sang ratu dan aku mendadak menjadi sahabat.

Namun, herannya, saat ia menatap aku dan Lissa, dia tersenyum. “Vasilissa. Dan Rosemarie.” Dia memberi isyarat agar kami mendekat, dan grup yang mengelilinginya bubar. Aku mendekatinya bersama Lissa, langkahku kaku. Apakah aku akan diteriaki di depan semua orang ini? Translated from Vampire Academy: Spirit Bound Chapter 5

2 comments:

  1. So sorry dengan delay nya terjemahan Spirit Bound ini. :) I promise to myself that I will finish to translate it, since the book isn't release yet. :)

    ReplyDelete
  2. I'm waiting.. Ayooo semangattt...

    ReplyDelete

 

Please, Keep in Touch!

©Copyright 2011 Love Your Life | TNB