Spirit Bound ~ Bahasa Indonesia (Chapter 6) part 1

Friday, August 2, 2013 3 komentar
"K AU TAHU APA YANG KITA BUTUHKAN?”

Aku sedang duduk diantara Eddie dan Lissa, dalam penerbangan kami dari Seattle ke Fairbanks. Sebagai pemilik tubuh yang paling pendek – sedikitnya – dan otak dari rencana ini, aku terjebak di kursi tengah.

“Rencana baru?” tanya Lissa.
“Sebuah keajaiban?” tanya Eddie.
Aku termenung dan memelototi mereka berdua sebelum merespon. Sejak kapan mereka berdua jadi komedian disini?
“Tidak. Barang. Kita perlu perangkat keren jika kita ingin melepaskan ini.” Aku mengetuk-ngetuk cetak biru penjara yang selalu ada di pangkuanku hampir disetiap perjalan kami selama ini. Mikhail telah mengantar kami ke bandara kecil yang satu jam jam jauhnya dari Istana. Kami menaiki penerbangan cepat dan berputar-putar dari sana ke Philadelphia, dan kemudian lanjut ke Seattle dan sekarang ke Fairbanks. Hal ini mengingatkanku tetang sedikit penerbangan gila yang kualami dari Siberia kembali ke Amerika. Perjalanan itu juga transit di Seattle. Aku mulai mempercayai bahwa kota tersebut merupakan pintu masuk untuk mengaburkan keberadaan suatu tempat.

“Kupikir satu-satunya alat yang kita perlukan adalah akal kita,” Eddie termenung. Dia bisa jadi serius dengan pekerjaanya sebagai pengawal sepanjang waktu, namun dia juga bisa mengaktifkan rasa humornya yang renyah di saat santai. Bukan saja ia benar-benar merasa nyaman dengan misi disini, sekarang dia jadi lebih banyak tahu (tapi tidak semua) detil dari rencana ini. Aku tahu dia akan kembali siaga saat kami mendarat. Dapat dimengerti ketika ia kaget saat aku mengatakan kalau kami akan membebaskan Victor Dashkov. Aku tidak mengatakan pada Eddie apapun tentang Dimitri atau roh, hanya membuat Victor muncul dan memainkan peranan yang lebih baik. Kepercayaan Eddie padaku sangat tersirat sehingga ia mempercayai kata-kataku dan tidak mengejar keterangan lebih jauh. Aku tidak tahu bagaimana reaksinya seandainya dia mempelajari kebenarannya.

“Pada akhirnya, kita akan memerlukan sebuah GPS,” kataku. “Hanya ada garis lintang dan bujur disini. Tidak ada petunjuk yang sesungguhnya.”

“Harusnya tidak sulit,” kata Lissa, mengubah sebuah gelang terus dan terus di tangannya. Dia membuka bakinya dan menyebarkan perhiasan Tasha di atasnya.

“Bahkan Alaska memiliki teknologi yang lebih canggih, aku yakin itu.” Lissa juga berubah menjadi lebih lucu, bahkan dengan perasaan gelisah yang terpancar melalui ikatan kami.

Perasaan nyaman Eddie mulai sedikit memudar. “Kuharap kau tidak berpikir tentang senjata atau sesuatu yang serupa.”

“Tidak. Tentu saja tidak. Jika benda ini bekerja seperti yang kita inginkan, tidak ada satupun yang akan tahu kalau kita disana.” Konfrontasi secara fisik pasti ada, tapi aku berharap bisa meminimalisasi luka serius.

Lissa menarik nafas dan menyerahkan gelang itu. Dia khawatir karena sebagian besar rencana ku bergantung pada jimatnya – secara harfiah dan metafora. “Aku tidak tahu apakah ini akan bekerja, tapi benda ini mungkin akan memberikanmu daya tahan lebih.”

Aku mengambil gelang itu dan memasangnya di pergelangan tanganku. Aku tidak merasakan apa pun, namun aku hanya jarang menggunakan objek jimat.

