Spirit Bound ~ Bahasa Indonesia (Chapter 9) Part 2

Thursday, April 28, 2016 2 komentar
Keterkejutan sekejap di wajah Victor yang biasanya terkendali. Dia jelas tidak pernah menduga akan pertanyaan ini.
“Darimana kau mendengar semua ini?” desak Robert.
“Dari pasangan yang kutemui di Rusia. Nama mereka adalah Mark dan Oksana.”
“Mark dan Oksana…” Lagi, tatapan Robert mengembara jauh sebentar. Aku rasa hal ini sering terjadi, bahwa dia tidak terlalu banyak menghabiskan waktu di kehidupan nyata.  “Aku tidak tahu kalau mereka masih bersama.”

“Mereka masih bersama. Dan mereka sangat bahagia.” Aku memerlukan dia kembali ke masa sekarang. “Apakah itu benar? Apa kau memang pernah melakukan apa yang mereka ceritakan? Apa itu mungkin?”  Respon Robert diawali dengan sebuah jeda.
“Wanita itu.”
“Huh?”
“Dia adalah seorang wanita. Aku telah membebaskannya.” Aku terkesiap dan terlupa akan diriku sendiri,  nyaris tak berani memproses kata-katanya.
“Kau berbohong.” itu suara Adrian, dengan nada yang kasar.
Robert melirik ke arahnya dengan ekspresi geli dan sinis.
“Dan siapa kau berani berkata seperti itu? Bagaimana kau bisa mengatakannya? Kau telah begitu banyak menggerus dan menyalahgunakan kekuatanmu, sangat  mengherankan karena kau masih bisa menyentuh kekuatan itu lagi. Dan semua hal yang kau lakukan terhadap dirimu sendiri … tidak benar-benar membantumu, kan? Hukuman roh masih mempengaruhimu … segera, kau tidak akan bisa membedakan antara kenyataan dan mimpi …”

Kata-kata itu membekukan Adrian sesaat, namun ia tetap berbicara.
“Aku tidak perlu tanda fisik apapun untuk melihat kalau kau sedang berbohong. Aku tahu kau berbohong karena apa yang kau gambarkan itu tidak mungkin. Mereka telah mati. Selamanya.”
“Ini adalah cerita yang mana yang telah mati tidak selamanya akan mati…”  Kata-kata Robert tidak ditujukan kepada Adrian. Kata-kata itu berbicara kepadaku. Aku mengigil.
“Bagaimana? Bagamana cara kau melakukannya?”
“Dengan sebuah pasak. Dia terbunuh dengan sebuah pasak, dan dengan itu pula, dia dikembalikan ke kehidupan.”
“Baiklah,” kataku. “Itu kebohongan. Aku sudah pernah membunuh banyak Strigoi dengan pasak, dan percaya padaku, mereka tetap saja mati.”
“Bukan sekedar pasak biasa.” Jemari Robert menari di pinggiran gelasnya. “Sebuah pasak khusus.”
“Sebuah pasak yang dimantrai oleh roh,” kata Lissa tiba-tiba.

Robert mengangkat matanya ke arah Lissa dan tersenyum. Itu adalah senyum yang menakutkan. “Ya. Kau gadis yang pintar, gadis yang pintar. Seorang gadis yang lembut dan pintar. Lembut dan baik. Aku bisa melihatnya dari auramu.”

Aku menatap ke luar meja, pikiranku mengarah entah kemana. Sebuah pasak yang dimantarai oleh roh. Pasak perak yang telah di mantrai oleh empat element utama kaum Moroi: tanah, udara, air, dan api. Itu merupakan infusi kehidupan yang bisa menghancurkan kekuatan yang tidak mati di dalam diri Strigoi. Dengan penemuan terbaru kami tentang bagaimana cara memantrai sebuah objek dengan roh, menginfusi sebuah pasak tidak pernah terpikirkan dalam benak kami sebelumnya. Roh menyembuhkan. Roh telah membawaku kembali dari kematian. Dengan bergabung bersama elemen yang lain di dalam sebuah pasak, apakah mungkin benar kegelapan yang berbelit-belit  yang mencengkram Strigoi bisa dilenyapkan, hingga mengembalikan seseorang ke keadaannya yang semula? Aku bersyukur saat makanan datang sebab otakku masih bergerak dengan malasnya. Telur gulung memberikan kesempatan yang hangat untuk berpikir.

