Blood Promise ~ Bahasa Indonesia (Chapter 3)

Thursday, April 7, 2011 0 komentar
"T UNGGU – APA?” AKU BERSERU.
Bukan itu rencananya. Itu bahkan tidak termasuk dalam rencana sama sekali. Aku telah mencoba pindah melalui Rusia dengan setersembunyi yang aku bisa. Ditambah lagi, aku benar-benar tidak nyaman dengan pemikiran tentang memiliki seorang teman seperjalanan – khususnya karena dia muncul dengan perasaan benci padaku. Aku tidak tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke Siberia – beberapa hari, kurasa – dan aku tidak bisa membayangkan menghabiskan waktu-waktu itu dengan mendengarkan Sydney yang membicarakan tentang betapa tidak alami dan jahatnya diriku.

Menelan sikapku yang bisa menyakiti hati orang lain, aku menunjukkan alasan. Paling tidak, akulah yang meminta tolong disini.
“Itu tidak perlu,” kataku, memaksakan bibirku tersenyum. “Tawaranmu sangat menyenangkan, tapi aku tidak ingin merepotkanmu.”

“Sebenarnya,” jawabnya kering, “tidak bisa seperti itu. Dan bukannya aku ingin terlihat baik. Hal itu bahkan bukan pilihanku. Itu adalah perintah dari atasanku.”

“Terdengar akan menyulitkanmu. Mengapa kau tidak mengatakannya saja padaku dimana letaknya, dan melupakannya saja setelah itu?”

“Kau jelas tidak kenal kepada siapa aku bekerja.”

“Tidak butuh. Aku menolak kekuasaan selama ini. Tidak sulit ketika kau mencobanya sesekali.”

“Ya? Bagaiamana hal itu bekerja padamu ketika kau ingin menemukan desa itu?” tanyanya mengejek. “Dengar, jika kau ingin kesana, hanya ini satu-satunya jalan.”

Baiklah – itulah jalan satu-satunya untuk pergi kesana yaitu menggunakan Sydney sebagai sumber informasiku. Aku bisa saja kembali untuk mengamati Nightingale ... tapi itu akan membutuhkan waktu lama untuk bisa mendapatkan pencapaian seperti ini. Lagi pula, dia ada disini, di hadapanku dengan informasi yang aku butuhkan.

“Mengapa?” tanyaku. “Mengapa kau ingin pergi bersamaku?”

“Aku tidak bisa mengatakan alasannya mengapa. Digaris bawahi : Mereka yang menyuruhku seperti itu.”

Manis sekali. Aku menatapnya, mencoba menebak apa yang sedang terjadi disini. Mengapa bisa siapapun – membiarkan manusia sendirian dengan tangan mereka di dunia Moroi – peduli kemana satu orang vampir remaja pergi? Aku tidak merasa kalau Sydney memiliki motif tersembunyi – kecuali jika dia adalah artis yang sangat sangat bagus. Jelas sekali orang-orang yang dimaksudkan Sydney memiliki rencana, dan aku tidak suka dipermainkan dalam rencana orang lain. Disaat yang sama, aku cemas dengan keterlibatan ini. Setiap hari yang kulalui hanyalah hari-hari dimana aku tidak menemukan Dimitri.

“Seberapa cepat kita bisa berangkat?” aku bertanya akhirnya. Sydney, menurutku, adalah pegawai administrasi.

Dia menunjukkan ketidakahlian dalam hal mengikutiku. Tentu saja tidak akan menjadi sesusah itu untuk menyingkirkannya ketika kami sudah cukup dekat dengan kota kelahiran Dimitri. Dia terlihat kecewa dengan responku, hampir terlihat kalau dia berharap aku akan menolak dan kemudian ia akan terlepas dari permasalahan ini. Dia lebih tidak ingin ikut daripada aku. Ia membuka dompetnya dan mengambil handphonenya lagi, mengutak-atiknya selama beberapa menit, dan akhirnya menghasilkan jadwal kereta. Dia menunjukkanku jadwal untuk hari esok.
“Apa kau mengerti dimana tempatnya?”

