facebook twitter instagram pinterest google+

Love Your Life

  • Home
  • About
  • Literature
    • Poem
    • Short Story
    • Essay
    • Photoshop
  • Travel Story
    • Korea
    • Kalimantan
    • Bali
    • Java
    • Coffee Shop
  • Vampire Academy
    • Spirit Bound
    • Blood Promise
    • Shadow Kiss

BAB I
Latar Belakang
Karakter suatu tokoh dalam suatu cerita fiksi memang terbangun dari imajinasi. Namun imajinasi tersebut terinspirasi dari kehidupan nyata atau dengan kata lain berkembang dalam wadah sastra sebagai bentuk dari kepekaan manusia terhadap hidup dan kebenaran yang dipercayai. Sebaliknya, cerita fiksi juga mampu memberikan inspirasi bagi pembaca sebagai bentuk pembelajaran hidup dari pandangan berbeda, yakni dunia sastra. Sehingga dengan menganalisis karakter suatu tokoh dalam suatu cerita fiksi, pembaca dapat belajar memahami karakter manusia secara tidak langsung.
Dalam kehidupan nyata, seseorang mungkin akan bertanya-tanya mengapa masih ada orang yang mencoba bunuh diri meski hidupnya sudah terlihat sempurna. Kecuali jika pada pemberitaan surat kabar tertulis bahwa orang itu mencoba bunuh diri karena ternyata mengalami depresi berat setelah tunangannya menikahi perempuan lain. Namun, sebenarnya orang lain tidak akan benar-benar tahu mengenai apa yang berkecamuk dalam pikiran orang yang mencoba bunuh diri tersebut. Berbeda dengan tokoh dalam cerita fiksi, segala tindakan yang ia lakukan pada saat itu bisa dikaitkan dengan motif, masa lalu, bahkan pikiran tokoh sendiri. Keterbatasan-keterbatasan manusia dalam menilai seseorang itulah yang membuat analisis tokoh dalam cerita fiksi sebagai alternatif manusia untuk mencari jawaban yang tidak ditemukan dalam kehidupan nyata.
Analisis penokohan dalam suatu karya sastra, terutama cerpen, pengertiannya sering dikaitkan dengan deskripsi fisik tokoh. Padahal, deskripsi fisik tokoh hanyalah satu dari beragam cara penganalisisan tokoh. Namun, sejak tingkat sekolah menengah, penokohan diperkenalkan sebagai karakter suatu tokoh yang dapat dilihat dari tindakan tokoh, tuturan tokoh lain, atau gambaran pengarang. Berikut pengertian penokohan dalam salah satu buku pegangan siswa SMA kelas XII yang sudah disesuaikan dengan Peraturan Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.
Penokohan atau perwatakan dalam cerita adalah pemberian sifat, baik lahir maupun batin kepada seorang tokoh. Tokoh Cerita merupakan bagian yang ditonjolkan pengarang. Tokoh yang tergolong penting dan ditampilkan terus-menerus dalam cerita dinamai tokoh utama. Sebaliknya, ada tokoh yang hanya dimunculkan sekali atau beberapa kali disebut tokoh sampingan. Ada pula tokoh yang mempunyai sifat ideal, tokoh tesebut dinamai protagonis. Tokoh yang menimbulkan konflik atau permasalahan dalam cerita disebut antagonis. Tokoh-tokoh dalam cerpen memiliki peranan yang berbeda-beda. Ada tokoh pemarah, periang, pemalas, rajin, penyabar, atau bijaksana (Dewi, 2009: 85).
Dalam salah satu standar kompetensi membaca, yakni memahami wacana sastra puisi dan cerpen, siswa diharapkan mampu mencapai dua kompetensi dasar. Salah satu kompetensi dasar tersebut adalah menjelaskan unsur-unsur intrinsik cerpen. Penokohan merupakan bagian dari unsur-unsur intrinsik cerpen tersebut, namun pada kenyataannya penjelasan mengenai penokohan dalam beberapa buku pegangan siswa masih sangat terbatas, bahkan kurang jelas. Kutipan di atas menunjukkan bahwa penjelesan mengenai penokohan bagi siswa tingkat sekolah menengah masih tergolong umum sehingga perlu lebih dispesifikasikan lagi.
Materi pembelajaran bahasa Indonesia mengenai penokohan dalam buku-buku penunjang juga Lembar Kegiatan Siswa (LKS) hanya menjelaskan penokohan sebagai karakter dari suatu tokoh. Materi tersebut hanya mengajarkan bagaimana cara menilai karakter tokoh melalui tindakan tokoh, tuturan tokoh lain, atau gambaran dari pengarang.
Dalam Ujian Akhir Nasional (UAN) mata pelajaran bahasa Indonesia, soal-soal mengenai penokohan selalu muncul dalam satu sampai dua butir soal, misalnya seperti soal berikut.
(1) Agaknya bahaya modern yang memusingkan untuk seorang guru desa seperti saya sudah demikian berakarnya di hati anak-anak muda kita. (2) Dan yang lebih menakutkan sudah mulai menjalar dan menyentuh anak desa, termasuk anak saya. (3) “Good morning Pak Marjuki, how are you hari ini?” tanya seseorang mengagetkanku. (4) Rasa kagetku berubah jadi takjub, bingung, dan takut. (5) Di depanku berdiri sesosok makhluk modern, mirip yang ada di sinetron televisi. (6) Aku begitu ketakutan sampai tidak bisa mengatakan sepatah kata pun. (7) Ternyata sulur-sulur akar modernisasi mulai menjalar ke tempatku mengajar. (8) Damainya hutan pinus di lereng gunung yang memagari dusun kecil ini mulai terusik oleh keganasan budaya “gaul”. (9) Bahkan, di depanku korban “gaul” seolah mau menerkamku. (10) Betapa tidak, Bu Guru Istiqomah datang dengan tampang baru, rambut yang ikal panjang hitam indah, kini berubah lurus bagai sapu ijuk karena percikan cat cokelat.
