Blood Promise ~ Bahasa Indonesia (Chapter 4)

Wednesday, April 13, 2011 2 komentar
D IWAKTU YANG LAIN DALAM hidupku, aku pasti sangat senang menjelajah Moskow. Sydney sudah merencanakan perjalanan kami sehingga ketika kereta kami datang, kami memiliki beberapa jam waktu luang sebelum kami harus naik kereta berikutnya ke Siberia. Ini memberi kami kesempatan untuk berkeliling dan mencari makan malam, meskipun dia ingin memastikan kalau kami aman di dalam stasiun sebelum di luar sana menjadi gelap. Selain sifat keras kepalaku yang mengesankan dan tanda molinjaku, dia tidak memiliki alasan untuk menggangguku.

Membuatku tidak terlalu memikirkan bagaimana cara kami menghabiskan waktu senggang. Selama aku bisa semakin dekat dengan Dimitri, apapun tidak menjadi masalah. Jadi Sydney dan aku berjalan tanpa tujuan, tetap berada di jalan yang terang dan ngobrol sedikit. Aku tidak pernah ke Moskow. Ini kota yang cantik, berkembang, dan dipenuhi manusia dan perdagangan. Aku bisa menghabiskan seluruh waktu disini dengan berbelanja dan mencoba semua restoran. Tempat-tempat yang selama ini kudengar sepanjang hidupku – Kremlin, Red Square, Bolshoi Theatre – semua ada di ujung jariku. Selain betapa kerennya tempat-tempat ini, aku sebenarnya mencoba menyelaraskan pemandangan dan suara selama beberapa saat sebab itu mengingatkanku pada ... Dimitri.

Dia pernah menceritakan padaku tentang Rusia sepanjang waktu dan pernah bertaruh kalau aku akan senang berada disini.

“Bagimu, ini mungkin seperti kisah dongeng,” kata Dimitri padaku dulu. Saat sebelum kami melakukan latihan di musim gugur terakhir lalu, hanya sesaat sebelum salju pertama jatuh.

“Maaf, Komrad,” jawabku, meraih rambut belakangku untuk ku ikat ke atas. Dimitri suka melihat rambutku terurai, tapi dalam latihan bertarung? Rambut panjang jelas adalah sebuah gangguan. “Borg dan musik ketinggalan zaman bukan bagian dari akhir bahagia seperti yang pernah aku bayangkan.”

Dia memberiku satu dari senyuman lebarnya yang jarang sekali terjadi, membuat sudut matanya mengerut lembut. “Borscht, bukan borg. Dan aku tahu selera makanmu. Jika kau cukup lapar, kau akan memakannya.”

“Jadi kelaparan itu penting agar dongeng ini bisa berhasil?” Tidak ada yang bisa lebih menyenangkan bagiku daripada menggoda Dimitri. Sebenarnya, selain berciuman dengannya.

“Aku sedang membicarakan tentang negaranya. Bangunan. Pergi ke salah satu kota besar – seperti ke tempat yang belum pernah kau lihat sebelumnya. Setiap orang di Amerika berlomba membangun hal yang sama – selalu dalam ukuran besar, blok yang kokoh. Mereka melakukan hal cepat dan mudah. Tapi di Rusia, ada bangunan-bangunan yang tercipta seolah mereka merupakan bagian dari seni. Mereka memang seni – bahkan jumlahnya lebih dari normal, membangun setiap hari. Dan tempat seperti Instana Musim Dingin dan Gereja Troitsky di Saint Petersburg? Semua itu akan menghisap habis nafasmu.”

Wajahnya terlihat berseri-seri dengan kenangan dari tempat-tempat yang pernah ia lihat, kesenangan itu membuat wajahnya terlihat semakin tampan. Kupikir ia bisa menamai penanda daerah setiap hari. Jantungku terbakar di dalam diriku, hanya dengan melihatnya. Dan kemudian, sama seperti yang biasa kulakukan ketika aku khawatir berubah menjadi tolol atau penuh perasaan, aku membuat lelucon untuk mengalihkan perhatian menjauh dan menyembunyikan perasaanku. Itu akan mengembalikkannya ke pekerjaannya dan kami akan segera berlatih.

