facebook twitter instagram pinterest google+

Love Your Life

  • Home
  • About
  • Literature
    • Poem
    • Short Story
    • Essay
    • Photoshop
  • Travel Story
    • Korea
    • Kalimantan
    • Bali
    • Java
    • Coffee Shop
  • Vampire Academy
    • Spirit Bound
    • Blood Promise
    • Shadow Kiss
M ERASA DITINGGALKAN LISSA dengan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban, dan tanpa adanya rencana aksi selanjutnya, aku praktis melanjutkan hidup dengan tetap tinggal bersama keluarga Belikov untuk beberapa hari berikutnya. Aku jatuh dalam rutinitas normal mereka, lagi-lagi aku kaget dengan bagaimana mudahnya aku melakukannya. Aku berusaha keras untuk membuat diriku berguna, melakukan tugas sehari-hari yang mereka izinkan untuk kulakukan dan bahkan sampai melakukan hal yang begitu jauh dari bayanganku dengan menjaga bayi (sesuatu yang tidak membuatku nyaman, mengingat sebagai calon penjaga, aku tidak memiliki waktu lebih untuk melakukan perkejaan paruh waktu selesai sekolah sebagai pengasuh bayi). Yeva mengawasiku sepanjang waktu, tidak pernah mengatakan apapun tapi selalu terlihat seolah dia tidak setuju. Aku tidak yakin apakah ia menginginkan aku pergi atau apakah memang begitu ia selalu terlihat. Namun yang lain tidak pernah menanyaiku sama sekali. Mereka terlihat senang memiliku di sekitar mereka dan membuatnya semaki tampak jelas di setiap kali mereka melakukan sesuatu. Viktoria khususnya, yang merasa bahagia.

“Aku berharap kau bisa kembali ke sekolah bersama kami,” kata Viktoria suatu malam. Dia dan aku sudah menghabiskan banyak waktu bersama.



“Kapan kau akan pulang?”
“Senin, tepat setelah hari Paskah.”

Aku mersakan sedikit kesedihan menggolara dalam diriku. Apakah aku masih berada disini atau tidak aku akan merindukan dirinya.

“Oh, Tuhan. Aku tidak menyangka akan secepat itu.”

Keheningan kecil jatuh diantara kami; kemudian dia menatapku lama. “Pernahkan kau berpikir ... well, pernahkan mungkin kau berpikir tentang kembali ke St. Basil dengan kami?”

Aku menatap. “St. Basil? Sekolah mu namanya menggunakan saint juga?” Tidak semuanya seperti itu. Adrian berasala dari sebuah sekolah di Timur Pasifik bernama Alder.

“Kepala sekolah kami seorang pendeta dari manusia,” katanya sambil menyeringai. “Kau bisa mendaftar disana. Kau bisa menyelesaikan tahun terakhirmu – aku yakin mereka akan menerimamu.”

Dari semua pilihan gila yang pernah aku pertimbangkan dalam perjalanan ini – dan percaya padaku, aku sudah mempertimbangkan banyak sekali hal gila – ada satu yang tidak pernah melintas dalam pikiranku. Aku masuk sekolah lagi. Aku sangat yakin tidak ada apapun lagi yang bisa aku pelajari – well, setelah bertemu Sydney dan Mark, sangat jelas memang ada beberapa hal lain yang masih perlu dipelajari. Namun, mempertimbangkan apa yang aku inginkan untuk kulakukan dengan hidupku, aku tidak terpikir kalau menjalani semester lain dengan Matematika dan IPA bisa berarti lebih buatku. Dan selama latihan menjadi penjaga yang kuterima selama ini, aku lebih banyak melakukan persiapan untuk ujian di akhir tahun. Entah bagaimana, aku meragukan ujian-ujian itu dan tantangan-tantangan yang akan datang akan sangat jauh dari apa yang sudah aku alami dengan Strigoi.

Aku menggelengkan kepalaku. “Kurasa tidak. Kupikir aku sudha cukup berurusan dengan sekolah. Lagipula, sekolahnya pasti dalam bahasa Rusia.”

“Mereka akan menerjemahkannya untukmu,” sebuah seringaian nakal menyala di wajahnya. “Selain, bahasa menendang dan memukul.” Senyumnya memudar menjadi ekspresi yang terlihat lebih bijaksana. “Tapi serius, jika kau tidak menyelesaikan sekolah dan kau tidak ingin menjadi pengawal ... mengapa kau tidak tinggal disini saja? Maksudku, tinggalah di Baia. Kau bisa tinggal bersama kami.”

“Aku tidak akan menjadi pelacur darah,” jawabku spontan. 
Sebuah tatapan aneh melintasi wajahnya. “Bukan itu yang aku maksudkan.”

“Seharusnya aku tidak mengatakannya. Maaf.” Aku merasa jahat dengan jawaban spontan itu. Saat aku terus mendengar gosip tentang pelacur darah di kota, aku hanya melihat satu atau dua, dan jelas sekali wanita di keluarga bukan termasuk jjenis itu. Kehamilan Sonya memang sesuatu yang masih misteri, namun bekerja di toko obat tidak menunjukkan aktivitas mesum. Aku sudah sedikit mempelajari mengenai situasi Karolina. Ayah dari anak-anaknya adalah seorang Moroi yang jelas sekali merupakan hubungan yang sungguh-sungguh. Dia tidak merendahkan dirinya dengan bersama pria itu, dan pria itu pun tidak memanfaatkannya. Setelah bayinya lahir, mereka berdua memutuskan berpisah, tapi dengan jalan persahabatan. Sekarang Karolina tengah menjalani hubungan dengan seorang penjaga yang berkunjung setiap kali ia harus pergi. 

Beberapa pelcaur darah yang pernah kulhat di sekitar kota sangat mirip dengan gambaran yang ada di kepalaku. Pakaian dan dandanan mereka meneriakkan seks. Memar di leher mereka jelas sekali menunjukkan kalau mereka tidak masalah membiarkan pasangan mereka meminum darah selama bercinta, yang jelas merupakan hal paling rendah yang bisa dilakukan para dhampir. Hanya manusia yang boleh memberikan darahnya kepada Moroi. Jenisku tidak. Membiarkan hal ini terjadi – khusunya selama aktivitas bercinta – seperti yang sudah kubilang, sangat rendah. Haling paling kotor dari yang kotor.

“Ibu akan senang kalau kau tetap tinggal. Kau bisa mendapatkan pekerjaan juga. Jadilah bagian dari keluarga kami.”

“Aku tidak bisa menggantikan tempat Dimitri, Viktoria,” jawabku lembut.
Dia meraih dan meremas hangat tanganku. “Aku tahu. Tidak ada satupun orang yang mengharapkanmu untuk jadi dia. Kami menyukaimu karena dirimu, Rose. Keberadaanmu disini terasa sangat benar – ada alasan mengapa Dimka memilih bersamamu. Kau cocok disini. “

Aku mencoba untuk membayangkan kehidupan yang ia gambarkan. Terdengar ... mudah. Nyaman. Tidak ada kekhawatiran. Cukup tinggal bersama sebuah keluarga bahagia, tertawa dan keluar bersama setiap malam. Aku bisa melanjutkan hidupku sendiri, tidak perlu membuntutiorang lain sepanjang waktu. Aku akan mempunyai saudara perempuan. Tidak akan ada pertempuran – kecuali untuk bertahan. Aku bisa menyerah untuk melanjutkan rencana membunuh Dimitri – yang aku tahu akan membunuhku juga, secara fisik maupun jiwa. Aku bisa memilih jalur yang logis, membiarkannya pergi dan menerima kenyataan kalau dia sudah mati. Namun, .... jika aku melakukannya, mengapa tidak kembali saja ke Montana? Kembali ke Lissa dan Akademi? 

“Aku tidak tahu,” sahutku pada Viktoria akhirnya. “Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.” Obrolan ini terjadi tepat setelah makan malam dan dia melirik ke arah jam ragu-ragu.

“Aku tidak ingin meninggalkanmu, terutama karena kita tidak punya banyak waktu bersama, tapi ... aku harus segera menemui seseorang ...”

“Nikolai?” godaku.
Dia menggelengkan kepalanya, dan aku mencoba menyembunyikan rasa kekecewaanku. Aku pernah melihatnya beberpaa kali dan dia tumbuh menjadi sangat pantas untuk dicintai sekarang. Sayang sekali Viktoria tidak bisa menumbuhkan perasaan kepadanya. Meskipun, aku pernah bertanya-tanya apa ada sesuatu yang mungkin menahannya - atau seseorang. 

“Oh, bukan,” jawabku sambil menyeringai. “Siapa dia?”
Dia tetap menjaga agar wajahnya terlihat datar, imitasi ekspresi Dimitri. “Seorang teman,” jawabnya.

“Seseorang dari sekolah?”
“Tidak.” desahnya. “Dan itulah masalahnya. Aku akan sangat merindukannya.”

Senyumku memudar. “Aku bisa membayangkannya.”
“Oh,” dia terlihat malu. “Bodohnya aku. Maksudku, aku mungkin tidak akan melihatanya untuk sementara waktu ... tapi aku akan bertemu dengannya lgi. Tapi Dimitri telah tiada. Kau tidak akan pernah bertemu dengannya lagi. sebenarnya, kata-katanya itu tidak semuanya benar. Tapi, aku tidak mengatakan itu padanya. Malah aku hanya berkata, “Ya.”

Aku terkejut, dia memelukku. “Aku tahu seperti apa rasanya cinta itu. Dan kehilangan ... aku tidak tahu. Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan. Yang hanya bisa kuucapkan adalah kami ada disini untukmu. Kami semua, Oke? Kau tidak bisa menggantikan Dimitri, tapi kau terasa seperti saudara perempuan kami.”

Dia menganggapku saudaranya sehingga membuatku tegang dan hangat pada saay bersamaan. 