“Apakah benar bisa semudah itu?” tanyaku akhirnya.
Robert mengejek. “Tidak semudah itu.”
“Tapi tadi kau bilang … kau baru saja bilang kita memerlukan sebuah pasak dengan mantra roh. Dan kemudian aku membunuh satu Strigoi dengan pasak bermantra itu.” Atau baiklah, bukan membunuh. Teknisnya tidak seperti itu.
Senyumnya kembali merekah. “Bukan kau. Kau tidak bisa melakukannya.”
“Lalu siapa…” aku berhenti, sisa kata-kata yang ingin kuucapkan sekarat di bibirku. “Tidak. Tidak.”
“Seorang Shadow-Kissed tidak memiliki anugerah kehidupan. Hanya untuk yang dianugerahi oleh roh.” Dia menjelaskan. “Pertanyaannya adalah: Siapa yang mampu melakukannya? Si Gadis Lembut atau Si Tanah Mabuk?” matanya mengibas antara Lissa dan Adrian. “Aku bertaruh untuk Si Gadis Lembut.”

Kata-kata itu menamparku keluar dari kondisi bengalku. Pada kenyataannya, pilihan itu menghancurkan semuanya, mimpi yang mengada-ada untuk menyelamatkan Dimitri.
“Tidak,” ulangku. “Meskipun itu mungkin — dan aku tidak yakin apakah aku bisa mempercayaimu — dia tidak bisa melakukannya. Aku tidak akan mengizinkan dia melakukannya.”

Lissa berpaling ke arahku, kemarahan membanjiri ikatan kami. “Dan sejak kapan kau yang menentukan apa yang bisa dan tidak bisa aku lakukan?”
“Sejak aku ingat bahwa kau tidak pernah mengikuti latihan pengawal dan belajar menusukkan pasak ke Strigoi.” Aku mengembalikan kata-katanya dengan imbang, mencoba menjaga suaraku agar tetap tenang. “Kau hanya pernah menonjok Reed, dan itu cukup keras.” Saat Avery Lazar pernah mencoba mengambil alih pikiran Lissa, dia mengirimkan saudara laki-laki Shadow-kissed nya untuk melakukan beberapa pekerjaan kotor. dengan bantuanku, Lissa menonjok  laki-laki itu dan membuatnya menjauh. Kejadian eksekusi yang indah, namun Lissa membencinya.

“Aku telah melakukannya, kan?” seru Lissa.
“Liss, menonjok seseorang tidak sama dengan menancapkan pasak ke Strigoi. Dan itu tidak termasuk hitungan bahwa faktanya kalau kau harus berada dekat dengan mereka. Apa kau pikir kalau kau bisa berada di dalam jarak tersebut sebelum satu dari mereka menggigitmu atau mematahkan lehermu? Tidak.”
“Aku akan belajar.” Kesungguhan dari suara dan pikirannya sangatlah mengagumkan, namun perlu sepuluh tahun dari usia pengawal untuk mempelajari apa yang telah kami lakukan — dan sebagian besar telah terbunuh.

Adrian dan Eddie  terlihat tidak nyaman di tengah-tengah pertengkaran kami, namun Victor dan Robert terlihat tertarik dan geli. Aku tidak suka itu. Kami disini bukan untuk menjadi hiburan.

Aku mencoba membelokkan topik berbahaya itu dengan kembali kepada Robert. “Jika seorang pengguna roh mengembalikan Strigoi, itu berarti orang tersebut akan menjadi seorang Shadow-kissed (dicium bayangan).”

Aku tidak menunjukkan kesimpulan yang jelas kepada Lissa. Bagian yang membuat Avery gila (disamping penggunaan roh dengan normal)  adalah terikat dengan lebih dari satu orang. Melakukannya menciptakan sebuah situasi yang sangat tidak stabil yang akan sering kali mengantarkan semua orang yang terkait di dalamnya ke dalam kegelapan dan kegilaan.

Mata Robert tumbuh mengawang-awang saat dia menatap langsung ke arahku. “Bentuk ikatan saat seseorang mati — saat jiwa mereka sebenarnya sudah pergi dan berpindah ke dunia kematian. Membawanya kembali membentuk mereka menjadi Shadow-kissed. Tanda kematian menempel pada mereka.” Pandangannya mendadak menusukku. “Sama seperti yang terjadi padamu.”

Aku menolak untuk menghindari matanya, meskipun rasa dingin melalui kata-katanya terkirim menembus diriku. “Strigoi telah mati. Menyelamatkan satu berarti mengembalikan jiwanya dari dunia kematian juga.”

