facebook twitter instagram pinterest google+

Love Your Life

  • Home
  • About
  • Literature
    • Poem
    • Short Story
    • Essay
    • Photoshop
  • Travel Story
    • Korea
    • Kalimantan
    • Bali
    • Java
    • Coffee Shop
  • Vampire Academy
    • Spirit Bound
    • Blood Promise
    • Shadow Kiss



You know you love me
I know you care
Just shout whenever,
And I'll be there
You want my love
You want my heart
And we would never, ever, ever be apart

Are we an item?
Girl quit playin'
We're just friends,
What are you sayin'?
Said there's another as you look right in my eyes
My first love, broke my heart for the first time

And I was like
Baby, baby, baby ooh
Like
Baby, baby, baby noo
Like
Baby, baby, baby ohh
I thought you'd always be mine (mine)
Baby, baby, baby ohh
Like
Baby, baby, baby noo
Like
Baby, baby, baby ohh
I thought you'd always be mine (mine)

Oh oh For you, I would have done whatever
And I just can't believe we ain't together
And I wanna play it cool
But I'm losin' you
I'll buy you anything
I'll buy you any ring
Cause I'm in pieces
Baby fix me
And just shake me till you wake me from this bad dream
I'm goin down, down, down, down
And I just can't believe my first love won't be around

And I'm like
Baby, baby, baby ohh
Like
Baby, baby, baby noo
Like
Baby, baby, baby ohh
I thought you'd always be mine (mine)
Baby, baby, baby ohh
Like
Baby, baby, baby noo
Like
Baby, baby, baby ohh
I thought you'd always be mine (mine)

(Luda)
When I was 13, I had my first love
There was nobody compared to my baby
And nobody came between us, no one could ever come above
She had me going crazy, oh I was star-struck,
She woke me up daily, don't need no Starbucks(Woo! )
She made my heart pound, I skip a beat when I see her in the street
And at school on the playground but I really wanna see her on the weekend
She knows she got me dazing cuz she was so amazing
And now my heart is breaking but I just keep on saying...

Baby, baby, baby ohh
Like
Baby, baby, baby noo
Like
Baby, baby, baby ohh
I thought you'd always be mine (mine)

Baby, baby, baby ohhh
Like
Baby, baby, baby, noo
Like
Baby, baby, baby ohh
I though you'd always be mine (mine)

I'm gone
Yeahh, yeah, yeah
Yeahh, yeahhh
Now I'm all gone
Yeahh, yeah, yeah
Yeahh, yeahhh
Now I'm all gone
Yeahh, yeah, yeah
Yeahh, yeahhh
Now I'm all gone, gone, gone, gone
I'm gone
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Hari ini hari pertama aku promo ke sekolah. *maklum, staf bimbel hehe...
Awalnya sih nervous abis, takut kali-kali aja penyakit lamaku kambuh,,,tapi seperti kata bosku

GA ADA KATA TAPI!!

So, dengan Bismilah dan doa dari orang2 tersayang, berangkatlah diriku n The SSC Gank ke SmaGa alias SMA N 3,,, Alhamdulilah, lancar euy meski belum sempurna. Sadar sih masih perlu banyak latihan dan ketegangan di pertama kali nyoba tuc selalu ada dalam dada. But, so far so good, and I'm proud of myself,,,hehehehehe....

BTW, aku baru tau kenapa Allah memilihkan pekerjaan ini untukku,, ternyata aku jadi bisa sering dapat ilham disini dan, jujur, sangat bagus untuk kesehatan mentalku yg ngga seimbang banget. Ini nih beberapa ilham yg berhasil aku rekam dengan bahasa yg berbeda.