Aku meninggalkan Adrian sebuah catatan yang mengatakan kalau aku dan Lissa ingin kabur dengan alasan kalau kami sedang menuju ‘pintu gerbang wanita’ sebelum tugasku dan kunjungan kuliah Lissa. Aku tahu dia akan tersakiti. Sudut pandang wanita bisa membawa begitu banyak beban berat, namun dia akan merasa terluka karena tidak diundang dalam perjalanan menegangkan ini – jika dia benar-benar percaya kalau kami memang melakukannya. Dia mungkin memahami diriku dengan baik dengan menebak bahwa kebanyakan aksiku memiliki motif tersembunyi. Aku berharap kalau dia akan menyebarkan cerita kepada para pegawai istana saat ketidakhadiran kami sudah terdeteksi. Kami tetap akan mendapatkan masalah, namun cerita tentang akhir minggu yang liar lebih baik dari pada cerita tentang membatu seseorang kabur dari penjara. Dan sejujurnya, bagaimana bisa hal-hal menjadi semakin buruk untukku? Satu kelemahanku disini adalah kalau Adrian masih bisa mengunjungi mimpi-mimpiku dan memeriksa tampilanku dalam mimpi itu untuk mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi. Itu adalah salah satu hal yang semakin menarik – dan kadang-kadang menyebalkan – dari kemampuan roh.

Lissa belum mempelajari bagaimana cara berjalan dalam mimpi, namun dia telah mengira-ngira untuk memahami prinsp-prinsp dasarnya. Antara hal itu dengan kompulsi, dia mencoba untuk memantrai sebuah gelang yang bisa menghalangi kekuatan Adrian saat aku tidur nanti.

Pesawat kami mulai turun di Fairbanks, dan aku menatap jejeran cemara-cemara tinggi dan tanah hijau yang membentang dari luar jendela. Dalam pikiran Lissa, aku membaca bagaimana ia setengah berharap adanya gletser dan gundukan-gundukan salju, daripada mengetahui bahwa tempat ini sedang musim panas. Setelah Siberia, aku telah belajar untuk tetap membuka pikiran tentang stereotip lokal. Fokus terbesarku adalah mataharinya. Matahari tengah terik saat kami meninggalkan Istana, dan karena perjalanan kami membawa kami ke arah barat, perbedaan zona waktu mengartikan bahwa sang matahari tetap akan bersama kami. Sekarang, meskipun sudah hampir jam sembilan malam, kami disambut langit biru cerah, terima kasih kepada garis lintang utara kita. Ini seperti selimut pengaman raksasa. Aku belum menyebutkan hal ini kepada Lissa atau Eddie, namun sepertinya Dimitri memiliki mata-mata dimana-mana. Aku tidak tersentuh saat berada di St. Vladimir dan di Istana,namun surat Dimitri jelas menyatakan bahwa ia akan menunggu saat aku meninggalkan batas-batas aman tersebut. Aku tidak tahu sejauh apa tingkat logistik yang dimilikinya, namun manusia yang memata-matai Istana di siang hari tidak akan mengejutkanku. Dan meskipun aku pergi dengan bersembunyi di dalam sebuah truk, ada kemunkinan kuat kalau Dimitri tahu dan telah siap untuk mengejar. Namun kenyataan bahwa para penjaga penjara akan membuat kami aman juga cukup meringankan bebanku. Paling tidak kami memiliki beberapa jam di malam hari untuk waspada, dan jika kami bisa berhasil menyelesaikan hal ini dengan cepat, kami akan keluar dari Alaska dalam kondisi seburuk apapun dan kapanpun. Tentu saja, hal itu bukan lah hal yang bagus. Kami kalah dengan matahari.

Permasalahan pertama kami datang segera setelah kami mendarat , kami mencoba untuk menyewa sebuah mobil. Eddie dan aku sudah berusia delapan belas tahun, tapi tidak ada satu pun perusahaan penyewaan mobil yang mau menyewakan mobil untuk siapa pun yang masih dianggap begitu muda. Setelah penolakan untuk ketiga kalinya, kemarahanku mulai memuncak. Siapa yang pernah berpikir kalau rencana kami akan tertunda karena alasan yang begitu konyol? Akhirnya, pada penyewaan keempat, seorang wanita dengan ragu mengatakan pada kami kalau ada seorang pria yang tinggal sekitar 1 mil dari bandara yang mungkin mau menyewakan mobilnya untuk kami jika kami memiliki sebuah kartu kredit dan memberi deposit yang cukup besar.