Dia harus pergi setelah itu untuk bersiap-siap menemui kencannya. Segera dia mengganti pakaian dan berdandan – jeals lebih dari sekedar teman biasa – dan segera melangkah ke arah pintu. Aku merasa senang karena aku tidak ingin ia melihat air mata yang dibawa oleh kata-katanya ke mataku. Aku menhabiskan waktukku sebagai anak tunggal. Lissa adalah seseeorang yang hampir terasa seperti saudara bagiku. Aku selalu berpikir kalau Lissa adalah satu-satunya yang bisa kuanggap begitu; satu-satunya yang telah aku hilangkan sekarang. Mendengar Viktoria memanggilku sebagai saudaranya... menggerakkan sesuatu di dalam diriku. Sesuatu yang menagtakan padaku kalau aku punya teman dan tidak sendirian. Aku melangkah turun ke arah dapur setelah itu dan segera Olena menemaniku. Aku tengah mengobrak-abrik makananku.

“Apakah aku mendengar Viktoria yang pergi?” tanyanya.
“Ya, dia pergi menemui seorang teman.” Sebagai bentuk menjagaan kepercayaan seseorang, aku menjaga ekspresiku agar tetap terlihat netral. Tidak mungkin aku menjelaskan alasan Viktoria keluar. 

Olena mendesah, “Padahal aku ingin dia membantuku berbelanja sesuatu di kota.”
“Aku akan melakukannya,” kataku dengan senang hati, “Setelah aku mendapatkan sesuatu untuk dimakan.”

Dia memberiku senyuman menenangkan dan membelai pipiku. “Kau punya hati yang baik, Rose. Aku bisa mengerti mengapa Dimka mencintaimu.” Rasanya sangat mengagumkan, betapa diterimanya hubunganku dengan Dimitri disini. Tidak satupun dari mereka mempermasalahkan perbedaan usia kami atau hubungan guru-murid. Seperti yang pernah kukatakan pada Sydney, seolah aku adalah jandanya atau sejenisnya dan kata-kata Viktoria tentang aku yang seharusnya tinggal disini kembali berputar dalam kepalaku. Cara Olena menatapku membuatku merasa kalau aku benar-benar putrinya, dan sekali lagi aku merasa sudah mengkhianati ibuku sendiri. 

Ibuku mungkin akan menghina aku dan Dimitri. Dia mungkin akan menganggapku tidak pantas dan berkata kalau aku terlalu muda. Atau mungkinkah seperti itu? Mungkin aku lan yang terlalu kasar membayangkannya. melihatku berdiri di depan lemari yang terbuka, Olena menggelengkan kepalanya sambil menyalahkan diori sendiri, “Tapi kau harus makan dulu.”


“Cemilan saja,” aku meyakinkannya. “Jangan repot-repot.” Dia akhirnya mengiriskan sepotong besar roti hitam yag dia buat sebelumnya hari ini dan meletakkan semangkuk mentega karena dia tahu betapa aku senang sekali mengolesi tiap potongan rotiku.Karolina pernah menggodaku kalau orang Amerika mungkin akan kaget jika tahu apa yang ada di dalam kandungan roti itu, jadi aku tidak pernah menanyakan apapun. Entah bagaimana, rasanya manis dan asam di saat yang bersamaan, dan aku menyukainya.

Olena duduk di hadapanku dan melihatku makan. “Ini adalah makanan favoritnya ketika ia masih kecil.”
“Dimitri?”
Dia mengangguk. “Kapanpun dia istirahat dari sekolah, hal pertama yang ia lakukan adalah meminta roti itu. Aku harus membuat satu loyang roti untuk dirinya sendiri hampir setiap kali ia makan. Anak-anak perempuan tidak [ernah begitu banyak memakannya.”

“Cowok selalu makan lebih banyak,” sejujurnya, aku hamp[ir bisa menyaingi nafsu makan mereka semua.
“Benar,” katanya geli. “Tapi aku bahkan mencapai tujuanku ketika aku membuatnya mulai membuat roti itu untuk dirinya sendiri. Kukatakan padanya, jika dia akan memakan semua masakanku, dia lebih baik tahu seberapa banyaknya hal yang harus dilakukan untuk membuatnya.”

Aku tertawa, “Aku tidak bisa bayangkan Dimitri membuat roti.”

Dan akhirnya, segera setelah kata-kata itu keluar, aku berpikir ulang. Asosiasi instanku tentang Dimitri bahwa dia selalu kuuat dan sengit; itu adalah daya tariknya yang seksii, individu yang bertempur seperti seorang dewa datang dalam pikiranku. Namun, sekarang kelembutan dan kebijaksanaan Dimitri bercampur dengan garis mematikan itu sehingga membuatnya begitu sangat menaggumkan.

Tangan yang sama yang memegang psak dan menggunakannya dengan tepat dan dengan hati-hati menyisiri rambutku agar tidak menutupi wajahku.

Matanya yang lihai mengenali bahaya apapun di suatu tempat ternyata bisa menghormatiku dengan tatappan kagum dan memuja, seolah aku adalah wanita tercantik dan terhebat di dunia.

Aku mendesah, termakan oleh rasa sakit yang pahit dalam dadaku yang terasa menajdi hal biasa bagiku sekarang. Hal yang rasanya begitu bodoh, membuat satu loyang roti dari semua hal lain. Tapi begitulah yang pernah terjadi. Aku selalu emosional setiap kali memikirkan Dimitri.

Mata Olena menatapku, manis dan menghibur. “Aku paham,” katanya, menebak pikiranku. “Aku tahu jelas apa yang tengah kau rasakan.”

“Apakah semakin lama akan terasa semakin mudah?” tanyaku.
Tidak seperti Sydney, Olena punya jawaban.
“Ya. Tapi kau tidak akan pernah menjadi orang yang sama.”
Aku tidak tahu apakah aku harus merasa nyaman dengan kata-kata itu atau tidak. 

Setelah aku menyelesaikan makananku, dia memberiku daftar belanjaan, aku melangkah bebas menuju pusat kota, senag berada di luar dan bergerak. Tidak melakukan apapun sangat tidak cocok denganku. Saat aku berada di dalam toko bahan makanan, aku kaget melihat Mark. Aku mengira dia dan Olenna tidak terlalu sering mengunjungi kota. Aku tidak akan melakukannya jika jadi mereka, menginat mereka menanam sendiri makanan mereka dan hidup dari ladang. Dia memberiku senyuman yang hangat.

“Aku bertanya-tanya sebelumnya apakah kau masih berada di sini.”
“Ya,” aku memegang keranjangku. “Hanya berbelanja untuk keperluan Olena.”
“Aku senang kau masih disini,” katanya. “Kau terlihat lebih ... damai.”
“Kurasa cincinmu membantuku. Paling tidak dengan kedamaiannya. Benda ini tidak bisa menyelesaikan banyak hal sejauh keputusan yang harus diambil.”

Dia mengerutkan dahi, memindahkan susu kaleng yang ia pegang dari satu tangan ke tangan yang lain. “Keputusan apa?”

“Apa yang harus aku lakukan sekarang. Kemana akan pergi.”
“Kenapa tidak tinggal disini?”

Rasanya mengerikan, sangat mirip dengan percakapanku tadi dengan Viktoria. Dan responku juga hampir sama. “Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan jika aku tinggal disini.”

“Dapatkan pekerjaan. Tinggallah bersama keluarga Belikov. Kau tahu mereka menyayangimu. Kau sangat cocok bersama keluarga mereka.”

Perasaan hangat dan dicintai kembali hadir, dan lagi-lagi, aku mencoba membayangkan diriku bersama mereka, bekerja di sebuah toko seperti ini atau menunggui meja.

“Aku tidak tahu,” jawabku. Aku memiliki catatan yang kurang baik. “Aku hanya tidak tahu apakan hal seperti itu cocok buatku.”

“lebih baik daripada pilihan alternatif yang lain,” ia memperingatkan. “Lebih baik daripada berlarian tanpa memiliki tujuan yang jelas, melemparkan dirimu sendiri untuk mengahdapi bahay. Tidak ada pilihan sama sekali disana ...”

Namun, itulah alasan mengapa aku mendatangi Siberia sebeagai tujuan pertama dari rencanaku. Suara hatiku mencaci maki diriku sendiri. Dimitri, Rose. Apa kau sudah melupakan Dimitri? Apakah kau lupa bagaimana kau datang kesini hanya untuk membebaskannya, seolah dia yang menginginkannya? Atau benarkah itulah yang dinginkannya? Mungkin dia menginginkan aku untuk tetap aman. Aku sungguh tidak tahu, dan tanpa ada pertolongan dari Mason lagi, pilihanku malah semakin kacau. Memikirkan Mason mendadakn mengingatkanku pada suatu hal yang telah lama terlupakan.

“Ketika kita ngobrol sebelumnya, kita membecirakan apa yang bisa dilakukan Lissa dan Oksana. Tapi bagaimana denganmu?”

Mark menajamkan matanya, “Apa maksudmu?”
Ppernahkah kau ... pernahkah kau bertemu,um, hantu?”

Beberapa saat berlalu, dan kemudian ia menarik nafas. “Kuharap hal itu tidak terjadi padamu.” Sangat mengeherankan ketika aku merasa leganya mengetahaui kalau aku tidak sendirian dalam pengaman berhantuku ini. Meskipun sekarang aku mengerti, pernah mengalami kematian dan pernah menjalani dunia orang mati membuatku menjadi target roh. Hal ini masih menjadi satu dari hal gila menjadi dicium bayangan.

“Apakah ini terjadi tanpa kau inginkan?” tanyaku.
“Awalnya. Kemudian aku belajar mengendalikannya.”
“Aku juga,” tiba-tiba aku mengingat kejadian di lumbung waktu itu. “Sebenarnya, tidak semuanya benar,” segera kurendahkan suaraku. Aku tergesa-gesa merangkum apa yang terjadi dalam perjalananku kesini bersama Sydney. Aku tiidak pernah membicarakannya dengan orang lain.
“Kau tidak boleh lagi melakukannya,” katanya keras.
“Tapi aku tidak bermaksud melakukannya! Itu terjadi begitu saja.”
“Kau panik. Kau butuh pertolongan, dan ada bagian dari dirimu yang memanggil roh-roh di sekelilingmu. Jangan lakukan itu. Itu tidak bear, akan membuatmu mudah kehilnagna kendali.”
“Aku bahkan tidak tahu bagaimana caraku melakukannya.”