Sekarang, berjalan di jalanan kota dengan Sydney, aku berharap aku bisa kembali bercanda dan mendengarkan Dimitri terus berbicara menenai kampung halamannya. Aku akan memberikan segalanya untuk bisa bersama Dimitri disini, tempat ia pernah berada. Dia benar tentang bangunan-bangunannya. Tentu saja, sebagian besar adalah tiruan blok-blok dari apapun yang bisa kau temukan di Amerika atau di tampat lain di dunia, tapi sebagian sangat menawan – dicat dengan warna-warna terang, dipercantik dengan kubah berbentuk bawang yang aneh namun indah. Saat itu, semuanya benar-benar terlihat seperti berasal dunia lain. Dan selama itu pula, aku terus berpikir kalau seharusnya Dimitri ada di sampingku, menunjuk ke arah tempat-tempat itu dan menjelaskan mereka padaku. Kami harusnya memliki sebuah pintu gerbang romantis. Dimitri dan aku bisa makan di sebuah restoran eksotis dan kemudian berakhir di lantai dansa di malam hari. Aku bisa mengenakan satu dari gaun rancangan mewah yang sudah aku tinggalkan dia hotel Saint Petersburg. Begitulah yang seharusnya terjadi. Seharusnya tidak seperti ini, aku di tengah para manusia yang menatap marah.

“Tidak nyata, ya? Seperti sesuatu dari sebuah cerita.” Suara Sydney mengejutkanku, dan aku sadar kami sudah hampir berhenti di stasiun kereta kami. Ada banyak stasiun seperti ini di Moskow. Suara Sydney yang seperti gema dari percakapanku dengan Dimitri mendirikan bulu romaku – sebagian besar karena dia benar. Stasiun tidak memiliki kubah berbentuk bawang tapi masih terlihat seperti keluar dari buku dongeng, seperti persilangan antara kastil Cinderella dan rumah kue. Stasiun ini memiliki atap yang berbentuk lengkungan dan menara-menara di salah satu ujungnya. dindingnya yang putih diselingin dengan batu bata cokelat dan mozaik hijau, hampir membuatnya terlihat berbelang. Di Amerika, beberapa orang mungkin menganggapnya norak. Bagiku, ini begitu indah.

Aku merasa air mataku bergulir di mataku saat aku membayangkan apa yang mungkin Dimitri akan katakan tentang bangunan ini. Dia mungkin akan menggilai bangunan ini sama seperti ia menggilai semua hal lain disini. Sadar kalau Sydney sedang menunggu sebuah respon, aku menelan kembali rasa dukaku dan memainkan peran remaja yang cuek.
“Mungkin sesuatu dari sebuah cerita tentang sebuah stasiun kereta.”

Dia melengkungkang alisnya, terkejut dengan keacuhanku, tapi dia tidak mempertanyakannya. Siapa yang bisa bicara? Mungkin jika aku tetap bertingkah sarkastik, dia akhirnya marah dan meninggalkanku. Entahlah, kadang aku ragu kalau aku bisa beruntung. Aku bahkan hampir yakin kalau ketakutannya terhadap penguasanya menguasai perasaan yang lain, sehingga dia mungkin harus menghormatiku
Kami mendapatkan akomodasi kereta kelas satu, yang mana ternyata lebih kecil daripada yang aku harapkan. Ada kombinas tempat tidur-tempat duduk di setiap sisinya, sebuah jendela, dan sebuah TV yang menempel di dinding. aku berharap itu bisa menolong untuk melalui waktu, tapi aku seringkali mendapatkan masalah menonton televisi Rusia – Tidak hanya karena bahasanya tapi juga karena beberapa acara yang sungguh aneh. Masih, Sydney dan aku akan medapatkan area kami masing-masing, bahkan jika ruangannya lebih nyaman daripada yang kami inginkan.