Pembuktian watak tokoh “aku” yang pencemas dalam kutipan tersebut terdapat pada kalimat nomor …
A. (1), (2), dan (8)
B. (1), (4), dan (6)
C. (2), (6), dan (7)
D. (4), (6), dan (9)
E. (4), (8), dan (10)
(UAN 2008/2009)
Pendeskripsian watak “aku” berdasarkan kutipan cerpen tersebut melalui …
A. gambaran fisik tokoh
B. ucapan tokoh lain
C. tindakan tokoh
D. dialog antar tokoh
E. uraian pengarang
(UAN 2008/2009)
Kedua soal di atas merupakan soal mengenai penokohan yang diambil dari soal-soal UAN 2008/2009. Berdasarkan pengamatan terhadap soal-soal UAN mata pelajaran Bahasa Indonesia 3 (tiga) tahun sebelumnya, peneliti mendapati soal-soal penokohan yang selalu muncul dengan bentuk soal yang hampir mirip. Soal-soal tersebut hanya menanyakan watak atau karakter tokoh berdasarkan deskripsi dari penggalan cerpen yang diberikan kemudian melalui apa watak tersebut digambarkan. Sayangnya, soal-soal ini dapat memperkuat asumsi siswa bahwa penokohan hanya sebatas deskripsi fisik semata.
Penokohan memang hanyalah merupakan satu dari sekian banyak bahasan dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia yang patut dipahami siswa untuk menghadapi UAN. Jadi, tidak terlalu aneh jika beberapa siswa kelas 3 (tiga) masih belum memahami betul bagaimana cara menentukan karakter tokoh dalam suatu penggalan cerita. Pada kesempatan terbatas, peneliti melakukan uji coba terhadap lima orang siswa kelas 3 (tiga) dalam pemahaman mengenai penokohan. Setelah diberikan 2 (dua) butir soal yang bentuk soalnya hampir mirip dengan kedua soal di atas, hanya 3 (tiga) orang yang berhasil menjawab kedua soal dengan benar. Sisanya hanya menjawab salah satunya dengan benar. Meskipun ini tidak menjamin tingkat pemahaman siswa terhadap penokohan secara keseluruhan, namun uji coba kecil ini bisa dijadikan landasan bahwa pembelajaran mengenai penokohan pada sekolah tingkat menengah memang masih perlu dibenahi.
Menilai karakter satu tokoh dalam dunia cerpen sama susahnya dengan menilai seseorang dalam dunia nyata. Penilaian tidak bisa dilakukan di area permukaan yang terlihat saja tetapi juga secara mendalam agar tidak terjadi salah interpretasi terhadap sang tokoh. Sayangnya, kebanyakan penelitian sebelumnya tentang penokohan hanya bergelut pada tokoh dilihat dari apa yang ia katakan dan apa yang ia lakukan dalam cerita. Deskripsi tentang tokoh dalam beberapa penelitian masih terikat pada deskripsi yang digambarkan pengarangnya saja. Sehingga penelitian tersebut menjadi penelitian yang masih perlu analisis ulang karena hasil penelitian tersebut sudah diketahui oleh pembaca awam yang sudah memahami lebih dulu tanpa harus melakukan penelitian. Penelitian mengenai penokohan seharusnya adalah penelitian yang dilakukan secara mendalam sehingga mampu membuka karakter-karakter tokoh yang masih tersembunyi.
Analisis penokohan merupakan penelitian yang sudah banyak dilakukan sebelumnya. Beberapa penelitian masih konsisten menggunakan novel sebagai objek penelitian, seperti penelitian yang pernah dilakukan oleh Rusmila dalam skripsinya yang berjudul Analisis Penokohan Novel ‘Tumini Perawan Ondeneming’ Karya Karmaputra (2001). Analisis penokohan dalam cerpen masih sangat sedikit jika dibandingkan dengan analis penokohan novel. Namun hal itu tidak berarti membuat penelitian penokohan terhadap kumpulan cerpen tidak ada sama sekali. Penelitian seperti ini pernah dilakukan oleh Darmiadi dalam skripsinya yang berjudul Tokoh-tokoh Wanita Idaman dalam Cerpen-Cerpen Majalah Wanita Kartini (2003).
Pada penelitian-penelitian penokohan sebelumnya, sebagian besar peneliti lebih memilih novel sebagai objek penelitian. Novel memberikan keleluasaan dalam penggambaran tokohnya sehingga pembaca serasa bisa langsung mengenali siapa sang tokoh. Sayangnya, hal inilah yang menjebak beberapa penelitian penokohan terdahulu sehingga perwatakan yang digambarkan di dalam penelitian tersebut tidak jauh berbeda dengan perwatakan yang sudah dijelaskan di dalam novel. Karena itulah, penelitian kali ini berupaya untuk terlepas dari ikatan deskripsi penokohan yang hanya terbatas pada apa yang diberikan oleh novel. Penggunaan cerpen sebagai objek penelitian juga dimaksudkan sebagai pembuktian bahwa dengan deskripsi tokoh yang terbilang terbatas, pembaca mampu menggali lebih dalam tentang siapa sang tokoh sebenarnya.
Ripin: Cerpen Kompas Pilihan 2005-2006 adalah satu dari ratusan buku kumpulan cerpen yang telah terbit. Akan tetapi buku ini memiliki kelebihan tersendiri yakni cara pemilihan cerpen yang berbeda dari buku-buku pendahulunya. Jika biasanya cerpen-cerpen yang akan diterbitkan menjadi buku itu dipilih oleh sejumlah anggota Redaksi Kompas, maka kali ini proses pemilihan diserahkan sepenuhnya pada pihak luar yakni Prof. Dr. Bambang Sugiharto dan Nirwan Dewanto. Suryopratmo, Pemimpin Redaksi Harian Kompas, menganggap kedua nama ini memiliki kompetensi yang bagus dalam memilih cerpen.
