Spirit Bound ~ Bahasa Indonesia (Chapter 7) part I

Saturday, May 3, 2014 2 komentar


“TIDAK DENGAN GIGIMU!,” aku menambahkan buru-buru. “Lemparkan dirimu padaku. Piting aku dengan lenganmu. Apapun yang bisa kau lakukan.” 

Victor Dashkov bukan pria bodoh. Orang lain mungkin akan ragu atau bertanya banyak hal. Dia tidak. Dia mungkin tidak tahu apa tepatnya yang sedang terjadi, namun dia bisa merasakan bahwa ini adalah sebuah kesempatan untuk bebas. Bahkan mungkin satu-satunya kesempatan yang bisa ia dapatkan. Dia adalah seseorang yang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya mendalangi alur yang  rumit, jadi dia sudah terlatih dalam hal menyelipkan diri dalam aliran alur  itu.

Mengangkat tangannya semampu yang ia bisa, ia menyergapku, membuat sebuah pertunjukkan hebat karena mencoba mencekikku dengan rantai diantara borgolnya. Saat dia melakukannya, aku menjerit kesakitan. Segera, para penjaga yang ada disana mencoba mengehentikan tahanan gila ini yang tanpa alasan menyerang seorang gadis yang malang. Namun saat mereka mencoba menundukkannya, aku melompat dan menyerang mereka. Bahkan meskipun mereka sudah menduga kalau aku berbahaya – dan mereka tidak menduganya – aku memiliki banyak unsur kejutan sehingga membuat mereka tidak sempat bereaksi. Aku hampir merasa bersalah karena hal ini tidak adil untuk mereka.

Pukulan pertamaku sangat keras sehingga dia kehilangan pegangan terhadap Victor dan terbang ke belakang, menabrak dinding di dekat Lissa sehingga ia mengkompulsi Nortwood dengan ketakutan untuk tetap tenang dan tidak menelepon siapapun di tengah kekacauan ini. Penjaga yang satunya memiliki sedikit waktu untuk bereaksi, tapi dia masih terhitung lambat saat melepaskan Victor dan berbalik ke arahku. Aku menggunakan kesempatan pembukaannya dan berhasil memukulnya, memaksa kami untuk terlibat dalam sebuah pertandingan gulat. Dia besar dan tangguh, dan sekali dia menganggapku sebagai ancaman, dia tidak menahan diri. Sebuah pukulan di bahuku mengirimkan rasa sakit melalui lenganku, dan aku membalas dengan sebuah serangan lutut cepat di perutnya. Sementara itu, rekannya berdiri mendatangi kami. Aku harus mengakhirinya dengan cepat, tidak hanya untuk kebaikan diriku sendiri tapi juga karena mereka tanpa ragu akan memanggil bala bantuan jika diberikan kesempatan. Aku menarik penjaga yang terdekat denganku dan mendorongnya ke dinding sekeras yang aku bisa – dengan kepala terlebih dahulu. Dia terhuyung-huyung, bingung, dan aku melakukannya lagi, sampai rekannya menghampiriku. Penjaga pertama itu merosot ke tanah, tidak sadar. Aku benci melakukannya, tapi bagian dari latihanku adalah mempelajari untuk membedakan antara melumpuhkan dan membunuh. Dia harusnya hanya akan merasa sakit kepala. Kuharap begitu. Namun penjaga yang satunya terlihat sudah dalam posisi menyerang, sehingga aku dan dia berputar-putar, mencari kesempatan dan mengelak serangan masing-masing.

“Aku tidak bisa menjatuhkannya!” aku berseru memanggil Lissa. “Kita memerlukannya. Pengaruhi dia.”

Respon Lissa datang melalui ikatan kami. Dia bisa mengkompulsi dua orang dalam waktu yang sama,  tapi hal ini memerlukan banyak tenaga. Kami belum keluar dari sini dan Lissa tidak bisa mengambil resiko untuk membakar dirinya sendiri secepat ini. Rasa frustasi menggantikan ketakutan dalam dirinya.

“Nothwood, tidurlah,” Lissa membentaknya. “Disana. Diatas mejamu. Kau sangat kelelahan dan akan tidur selama berjam-jam.”
Dari ujung mataku, aku bisa melihat Northwood terduduk, kepalanya membentur meja dengan suara thump. Semua orang yang bekerja di ruangan ini akan mendapatkan geger otak setelah kami masuk kesini. Aku melemparkan diriku pada sang penjaga, menggunakan seluruh berat badanku untuk membuatnya tepat berada dalam garis penglihatan Lissa. Lissa masuk ke dalam pertarungan kami. Penjaga itu meliriknya dengan kaget, dan hanya itu yang Lissa perlukan.