Warnanya mengingatkanku tentang pola mewah yang sama yang pernah kulihat disepanjang kota. Meski ruangan di luar kabin kami berwarna cerah dan karpet merah dan kuning dan sebuah sulur kuning dan nyata melilit di tengah-tengahnya. Di dalam ruangan kami, bangkunya ditutupi oleh bantal beludru kecil berwarna jingga. Dan tirainya serasi dengan warna emas dan peach membuat cetakan timbul di tenagh-tengah kain dengan pola sutera. Berada diantara semua itu dan hiasan meja di tengah-tengah kabin, semuanya hampir terlihat seperti berwisata di dalam istana berukuran mini.

Hari sudah gelap ketika kereta meninggalkan stasiun. Untuk alasn apapun, kereta Lintas-Siberia selalu meninggalkan Moskow pada malam hari. Belum terlalu malam, tapi Sydney berkata kalau dia ingin tidur, dan aku tidak ingin membuatnya semakin kesal daripada sekarang. Jadi kami mematikan semua lampu dan membiarkan lampu baca kecil tetap menyala di sebelah tempat tidurku. Aku membeli majalah di stasiun kereta tadi dan bahkan jika aku tidak mengerti bahasa majalah itu, gambar kosmetik dan pakaian-pakaiannya menghilangkan semua rintangan. Aku membalikkan halaman-halamannya sepelan yang aku bisa, mengagumi atasan musim panas dan gaun-gaun dan membayangakan kapan – jika pernah – aku bisa mulai mengkhawatirkan hal-hal seperti itu lagi. Aku tidak lelah ketika aku berbaring meskipun begitu, toh aku tertidur juga.

Aku sedang bermimpi tentang ski air ketika tiba-tiba gelombang dan matahari disekelilingku memudar dan berganti dengan ruangan yang dipenuhi rak demi rak buku yang berjajar. Meja dengan komputer berbaris di ruangan dan disini ada rasa tenang yang merayapiku. Aku ada di perpustakaan di Akademi Vladimir.

Aku mengerang. “Oh, ayolah. Tidak hari ini.”

“Kenapa tidak hari ini? Kenapa tidak setiap hari?”

Aku berbalik dan menemukan diriku sendiri sedang menatap wajah tampan milik Adrian Ivashkov. Adrian adalah seorang Moroi, keponakan kesayangan sang ratu, dan seseorang yang aku tinggalkan dalam kehidupanku dulu ketika aku kabur dalam misi bunuh diri ini. Dia memiliki mata hijau-jamrud yang indah yang bisa membuat sebagian besar gadis jatuh pingsan, khususnya sejak mata itu dipasangkan dengan rambutcokelat bergaya urakan. Dia jatuh cinta padaku dan itulah alasan mengapa aku punya banyak uang dalam perjalanan ini. Aku berbicara sangat manis ketika meminta kepadanya.

“Benar,” aku mengakui. “Maksudku aku harusnya bersyukur kau hanya muncul sekali seminggu.”

Dia menyeringai dan duduk dengan kursi yang dihadapkan terbalik. Dia tinggi, seperti Moroi kebanyakan, dengan bentuk tubuh yang ramping dan berotot. Cowok Moroi tidak pernah terlalu gendut. “Tidak bertemu membuat cinta semakin berkembang di hati, Rose. apa kau tindak ingin memelukku untuk membuktikannya.”

“Kita tidak meakukan hal yang berbahaya seperti itu, jangan khawatir.”

“Aku tidak bisa berharap kalau kau akan mengatakan dimana kau sekarang kan?”

“Tidak akan.”
Selain Lissa, Adrian adalah satu-satunya pengendali sihir roh yang diketahui keberadaannya dan diantara bakatnya adalah muncul dalam mimpiku – seringkali tidak diundang – dan berbicara padaku. kekuatannya tidak pernah benar-benar bisa membiarkannya tahu dimana aku berada sekarang, dan aku menganggapnya sebagai berkah.