Seperti yang sudah kubilang, kehilangan kendali. Jangan pernah membiarkan kepanikan menguasi bagian terbaik dari dirimu.” Seorang wanita tua melewati kami, sebuah skarf menutupi kepalanya dan sebuah keranjang sayur melingkari tangannya. Aku menunggu sampai dia menghilang sebelum bertanya lagi pada Mark, “Mengapa mereka mau bertempur untukku?”
“Sebab yang telah mati membenci Strigoi. Strigoi itu tidak alami, tidak hidup ataupun mati – hanya eksistansinya berada di antara keduanya. Ssama seperti saat kita merasakan setan, begitulah halnya para hantu merasakan Strigoi.”
“Kelihatannya mereka bisa menjadi senjata yang bagus.”
Wajah itu, yang biasanya santai dan terbuka, mengerutkan dahi. “Itu berbahaya. Orang-orang seperti kau dan aku sudah pernah berjalan di tepian kegelapan dan kegilaan. Memanggil yang telah mati secara terbuka hanya akan membawa kita lebih dekat untuk jatuh dari tepian itu dan akhrnya kita akan kehilangan akal sehat.” Dia melirik jam tangannya dan mendesah. “Dengar, aku harus pergi, tapi aku serius, Rose. Tinggalah disini. Menjauhlah dari masalah. Lawan strigoi jika mereka mendatangimu, tapi jangan mencari mereka dengan membabi buta. Dan jelas, tinggalkan masalah hantu itu.”

Banyak sekali nasihat yang tidak yang tidak yakin bisa kuikuti nantinya. Tapi aku berterima kasih padanya dan mengirimkan salamku untuk Oksana sebelum mengirimkan salamku untuk Oksana sebelum membayar dan pergi juga. Aku menuju jalan pulang ke arah rumah Olena ketika aku memutari sebuah sudut gang dan hampir berjalan tepat di sebelah Abe.

Dia berpakaian mewah seperti biasanya, mengenakan jas mahal dan skarf kuning emas yang sepadan dengan perhiasan emas yang ia pakai. Penjaganya berkeliaran di sekitar tempatini dan dia bersandar di dinding bata sebuah bangunan .
“Jadi inilah mengapa kau datang ke Rusia. Untuk pergi ke pasar seperti seorang petani.”
“Tidak,” kataku. “Tentu saja tidak.”
“Hanya berkunjung ke tempat indah kalau begitu?’
“Tidak. Aku hanya ingin berguna. Berhentilah mencoba mendapatkan informasi dariku. Kau tidak sepintar yang kau kira.”
“Itu tidak benar.” jawabnya.
“Dengar, aku sudah mengataknnya padamu. Aku datang kesini untukku mengatakan berita itu pada keluarga Belikov. Jadi kembalilah dan katakan pada siapapun kau bekerja untuk menerima hal itu.”
“Dan aku sudah mengatakan padamu untuk tidak berbohong padaku,” katanya. Lagi, aku melihat campuran aneh antara bahaya dan gurauan.

“Kau tidak mengerti bagaimana aku sudah cukup sabar menghadapimu. Dengan orang lain aku pasti sudah mendapatkan informasi di malam pertama aku membutuhkannya.”

“Beruntungnya aku,” aku mengejek balik.
“Apa sekarang? Apa kau akan membawaku ke lorong bawah dan memukuliku hingga aku mengatakan alasan mengapa aku disini? Kau tahu, aku kehilangan ketertarikan dalam seluruh rutinitas gaya keroyokan menakutkan khas bos-bos ini.”

“Dan aku kehilnagn kesabaranku untukmu,” katanya. Ada sedikit candaan dan saat ia berdiri di depanku, aku tidak bisa menolak untuk memberikan penilaian tentang tubuhnya yang ternyata lebih bagus ketimbang moroi kebanyakan. Sebagian besar moroi, menolak untuk bertempur, tapi aku tidak akn terkejut jika Abe bertindak kasar seperti kebanyakan orang atau penjaganya punyai.

“Dan sejujurnya, aku sudah tidak lagi peduli alasan kau ada disini kau cuma perlu pergi. Sekarang.”
“Janga mengancamku, orang tuua. Aku akan pergi kapanpun aku mau.” Lucu, aku baru saja berjanji pada Mark kalau aku masih belum tahu apakah aku bisa tinggal di Baia. Tapi saat Abe menekanku, aku malah ingin menancapkan kakiku disini.

“Aku tidak tahu apa yang kau coba jauhkan dariku, tapi aku tidak takut padamu.” Itu tidak semuanya benar.
“Kau harusnya takut,” jawabnya balik dengan puas.
“Aku bisa menjadi teman yang sangat baik atau musuh yang sangat jahat. Aku bisa membuatnya sepadan kalau kau pergi. Kita bisa membuat penawaran.”

Hampir ada sebuah kilatan kesenangan di matanya saat ia berbicara. Aku ingat Sydney pernah menggambarkan bagaimana ia memanipulasi orang lain, dan aku merasa inilah cara ia hidup, untuk bernegosiasi, memberikan pertukaran untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.

“Tidak,” kataku. “Aku akan meninggalkan mereka saat aku siap. Dan tidak ada apapun yang bisa kau atau siapapun yang mempekerjakanmu lakukan untuk memaksa ku pergi.” Berharap aku terlihat meyakinkan, aku berbalik menjauh.

Dia meraih dan mencengkram bahuku, menarikku kembali, hampir membuatku menjatuhkan belanjaanku. Aku mulai memasang posisi menyerang ke depan sebagai bentuk mode penyeranganku, tapi para penjaganya sudah berada di sekitarnya dengan secepat kilat. Aku tahu kalau aku tidak akan bisa melawan terlalu jauh.

“Waktumu sudah habis disini,” desis Abe. “Di Baia. Di Rusia. Kembalilah ke Amerika. Aku akan memberikan semua uang yang butuhkan, tiket kelas utama, apapun.”

Aku melangkah mundur menjauhinya, membelakangi dengan hati-hati, “Aku tidak butuh bantuanmu atau uangmu – hanya Tuhan yang tahu dari mana semua itu berasal.” Sekelompok orang menuju ke arah kami dari seberang jalan, tertawa dan mengobrol, aku semakin mundur lebih jauh, jelas Abe tidak akan memulai suatu adegan yang memiliki bonus banyak saksi. Itu membuatku lebih berani, yang rasanya terlihat bodoh dalam posisiku.

“Dan aku sudah bilang padamu: Aku akan pulang kapanpun aku mau.” Mata Abe berpindah ke arad para petani yang mendekat itu, dan dia segera mundur bersama penjaganya. Senyum yang membuat merinding itu terpatri d wajahnya. :Dan aku sudah bilang pasamu. Aku bisa menjadi teman yang sangat baik atau musuh yang sangat jahat. Pergilah dari Baia sebelum kau menemukan yang mana dari diriku yang akan kau lihat.”

Dia berbalik dan pergi, membuatku sangat lega. Aku tidak ingin ia melihat seberapa banyak ketakutan yang tertinggal di wajahku oleh kata-kata yang ia tinggalkan.

Aku segera tidur malam itu, mendadak merasa menjadi anti-sosial. Aku berbaring disana selama beberapa saat, memindahkan halaman demi halaman majalah yang tidak bisa kubaca, dan dengan menakjubkan aku menemukan diriku terus merasa lelah. Kurasa pertemuanku dengan Mark dan Abe membuat merasa sangat lelah.

Kata-kata Mark tentang tetap tinggal telah menamparku untuk dengan rumah setelah percakapanku dengan Viktoria. Ancaman yang samar Abe telah menaikkan rasa pertahananku, membuatku waspada pada siapapun yang bekerja dengan Abe untuk membuatku meninggalkan Rusia. Pada titik tertentu, aku menduga-duga apakah dia sungguh-sungguh akan kehilangan kesabarannya dan berhenti mencoba tawar-menawar?

Aku beralih tidur dan perasaan yang ku kenal dalam mimpi Adrian yang nyaman mengelilingiku. Sudah sangat lama sejak terakhir kali hal ini terjadi dan aku sebenarnya berpikir kalau dia mendengarkanku saat aku menyuruhnya menjauhiku sebelumnya. Tentu, aku selalu mengatakan hal itu padanya. Ini waktu jeda yang cukup lama tanpa adanya kunjungan, dan sebanyak aku membenci untuk mengakuinya, aku merindukannya. 

Latar yang dia pilih kali ini adalah bagian dari perabot Akademi, daerah berkayu dekat sebuah kolam. Semuanya terlihat hijau dan bermekaran, dan matahari menyinari kami. Aku menduga kreasi Adrian ini bertolak belakang dengan cuaca yang sebenarnya sedang terjadi di Montana, tapi seperti biasa, dia yang mengendalikan. Dia bisa melakukan apapun yang ia inginkan.

“Dhampir kecil,” katanya, tersenyum. “Sudah lama tidak berjumpa.”
“Kupikir kau sudah selesai denganku.”
“Tidak akan pernah berakhir denganmu,” jawabnya, memasukkan tangannya ke kantong dan berjalan ke arahku. “Meskipun ..., sebenarnya, aku tidak bermaksud untuk menjauh kali ini. Tapi, yah, aku harus memastikan kalau kau masih hidup.”
“Hidup dan baik-baik saja.”

Dia tersenyum padaku. Matahari membuat rambut cokelatnya berkilat, memberikan highlight chesnut-emas di rambutnya.

“Bagus. Kau terlihat lebih bagus daripada yang pernah kulihat selama ini,” matanya beralih dari wajahku ke bawah, ke arah tanganku yang sedang beristirahat di pangkuanku.

“Apa ini?” cincin Oksana terpasang disana, meskipun cincin itu tidak memiliki banyak hiasan, logamnya berkilat terang diterpa sinar matahari. Mimpi ini begitu aneh. Meskipun Adrian dan aku tidak bersama, namun jelas cincin itu mengikutiku masuk dan cukup menjaga kekuatannya sehingga bisa dirasakan Adrian.
“Sebuah Jimat. Berisikan roh.” seperti aku, ini jelas adalah sesuatu yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya. Ekspresinya semakin penasaran.