Aku mempelajari layar itu dan mengangguk. “Aku tahu dimana stasiun itu. Aku bisa kesana.”

“Ok.” Dia berdiri dan meletakkan beberapa uang tunai di atas meja. “Aku tunggu kau besok.” Dia mulai berjalan pergi dan kemudian melirik kembali ke arahku. “Oh, dan kau bisa ambil sisa kentang gorengku.”

Pertama kali aku datang ke Rusia, aku tinggal di asrama putri. Aku tentu saja punya uang untuk tinggal dimana pun, tapi aku ingin tetap berada di luar perhatian. Disamping itu, kemewahan bukanlah hal pertama yang terlintas dalam pikiranku. Ketika aku mulai pergi ke Nightingale, aku menemukan kalau susah bagiku untuk kembali ke asrama yang dipenuhi oleh siswa penjelajah ketika aku mengenakan gaun mahal. Jadi aku tinggal di hotel mewah sekarang, lengkap dengan laki-laki yang selalu membukakan pintu dan Lobi berlantaikan pualam. Lobi itu sangat besar sampai aku berpikir kalau seluruh asrama bisa masuk ke dalamnya. Mungkin dua asrama. Kamarku besar dan berlebihan juga, aku sangat bersyukur bisa segera sampai di kamarku dan melepaskan sepatu hak tinggi dan gaunku. Dengan sedikit penyesalan dan kepedihan, aku sadar kalau aku harus meninggalkan gaun-gaunku yang kubeli di Saint Petersburg. Aku ingin meringankan beban bawaanku ketika aku harus mengelilingi negara ini, dan meskipun tasku besar, hanya ada beberapa bawaan yang bisa kubawa. Oh baiklah. Gaun-gaun itu akan menjadi kebahagian bagian wanita yang membersihkan kamarku, aku tidak meragukannya. Ornamen yang akan kubawa dan kubutuhkan hanyalah nazarku, anting-anting yang terlihat seperti mata berwarna biru. Ini adalah pemberian ibuku, yang juga merupakan pemberian ayahku. Aku selalu mengalungkannya di leherku.

Kereta kami ke Moskow akan berangkat pagi-pagi sekali, dan kemudian kami akan menaiki kereta yang akan melintasi negara ke Siberia. Aku ingin beristirahat yang cukup dan siap untuk segala hal. Sekali aku mengenakan piamaku, aku meringkuk di bawah selimut berat di ranjangku dan berharap aku akan segera tidur. Bukannya tidur, pikiranku malah berputar dengan semua yang baru saja terjadi. Kondisi Sydney adalah sesuatu yang ganjil namun masih bisa kutangani. Selama kami terjebak di dalam transportasi umum, dia bisa menuntunku ke arah cengkraman pemimpin misteriusnya. Dan dari apa yang ia katakan mengenai jadwal perjalanan, sepertinya hanya akan membutuhkan waktu dua hari saja untuk mencapai desa itu. Dua hari bisa jadi lama atau sebentar.

Maksudku aku bisa berhadapan dengan Dimitri dalam waktu beberapa hari lagi ... dan kemudian apa? Bisakah aku melakukannya? Bisakah aku mmembawa diriku untuk membunuhnya? Dan meskinpun aku sudah memutuskan untuk melakukannya, sudahkan aku memiliki kemampuan untuk melawannya? Pertanyaan yang sama yang kutanyakan pada diriku sendiri selama dua minggu terakhir ini terus dan terus menggangguku. Dimitri mengajari semua yang aku tahu, dan dengan gerak refleksnya yang tinggi sebagai seorang Strigoi, dia mungkin benar-benar akan menjadi dewa seperti yang selalu kukatakan ketika aku bercanda dengannya. Kematian adalah kemungkinan paling nyata bagiku.
Tapi khawatir pun tidak akan menolong sekarang, melihat ke jam dinding di kamar, aku mengetahui kalau aku masih bangun dalam posisi terbaring ini hampir selama satu jam. Itu tidak baik. Aku butuh dalam kondisi puncak. Jadi aku melakukan sesuatu yang aku ketahui tidak baik untuk kulakukan, tapi selalu bekerja untuk membuat pikiranku keluar dari kekhawatiranku - sebagian besar dikarenakan aku memasuki pikiran orang lain.