1. keTidak-Cocokan Cewe Vs Cowo
Ketidakcocokan itu ngga bisa dijadikan alasan buat berpisah dengan orang yg selama ini sudah mendampingi kita di kala senang maupun sedih. *Sebenarnya aku dah pernah bilang dulu2 tapi aku seneng banget ada yg sependapat denganku. Berdasarkan jenis kelamin aja udah beda. Satu Cewe satunya Cowo. Apalagi sifat. Mau sampai kiamat juga, ga bisa dicari yg namanya kecocokan. Faktanya, tiap orang dilahirkan ke dunia ini sebagai individu yang berbeda-beda. Tidak ada yang sama persis. Kembar identik aja kelakuannya ngga sama, apalagi yang beda jenis, ngga sedarah pula. Mau dibawa kemana hubungan kalo ketidakcocokan terus dijadikan alasan? Yee itu mah namanya ngga punya niat mempertahankan suatu hubungan,,,dan tiap kali ketidakcocokan jadi alasan buat ningalin pasangan, artinya selamanya orang yg menganut paham tersebut ngga akan mendapatkan belahan jiwanya karena kan memang semua orang iitu terlahir berbeda.

2. Alasan Itu Selalu Ada
Menanggapi masalah pertama, ketidakcocokan merupakan sebuah alasan, hanya alasan. Alasan itu kalau dicari sejuta juga ada. Mau putus ama pacar, misalnya, banyak banget alasannya, orang tua, sekolah, perasaan, ketidakcocokan, dan apalah,,, *tuh baru benatar udah dapet banyak alasan kan... Jadi kebanyakan alasan itu membuktikan bahwa tingkat kebenaran dari kata-katanya adalah, ZERO (0).

3. Menuntut, Tuntut Dulu Diri Sendiri
Kebiasaan nih, dalam kehidupan berpasangan, entah pacaran atau suami istri, akan ada bagian dimana kedua orang tersebut akan saling menuntut. Jika ada yang mengatakan, "Kamu ngga ngerti perasaanku," artinya, yang mengatakan itu yang sebenarnya yang ngga ngerti perasaan pasangannya. Jika ada yang mengatakan, " Coba pikir kan kondisiku," artinya yang mengatakanlah yang ngga ngerti kondisi pasangannya dan selanjutnya.....
Artinya, seringnya manusia hanya melihat dari satu sisi saja, sisi terbaik untuk dirinya sendiri. Jadi meski dia bilang, "Aku ngerti perasaan kamu, tapi coba ngerti perasaan aku," artinya yang ngomong itu bohong. Dia sama sekali ngga ngerti perasaan pasangannya, makanya dia memaksakan kehendaknya sendiri. Jadi, kalau ada yang bilang, "Demi kebaikan kita bersama" meski jelas-jelas menyakiti salah satu pihak, artinya perkatan tersebut pastilah bohong. Kalimat itu bisa di-translate-kan menjadi "Demi kebaikan diriku sendiri".

4. Sugesti Ngga Mampu
Ucapan dan pikiran bisa menjadi sugesti yang berakibat negatif bagi diri sendiri. Misal nih kata-kata cape. Jika kata-kata cape terus dipikirkan dan dianggap sebagai kondisi tubuh kita sekarang, meskipun kita sebenarnya baik-baik saja dan tidak melakukan apa-apa, kita akan merasa cape. Jadi semakin konsen kita memikirkan kata 'cape', semakin benar-benar cape diri dan hati kita. Misal lagi nih, kata-kata 'ngga bisa', padahal sebenrnya kita bisa, tapi karena ada kata-kata dan pikiran 'ngga bisa' itu tadi, maka kita benar0benar menjadi tidak bisa melakukan apa-apa.

5. Selalu Ada Harapan Untuk Menjadi Sukses Dengan Ketulusan
Tadi waktu ke SMAGA, ketemu kepala sekolah yang ternyata udah golongan IV D, udah jadi Profesor kalau di kampus. Kenapa Beliau bisa mendapatkan kesuksesan seperti itu? Karena menurut pengakuan Beliau sendiri nih, bahwa menjadi seorang Guru itu harus Profesional Tulus dan Ikhlas. Ada 3 hal yg bikin kita menjadi benar-benar seorang Guru sejati: Pertama, cintailah diri sendiri. Kedua, cintailah anak didik kita * meski nakalnya Naudzubillah. Ketiga, cintailah profesi kita.






Share
Tweet
Pin
Share
No komentar



Sometime U never know what happen next...