“Dan benda ini bisa menyembuhkan, kan?” Ini melindungi auramu dari kegelapan.”
“Sedikit,” kataku, merasa tidak nyaman dengan pendapatnya. Aku mepeaskan cincin itu dan memasukkannnya ke dalam kantungku. “Hanya sementara. Aku bertemu dengan pengguna roh lain dan seorang dhampir yang juga dicium-bayangan.”

Keterkejutan bertambah di wajahnya,”Apa? Dimana?”

Aku mengigit bibirku dan menggelengkan kepala.
“Sial, Rose! Ini penemuan besar. Kau tahu bagaimana Lissa aku mencari pengguna sihir roh. Katakan padaku dimana mereka.”

“Tidak. Mungkin nanti. Aku tidak ingin kalian mengejarku.” Dari semua yang aku tahu, mereka sudah mengejarku, menggunakan Abe sebagai suruhan mereka.

Mata hijaunya berkilat marah. “Dengar, anggaplah untuk sementara waktu dunia tidak selalu berpusat padamu, oke? Ini tentang Lissa dan aku, tentang memahami sihir gila yang ada di dalam diri kami. Jika kau tahu orang-orang yang bisa membantu kami, kai juga harus tahu.”

“Mungkin nanyi,” aku mengulangi dengan dingin. “Aku akan segera pindah – kemudian aku akan mengatakannya padamu.”
“Mengapa selalu begitu sulit?”
“Karena kau menyukaiku yang seperti itu.”
“Pada saat ini? Tidak terlalu.” Ini satu dari komentar bercanda khas Adrian yang selalu ia buat, tapi baru saja, sesuatu tentang ini mengangguku. Untuk suatu alasan, aku mendapat perasaan yang sangat sangat kecil kalau aku tiba-tiba tidak lagi menarik untuknya.

“Cobalah sabar,” kataku padanya. “Aku yakin kalian berdua punya hal lain untuk dikerjakan. Dan Lissa terlihat cukup sibuk dengan Avery.” Kata-kata itu keluar tanpa bisa kucegah, dan sedikit rasa pahit dan iri yang kurasakan saat melihat mereka di malam yang lalu muncul dalam nada bicaraku.

“Adrian menaikkan alisnya. “Tuan dan nyonya, dia mengakuinya. Kau sudah memata-matai Lissa – aku sduah tahu itu.”

Aku membuang muka. “Aku hanya ingin tahu kalau dia juga masih hidup.” seolah aku bisa pergi kemanapun di dunia ini dan tidak tahu hal itu terjadi.

“Memang. Hidup dan sehat, sama sepertimu. Er .... lebih baik.” Adrian merengut. “Terkadang aku merasakan sesuatu yang aneh dari dirinya. Dia tidak terlihat benra-benar baik-baik saja atau auranya akan sedikit berkerlap-kerlip. Tidak pernah terjadi terlalu lama, tapi aku masih khawatir.” Seseuatu dalam suara Adrian melembut. “Avery juga mengkhawatirkannya, jadi Lissa berada di tangan yang baik. Avery cukup mengagumkan.”

Aku menatapnya pedas dan tajam. “Mengagumkan? Apa kau menyukainya atau sejenisnya?” aku tidak melupakan komentar Avery tentang meninggalkan pintu tidak terkunci untuk dirinya.

“Tentu saja aku menyukainya. Dia orang yang baik.”
“Bukan, maksudku suka. Bukan menyukai.”
“Oh, aku menegrti,” katanya, memutar matany. “Kami memutuskan pengertian ‘suka’ dalam tahapan sekolah dasar.”
“Kau tidak menjawab pertanyaanya.”
“Sebenarnya, seperti yang sudah kukatakan, dia adalah orang yang baik. Pintar. Mudah diajak bergaul. Cantik.”

Sesuatu dalam caranya saat mengatakan ‘cantik’ menggangguku. Aku memalingkan pandanganku lagi, memainkan nazar biru di leherku untuk menyembunyikan perasaanku. Adrian sudah menebaknya.

“Apa kau cemburu, dhampir kecil?”
Aku menatap balik ke arahnya. “Tidak. Jika aku bisa cemburu padamu, aku mungkin akan menjadi gila dari dulu, memikirkan semua perempuan yang kau permainkan.”

“Avery bukan jenis perempuan yang bisa dipermainkan.” Lagi, aku mendengar rasa sayang itu dalam suaranya, pengibaratan itu. Ini seharusnya tidak menggangguku. Harusnya aku senang kalau ia tertarik degan wanita lain. Dari semua itu, aku sduah mencoba meyakinkanya untuk meninggalkanku sendirian untuk waktu yang lama. Satu dari bagian syarat darinya ketika memberikanku uang untuk perjalanan ini adalah membuatku berjanji untuk memberikannya satu kali kesempatan yang adil untuk berpacaran dengannya ketika – dan jika – aku kembali ke Montana. Jika dia sudah bersama Avery, itu akan mejadi satu hal yang tidak perlu ku khawatirkan lagi. 

Dan sejujurnya, jika dia adalah gadis lain selain Avery, aku mungkin tidak akan keberatan. Tapi entah bagaimana, pikiran tentang bagimana ia telah memikat Adrian rasanya sudah cukup keterlaluan. Apakah sudah tidak cukup buruk bagiku setelah kehilangan Lissa? Bagaimana mungkin satu wanita dengan sangat mudah mengambil posisiku? Dia mencuri sahabat baikku, dan sekarang pria yang bersumpah dan berlutut kalau aku adalah satu-satunya yang dia inginkan dengan serius sudah berpikir untuk menggantikan aku.

Kau sudah menjadi orang yang munafik, sebuah suara jaht berbicara di dalam kepalaku. Mengapa kau harus merasa ada yang salah ketika ada seseorang yang datang dalam kehidupan mereka? Kaulah yang membuang mereka. Baik Lissa maupun Adrian. Mereka punya hak untuk melanjutkan hidup.

Aku berdiri dengan marah. “Dengar, aku sudah cukup berbicara padamu malam ini. Maukah kau membiarkanku pergi dari mimpi ini? Aku tidak akan mengatakan padamu dimana diriku berada. Dan aku tidak tertarik untuk mendengarkan tentang bagaiman mempesonanya Avery dan bagaimana ia lebih baik dari diriku.”

“Avery tidak akan pernah bertindak seperti anak kecil,” katanya. “Dia tidak akan begitu menyakit hati seseorang yang cukup peduli untuk memeriksa keadaannya. Dia tidak akan menolakku untuk memperoleh kesempatanku untuk belajar lebih banyak tentang sihirku karena dia menjadi gila kalau-kalai seseorang akan mengacaukan usaha gilanya untuk mengejar kematian pacarnya.”

“Jangan sebut aku anak kecil,” aku balik berteriak. “Kau seegois biasanya. Ini selalu tentang dirimu – bahkan dalam mimpi ini sekalipun. Kau memerangkapku disini meski hal ini bertentangan dengan keinginanku, apakah aku setuju atau tidak, karena ini menyenangkan buatmu.”

“Baik,” katanya, suaranya dingin. “Aku akan mengakhiri semua ini. dan aku akan mengakhir semua yang ada diantara kita. Aku tidak akan kembali lagi.”
“Bagus. Kuharap kau serius dengan ucapanmu itu kali ini.”

Mata hijaunya adalah hal terakhir yang aku lihat sebelum aku terbangun di ranjangku sendiri. Aku duduk, terengah-engah. Hatiku terasa seperti hancur, dan aku hampir berpikir kalau aku mungkin akan menangis. Adrian benar – aku bertingakh seperti anak kecil. Aku menyakitinya ketika ia tidak pantas mendapatkan perlakuan seperti itu. Sekalipun begitu ... aku tidak mampu untuk menguasai diriku. Aku kehilangan Lissa. Aku bahkan kehilangan Adrian. dan sekaran orang laing tangah mengambil tempatku, seseorang yang tidak akan melarikan diri seperti diriki.

Aku tidak akan kembali.

Dan untuk pertama kalinya, aku merasa dia sungguh-sungguh kali ini. 
Share
Tweet
Pin
Share
4 komentar
AKU MENATAP MARK SELAMA beberapa detik. Akhirnya, dengan bodohnya, aku bertanya, “Apa baru saja kau bilang...menyembuhkan?"
Mark menatapku dengan keterkejutan yang sama. “Ya, tentu saja. Dia bisa menyembuhkan hal lain kan? Mengapa yang ini tidak bisa?”
“Sebab ...” aku mengerutkan dahi. “Hal itu tidak ada gunanya. Kegelapan itu ... semua efek jahat ... semua itu datang dari Lissa. Jika dia bisa menyembuhkannya begitu saja, mengapa dia tidak menyembuhkan dirinya sendiri?”

“Sebab ketika kegelapan itu berada di dalam dirinya, kegelapan itu sudah terlalu melekat pada dirinya. Terlalu terikat dalam dirinya. Dia tidak dapat menyembuhkannya dengan cara yang biasa ia lakukan ketika ia menyembuhkan hal lain. Tapi ketika belahan jiwamu menarik kegelapannya ke dalam dirimu, kegelapan itu akan menjadi penyakit yang biasa ia sembuhkan.” Jantungku berdegup keras dalam dadaku. Apa yang ia sarankan begitu mudah dan menggelikan. Tidak, hanya menggelikan. Semua itu rasanya tidak mungkin setelah semua hal yang sudah kami lalui kalau Lissa bisa menyembuhkan amarah dan depresi sama seperti dia melakukannya pada penyakit flu atau pada kaki yang patah. Victor Dashkov, mengesampingkan rencana jahatnya, sudah mengetahui sejumlah informasi roh dan sudah menjelaskannya kepada kami semua. Empat elemen yang lain lebih berupa elemen fisik dalam kehidupan, tapi elemen roh datang dari pikiran dan jiwa. Menggunakan begitu banyak energi mental – sehingga mampu untuk melakukan sejumlah hal-hal yang mengagumkan – tidak bisa dilakukan tanpa adanya efek yang merusak. Kami sudah bertarung dengan efek-efek jahat itu dari awal, pertama adalah Lissa kemudian kepadaku. Mereka tidak bisa begitu saja menghilang. 

