Spirit Bound ~ Bahasa Indonesia (Chapter 8) part 2

Tuesday, October 21, 2014 3 komentar


Aku dan Eddie duduk di kursi belakang dengan Victor diantara kami, dan aku melirik ke arahnya. “Darimana ide itu berasal?” 

“Tempat itu memberikan jarak diantara kita dengan Witching Hour.” Eddie mendadak terlihat malu-malu. “Dan aku selalu ingin tinggal disana. Maksudku, jika kau bisa datang ke Vegas kenapa tidak tinggal di dalam sebuah piramida?”

“Kau tidak bisa menyalahkan logika itu,” kata Lissa.
“Kalau begitu ke The Luxor,” kata si sopir.

Kami berkendara dalam diam, kami semua – sebenarnya kecuali Victor – memandang kagum pemandangan melalui jendela mobil. Meskipun di siang hari, jalanan Las Vegas tetap penuh dengan manusia. Yang muda dan glamor berjalan bersisian dengan pasangan tua dari Amerika tengah, yang mungkin menabung dan menabung untuk mewujudkan perjalanan ini. Hotel-hotel dan kasino yang kami lalui sangat besar, mewah, dan mengundang minat.  Dan saat kami sampai di Luxor, bentuknya memang seperti apa yang Eddie katakan. Sebuah hotel yang berbentuk Piramida. 

Aku memandang puncaknya saat kami keluar dari mobil, mencoba dengan keras agar rahangku tidak ternganga seperti aku dulu yang seorang turis dengan mata berbinar-binar. Aku membayar sang sopir dan kami bergerak masuk. Aku tidak tahu berapa lama kami akan tinggal, tapi kami jelas membutuhkan sebuah ruangan sebagai basis operasi kami. Melangkah masuk ke dalam hotel seolah membawaku kembali ke klub-klub di Saint Petersburg dan Novosibirsk. Lampu-lampu berkedip dan aroma rokok yang berhamburan. Dan suara berisik. Berisik, berisik, berisik. Mesin koin yang berbunyi dan berdering, kepingan-kepingan koin yang berjatuhan, orang-orang yang berteriak dengan cemas ataupun senang, dan suara dengungan rendah dari pecakapan-percakapan yang memenuhi ruangan seperti suara senandung para lebah. Aku meringis. Rasangan-rangsangan ini memarut inderaku.

Kami melewati sisi kasino untuk mencapai meja resepsionis, dimana si petugas tidak mengerjapkan matanya satu kali pun  saat ia menatap tiga orang remaja ini dengan seorang pria tua memesan satu buah kamar bersama. Aku harus memahami kalau disini mereka melihat dan memahami semua hal. 

Kamar kami berukuran sedang, dengan dua tempat tidur ganda, dan entah mengapa, kami begitu beruntung mendapatkan pemandangan yang menakjubkan. Lissa berdiri di depan jendela, terpikat dengan pemandangan manusia-manusia dan mobil-mobil di atas jalanan Strip di bawah, namun aku langsung masuk kepada pembicaraan bisnis kami.

“Baiklah, telepon dia,” aku memerintahkan Victor. Dia sudah duduk santai di salah satu tempat tidur, tangan menyilang dengan ekspresi tenang, seolah dia sedang dalam masa liburan. Meskipun ia tersenyum puas, aku bisa melihat kelelahan yang terukir di wajahnya.

Bahkan meski dengan isi ulang darah untuknya, pelarian dan perjalanan panjang ini benar-benar melelahkan, dan efek dari penyakitnya terlihat mulai kembali muncul secara alami memakan kekuatan fisiknya dengan cepat.

Victor segera meraih telepon hotel, namun aku menggelengkan kepala. “Liss, biarkan dia menggunakan ponselmu. Aku ingin menyimpan nomornya.”

Lissa dengan hati-hati memberikan ponselnya, seolah Victor bisa mengkontaminasi ponsel itu. Victor mengambilnya dan menatapku dengan tatapan seperti-malaikatnya. “Tidak kah seharusnya aku mendapatkan privasi? Sudah lama sekali sejak terakhir aku dan Robert berbicara.”
“Tidak,” aku membentak. Kekasaran di dalam suaraku bahkan mengagetkan diriku sendiri, dan Lissa bukanlah satu-satunya yang menderita akibat efek penggunaan roh hari ini, aku juga mengalaminya. Victor mengangkat bahunya sedikit kemudian mulai memencet tombol telepon. Dia mengatakan pada kami saat di penerbangan sebelumnya kalau dia mengingat nomor telepon Robert, dan aku harus mempercayai siapa yang dia telepon. Aku juga berharap kalau nomor Robert masih belum berubah. Tentu saja, meskipun Victor tidak bertemu dengan saudaranya ini selama bertahun-tahun, Victor hanya ditahan tidak terlalu lama dan mungkin saja masih berhubungan dengan Robert sebelumnya.