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar






That moment is unforgetable,,,that moment is not the end of my struggle,,,but the begining of my life,,,my true life,,,
Honestly, I'm not really ready to face that world,,,,
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar

BAB I
Latar Belakang
Karakter suatu tokoh dalam suatu cerita fiksi memang terbangun dari imajinasi. Namun imajinasi tersebut terinspirasi dari kehidupan nyata atau dengan kata lain berkembang dalam wadah sastra sebagai bentuk dari kepekaan manusia terhadap hidup dan kebenaran yang dipercayai. Sebaliknya, cerita fiksi juga mampu memberikan inspirasi bagi pembaca sebagai bentuk pembelajaran hidup dari pandangan berbeda, yakni dunia sastra. Sehingga dengan menganalisis karakter suatu tokoh dalam suatu cerita fiksi, pembaca dapat belajar memahami karakter manusia secara tidak langsung.
Dalam kehidupan nyata, seseorang mungkin akan bertanya-tanya mengapa masih ada orang yang mencoba bunuh diri meski hidupnya sudah terlihat sempurna. Kecuali jika pada pemberitaan surat kabar tertulis bahwa orang itu mencoba bunuh diri karena ternyata mengalami depresi berat setelah tunangannya menikahi perempuan lain. Namun, sebenarnya orang lain tidak akan benar-benar tahu mengenai apa yang berkecamuk dalam pikiran orang yang mencoba bunuh diri tersebut. Berbeda dengan tokoh dalam cerita fiksi, segala tindakan yang ia lakukan pada saat itu bisa dikaitkan dengan motif, masa lalu, bahkan pikiran tokoh sendiri. Keterbatasan-keterbatasan manusia dalam menilai seseorang itulah yang membuat analisis tokoh dalam cerita fiksi sebagai alternatif manusia untuk mencari jawaban yang tidak ditemukan dalam kehidupan nyata.
Analisis penokohan dalam suatu karya sastra, terutama cerpen, pengertiannya sering dikaitkan dengan deskripsi fisik tokoh. Padahal, deskripsi fisik tokoh hanyalah satu dari beragam cara penganalisisan tokoh. Namun, sejak tingkat sekolah menengah, penokohan diperkenalkan sebagai karakter suatu tokoh yang dapat dilihat dari tindakan tokoh, tuturan tokoh lain, atau gambaran pengarang. Berikut pengertian penokohan dalam salah satu buku pegangan siswa SMA kelas XII yang sudah disesuaikan dengan Peraturan Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.
Penokohan atau perwatakan dalam cerita adalah pemberian sifat, baik lahir maupun batin kepada seorang tokoh. Tokoh Cerita merupakan bagian yang ditonjolkan pengarang. Tokoh yang tergolong penting dan ditampilkan terus-menerus dalam cerita dinamai tokoh utama. Sebaliknya, ada tokoh yang hanya dimunculkan sekali atau beberapa kali disebut tokoh sampingan. Ada pula tokoh yang mempunyai sifat ideal, tokoh tesebut dinamai protagonis. Tokoh yang menimbulkan konflik atau permasalahan dalam cerita disebut antagonis. Tokoh-tokoh dalam cerpen memiliki peranan yang berbeda-beda. Ada tokoh pemarah, periang, pemalas, rajin, penyabar, atau bijaksana (Dewi, 2009: 85).
Dalam salah satu standar kompetensi membaca, yakni memahami wacana sastra puisi dan cerpen, siswa diharapkan mampu mencapai dua kompetensi dasar. Salah satu kompetensi dasar tersebut adalah menjelaskan unsur-unsur intrinsik cerpen. Penokohan merupakan bagian dari unsur-unsur intrinsik cerpen tersebut, namun pada kenyataannya penjelasan mengenai penokohan dalam beberapa buku pegangan siswa masih sangat terbatas, bahkan kurang jelas. Kutipan di atas menunjukkan bahwa penjelesan mengenai penokohan bagi siswa tingkat sekolah menengah masih tergolong umum sehingga perlu lebih dispesifikasikan lagi.