“Jika semua itu memungkinkan,” kataku pelan,” lalu setiap orang bisa melakukannya. Nona Karp tidak akan kehilangan akal sehatnya. Anna tidak akan bunuh diri. Apa yang baru saja kau katakan terlalu mudah untuk dilakukan.” Mark tidak mengenal siapa saja yang aku bicarakan, tapi jelas orang-orang itu tidak menghalangi apa yang ingin ia ekspresikan. 


“Kau benar. Tidak mudah sebenarnya. Penyembuhan itu membutuhkan keseimbangan dengan hati-hati, lingkaran kepercayaan dan kekuatan dari dua orang. Oksana dan aku perlu waktu lama untuk mempelajari penyembuhan ini ... melewati tahun-tahun yang sulit ...” Wajahnya menggelap, dan aku hanya bisa membayangkan bagaimana kelihatannya tahun-tahun yang sulit itu. Waktuku yang singkat bersama Lissa sudah cukup buruk. Mereka harus hidup dengan semua ini dalam waktu yang lebih lama dari detik-detk yang pernah kami lalui. Sungguh merupakan hari-hari yang tidak tertahankan. Perlahan, mengimajinasikan, aku memberanikan diri untuk mempercayai kata-katanya. 

“Tapi sekarang kalian baik-baik saja kan?” 
“Hmm.” Ada kerlipan dalam senyum masam di bibirnya. “Sulit untukku mengatakan kalau kami sudah benar-benar baik-baik saja. Hanya ada beberpa hal yang bisa ia lakukan, tapi itu membuat hidup kami lebih teratur. Dia memberikan jarak diantara waktu penyembuhan, dan itu membatasi keseluruhan tenaganya."
"Apa maksudmu?” Dia mengangkat bahu. “Dia masih bisa melakukan hal lain ... menyembuhkan, kompulsi ...tapi tidak dalam level yang bisa ia tangani jika ia tidak menyembuhkanku.” Harapanku goyah.

“Oh. Kalau begitu ... aku tidak dapat melakukannya. Aku tidak dapat melakukannya pada Lissa.”

“Dibandingkan dengan apa yang sudah ia lakukan padamu? Rose. Aku merasa dia berpikir kalau ini adalah pertukaran yang adil.” Aku kembali memikirkan pertemuan terakhir kami. Aku mengingat tentang bagaimana aku meninggalkannya disana, mengacuhkan ia yang memohon padaku. Aku mengingat hal-hal rendah yang ia alami dalam ketidakhadiranku. Aku mengingat bagaimana ia menolak menyembuhkan Dimitri ketika aku berpikir kalau masih ada harapan untuk Dimitri. Kami berdua telah menjadi teman yang buruk. Aku menggelengkan kepala. 
“Aku tidak tahu.” kataku dalam suara kecil. “Aku tidak tahu apakah dia mau melakukannya.” Mark memberikan tatapan penilaian yang lama, tapi dia tidak memaksaku. Dia melirik ke arah matahari, hampir seperti mengatakan jam berapa dengan cara itu. Dia mungkin memang melakukannya. Dia pernah memiliki perasaan berjuang dalam kegilaan dalam dirinya.

“Yang lain akan bertanya-tanya apa yang sedang kita lakukan. Sebelum kita pergi ...” Dia merogoh sakunya dan menarik sebuah cincin perak kecil dengan bentuk yang sederhana.

“Mempelajari penyembuhan itu akan memakan waktu yang lama. Namun yang paling membuatku khawatir adalah suasana hatimu yang selalu waspada. Kegelapan itu hanya akan membuat hal itu semakin buruk. Ambil ini.” Dia mengulurkan cincin itu padaku. Aku ragu-ragu dan kemudian aku meraihnya. 

“Apa ini?” “Oksana memasukkan sihir roh ke dalam cincin ini. Ini jimat penyembuh.” Sekali lagi, rasa kaget menyerangku. Selalu saja, benda jimat dari Moroi dengan elemen di dalamnya. Pasak di isi dengan keempat sihir elemen kehidupan, membuat mereka menjadi benda yang mematikan bagi Strigoi. Victor juga menyihir sebuah kalung dengan sihir tanah, menggunakan dasar alam dari tanah untuk mengubah kalung itu menjadi jimat gairah. Bahkan tato milik Sydney juga merupakan semacam jimat. Aku mengira kalau tidak ada alasan bagi roh untuk tidak bisa membuat benda jimat juga, tapi hal itu tidak pernah terpikir olehku sebelumnya, mungkin karena kekuatan Lissa masih terlalu baru dan terlalu asing. 

“Apa yang bisa dilakukan benda ini? Maksudku, penyembuhan seperti apa?” 
“Ini menolongmu mengendalikan suasana hatimu. Benda ini tidak bisa menghilangkannya, tapi ini bisa mengurangi efeknya – menolongmu untuk berpikir lebih jernih. Memungkinkan mu untuk terhindar dari masalah. Oksana membuatkan ini untukku untuk menolongki saat masa penyembuhan.” Aku hendak memakainya di jariku, tapi ia menggelengkan kepalanya.

“Simpan ini untuk saat dimana kau merasa tidak dapat mengendalikan dirimu lagi. Sihirnya tidak bisa bertahan selamanya. Sihirnya akan memudar sama seperti jimat yang lain.” Aku menatap cincin itu, pikiranku tiba-tiba terbuka berbagai kemungkinan baru. Beberapa saat kemudian, aku memasukkannya kedalam saku jaketku. 

Paul menjulurkan kepalanya dari balik pintu. “Nenek ingin pergi sekarang,” katanya padaku. “Dia ingin tahu mengapa kau begitu lama dan dia bertanya mengapa kau membuat seseorang setua dia menunggu dan menderita dengan punggungnya.” Aku mengingat seberapa cepat Yeva berjalan ketika aku bertahan untuk mengikutinya bersama barang-barang bawaanku. Punggungnya tidak terlihat buruk bagiku, tapi lagi, aku ingat kalau Paul hanyalah penyampai pesan dan aku mengurangi komentarku terhadapnya. 

“Ok, aku akan segera kesana.” Ketika Paul mengilang, aku menggelengkan kepalaku. “Sulit untuk menjadi berharga.” aku bergerak ke arah pintu, kemudian melirik ke arah Mark, pikiran acak mengaliriku. “Kau mengatakan padaku kalau melakukan apa yang dhampir disini lakukan adalah hal buruk ...tapi kau juga bukan penjaga.” Dia tersenyum padaku lagi, satu dari senyum yang menyiratkan kesedihan, senyuman masam. 

“Dulu aku pernah menjadi penjaga. Kemudian Oksana menyelamatkan nyawaku. Kami terikat dan bahkan saling jatuh cinta. Aku tidak bisa terpisah darinya setelah itu, dan para penjaga juga sudah memecatku. Aku harus pergi.” 

“Apakah sulit meninggalkan mereka?” 

“Sangat. Perbedaan usia kami semakin membuat hubungan kami menjadi skandal.” Rasa dingin mengaliri diriku. Mark dan Oksana adalah perwujudan dari dua bagian kehidupanku. Mereka berjuang melawan ikatan dicium bayangan sama seperti Lissa dan aku lakukan dan juga menghadapi hukuman untuk hubungan mereka seperti apa yang aku dan Dimitri rasakan. 

Mark melanjutkan, “Tapi terkadang, kita harus mendengarkan hati kita. Dan meskipun aku harus pergi, aku tidak berada di luar sana meresikokan diriku sendiri mengejar Strigoi. Itu berbeda – jangan lupakan hal itu.” Pikiranku terhuyung-huyung ketika aku kembali ke rumah Belikov. Tanpa batu bata, perjalanan pulang terasa lebih mudah. Memberikanku kesempatan untuk merenungkan kata-kata Mark. Aku merasa seperti menerima informasi seumur hidup dalam percakapan satu jam. 

Olena sedang berada dalam rumah, mengerjakan tugas-tugas normalnya, memasak dan bersih-bersih. Saat aku dengan jujur tidak pernah ingin menghabiskan hari-hariku melakukan sejenis perkerjaan rumah tangga seperti itu, aku harus mengakui kalau ada sesuatu yang menenangkan ketika selalu memiliki seseorang di sekitarmu, siap untuk memasak dan mengkhawatirkanku untuk hal-hal dasar sehari-hari. Aku tahu kalau ini murni hasrat yang egois, karena aku tahu kalau ibu kandungku sedang melakukan hal-hal penting dalam hidupnya. Aku tidak seharusnya menghakiminya. Namun, merasakan Olena memperlakukan seperti anak perempuanya sendiri ketika dia sudah mengetahui siapa diriku, membuatku merasakan apa itu kehangatan dan perhatian . 

“Apa kau lapar?” ia secara otomatis bertanya padaku. Kurasa satu dari ketakutan terbesar dalam hidupnya adalah jika seseorang mungkin kelaparan di dalam rumahnya. Kebiasaan Sydney yang selalu terlihat tidak nafsu makan telah menjadi kekhawatiran Olena tanpa henti, Aku menyembunyikan senyumanku. 

“Tidak, kami sudah makan di rumah Mark dan Oksana.” 
“Ah, dari sana kau ternyata? Mereka adalah orang-orang yang baik.” 
“Dimana semua orang?” tanyaku. Rumah ini sepi, tidak seperti biasanya. 
“Sonya dan Karolina bekerja. Viktoria pergi ke rumah temannya, tapi dia akan senang karena kau sudah kembali.” 
“Bagaimana dengan Sydney?” 
“Dia baru pergi beberapa saat yang lalu. Dia bilang dia kembali ke Saint Petersburg.” 
“Apa?” aku berseru. “Pergi demi kebaikan? Hanya seperti itu?” Sydney memiliki sifat yang agak kasar, tapi ini terlalu kasar bahkan untuk orang seperti dia. 

“Para alkemis ... sebenarnya, merekalah yang selalu membuat rencana.” Olena memberikan sepotong kertas. “Dia meninggalkan ini untukmu.” Aku mengambil catatan itu dan buru-buru membukanya. tulisan Sydney sangat rapi dan teratur. Entah bagaimana hal ini tidak mengejutkanku. 