“Tidak,” sanggahnya. “Jiwa mereka belum berpindah ke dunia  kematian. Jiwa-jiwa mereka  masih hidup… tidak di dunia ini juga tidak pula di dunia setelahnya. Kondisinya salah dan tidak alami. Itulah yang membentuk jati diri mereka sekarang. Membunuh atau menyelamatkan satu Strigoi, akan mengirimkan jiwanya ke kondisi semula. Tidak ada ikatan.”
“Jadi tidak ada bahaya,” kata Lissa padaku.
“Selain Strigoi yang akan membunuhmu,” aku menekankan.
“Rose —“
“Kita aka menyelesaikan percakapan ini nanti.” Aku memberinya tatapan tajam. Kami bertatapan sebentar, dan kemudian dia berpaling ke arah Robert. Masih ada sedikit sifat keras kepala di dalam ikatan kami yang membuatku tidak suka.
“Bagaimana caramu memantrai pasak itu?” tanyanya. “Aku masih belajar.”

Aku mulai menilai Lissa dan kemudian berpikir lebih baik dari ini.  Mungkin Robert keliru. Mungkin semua hal  tentang mengubah Strigoi ini sebenarnya tentang sebuah pasak yang diisi energi roh. Dia hanya berpikir bahwa pengguna roh yang harus melakukannya karena dia telah melakukannya. Kata orang. Selain itu, aku lebih memilih Lissa menyibukkan dirinya sendiri dengan memantrai daripada bertempur. Jika bagian memantrai terdengar sulit, dia mungkin akan menyerah untuk bertarung.
Robert menatapku dan kemudia Eddie. “Salah satu dari kalian pastinya memiliki sebuah pasak sekarang. Aku akan menunjukkannya pada kalian.”

“Kau tidak boleh menunjukkan sebuah pasak di muka umum,” seru Adrian, dan itu adalah observasi yang sungguh bijaksana. “Benda itu akan terlihat aneh bagi manusia, tapi jelas terlihat kalau benda itu adalah sebuah senjata.”
“Dia benar,” kata Eddie.
“Kita bisa kembali ke kamar setelah makan malam,” kata Victor. Wajahnya terlihat senang dan lembut dengan sempurna. Aku mempelajarinya, berharap bahwa ekspresiku bisa menunjukkan rasa tidak percayaku. Meskipun dengan semangat Lissa, aku bisa merasakan keraguan di dirinya juga. Dia masih tidak senang mengikuti apapun saran dari Victor. Kami telah melihat di masa lalu bagimana mati-matiannya Victor melakukan sejauh yang ia bisa untuk memenuhi rencananya. Dia meyakinkan anak perempuannya sendiri untuk merubah dirinya menjadi Strigoi dan membantunya keluar dari penjara. Dan dari semua yang kami tahu, dia merencanakan hal yang sama untuk —
“Itu dia,” aku menarik nafas, merasakan mataku melebar saat aku menatap Victor.
“Itu dia apa?” tanya Victor.
“Itulah mengapa kau mengubah Natalie. Kau pikir … kau sudah tahu tentang semua ini. Apa yang telah Robert lakukan. Kau akan menggunakan kekuatan Strigoinya dan meminta Robert untuk mengembalikannya lagi.”
Wajah Victor yang sudah pucat semakin pucat, dan dia terlihat begitu tua di mata kami. Tatapan percaya dirinya menghilang dan ia mengalihkan jauh pandangannya. 
“Natalie sudah mati dan telah lama hilang,” katanya kaku. “Tidak ada hubungannya mendiskusikan dia.”

Beberapa dari kami  berusaha untuk makan setelah itu, namun telur gulungku terasa hambar sekarang. Lissa dan aku berpikir hal yang sama. Diantara semua dosa-dosa Victor, aku selalu berpikir bahwa usahanya untuk meyakinkan putrinya sendiri untuk berubah menjadi Strigoi adalah yang terjahat. Itu yang membuatku setuju untuk meberikan ia label sebagai monster. Mendadak, aku dipaksa untuk mengevaluasi kembali banyak hal — dipaksa untuk mengevaluasi dia kembali. Jika dia tahu bahwa dia bisa membawa putrinya kembali, itu membuat apa yang telah ia lakukan buruk — namun tidak buruk yang seperti itu. Dia masih menjadi sosok iblis di dalam pikiranku, tidak ada pertanyaan. Namun jika dia percaya kalau dia bisa membawa Natalie kembali, itu berarti dia percaya dengan kekuatan Robert. Aku masih belum bisa mengizinkan Lissa mendekati Strigoi, tapi ini adalah dongeng yang tidak dapat dipercaya menjadi bisa dipercaya. Aku tidak bisa membiarkannya tanpa investigasi lebih jauh.

“Kita bisa pergi ke kamar setelah ini,” kataku akhirnya. “Tapi tidak untuk waktu yang lama.”
Kata-kataku untuk Victor dan Robert. Robert terlihat menghilang masuk ke dalam dunianya sendiri lagi, namun Victor mengangguk.

