Shadow Kiss ~ Bahasa Indonesia (chapter 1)

Tuesday, July 27, 2010 9 komentar

J ari-jarinya meluncur disepanjang punggungku, memberikan penekanan–penekanan tertentu dibeberapa titik, mengirimkan gelombang gairah di seluruh daging yang menempel ditubuhku. Perlahan-lahan, tangannya bergerak diatas kulitku, turun ke samping perutku, kemudian berakhir di lekukan pinggulku. Tepat di bawah telingaku, kurasakan bibirnya menekan leherku, diikuti oleh ciuman-ciumannya, lalu yang lainnya,
kemudian yang lainnya....
Bibirnya bergerak lagi dari leherku kemudian pipiku dan akhirnya menemukan bibirku. Kami berciuman, berpelukan hingga kami begitu dekat. Darahku terbakar bersamaku, dan aku merasa lebih hidup saat ini daripada hidup yang pernah kurasakan sebelumnya. Aku mencintainya, sangat mencintai Christian yang –

Christian?





Oh tidak.
Beberapa bagian dari diriku tiba-tiba menyadari apa yang sebenarnya terjadi –dan ya Tuhan, hal ini membuatku kesal. Sebagiannya lagi, bagaimanapun juga, masih saja pasrah menikmati kejadian ini, menganggap bahwa akulah yang sedang disentuh dan dicium. Bagian dari diriku yang tidak mampu terlepas. Aku terlalu dekat dengan Lissa, dan karena segala kedekatan dan maksud inilah semua ini terjadi padaku.

Tidak, aku berbicara keras dengan diriku sendiri. 'Ini tidak nyata—tidak untukmu. Pergi dari sana.

Tapi bagaimana aku bisa mendengarkan logika ketika setiap inci dari tubuhku sedang terbakar gairah?

Kau bukan dia. Ini bukan kepalamu. Keluar.

Bibirnya. Tidak ada sesuatu apapun di dunia ini sekarang selain bibirnya.

Ini bukan dia. Keluar.

Ciumannya sama, benar-benar sama seperti ciuman yang kuingat kulakukan dengannya. …
Tidak, ini bukan Dimitri. Keluar!

Nama Dimitri seperti air dingin yang menampar wajahku. Aku berhasil keluar.
Aku duduk tegak di atas ranjangku, tiba-tiba merasa seperti habis tercekik. Ku coba menendang selimutku menjauh, tapi ternyata hanya berakhir dengan terlilit dikaki-kakiku. Jantungku berdetak cepat dalam dadaku, dan aku mencoba untuk menarik napas dalam-dalam, berusaha perlahan-lahan mengatur menenangkan diri dan kembali ke kehidupan nyataku sendiri. Zaman pastilah sudah berubah. Dulu, mimpi buruk Lissalah yang membangunkanku dari tidurku. Sekarang kehidupan seksnya lah yang melakukannya. Menganggap kedua hal tersebut tidak memiliki perbedaan terlalu jauh untuk bisa dimengerti. Aku sebenarnya sudah membatasi diriku sendiri untuk terlibat dari kehidupan cinta Lissa – sebenarnya hanya ketika aku bangun. Sekarang, Lissa dan Christian sedang (tanpa sengaja) mengakaliku. Ketika tidur, benteng pertahananku melemah, mengizinkan emosi yang kuat untuk melewati hubungan fisik terkoneksi antara aku dan sahabatku. Ini tidak akan jadi masalah jika kami berdua ada di atas ranjang dengan kegiatan seperti orang normal pada umumnya – dan “ada di atas ranjang” yang kumaksud adalah “tidur”.

“Tuhan,” aku berkomat-kamit sendiri, duduk tegak dan mengayun-ayunkan kakiku di samping tempat tidur. Suaraku sudah diikuti diriku yang menguap. Tidakbisakah Lissa dan Christian benar-benar bisa menjaga tangan mereka masing-masing hingga waktunya bangun?