Dengan menempatkan dua tokoh tersebut untuk menyelia cerpen-cerpen Kompas yang terbit selama dua tahun yakni sepanjang tahun 2005 dan 2006, kami mengharap adanya kemungkinan-kemungkinan baru berikut kriteria-kriteria artistik yang lain, yang boleh jadi berbeda andai itu dilakukan oleh Redaksi Kompas (Pambudy, 2007: 9).
Perubahan metode pemilihan membawa warna baru pada buku kumpulan cerpen ini. Sehingga cerpen-cerpen yang dipilih dalam Ripin: Cerpen Kompas Pilihan 2005-2006 ini dinilai lebih unik dan unggul dibandingkan dengan yang lain. Perbedaan yang dibawa pada objek penelitian ini diharapkan bisa membuat penelitian penokohan kali ini juga berbeda dari pada penelitian-penelitian sebelumnya.
Tokoh-tokoh yang dihidupkan setiap cerpen dalam Ripin: Cerpen Kompas Pilihan 2005-2006 memiliki karakter yang khas dan samar. Penggambaran secara langsung tidak terlalu banyak muncul, bahkan ada beberapa cerpen yang tidak menggunakan jenis penggambaran ini sama sekali. Sehingga, untuk mengetahui jati diri tokoh sebenarnya diperlukan adanya penghubungan antara tokoh dengan semua unsur intrinsik dan informasi yang dimunculkan pada cerpen tersebut.
Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti memilih Ripin : Cerpen Kompas Pilihan 2005-2006 sebagai objek penelitian. Oleh karena itu, penelitian ini diberi judul Analisis Penokohan Kumpulan Cerpen Ripin : Cerpen Kompas Pilihan 2005-2006.
Masalah
Kecenderungan penokohan yang dikaitkan dengan deskripsi fisik tokoh membuat analisis penokohan menjadi dangkal. Hal ini terkait pula dengan pengenalan pembelajaran penokohan pada sekolah tingkat menengah yang juga hanya memberikan gambaran penokohan sebatas deskripsi fisik semata. Akibatnya, kedangkalan pemahaman tersebut terus ada dalam diri siswa dan tidak berkembang. Munculnya soal penokohan dalam Ujian Akhir Nasional pun memperkuat pemahaman terhadap deskripsi fisik atau deskripsi yang diberikan pengarang adalah sebagai penokohan atau perwatakan. Buku-buku penunjang yang merupakan pegangan siswa sekolah tingkat menengah masih belum memberikan pemaparan yang jelas mengenai penokohan. Penjelasan mengenai penokohan masih terlalu umum dan sedikit. Hal ini akan mendasari munculnya kerancuan dan keraguan terhadap apa yang dimaksud dengan penokohan dan bagaimana menganalisis penokohan sebenarnya karena dari awal pengenalan, pemahaman penokohan yang diberikan masih belum tepat.
Pengetahuan yang minim mengenai penokohan membuat pemahaman terhadap karakter suatu tokoh pun menjadi tidak maksimal. Keterbatasan pengetahuan tersebut hanya akan membuat penilaian terhadap suatu tokoh dalam karya sastra hanya terjadi pada tahap permukaan saja. Hal ini tidak hanya akan menggangu unsur penokohan saja, tetapi juga keseluruhan dari cerita.
Berdasakan latar belakang di atas, maka masalah yang dikaji adalah penokohan dalam kumpulan cerpen Ripin: Cerpen Kompas Pilihan 2005-2006.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan masalah di atas, peneliti merumuskan masalah penelitian yakni sebagai berikut:
1) Bagaimana perwatakan tokoh dalam kumpulan cerpen Ripin: Cerpen Kompas Pilihan 2005-2006?
2) Bagaimana jenis-jenis tokoh dalam kumpulan cerpen Ripin: Cerpen Kompas Pilihan 2005-2006?
3) Bagaimana teknik-teknik penokohan dalam kumpulan cerpen Ripin: Cerpen Kompas Pilihan 2005-2006?
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan watak tokoh; jenis-jenis tokoh; dan teknik-teknik pelukisan tokoh dalam kumpulan cerpen Ripin: Cerpen Kompas Pilihan 2005-2006 agar penggambaran dan penilaian terhadap tokoh tidak hanya sebatas pada deskripsi fisik semata.
Manfaat Penelitian
Manfaat Teoritis
Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, penokohan merupakan salah satu pokok bahasan wajib bagi siswa tingkat menengah. Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk memperdalam pemahaman tentang pembelajaran mengenai penokohan sebelumnya. Penelitian ini juga berkaitan dengan masih kurangnya penjelasan unsur intrinsik penokohan pada buku-buku ajar sekolah tingkat menengah. Oleh karena itu penelitian ini diharapkan mampu memberikan penjelasan dan jawaban atas pertanyaan mengenai penokohan, sehingga pembelajaran penokohan tidak disinonimkan dengan deskripsi fisik tokoh semata.
Manfaat Praktis
Berdasarkan tujuan penelitian di atas, maka penelitian ini diharapkan dapat:
1) Dijadikan salah satu rujukan sebagai bahan referensi yang berhubungan dengan penelitian serupa.
2) Dijadikan sebagai penelitian evaluasi dari penelitian-penelitian sebelumnya.
3) Memberikan dorongan untuk gemar membaca karya sastra terutama cerpen.
Share
Tweet
Pin
Share
3 komentar
BANJARMASIN – Mempertanyakan pentingnya sebuah virginitas bukan lagi hal yang baru di Indonesia. Ketabuan jadi semakin longgar selaras dengan budaya asing yang full demokrasi perlahan masuk mengkontaminasi pikiran putra putri bangsa. Hal yang dulu dianggap 'famali' untuk dibicarakan, sekarang bebas untuk diteriakkan oleh siapapun. Bahkan anak kecil baru belajar bicara pun mulai tahu beberapa kosakata yang belum pantas untuk umurannya.