Ketegangan memenuhi ruangan saat kami menunggu kapan telepon itu berbunyi. Sesaat kemudian, aku mendengar sebuah suara melalui speaker telepon – meskipun aku tidak begitu menangkap kata-katanya dengan jelas.

“Robert,” kata Victor senang, “ini Victor.”Suara Victor mendapatkan respon panik diujung sana. Aku hanya bisa mendengar sebagian dari pembicaraan, namun sebenarnya sangat menarik. Victor menghabiskan sebagian besar waktunya untuk meyakinkan Robert kalau dia sudah keluar dari penjara. Sepertinya Robert tidak benar-benar menghilang dari kehidupan Moroi sehingga dia masih tersentuh oleh kabar terbaru. Victor menyakinkannya bahwa dia akan menjelaskan detilnya nanti dan mulai mengolah suaranya agar Robert mau menemui kami. Perlu waktu yang lama. Aku merasakan kalau Robert hidup dalam ketakutan dan paranoid, yang mengingatkanku pada Nona Karp saat dia berada dalam tahap kegilaan roh. Pandangan Lissa tetap terpaku pada pemandangan di balik jendela di sepanjang telepon, namun perasaannya persis sama seperti diriku: takut kalau suatu hari, ini akan menjadi takdirnya. Atau takdirku juga, jika aku menyedot efek dari roh itu.

Gambaran papan tanda di Tarasov berkelebat singkat dalam pikirannya:
PERINGATAN – SEKARANG MEMASUKI AREA TAHANAN (SAKIT JIWA)
Nada suara Victor berubah menjadi membujuk secara mengejutkan saat ia berbicara dengan saudaranya, bahkan dengan penuh kelembutan. Aku seolah dingatkan dengan masa-masa lampau, sebelum kami mengetahui rencana gila Victor untuk mendominasi kaum Moroi. Dulu, ia pun memperlakukan kami dengan sangat baik juga dan  hampir seperti bagian dai keluarga Lissa. Aku bertanya-tanya apakah pernah ia pada saat itu benar-benar tulus melakukannya atau semua itu memang hanya akting belaka.

Akhirnya, setelah hampir 20 menit, Victor berhasil meyakinkan Robert untuk menemui kami. Kata-kata yang dipahami diakhir pembicaraan telepon itu dipenuhi nada kegelisahan, dan pada saat itu, aku merasa yakin kalau Victor sungguh-sungguh berbicara dengan kakaknya dan bukan berbicara dengan salah satu kaki tangannya. Victor mempersiapkan sebuah pertemuan di salah satu restoran di hotel dan akhirnya sambungan terputus.

“Makan malam?” tanyaku saat Victor meletakkan ganggang telepon. “Bukannya dia khawatir menampakkan dirinya?”
“Ini makan malam lebih awal,” jawab Victor. “Jam 4.30. Dan matahari tidak turun sampai sekitar pukul 8.”
“4.30?” tanyaku. “Tuhanku. Apa kita akan menjadi warga senior yag spesial?”

Tapi dia benar tentang waktu dan matahari. Tanpa adanya keamanan dari cahaya matahari musim panas yang tidak berakhir di Alaska, aku mulai merasa tercekik dengan batas antara matahari terbit dan tenggelam, meskipun disini juga musim panas. Sayangnya, makan malam lebih awal yang aman ini berarti kami harus melalui beberapa jam lagi. Victor bersandar di tempat tidur dengan lengan di belakang kepalanya. Kurasa dia berusaha untuk tidak memperdulikan suasana disini, tapi tebakanku adalah kalau dia sebenarnya kelelahan sehingga membuatnya mencari kenyamanan di tempat tidur.

“Mau mencoba keberuntunganmu di bawah?” Dia melirik ke arah Lissa. “Pengguna roh bisa membuat pemain kartu menjadi sangat baik. Aku tidak perlu mengatakan seberapa ahlinya dirimu dalam membaca seseorang.” Lissa tidak merespon.

“Tidak ada satupun yang boleh meninggalkan ruangan,” kataku. Aku tidak suka pemikiran kalau kami terkurung disini, tapi aku tidak bisa mengambil resiko usaha pelarian diri atau Strigoi yang bersembunyi di sudut-sudut kasino yang gelap.