Masuk ke dalam kepala Lissa hanya membutuhkan sedikit konsentrasi dalam bagianku. Aku tidak tahu jika aku bisa melakukannya ketika kami terpisah sangat jauh, tapi aku menemukan kalau prosesnya tidak berbeda dari apa yang kulakukan ketika aku masih berada di sampingnya.
Masih pagi buta di Montana, dan Lissa tidak punya kelas hari ini mengingat ini hari Sabtu. Sepanjang waktuku dulu, aku bekerja sangat keras untuk membentuk dinding tidak terlihat diantara kami, hampir menghalangi pikiran dan perasaanya keluar. Sekarang, berada di dalam dirinya, semua rintangan menurun, dan emosinya menubrukku seperti gelombang pasang. Dia sedang marah. Sangat marah.

“Mengapa dia berpikir kalau dengan hanya menggerakkan jarinya saja, dia bisa membuatku pergi kemanapun dia inginkan, kapanpun dia inginkan?” Lissa mengeram.

“Karena dia sang ratu. Dan karena kau sudah membuat perjanjian dengan setan.” Lissa dan pacarnya, Christian, sedang bersantai dia loteng kapel sekolah. Segera setelah aku mengenali situasinya, aku hampir menarik diriku keluar dari kepalanya. Mereka berdua memiliki banyak cara untuk membuat acara ‘romantis’ disini, dan aku tidak ingin berada di sekitar mereka ketika pakaian segera di renggut terlepas. Untungnya – atau mungkin tidak – rasa kesal Lissa mengatakan padaku kalau tidak ada seks hari ini, tidak dengan suasana hatinya yang jelek.

Sebenarnya terlihat ironis. Peran mereka berdua bertukar. Lissa yang sedang marah dan Christian berperan tenang dan menyejukkan, mencoba untuk tampil kalem demi kebaikan Lissa. Dia duduk di lantai, bersandar ke dinding, ketika Lissa duduk di depannya, kakinya membuka dan tangannya memeluk Lissa. Lissa membaringkan kepalanyanya ke dada Christian dan menarik nafas panjang.
“Selama beberapa minggu terakhir, aku sudah melakukan apapun yang ia minta! ‘Vasilisa, tolong tunjukkan tamu bangsawan idiot berkeliling kampus.’ ‘Vasilisa, tolong melompatlah ke dalam pesawat di akhir minggu jadi aku bisa memperkenalkanmu pada beberapa petugas resmi membosankan di istana.’ ‘Vasilisa, tolong masukan para siswa muda ke dalam pekerjaan sukarelawan. Itu akan terlihat bagus.’” Mengesampingkan rasa frustasi Lissa, aku tidak bisa menolak sedikit hiburan yang kulihat ini. Dia bisa menirukan suara Ratu Tatiana dengan sempurna.

“Kau melakukan yang terakhir dengan ikhlas,” Cristian mengingatkan.
“Ya ... mengingatkan untuk menjadi ikhlas. Aku membencinya yang mencoba memerintah setiap bagian dalam hidupku sekarang.”

Christian mencondongkan kepalanya dan mencium pipi Lissa. “Seperti kataku tadi, kau membuat perjanjian dengan setan. Kau kekasihnya sekarang. Dia ingin memastikan kalau kau membuatnya terlihat baik.”