“Kau membunuhku, Rose,” katanya mendramatisasi. “Setiap hari sangat menyakitkan tanpa dirimu. Kosong. sendirian. Aku memikirkanmu, membayagkan apakah kau masih hidup.”
Dia membesar-besarkan kata-katanya, konyol adalah salah satu sifatnya. Adrian jarang sekali menanggapi sesuatu dengan serius dan selalu memiliki sikap cuek. Roh juga memiliki kecenderungan untuk membuat pemiliknya tidak stabil dan selama ia melawannya, ia tidak akan terpengaruh. Di bawah melodrama itu, kurasa aku merasakan setitik kebenaran dari kata-katanya. Tidak peduli seberapa dangkal tampilan yang ia tunjukkan, dia benar-benar peduli padaku.

Aku menyilangkan tanganku. “Baiklah, aku masih hidup, jelas. Jadi kurasa kau bisa membiarkanku tidur.”

“Berapakali harus kukatakan padamu? Kau sedang tidur.”

“Dan belum-belum aku sudah merasa capek bericara padamu.”

Itu membuatnya tertawa. “Oh, aku benar-benar merindukanmu.” Senyumnya mengabur. “Dia juga merindukanmu.”

aku berjengit. Dia. Dia bahkan tidak perlu mengatakannya namanya. Tidak ada pertanyaan tentang siapa yang ia maksudkan. Lissa.

Bahkan menyebutkan namanya dalam pikiranku menyakitiku, khususnya setelah melihatnya malam lalu. Memilih diantara Lissa dan Dimitri adalah pilihan terberat dalam hidupku, dan waktu-waktu yang telah kulalui tidak mempermudah semua itu. Aku mungkin memilih Dimitri, tapi berada jauh dari Lissa terasa seperti tanganku terputus, apalagi karena koneksi kami memastikan kenyataan kalau kami tidak benar-benar terpisah. Adrian memberiku tatapan cerdik seolah dia bisa menebak pikiranku.

“Apa kau menggunakan koneksi itu untuk melihatnya?”

“Tidak,” kataku, menolak mengakui kalau aku baru saja menemuinya malam kemarin. Biarkan Adrian berpikir kalau aku telah bebas dari semua itu. “Itu bukan hidupku lagi. “

“Benar. Hidupmu berkisar tentang misi-misi berbahaya yang harus dihapai dengan siap siaga.”

“Kau tidak akan mengerti apapun selain mabuk, merokok,, atau bermain perempuan.”

Dia menggelengkan kepalanya. “Kau satu-satunya yang aku inginkan, Rose.”

Sayangnya, aku mempercayainya. sangat mudah bagi kami untuk mendapatkan orang lain. “Baiklah, kau bisa tetap menjaga perasaan itu, tapi kau harus menunggu.”

“Berapa lama?”

Dia menanyaiku hal ini terus-terusan, dan setiap kali aku menegaskan berapa lama semua ini akan berlangsung dan bagaimana dia telah membuang waktunya. memikirkan kemungkinan kepemimpinan Sydney, aku ragu-ragu malam ini.

“Aku tidak tahu.”

Harapan mekar di wajah Adrian. “Itu adalah hal yang paling optimis yang pernah kau katakan padaku sejauh ini.”

“Jangan terlalu banyak berharap dari semua ini. Aku tidak tahu, mungkin bisa satu hari atau satu tahu. Atau tidak pernah.”

Seringaian jahatnya kembali muncul dan bahkan aku harus mengakui dia terlihat tampan. “Aku akan berharap kalau hanya membutuhkan satu hari.”

Memikirkan Sydney membawa sebuah pertanyaan dalam pikiranku, “ Hey, apa kau pernah dengan tentang para Alkemis?”

“Tentu,” katanya

Tipikal. “Tentu kau tahu”

“Kenapa? Apa kau berlari ke tempat mereka?”