Lebih buruk daripada terbangun, meski, itulah yang aku rasakan sekarang. Tentu, tidak satupun dari semua hal itu terjadi padaku. Bukan kulitku yang sedang disentuh atau bibir ku yang sedang berciuman. Meskipun begitu tubuhku lah yang terlihat seperti sedang melakukannya. Sebenarnya sudah terlalu lama aku tidak lagi terjebak dalam situasi seperti itu. Aku merasa sakit dan hangat diseluruh tubuh. Ini semua sungguh idiot, tapi tiba-tiba, dengan sangat menyedihkan, aku menginginkan seseorang untuk menyentuhku, meski hanya dengan memelukku saja. Tapi tentu saja aku tidak mengharapkan Christian yang melakukannya. Ingatan tentang bibir yang menyentuh bibirku seolah tergambar ulang dalam pikiranku, bagaimana rasanya, dan bagaimana imajinasiku menganggap dengan pasti bahwa Dimitrilah yang sedang menciumku.

Aku berdiri dengan kaki gemetar, merasa putus asa dan...well, sedih. Sedih dan hampa. Berusaha pergi dari suasana hatiku yang aneh, aku memasang jubah dan sendalku dan pergi kekamar mandi di bawah. Aku memercikkan sebanyak mungkin air dingin ke wajahku dan menatap kaca. Bayanganku menatapku dengan rambut kusut dan mata merah. Aku terlihat kurang tidur, tapi aku tidak ingin kembali ke ranjangku. Aku tidak ingin mengambil resiko dan jatuh tertidur lagi. Aku butuh sesuatu untuk membuatku tetap bangun dan menghapus semua yang sudah aku lihat.


Aku meninggalkan kamar mandi dan menuju tangga , setiap langkah kakiku terasa ringan seperti aku turun tangga tadi. Lantai pertama asramaku masih tenang dan sunyi. Sebenarnya  ini sudah hampir tengah hari – tengah malam waktu vampir,  sejak mereka menyesuaikan jadwal nokturnal mereka. Mengintai  dari pinggir pintu,  aku memindai  lobi. 

Ruangan itu kosong, selain seorang laki-laki Moroi yang sedang duduk di meja depan. Dia membuka-buka majalahnya dengan malas, dihadapkan pada kebenaran, hanya sebagai selingan saja. Dia sampai pada lembar terakhir majalahnya dan kemudian menguap lagi. Dia memutar kursinya, melemparkan majalahnya ke meja di belakangnya, dan menggapai sesuatu untuk dibaca lagi. Ketika punggungnya berbalik, aku meluncur melewatinya menuju pintu double yang terbuka di luar. Berdoa pintu itu tidak akan berderit, aku hati-hati membukanya dalam satu tarikan, asal cukup untukku menyelinap keluar. Setelah diluar, aku kemudian menutup pintu itu selembut yang aku bisa. Tanpa suara. Biasanya, anak-anak lelaki akan merasa seperti anak panah. Merasa seperti seorang ninja, aku melangkah ke arah terangnya hari.

Angin dingin menampar wajahku, tapi ini lah yang memang aku butuhkan. Dahan pohon tak berdaun  mengayun bersama angin, menggaruk dinding batu asrama seperti jari-jemari. Matahari mengintip padaku diantara awan yang berwarna,  membuatku ingat seharusnya aku sedang tertidur lelap diranjangku. Memicingkan mata terhadap cahaya, aku menyentakkan jubahku dan berjalan disisi gedung, menuju sebuah titik diantara sisi ini dengan tempat latihan yang tidak terlalu begitu terkena efek cuaca ini. Lumpur salju disisi jalan menyembur karena sendalku, menyemprot pakaianku, tapi aku tak peduli.

Yeah, ini benar-benar tipikal hari-hari musim dingin yang kacau di Montana, tapi itulah intinya. Udara segar banyak membantu membangunkanku dan mengehentikanku mengejar  sisa-sisa adegan cinta virtual. Ditambah lagi, semua ini menjagaku untuk tetap sadar agar tetap berada dalam tubuhku sendiri. Fokus terhadap tubuhku yang membeku lebih baik daripada mengingat bagaimana rasanya ketika tangan Christian menyentuhku. 

Berdiri disitu, menatap jejeran pohon-pohon tanpa benar-benar melihatnya, aku cukup syok ternyata terdapat percikan kecil kemarahan dalam diriku untuk Lissa dan Christian. Seharusnya hal tersebut bukan masalah, kepahitan yang kurasakan ketika memikirkannya, melakukan apapun yang kau ingin lakukan.  Lissa selalu berkata kalau ia berharap ia bisa merasakan pikiranku juga dan mengalami bagaimana aku merasakan dirinya juga.