Lissa cemberut. Meskipun kaum Moroi hidup di tengah-tengah kota manusia dan merupakan pekerja dalam pemerintahan manusia itu sendiri, mereka juga diatur oleh raja atau ratu yang dipilih dari dua belas keluarga bangsawan Moroi. Ratu Tatiana – seorang Ivashkov – merupakan pemimpin sekarang, dan dia memiliki minat yang khusus kepada Lissa yang merupakan keturunan terakhir dari keluarga Dragomir. Oleh karena itu, Tatiana membuat kesepakatan dengan Lissa. Jika Lissa tinggal di istana setelah lulus dari Akademi St. Vladimir, ratu akan mengatur agar ia bisa masuk di Universitas Lehigh di Pennysylvania. Lissa sangat cerdas dan pemikiran untuk tinggal di rumah Tatiana akan sangat adil jika ditukar dengan universitas yang lebih besar, lebih berkelas, dan merupakan kebalikan dari pilihan kaum Moroi lain untuk pergi ke universitas yang lebih kecil (untuk alasan keamanan).

Seperti yang Lissa ketahui, syarat itu terikat dengan kesepakatan yang sudah ia buat.
“Dan aku hanya duduk dan terima saja,” kata Lissa. “Aku hanya tersenyum dan berkata ‘Ya, yang mulia. Apapun yang kau inginkan, yang mulia.’”

“Kalau begtu katakan padanya kalau kesepakatan batal. Kau akan berumur 18 tahun dalam beberapa bulan lagi. Bangsawan atau tidak, kau tidak di bawah aturan wajib lagi. Kau tidak harus pergi ke sekolah yang lebih besar. Kita hanya akan pergi, kau dan aku. Pergi ke kampus manapun yang kau inginkan. Atau tidak perlu pergi sama sekali. Kita bisa kabur ke Paris atau semacamnya dan bekerja di kafe kecil. Atau menjual seni yang buruk di jalanan.”

Kata-kata itu membuat Lissa tertawa, dan dia meringkuk mendekati Christian.
“Benar. Aku sudah bisa melihat dengan jelas betapa sabarnya kau menunggui pelanggan. Kau akan dipecat di hari pertama kau bekerja. Lihat, sepertinya jalan satu-satunya untuk kita bertahann hidup adalah aku pergi ke kampus dan menyokong kebutuhan kita berdua.”

“Ada jalan lain untuk pergi ke kampus, kau tahu.”

“Ya, tapi tidak satu pun dari jalan itu terdengar baik,” katanya prihatin. “Tidak mudah memang. Ini jalan satu-satunya. Aku hanya berharap aku bisa mendapatkannya dan berdiri di hadapannya sebentar lagi. Rose akan melakukannya.”

“Rose akan membuat dirinya sendiri dipenjara untuk pengkhianatan yang ia lakukan saat pertama kali ia melaksanakan apa yang Tatiana inginkan.”

Lissa tersenyum sedih. “Ya. Dia akan seperti itu.” Senyuman itu berubah menjadi nafas panjang. “Aku sangat merindukannya.”

Christian menciumnya lagi. “Aku tahu.” Ini adalah percakapan yang sering mereka lakukan, tidak satu pun yang berubah karena perasaan Lissa padaku tidak pernah memudar.

“Dia baik-baik saja, kau tahu. Dimanapun dia berada, dia baik-baik saja.”
Lissa menatap kosong ke kegelapan loteng. Satu-satunya cahaya datang dari kaca jendela mozaik yang membuat seluruh tempat di loteng terlihat seperti di dalam dongeng. Tempat itu sudah dibersihkan – oleh Dimitri dan aku sebenarnya. Baru beberapa bulan yang lalu, tapi debu dan kotak-kotak mulai bersatu lagi. Pendeta disini adalah pria yang baik tapi banyak mengoleksi tikus. Lissa tidak menyadari hal ini. Pikirannya masih terfokus padaku.

“Kuharap begitu. Kuharap aku punya satu petunjuk – petunjuk apapun – dimana dirinya berada. Aku terus berpikir jika ada suatu apa pun yang terjadi pada dirinya, jika dia – “ Lissa tidak bisa menyelesaikan pikirannya. “Aku akan tetap berpikir kalau aku bisa tahu bagaimana caranya. Kalau aku bisa merasakannya. Maksudku, aku tahu koneksi itu hanya terjadi satu arah ... itu tidak pernah berubah. Tapi aku harusnya bisa tahu jika sesuatu terjadi padanya, benarkan?”