Terlepas dari pantas tidaknya kosakata tersebut, virginitas ibarat bunga yang menyeruak di tengah musim semi, selalu menjadi bahan perbincangan yang tidak pernah aus setiap detiknya. Meski berulang kali menjadi judul pembahasan yang hangat, penting tidaknya virginitas sebelum menikah selalu mendapat jawaban berbeda dari tiap sisi wajah.

Menurut Naning Pranoto dalam bukunya Virgin? Sex and Teens, keperawanan atau virginitas (virginity) disebut pula sebagai selaput dara atau hymen. Ia berupa selaput tipis yang menutupi 'pintu' rongga vagina. Selaput ini akan robek bila yang empunya melakukan hubungan seksual dengan lawan jenis. Itulah makanya, seorang cewek yang belum robek hymennya disebut masih gadis atau masih perawan.

Bagi masyarakat Banjarmasin sendiri, keperawanan merupakan hal yang perlu dipertahankan. Terlebih sebagian besar masyarakat di provinsi ini merupakan masyarakat agamis yang masih berpegang teguh pada norma agama.

Namun tak elak jika terjadi perbedaan pendapat antara kaum tua dengan kaum muda. Faktanya, di antara orang-orang yang masih menganggap keperawanan sebagai lambang kesucian yang sakral, yang harus dipertahankan sampai menginjak singgasana pelaminan, ada sebagian remaja yang tampak mulai mengikis anggapan itu.

Sebut saja Arini (bukan nama sebenarnya), gadis berdarah jawa-banjar ini mengaku sudah tidak perawan lagi sejak duduk di bangku SMA. Meski terkesan malu-malu, ia mengungkapkan alasan yang ia percaya sebagai dasar untuk membenarkan perbuatannya. "Keperawanan itu penting, namun cinta itu lebih penting," ujarnya. Ketika ditanya perihal apakah menyesal setelah tidak lagi menjadi seorang 'gadis perawan', Arini menjawab dengan mantap,"Saya tidak menyesal, karena saya memberikannya kepada orang yang saya cintai."

Apa yang terjadi terhadap Arini biasa disebut oleh masyarakat konvensional sebagai 'cinta buta'. Menurut Naning, apa yang dialami oleh Arini itu bukanlah cinta melainkan libido. Libido merupakan keinginan atau dorongan untuk melakukan hubungan seks. Di dalam bukunya, ia menjelaskan bahwa hampir 97% seseorang jatuh cinta pada lawan jenisnya karena didorong atau digerakkan oleh libidonya. Jadi, hanya 3% yang jatuh cinta pada lawan jenisnya karena pure atau murni jatuh cinta.

Lain Arini lain pula Isna. Gadis perantauan yang baru saja mengenal Banjarmasin ini juga mengaku sudah tidak perawan lagi. Setelah mengenal Andi, seorang pemuda gaul Banjarmasin, Isna kehilangan keperawanannya tepat sebulan setelah 'jadian'. "Mau gimana lagi, teman-teman di kost saya pada manas-manasin. Katanya rugi kalau nggak pernah ML. Mereka juga cerita kalau mereka sudah sering begituan," ujarnya dengan mata menerawang.
Karena tergoda oleh iming-iming kenikmatan sesaat oleh teman satu atap, Isna akhirnya tidak mampu mempertahankan kesuciannya. "Pacarku bilang katanya ini untuk pembuktian cinta. Trus dia bilang dia bakal bertanggung jawab kalau ada apa-apa," lanjutnya sambil memain-mainkan rambut rebonding-nya.

"Tapi jangankan bertanggung jawab, sekarang aja kami udah nggak punya hubungan apa-apa lagi. Udah putus beberapa bulan yang lalu," katanya sambil tertawa kecil. Tidak terlihat rasa penyesalan sedikitpun di wajah cantiknya. Untungnya, Isna tidak merasa dunia akan segera kiamat setelah ia pisah dengan lelaki yang sudah merenggut harta keperempuanannya itu. Ia bahkan membanggakan pacar barunya yang 'katanya' menerima ia apa adanya.

Berbalik sudut pandang, tanggapan berbeda didapat ketika masalah virginitas ini ditanyakan kepada para kaum Adam. Keyya misalnya, cowok yang masih berstatus mahasiswa ini berpendapat tidak masalah kalau perempuan sudah tidak lagi perawan. Baginya kecocokan lebih penting dibanding mempermasalahkan keperawanan di dalam hubungan yang ia bina. "Toh aku juga udah nggak perjaka lagi, jadi nggak masalah sih bagiku kalau dapat pacar atau istri yang juga udah nggak perawan lagi," ungkapnya jujur. "Yang penting dalam hubungan itu adalah kesetiaan," lanjutnya lagi serius.