Kami berjalan kaki dalam cuaca yang nyaman, namun aku bisa katakan kalau sang matahari mulai mengganggu Lissa sepanjang perjalanan kami mencapai tujuan. Bud – dari Penyewaan mobil Bud – tidak terlihat cukup kokoh, sekokoh yang kami harapkan dan jelas ia akan menyewakan mobil untuk kami jika kami punya banyak uang. Dari sana, kami mendapatkan sebuah hotel sederhana dan kembali kepada rencana awal kami.

Semua informasi yang kami miliki mengindikasikan kalau penjara itu berjalan sesuai jadwal vampir, yang berarti sekarang adalah waktu mereka tengah aktif beraktivitas. Rencana kami adalah tetap tinggal di hotel sampai besok hari, saat malam bagi para “Moroi” datang, dan tidur sebelum berangkat. Ini memberikan waktu lebih bagi Lissa untuk melatih sihirnya. Kamar kami memiliki pertahanan yang rendah. Tidurku bebas dari Adrian, sehingga membuatku merasa bersyukur karena berarti dia telah menerima kalau kami sedang dalam perjalanan khusus cewek atau karena ia tidak bisa menembus kekuatan dari gelang buatan Lissa.

Di pagi hari, kami segera menghabiskan bebeerapa donut untuk sarapan dan memakannya dengan mata yang masih setengah terbuka. Berpacu mengejar jadwal vampir, cukup membuat kami semua sedikit lupa diri. Gula membantu kami untuk memulai dengan semangat. Aku dan Eddie meninggalkan Lissa sekitar jam sepuluh untuk melakukan beberapa pengintaian. Kami telah membeli GPS yang kudambakan dan beberapa benda di toko olahraga di pinggir jalan dan menggunakannya untuk menunjukkan jalanan kota terpencil yang kelihatannya tidak mengarah kemanapun. Saat GPS menunjukkan kalau kami berada satu mil dari lokasi penjara berada, kami keluar ke arah jalan kecil yang kotor dan mengendap-endap dengan berjalan melintasi sebuah lapangan yang dipenuhi rerumputan tinggi yang membentang tak ada habis-habisnya menutupi kami.

“Kupikir Alaska adalah area tundra,” kata Eddie, berjalan sambil menghentakkan kaki melalui batang-batang yang tinggi. Langit berwarna biru dan cerah lagi, dengan hanya beberapa awan yang tdak bisa melakukan apapun untuk menjauhkan sang matahari. Awalnya aku mengenakan jaket yang tipis tapi sekarang aku mengikatkannya ke pinggangku karena keringat yang mulai mengucur. Kadang-kadang kami disambut embusan angin berputar melalui permukaan rumput yang mendera disekitar rambutku.

“Kurasa tidak di semua bagian. Atau mungkin kita harus pergi lebh jauh ke arah utara. Oh, hey, ini terlihat menjanjikan.”

Kami berhenti di depan sebuah pagar kawat berduri tinggi dengan sebuah tanda raksasa yang bertuliskan DAERAH PRIBADI – PERSONIL YANG TIDAK MEMILIKI IZIN DILARANG MASUK. Tulisannya berwarna merah, sepertinya untuk meyakinkan kalau mereka benar-benar serius. Kalau aku pribadi, aku akan menambahkan sebuah gambar tengkorak dan tulang menyilang jika ingin meninggalkan pesan mendesak di rumah.

Aku dan Eddie mempelajari pagar itu beberapa saat, kemudian kami saling bertatapan mengisyaratakan untuk mundur. “Lissa akan membantu menyembuhkan luka apapun yang akan kita dapatkan,” kataku dengan penuh harapan.