“Sejenis itu.”

“Apa yang sudah kau lakukan?”

“Kenapa kau berpikir kalau aku telah melakukan sesuatu?”

Dia tertawa. “Alkemis hanya muncul ketika masalah terjadi, dan kau membawa masalah kemanapun kau pergi. Berhati-hatilah. Mereka fanatik agama.”

“Terdengar ekstrim,” kataku. Kesetiaan Sydney tidak terlihat menunjukkan sesuatu yang buruk.

“Hanya saja jangan biarkan mereka membuatmu mengikuti kepercayaan mereka.” Dia mengedip. “Aku suka melihatmu penuh dosa seperti biasa.”
Aku mulai menceritakan Sydney yang mungkin berpikir kalau aku melewati ambang keselamatan, tapi ia mengakhiri mimpi ini dan mengirimku kembali tidur.

Kecuali, bukannya melanjutkan mimpiku sendiri, aku terbangun. Disekitarku, kereta berdengung indah serasi dengan kecepatan kami melewati pinggiran kota Rusia. Lampu bacaku masih hidup, cahayanya terlalu terang untuk matakku yang mengantuk. Aku meraihnya dan mematikkanya kemudian aku menyadari kalau tempat tidur Sydney kosong. Mungkin di kamar mandi, pikirku. Namun aku merasa gelisah. Dia dan kelompok Alkemisnya masih merupakan misteri dan tiba-tiba aku merasa khawatir kalau dia mungkin punya rencana jahat yang sedang berlangsung. Apakah dia sedang melakukan pertemuan dengan penghubungnya? Aku memutuskan untuk menemukannya.

Sejujurnya, aku sama sekali tidak tahu dimana bisa menemukannya di sebuah kereta sebesar ini, tapi logika tidak pernah menghalangiku sebelumnya. Tidak ada alasan bagi logika-logika itu untuk muncul sekarang. Syukurlah, setelah menyelipkan kaki-kakiku di sepatuku dan melangkah keluar koridor yang berhadapan dengan kabin kami, aku menemukan kalau aku tidak perlu terlalu jauh mencari.

Sepanjang koridor berbaris jendela-jendela, semuanya terbungkus dengan tirai mewah dan Sydney berderi dengan punggung menghadap ke arahku, menatap ksosong keluar jendela, sebuah selimut menyelimutinya. Rambutnya berantakan karena tidur tadi dan terlihat kurang bercaya di penerangan yang tidak terlalu bagus.

“Heu ... “ Aku memulai ragu-ragu. “Apa kau baik-baik saja?”

Dia perlahan membalik badannya ke arahku. Satu tangan memegang selimut; tangan yang satunya sedang bermain dengan sebuah salib yang tergantung di lehernya. Aku mengingt komentar Adrian tentang agama.

“”Aku tidak bisa tidur,” katanya terus terang.

“Apakah ... apakah itu karena aku?” Ia memutar badannya ke arah jendela sebagai satu-satunya jawabannya.

“Dengar,” kataku, merasa tidak berdaya. “Jika ada sesuatu yang bisa kulakukan ... maksudku selain kembali dan membatalkan perjalanan ini ...”

“Aku bisa mengatasinya,” katanya. “Semua ini hanya begitu asing buatku. Aku berurusan dengan jenis kalian sepanjang waktu, tapi aku tidak benar-benar punya urusan denganmu, kau tahu?”

“Kita mungkin bisa mendapatkan sebuah kamar untukmu sendiri, jika itu bisa menolong. Kita bisa menemukan seorang pelayan dan aku punya uang.”

Dia menggelengkan kepalanya. “Kita hanya perlu anya beberapa hari, jadi itu semua tidak perlu.”