Rose, 
Aku minta maaf aku harus pergi begitu cepat, tapi ketika Alkemis menyuruhku untuk melompat ... yah, aku akan lompat. Aku menumpang sebuah kendaraan kembali ke kota petani tampat kita pernah tinggal waktu itu jadi aku bisa mengambil si ‘Bencana Merah’, dan kemudian aku akan sampai ke Saint Petersburg. Rupanya, setelah sekarang kau sudah diantarkan ke Baia, mereka tidak ingin aku berada disana lagi. 

Aku berharap aku bisa mengatakan lebih banyak tentang Abe dan apa yang ia inginkan padamu. Namun, meskipun aku dizinkan pun, tidak cukup banyak hal yang bisa dikatakan. Dalam beberapa hal, dia sama misteriusnya bagiku. Seperti yang selalu kukatakan, sebagian besar bisnis yang ia lakukan adalah ilegal – baik diantara manusia maupun kaum Moroi. Saat-saat ia secara langsung berhubungan dengan oran lain adalah ketika ada sesuatu yang berhubungan dengan bisnis – atau kalau ada kasus yang sangat, sangat spesial. Kupikir kau adalah satu dari kasus itu, dan meskipun dia tidak berniat untuk mencelakaimu, dia mungkin ingin menggunakanmu untuk kepentingan dirinya sendiri. Bisa jadi keinginannya sesederhana seperti menginginkanmu untuk dikontrak sebagai penjaganya, melihat dirimu yang begitu liar. Mungkin dia ingin menggunakan dirimu untuk mendapatkan seseorang. Mungkin ini semua adalah bagian dari rencana orang lain, seseorang yang bahkan lebih misterius dari dirinya. Mungkin dia sedang melakukan kepentingan seseorang. 

Zmey bisa jadi sangat berbahaya atau sejenisnya, semua itu tergantung dengan apa yang sedang ia kerjakan. Aku tidak pernah berpikir aku cukup peduli untuk mengatakan hal ini kepada seorang dhampir, tapi berhati-hatilah. Aku tidak tahu apa rencanamu sekarang, tapi aku punya firasat kalau masalah sedang mengikutimu. Hubungi aku jika ada sesuatu yang bisa kubantu, tapi jika kau kembali ke kota untuk berburu Strigoi, jangan tinggalkan mayat lagi tanpa dibersihkan! 

Untuk semua yang terbaik, 

Sydney 

P.S. “Si Bencana Merah’ adalah nama yang kuberikan pada mobil itu. 
P.P.S. Hanya karena aku menyukaimu, itu tidak berarti aku berhenti menganggapmu sebagai makhluk jahat dari malam. Karena kau memang seperti itu. 

Nomor ponselnya tertera di bagian bawah, aku tidak bisa menahan senyumku membaca surat itu. Karena kami menumpang Abe dan para pengawalnya saat ke Baia, Sydney harus meninggalkan mobilnya, yang mana membuatnya trauma hampir sama banyaknya dengan rasa traumanya terhadap Strigoi. Kuharap para Alkemis membiarkannya memiliki mobil itu. 

Aku menggelengkan kepalaku, lebih memilih geli ketimbang memikirkan peringatannya terhadap Abe. Si Bencana Merah. Saat aku menaiki tangga ke arah kamarku, senyumku memudar. Mengesampingkan sikapnya yang kasar, aku akan merindukan Sydney. Dia mungkin tidak bisa disebut sebagai teman – atau begitukan ia? – dalam waktu yang singkat ini, aku akan menghargainya selama sepanjang hidupku. Aku tidak punya banyak hal seperti itu lagi yang tersisa. Aku merasa terapung-apung, tidak yakin akan hal yang akan ku lakukan. Aku datang kesini untuk membawa kedamaian bagi Dimitri dan hanya berakhir dengan membawa kesedihan bagi keluarganya. Dan meskipun apa yang dikatakan setiap orang benar, aku tidak akan menemukan banyak Strigoi disini, di Baia. Entah bagaimana, aku tidak bisa membayangkan Dimitri, berkeluyuran di jalanan dan perkebunan untuk memangsa sesekali. Meskipun sebagai Strigoi – dan kata itu membunuhku hanya dengan memikirkannya saja – Dimitri pastilah memiliki tujuan. Jika dia sama sekali tidak kembali untuk melihat keluarganya di kampung halamannya, kemudian dia melakukan hal-hal lain yang lebih berguna – sebanyak yang bisa dilakukan Strigoi. 

Komentar Sydney di catatan membuktikan apa yang selalu aku dengar terus menerus: Strigoi ada di kota. Tapi kota mana? Dimana Dimitri berada? Sekarang aku lah yang tidak memiliki tujuan. Di atas semuanya, aku mengulang kata-kata Mark. Apakah aku berada dalam misi gila? Apakah aku sudah bertindak bodoh dengan mengejar kematianku sendiri? Atau aku bertindak bodoh mengejar .... hal yang tidak ada? Apakah aku konyol menghabiskan sisa hariku dengan keluyuran? Sendirian? Duduk di tampat tidurku, aku merasa suasana hatiku terjungkir balik dan aku tahu aku harus mengalihkan pikiranku sendiri. Aku terlalu mudah terkena emosi gelap selama Lissa menggunakan sihir roh; aku tidak perlu untuk semakin mendorong mereka keluar. Aku memakai cincin yang diberikan Mark padaku, berharap benda ini akan membawa semacam kejernihan dan ketenangan padaku. Aku tidak merasakan perbedaan, dan memutuskan untuk mencari kedamaian dari tempat yang sama yang selalu aku lakukan: pikiran Lissa. 

Dia bersama Adrian, dan mereka berdua sedang berlatih sihir roh lagi. Setelah beberapa benjolan awal di dalam prosesnya, Adrian sedang membuktikan kecepatan belajarnya dalam hal menyembuhkan. Itu adalah saat pertama kalinya dari kekuatan Lissa untuk ditunjukkan, dan hal ini selalu membuatnya kesal kalau melihat Adrian membuat kemajuan dengan apa yang ia ajarkan dibandingkan sebaliknya. 

“Aku akan memberikan banyak hal untuk kau sembuhkan,” katanya, meletakkan tanaman kecil dalam pot di atas meja. “Kecuali kita mulai mengoyak-ngoyak mangsa atau sesuatu.”

Adrian tersenyum. “Aku pernah menggoda Rose dengan kata-kata itu, bagaimana aku bisa membutanya kagum dengan menyembuhkan hal yang diamputasi atau sesuatu yang sama tidak jelasnya.” 

“Oh, dan aku yakin dia mempunyai tanggapan yang cerdas untukmu setiap kali kau menggodanya.” 

“Ya, ya, dia memang melakukannya,” wajah Adrian terlihat begitu mengasihi ketika dia mengingat kembali memori itu. Ada sebagian kegilaan dari diriku yang selalu penasaran untuk mendengar apa yang mereka bicarakan tentang ku .... meskipun diwaktu yang sama, aku selalu merasa bersalah saat ada getar kesedihan hadir saat namaku disebutkan. Lissa mengerang dan merenggangkan tubuhnya di karpet lantai. Mereka ada di kursi panjang di asrama, dan jam tidur segera tiba, “Aku ingin berbicara padanya, Adrian.” 

“Kau tidak bisa melakukannya,” katanya. Ada nada serius yang tidak biasa di dalam suaranya. “Aku tahu dia masih memeriksa ke dalam pikiranmu - dan itu adalah cara paling dekat untuk bisa berbicara dengannya. Dan sejujurnya? Itu tidaklah begitu buruk. Kau bisa mengatakan langsung bagaimana perasaanmu dengan jelas padanya.” 

“Ya, tapi aku ingin mendengar ia berbicara balik padaku seperti yang kau lakukan dalam mimpimu.” Ini membuatnya tersenyum lagi. 

“Dia cukup banyak berbicara, percayalah padaku.” Lissa duduk tegak. 

“Lakukan sekarang.” 
“Melakukan apa?” 
“Pergi kunjungi mimpinya. Kau selalu mencoba menjelaskannya padaku, tapi aku tidak pernah benar-benar melihatnya. Biarkan aku melihatnya.” Dia menatap diam, kehilangan kata-kata. 
“Itu sejenis aktivitas seks yang tidak normal.” 
“Adrian! Aku ingin mempelajarinya, dan kita sudah mencoba berbagai hal. Aku bisa merasakan sihir disekelilingmu kadang-kadang. Lakukan saja, ok?” Adrian mulai memprotes lagi tapi kemudian menahan komentarnya setelah mempelajari wajah Lissa beberapa saat. Kata-kata Lissa sangat tajam dan menuntut – sangat tidak berkarakter untuk orang seperti Lissa. 

“Ok. Aku akan mencobanya.” Pada akhirnya, seluruh ide agar Adrian mencoba untuk masuk ke dalam kepalaku saat aku sedang melihatnya melalui kepala Lissa adalah hal yang tidak mungkin. Aku tidak terlalu yakin apa yang bisa diharapkan dari Adrian. Aku selalu bertanya-tanya apakah ia harus jatuh tertidur atau paling tidak menutup matanya untuk melakukannya. Tapi sepertinya tidak. Dia malahan menatap diam, matanya menjadi kosong saat pikirannya meninggalkan dunia disekelilingnya. Melalui mata Lissa, aku bisa merasakan sebagian sihir terpancar dari dirinya dan auranya, dan Lissa mencoba menganalisa setiap helainya. Lalu, tanpa peringatan, semua sihir itu menghilang. Dia mengerjap dan menggelengkan kepala. 

“Maaf. Aku tidak bisa melakukannya.” 
“Mengapa tidak?” 
“Mungkin karena ia sedang bangun. Apa kau belajar sesuatu dari melihat?” 
“Sedikit. Mungkin akan lebih berguna jika kau benar-benar menghubunginya.” Lagi, Lissa mengeluarkan nada marahnya. 
“Dia bisa berada dimana saja di dunia ini kau tahu, dalam jam waktu mana pun.” Suaranya melemah karena menguap. “Mungkin kita bisa mencoba di jam berbeda. Aku bisa menemuinya .... sebenarnya, hampir sama dengan jam sekarang. Atau terkadang aku medapatkannya di pagi buta.” 
“Dia bisa jadi bisa ditemui sebentar lagi,” kata Lissa. 
“Atau dalam jadwal siang manusia di beberapa bagian di dunia.” Rasa antusias Lissa menurun. 
“Benar. Itu juga.” 