“Aku tidak tahu,” jawab Christian. “Mungkin. Mungkin juga tidak.” Laki-laki lain mungkin akan mengatakan sesuatu yang sangat manis dan membuat wanita merasa nyaman, meyakinkan mereka dengan jawaban iya, iya, tentu saja dia tahu. Tapi ini adalah bagian alami dari diri Christian untuk bersikap jujur meski kejam. Lissa menyukai hal itu darinya. Begitu juga aku. Semua itu tidak selalu bisa membuatnya menjadi teman yang menyenangkan, tapi pada akhirnya kau akan tahu kalau dia tidak pernah membohongimu.

Lissa menghela nafas lagi. “Adrian bilang Rose baik-baik saja. Dia mengunjungi mimpinya. Aku akan memberikan apapun untuk bisa melakukan hal itu. Sihir penyembuhku semakin membaik, dan aku bisa sedikit mengenali aura sekarang. Tapi belum apapun mengenai mimpi.”

Mengetahui Lissa merindukanku ternyata menyakitiku dan hampir lebih sakit ketimbang dia menulis surat untukku. Aku tidak pernah ingin menyakitinya. Meskipun ketika aku kesal dengan perasaan kalau dia mengontrol hidupku. aku tidak pernah membencinya. Aku mencintainya seperti saudaraku sendiri dan tidak mampu mengerti dengan pikiran kalau dia menderita karena kepentinganku sekarang. Bagaimana mungkin segala sesuatu menjadi kacau diantara kami?

Dia dan Christian melanjutkan kegiatan duduk mereka dalam keheningan yang nyaman, melukis kekuatan dan cinta satu sama lain. Mereka memiliki apa yang pernah kumiliki dengan Dimitri dulu, sebuah rasa ketika kami menjadi satu dan tak terpisahkan sehingga kata-kata tak lagi dibutuhkan. Christian menjalankan jari-jarinya melalui rambut Lissa, dan berhubung aku tidak bisa melihat dengan jelas melalui kedua mata Lissa, aku bisa membayangkan bagaimana rambut yang berwarna pucat akan berkilat diterpa cahaya pelangi yang dihasilkan oleh kaca jendela mozaik. Dia menyelipkan beberapa helai rambut di belakang telinga Lissa dan kemudian merebahkan kepala Lissa ke belakang, membuat bibirnya menyentuh bibir Lissa. Ciuman itu dimulai dengan lembut dan manis dan kemudian perlahan meningkat, kehangatan menyebar dari bibirnya ke bibir Lissa.

Oo, pikirku. Ini mungkin waktunya untukku pergi. Tapi Lissa mengakhirinya sebelum aku keluar.

“Ini waktunya,” katanya dengan menyesal. “kita harus pergi.”

Mata biru-berlian Christian mengatakan hal yang sebaliknya. “Mungkin ini waktu yang tepat untuk tidak menuruti kemauan sang ratu. Kau bisa tinggal disini – merupakan jalan yang bagus untuk membentuk karaktermu.”

Lissa memelototinya dan kemudian menyampirkan sebuah ciuman di dahi Christian sebelum ia berdiri. “Bukan itu alasan yang membuat kau ingin aku tetap tinggal disini, jadi bahkan jangan coba untuk bermain denganku.

Mereka meninggalkan kapel dan Christian mengomel tentang menginginkan sesuatu yang lebih dari sekedar bermain yang berakhir dengan pelototan lagi. Mereka menuju gedung administrasi, yang tempatnya berada di jantung kampus kelas atas. Mengesampingkan warna merah pertama dari musim semi, semuanya terlihat sama seperti saat aku pergi – paling tidak tampilan luarnya. Batuan gedung menyisakan keagungan yang mengesankan. Pepohonan tua yang tinggi masih tetap mengamati disekitarnya. Namun, di dalam hati setiap staf dan siswa, ada yang telah berubah. Setiap orang membawa luka dari serangan itu. Banyak dari orang-orang kami yang terbunuh, dan ketika kelas dimulai dan berlangsung lagi, semua orang masih berduka. Lissa dan Christian sampai ke tujuan mereka: gedung administrasi. Lissa tidak tahu alasan kenapa ia dipanggil, hanya Tatiana ingin agar dia bertemu dengan beberapa pria bangsawan yang baru saja tiba di akademi. Berhubung Lissa sudah sering dipaksa untuk bertemu begitu banyak orang oleh Tatiana, Lissa tidak terlalu memikirkannya. Dia dan Christian melangkah masuk ke kantor utama, ketika mereka bertemu dengan kepala sekolah Kirova yang sedang duduk dan ngobrol dengan seorang Moroi dewasa dan seorang gadis seusia kami.