Aku tidak tahu apalagi yang harus kukatakan. Memiliki teman seperjalanan seperti Sydney adalah gangguan terbesar dia skema rancangan rencanaku, tapi aku tidak ingin melihanya menderita. Melihatnya memainkan salib itu, aku mencoba berpikir mengenai sesuatu yang bisa kuucapkan untuk menenangkan hatinya. Menghubungkan cara pandang kami mengenai Tuhan mungkin adalah sebuah cara untuk bisa mendekatkan kami, tapi terkadang, aku merasa jika aku mengatakan kepadanya bagaimana setiap hari aku berdebat dengan Tuhan dan meragukah keberadaan-Nya bisa menolong menghapus imej ku sebagai makhluk setan – dari reputasi kegelapan.

“Ok,” kataku akhirnya. “Katakan padaku jika kau berubah pikiran.” Aku kembali ke tempat tidurku dan yang mengherankan, bukannya mengkhawatirkan Sydney yang berdiri di ruang tengah semalaman, aku malah jatuh tertidur dengan cepatnya. Namun, ketika aku terbangun di pagi hari, dia telah bergulung di tempat tidurnya, sangat nyenyak. Sepertinyanya, rasa lelahnya yang membuatnya tertidur lebih kuat daripada rasa takutnya padaku. Aku bangun perlahan dan mengganti kaos dan celana pendekku yang kutinggalkan di atas tempat tidur. Aku lapar dan menduga kalau Sydney akan lebih lama tidur jika aku tidak berkeliaran di sekelilingnya.

Restorannya berada di gerbong sebelah dan terlihat seperti sesuatu yang berasal dan film tua. Taplak meja berwarna burgundy elegan menutupi meja-meja, dan kuningan dalam kayu berwarna gelap, disertai sedikit warna cerah berupa mozaik dari seni gravir kaca, memberikan perasaan antik diseluruh ruangan ini. Semua ini terlihat lebih mirip dengan restoran yang kutemukan di salah satu jalan di Saint Petersburg daripada gerbong makan kereta. Aku memesan sesuatu yang samar-samar mengingatkanku pada roti prancis, kecuali karena yang ini ada keju di dalamnya. Ada sosis dalam makanan ini, yang sebenarnya selalu kutemukan selama ini kemanapun aku pergi. Aku hampir selesai makan ketika Sydney berjalan masuk. Ketika aku bertemu dengannya pertama kali, aku berpikir kalau blus dan celananya adalah kostumnya untuk ke Nightingale saja. Aku akhirnya menemukan kalau ternyata itu memang gaya sehari-harinya. Dia membuatku menjadi satu dari orang-oraang yang tidak memiliki jeans dan kaos sendiri. Dia terlihat kusut ketika berdiri di lorong malam tadi, tapi sekarang dia mengenakan celana panjang hitam rapi dan sweater berwarna hijau gelap. Aku mengenakan kemeja abu-abu lengan panjang musim panas dan merasa seperti orang bodoh disampingnya. Rambutnya tersisir rapi dan gaya tapi sedikit terlihat berantakan yang kuduga tidak dapat ditanggulangi seberapa keras pun ia mencoba. Setidaknya aku memiliki rambut yang ku ikat kuda yang licin untukku hari ini.

Di duduk di seberangku dan memesan telur dada ketika pelayan lewat dengan bahasa Rusia.

“Bagaimana kau bisa melakukannya?” tanyaku.

“Apa, Rusia?” Dia mengangkat bahu. “Aku harus mempelajarinya. Dan beberapa bahasa lain.”

“Wow.” Aku juga mengambil beberapa bahasa asing di kelas tambahan dan berujung pada kekacauan pada setiap pelajaran itu. Aku tidak pernah terlalu memikirkannya saat itu, tapi sekarang, karena perjalanan ini dan karena Dimitri, aku sungguh berharap aku bisa belajar bahasa Rusia. Kurasa belum terlambat dan aku harus belajar beberapa frasa selama aku disini, tapi tetap ... itu adalah tugas yang menakutkan.

