facebook twitter instagram pinterest google+

Love Your Life

  • Home
  • About
  • Literature
    • Poem
    • Short Story
    • Essay
    • Photoshop
  • Travel Story
    • Korea
    • Kalimantan
    • Bali
    • Java
    • Coffee Shop
  • Vampire Academy
    • Spirit Bound
    • Blood Promise
    • Shadow Kiss

"Senja tidak pernah membuatku bosan, atau mengkhianatiku dalam diam." 
- duestinae89

Dan hari ini aku ingin bercerita tentang sebuah kisah analogi Empat Nelayan, Kapal dan Awan Badai. Cerita ini terbersit dan bermetamorfosa menjadi bentuk film dalam perjalananku selama satu  setengah jam dari rumah ke kantor. Biasanya hanya satu jam, tapi karena hari ini cerita tersebut bermain layaknya film di kepalaku, menyebabkan kecepatan motorku melaju lebih lambat. Dan ini hal biasa bagiku, membawa motor sambil memutar film di kepalaku. Kadang sedih, kadang suka. Namun bagi yang tidak terbiasa, tolong untuk tidak meniru apa yang aku lakukan karena bisa jadi perilaku ini lebih membahayakan ketimbang main handpohone di jalan.

Cerita bermula saat empat orang nelayan berlayar bersama untuk mencari ikan di laut. Mereka sebenarnya berasal dari dusun yang berbeda, namun karena memiliki tujuan yang sama - yakni menangkap ikan, maka mereka memutuskan, dengan niat dan restu orang tua, untuk berlayar bersama.

Setelah berhari-hari hidup dan menangkap ikan di laut, mereka memperoleh banyak sekali ikan. Beberapa kali mereka ingin menyerah karena ombak yang besar atau tiupan angin laut yang kencang, namun mereka ternyata berhasil melewatinya. Semakin sering mereka bertemu tantangan di laut, semakin sering pula niat hampir menyerah muncul di hati mereka. Namun setiap kali mereka berhasil melewati rintangan tersebut, mereka merasa semakin percaya diri dan bisa menangkap lebih banyak ikan lagi. Tanpa mereka sadari mereka menjadi nelayan yang tangguh hari demi hari.

Hingga pada suatu hari, saat keempat orang ini sedang tidak menangkap ikan, dari kejauhan terlihat awan badai yang bergerak sedikit demi sedikit ke arah mereka. Saat itu, mereka melihat awan tersebut dari bagian kapal yang berbeda. Satu orang sedang asik melihat ikan di haluan kapal, satu orang sedang berada di buritan sambil merenung mengingat kampung halaman, satu orang sedang duduk di atas tiang layar kapal  sambil berandai-andai berapa jumlah ikan yang bisa ia bawa untuk orang tuanya, dan satu orang sedang berada di depan kemudi kapal sambil mengingat kekasihnya di pesisir pantai yang menunggunya.

Nelayan pertama yang berada di haluan saat melihat awan tersebut berpikir, "Awan badai itu masih jauh dan kecil. Jadi pastinya masih lama akan sampai ke arah kami. Toh masih ada tiga teman nelayanku yang lain yang akan membantuku menghadapinya. Lebih baik aku tidur dulu. Karena malam tadi aku tidak bisa tidur memikirkan bagaimana keadaan teman-temanku di kampung halaman. Ah, memang sebaiknya aku tidur saja. Kalaupun awan itu mendekat, teman-teman nelayanku ini pasti akan membangunkanku." Lalu ia pun tertidur di dekat haluan kapal.

Nelayan kedua yang saat itu berada di buritan kapal, langsung tersentak kaget dan panik melihat awak badai tersebut. "Oh tidak, sepertinya akan datang awan badai mendekati kapal kami. Nelayan lain yang lebih senior sudah pasti tahu cara menghadapinya. Kami kan masih nelayan kecil dengan kapal yang kecil pula. Bahaya kalau kami tidak segera bersiap-siap." Kemudian nelayan kedua ini bergegas lari ke haluan kapal dan menemukan nelayan pertama yang tidur dengan nyenyak. Si nelayan kedua mencoba membangunkan si nelayan pertama, namun setiap kali dibangunkan, si nelayan pertama terus mengelak sambil memejamkan matanya. Karena sangat marah, si nelayan kedua berteriak dan berlari ke dalam ruang kamar kapal dan mengunci dirinya di kamar tersebut sambil terus mengamuk karena marah.

Nelayan ketiga yang saat itu berada di atas tiang layar melihat kejadian tersebut dan langsung turun dan berlari ke arah nelayan pertama. Mencoba membangunkannya, namun dia tidak bangun. Kemudian dia berlari ke arah kamar, mencoba membujuk temannya untuk keluar, namun yang dia dapat hanyalah gedoran balasan dan teriakan dari balik pintu. "Aku tidak mau keluar! Terserah  kalaupun badai itu akan membalikkan kapal kita!" teriaknya.  Akhirnya karena kesal dan merasa tidak dihargai, si nelayan ketiga kembali ke arah tiang layar kapal dan mulai menghancurkan layar tersebut.

Nelayan keempat yang baru tersadar dari lamunannya dan kaget melihat awan badai mendekat, buru-buru berlari ke arah nelayan pertama, mencoba membangunkan, tapi ia tidak bangun. Kemudian ia berlari ke arah tiang layar dan membujuk nelayan ketiga yang disana masih merobek layar untuk turun dan berhenti, namun si nelayan ketiga menolak karena ia masih marah. Dengan lelah dan kesal ia kembali berlari ke kamar kapal dan mencoba membujuk temannya yang sedang berdiam diri disana namun ia pun mendapat perlakuan serupa seperti yang dialami oleh nelayan ketiga. Dengan marah ia berlari ke tengah kapal dan berteriak, "Sudahlah! Aku menyerah! Aku mau loncat saja dari kapal ini!"

Mendengar teriakan tersebut, ketiga nelayan yang lain kaget dan mereka berkumpul di tengah kapal. Namun bukannya membicarakan bagaimana menghadapi awan badai yang semakin mendekat, mereka malah mulai saling melempar ikan-ikan yang ada di kapal itu dengan amarah yang memuncak. Hingga beberapa lama, dan sudah tidak ada lagi ikan atau benda yang bisa mereka lemparkan, mereka baru sadar, kalau awan badai yang mendekati mereka adalah awan badai kecil. Ternyata awan badai tersebut sudah berlalu dan melewati kapal mereka dalam diam, pedih menatap kelakuan empat orang nelayan tersebut.

Akhirnya, karena semua alat menangkap ikan rusak berikut dengan kapal mereka, mereka pun pulang dengan tenaga yang masih tersisa. Membawa sebuah kapal yang rusak parah, tanpa ikan seekor pun, bersama pertemanan yang retak. Selesai.

Jadi, menurut para pembaca, apa yang salah dari cerita tersebut?