Laki-laki yang hanya bisa ditanyai via telepon ini mengaku sudah beberapa kali 'mecah duren' anak perawan. "Kami melakukannya lantaran sama-sama suka. Nggak ada unsur paksaan kok," ujarnya kalem.

Berbeda dengan Keyya, Ayan tidak sependapat jika keperawanan dijadikan masalah kesekian dalam membangun suatu hubungan. "Keperawanan itu penting karena merupakan bukti bahwa seorang gadis bisa menjaga dirinya dengan baik," kata mahasiwa disatu PTN di Banjarmasin itu. Saat ditanya bagaimana jika wanita yang ia cintai ternyata sudah tidak perawan lagi, Ayan menjawab dengan tegas, "Lebih baik putus saja. Jika dari awal tidak ada kejujuran, hubungan tidak bisa dilanjutkan ke arah yang lebih serius."

Ayan pun menambahkan, gadis baik-baik juga akan mendapat laki-laki yang baik pula. Menurutnya tidak pantas jika seorang lelaki yang tidak lagi perjaka mengharapkan gadis yang masih virgin. "Wanita sudah seharusnya menjaga harta mereka yang paling berharga dan sebagai laki-laki sudah sepantasnya menghargai seorang wanita."

"Keperawanan itu penting, tapi bukan yang utama," ujar Shesa. Gadis manis keturunan Cina ini berpendapat masih banyak hal yang lebih penting dari sekedar meributkan perawan tidaknya seorang gadis. Namun ia tetap setuju bahwa virginitas tetap harus dijaga sampai seorang gadis resmi berubah status menjadi seorang istri. "Saya tentu saja akan menyimpan keperawanan saya sebagai kado terindah untuk suami saya kelak,"lanjutnya pasti.
Serupa dengan Shesa, Rina pun berpendapat sama. Hanya saja ia tidak menolak jika seandainya harus menyerahakan keperawanannya kepada orang yang ia cintai. "Asalkan udah pasti seratus persen bakal nikah," kata gadis yang masih virgin ini sambil tertawa keras.

"Keperawanan adalah simbol kesucian seorang wanita. Apalagi sebagai gadis timur yang beragama, sudah sepatutnyalah kita menjaga apa yang memang seharusnya kita jaga. Malam pertama akan lebih berkesan jika dilakukan dalam suasana yang sakral atas restu orang tua serta sah di mata agama dan hukum. Tentu saja kita tidak bisa meniru masyarakat barat yang kebanyakan berpendapat kalau virginity hanyalah persoalan selaput dara semata. Sehingga mereka menghalalkan reparasi hymen hanya untuk mengembalikan selaput daranya seperti sedia kala. Padahal keperawanan tidak hanya berfokus pada rusak tidaknya selaput dara, tapi pernah tidaknya kita menyerahkan diri sepenuhnya kepada seseorang," papar Enna, seorang mahasiswa tingkat 3 di Banjarmasin.(Enoy)
Share
Tweet
Pin
Share
3 komentar
KODE
Istilah netral yang mengacu pada bahasa atau variasi bahasa.
Istilah ini dapat dipakai untuk mengacu pada sistem apapun yang digunakan dua orang atau lebih untuk berkomunikasi.
Sosiolinguistik tertarik pada faktor pemilihan kode tertentu untuk kesempatan tertentu.

PILIH KODE

Meliputi: Diglosia, alih kode, dan campur kode.
Latar: situasi bilingual dan multilingual.
Tak mudah menyatakan dengan tepat mengapa seseorang menggunakan kode X pada satu saat dan kode Y di saat lain, dan di saat lain lagi mencampur X dan Y jadi kode Z baru.

DIGLOSIA

Sebutan untuk keadaan masyarakat yang memakai 2 variasi dari satu bahasa yang sama, dan setiap variasi punya peranan tertentu.
Situasi kebahasaan ini relatif stabil, gramatikanya kompleks, terkodifikasi dengan baik, dipelajari dan digunakan secara formal, tidak di ranah publik.

DIGLOSIA (Ferguson)

Kriteria fungsi sangat penting dalam hal ini.
Dalam masyarakat diaglosis ada 2 variasi dari satu bahasa: variasi tinggi (T) dan variasi rendah (R).
Distribusi fungsional dialek T dan R sangat situasional.

ALIH KODE (Code Switching)

Appel: gejala peralihan pemakaian bahasa karena perubahan situasi. Terjadi antarbahasa.
Hymes: bisa terjadi antar ragam atau gaya dalam satu bahasa. Mis. Dari ragam baku ke nonbaku, dsb.

SEBAB ALIH KODE

FISHMAN: Keragaman bahasa terjadi atas dasar "siapa bicara dengan bahasa apa kepada siapa, kapan, di mana, dan untuk apa."
Alih kode pun demikian. Secara umum disebabkan: (1) Perubahan partisipan, (2) Perubahan situasi, dan (3) perubahan topik.

PARTISIPAN dan ALIH KODE 

Alih kode bisa menguntungkan.
Alih kode karena penutur ingin mengimbangi lawan bicara.
Kehadiran orang ketiga dengan bahasa yang beda dengan partisipan 1 dan 2 bisa sebabkan alih kode.
Status orang ke-3 bisa sebabkan alih kode.

SITUASI dan  ALIH KODE 

Situasi formal ke nonformal atau sebaliknya.
Kehadiran orang lain yang beda bahasa.
Situasi rileks ke serius atau sebaliknya.