“Kau pastinya harus belajar banyak hal untuk pekerjaan ini,” aku merenung, memikirkan apa artinya menjadi bagian dari kelompok rahasia yang melintang secara internasional dan berinterakasi dengan beberapa negara. Sesuatu yang lain melintas di pikiranku. “Dan bagaimana dengan barang-barang yang kau gunakan pada Strigoi? Yang bisa menghancurkan tubuh mereka?”

Dia tersenyum. Hampir. “Sebenarnya, aku sudah mengatakan padamu kalau para Alkemis memulai kelompok dari sekumpula manusia yang mencoba membuat racun, kan? Itu adalah bahan kimia yang kami temukan untuk menyingkirkan tubuh Strigoi dengan cepat.”

“Bisakah ini digunakan untuk membunuh Strigoi?” tanyaku. Menyiram Strigoi dengan cairan penghancur akan lebih mudah daripada cara biasa: memenggal kepala, mnghujam jantung mereka, atau membakar.

“Kurasa tidak. Hanya bekerja pada mayatnya saja.”


“Sial,” kataku. Aku berandai-andai jika dia memiliki racun itu di pergelangan tangannya tapi aku memutuskan kalau jumlah perttanyaanku pada Sydney sudah cukup unutk hari ini. “Apa yang akan kita lakukan setelah kita sampai di Omsh?”

“Omsk,” dia mengoreksi. “Kita akan mendapatkan sebuah mobil dan menyetri sepanjang sisa perjalanan.”

“Apa kau pernah kesana? Ke desa itu?”

Dia mengangguk. “Sekali.”

“Seperti apa kelihatnnya?” tanyaku, terkejut mendengar nada sayu yang keluar dari suaraku sendiri.

Mengesampingkan pencarianku untuk menemukan Dimitri, ada sebuah bagian dari dalam diriku hanya ingin lebih dekat dengan segala sesuatu tentangnya. Aku ingin tahu semua hal tentang dirinya yang belum aku ketahui sebelumnya. Jika sekolah memberikanku izin untuk menyentuh barang miliknya, aku akan tidur dengan mereka setiap malam. Kamarnya dibersihkan dengan sangat cepat. Sekarang aku hanya bisa mengumpulkan bagian-bagian dirinya, meskipun harus menimbun informasi sedikit demi sedikit yang entah bagaiman bisa membuatku merasakan keberadannya.

“Terlihat seperti kota dhampir yang lain, kurasa.”

“Aku tidak pernah mengunjungi satupun dari kota-kota itu.”

Pelayan meletakkan telur dadar Sdney di mejanya dan dia berhenti sejenak dengan garpunya yang mengambang di udara.
“Benarkah? Kupikir kalian semua .... sebenarnya, aku tidak tahu.”

Aku mengangguk. “Aku berada di akademi hampir di sepanjang hidupku. Banyak atau sedikit.” Pelarian dua tahunku di dunia manusia tidak termasuk hitungan.

Sydney menguyah perlahan. Aku dengan senang hati bertaruh ia tidak akan bisa menghabiskan telur dadar itu. Dari apa yang aku lihat di malam pertama dan ketika kami menunggu kereta kemarin, dia hampir tidak terlihat makan apapun. Seolah dia bertahan hidup dari udara saja. Mungkin ini hal-hal yang berkaitan dengan Alkemis. Sepertinya lebih banyak karena itu hal yang berkaitan dengan Sydney.

“Kota itu dipenuhi oleh separuh manusia dan separuh dhampir, tapi para dhampir membaur. Mereka memiliki kelompok bawah tanah yang ptidak disadari oleh para manusia.”

Aku selalu membayangkan bagaimana seluruh cabang kebudayaan berjalan, tapi aku tidak tahu bagaimana hal tersebut bisa cocok dengan kodisi kota.

“Dan?” tanyaku. “Seperti apa cabang kebudayaannya?”

Dia meletakkan garpunya. “Bisa dikatakan kau lebih baik mengokohkan dirimu sendiri.”

2 comments:

 

Please, Keep in Touch!

©Copyright 2011 Love Your Life | TNB