“Berhenti!”
Si penjaga tidak merespon secepat Northwood, namun dia mulai ragu. Laki-laki ini lebih kebal.
“Berhenti berkelahi!” Lissa mengulanginya dengan lebih tegas, mengintensifkan perintahnya. Kuat atau tidak, dia tidak bisa mengelak dari kemampuan roh sebanyak itu. Lengannya jatuh di sisi tubuhnya, dan dia berhenti bergulat denganku. Aku mundur untuk menarik nafas, merapikan rambut palsuku di tempat yang seharusnya.
“Menahan yang satu ini bisa jadi menyusahkan,” kata Lissa padaku.
“Susah selama lima menit atau lima jam?”
“Tengah-tengahnya.”
“Kalau begitu ayo bergerak. Ambil kunci Victor darinya.”
Lissa memerintah si penjaga untuk memberikannya kunci dari rantai Victor. Penjaga itu mengatakan kalau penjaga yang satunya yang memilikinya. Tentu saja aku langsung menggeledah tubuh tidak sadar itu – terima kasih Tuhan, dia masih bernafas teratur – dan mengambil kunci itu. Sekarang aku menarik seluruh perhatianku ke Victor. Sekali pertarungannya dimulai, Victor mundur dari alur perkelahian dan memperhatikan dalam diam sementara segala kemungkinan baru terbentuk di dalam pikirannya yang berputar.

Aku mendekatinya dengan memasang  “wajah sangar”ku saat aku memegang kunci itu. “Aku akan membuka borgolmu sekarang,” kataku padanya, dalam suara yang manis sekaligus mengancam. “Kau akan melakukan persis seperti apa yang aku perintahkan. Kau tidak akan lari, memulai perkelahian, atau apapun yang mengganggu rencana kami.”

“Oh? Apa kau sekarang menggunakan kompulsi juga, Rose?” tanyanya kering.
“Aku tidak memerlukannya.” Aku membuka belenggunya. “Aku bisa membuatmu tidak sadar semudah membuat laki-laki itu pingsan dan menyeretmu keluar. Tidak ada bedanya bagiku."
Borgol dan rantai yang berat itu jatuh di lantai. Tampilan licik dan sombong masih bertahan di wajahnya, namun tangannya dengan perlahan menyentuh pergelangan tangannya sendiri. Aku kemudian menyadari ada bilur-bilur  dan noda biru di kedua pergelangan tangannya. Belenggu-belenggu tersebut tidak dibuat untuk kenyamanan, namun aku menolak untuk bersimpati padanya. Dia menatap kami.

“Betapa menariknya,” dia tertawa geli. “Dari semua orang yang mencoba menyelamatkanku, aku tidak pernah memikirkan kalian berdua ... namun, jika dipikir kembali, kalian lah yang mungkin paling mampu melakukannnya.”

“Kami tidak membutuhkan komentarmu, Hannibal,” aku menyentakknya. “Dan jangan gunakan kata menyelamatkan. Kata itu membuat mu seolah menjadi pahlawan yang salah tahan.”
Dia menaikan sebelah alisnya, seolah dia yakin bahwa itulah kejadian yang sebenarnya terjadi.  Namun, bukannya mendebat kami, dia mengangguk ke arah Bradley, yang sebenarnya tertidur selama pertarungan. Dalam kondisi pengaruh obat-obatannya, kompulsi Lissa  sudah lebih dari cukup untuk membuatnya tidak sadar.

“Berikan dia padaku,” kata Victor.
“Apa?” aku berseru. “Kita tidak punya waktu untuk ni!”
“Dan aku tidak punya kekuatan untuk apapun yang ada dalam pikiranmu,” desis Victor. Topeng kepuasan diri dan tahu segala hal menghilang dari wajahnya, berganti dengan tampang kejam dan putus asa. “Tahanan itu lebih dari sekedar jeruji besi, Rose. Mereka membuat kami kelaparan dari makanan dan darah, mencoba membuat kami tetap lemah. Berjalan kesini adalah satu-satunya latihan yang aku dapatkan, dan itu perlu usaha yang cukup keras. Kecuali kalau kau benar-benar berencana untuk menyeretku keluar dari sini, berikan aku darah!”