Kebenarannya adalah, dia tidak tau betapa beruntungnya dia. Dia tidak mengerti bagaimana rasanya ketika pikiran orang lain mengambil alih pikiranmu sendiri, Pengalaman orang lain mengacaukan milikmu . Dia tidak tahu bagaimana rasanya hidup dengan pengalaman kesempurnaan cinta seseorang dalam kepalamu  saat kau sendiri tidak memilikinya. Dia tidak mengerti bagaimana rasanya ketika dirimu dipenuhi oleh cinta yang kuat yang mampu menyakiti dadamu – sebuah cinta yang hanya bisa kau rasakan dan tidak bisa kau tunjukkan. Menjaga cinta agar tetap terkubur seperti mengurung kemarahan, aku belajar. Ini semua memakanmu dari dalam hingga kau ingin berteriak dan menendang sesuatu.

Tidak, Lissa tidak akan mengerti satu pun dari semua itu. Dia tidak mungkin bisa. Dia bisa menghadapi segala masalah percintaannya, tanpa sedikitpun  perduli dengan apa yang sudah ia lakukan padaku.

Aku sadar kemudian ketika aku menarik nafas dalam-dalam, kali ini dalam kemarahan. Pancaran perasaan sentimentil tengah malam yang kurasakan dari Lissa dan Christian sudah hilang. Semua itu sudah digantikan oleh rasa marah dan cemburu, lahir perasaandari apa yang tidak bisa kumiliki dan apa yang begitu mudah ia dapatkan.  Aku mencoba semampuku untuk menelan emosi –emosi itu kembali; aku tidak ingin merasakan hal itu terhadap sahabatku.

“Apa kau tidur sambil berjalan?” sebuah suara bertanya di belakangku.
Aku berputar mencari-cari, kaget. Dimitri berdiri memandangku, terlihat antara terhibur dan penasaran. Aku membayangkan ketika aku kesal terhadap segala masalah ketidakadilan kehidupan cintaku, sumber masalah itu ternyata  menjadi satu-satunya yang menemukanku.

Aku tidak menyadari kehadirannya sama sekali. Benar-benar berarti banyak untuk kemampuan ninjaku. Dan sejujurnya,  apakah kemampuan tersebut akan membunuhku jika kucoba untuk mengambil sisir sebelum aku keluar tadi? Buru-buru, aku menyisirkan jariku ke rambutku yang panjang, tahu kalau itu semua sudah terlambat.  Rambutku pastilah terlihat seperti ada seekor binatang mati yang berada di atas kepalaku.

“Aku hanya menguji keamanan asrama,”kataku. “Payah sekali ternyata.”
Sebuah senyuman tersembunyi bermain dibibirnya.  Udara dingin kini mulai merembes masuk ke dalam tubuhku sekarang, dan aku tidak bisa berbuat apa-apa selain memikirkan betapa hangatnya jaket panjangnya itu kelihatannya. Aku tidak keberatan untuk merampasnya.

Seperti bisa membaca pikiranku, dia berkata,” kau pasti kedinginan. Kau ingin jaketku?”

Aku menggelengkan kepala, memutuskan untuk tidak mengatakan kalau aku sudah tidak bisa merasakan kakiku juga. “Aku baik-baik saja. Apa yang kau lakukan di luar sini? Apa kau juga sedang mencoba menguji keamanan juga?”

“Akulah yang sedang tugas menjaga keamanan. Ini jam kerjaku.” Penjaga sekolah bergantian berpatroli ketika semua orang sudah tidur. Strigoi, vampir yang tidak mati yang selalu mengintai vampir Moroi seperti Lissa, tidak keluar pada siang hari, tapi para siswalah yang melanggar peraturan- seperti, curi-curi keluar dari asrama – adalah masalah malam dan siang.

"Well, kerja yang bagus," kataku. "Aku senang bisa membantu menguji kemampuanmu yang mengagumkan. Aku harus pergi sekarang.”

"Rose—" Dimitri menangkap tanganku, dan melenyapkan semua angin dan udara dingin dan lumpur salju, demam menyerangku mendadak. Dia melepaskanku dengan tiba-tiba, seolah dia juga terbakar. “Apa yang sebenarnya sedang kau lakukan disini?”