TOPIK dan ALIH KODE

Topik sukar ke topik gampang.
Topik ilmiah ke non-ilmiah.
Topik sederhana ke topik kompleks.

ALIH KODE: SEBAB LAIN

Ingin dianggap terpelajar.
Ingin menjauhkan/mendekatkan jarak.
Menghindari bentuk kasar/halus dalam bahasa.
Mengutip kata-kata orang lain.
Menyembunyikan identitas.
Pengaruh media komunikasi.

ALIH VS CAMPUR KODE

Persamaan: menggunakan dua bahasa atau varian bahasa dalam satu masyarakat tutur.
Perbedaan: Pada AK
à ragam bahasa masih memiliki fungsi otonomi masing-masing, dilakukan dg sadar karena sebab tertentu. Pada CK
à kode dasar punya otonomi, kode lain hanya serpihan yang tak otonom.


Thelander (Chaer, 152): ukuran klausa à bila dalam peristiwa tutur terjadi peralihan dari satu klausa dari satu bahasa ke klausa bahasa lain, ini Alih Kode. Bila klausa itu hibrid, terdiri frase atas frase campuran, tak mendukung fungsi dasar, ini Campur Kode.


Fasold (Chaer, 152): Kriteria Gramatika. Sulit dipahami tetapi tak jauh beda idenya denga ide Thelander.

CAMPUR KODE (Code Mixing)

Percampuran kode dua bahasa secara cepat, dalam satu kalimat, secara sadar ataupun tidak disadari.

Mis.: Oke kita makanan sama-sama (Banjar)


INTERFERENSI

Perubahan sistem bahasa (B1) karena persentuhan dengan unsur bahasa lain (B2) yang dilakukan penutur bilingual.
Kemampuan penutur bilingual: kemampuan sejajar dan kemampuan majemuk.

INTERFERENSI (Fokus Sosiolinguistik)

Interferensi sistemik: interferensi yang tampak dalam perubahan sistem bahasa (fonologi, morfologi, sintaksis, dan sistem lainnya).
Di satu sisi dianggap pengacauan, di sisi lain mediasi pengembangan.

INTERFERENSI Vs CAMPUR KODE

Interferensi: penyimpangan sistem bahasa yang dianggap salah oleh para puris.
Campur kode: penyimpangan bahasa karena kesengajaan.

INTERFERENSI (BA – BIND – BD)

BI dan BD: resiprokal, bolak-balik.
BI dan BA: Bind selalu jadi penerima, tak pernah jadi pemberi (Soewito dalam Chaer, hlm. 167)

INTERFERENSI à INTEGRASI
Integrasi: unsur bahasa lainyang dianggap bagian bahasa sendiri, dan tidak dianggap lagi sebagai pinjaman atau serapan dari bahasa lain. Perlu waktu lama.
Apakah setiap unsur pinjaman via interferensi pasti terintegrasi?

IMPLIKASI INTERFERENSI à INTEGRASI
Bahasa penerima tak mengalami apa-apa, tak terpengaruh.
Bahasa penerima mengalami perubahan sistem (baik secara fonologis, morfologis, dan sintaksis.
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Salah satu sebab perempuan suka membicarakan kehidupan orang lain adalah karena perempuan suka membicarakan kehidupannya sendiri kepada sahabatnya. Pembicaraan ini menjadi gosip ketika si sahabat (yang diberi tahu tentang kisah itu) menceritakan ulang semua itu kepada seseorang lain–yang agaknya seorang sahabat juga. Membicarakan hal-hal yang terjadi dalam kehidupan Anda dan kehidupan lawan bicara Anda adalah tindakan berbagi rahasia dalam versi orang dewasa, saripati persahabatan anak gadis dan wanita dewasa.

Dalam cerita Alice Mattison berjudul New Haven yang saya kutip dalam bab dua buku ini, Eleanor memberi tahu Patsy bahwa ia jatuh cinta kepada seorang lelaki yang beristri. Begitu kata-kata ini terucap, Eleanor merasa “sedikit malu karena tiba-tiba membocorkan rahasianya”, namun “ia juga merasa senang; sekali ini ia tidak harus menyimpannya. Dan menyenangkan sekali berbicara tentang Peter.” Saya terkesima oleh kata-kata Mattison–“membocorkan rahasia” –yang menyiratkan bahwa memiliki rahasia membuat seseorang merasa lebih kuat, dan menceritakan rahasia itu sama dengan menyerahkan sesuatu. Mattison juga menggambarkan rasa gembira karena tidak harus menyembunyikan sesuatu dan mampu menceritakan apa-apa yang ada di benak.

Tetap memberi tahu para sahabat tentang peristiwa-peristiwa terakhir dalam kehidupan seseorang tidak hanya sebuah hak istimewa; bagi banyak perempuan hal itu menjadi kewajiban. Seorang perempuan menjelaskan bahwa ia tidak suka berulang-ulang membicarakan putusnya hubungan dengan pacarnya, namun ia harus, sebab jika ia tidak memberi tahu para sahabat karibnya tentang perkembangan yang demikian penting, mereka akan merasa amat sakit hati

Karena menceritakan rahasia adalah bagian penting dalam persahabatan bagi umumnya perempuan, mereka akan mengalami kesulitan saat tak lagi punya rahasia untuk diceritakan. Misalnya, seorang perempuan yang saya sebut Carol mempunyai sejumlah sahabat wanita yang bercakap-cakap dengan dia setiap beberapa hari sekali, bertukar kisah-kisah tentang kencan dengan kaum pria. Sebelum berkencan mereka saling berbagi kegembiraan, dan setelah kencan itu berlangsung, mereka biasa melaporkan dengan terperinci hal apa yang sudah dikatakan dan dilakukan. Jadi, ketika dia jatuh cinta dan membina hubungan yang bersifat tetap dengan seorang pria, Carol kehabisan bahan untuk dibicarakan bersama sahabat-sahabatnya.