Lissa menyela respon yang bisa kubuat. “Lakukan dengan cepat.”
Aku menatapnya heran. Aku hampir melarang Victor, namun melalui ikatan kami, aku merasakan campuran perasaan aneh dari Lissa. Rasa iba dan ... mengerti. Oh, dia masih membenci Victor, tentu saja. Tapi dia juga paham bagaimana rasanya hidup dengan darah terbatas.

Untungnya, Victor sangat cepat. Mulutnya sudah berada di leher manusia itu bahkan sebelum Lissa selesai bicara. Kaget atau tidak, merasakan gigi di lehernya, cukup kuat untuk membangunkan Bradley. Dia terbangun, dan kemudian wajahnya segera berubah menjadi pendonor bahagia yang telah terkena endorfin vampir. Hanya sedikit darah yang diperlukan oleh Victor, namun kemudian mata Bradley mulai membelalak terkejut, aku sadar kalau Victor mengambl lebih dari sekedar minuman singkat. Aku melompat maju dan menyentak Victor menjauh dari pendonor yang terkejut itu.
“Apa yang kau lakukan?”  aku membentaknya, menggoyangkan badannya dengan keras. Itu adalah hal yang ingin aku lakukan sejak dulu. “Apa kau pikir kau bisa mengeringkannya dan menjadi Strigoi tepat di hadapan kami?”
“Hampir tidak,” jawab Victor, meringis karena peganganku terhadapnya.
“Bukan itu yang ia lakukan,” kata Lissa. “Dia hanya kehilangan kendali beberapa saat.”

Nafsu darahnya terpuaskan, sikap lembut Victor telah kembali. “Ah, Vasilisa. Selalu mengerti.”
“Jangan membuat asumsi apapun,” jawab Lissa menggeram.

Aku menembakkan tatapanku ke arah mereka berdua. “Kita harus pergi. Sekarang.” Aku berbalik ke arah si penjaga yang sudah dikompulsi. “Bawa kami ke ruangan dimana mereka memonitor semua rekaman keamanan.”
Dia tidak merespon pada perintahku, dan dengan sebuah desahan, aku menatap dengan berharap ke arah Lissa. Dia mengulangi perintahku dan penjaga itu segera mulai meninggalkan ruangan. Adrenalinku berpacu cepat untuk bertarung, dan aku merasa bingung untuk menyelesaikan ini semua dan mengeluarkan kami semua dari sini. Melalui ikatan kami, aku merasakan kegugupan Lissa. Dia mungkin membela kebutuhan darah untuk Victor, namun saat kami berjalan, dia menjaga jarak sejauh yang ia bisa dari Victor. Kesadaran yang tajam dari siapa dia dan apa yang telah ia lakukan telah membuat Lissa ngeri. Aku berharap aku bisa menenangkannya, tapi kami tidak punya waktu.

Kami mengikuti si penjaga – Lissa menanyakan namanya: Giovanni – melalui lebih banyak ruangan dan pemeriksaan keamanan. Rute yang ditunjukkannya pada kami merupakan rute memutar sisi penjara, bukan melalui tahanan. Aku menahan nafasku hampir disepanjang waktu, takut kalau kami bertemu seseorang. Begitu banyak faktor yang bekerja melawan kami; kami tidak memerlukannya juga. Meskipun begitu, kami berpegang pada keberuntungan kami, kami tidak bertemu siapapun – lagi, mungkin dikarenakan kami melakukan semua ini di akhir malam dan tidak melewati zona dengan keamanan tinggi.

Lissa dan Mia telah membuat penjaga kerajaan mengahapus rekaman keamanan di istana, namun aku tidak menyaksikan prosesnya. Sekarang, saat Giovanni mengantar kami ke ruang pengawasan penjara, aku tidak bisa menahan nafas kecilku. Monitor-monitor menutupi dinding, dan konsol dengan tombol yang rumit serta beberapa saklar di depan mereka. Meja-meja ditutupi komputer dimana-mana. Aku merasa seolah ruangan ini memiliki kemampuan untuk meluncur ke luar angkasa. Semua yang ada di penjara berada dalam pengawasan : setiap sel, beberapa lorong, dan bahkan kantor sang sipir, dimana Eddie duduk dan mencoba mengobrol kecil dengan Theo. Dua pengawal lain ada disini, dan aku bertanya-tanya jika mereka telah melihat kami di lorong. Tapi tidak – mereka terlalu terpaku kepada sesuatu yang lain: sebuah kamera yang berbalik menghadap dinding. Itu adalah kamera yang telah  aku atur di kamar donor.