Ternyata seringkali kejadian seperti ini terjadi di sekitar kita, bahkan kita alami sendiri. Mungkin saat kita sekolah dan mendapatkan tugas kelompok, atau pada saat kita sudah bekerja dan mendapatkan kerja tim. Kita mungkin mengerjakan dengan orang-orang yang sudah lama kita kenal, atau harus beradaptasi dengan orang yang baru kita kenal, dan kita seringkali sangat fokus. Fokus pada kekurangan yang dimiliki oleh para anggota kelompok atau tim tersebut. 

Saat kita menemukan ada yang salah dengan pekerjaan kelompok atau tim tersebut, kita seringkali fokus. Fokus untuk mencari-cari siapa yang salah. Fokus mengkritisi orang lain. Fokus pada alasan pribadi masing-masing dengan pemikiran bahwa 'saya tidak sesalah dia' atau 'seharusnya dia begini sehingga saya bisa begitu. Kalau dia tidak begini, maka mana mungkin saya bisa begitu.' dan terus saja begitu sampai Iron Man melamar Shizuka dalam film Ada Apa dengan Bekantan.

Hingga sampailah kita pada tindakan 'I am right, right?' 
*terjemahan 'Gua udah bener, ya kan? -colek kiri - ya kan??? -colek kanan.'
Kita terjebak dalam situasi membenarkan apa yang kita lakukan, dengan alasan 'wajar kan kalau aku begini, aku kan manusia biasa.' 

"Jadi kalau pekerjaan tim ini engga kelar, engga jalan, engga sukses, engga jelas, wajar kan aku marah sambil banting barang? Wajar kan kalau aku ngambek dan nggak keluar kamar? Wajar kan kalau aku berhenti saja, udah nggak bisa diapa-apain juga kan? Wajar kan kalau aku woles aja, ngapain ribet, santai aja toh nasi udah jadi bubur, ga bisa dibikin jadi nasi juga kan?"

Hellow! Kita memang manusia biasa. Dan ga ada seorang pun yang berharap kita jadi malaikat. Tapi paling tidak, kita berusaha sebaik yang kita bisa, karena semua perkara pasti ada solusinya, semua pertanyaan sebenarnya ada jawabannya. Hanya saja waktunya atau tempatnya atau tindakannya belum tepat sehingga kita belum memperoleh jawabannya.

Harusnya kita tidak perlu peduli saja. Iya! Tidak perlu peduli dengan kekurangan anggota tim, karena pasti dia atau mereka memiliki kelebihan yang bisa diberdayakan lebih maksimal. 

Harusnya kita tidak perlu bertindak. Iya! Tidak perlu bertindak berelebihan yang bisa merusak tindakan-tindakan efektif yang sebelumnya sudah dilakukan.

Maka lahirlah pertanyaan-pertanyaan retoris seperti, satu, "Mengapa fokus pada melempar kesalahan, padahal kegiatan sinetron tersebut tidak akan pernah bisa melahirkan solusi?"
Dua,"Mengapa Anda memutuskan segala sesuatu saat emosi, padahal sudah sering kali Anda lakukan, dan selalu Anda merasa menyesal sesudahnya?"
Tiga,"Untuk apa membuang-buang waktu untuk mengeluh, melakukan tindakan yang tidak berhubungan dengan tugas tim Anda,  membandingkan kelompok sendiri dengan rumput tetangga yang lebih hijau berbunga-bunga, sampai Anda sadar bahwa deadline pengumpulan tugas tersebut hanya berjarak lima senti dari hidung Anda?"
Dan masih banyak lagi pertanyaan yang bisa kita buat sampai kepala kita migrain karenanya.

Manusia memiliki ego. Dan sebagian besar tidak ingin disalahkan dan dikritik meski sudah meyakini konsep bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini. Namun saat kita bekerja dalam sebuah tim,  kita tidak perlu bangga menjadi orang yang paling menonjol dalam tim tersebut, kita tidak perlu keburu mudah tersinggung dengan kritik dan masukan dari teman satu tim, kita tidak perlu mencari pembenaran karena hal itu hanya akan membuang-buang waktu kita yang berharga. Karena yang dilihat adalah bagaimana kita bekerja sama dalam tim, memaksimalkan semua kelebihan yang dimiliki oleh masing-masing anggota tim, mengesampingkan kekurangan, meminimalisasi kesalahan, memanajemen waktu sehingga lebih efektif hingga kita bisa menghasilkan sebuah karya yang luar biasa. 

Mungkin tidak luar biasa bagi orang lain, karena kata 'luar biasa' adalah opini, dimana tiap orang memiliki pandangan berbeda. Kita tidak perlu meminta Raja Salman untuk menilai harga dari emas sintetis yang kita buat dengan kalimat 'khooriqul 'aadati, fauqol 'aadati, kita tidak perlu meminta Steve Job menilai program aplikasi yang kita ciptakan dengan kalimat 'Amazing!', kita tidak perlu meminta Honda untuk menilai mesin yang kita ciptakan dengan kalimat 'Sugoi!'.

Tapi kita akan merasa luar biasa dengan sendirinya. Karena saat karya besar itu terlahir oleh tangan bersama kelompok kita, maka rasa bangga dan puas akan hasil bersama itu, akan kita rasakan bahkan melebihi segala ungkapan pujian dengan menggunakan 7000 lebih bahasa di dunia. Dan segala lelah, luka, dan sesak karena harus mengurung rapat ego kita supaya tidak mengganggu jalannya proses penciptaan karya tersebut, akan sepadan dengan hasil yang kita dapat. Yakni, sebuah proses pendewasaan diri dan pengalaman yang berharga dengan melalui lusinan tempaan yang luar biasa. 

Karenanya, tidak perlu kata luar biasa dari orang lain, karena kita akan merasa luar biasa  setelah kita sukses melewati rintangan bersama tim yang solid.

Jadi, masihkah kita tetap ingin menjadi empat nelayan di atas yang fokus pada ego masing-masing, saling melempar semua ikan yang mereka punya, dan berakhir dengan tidak mendapatkan apa-apa?

-- Self reminder by Enoey


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
BANJARMASIN – Mempertanyakan pentingnya sebuah virginitas bukan lagi hal yang baru di Indonesia. Ketabuan jadi semakin longgar selaras dengan budaya asing yang full demokrasi perlahan masuk mengkontaminasi pikiran putra putri bangsa. Hal yang dulu dianggap 'famali' untuk dibicarakan, sekarang bebas untuk diteriakkan oleh siapapun. Bahkan anak kecil baru belajar bicara pun mulai tahu beberapa kosakata yang belum pantas untuk umurannya.

Terlepas dari pantas tidaknya kosakata tersebut, virginitas ibarat bunga yang menyeruak di tengah musim semi, selalu menjadi bahan perbincangan yang tidak pernah aus setiap detiknya. Meski berulang kali menjadi judul pembahasan yang hangat, penting tidaknya virginitas sebelum menikah selalu mendapat jawaban berbeda dari tiap sisi wajah.