“Bagaimana bisa kalian tidak pernah terlihat sedang melakukan sesuatu?” Christian berjalan memasuki ruangan, terlihat geli melihat Lissa duduk di lantai dan Adrian yang tergeletak di atas sofa. Berdiri di belakang Christian, seseorang yang tidak pernah kupikirkan bisa aku lihat segera. Adrian, yang bisa mendeteksi wanita bermil-mil jauhnya, juga mendadak menyadari pendatang baru di ruangan itu. 

“Dimana kau dapatkan gadis di bawah umur itu?” tanyanya. Christian memberi tatapan peringatan pada Adrian. 
“Ini Jill.” Jill Mastrano membiarkan dirinya di dorong ke depan, mata hijau terangnya tidak memungkinkan selebar itu saat ia melihat ke sekelilingnya. 
“Jill, ini Lissa dan Adrian.” Jill adalah satu dari orang-orang terakhir yang kuharapkan bisa terlihat disini. Aku pernah bertemu dengannya beberapa bulan yang lalu. Dia di kelas sembilan, yang berarti dia berada disini di kampus atas di musim gugur. Dia memiliki bentuk tubuh super-ramping yang sama seperti yang dimiliki Moroi kebanyakan, tapi tubuhnya itu dipasangkan dengan tinggi yang mengagumkan bahkan dengan standar vampir. Itu membuatnya semakin ramping. Rambutnya cokelat muda bergelombangnya terurai di tengah-tengah punggungnya dan akan sangat terlihat cantik – jika dia belajar bagaimana menatanya dengan pantas. Untuk sekarang, terlihat acak-acakan, dan keseluruhan kesannya – sebenarnya imut – terlihat canggung. 

“H-hai,” katanya, menatap dari satu wajah ke wajah yang lain. Sejauh yang ia perhatikan, orang-orang ini adalah para selebritis kelas atas kaum Moroi. Dia hampir pingsan ketika pertama kali dia bertemu denganku dan Dimitri, terima kasih pada reputasi kami. Dari ekspresinya sekarang, dia tengah berada dalam kondisi yang sama. 

“Jill ingin belajar bagaimana menggunakan kekuatannya untuk kebaikan daripada melawan setan,” kata Christian dengan sebuah kedipan yang berlebihan. Itu adalah leluconnya untuk menagatakan kalau Jill ingin belajar bagaimana berkelahi dengan menggunakan sihirnya. Dia pernah mengekspresikan ketertarikannya itu padaku, dan kukatakan padanya untuk menemui Christian. Aku senang dia memberanikan diri untuk mengikuti nasihatku. Christian adalah seleb kampus juga, sekalipun ia termasuk dari golongan yang tidak terkenal.

“Anggota baru lagi?” tanya Lissa, menggoyang-goyangkan kepalanya. “Kupikir kau akan bisa mempertahankan yang satu ini?” 

Jill menatap Christian bingung. “Apa maksudnya?” 
“Setelah penyerangan, banyak orang yang berkata kalau mereka ingin belajar bertarung dengan sihir,” jelas Christian. “Jadi mereka menemuiku, dan kami bekerja sama ... sekali dua kali. Kamudian setiap orang mulai menghilang setiap kali latihannya mulai keras, dan kemudian menyadari kalau mereka harus terus berlatih.” 

“Itu tidak menolong, kau memang guru yang kejam,” tuduh Lissa. “Dan sekarang kau merekrut beberapa anak-anak,” kata Adrian sungguh-sungguh. 

“Hey,” kata Jill marah. “Aku empat belas tahun.” Tiba-tiba dia bersemangat memberanikan diri berbicara dengan tegas pada Adrian. Adrian menggap hal itu lucu, seperti yang biasa ia lakukan pada hal lain. 

“Salahku,” kata Adrian. “Apa elemenmu?” 
“Air.” 
“Api dan air, ya?” Adrian meraih sesuatu ke dalam sakunya dan menarik selembar uang seratus dollar. Dia melambaikannya dan berbicara langsung. 

“Sayang, aku akan memberimu sebuah perjanjian. Jika kau bisa membuat seember air muncul dan menumpahkannya di atas kepala Christian, aku akan memberikan mu ini.” 

“Kutambahkan sepuluh.” tawa Lissa. Jill terlihat tegang, tapi aku menduga hal itu karena Adrian memanggilnya ‘sayang’. Aku sering mengabaikan apa yang dilakukan Adrian sehingga mudah bagiku untuk lupa kalau ia adalah lelaki yang seksi. 


>Christian mendorong Jill menuju pintu. “Abaikan mereka. Mereka hanya iri karena pengguna roh tidak bisa pergi menyerang di dalam pertarungan seperti yang bisa kita lakukan.” Dia berlutut ke arah Lissa di lantai dan memberinya ciuman singkat. 

“Kami berlatih dia ruang atas, tapi aku harus mengantarnya pulang sekarang. Ketemu besok lagi ya.” 

“Kau tidak perlu melakukannya,” kata Jill. “Aku bisa pulang sendiri. Aku tidak ingin menyebabkan masalah.” 

Adrian berdiri. “Kau tidak perlu pulang sendiri. Jika ada seseorang yang akan maju dan menjadi ksatria dengan baju baja berkilau disini, dia pastilah diriku. Aku akan mengantarkanmu dan meninggalkan burung-burung cinta ini dia sarang burung cinta mereka.” Dia memberikan hormat dengan cara membungkuk pada Jill. “Mari?” 

“Adrian –“ kata Lissa, nada yang tajam dalam suaranya. 
“Oh ayolah,” kataya, memutar matanya. “Toh aku juga harus kembali – kalian berdua tidak ada gunanya saat jam malam dimulai. Dan sejujurnya, berikan aku sedikit kepercayaan disini. Aku juga punya batas.” Dia memberi kan tatapan penuh arti pada Lissa, satu berarti mengatakan pada Lissa kalau dia idiot karena berpikir Adrian akan menggoda Jill. Lissa menatap Adrian selama beberapa saat dan sadar kalau pria itu benar. Adrian dulunya memang bajingan dan tidak pernah menjadikan ketertarikannya padaku sebagai sebuah rahasia, tapi mengantarkan Jill ke rumah bukanlah bagian dari godaan menyenangkan. Dia benar-benan ingin bersikap baik. 

“Baiklah,” kata Lissa. “Aku akan menjumpaimu besok. Senang bertemu denganmu, Jill.” 

“Aku juga,” sahut Jill. Dia memberanikan diri tersenyum pada Christian. 
“Terimakasih lagi.” 
“Kau sebaiknya menunjukkan keahlianmu di latihan kita berikutnya,” Christian memperingatkan. Adrian dan Jill mulai melangkah pergi dari pintu, saat Avery masuk melaluinya. 

“Hey, Adrian.” Avery memberikan Jill sekali lirikan. “Siapa gadis di bawah umur mu ini?” 

“Bisakah kalian berhenti memanggilku seperti itu?” seru Jill. Adrian menunjuk pada Avery. 

“Hush. Aku akan beurusan denganmu nanti, Lazar.” 
“Aku jelas mengharapkan hal itu juga,” dia berbicara dengan suara berirama. “Aku akan membiarkan pintunya tidak terkunci.” Jill dan Adrian pergi, dan Avery duduk didekat Lissa. 

Dia terlihat cukup mabuk, tapi Lissa tidak mencium bau alkohol dari dirinya. Lissa dengan cepat mempelajari kalau sebagian dari diri Avery selalu gembira dan riang, tidak menghiraukan keadaannya yang mabuk. 

“Apakah kau sungguh-sungguh mengundang Adrian ke kamarmu nanti?” tanya Lissa. Dia berbicara untuk menggodanya tapi seseungguhnya ia sedang mereka-reka apakah ada sesuatu yang terjadi pada mereka berdua. Dan ya, itu membuat kami berdua penasaran. 

Avery mengangkat bahu. “Aku tidak tahu. Mungkin. Terkadang kami bersama saat kalian berdua bermain di tempat tidur kalian. Kau tidak cemburukan?” 
“Tidak,” Lissa tertawa. “Hanya penasaran. Adrian adalah cowok yang baik.” 
“Oh?” tanya Christian. “Defenisi ‘baik’.” 

Avery merengkuh tangan Lissa dan mulai memeberi tanda centang pada setiap kata yang ia sebutkan dengan jari-jarinya. “Ketampananya menghancurkan, lucu, kaya, berkeluarga dengan sang ratu ...” 

“Kau sudah memilih warna baju pengantinmu?” tanya Lissa, masih dengan tertawa. 

“Belum,” sahut Avery. “Aku masih menguji airnya. Aku sedang mengira-ngira dia bisa menjadi mudah untuk diikat dengan ikat pinggang Avery Lazar, tapi dia itu cowok yang sulit dibaca.” 

“Aku sungguh tidak ingin mendengar hal ini,” kata Christian. 

“Terkadang dia bertingkah seolah mencintai mereka dan meninggalkan mereka. Di waktu yang lain, dia muram seolah sedang patah hati dengan cara yang romantis.” Lissa bertukar lirikan penuh arti dengan Christian saat Avery tidak menangkapnya ketika ia sedang asik bicara.

“Ngomong-ngomong, aku tidak berada disini untuk membicarakannya. Aku disini untuk mengatakan tentang kau dan aku meninggalkan tempat ini.” Avery melingkarkan tangannya pada Lissa yang hampir jatuh terbaring. 

“Pergi dari mana? Dari asrama?” 
“Tidak. Dari sekolah ini. Kita akan pergi dalam acara liar akhir minggu di istana.” 
“Apa, akhir minggu ini?” Lissa merasa dia berada tiga langkah di belakang, dan aku tidak menyalahkannya. 