“Ah, Nona Dragomir. Disana kau ternyata.”

Aku sering mendapat masalah dengan Kirova ketika aku masih berstatuskan sebagai siswa, namun melihatnya lagi membuatku merasa bernostalgia. Mendapatkan hukuman karena memulai perkelahian di kelas terdengar lebih baik daripada berkeliaran melalui Siberia untuk menemukan Dimitri. Kirova masih memiliki tampilan serius seperti biasa, kaca mata yang sama seimbang di ujung hidungya. Pria dan gadis itu berdiri, dan Kirova menunjuk ke arah mereka.

“Ini adalah Eugene Lazar dan putrinya Avery.” Kirova kembali menatap Lissa. “ini Vasilisa Dragomir dan Christian Ozera.”

Sedikit penilaian yang seimbang terjadi setelah itu. Lazar adalah nama bangsawan, tapi itu tidak mengejutkan terlebih karena Tatiana yang mengadakan pertemuan ini. Tuan Lazar memberikan Lissa sebuah senyum pemenang ketika ia menjabat tangan nya. Dia terlihat sedikit terkejut ketika bertemu Christian, tapi senyumnya masih tetap berada di wajahnya. Tentu saja, reaksi seperti itu bukanlah hal yang aneh.

Ada dua cara untuk menjadi Strigoi: dengan pilihan atau dengan paksaan. Seorang Strigoi bisa mengubah orang lain – manusia, Moroi, atau dhampir – dengan meminum darah mereka dan kemudian meminumkan darahnya sendiri kepada mereka. Itulah yang terjadi pada Dimitri. Cara lain untuk menjadi Strigoi tergolong unik bagi kaum Moroi – dan itu terjadi karena pilihan. Moroi yang sengaja memilih untuk membunuh seseorang dengan meminum darah mereka sampai kering juga bisa berubah menjadi Strigoi. Biasanya, Moroi hanya minum sedikit darah, bukan jumlah yang bisa menyakiti manusia yang melakukannya dengan sukarela. Tapi menghisap sebanyak-banyaknya merupakan pengambilan hidup orang lain dengan paksa. Sebenarnya, itu mengubah Moroi ke sisi yang lebih gelap, menghancurkan sihir elemen mereka dan mengubah mereka menjadi mayat hidup. Itulah yang dilakukan orang tua Christian. Mereka sukarela membunuh dan menjadi Strigoi untuk mendapatkan hidup abadi. Christian tidak pernah menunjukkan hasrat untuk menjadi Strigoi, tapi semua orang berpikir seolah dia akan melakukannya. (Tidak dapat disangkal, perangainya yang buruk tidak membantu penilaian orang lain). Banyak dari kerabat dekatnya - walaupun seorang bangsawan – juga diperlakukan tidak adil dengan diajuhi pula. Namun dia dan aku sudah menjadi tim ketika membasmi sebagian besar Strigoi selama penyeranga. Kabar itu menyebar dan menaikkan reputasinya.

Kirova adalah seseorang yang tidak pernah membuang waktu dengan formalitas, jadi dia langsung pada pokok pembicaraan.

“Tuan Lazar akan menjadi kepala sekolah yang baru disini.”
Lissa masih tersenyum sopan padanya, tapi kepalanya langsung tersentak ke arah Kirova. “Apa?”