Menurut Naning Pranoto dalam bukunya Virgin? Sex and Teens, keperawanan atau virginitas (virginity) disebut pula sebagai selaput dara atau hymen. Ia berupa selaput tipis yang menutupi 'pintu' rongga vagina. Selaput ini akan robek bila yang empunya melakukan hubungan seksual dengan lawan jenis. Itulah makanya, seorang cewek yang belum robek hymennya disebut masih gadis atau masih perawan.

Bagi masyarakat Banjarmasin sendiri, keperawanan merupakan hal yang perlu dipertahankan. Terlebih sebagian besar masyarakat di provinsi ini merupakan masyarakat agamis yang masih berpegang teguh pada norma agama.

Namun tak elak jika terjadi perbedaan pendapat antara kaum tua dengan kaum muda. Faktanya, di antara orang-orang yang masih menganggap keperawanan sebagai lambang kesucian yang sakral, yang harus dipertahankan sampai menginjak singgasana pelaminan, ada sebagian remaja yang tampak mulai mengikis anggapan itu.

Sebut saja Arini (bukan nama sebenarnya), gadis berdarah jawa-banjar ini mengaku sudah tidak perawan lagi sejak duduk di bangku SMA. Meski terkesan malu-malu, ia mengungkapkan alasan yang ia percaya sebagai dasar untuk membenarkan perbuatannya. "Keperawanan itu penting, namun cinta itu lebih penting," ujarnya. Ketika ditanya perihal apakah menyesal setelah tidak lagi menjadi seorang 'gadis perawan', Arini menjawab dengan mantap,"Saya tidak menyesal, karena saya memberikannya kepada orang yang saya cintai."

Apa yang terjadi terhadap Arini biasa disebut oleh masyarakat konvensional sebagai 'cinta buta'. Menurut Naning, apa yang dialami oleh Arini itu bukanlah cinta melainkan libido. Libido merupakan keinginan atau dorongan untuk melakukan hubungan seks. Di dalam bukunya, ia menjelaskan bahwa hampir 97% seseorang jatuh cinta pada lawan jenisnya karena didorong atau digerakkan oleh libidonya. Jadi, hanya 3% yang jatuh cinta pada lawan jenisnya karena pure atau murni jatuh cinta.

Lain Arini lain pula Isna. Gadis perantauan yang baru saja mengenal Banjarmasin ini juga mengaku sudah tidak perawan lagi. Setelah mengenal Andi, seorang pemuda gaul Banjarmasin, Isna kehilangan keperawanannya tepat sebulan setelah 'jadian'. "Mau gimana lagi, teman-teman di kost saya pada manas-manasin. Katanya rugi kalau nggak pernah ML. Mereka juga cerita kalau mereka sudah sering begituan," ujarnya dengan mata menerawang.
Karena tergoda oleh iming-iming kenikmatan sesaat oleh teman satu atap, Isna akhirnya tidak mampu mempertahankan kesuciannya. "Pacarku bilang katanya ini untuk pembuktian cinta. Trus dia bilang dia bakal bertanggung jawab kalau ada apa-apa," lanjutnya sambil memain-mainkan rambut rebonding-nya.

"Tapi jangankan bertanggung jawab, sekarang aja kami udah nggak punya hubungan apa-apa lagi. Udah putus beberapa bulan yang lalu," katanya sambil tertawa kecil. Tidak terlihat rasa penyesalan sedikitpun di wajah cantiknya. Untungnya, Isna tidak merasa dunia akan segera kiamat setelah ia pisah dengan lelaki yang sudah merenggut harta keperempuanannya itu. Ia bahkan membanggakan pacar barunya yang 'katanya' menerima ia apa adanya.

Berbalik sudut pandang, tanggapan berbeda didapat ketika masalah virginitas ini ditanyakan kepada para kaum Adam. Keyya misalnya, cowok yang masih berstatus mahasiswa ini berpendapat tidak masalah kalau perempuan sudah tidak lagi perawan. Baginya kecocokan lebih penting dibanding mempermasalahkan keperawanan di dalam hubungan yang ia bina. "Toh aku juga udah nggak perjaka lagi, jadi nggak masalah sih bagiku kalau dapat pacar atau istri yang juga udah nggak perawan lagi," ungkapnya jujur. "Yang penting dalam hubungan itu adalah kesetiaan," lanjutnya lagi serius.

Laki-laki yang hanya bisa ditanyai via telepon ini mengaku sudah beberapa kali 'mecah duren' anak perawan. "Kami melakukannya lantaran sama-sama suka. Nggak ada unsur paksaan kok," ujarnya kalem.

Berbeda dengan Keyya, Ayan tidak sependapat jika keperawanan dijadikan masalah kesekian dalam membangun suatu hubungan. "Keperawanan itu penting karena merupakan bukti bahwa seorang gadis bisa menjaga dirinya dengan baik," kata mahasiwa disatu PTN di Banjarmasin itu. Saat ditanya bagaimana jika wanita yang ia cintai ternyata sudah tidak perawan lagi, Ayan menjawab dengan tegas, "Lebih baik putus saja. Jika dari awal tidak ada kejujuran, hubungan tidak bisa dilanjutkan ke arah yang lebih serius."

Ayan pun menambahkan, gadis baik-baik juga akan mendapat laki-laki yang baik pula. Menurutnya tidak pantas jika seorang lelaki yang tidak lagi perjaka mengharapkan gadis yang masih virgin. "Wanita sudah seharusnya menjaga harta mereka yang paling berharga dan sebagai laki-laki sudah sepantasnya menghargai seorang wanita."

"Keperawanan itu penting, tapi bukan yang utama," ujar Shesa. Gadis manis keturunan Cina ini berpendapat masih banyak hal yang lebih penting dari sekedar meributkan perawan tidaknya seorang gadis. Namun ia tetap setuju bahwa virginitas tetap harus dijaga sampai seorang gadis resmi berubah status menjadi seorang istri. "Saya tentu saja akan menyimpan keperawanan saya sebagai kado terindah untuk suami saya kelak,"lanjutnya pasti.
Serupa dengan Shesa, Rina pun berpendapat sama. Hanya saja ia tidak menolak jika seandainya harus menyerahakan keperawanannya kepada orang yang ia cintai. "Asalkan udah pasti seratus persen bakal nikah," kata gadis yang masih virgin ini sambil tertawa keras.