Dia menggunakan suara ‘berhenti membodohi sekitarmu’, jadi aku berikan dia jawaban yang paling meyakinkan yang kupunya. “Aku bermimpi buruk. Aku butuh udara segar.”

“Dan kau seenaknya keluar. Kau melanggar  peraturan, apakah semua itu tidak terlintas dipikiranmu –dan sama sekali tidak memakai jaket.”

“Ya,” kataku.”Rangkuman yang bagus.”

“Rose, Rose.” kali ini dengan suara  putus asanya. “Kau tidak pernah berubah. Selalu melompat dulu sebelum berpikir.”

“Itu tidak benar,” aku protes. “Aku sudah banyak berubah.”

Wajah menghiburnya tiba-tiba memudar, ekspresinya berubah menjadi bermasalah. Dia mempelajari aku selama  beberapa saat. Terkadang aku merasa kalau matanya itu seperti bisa menembus kedalam jiwaku. “Kau benar. Kau sudah berubah.”

Dia tidak terlihat senang dengan semua itu. Dia tadi mungkin sedang memikirkan apa yang terjadi tiga minggu yang lalu, ketika aku dan beberapa orang teman ditangkap oleh Strigoi. Hanyalah sebuah keberuntungan kami bisa berhasil melepaskan diri – dan tidak semua berhasil. Mason, seorang teman baik dan cowok yang tergila-gila padaku, terbunuh, dan sebagian dari diriku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri, meskipun aku sudah membunuh pembunuh Mason.

Semua itu memberikan ingatan terburuk dalam hidupku. Sebenarnya, semua itu memberikan kenangan buruk  pada semua orang di Akademi St. Vladimir, tapi aku pada khususnya. Yang lain mulai menyadari perbedaan dalam diriku. Aku tidak suka Dimitri mengkhawatirkanku, jadi, aku bermain dengan candaanku.

Well, jangan khawatir. Ulang tahunku akan segera tiba. Sebentar lagi usiaku 18 tahun, aku akan menjadi orang dewasa, ya kan? Aku yakin aku akan bangun di pagi hari dan menemukan semua didiriku menjadi lebih dewasa.”

Seperti yang kuharap, dia menunjukkan senyuman kecilnya. “Ya, aku yakin itu. Kapan ulang tahunmu, bulan apa?”

“Tiga puluh-satu hari lagi,” aku mengumumkannya.

“Kamu tidak seharusnya menghitung.”

Aku mengangkat bahu, dan dia tertawa.

“Aku menebak kau sudah mempunyai daftar permohonan juga. Sepuluh halaman? satu spasi? Diurutkan berdasarkan prioritas?” senyumnya masih ada di wajahnya.
Ini semua membuatku lebih santai, keseriusannya untuk menghiburku  seperti ini dulu jarang terjadi padanya.

Aku hampir mau memulai candaan yang lain, tapi gambaran Lissa dan Christian berkobar di pikiranku lagi. Rasa sedih dan hampa  berlanjut di perutku.  Segala yang aku inginkan – pakaian baru, iPod, apapun – tiba-tiba terlihat sepele. Materi apa yang bisa dibandingkan dengan satu-satunya hal yang paling ingin kudapatkan? Tuhan, aku benar-benar sudah berubah.

“Tidak,” kataku dalam suara kecil.”Tak ada daftar.”

Ia memiringkan kepalanya agar bisa benar-benar melihat wajahku, membuat sebagian rambut sebahunya menyapu wajahnya. Rambutnya cokelat, seperti rambutku, tapi tidak terlalu gelap. Rambutku terkadang terlihat hitam. Dia menyisir untaian rambutnya kesamping, hanya membuat rambut itu kembali menyapu wajahnya lagi. 

“Aku tak percaya kau tidak menginginkan apapun. Ini akan menjadi ulang tahun yang paling  membosankan.”

Kebebasan, pikirku. Hanya itu hadiah yang aku nantikan. kebebasan untukku membuat pilihan sendiri. Kebebasan untuk mencintai seseorang yang aku inginkan.

“Bukan masalah,” kataku langsung.