Menaiki pagar kawat berduri bukanlah hal yang tidak mungkin, tapi tetap saja tidak menyenangkan. Kulemparkan jaketku ke atas kawat yang akan kupanjat supaya bisa melindungiku, tapi aku masih saja mendapatkan beberapa goresan dan pakaian yang sedikit terkoyak. Saat aku sudah berada di atas, aku melompat ke bawah, memilih langsung melompat saja daripada harus memanjat pagar itu untuk turun. Eddie melakukan hal yang sama, menyeringai saat terkena benturan keras. Kami berjalan lebih cepat dan kemudian bayangan hitam bangunan nampak dipandangan kami. Kami berdua kemudian berhenti dan berlutut, mencari apa yang bisa menutupi kami di dalam rerumputan. Data penjara memberikan indikasi kalau mereka memiliki kamera pengintai di bagian luar, yang artinya kami bisa terdeteksi jika terlalu dekat. Aku membawa teropong canggih dengan GPS dan menggunakannya sekarang, mempelajari bagian luar bangunan.

Teropongnya bagus – sangat bagus -- sangat sepadan dengan harganya. Detil yang diberikannya sangat mengagumkan. Seperti banyak kreasi Moroi yang lain, bangunannya merupakan sebuah perpaduan antara antik dan modern. Dindingnya terbuat dari blok-blok batu abu-abu yang menakutkan dan dari keseluruhannya hampir tidak menunjukkan bahwa bangunan ini adalah sebuah penjara dengan atapnya yang baru saja terlihat seperti terbuka. Sepasang benda bergerak bolak-balik disepanjang dinding bagian atasnya, mata yang mengawasi melalui kamera. Tempat itu terlihat seperti sebuah bentengm tak tertembus dan tak terelakkan. Benar-benar panta berada di atas jurang berbatu-batu, dengan langit hitam mengancam dibelakangnya. Lapangan dan matahari tidak terlihat disini.

Aku menyerahkan teropong itu pada Eddie. Dia melakukan penilaian sendiri dan menunjuk ke arah kir. “Disana.” Sambil menyipitkan mata, aku baru saja melihat sebuah truk atau SUV dikendarai menuju penjara. Kendaraan itu berputar ke arah belakang dan kemudian menghilang dari pandangan. “Satu-satunya jalan masuk kita,” aku berguman, mengingat kembali cetak birunya,. Kami sudah tahu kalau kami tdak punya kesempatan untuk memanjat dinding atau bahkan mendekat dengan berjalan kaki tanpa diketahui. Kami perlu berjalan melalui pintu depan dan disitulah rencana kami menjadi sedikit samar.

Eddie menurunkan teropongnya dan melirik kearah ku dengan alis berkerut. “Kau tahu? Aku sungguh-sungguh dengan apa yang sudah aku katakan. Aku mempercayaimu. Apapun alasan kau melakukan hal ini, aku yakin pasti dengan alasan yang baik. Tapi sebelum kita mula bergerak, apa kau yakin kalau hal ini yang kau inginkan?”

Aku tertawa kasar. “Ingin? Tidak. Tapi ini adalah hal yang perlu kita lakukan.” Dia mengangguk. “Cukup baik.”

Kami mengamati penjara itu sedikit lebih lama, bergerak disekitarnya untuk mendapatkan sudut pandang yang berbeda sambil tetap menjaga batasnya. Skenario rencananya seperti apa yang sudah kami harapkan, namun memiliki penglihatan tiga dimensi tetap saja masih sangat membantu untuk dilakukan.

Setelah sekitar setengah jam, kam kembali ke hotel. Lissa duduk sambil menyilangkan kakinya di salah satu tempat tidur, masih mengerjakan jimatnya. Perasaan yang datang darinya terasa hangat dan puas. Roh selalu bisa membuatnya merasa nyaman – bahkan jika dia mendapatkan efek sampingnya nanti – dan dia rasa dia sudah membuat kemajuan.
“Adrian menelponku dua kali,” katanya saat kami masuk.
“Tapi kau tidak menjawab?”
“Tidak. Kasihan sekali.”
Aku mengangkat bahu. “Lebih baik seperti itu.”

Diterjemahkan dari novel Spirit Bound karya Richelle Mead oleh Duestinae89

3 comments:

  1. @Zahara Ramadani, segera ya sis. Thanks to read and follow it. :)

    ReplyDelete
  2. Translating it yourself? Wow.. Great job.. Keep going! :D It's a great story, though..

    ReplyDelete

 

Please, Keep in Touch!

©Copyright 2011 Love Your Life | TNB