Bukan cuma persahabatan sesama wanita yang dapat menciptakan keadaan satu orang merasa diabaikan karena yang lain menjalin hubungan yang tetap. Dalam cerita Mendocino oleh Ann Packer, si tokoh utama, Bliss, merasa sedih jika mengunjungi abangnya yang kini hidup bersama seorang wanita, karena keakraban si abang dengan wanita itu telah mengurangi keakrabannya dengan Bliss. Bliss teringat akan kedekatan mereka dahulu, ketika

mereka biasa bertukar cerita di tempat kerja dan, saat mulai minum dari botol anggur kedua, saling berbagi kabar seputar kegagalan asmara masing-masing. Bliss terkejut bahwa sampai saat ini ia sama sekali tidak pernah menyadari, bahwa mereka membicarakannya karena semua itu adalah kegagalan. Kini Gerald telah meraih keberhasilannya, dan seakan mereka berdua kini bukan apa-apa melainkan yang sekarang ini: saling bersikap hatl-hati, santun.

Karena tidak lagi berbagi rahasia tentang hubungan mereka dalam pembicaraan empat mata, Bliss mengesani pembicaraannya dengan Gerald, yang kini berlangsung dalam kelompok tiga orang, sebagai percakapan yang berhati-hati dan santun-bisa dikatakan, mirip wicara publik.

Saya memiliki seorang sahabat, lelaki, yang melajang selama beberapa t tahun dan sudah mengembangkan sebuah jaringan luas dan kuat terdiri dari sahabat-sahabat perempuan yang kerap ia ajak berbicara. Ketika ia sudah mengembangkan hubungan yang mantap dengan seorang perempuan dan lalu mereka hidup bersama, sahabat-sahabatnya mengeluh ia tidak lagi membicarakan apa-apa kepada mereka. “Hal itu bukan karena saya menyembunyikan apa-apa dari mereka,” ia menuturkan kepada saya. “Hal itu karena hubungan Naomi dan saya berjalan mulus dan tak ada sesuatu pun yang layak dibicarakan.” Akan tetapi, dengan, berkata demikian, dia sebenamya menuturkan kepada saya satu masalah dalam hubungannya–walaupun masalah itu bukan melibatkan pasangannya, melainkan para sahabatnya.

Ketika wanita Yunani berkumpul untuk berbagi ratapan, ungkapan kesedihan satu wanita mengingatkan yang lain akan deritanya sendiri dan mereka saling memperkuat perasaan masing-masing. Sesungguhnya, Caraveli dan ahli antropologi Joel Kulpers, yang telah mengkaji adat ratapan serupa di Bali, juga mencatat bahwa wanita saling menilai kecakapan dalam seni rakyat ini dengan cara mengukur kemampuan menggerakkan wanita lain agar ikut melibatkan diri dalam pengungkapan duka. Mengungkapkan kepedihan yang mereka rasakan karena kehilangan orang yang dicintai mengikat mereka satu sama lain, dan ikatan itu obat bagi luka kehilangan tersebut.

Sebagian kaum lelaki yang saya wawancarai berkata bahwa mereka tidak membahas masalah/persoalan mereka dengan siapa pun. Kebanyakan pria, yang berkata bahwa mereka suka membahas masalah, mengatakan kepada saya bahwa mereka cenderung membahasnya dengan sahabat perempuan. Sebagian kaum lelaki mengatakan punya sahabat lelaki yang biasa mereka ajak membahas persoalan. Namun ada perbedaan-perbedaan yang menunjukkan bahwa semua itu terletak pada titik yang jauh dari kutub keakraban, bila dibandingkan dengan kebanyakan perempuan. Pertama, lelaki punya satu sahabat, paling banyak dua orang, yang biasa diajak membahas persoalan, tidak seperti pada banyak perempuan yang saya temui, yang punya beberapa, atau bahkan banyak sahabat. Kedua, lelaki sering mengatakan sudah beberapa waktu mereka tidak berbicara dengan sahabat itu–beberapa hari, minggu, bulan, bahkan lebih lama lagi–namun tahu bahwa jika mereka memerlukan, si sahabat akan bersedia. Kebanyakan perempuan herhubungan terus-menerus.

Ketika berbicara dengan para sahabat di telepon, kebanyakan lelaki mungkin membahas apa yang terjadi dalam dunia bisnis, pasar saham, pertandingan sepak bola, atau politik. Mereka bergosip (walaupun mereka tidak menyebutnya begitu) dalam pengertian membicarakan diri sendiri dan orang lain. Namun mereka cenderung berbicara tentang hubungan politik daripada pribadi: kekuasaan lembaga, kemajuan dan kemunduran, usul yang mungkin ditolak atau diterima dalam sidang, rencana mencari uang. Jika lelaki menyebut-nyebut istri dan anak-anaknya, cenderung hanya sekilas, tidak berpanjang-lebar dan tidak rumit dari segi kedalaman maupun perincian. Jika merujuk keadaan pribadi yang sukar, mungkin hanya sedikit dan samar (“Payah.”)