Materi pembelajaran bahasa Indonesia mengenai penokohan dalam buku-buku penunjang juga Lembar Kegiatan Siswa (LKS) hanya menjelaskan penokohan sebagai karakter dari suatu tokoh. Materi tersebut hanya mengajarkan bagaimana cara menilai karakter tokoh melalui tindakan tokoh, tuturan tokoh lain, atau gambaran dari pengarang.
Dalam Ujian Akhir Nasional (UAN) mata pelajaran bahasa Indonesia, soal-soal mengenai penokohan selalu muncul dalam satu sampai dua butir soal, misalnya seperti soal berikut.
(1) Agaknya bahaya modern yang memusingkan untuk seorang guru desa seperti saya sudah demikian berakarnya di hati anak-anak muda kita. (2) Dan yang lebih menakutkan sudah mulai menjalar dan menyentuh anak desa, termasuk anak saya. (3) “Good morning Pak Marjuki, how are you hari ini?” tanya seseorang mengagetkanku. (4) Rasa kagetku berubah jadi takjub, bingung, dan takut. (5) Di depanku berdiri sesosok makhluk modern, mirip yang ada di sinetron televisi. (6) Aku begitu ketakutan sampai tidak bisa mengatakan sepatah kata pun. (7) Ternyata sulur-sulur akar modernisasi mulai menjalar ke tempatku mengajar. (8) Damainya hutan pinus di lereng gunung yang memagari dusun kecil ini mulai terusik oleh keganasan budaya “gaul”. (9) Bahkan, di depanku korban “gaul” seolah mau menerkamku. (10) Betapa tidak, Bu Guru Istiqomah datang dengan tampang baru, rambut yang ikal panjang hitam indah, kini berubah lurus bagai sapu ijuk karena percikan cat cokelat.
Pembuktian watak tokoh “aku” yang pencemas dalam kutipan tersebut terdapat pada kalimat nomor …
A. (1), (2), dan (8)
B. (1), (4), dan (6)
C. (2), (6), dan (7)
D. (4), (6), dan (9)
E. (4), (8), dan (10)
(UAN 2008/2009)
Pendeskripsian watak “aku” berdasarkan kutipan cerpen tersebut melalui …
A. gambaran fisik tokoh
B. ucapan tokoh lain
C. tindakan tokoh
D. dialog antar tokoh
E. uraian pengarang
(UAN 2008/2009)
Kedua soal di atas merupakan soal mengenai penokohan yang diambil dari soal-soal UAN 2008/2009. Berdasarkan pengamatan terhadap soal-soal UAN mata pelajaran Bahasa Indonesia 3 (tiga) tahun sebelumnya, peneliti mendapati soal-soal penokohan yang selalu muncul dengan bentuk soal yang hampir mirip. Soal-soal tersebut hanya menanyakan watak atau karakter tokoh berdasarkan deskripsi dari penggalan cerpen yang diberikan kemudian melalui apa watak tersebut digambarkan. Sayangnya, soal-soal ini dapat memperkuat asumsi siswa bahwa penokohan hanya sebatas deskripsi fisik semata.
Penokohan memang hanyalah merupakan satu dari sekian banyak bahasan dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia yang patut dipahami siswa untuk menghadapi UAN. Jadi, tidak terlalu aneh jika beberapa siswa kelas 3 (tiga) masih belum memahami betul bagaimana cara menentukan karakter tokoh dalam suatu penggalan cerita. Pada kesempatan terbatas, peneliti melakukan uji coba terhadap lima orang siswa kelas 3 (tiga) dalam pemahaman mengenai penokohan. Setelah diberikan 2 (dua) butir soal yang bentuk soalnya hampir mirip dengan kedua soal di atas, hanya 3 (tiga) orang yang berhasil menjawab kedua soal dengan benar. Sisanya hanya menjawab salah satunya dengan benar. Meskipun ini tidak menjamin tingkat pemahaman siswa terhadap penokohan secara keseluruhan, namun uji coba kecil ini bisa dijadikan landasan bahwa pembelajaran mengenai penokohan pada sekolah tingkat menengah memang masih perlu dibenahi.