“Aku akan turun jabatan,” jelas Kirova, suaranya datar dan tanpa ekspresi yang cukup untuk menyaingi pengawal manapun. “meskipun aku masih tetap akan melayani sekolah ini sebagai seorang guru.”

“Kau akan mengajar?” Christian tidak percaya. Kirova menatapnya dingin.

“Ya, Ozera. Itulah keinginanku yang sebenarnya ketika ke sekolah ini dulu. Aku yakin jika aku mencoba dengan keras, aku bisa mengingat bagaimana cara melakukannya.”

“Tapi kenapa?” tanya Lissa. “Kau melakukan pekerjaan dengan baik.” Sebenarnya lebih atau kurang dari itu. Meskipun aku sering berdebat dengan Kirova – biasanya tentang aku yang melanggar peraturan – aku masih menghormatinya. Lissa juga.

“Aku sudah memikirkan tentang pengunduran diri selama ini,” jelas Kirova. “Sekarang terlihat sebagai waktu yang tepat untuk melakukannya, dan Tuan Lazar merupakan seseorang yang sanggup menjadi pengurus.”

Lissa sangat bagus dalam membaca seseorang. Kurasa itu merupakan bagian dari efek sihir roh, serta dengan membuat penggunanya menjadi sangat, sangat karismatik. Lissa berpikir jika Kirova sedang berbohong, dan begitu pula aku. Jika aku mampu membaca pikiran Christian, kurasa dia juga merasakan hal yang sama. Penyerangan di akademi membuat banyak orang merasa panik, bangsawan khususnya, meskipun masalah yang menimbulkan penyerangan itu sudah cukup lama diselesaikan. Aku menduga kalau tangan Tatiana sedang bekerja disini, memaksa Kirova untuk turun jabatan dan membuat bangsawan menggantikannya, dengan demikian kaum bangsawan akan merasa lebih baik.

Lissa tidak membiarkan pikirannya muncul, dan dia kembali menatap Tuan Lazar.
“Kalau begitu, senang bertemu denganmu. Saya yakin Anda akan melakukan pekerjaan dengan baik. Katakan saja bila ada yang bisa saya bantu.” Dia sedang memaikan peran putri yang terhormat dengan sempurna. Bertingkah laku sopan dan manis adalah satu dan banyak bakat yang ia miliki.

“Sebenarnya,” kata Tuan Lazar, “ada.” Dia memiliki suara berat dan cepat, seperti memenuhi ruangan. Dia menunjuk ke arah putrinya.

“Aku berharap kau bisa menemani Avery berkeliling dan membantunya menemukan jalan-jalannya. Dia telah lulus tahun lalu tapi dia akan membantuku menjalankan tugasku. Namun aku yakin dia lebih suka menghabiskan waktunya dengan seseorang yang seumuran dengannya.”

Avery tersenyum dan untuk pertama kalinya, Lissa benar-benar memperhatikannya. Avery adalah gadis yang cantik. Mempesona. Lissa juga sangat cantik, diantara rambutnya yang indah dan mata hijau giok yang ia warisi dari keluarganya. Aku rasa Lissa ratusan kali lebih cantik daripada Avery, tapi disamping gadis yang lebih tua, lissa merasa rendah diri. Avery tinggi dan ramping seperti kebanyakan Moroi yang lain, tapi ia memiliki lekukan seksi di tubuhnya. Dadanya, seperti milikku, sangat diidamkan di kalangan Moroi, dan dengan rambut cokelat panjang dan mata biru keabu-abuannya melengkapi tampilannya.

“Aku berjanji tidak akan begitu menyakitkan, kok,” kata Avery. “Dan jika kau mau, aku akan memberikan beberapa tips rahasia di dalam kehidupan istana. Kudengar kau akan pindah kesana.”

Secara spontan, pertahanan Lissa bangkit. Dia sadar apa yang sedang terjadi. Tatiana tidak hanya mendepak Kirova, dia juga mengirimkan penjaga untuk Lissa. Seorang teman sempurna dan cantik yang akan memata-matai Lissa dan berusaha untuk melatih Lissa agar sesuai dengan standar Tatiana. Kata-kata Lissa sangat sopan ketika ia berbicara dengan sempurna, tapi jelas suaranya menujukkan penolakkan yang tajam.