"Keperawanan adalah simbol kesucian seorang wanita. Apalagi sebagai gadis timur yang beragama, sudah sepatutnyalah kita menjaga apa yang memang seharusnya kita jaga. Malam pertama akan lebih berkesan jika dilakukan dalam suasana yang sakral atas restu orang tua serta sah di mata agama dan hukum. Tentu saja kita tidak bisa meniru masyarakat barat yang kebanyakan berpendapat kalau virginity hanyalah persoalan selaput dara semata. Sehingga mereka menghalalkan reparasi hymen hanya untuk mengembalikan selaput daranya seperti sedia kala. Padahal keperawanan tidak hanya berfokus pada rusak tidaknya selaput dara, tapi pernah tidaknya kita menyerahkan diri sepenuhnya kepada seseorang," papar Enna, seorang mahasiswa tingkat 3 di Banjarmasin.(Enoy)
Share
Tweet
Pin
Share
3 komentar


Oleh Noor Sa'adah
Jika perempuan dan cinta bisa diibaratkan dengan sesuatu, maka kita seperti berhadapan dengan satu paket komplit yang isinya saling melengkapi. Ada wanita maka ada cinta, katanya. Kata siapa? Kata orang-orang yang sudah diliputi oleh paradigma perempuan pakai perasaan, lelaki pakai logika. Entah benar tidaknya, kembali kepada pengandaian semula ketika perempuan dan cinta disamadengankan dengan sesuatu. Sayangnya, tidak ada kata yang pantas untuk membandingkan kedua 'hal' tersebut dengan benda, barang atau bentuk-bentuk konkret yang lain. Bukannya bermaksud meninggikan, tapi perempuan dan cinta merupakan anugerah dari Tuhan yang patut dan seharusnya dijaga, jelas bukan barang yang mudah dibuang-buang.
Dari zaman baheula hingga era hi-tech seperti sekarang, anggapan tentang perempuan sebagai sosok yang lebih melankolis tidak pernah terkikis, meski Kartini-Kartini moderen telah lahir dan dengan gagah berani menentang diskriminasi, perempuan tetap saja perempuan. Makhluk Tuhan yang kerap kali tersakiti, baik karena kelemahannya maupun karena kesabarannya.
Bagi Perempuan, kaum Adam adalah kaum yang egosentris, sedang bagi laki-laki perempuan adalah bagian dari kehidupan yang sangat komplek. Memahami satu sama lain bukan hal yang mudah, tapi bukan hal yang tidak mungkin pula. Deskripsi perempuan di mata laki-laki dan perempuan di mata perempuan sering kali berbeda. Perbedaan pandangan ini dapat tercermin dari banyak hal yang sudah ada di sekeliling kita, misalnya lirik lagu, film, dan karya sastra. Namun secara umum dapat ditarik kesimpulan tetang bagaimana sosok perempuan digambarkan dari kacamata laki-laki yang memang berbeda dari sisi perempuan sendiri.
Kaitan antara perempuan dan cinta pun seumpama jarum dan benang, saling berhubungan satu sama lain. Perempuan membawa cinta dalam tiga masa kehidupannya, ketika ia menjadi seorang anak, seorang istri, dan seorang ibu. Ketiga sosok perempuan dengan cinta mereka itulah yang direfleksikan dengan apik oleh Oka Rusmini dalam Tarian Bumi. Sebuah novel yang menceritakan sosok perempuan Bali yang terkungkung dalam budaya patriarki dan adat budaya yang kental dari sudut pandang seorang penulis perempuan.
Novel karya penulis yang sering memperoleh penghargaan ini mengangkat tiga tokoh perempuan perkasa yang berjuang untuk meraih mimpi dan cinta meski itu berarti penderitaan seumur hidup bagi mereka. Mengagumakan sekaligus membingungkan. Itulah kesan pertama yang saya dapat ketika pertama kali membacanya. Saya baru menyadari daya tarik novel ini yang begitu kuat setelah membacanya untuk kedua kalinya.
Mengagumkan karena dalam novel ini perempuan digambarkan kuat di atas kelemahan yang mereka miliki. Mengagumkan karena sosok perempuan Bali tergambar jelas, nyata, tanpa terasa melebih-lebihkan. Novel ini serasa membawa Bali kehadapan kita dan seolah membuat kita seperti telah lama mengenal Bali bersama adat budayanya, tidak hanya sekedar pengetahuan dangkal tentang Bali dan pariwisatanya. Ibaratnya, jika dulu saya mengenal Bali lewat cover keindahan dan keunikan daerah dan masyarakatnya saja, sekarang saya benar-benar seperti diperbolehkan menyentuh bagian Bali yang rahasia.
Tiga perempuan Bali dalam novel ini, Ida Ayu Sagra Pidada, Luh Sekar (Jero Kenanga) dan Ida Ayu Telaga Pidada, cukup mewakilkan sosok perempuan bali meski mungkin belum semuanya. Konflik yang terjadi dalam novel yang membuat penulisnya terpilih sebagai "Penerima Penghargaan Penulisan Karya sastra 2003" Oleh Departemen Pendidikan Nasional Indonesia ini cukup rumit. Ada ambisi, ego, dan cinta yang mewarnai jalinan kisahnya.
Dalam novel ini, penggambaran positif tentang perempuan dan laki-laki memang agak kurang seimbang. Penulis cenderung memihak kepada kaum Hawa yang lebih banyak tertindas dan terjebak aturan. Meski kakek Telaga, Ida bagus Tugur, digambarkan baik pada bagian-bagian terakhir, tetap saja pada awalnya sosok Tugur digambarkan sebagai laki-laki yang egois. Saya merasa ini hanya taktik penulis untuk menyeimbangkan peran gender dalam novel ini, karena akan terasa jelek jika semua laki-laki dalam novel ini terus-terusan digambarkan sebagai makhluk kasar yang tidak pernah sadar. Kaum Adam seolah menjadi kaum antagonis yang egois dan suka merendahkan perempuan dalam beberapa bagian dalam novel ini. Seperti yang tergambar dalam percakan Luh Kenten, perempuan Sudra dengan ibunya berikut ini.
"Sungguh, Meme, aku ingin melakukannya. Bahkan kudengar laki-laki yang sering mencubit pantatku istrinya dua. Laki-laki tukang kawin. Padahal dia tidak punya pekerjaan yang bisa menopang keluarganya. Meme tahu apa yang dia katakana ke teman-temannya?"
"Bicara apa dia?!"