Menilai karakter satu tokoh dalam dunia cerpen sama susahnya dengan menilai seseorang dalam dunia nyata. Penilaian tidak bisa dilakukan di area permukaan yang terlihat saja tetapi juga secara mendalam agar tidak terjadi salah interpretasi terhadap sang tokoh. Sayangnya, kebanyakan penelitian sebelumnya tentang penokohan hanya bergelut pada tokoh dilihat dari apa yang ia katakan dan apa yang ia lakukan dalam cerita. Deskripsi tentang tokoh dalam beberapa penelitian masih terikat pada deskripsi yang digambarkan pengarangnya saja. Sehingga penelitian tersebut menjadi penelitian yang masih perlu analisis ulang karena hasil penelitian tersebut sudah diketahui oleh pembaca awam yang sudah memahami lebih dulu tanpa harus melakukan penelitian. Penelitian mengenai penokohan seharusnya adalah penelitian yang dilakukan secara mendalam sehingga mampu membuka karakter-karakter tokoh yang masih tersembunyi.
Analisis penokohan merupakan penelitian yang sudah banyak dilakukan sebelumnya. Beberapa penelitian masih konsisten menggunakan novel sebagai objek penelitian, seperti penelitian yang pernah dilakukan oleh Rusmila dalam skripsinya yang berjudul Analisis Penokohan Novel ‘Tumini Perawan Ondeneming’ Karya Karmaputra (2001). Analisis penokohan dalam cerpen masih sangat sedikit jika dibandingkan dengan analis penokohan novel. Namun hal itu tidak berarti membuat penelitian penokohan terhadap kumpulan cerpen tidak ada sama sekali. Penelitian seperti ini pernah dilakukan oleh Darmiadi dalam skripsinya yang berjudul Tokoh-tokoh Wanita Idaman dalam Cerpen-Cerpen Majalah Wanita Kartini (2003).
Pada penelitian-penelitian penokohan sebelumnya, sebagian besar peneliti lebih memilih novel sebagai objek penelitian. Novel memberikan keleluasaan dalam penggambaran tokohnya sehingga pembaca serasa bisa langsung mengenali siapa sang tokoh. Sayangnya, hal inilah yang menjebak beberapa penelitian penokohan terdahulu sehingga perwatakan yang digambarkan di dalam penelitian tersebut tidak jauh berbeda dengan perwatakan yang sudah dijelaskan di dalam novel. Karena itulah, penelitian kali ini berupaya untuk terlepas dari ikatan deskripsi penokohan yang hanya terbatas pada apa yang diberikan oleh novel. Penggunaan cerpen sebagai objek penelitian juga dimaksudkan sebagai pembuktian bahwa dengan deskripsi tokoh yang terbilang terbatas, pembaca mampu menggali lebih dalam tentang siapa sang tokoh sebenarnya.
Ripin: Cerpen Kompas Pilihan 2005-2006 adalah satu dari ratusan buku kumpulan cerpen yang telah terbit. Akan tetapi buku ini memiliki kelebihan tersendiri yakni cara pemilihan cerpen yang berbeda dari buku-buku pendahulunya. Jika biasanya cerpen-cerpen yang akan diterbitkan menjadi buku itu dipilih oleh sejumlah anggota Redaksi Kompas, maka kali ini proses pemilihan diserahkan sepenuhnya pada pihak luar yakni Prof. Dr. Bambang Sugiharto dan Nirwan Dewanto. Suryopratmo, Pemimpin Redaksi Harian Kompas, menganggap kedua nama ini memiliki kompetensi yang bagus dalam memilih cerpen.
Dengan menempatkan dua tokoh tersebut untuk menyelia cerpen-cerpen Kompas yang terbit selama dua tahun yakni sepanjang tahun 2005 dan 2006, kami mengharap adanya kemungkinan-kemungkinan baru berikut kriteria-kriteria artistik yang lain, yang boleh jadi berbeda andai itu dilakukan oleh Redaksi Kompas (Pambudy, 2007: 9).
Perubahan metode pemilihan membawa warna baru pada buku kumpulan cerpen ini. Sehingga cerpen-cerpen yang dipilih dalam Ripin: Cerpen Kompas Pilihan 2005-2006 ini dinilai lebih unik dan unggul dibandingkan dengan yang lain. Perbedaan yang dibawa pada objek penelitian ini diharapkan bisa membuat penelitian penokohan kali ini juga berbeda dari pada penelitian-penelitian sebelumnya.
Tokoh-tokoh yang dihidupkan setiap cerpen dalam Ripin: Cerpen Kompas Pilihan 2005-2006 memiliki karakter yang khas dan samar. Penggambaran secara langsung tidak terlalu banyak muncul, bahkan ada beberapa cerpen yang tidak menggunakan jenis penggambaran ini sama sekali. Sehingga, untuk mengetahui jati diri tokoh sebenarnya diperlukan adanya penghubungan antara tokoh dengan semua unsur intrinsik dan informasi yang dimunculkan pada cerpen tersebut.
Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti memilih Ripin : Cerpen Kompas Pilihan 2005-2006 sebagai objek penelitian. Oleh karena itu, penelitian ini diberi judul Analisis Penokohan Kumpulan Cerpen Ripin : Cerpen Kompas Pilihan 2005-2006.
Masalah
Kecenderungan penokohan yang dikaitkan dengan deskripsi fisik tokoh membuat analisis penokohan menjadi dangkal. Hal ini terkait pula dengan pengenalan pembelajaran penokohan pada sekolah tingkat menengah yang juga hanya memberikan gambaran penokohan sebatas deskripsi fisik semata. Akibatnya, kedangkalan pemahaman tersebut terus ada dalam diri siswa dan tidak berkembang. Munculnya soal penokohan dalam Ujian Akhir Nasional pun memperkuat pemahaman terhadap deskripsi fisik atau deskripsi yang diberikan pengarang adalah sebagai penokohan atau perwatakan. Buku-buku penunjang yang merupakan pegangan siswa sekolah tingkat menengah masih belum memberikan pemaparan yang jelas mengenai penokohan. Penjelasan mengenai penokohan masih terlalu umum dan sedikit. Hal ini akan mendasari munculnya kerancuan dan keraguan terhadap apa yang dimaksud dengan penokohan dan bagaimana menganalisis penokohan sebenarnya karena dari awal pengenalan, pemahaman penokohan yang diberikan masih belum tepat.
Pengetahuan yang minim mengenai penokohan membuat pemahaman terhadap karakter suatu tokoh pun menjadi tidak maksimal. Keterbatasan pengetahuan tersebut hanya akan membuat penilaian terhadap suatu tokoh dalam karya sastra hanya terjadi pada tahap permukaan saja. Hal ini tidak hanya akan menggangu unsur penokohan saja, tetapi juga keseluruhan dari cerita.
Berdasakan latar belakang di atas, maka masalah yang dikaji adalah penokohan dalam kumpulan cerpen Ripin: Cerpen Kompas Pilihan 2005-2006.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan masalah di atas, peneliti merumuskan masalah penelitian yakni sebagai berikut:
1) Bagaimana perwatakan tokoh dalam kumpulan cerpen Ripin: Cerpen Kompas Pilihan 2005-2006?
2) Bagaimana jenis-jenis tokoh dalam kumpulan cerpen Ripin: Cerpen Kompas Pilihan 2005-2006?
3) Bagaimana teknik-teknik penokohan dalam kumpulan cerpen Ripin: Cerpen Kompas Pilihan 2005-2006?
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan watak tokoh; jenis-jenis tokoh; dan teknik-teknik pelukisan tokoh dalam kumpulan cerpen Ripin: Cerpen Kompas Pilihan 2005-2006 agar penggambaran dan penilaian terhadap tokoh tidak hanya sebatas pada deskripsi fisik semata.
Manfaat Penelitian
Manfaat Teoritis
Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, penokohan merupakan salah satu pokok bahasan wajib bagi siswa tingkat menengah. Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk memperdalam pemahaman tentang pembelajaran mengenai penokohan sebelumnya. Penelitian ini juga berkaitan dengan masih kurangnya penjelasan unsur intrinsik penokohan pada buku-buku ajar sekolah tingkat menengah. Oleh karena itu penelitian ini diharapkan mampu memberikan penjelasan dan jawaban atas pertanyaan mengenai penokohan, sehingga pembelajaran penokohan tidak disinonimkan dengan deskripsi fisik tokoh semata.
Manfaat Praktis
Berdasarkan tujuan penelitian di atas, maka penelitian ini diharapkan dapat:
1) Dijadikan salah satu rujukan sebagai bahan referensi yang berhubungan dengan penelitian serupa.
2) Dijadikan sebagai penelitian evaluasi dari penelitian-penelitian sebelumnya.
3) Memberikan dorongan untuk gemar membaca karya sastra terutama cerpen.
Share
Tweet
Pin
Share
3 komentar