Aku meberikan tatapan cepat ke arah Eddie and mendapatkan anggukan singkat yang berbeda dari dirinya yang biasa. Dia paham dengan resiko membawa kedua saudara ini kesebuah ruangan pribadi.  Eddie sudah pernah berkata padaku bahwa ia akan ekstra waspada — bukan berarti dari tadi dia tidak waspada.  Akhirnya kami menghabiskan makan malam kami, aku dan Eddie merasa kaku dan tegang. Dia berjalan didekat Robert, dan aku disamping Victor. Kami menjaga Lissa dan Adrian diantara kedua bersaudara itu. Meskipun menjaganya untuk tetap dekat, namun agak susah saat kami harus melewati kasino yang padat. Orang-orang berhenti di jalur kami, berjalan di sekitar kami, melewati kami … sangat kacau. Dua kali, grup kami terpisah oleh turis yang lupa daratan. Kami tidak terlalu jauh dari lift, namun aku merasa tidak nyaman tentang kemungkinan bahwa Victor dan Robert bisa melarikan diri melalui gerombolan orang-orang.

“Kita perlu keluar dari keramaian ini,” teriakku pada Eddie.  Dia mengangguk cepat dan mengambil arah kiri mendadak yang membuatku terkejut. Aku pun mengarahkan Victor ke arah yang sama, Lissa dan Adrian berjalan disamping untuk menyeimbangi kami. Aku masih belum tahu apa rencana Eddie sampai aku melihat bahwa kami mendekati sebuah lorong dengan tulisan PINTU DARURAT di depannya. Jauh dari kasino yang sibuk, level suara ribut meredup.

“Aku menduga kemungkinan adanya tangga disini,” jelas Eddie.
“Penjaga yang ahli.” aku mengerjapkan senyuman ke arahnya.
Belokan selanjutnya menunjukkan kami lemari kebersihan di sebelah kanan dan di depan kami: sebuah pintu dengan simbol tangga. Pintu itu menunjukkan baik ke arah luar maupun ke lantai atas.l
“Cerdas,” kataku.
“Kalian ada di lantai sepuluh,” tegas Adrian. Itu pertama kalinya dia berbicara sejak tadi.
“Anggap saja latihan kecil — sial.” aku berhenti mendadak di depan pintu. Ada sebuah tanda peringatan kecil bahwa alarm akan berbunyi jika pintu dibuka. “Perhitungkan.”
“Maaf,” kata Eddie seolah dia secara pribadi yang bertanggung jawab.
“Bukan salahmu,” kataku, berbalik. “Kita kembali.” kami harus mencoba kesempatan kami dengan melalui kerumunan orang-orang.  Mungkin jalan memutar ini membuat Victor dan Robert cukup lelah dan menganggap kabur adalah sesuatu hal yang tidak menarik. Tidak ada dari mereka berdua yang masih muda, dan Victor masih dalam kondisi yang buruk.

Lissa begitu tegang untuk terlalu berpikir tentang diarahkan kembali, namun Adrian menatapku  bahwa jelas dia berpikir berjalan tak tentu arah seperti ini membuang waktunya. Jelas sekali, dia berpikir bahwa segala tentang Robert ini membuang waktunya. Sejujurnya, aku cukup kaget saat dia mengikuti kami kembali ke kamar. Aku mengira dia akan tinggal di kasino dengan rokok dan minumannya.
Eddie, memimpin grup kami, melangkah  kembali menuju kasino di bawah. Dan kemudian sesuatu menghantamku.
“Berhenti!” aku berteriak.

Dia merespon segera, berhenti di bagian ruangan yang sempit. Sedikit kebingungan mengikuti. Victor tersandung ke arah Eddie dengan terkejut, dan kemudian Lissa tersandung ke arah Victor. Insting membuat Eddie mengambil pasaknya, namun pasakku sudah lebih dulu keluar. Aku memegang pasakku saat rasa mual menyapuku. Ada Strigoi diantara kami dan kasino.

Bersambung ke Chapter 10 .: Coming Soon :.
Diterjemahkan langsung dari Novel Vampir Academy: Spirit Bound karya Richelle Mead oleh Noor Saadah. This is truly  fanmade and  no profit work.

2 comments:

  1. ditunggu kelanjutannyaaaa makasih banget.. aku juga ngefans sama novel ini sayang ga ada yang masuk ke Indonesia yang part spirit bound dan last sacrifise :(

    ReplyDelete

 

Blog archive

Please, Keep in Touch!

©Copyright 2011 Love Your Life | TNB