"Carilah perempuan yang mandiri dan mendatangkan uang. Itu kuncinya agar hidup laki-laki bisa makmur, bisa tenang. Perempuan tidak menuntut apa-apa. Mereka cuma perlu kasih sayang, cinta, dan perhatian. Kalau itu sudah bisa kita penuhi, mereka tak akan cerewet. Puji-puji saja mereka. Lebih sering bohong lebih baik. Mereka menyukainya. Itulah ketololan perempuan. Tapi ketika berhadapan dengan mereka, mainkanlah peran pengabdian, hamba mereka. Pada saat seperti itu perempuan akan menghargai kita. Melayani kita tanpa kita minta. Itu kata laki-laki di warung, Meme. Benarkah kata-kata itu?"
Selain percakapan di atas masih banyak lagi sifat negatif laki-laki yang dimunculkan dalam novel ini. Namun dengan lihai pula, penulis memunculkan sedikit perilaku negatif kaum Hawa sebagai penyeimbangnya.
Tokoh perempuan yang digambarkan dalam novel ini penuh konflik yang berasal dari diri mereka masing-masing serta pengaruh faktor 'x' dari lingkungan dan laki-laki mereka. Konflik itu dipengaruhi oleh 'id, ego, dan superego' (Teori Kepribadian Freud). Bahkan ada konflik batin tentang 'cinta terlarang' antara Luh Sekar dan Luh Kenten. Cinta yang tulus dari seorang perempuan untuk perempuan.
Menurut Freud, kepribadian seseorang dapat terbentuk dengan baik jika id, ego, dan superego-nya seimbang. Dalam Novel ini, yang paling seimbang struktur kepribadiannya adalah Telaga, sang tokoh utama. Perempuan ini digambarkan mampu mengatasi guncangan jiwanya dengan baik. Berbeda dengan dua tokoh yang lain, Sagra Pidada dan Luh Sekar, yang faktor id-nya lebih dominan daripada ego dan superego-nya sehingga membentuk pribadi yang keras dan tidak bisa mengontrol emosi. Ketidakstabilan merekalah yang menimbulkan kecemasan yang melahirkan konflik-konflik seru dan membuat warna tersendiri dalam cerita ini. Menariknya, ketiga tokoh perempuannyanya sama-sama memiliki ambisi yang kuat, Pidada yang ingin memurnikan kastanya, Sekar yang ingin menaikan derajatnya, dan Telaga yang rela melepas semua yang ia miliki demi mengejar cinta sejatinya.
Di tengah amukan konflik mengenai kebangsawanan, ternyata aroma cinta tidak bisa dihilangkan dalam novel ini sekalipun. Meski di kelilingi oleh sumpah serapah yang diedarkan secara lugas, baik oleh tokohnya maupun dari sisi penceritanya, cinta masih ada dalam bentuk aneka rupa. Cinta terpendam Pidada terhadap suaminya sendiri yang akhirnya berbuah bertepuk sebelah tangan. Cintanya terhadap anak laki-laki satu-satunya yang akhirnya juga menghancurkan hatinya sendiri. Cinta Luh Sekar terhadap sebuah kebangsawanan. Rasa sakit dan penderitaan yang membuatnya buta terhadap arti kebahagian yang sesungguhnya. Atau cinta Pidada kepada seorang pria Sudra yang membuatnya rela menghilangkan kebangsawanannya yang ironisnya didapatkanya dari seorang ibu yang mau menukar kebangsawaanaan itu dengan penderitaan sepanjang hayat.
Cinta dalam novel ini mengagumkan, bukan cinta yang 'Lebai', bukan cinta yang berderai-derai air mata. Tapi cinta yang disuguhkan dengan cara yang berbeda, cinta yang biasanya bukan menjadi doa setiap manusia. Jenis cinta yang biasanya tidak diharapkan oleh kebanyakan orang. Cinta yang hadir dalam sebuah realita bukan sekedar ilusi atau mimpi. Tiga versi cinta dalam novel ini, yakni cinta ibu kepada anak, perempuan kepada kekasihnya, dan anak kepada ibu, menunjukkan bahwa cinta itu murni meski tanpa disadari diracuni oleh ambisi.
Akan tetapi, selain mengagumi, ada hal-hal yang membingungkan dalam novel ini yakni dari sisi penceritaannya. Mungkin tidak terlalu masalah karena sudut pandangnya adalah sudut pandang pencerita. Namun, yang aneh adalah tokoh di dalam cerita akan menceritakan tokoh lain dari masa lalunya yang kemudian disambung dengan tokoh lain yang berbeda. Alhasil saya dibuat pusing menebak-nebak siapa yang saat itu sedang diceritakan. Mungkin, penulis bermaksid membuat novel ini sedikit berbeda, tapi bagi saya hal ini sedikit memusingkan. Untungnya hal ini tidak menjadi soal ketika saya membacanya sekali lagi.
Sayangnya, novel ini hanya memaparkan konflik perempuan-perempuan Bali bersama cintanya dalam 182 halaman saja. Jika dibandingkan dengan novel bertemakan perjuangan kaum Hawa yang lain, novel ini masih terbilang tipis.
Akhirnya memang tidak ada yang digambarkan sempurna dalam novel ini, tidak perempuannya tidak pula laki-lakinya. Memang tidak ada yang sempurna meski masih banyak orang yang masih saja mengejar-ngejar kesempurnaan itu. Tidak pula cinta, seperti satu dari beberapa pesan yang tertulis liar dalam buku ini.
"Kelak, Kalau kau jatuh cinta pada seorang laki-laki, kau harus mengumpulkan beratus-ratus pertanyaan yang harus kausimpan. Jangan pernah ada orang lain tahu bahwa kau sedang menguji dirimu apakah kau memiliki cinta yang sesungguhnya atau sebaliknya. Bila kau bisa menjawab beratus-ratus pertanyaan itu, kau mulai memasuki tahap berikutnya. Apa untungnya laki-laki itu untukmu? Kau harus berani menjawabnya. Kau harus yakin dengan kesimpulan-kesimpulan yang kau munculkan sendiri. Setelah itu, endapkan! Biarkan jawaban-jawaban dari ratusan pertanyaanmu itu menguasai otakmu. Jangan pernah menikah hanya karena kebutuhan atau dipaksa oleh sistem. Menikahlah kau dengan laki-laki yang mampu memberimu ketenangan, cinta, dan kasih. Yakinkan dirimu bahwa kau memang memerlukan laki-laki itu dalam hidupmu. Kalau kau tak yakin, jangan coba-coba mengambil resiko."
Cukup satu ungkapan yang bisa menggambarkan pesan di atas, luar biasa!
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Oleh Noor Sa'adah