Mereka mencondongkan badan ke arah layar itu, dan satu dari mereka sedang berkata bagaimana kalau mereka memanggil seseorang untuk mengeceknya kesana. Kemudian mereka berdua mendongak dan menyadari keberadaan kami.
“Bantu Rose menundukkan mereka,” Lissa memberi perintah kepada Giovanni.
Ada keraguan disana, lagi. Kami seharusnya memilih “pembantu” dengan keinginan yang lebih lemah, namun Lissa sama sekali tidak tahu saat ia memilihnya.

Seperti sebelumnya, dia bahkan memunculkan aksi. Juga seperti yang sebelumnya, kekagetan dialami selama menundukkan kedua pengawal ini. Aku adalah orang asing – seketika menaikan tingkat kewaspadaan mereka – namun masih muncul sebagai manusia. Giovanni adalah teman kerja mereka; mereka tidak mengira akan adanya serangan darinya. Mekskipun begitu, hal itu tidak membuat mereka mudah untuk ditaklukkan. Memberikan bantuan selama perjalanan ini dan Giovanni cukup bagus dalam pekerjaannya. Kami membuat satu dari pengawal itu tidak sadar dengan cepat, Giovanni menggunakan cekikan untuk menghentikan aliran pernafasan lelaki itu sampai dia pingsan. Pengawal yang lain menjaga jarak dari kami, dan aku menyadari kalau matanya terus menerus bergerak ke arah salah satu dinding.

Dinding itu memiliki sebuah alat pemadam kebakaran, sebuah tombol lampu, dan sebuah tombol biru berbentuk bulat.
“Itu alarm!” seru Victor bersamaan dengan si pengawal menerjang tombol itu. Giovanni dan aku menangkapnya pada saat yang sama, menghentikannya tepat sebelum tangannya mampu menjamah tombol yang bisa mengirimkan sepasukan pengawal untuk menyerang kami. Sebuah pukulan di kepalanya membuat si pengawal ini juga pingsan.  Dengan menghitung tiap orang yang aku kalahkan untuk menerobos penjara ini, rasa kejang karena rasa bersalah dan mual melilit kuat dan semakin kuat di dalam perutku. Para pengawal adalah tokoh baiknya, dan aku tidak bisa menolak untuk berpikir bahwa aku sedang bertarung di sisi kejahatan.

Sekarang tinggal kami disini, Lissa sudah tahu apa langkah selanjutnya.
“Giovanni, matikan semua kamera dan hapus semua rekaman di jam-jam terakhir.”
Ada keraguan yang besar di diri Giovanni kali ini. Membuatnya melawan teman-temannya cukup memerlukan banyak kekuatan kompulsi Lissa. Lissa masih menjaga kontrol dirinya namun dia mulai semakin lelah, dan ini hanya membuatnya semakin kesulitan untuk membuat Giovanni menuruti perintah kami.

“Lakukan,” Victor menggeram, berdiri di samping Lissa. Lissa tersentak dengan jaraknya yang begitu dekat dengan Victor, namun saat tatapan Victor bergabung dengan tatapannya, Giovanni memenuhi perintah itu dan mulai menyentuh saklar di atas konsol.  Victor tidak bisa menandingi kekuatan Lissa dengan tatapan lama, namun ledakan kompulsi kecilnya mampu menguatkan kompulsi Lissa.

Satu demi satu, monitor berubah menjadi hitam, dan kemudian Giovanni mengetikkan beberapa perintah di komputer dimana rekaman dari kamera disimpan.

Lampu merah tanda kesalahan  menyala di atas konsol, namun tidak ada siapa pun disini yang memperbaikinya sekarang.
“Meskipun dia menghapusnya, ada kemungkinan seseorang bisa mengembalikan data dari hard drive nya,” Victor mengingatkan.

“Hanya ini kesempatan yang bisa kita dapatkan,” kataku kesal. “Memprogram ulang atau apapun tidak ada dalam kemampuanku.”

Victor memutar matanya. “Mungkin, namun penghancuran jelas bisa menghapus semuanya.”