“Sangat bagus sekali,” katanya. “Aku sangat sibuk akhir-akhir ini, tapi kita bisa mencoba mencari waktu untuk melakukannya.”
Baik ayah Avery maupun Kirova tidak menyadari maksud kata-kata itu, tapi sesuatu tersirat dari mata Avery yang mengatakan pada Lissa kalau ia mengarti maksud perkataan Lissa.

“Terima kasih,” kata Avery. Kecuali aku salah, ada rasa sakit di wajahnya.
“Aku yakin kita akan merencanakan sesuatu bersama.”

“Bagus, bagus,” kata Tuan Lazar, jelas telah lupa dengan drama gadis-gadis. “Mungkin kau bisa menunjukkan kamar tamu kepada Avery? Dia tinggal di sayap timur.”

“Tentu,” kata Lissa, berharap dia tidak melakukan hal lain lagi. Lissa, Christian, dan Avery hendak pergi ketika dua pria memasuki ruangan. Satu adalah seorang Moroi, sedikit lebih muda daripada kami, dan yang satunya adalah dhampir berumur dua puluh tahunan – seorang pengawal, dari apa yang terlihat, tampangnya serius.

“Ah, disana kau rupanya,” kata Tuan Lazar, memberi isyarat kepada pria-pria itu untuk masuk. Dia menaruh tangannya ke bahu anak lelaki itu. “Ini anakku, Reed. Dia di kelas menengah dan akan masuk di akademi ini juga. Dia sangat bersemangat mendengar semua ini.’

Sebenarnya, Reed terlihat sangat tidak bersemangat. Dia jelas pria yang paling tidak ramah yang pernah kulihat. Jika aku pernah ingin memainkan peran sebagai remaja yang tidak puas, aku bisa belajar semuanya yang harus ku tahu dari Reed Lazar. Dia memiliki tampilan dan wajah yang tampan seperti Avery, tapi karakter mereka dirusak dengan seringaian yang terlihat permanen menempel di wajah Reed. Tuan Lazar memperkenalkan yang lain kepada Reed. Reed hanya merespon dengan sura parau, “Hai.”

“Dan ini Simon, pengawal Avery.” lanjut Tuan Lazar.

“Tentu saja ketika berada di kampus, dia tidak perlu bersama Avery sepanjang waktu. Kau tahu bagaimana situasinya. Tapi aku yakin kau akan melihatnya di sekitar kampus.”

Kuharap tidak. Dia sama sekali tidak terlihat tidak senang seperti Reed, tapi dia pasti memiliki sifat alami keras kepala yang berlebihan bahkan daripada pengawal yang lain. Mendadak aku seperti merasa kasihan kepada Avery. Jika orang itu adalah satu-satunya orang yang menemaninya, aku akan sangat menginginkan agar bisa berteman dengan seseorang seperti Lissa. Namun Lissa dengan jelas tidak ingin menjadi bagian dari rencana Tatiana. Dengan percakapan kecil, dia dan Christian menemani Avery ke kamar tamu dan kemudian segera meninggalkannya.

Normalnya, Lissa akan tetap tinggal untuk menolong Avery membereskan kamarnya dan menawarkan makan malam bersama kemudian. Tidak kali ini. Tidak dengan maksud tersembunyi yang menggemparkan. Aku kembali ke tubuhku sendiri, kembali ke hotel. Aku tahu harusnya aku tidak mempedulikan kehidupan akademi lagi dan tidak merasa kasihan kepada Avery. Namun berbaring disini dan menatap di kegelapan, aku tidak bisa tidak merasa sedikit bangga di dalamnya – dan ya, sangat egois – puas dengan pertemuan ini: Lissa tidak akan berbelanja sahabat baru dalam waktu dekat ini.


0 komentar:

Post a Comment

 

Please, Keep in Touch!

©Copyright 2011 Love Your Life | TNB