Puisi selain sebagai refleksi bisa juga disebut sebagai replika kehidupan namun dalam bentuk lain, tulisan. Kebanyakan puisi berdiri di atas fondasi realitas yang kemudian di-metafora-kan dalam bentuk-bentuk lain. Bentuk-bentuk yang kadang-kadang keluar dari batas-batas realitas itu sendiri. Bisa dibilang ini adalah hak veto seorang penyair untuk mengaduk-aduk imajinasi dengan kenyataan menjadi sebuah adonan kental yang akhirnya dinikmati oleh para pembacanya. Meski akhirnya (seperti sekarang ini) akan terus dikritik untuk melihat ketidaklogisannya, penyimpangan bait demi baitnya, puisi akan terus mengalir terlahir dengan bebas, sebebas sang pengarang berpikir. Apa yang tercipta tentulah tegak lurus dengan apa yang terlintas dalam hati dan otak mereka masing-masing saat itu karena memang pikiran dan perasaan mereka milik mereka sendiri, dan Tuhan tentunya.

Akan tetapi ada hal yang tak bisa dielakkan ketika seseorang membaca sebuah puisi, yakni akan munculnya pemikiran-pemikiran baru, yang secara sengaja atau tidak, menyikapi puisi tersebut. Wajar jika kekaguman dan kebingungan berjalan beriringan dan berupaya saling mengalahkan satu sama lain saat itu juga. Hal ini lah yang membuat saya menganggap sajak M. Nahdiansyah Abdi , "Tak Habis Ibu", dalam Antologi Puisi Pistol Air (hlm. 73) menarik minat saya untuk berpikir lebih dalam tentang figur wanita yang selalu menjadi simbol keagungan, sosok seorang ibu. Membuat saya kagum, sekaligus bingung di sisi yang lain.

Penyair kelahiran Durian Gantang, Kabupaten Hulu Sungai Tengah ini adalah alumni Fakultas Psikologi UGM Yogyakarta (1998-2003). Terlihat jelas jika ilmu yang ia dapat ketika ia kuliah di fakultas itu banyak mempengaruhi keseluruhan dari sajak-sajak yang tercipta di dalam antologi ini. Meski begitu bukan berarti Abdi lupa pada kampung halamannya, ia bahkan sempat berterimakasih dengan orang-orang Sambang Lihum (RSJ), tempat ia bekerja, dalam Kesaksian yang ia tulis di halaman belakang buku ini.
Sajak-sajak dalam buku ini tampak sekali tidak ingin menonjolkan sisi keindahan sebuah puisi. Porsi 'kenyataan dalam kehidupan' lebih banyak ditonjolkan dengan kalimat-kalimat lepas tanpa perlu terikat rima dan sebagainya. Benar-benar tidak ingin menggunakan kata-kata puitis, namun tentu saja tidak menghalangi pembaca untuk tetap merasa miris.

Abdi mengangkat sebuah tema yang memang sangatlah umum, namun ia berhasil mendeskripsikan sosok ibu lewat kacamatanya sendiri. Pandangan Abdi terhadap sosok ibu di dalam sajak ini memang sedikit terasa berbeda dibanding sajak-sajak pendahulunya yang bertemakan sama. Biasanya, sosok ibu digambarkan tegar, agung, dan tanpa pamrih. Tetapi, dilihat dari puisi ini, Abdi ternyata punya presepsi sendiri tentang sosok ibu.
Citra seorang ibu yang digambarkan oleh Abdi di sajaknya membangkitkan dilema dalam pikiran saya. Disatu sisi benar jika kebanyakan ibu berkorban begitu banyak demi sang buah hati, namun disisi lain penggambaran ibu rasanya tidak sesuai dengan kenyataan karena seorang ibu tidaklah selemah itu, tidaklah semenderita itu.

Tak habis ibu
meregang kesakitan dan mengalirkan susu
Not-not yang tak sempurna
Bermain pada tubuh yang lelah
yang ingin bersandar
sejenak pada detik yang tercurah
Tangis si anak bagai kupu-kupu mungil
Bagai kupu-kupu mungil

Di dalam bait pertama ini seorang ibu seperti terdeskripsikan sebagai sosok yang sudah terlalu lelah untuk berusaha. Penggambaran Abdi tentang anak sebagai penghiburan kecil bagi sang ibu menjadi ironis dengan ibu yang begitu sakit, menderita dan ingin istirahat. Padahal bukankah seorang anak lah yang akan mengobati rasa letih dan luka seorang ibu? Pada baris kelima, sosok ibu yang ingin bersandar untuk beberapa saat, seolah ingin menujukkan sosok ibu yang tidak sanggup lagi menahan rasa letihnya dan sesaat ingin menyerah pada keadaan, pada rasa lelah. Seorang ibu yang benar-benar seorang ibu (bukan seorang wanita yang hanya bisa melahirkan namun tidak bertanggung jawab), tidak akan pernah menganggap anaknya sebagai sumber masalah, tapi lumbung kebahagiaannya.

Tak habis ibu
merayakan kasih pilu
Doa-doa terlambung
di malam-malam yang limbung
Airmata tak tertafsirkan
Sungguh tak tertafsirkan
Dekaplah si anak sepenuh lelahmu
Tanganmu yang lembut mendamaikan

Dalam bait kedua, seorang ibu kembali digambarkan dengan penuh kepedihan. Saya menjadi berpikir, apakah seorang ibu sebegitu tidak ikhlasnya ketika memelihara anaknya sendiri sehingga kasih sayang pun menjadi seperti sebuah keterpaksaan. Kemudian pada baris terakhir pada tanganmu, pronomina –mu membuat sedikit kerancuan pada siapa yang dirujuk oleh pronomina –mu itu. Karena dari bait pertama, puisi ini menggambarkan tentang ibu, bukan berusaha berbicara dengan sosok ibu, akan lebih logis jika pronomina –mu itu diganti dengan pronomina –nya. Jadi, kalimatnya bisa menjadi seperti ini :
Mendekap si anak sepenuh lelahnya
Tangannya yang lembut mendamaikan

Adindaku, ketahuilah
Anak-anak yang tak henti mengalir
dari rahimmu
adalah sejarah yang bergelora
adalah kemenangan fana cinta: sebagaimana
hidup yang singkat, drama yang penuh retak
tertidur pulas dalam rahim-Nya

Pada bait ketiga ini ada beberapa hal yang terlihat janggal yakni adindaku, rahimmu, dan rahim-Nya. Pronomina –ku, -mu, dan –Nya serasa salah tempat mengingat pada bait-bait sebelumnya hanya menceritakan lelahnya seorang ibu, bukan lelahnya 'adinda' menjadi seorang ibu atau tentang Tuhan yang punya banyak taqdir dalam 'rahim'-Nya. Mungkin ini hanya permainan kata-kata agar puisi menjadi lebih menarik dan enak ketika dibaca, tapi bukan berarti berhak untuk menggunakan kata-kata yang kelak akan membingungkan siapa pun yang membacanya. Lalu, dalam bait ketiga ini tersirat tentang hal melahirkan anak yang tidak dibatasi. Penyair sepertinya menganggap itu adalah hal biasa baginya (sebagai laki2), tapi apa dia yakin bahwa sang wanita juga sependapat? Apa wanita hanya terlahir sebagai media reproduksi semata? Tentu tidak, sekarang kita memahami betul betapa peran wanita begitu penting meski ia berstatus sebagai seorang ibu.