Setelah mencuci untuk menghilangkan pewarna rambutnya Lissa mengambil sebuah kursi dan duduk di dekat jendela. Dia menolak untuk berdekatan dengan Victor. Aku duduk dengan menyilangkan kaki di atas ranjang kedua, dimana Eddie punya banyak ruang untuk duduk, namun ia memilih untuk tetap tegak dengan bersandar di dinding, dalam postur seorang penjaga yang sempurna saat ia memantau Victor. Aku tidak ragu kalau Eddie bisa berada dalam posisi itu selama berjam-jam, bagaimanapun tidak nyamannya posisi tersebut. Kami semua sudah dilatih untuk tahan dengan segala kondisi yang keras sekalipun. Dia sangat sempurna saat terlihat galak, namun sesekali, aku menangkap padangannya yang mempelajari Victor dengan penasaran.  Eddie mendukungku untuk melakukan segala pengkhianatan ini tapi masih belum tahu mengapa aku mekaukan hal ini.

Kami berada  dalam keadaan seperti ini selama beberapa jam saat seseorang mengetuk pintu kamar. Aku melompat. Aku dan Eddie bertatapan, kami berdua langsungr menajamkan perhatian kami, dengan tangan yang siap dengan pasak kami masing-masing. Kami memesan makan siang sejam yang lalu, namun layanan kamar belum juga datang sejak itu. Dan ini juga terlalu cepat untuk kedatangan Robert, dan lagipula, dia tidak tahu kami berada di kamar yang mana. Meskipun begitu, aku tidak merasakan rasa mual. Jadi, tidak ada Strigoi di depan pintu kami. Tatapanku bertemu mata Eddie, pesan dalam diam tentang apa yang harus kami lakukan mengalir diantara kami berdua.

Tapi Lissa yang pertama kali melakukan tindakan, berdiri dari kursinya dan melangkah melewati ruangan. “Itu Adrian.”
“Apa?” aku berseru. “Apa kau yakin?”
Dia mengangguk. Pengguna roh biasanya hanya melihat aura, namun mereka bisa merasakan satu sama lain jika mereka berdekatan – sama seperti saat ia berada di penjara. Tidak ada satupun dari kami yang bergerak. Dia menatapku kering.

“Dia tahu aku ada disini,” dia menunjuk. “Dia bisa merasakan kehadiranku juga.”

Aku mendesah, sambil masih memegang pasak, aku melangkah ke arah pintu. Aku menatap dari lubang pintu. Berdiri disana, dengan ekspresi yang menarik dan gelisah, Adrian. Aku tidak melihat orang lain dan tidak ada tanda-tanda kehadiran Strigoi, aku akhirnya membuka pintu. Wajahnya menyala dengan kebahagiaan saat ia melihatku. Ia mencondong dirinya ke arahku dan menciumku di pipi sebelum masuk ke kamar.

“Kalian tidak benar-benar berpikir bisa kabur dan berpesta akhir minggu tanpa aku, kan? Khususnya disini dari semua tempat –“ Adrian membeku, dan itu adalah salah satu kejadian yang jarang terjadi  di diri Adrian Ivashkov dimana ia tertangkap basah benar-benar lengah.
“Apa kalian menyadari,” katanya perlahan,”kalau Victor Dashkov sedang duduk di atas tempat tidurmu?”

“Ya,” kataku. “Mengagetkan untuk kami juga.”
Adrian menyeret tatapannya dari Victor dan melirik ke seluruh ruangan, menyadari kehadiran Eddie untuk pertama kalinya. Eddie masih berdiri tegap disana seolah terlihat menjadi bagian dari perabot kamar. Adrian berpaling padaku.

“Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Semua orang di luar sana sedang mencarinya!”

Kata-kata Lissa berbicara padaku mengalir melalui ikatan kami. Kau mungkin harus mengatakan kepadanya. Kau tahu, dia tidak akan pergi sekarang.
Diterjemahkan langsung dari novel Vampire Academy Spirit Bound karya Richelle Mead oleh Noor Saadah. This is truly fanmade and no profit work. 

3 comments:

  1. lanjut dong, lama banget jarak ngepostnya:(

    ReplyDelete
  2. lanjuttt donk lanjuuttt!? Ciee ciee Adrian nyusulin yakk?? Haha :D ayoo donk lanjuut jgn lma2, penasaran niiihhh....

    ReplyDelete
  3. berharap banget dibikinin ebook terjemahannya lengkap dalam satu buku seri ke 5 nih heheheh. habis bukunya udah g terbit sich :-(
    please

    ReplyDelete

 

Please, Keep in Touch!

©Copyright 2011 Love Your Life | TNB