“Apa yang kau –“ dia berhenti. Dia mengerti. Dia selalu mengerti. Ini adalah bagian mengapa kami selalu bisa terhubung seperti sebelum-sebelumnya,  selain perbedaan 7 tahun usia kami.  Kami sudah sama-sama saling menjatuhkan semenjak dia menjadi instruktur  bertarungku. Meski sudah ada yang memanas diantara kami berdua, kami menemukan banyak hal untuk dikhawatirkan selain perbedaan usia itu.  Kami berdua akan menjadi penjaga Lissa setelah dia lulus,  dan kami tidak bisa membiarkan perasaan yang kami alami ini mengganggu kami ketika Lissa lah yang seharusnya menjadi prioritas.

Tentu saja, semua itu lebih gampang diucapkan daripada dilakukan sebab aku tidak jamin perasaan kami ini benar-benar akan hilang. Kami punya saat-saat dimana kami begitu lemah, saat ketika kami mencuri ciuman atau berbicara mengenai hal-hal yang tidak seharusnya kami katakan.

Setelah aku dapat melarikan diri dari Strigoi, Dimitri berkata bahwa ia mencintaiku dan dengan sungguh-sungguh bersumpah kalau dia tidak akan bersama orang lain karena cinta itu. Namun, semua itu memperjelas keadaan kalau kami memang tidak bisa bersatu, dan kami harus kembali pada aturan lama yaitu menjaga jarak satu sama lain dan berpura-pura kalau hubungan kami hanyalah hubungan profesional yang tidak bisa diganggu gugat.

Dalam usaha mengubah subjek pembicaraan secara halus, ia berkata,”Kau dapat menyanggah semaumu, tapi aku tahu kau membeku. Ayo masuk ke dalam. Aku akan mengikutimu dari belakang.” 

Aku tidak dapat menyembunyikan perasaan terkejutku. Dimitri sangat jarang menghindari subjek yang tidak menyenangkan. Faktanya,  dia lebih terkenal dengan kegemarannya mendorongku untuk masuk dalam  topik pembicaraan yang tidak ingin kuikuti. Tapi membicarakan tentang ketidakmampuan kami? Hubungan terlarang? Akan menjadi topik yang tidak ingin ia bicarakan sekarang. Ya. Segalanya benar-benar berubah.

“Menurutku kaulah satu-satunya yang benar-benar dingin,” aku menggodanya ketika kami berjalan di sisi asrama dimana para novis tinggal. “Harusnya kan kau selalu berpikir dan bertindak dengan dingin karena kau dari Siberia?”

“Aku tidak yakin dengan kondisi Siberia yang kau bayangkan.”

“Aku membayangkannya seperti sebuah negara di bagian Kutub Utara,” kataku jujur.

“Jadi memang bukan itulah yang kau bayangkan.”

“Apa kau merindukannya?” aku bertanya, melirik ke belakangku tepat dimana ia berada. Itu merupakan sesuatu yang tidak pernah terpikirkan olehku. Dalam pikiranku, semua orang menginginkan tinggal di Amerika Serikat, well, mereka tidak mungkin mau tinggal di Siberia.

“Setiap waktu,” katanya, suaranya sedikit sedih. “Terkadang aku berharap –“

“Belikov!” Sebuah suara dibawa oleh angin yang muncul dari belakang kami. Dimitri merasakan sesuatu, dan kemudian dia mendorongku lebih jauh ke sudut dimana aku berdiri.

“Tetap di bagian yang terang.” Aku merunduk dibalik  deretan pohon holy yang diapit bangunan. Tidak ada buah,  tapi rantingnya tajam, daun yang runcing menggores kulitku. Menyadari temperatur yang membeku dan kemungkinan ditemukannya perjalanan tengah malamku,  beberapa goresan hanya akan menjadi masalah terakhirku.

“Ini bukan jam kerjamu,” aku mendengar Dimitri berbicara beberapa waktu yang lalu.

“Bukan, tapi aku perlu berbicara denganmu.” aku mengenali suara itu. Suara milik Alberta, Kepala penjaga Akademi.

“Hanya beberapa menit. Kita butuh pengaturang ulang jam kerja ketika kamu sedang dalam persidangan.”

“Aku mengerti,” katanya. Sangat lucu, hampir nada-nada tidak nyaman muncul dalam suaranya.

“ Ini akan membuat semua orang tegang –waktu yang tidak tepat.”

“Ya, sebenarnya, sang ratu berjalan sesuai dengan yang  dijadwalkan.” Alberta terdengar frustasi dan aku mencoba mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi. “Celeste akan menggantikan jam kerjamu, dia dan Emil akan berbagi waktu untuk jadwal latihanmu.”