This story is begin when I found a novel in a Gramedia bookshelf. As someone who really like wasting time with a book, I falling in love at the firstsight with Twilight. Actually, story about vampire attracted me since I sat in junior high school. So, when I knew Twilight is about vampire, I immedietly bought for it. I just spend two days to finished it. And for the second time, I falling in love again with one of the Twilight’s characters, Edward Cullen.

Since I knew about ‘love’, I always hope that I can get a perfect man who really love me too. I have a list what the perfect man is. And all of that, I found in Edward. Edward is a Vampire, a vegetarian vampire, who didn’t want to drink human blood. He is smart, kind, handsome, cool, rich, strong, speed, romantic and 17 years forever. He is an attractive immortal creatures who can made me pray to get someone like him for whole my life although he is a vampire. But it is not just stop at all. He still have many things that many of man didn’t have or give. There is love, attention, understanding, respect, and feeling safe. What a perfect man!

Obviously, finding someone like Edward is a difficult job for a girl. A man who can talk and think not only with his brain but his heart too. A man who can completely love with woman without make an affair with anything. Generally, man give the second direction for his girl in his heart. The first place was taken by his favorite thing, like motorcycle, car, handphone, playstation, or labtop. Girl cannot disturd man’s world, their first love is their gadget. That’s an opinion that life around me. It can become worst if they made an affair with other girls. Sometime, they really good as a heart-breaker. Fortunately, it didn’t happen with Edward. His first and final love is Bella, just bella and nobody or thing can exchange with Bella position. That’s the best point of Edward. That’s the reason why girls, include me, love him so much.

Apparently, Not only me that crazy about Twilight and Edward, but almost entire the world. It made Summit Entertaintment interested to transform it into a film with the same name, Twilight. To found someone who can be an ‘Edward’, Summit opened the casting. There was 3000 talent who enrolled and Robert Pattinson is the one who made Catherine Hardwicke, the film director, directly said, ”yes, he’s the one”.

Robert Pattinson was born on May, 13 1986 with brown hair and blue-grey eyes. Although he got many of scornful because he played Twilight as Edward, Rob never give up to try. And now, everybody know that only him who suitable with Edward. The director said that he could bring Edward to be real figure. And all of Twilight’s fans agree with her. His appearance who always cool and a little bit fierce really fit with Edward’s character. Bur Rob isn’t Edward. Even He could play it’s character with really good, Rob is still not Edward. Edward is too perfect to life in the real world. He is a dream for all of girls because he have everything that girls needed, dreamed. I think it’s happen because the writer is a woman. Stephenie Meyer made a character who can answer every girls question, a perfect man. She made Edward always know about how to make a girl happy, know how to understand about girls feeling, and always respect with them. But, Rob just a man, still not Edward. He was perfect in the movie, but it can’t give a guarantee that he is a perfect man in the reality.

Edward became icon in my brain to find someone. But I know, it is impossible to found a perfect man for me because I’m not perfect too. I just keep trying to seek my soulmate that really close like Edward. So far, I’m not find ‘him’ yet. The final answer I’ll give for God, but I never stop to pray for the best man that will take my heart and everything that I have.

Share
Tweet
Pin
Share
3 komentar
Newer Posts
Older Posts

AUTHOR

AUTHOR
TWILIGHT HUNTER, AN AUTHOR & AN ORDINARY ACOUSTIC PERFORMER WHO'S CRAVING FOR BEAUTY PICTURES

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • pinterest
  • google+
  • instagram
  • bloglovin

Labels

  • BOOK
  • CATATAN KULIAH
  • CHICKEN SOUP
  • CONTEST
  • FASHION
  • MOVIE
  • MUSIC
  • REVIEW
  • TES POTENSI AKADEMIK
  • TRAVEL STORY
  • VAMPIRE ACADEMY

Total Pageviews

Powered by Blogger.
Facebook Twitter Instagram Pinterest Bloglovin

Created with by BeautyTemplates