“Mengapa?”
“Sebab itu hari Paskah. Dan yang mulia ratu merasa kalau hal itu akan menjadi ‘indah’ jika kau bisa bergabung dengannya dalam liburan kali ini.” Suara Avery terdengar agung dan tinggi. 

“Dan, sejak aku bergaul denganmu, Ayah memutuskan kalau aku telah bersikap baik sekarang.” 

“Bajingan yang nggak sadar, kasihan,” Christian mengeluh. 

“Jadi dia bilang aku bisa pergi denganmu.” Avery melirik Christian. “Kau juga bisa pergi, kurasa. Sang Ratu bilang Lissa boleh membawa seorang teman – dengan tambahan diriku, tentu saja.” Lissa menatap wajah Avery yang berseri-seri dan tidak membagi rasa antusiasnya padanya. 

“Aku benci kalau harus pergi ke istana. Tatiana hanya terus menyuruh-nyuruh, mengatakan apa yang ia pikirkan seolah itu adalah nasihat yang berguna. Rasanya selalu membosankan dan menyedihkan sekarang.” Lissa tidak menambahkan kalau dia pernah sekali merasa istana itu menyenangkan – ketika aku pergi bersamanya. 

“Itu karena kau belum pergi denganku. Aku akan menjadi terobosan! Aku tahu dimana semua hal-hal menyenangkan. Dan aku bertaruh Adrian juga akan datang. Dia bisa mendorong jalannya ke hal apapun. Ini akan menjadi semacam kencan ganda.” Perlahan, Lissa mulai mengakui kalau kali ini akan menjadi menyenangkan. Dia dan aku pernah menemukan sedikit ‘hal menyenangkan’ yang tersembunyi dari permukaan mengkilap dalam kehidupan istana. Setiap kunjungannya yang lainnya sama saja seperti yang ia gambarkan – pengap dan dan berbau bisnis. Tapi sekarang, pergi dengan Christian dan Avery yang liar dan spontan? Akan menjadi hal yang potensial. Hingga Christian mengacaukannya. 

“Well, jangan hitung aku dalam daftar yang ikut,” katanya. “Jika kau hanya bisa membawa satu orang, bawalah Jill.” 

“Siapa?” tanya Avery. 
“Gadis di bawah umur,” jelas Lissa. Dia menatap Christian dengan heran. “Demi Tuhan mengapa aku harus membawa Jill? Aku baru bertemu dengannya.” 

“Sebab dia sebenarnya serius mempelajari bagaimana mempertahankan diri. Kau harus memperkenalkan ia kepada Mia. Mereka sama-sama pengguna air.” 
“Benar,” kata Lissa mengerti. “Dan fakta kalau kau membenci acara di istana tidak bisa diubah?” 
“Well....” 
“Christian!” Lissa mendadak menjadi marah. “Mengapa kau tidak melakukan ini untukku?” 

“Karena aku benci cara Ratu jalang itu menatapku,” katanya. Lissa masih belum merasa yakin. 
“Ya, tapi ketika kita lulus, aku akan tinggal disana. Kau juga akan pergi ke sana.” 
“Ya, well, kalau begitu anggap kau memberi liburan awal untukku.” Rasa kesal Lissa tumbuh. 
“Oh, aku mengerti sekarang. Aku harus menerima semua ucapan sampahmu selama ini, tapi kau tidak mau pergi untukku.” Avery melirik mereka dan berdiri. 

“Aku akan meninggalkan kalian anak-anak untuk menyelesaikan masalah ini dengan cara kalian. Aku tidak peduli apakah si gadis di bawah umur atau Christian yang akan pergi, selama kau ada disana Lissa.” Dia manatap tajam ke arah Lissa. “Kau akan pergi, kan?” 

“Ya, aku akan pergi.” Jika apapun dari penolakan Christian mendadak hal itu memacu Lissa lebih jauh. Avery menyeringai.

“Menakjubkan. Aku akan pergi duluan dari sini, tapi kalian berdua haruslah berciuman dan berbaikan setelah aku pergi.” Kakak Avery, Reed tiba-tiba muncul di pintu. 
“Apa kau siap?” Reed bertanya pada Avery. Setiap kali dia berbicara, suaranya selalu terdengar seperti sebuah omelan. Avery memberikan sekilas tatapan kemenangan. 
“Lihat? Kakakku yang sopan, datang menjemputku sebelum ibu asrama mulai meneriakiku untuk pergi. Sekarang Adrian harus menemukan cara baru yang lebih menarik untuk membuktikan jiwa ksatrianya.” Reed tidak terlihat sangat sopan ataupun ksatria, tapi kurasa dia sungguh baik mau menjemput dan mengantar Avery ke kamarnya. Pemilihan waktunya selalu saja menakutkan sebenarnya. Mungkin Avery benar tentang kakanya itu, dia tidaklah seburuk yang orang-orang pikirkan. Segera setelah Avery pergi, Lissa mengembalikan perhatiannya pada Adrian. 

“Apa kau benar serius menyuruhku membawa Jill daripada membawamu?” 
“Yep,” sahut Christian. Dia mencoba untuk berbaring di pangkuan Lissa, tapi Lissa mendorongnya menjauh. 
“Tapi aku akan menghitung setiap detiknya sampai kau kembali.” 
“Aku tidak percaya kau menganggap semua ini lelucon.” 
“Aku tidak menganggapnya seperti itu,” katanya. “Dengar, bukan maksudku untuk tidak mau bekerjasama denganmu, Ok? Tapi sungguh ... aku hanya tidak ingin berurusan dengan segala macam hal yang berhubungan dengan drama istana. Dan ini akan bagus untuk Jill.” 

Dia cemberut. “Kau tidak punya masalah untuk menolak dia kan?” 
“Aku bahkan tidak mengenalnya,” sahut Lissa. Dia masih marah – sangat marah dari apa yang aku harapkan, yang artinya sangat aneh. Christian menggenggam tangan Lissa, dengan wajah yang serius. Mata biru yang dicintai Lissa mampu meredakan sedikit kemarahan dalam diri Lissa. 

“Kumohon, aku tidak sedang mencoba membuatmu marah. Jika hal ini benar-benar penting ....” Hanya dengan seperti itu, kemarah Lissa merebak hilang. Rasanya mendadak, seperti ada semacam tombol perubah. 

“Tidak, tidak. Aku tidak masalah membawa Jill – meskipun aku tidak yakin apakah dia akan bergabung dengan kami dan melakukan apapun yang ada dalam pikiran Avery.” 

“Berikan Jill pada Mia. Dia akan menjaganya di akhir minggu itu.” Lissa mengangguk, bertanya-tanya mengapa Christian begitu tertarik pada Jill. 

“Ok. Tapi kau tidak melakukan hal ini karena kau tidak menyukai Avery kan?” 
“Tidak, aku suka Avery. Dia membuatmu lebih banyak tersenyum.” 
“Kau yang membuatku tersenyum.” 
“Itulah kenapa kutambahkan kata ‘lebih’.” Christian mencium tangan Lissa dengan lembut. 

“Kau menjadi begitu bersedih setelah kepergian Rose. Aku senang kau mau bergaul dengan orang lain – maksudku, untuk semua kebutuhan yang tidak bisa kaudapatkan dariku.” 

“Avery bukan pengganti Rose,” jawab Lissa cepat. 
“Aku tahu. Tapi dia mengingatkan ku pada Rose.” 
“Apa? Mereka tidak memiliki kesamaan sedikit pun.” Christian menegakkan tubuhnya dan duduk di samping Lissa, mengistirahatkan wajahnya di pundak Lissa. 
“Avery seperti Rose dulu, sebelum kalian berdua pergi.” Baik Lissa maupun aku terhenti sejenak merenungkan hal itu. Apakah dia benar? Sebelum kekuatan roh Lissa mulai nampak, dia dan aku hidup dalam gaya hidup gadis pesta. Dan ya, separuhnya dari waktu itu, akulah yang selalu memberikan ide gila untuk menemukan waktu yang menyenangkan dan membuat kami masuk dalam masalah. Tapi apakah aku benar-benar terlihat seperti Avery kala itu? 

“Tidak akan ada Rose yang lain,” kata Lissa sedih. 
“Tidak,” Christian membenarkan. Dia memberikan ciuman singkat dan lembut di bibirnya. “Tapi akan terus ada teman baru.” 

Aku tahu dia benar, tapi aku tidak bisa menolak untuk merasa sedikit cemburu. Aku juga tidak bisa menghentikan sedikit rasa khawatirku. Semburan kemarahan singkat yang dialami Lissa sejenis kesedihan. Aku bisa memahami betapa ia berharap Christian bisa menemaninya, tapi tingkahnya yang sedikit menyebalkan – dan rasa-hampir-cemburunya pada Jill pun juga aneh. Lissa tidak punya alasan untuk meragukan perasaan Christian, jelas tidak perlu apalagi pada seseorang seperti Jill. Suasana hati Lissa mengingatkanku pada diriku dulu. Lebih banyak terlihat karana dia terlalu lelah, tapi sebagian firasatku – mungkin ini bagian dari ikatan kami – mengatakan padaku ada sesuatu yang salah pada dirinya. Seperti sensasi yang cepat berlalu, yang tidak bisa aku benar-benar pahami, seperti air yang mengalir di jari-jariku. Namun, firasatku selalu benar sebelumnya, dan kuputuskan untuk lebih sering memeriksa keadaan Lissa. __

Diterjemahkan langsung dari Novel Vampir Academy: Blood Promise karya Richelle Mead oleh Noor Saadah. This is truly  fanmade and  no profit work.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

AUTHOR

AUTHOR
TWILIGHT HUNTER, AN AUTHOR & AN ORDINARY ACOUSTIC PERFORMER WHO'S CRAVING FOR BEAUTY PICTURES

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • pinterest
  • google+
  • instagram
  • bloglovin

Labels

  • BOOK
  • CATATAN KULIAH
  • CHICKEN SOUP
  • CONTEST
  • FASHION
  • MOVIE
  • MUSIC
  • REVIEW
  • TES POTENSI AKADEMIK
  • TRAVEL STORY
  • VAMPIRE ACADEMY

Total Pageviews

Powered by Blogger.
Facebook Twitter Instagram Pinterest Bloglovin

Created with by BeautyTemplates