Jadwal latihan? Dimitri tidak akan memegang pelajaran latihan apa pun minggu depan karena – Ah. Tentu semua itu, aku mengerti. Ujian lapangan. Besok akan membuang enam minggu pelajaran teori bagi para novis seperti kami. Kami tidak memiliki kelas dan akan melindungi Moroi siang dan malam sementara para orang dewasa akan menguji kami. “Masa persidangan” adalah masa dimana Dimitri pastilah mengambil bagian. Tapi pengujian seperti apa yang sebenarnya Alberta maksudkan? Apakah maksudnya seperti ujian akhir yang harus kami lalui ketika berada di tingkat akhir sekolah?

“Mereka bilang tidak masalah harus memiliki kerja tambahan,” Alberta melanjutkan, “Tapi aku berharap bisakah  kalau kau mengecek dan mengambil jadwal kerja mereka sebelum kau pergi?”

“Tentu saja,” katanya, selalu saja singkat dan kaku.

“Terima kasih. Kupikir ini akan membantu.” Alberta mendesah. “Aku berharap aku tahu berapa lama  sidang ini akan berlangsung. Aku tidak ingin semua ini terlalu lama. Kau pikir ini sebuah kesepakatan dengan Dashkov, tapi sekarang sang ratu menjadi ragu mengenai pemenjaraan anggota kerajaan.”

Aku membeku. Udara dingin di musim dingin yang menyelimutiku sekarang tidak perlu melakukan apapun. Dashkov?

“Aku yakin mereka melakukan hal yang benar,” kata Dimitri. Aku sadar pada saat itu mengapa dari tadi  dia tidak berkata banyak. Ini semua mengenai hal yang tidak ingin kudengar.

“Aku harap juga begitu. Dan kuharap ini hanya akan berlangsung beberapa hari, seperti yang mereka katakan. Lihat, semua jadi kacau sekarang. Maukah kau ke kantor sebentar untuk melihat jadwalnya?”

“Tentu,” katanya.” Biarkan aku mengecek sesuatu terlebih dahulu.”

“Baiklah. Sampai ketemu lagi.”

Keheningan menyelimuti, dan aku menyimpulkan kalau Alberta sudah berjalan menjauh. Sangat yakin, Dimitri mengitari sudut dan berdiri tepat di depan pohon holy. Aku muncul dari tempat persembunyianku. Apa yang terlihat diwajahnya menggambarkan kalau dia sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Rose –“

“Dashkov?” aku memastikan, mencoba menjaga suaraku tetap kecil supaya Alberta tidak mendengarnya.

Dan dia pun tidak menyanggahnya sama sekali. “Ya. Victor Dashkov.”

“Dan kalian membicarakan tentang ... maksudmu ...” aku sangat kaget, sangat merasa dibodohi, bahwa pikiranku bisa kosong bersama-sama. Ini sungguh tidak bisa dipercaya.

“Kupikir dia sudah dipenjara! Apa maksudmu dia belum disidang?”
Ya. Ini sungguh sangat tidak bisa dipercaya. Victor Dashkov. Lelaki yang membuntuti  dan menyiksa pikiran dan tubuh Lissa untuk menggunakan kekuatan Lissa.

Setiap Moroi bisa menggunakan salah satu sihir dari empat elemen: bumi, udara, air, atau tanah. Lissa, sayangnya, memiliki sihir kelima yang hampir punah bernama roh. Dia dapat menyembuhkan apapun – termasuk yang sudah mati. Inilah alasan mengapa aku secara fisik terhubung dengannya –“dicium bayangan’’, begitulah sebutannya. Dia menghidupkanku kembali dari kecelakaan mobil yang menewaskan orang tua dan kakaknya, mengikat kami selalu sehingga mengizinkanku untuk merasakan pikiran dan apa pun yang sedang ia lakukan.

Victor sudah mengetahuinya jauh sebelum kami tahu bahwa Lissa bisa menyembuhkan,  dan dia ingin mengasingkan Lissa dan menggunakannya sebagai pengembali masa mudanya untuk dirinya sendiri. Dia bahkan tidak ragu untuk membunuh orang-orang yang menghalangi jalannya – atau dalam hal ini Dimitri dan aku, menggunakan berbagai cara licik untuk menghentikan lawannya.