Namun, mengesampingkan hal-hal teknis di atas, puisi ini layak untuk menjadi bahan renungan, utamanya bagi kaum hawa yang akan, sedang, ataupun sudah menjadi seorang ibu. Melihat betapa banyaknya wanita yang marak menyia-nyiakan anak mereka, baik yang sudah berbentuk manusia maupun jabang bayi, sosok ibu yang meski tergambar sangat lelah dalam puisi ini ternyata masih tetap bisa mengusung rasa sayangnya terhadap anaknya. Sebesar apapun rasa lelahnya, sosok ibu dalam puisi ini digambarkan terus bertahan untuk tetap menjaga anaknya, meski tak dapat dipungkiri akan adanya keluhan-keluhan kecil yang memarakkan suasana kehidupan seorang ibu. Hal yang benar-benar hampir hilang di mata ibu-ibu muda sekarang yang mulai belajar tidak bertanggung jawab. Puisi ini merupakan tunas yang 'tak habis' berusaha untuk tumbuh di tanah yang begitu gersang.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Salah satu sebab perempuan suka membicarakan kehidupan orang lain adalah karena perempuan suka membicarakan kehidupannya sendiri kepada sahabatnya. Pembicaraan ini menjadi gosip ketika si sahabat (yang diberi tahu tentang kisah itu) menceritakan ulang semua itu kepada seseorang lain–yang agaknya seorang sahabat juga. Membicarakan hal-hal yang terjadi dalam kehidupan Anda dan kehidupan lawan bicara Anda adalah tindakan berbagi rahasia dalam versi orang dewasa, saripati persahabatan anak gadis dan wanita dewasa.

Dalam cerita Alice Mattison berjudul New Haven yang saya kutip dalam bab dua buku ini, Eleanor memberi tahu Patsy bahwa ia jatuh cinta kepada seorang lelaki yang beristri. Begitu kata-kata ini terucap, Eleanor merasa “sedikit malu karena tiba-tiba membocorkan rahasianya”, namun “ia juga merasa senang; sekali ini ia tidak harus menyimpannya. Dan menyenangkan sekali berbicara tentang Peter.” Saya terkesima oleh kata-kata Mattison–“membocorkan rahasia” –yang menyiratkan bahwa memiliki rahasia membuat seseorang merasa lebih kuat, dan menceritakan rahasia itu sama dengan menyerahkan sesuatu. Mattison juga menggambarkan rasa gembira karena tidak harus menyembunyikan sesuatu dan mampu menceritakan apa-apa yang ada di benak.

Tetap memberi tahu para sahabat tentang peristiwa-peristiwa terakhir dalam kehidupan seseorang tidak hanya sebuah hak istimewa; bagi banyak perempuan hal itu menjadi kewajiban. Seorang perempuan menjelaskan bahwa ia tidak suka berulang-ulang membicarakan putusnya hubungan dengan pacarnya, namun ia harus, sebab jika ia tidak memberi tahu para sahabat karibnya tentang perkembangan yang demikian penting, mereka akan merasa amat sakit hati

Karena menceritakan rahasia adalah bagian penting dalam persahabatan bagi umumnya perempuan, mereka akan mengalami kesulitan saat tak lagi punya rahasia untuk diceritakan. Misalnya, seorang perempuan yang saya sebut Carol mempunyai sejumlah sahabat wanita yang bercakap-cakap dengan dia setiap beberapa hari sekali, bertukar kisah-kisah tentang kencan dengan kaum pria. Sebelum berkencan mereka saling berbagi kegembiraan, dan setelah kencan itu berlangsung, mereka biasa melaporkan dengan terperinci hal apa yang sudah dikatakan dan dilakukan. Jadi, ketika dia jatuh cinta dan membina hubungan yang bersifat tetap dengan seorang pria, Carol kehabisan bahan untuk dibicarakan bersama sahabat-sahabatnya.

Bukan cuma persahabatan sesama wanita yang dapat menciptakan keadaan satu orang merasa diabaikan karena yang lain menjalin hubungan yang tetap. Dalam cerita Mendocino oleh Ann Packer, si tokoh utama, Bliss, merasa sedih jika mengunjungi abangnya yang kini hidup bersama seorang wanita, karena keakraban si abang dengan wanita itu telah mengurangi keakrabannya dengan Bliss. Bliss teringat akan kedekatan mereka dahulu, ketika

mereka biasa bertukar cerita di tempat kerja dan, saat mulai minum dari botol anggur kedua, saling berbagi kabar seputar kegagalan asmara masing-masing. Bliss terkejut bahwa sampai saat ini ia sama sekali tidak pernah menyadari, bahwa mereka membicarakannya karena semua itu adalah kegagalan. Kini Gerald telah meraih keberhasilannya, dan seakan mereka berdua kini bukan apa-apa melainkan yang sekarang ini: saling bersikap hatl-hati, santun.

Karena tidak lagi berbagi rahasia tentang hubungan mereka dalam pembicaraan empat mata, Bliss mengesani pembicaraannya dengan Gerald, yang kini berlangsung dalam kelompok tiga orang, sebagai percakapan yang berhati-hati dan santun-bisa dikatakan, mirip wicara publik.

Saya memiliki seorang sahabat, lelaki, yang melajang selama beberapa t tahun dan sudah mengembangkan sebuah jaringan luas dan kuat terdiri dari sahabat-sahabat perempuan yang kerap ia ajak berbicara. Ketika ia sudah mengembangkan hubungan yang mantap dengan seorang perempuan dan lalu mereka hidup bersama, sahabat-sahabatnya mengeluh ia tidak lagi membicarakan apa-apa kepada mereka. “Hal itu bukan karena saya menyembunyikan apa-apa dari mereka,” ia menuturkan kepada saya. “Hal itu karena hubungan Naomi dan saya berjalan mulus dan tak ada sesuatu pun yang layak dibicarakan.” Akan tetapi, dengan, berkata demikian, dia sebenamya menuturkan kepada saya satu masalah dalam hubungannya–walaupun masalah itu bukan melibatkan pasangannya, melainkan para sahabatnya.

Ketika wanita Yunani berkumpul untuk berbagi ratapan, ungkapan kesedihan satu wanita mengingatkan yang lain akan deritanya sendiri dan mereka saling memperkuat perasaan masing-masing. Sesungguhnya, Caraveli dan ahli antropologi Joel Kulpers, yang telah mengkaji adat ratapan serupa di Bali, juga mencatat bahwa wanita saling menilai kecakapan dalam seni rakyat ini dengan cara mengukur kemampuan menggerakkan wanita lain agar ikut melibatkan diri dalam pengungkapan duka. Mengungkapkan kepedihan yang mereka rasakan karena kehilangan orang yang dicintai mengikat mereka satu sama lain, dan ikatan itu obat bagi luka kehilangan tersebut.

Sebagian kaum lelaki yang saya wawancarai berkata bahwa mereka tidak membahas masalah/persoalan mereka dengan siapa pun. Kebanyakan pria, yang berkata bahwa mereka suka membahas masalah, mengatakan kepada saya bahwa mereka cenderung membahasnya dengan sahabat perempuan. Sebagian kaum lelaki mengatakan punya sahabat lelaki yang biasa mereka ajak membahas persoalan. Namun ada perbedaan-perbedaan yang menunjukkan bahwa semua itu terletak pada titik yang jauh dari kutub keakraban, bila dibandingkan dengan kebanyakan perempuan. Pertama, lelaki punya satu sahabat, paling banyak dua orang, yang biasa diajak membahas persoalan, tidak seperti pada banyak perempuan yang saya temui, yang punya beberapa, atau bahkan banyak sahabat. Kedua, lelaki sering mengatakan sudah beberapa waktu mereka tidak berbicara dengan sahabat itu–beberapa hari, minggu, bulan, bahkan lebih lama lagi–namun tahu bahwa jika mereka memerlukan, si sahabat akan bersedia. Kebanyakan perempuan herhubungan terus-menerus.