Seorag menceritakan acara perayaan hari Thanksgiving kepada saya.Tiga generasi keluarga istrinya berkumpul: saudara lelaki dan perempuan, anak-anak mereka, dan orangtua mereka. Yang lelaki pergi keluar bermain sepak bola, sementara yang perempuan tinggal di dalam dan berbincang-bincang. Perempuan-perempuan yang lebih tua mengakhiri dengan mengatakan kepada cucu termuda bahwa dia terlalu muda untuk menikah.
Seorang suami menyerahkan rekaman kepada istrinya dengan amat puas dan bangga. “Ini pembicaraan yang hebat”, ia mengumumkan, “karena bukan cuma dia dan aku berbasa-basi seperti ‘Hai, apa kabarmu? Aku menonton film bagus kemarin dulu,’ atau sejenisnya. Yang dibicarakan adalah tugas pemecahan masalah. Setiap kalimat ada maknanya.” Ketika menyimak rekaman itu, sang istri mendengar suami dan sahabat suaminya mencoba memecahkan sebuah masalah komputer.

Gagasan si suami tentang pembicaraan yang bagus adalah pembicaraan dengan isi yang tidak pribadi, berdasarkan fakta, dengan fokus pada tugas. Gagasan si istri adalah pembicaraan dengan isi yang bersifat pribadi.

Penelope Eckert, seorang antropolog, melewatkan waktu bersama gadis-gadis SMU dan menjadi tahu dunia sosial mereka. Donna Eder, seorang sosiolog, melakukan hal yang sama di tingkat SMP. Keduanya mencatat bahwa para gadis meraih status dengan cara bersahabat dengan gadis-gadis yang berstatus tinggi; pemandu sorak, si cantik, dia yang tenar di kalangan para pemuda. Jika bersahabat dengan mereka yang berstatus tinggi merupakan cara meraih status bagi diri Anda sendiri, bagaimana Anda akan membuktikan kepada orang lain bahwa si gadis kondang itu sahabat Anda? Salah satunya adalah menunjukkan bahwa Anda mengetahui rahasia-rahasia mereka, karena dalam konteks persahabatanlah rahasia diungkapkan.

Beberapa,,orang gadis SMU memberi tahu Eckert bahwa mereka lebih suka bersahabat dengan pemuda, karena pemuda tidak berusaha memperoleh perincian cerita yang menarik dan tidak begitu suka menyebar-luaskannya. Gadis-gadis mungkin berpikir bahwa hal in menunjukkan keunggulan budi para pemuda. Namun, Eckert menunjukkan bahwa alasan seorang pemuda tidak begitu suka mengais-ngais gosip dan menyebar-luaskan temuannya adalah karena hat itu tidak banyak bermanfaat baginya. Bagi pemuda, jalan utama mencapai status tidak begitu terkait dengan orang-orang yang akrab dengannya, tetapi lebih terkait dengan prestasi dan kecakapannya, khususnya dalam olahraga, dan kemampuan memenangkan perkelahian (walaupun semakin dewasa seorang pemuda, semakin cenderung perkelahiannya bersifat kata-kata daripada fisik).

Pengukuhan nilai-nilai dengan cara membicarakan orang juga berfungsi dengan cara lain lagi. Kita mengukur perilaku kita terhadap peluang gosip. Kita memerpertikan bagaimana orang lain akan cenderung membicarakan kita. Dalam memutuskan apa yang harus dikerjakan, kita secara otomatis memetakan tindakan yang sedang kita pertimbangkan itu pada latar belakang dialog khayal ini. Hal yang kita pikir mungkin akan diucapkan orang tentang kita berpengaruh atas keputusan kita tentang bagaimana bertindak. Setelah memutuskan, kita menyembunyikan, menyesuaikan, atau menunjukkan perilaku kita untuk mencegah kecaman dan memastikan kita mendapat pujian. Mereka yang bersifat dan sedang dalam usia pemberontak mungkin akan menentang tuntutan yang ditampakkan dalam gosip. Tak jadi soal sikap apa yang diambil terhadap tuntutan itu, anggapan di balik “apa kata orang nanti” menanamkan dalam diri kita sebuah citra tentang sifat dan tindakan orang yang baik. Mendengar orang dipuji karena dermawan dan rendah hati, kita mendapat gagasan itulah sifat yang baik. Mendengar orang dicela karena kikir, tak setia, atau jelek, kita mendapat gagasan bahwa itu semua bukanlah sifat yang baik.

Robinette Kennedy, ahli jiwa yang mengkaji persahabatan perempuan di sebuah desa di Pulau Kreta, menemukan bahwa kaum perempuan sadar benar akan bahaya gosip jahat yang disebabkan oleh pertukaran rahasia. Ia meminta dua belas gadis pelajar untuk menuliskan sifat-sifat yang mereka hargai pada diri seorang sahabat, dan setiap orang menulis: tidak mengkhianati rahasia. Kennedy menemukan bahwa sejumlah perempuan sungguh-sungguh menghindari persahabatan disebabkan hal ini, namun mereka rindu memiliki sahabat.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

AUTHOR

AUTHOR
TWILIGHT HUNTER, AN AUTHOR & AN ORDINARY ACOUSTIC PERFORMER WHO'S CRAVING FOR BEAUTY PICTURES

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • pinterest
  • google+
  • instagram
  • bloglovin

Labels

  • BOOK
  • CATATAN KULIAH
  • CHICKEN SOUP
  • CONTEST
  • FASHION
  • MOVIE
  • MUSIC
  • REVIEW
  • TES POTENSI AKADEMIK
  • TRAVEL STORY
  • VAMPIRE ACADEMY

Total Pageviews

Powered by Blogger.
Facebook Twitter Instagram Pinterest Bloglovin

Created with by BeautyTemplates