Aku punya banyak musuh dalam tujuh belas tahun ini, tapi aku sangat yakin kalau tidak ada seorang pun yang bisa mengalahkan kebencianku terhadap Victor Dashkov- sepanjang dia masih hidup.

Wajah Dimitri menunjukkan ekspresi yang aku kenal. Ekspresi ketika dia berpikir aku mungkin meninju seseorang.

“Dia harusnya dikurung—tapi tidak, belum ada sidang. Proses hukum terkadang memerlukan waktu yang lama.”

“Tapi seharusnya sudah ada sidang sekarang? Dan kau akan pergi?” Aku berbicara dengan gigi terkatup, mencoba untuk tenang. Aku menduga aku masih punya wajah yang terlihat aku akan meninju seseorang.

“Minggu depan. Mereka memerlukan aku dan beberapa orang pengawal untuk bersaksi mengenai apa yang telah terjadi dengan kau dan Lissa malam itu.”  Ekspresinya berubah ketika menyebutkan kejadian empat bulan yang lalu itu, dan lagi, aku mengenali ekspresi itu.  Itu adalah ekspresi sengit, saat dia ingin memberikan perlindungan ketika orang yang ia pedulikan dalam masalah.

“Sebut aku sudah gila karena menanyakan hal ini, um, apakah Lissa dan aku akan pergi bersamamu?” aku sudah menduga jawabanya, dan aku sungguh tidak suka.

“Tidak.”

“Tidak?”

“Tidak.”

Aku meletakkan tangan dipinggang. “Dengar, bukankah masuk akal jika kau pergi untuk mengatakan apa yang terjadi pada kami, kau berarti juga harus membawa kami kesana?”

Dimitri sepenuhnya berubah menjadi instruktur yang keras sekarang, ia menggelengkan kepala. “Sang ratu dan beberapa penawal beranggapan kalian tidak perlu pergi karena ini demi kebaikan kalian. Sudah banyak cukup bukti dari kami, disamping itu, penjahat atau tidak, dia adalah – atau pernah menjadi – satu dari keluarga kerajaan yang berkuasa di dunia. Itulah mengapa sidang ini dilakukan sembunyi-sembunyi.”

“Jadi apa? Kau pikir jika kami ikut kami akan memberitahukan kepada semua orang?” aku berseru.

“Ayolah, rekan. Apa kau pikir kami akan benar-benar melakukannya? Satu-satunya yang kami inginkan hanyalah melihat Victor dipenjara. Selamanya. Mungkin dalam waktu yang sangat lama. Dan jika suatu saat ada kemungkinana dia akan keluar dengan bebas, kau harus membiarkan kami pergi.”

Setelah Victor ditangkap, di dipenjarakan, dan kupikir cerita itu sudah berakhir. Aku membayangkan ia membusuk di penjara. Ini tidak mungkin terjadi padaku – karena kupikir memang sudah seharusnya begitu – ia masih memerlukan sebuah sidang terlebih dahulu. Saat itu, kejahatannya sudah terlihat sangat jelas.  Tapi, meskipun pemerintahan Moroi merupakan pemerintahan rahasia dan tidak tergabung dengan pemerintahan milik manusia, tetap saja dijalankan dengan cara yang sama. Karena adanya proses dan semua itu.

“Ini bukan keputusanku,” Dimitri berkata.

“Tapi kau punya pengaruh. Kau dapat berbicara untuk kami, khususnya jika ...” sebagian kecil kemarahanku mereda, digantikan oleh rasa takut yang tiba-tiba dan mengejutkan. Aku hampir tidak bisa mengucapkan kata-kata berikutnya. “Khususnya jika dia memiliki kemungkinan untuk bebas. Apa itu benar? Apa ada kemungkinan sang ratu akan membiarkannya bebas?”

“Aku tidak tahu. Terkadang apa yang dilakukan sang ratu dan keluarga kerajaan yang lain tidak dapat kita prediksikan.” Mendadak dia terlihat sangat lelah. Dia merogoh sakunya dan menarik satu set kunci.

“Dengar, aku tahu kau marah, tapi kita tidak bisa membicarakan ini sekarang. Aku harus pergi menemui Alberta, dan kau juga harus kembali ke dalam. Kunci yang kotak akan membuka pintu samping. Kau tahu yang mana.”

Aku tahu.”Ya. Trims.”