Ketika berbicara dengan para sahabat di telepon, kebanyakan lelaki mungkin membahas apa yang terjadi dalam dunia bisnis, pasar saham, pertandingan sepak bola, atau politik. Mereka bergosip (walaupun mereka tidak menyebutnya begitu) dalam pengertian membicarakan diri sendiri dan orang lain. Namun mereka cenderung berbicara tentang hubungan politik daripada pribadi: kekuasaan lembaga, kemajuan dan kemunduran, usul yang mungkin ditolak atau diterima dalam sidang, rencana mencari uang. Jika lelaki menyebut-nyebut istri dan anak-anaknya, cenderung hanya sekilas, tidak berpanjang-lebar dan tidak rumit dari segi kedalaman maupun perincian. Jika merujuk keadaan pribadi yang sukar, mungkin hanya sedikit dan samar (“Payah.”)

Seorag menceritakan acara perayaan hari Thanksgiving kepada saya.Tiga generasi keluarga istrinya berkumpul: saudara lelaki dan perempuan, anak-anak mereka, dan orangtua mereka. Yang lelaki pergi keluar bermain sepak bola, sementara yang perempuan tinggal di dalam dan berbincang-bincang. Perempuan-perempuan yang lebih tua mengakhiri dengan mengatakan kepada cucu termuda bahwa dia terlalu muda untuk menikah.
Seorang suami menyerahkan rekaman kepada istrinya dengan amat puas dan bangga. “Ini pembicaraan yang hebat”, ia mengumumkan, “karena bukan cuma dia dan aku berbasa-basi seperti ‘Hai, apa kabarmu? Aku menonton film bagus kemarin dulu,’ atau sejenisnya. Yang dibicarakan adalah tugas pemecahan masalah. Setiap kalimat ada maknanya.” Ketika menyimak rekaman itu, sang istri mendengar suami dan sahabat suaminya mencoba memecahkan sebuah masalah komputer.

Gagasan si suami tentang pembicaraan yang bagus adalah pembicaraan dengan isi yang tidak pribadi, berdasarkan fakta, dengan fokus pada tugas. Gagasan si istri adalah pembicaraan dengan isi yang bersifat pribadi.

Penelope Eckert, seorang antropolog, melewatkan waktu bersama gadis-gadis SMU dan menjadi tahu dunia sosial mereka. Donna Eder, seorang sosiolog, melakukan hal yang sama di tingkat SMP. Keduanya mencatat bahwa para gadis meraih status dengan cara bersahabat dengan gadis-gadis yang berstatus tinggi; pemandu sorak, si cantik, dia yang tenar di kalangan para pemuda. Jika bersahabat dengan mereka yang berstatus tinggi merupakan cara meraih status bagi diri Anda sendiri, bagaimana Anda akan membuktikan kepada orang lain bahwa si gadis kondang itu sahabat Anda? Salah satunya adalah menunjukkan bahwa Anda mengetahui rahasia-rahasia mereka, karena dalam konteks persahabatanlah rahasia diungkapkan.

Beberapa,,orang gadis SMU memberi tahu Eckert bahwa mereka lebih suka bersahabat dengan pemuda, karena pemuda tidak berusaha memperoleh perincian cerita yang menarik dan tidak begitu suka menyebar-luaskannya. Gadis-gadis mungkin berpikir bahwa hal in menunjukkan keunggulan budi para pemuda. Namun, Eckert menunjukkan bahwa alasan seorang pemuda tidak begitu suka mengais-ngais gosip dan menyebar-luaskan temuannya adalah karena hat itu tidak banyak bermanfaat baginya. Bagi pemuda, jalan utama mencapai status tidak begitu terkait dengan orang-orang yang akrab dengannya, tetapi lebih terkait dengan prestasi dan kecakapannya, khususnya dalam olahraga, dan kemampuan memenangkan perkelahian (walaupun semakin dewasa seorang pemuda, semakin cenderung perkelahiannya bersifat kata-kata daripada fisik).

Pengukuhan nilai-nilai dengan cara membicarakan orang juga berfungsi dengan cara lain lagi. Kita mengukur perilaku kita terhadap peluang gosip. Kita memerpertikan bagaimana orang lain akan cenderung membicarakan kita. Dalam memutuskan apa yang harus dikerjakan, kita secara otomatis memetakan tindakan yang sedang kita pertimbangkan itu pada latar belakang dialog khayal ini. Hal yang kita pikir mungkin akan diucapkan orang tentang kita berpengaruh atas keputusan kita tentang bagaimana bertindak. Setelah memutuskan, kita menyembunyikan, menyesuaikan, atau menunjukkan perilaku kita untuk mencegah kecaman dan memastikan kita mendapat pujian. Mereka yang bersifat dan sedang dalam usia pemberontak mungkin akan menentang tuntutan yang ditampakkan dalam gosip. Tak jadi soal sikap apa yang diambil terhadap tuntutan itu, anggapan di balik “apa kata orang nanti” menanamkan dalam diri kita sebuah citra tentang sifat dan tindakan orang yang baik. Mendengar orang dipuji karena dermawan dan rendah hati, kita mendapat gagasan itulah sifat yang baik. Mendengar orang dicela karena kikir, tak setia, atau jelek, kita mendapat gagasan bahwa itu semua bukanlah sifat yang baik.

Robinette Kennedy, ahli jiwa yang mengkaji persahabatan perempuan di sebuah desa di Pulau Kreta, menemukan bahwa kaum perempuan sadar benar akan bahaya gosip jahat yang disebabkan oleh pertukaran rahasia. Ia meminta dua belas gadis pelajar untuk menuliskan sifat-sifat yang mereka hargai pada diri seorang sahabat, dan setiap orang menulis: tidak mengkhianati rahasia. Kennedy menemukan bahwa sejumlah perempuan sungguh-sungguh menghindari persahabatan disebabkan hal ini, namun mereka rindu memiliki sahabat.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

AUTHOR

AUTHOR
TWILIGHT HUNTER, AN AUTHOR & AN ORDINARY ACOUSTIC PERFORMER WHO'S CRAVING FOR BEAUTY PICTURES

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • pinterest
  • google+
  • instagram
  • bloglovin

Labels

  • BOOK
  • CATATAN KULIAH
  • CHICKEN SOUP
  • CONTEST
  • FASHION
  • MOVIE
  • MUSIC
  • REVIEW
  • TES POTENSI AKADEMIK
  • TRAVEL STORY
  • VAMPIRE ACADEMY

Total Pageviews

Powered by Blogger.
Facebook Twitter Instagram Pinterest Bloglovin

Created with by BeautyTemplates