Perlu waktu beberapa lama untuk memahami apa yang dia maksud, namun kemudian aku paham. Dengan menarik nafas, aku mengambil alat pemadam kebakaran dari dinding dan memukul komputer itu hingga menjadi bubur dan tidak menyisakan apa-apa lagi kecuali beberapa pecahan plastik dan potongan-potongan logam. Lissa meringis setiap kali aku memukul dan terus melirik ke arah pintu.

“Kuharap ruangan ini kedap suara,” dia bergumam.
“Kelihatannya begitu,” aku menjawab dengan percaya diri. “Ruangan ini terlihat kokoh,” kataku  “Dan sekarang waktunya pergi.”

Lissa memerintahkan Giovanni untuk mengembalikan kami ke kantor sipir di depan penjara. Dia patuh, membimbing kami kembali melewati lorong berliku yang sudah kami lewati sebelumnya. Kode dan kartu pengamannya membantu kami melewati setiap pos pemeriksaan.

“Kukira kamu tidak bisa memaksa Theo untuk membawa kita keluar?” Aku bertanya pada Lissa.
Mulutnya membentuk garis suram. Dia menggelengkan kepalanya. “Aku bahkan tidak tahu seberapa lama aku bisa mempengaruhi Giovanni. Aku belum pernah menggunakan seseorang sebagai boneka sebelumnya.”
“Tidak apa-apa,” kataku, mencoba meyakinkan kami berdua. “Kita hampir selesai dengan semua ini.”

Tapi kami akan bertemu dengan perkelahian yang lain dengan tangan kami. Setelah menghajar separuh Strigoi di Russia, aku masih merasa nyaman dengan kekuatannku sendiri, namun perasaan bersalah itu tidak pernah meninggalkanku. Dan jika kami menghadapi selusin penjaga, bahkan kekuatanku pun tidak akan bisa terus digunakan.

Aku sudah kehilangan arah, jauh dari cetak biru yang sudah kupersiapkan, namun arahnya berubah menjadi rute Giovanni yang bagaimanapun membimbing kami kembali ke kantor utama melalu sebuah blok dari semua sel. Tanda yang terbaca diatasnya PERINGATAN – SEKARANG MEMASUKI DAERAH TAHANAN (GANGGUAN KEJIWAAN).
“Gangguan jiwa?”
“Tentu saja,” Victor bersungut. “Kau pikir kemana lagi mereka akan mengirimkan tahanan yang memiliki masalah kejiwaan?”
“Ke remuh sakit,” sahutku, menahan lelucon bahwa  semua kriminal memang memiliki masalah kejiwaan.
“Well, tidak selalu –“
“Berhenti!”
Lissa memotong perkataannya dan mendadak berhenti tepat di depan pintu. Kami hampir saja menabraknya. Dia tersentak menjauh, mengambil beberapa langkah mundur.
“Ada yang salah?” tanyaku.
Lissa berbalik ke arah Giovanni. “Temukan jalan lain menuju kantor.”
“Ini jalan tercepat,” Giovanni menentang.
Lissa perlahan menggelengkan kepalanya. “Aku tidak peduli. Cari jalan lain, jalan yang tidak membuat kita bertemu orang lain.”
Giovanni mengerutkan mukanya, namun kompulsi Lissa masih menguasainya. Dia mendadak berbalik, dan kami bergegas mengikutinya.
“Ada yang salah?” aku mengulangi pertanyaanku.  Pikiran Lissa terlalu kusut untukku pahami alasan dari tindakannya ini. Dia meringis.
“Aku merasakan aura roh dibelakang sana.”

Diterjemahkan langsung dari novel Richelle Mead, Spirit Bound oleh Duestinae89 a.k.a Noor Saadah hehehe. I hope you will like it. And thanks for waiting and reading. I'll continue when this post reach 200 readers. Thanks  ;)

2 comments:

  1. shadow kissnya dilanjuti dong:(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dear Anonim,
      Sayang sekali untuk Shadow Kiss nya ngga bisa dilanjutkan lagi, karena buku versi bahasa Indonesianya sudah terbit. :)
      Sekarang lebih ke Spirit Bound karena bukunya tidak ada dalam versi bahasa Indonesia.

      Thanks for reading :)

      Delete

 

Please, Keep in Touch!

©Copyright 2011 Love Your Life | TNB