Aku merajuk dan benci situasi kami menjadi seperti ini –khususnya sejak menyelamatkanku dari masalah – tapi aku tak mampu menolong diriku sendiri. 


Victor Dashkov adalah penjahat keji – bahkan ia adalah seorang bajingan. Dia lapar kekuasaan dan serakah dan tidak peduli siapapun yang menghalangi jalannya. Jika dia mendapat kelonggaran lagi ... well, tidak ada yang bisa dikatakan apa yang mungkin akan terjadi pada Lissa atau Moroi yang lain. Pikiran bahwa aku bisa saja membantu mengenyahkan dia tapi tak seorangpun yang membiarkanku melakukannya, membuatku sangat marah.

Aku baru saja mengambil beberapa langkah menjauh ketika Dimitri memanggilku dari belakang.

“Rose?” Aku melirik ke belakang.

“Aku minta maaf,” katanya. Dia terdiam, dan ekspresi penyesalannya berubah menjadi ekspresi waspada.

“Dan kau sebaiknya mengembalikan kunci-kunci itu besok.”

Aku berbalik dan melanjutkan langkah. Ini semua mungkin tidak adil, tapi bagian kekanak-kanakanku percaya kalau Dimitri dapat melakukan apapun. Jika dia benar-benar menginginkan aku dan Lissa dipersidangan, aku yakin dia bisa melakukannya.

Ketika aku hampir berada di pintu samping, aku menangkap bayangan pergerakan yang tidak kukenali. Suasana hatiku langsung berubah. Bagus. Dimitri memberikan kunci untukku menyelinap masuk, dan sekarang orang lain yang akan menangkapku. Ini merupakan tipikal keberuntungaku.  Setengah berharap seorang guru akan menuntut untuk tahu apa yang sebenarnya sedang kulakukan, aku berbalik dan mempersiapkan sebuah alasan.
Tapi, itu bukanlah seorang guru.

“Tidak,” kataku pelan. Ini pastilah sebuah lelucon. “Tidak.”

Selama beberapa saat, aku berharap jika aku benar-benar sudah bangun. Mungkin aku sebenarnya masin berada di tempat tidur, sedang lelap, dan bermimpi.

Sebab pastinya, pastinya ada sebuah penjelasan untuk apa yang aku lihat sekarang  dihalamaan Akademi di hadapanku,  bersembunyi di bawah bayangan sebuah benda kuno, monggol pohon ek.

Adalah Mason.



{{diterjemahkan langsung dari Shadow Kissed  karya Richelle Mead}}


:: download Shadow Kissed bahasa Indonesia here ::






Karena saya nge-fans banget sama Vampire Academy The Series, jadi saya coba-coba translate sendiri sembari menunggu buku aslinya keluar. Bukan bermaksud apa-apa, hanya demi kesenangan saja. Jadi maaf kalo translated nya tidak sebagus aslinya. Gomen T . T

9 comments:

  1. Lanjutannya ??? :(

    ReplyDelete
  2. buku pertama vampire academy terjemahin juga dooong :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dear Anonim,

      Mohon maaf, karena buku VA sudah diterbitkan, saya tidak bisa memposting terjemahan yang sudah ada mengingat adanya sistem copyright. Jadi, saya hanya akan memposting terjemahan buku yang memang masih belum terbit di Indonesia.

      Terima kasih sudah membaca blog ini,

      :)

      Delete
  3. ndak bisa di download!!!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dear Anonim,

      Mohon maaf sekali, karena masalah copyright dan semacamnya, maka download e-book nya tidak saya aktifkan lagi. Jadi sekarang hanya berupa postingan saja.

      Terima kasih,

      :)

      Delete
  4. mba g bis di download ya kirim bisa gk ke email?
    please ^--^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dear HeyNa Juwita,

      Mohon maaf, tidak bisa. Silakan dibaca online ya. Hehehe

      Terima kasih.

      Delete
    2. Kak yang buku ke 2 ada nggak kak??? Plizzz

      Delete
  5. Translatenya udah lumayan bagus, cuma lebih diperhatikan lagi EyD-nya, penggunaan spasi khususnya untuk 'di-' (kata kerja) dan 'di' yang menunjukkan tempat.

    ReplyDelete

 

Blog archive

Please, Keep in Touch!

©Copyright 2011 Love Your Life | TNB