Blood Promise ~ Bahasa Indonesia (Chapter 5)

Tuesday, May 24, 2011 2 komentar
S ISA PERJALANAN dilalui tanpa ada kejadian berarti. Sydney sama sekali tidak pernah kehilangan rasa ketidaknyamanan yang ia perlihatkan ketika berada di sekitarku, tapi terkadang, saat aku mencoba memahami televisi Rusia, dia meluangkan waktu untuk menjelaskan padaku apa yang sedang disiarkan. Ada beberapa perbedaan budaya antara pertunjukkan ini dengan acara yang biasa kami berdua kenal selama ini, jadi kami punya kesamaan dalam hal ini. Sesekali, dia memperlihatkan senyuman untuk sesuatu yang kami rasa lucu, dan aku merasakan ada seseorang dalam diri Sydney yang mungkin bisa menjadi sangat ramah untuk dijadikan sebagai teman. Aku tahu tidak mungkin aku bisa mencari pengganti Lissa, tapi kupikir beberapa bagian dalam diriku masih terisi kekosongan dalam hubungan persahabatan yang terbuka ketika aku meninggalkan Lissa.

Sydney tidur siang sepanjang hari, dan aku mulai berpikir kalau dia hanya mengalami insomnia dengan pola tidur yang ajaib. Dia juga masih melakukan perlakuan aneh terhadap hidangannya, selalu berat hati menyentuh makanannya sendiri. Dia selalu membiarkanku mengambil makanannya yang selalu lebih baginya dan sedikit petualangan dengan hidangan Rusia. Aku harus melakukan percobaan saat aku pertama kali datang kesini dan rasanya menyenangkan memiliki panduan dari seseorang yang - meskipun bukan orang lokal daerah ini - tahu lebih banyak mengenai negara ini lebih dari aku.
Pada hari ketiga dalam perjalanan kami, kami sampai di Omsk. Omsk adalah kota yang lebih besar dan indah daripada yang aku bayangkan selama ini tentang Siberia. Dimitri selalu menggodaku yang membayangkan Siberia seperti Antartika, ia mengatakan kalau semua itu salah dan aku bisa bilang sekarang kalau ia benar - paling tidak itu yang terlihat sejauh ini pada bagian selatan dari daerah ini. Cuacanya tidak terlalu berbeda dengan cuaca yang pernah kurasakan di Montana baru-baru ini, udara musim semi yang sejuk kadang-kadang dihangatkan oleh matahari.

Sydney mengatakan padaku ketika kami sampai disana, dia telah mendapatkan tumpangan dari Moroi yang ia kenal. beberapa tinggal di kota, berbaur dengan populasi yang padat. Namun sebelum hari dimulai, kami menemukan sebuah masalah. Tidak ada Moroi yang mau mengantar kami ke desa. Rupanya, jalannya berbahaya. Strigoi sering berkeliaran di sekitar daerah itu ketika malam, berharap menangkap Moroi atau dhampir. Semakin banyak Sydeny menjelaskan semua ini, semakin aku khawatir terhadap rencanaku. Sepertinya, tidak terlalu banyak Strigoi di kampung halaman Dimitri. Menurut Sydney, mereka bersembunyi di pinggirang batas kota, tapi beberapa tinggal disana secara permanen. Jika itu yang terjadi sebenarnya, harapanku untuk menemukan Dimitri hancur sudah. Semuanya berubah semakin buruk seiring penjelasan Sydney mengalir menjelaskan situasi.

“Banyak sekali Strigoi yang melakukan perjalanan di kota untuk mencari mangsa, dan desa hanyalah tempat mereka singgah sementara saja,” jelas Sydney. “Jalannya terpencil, jadi beberapa Strigoi akan tinggal sebentar dan mencoba untuk mendapatkan mangsa yang mudah. Kemudian mereka pindah.”

“Di Amerika, Strigoi seringkali bersembunyi di kota-kota besar,” kataku gelisah.

“Mereka melakukan hal itu juga disini. Akan sangat mudah bagi mereka untuk mendapatkan korban tanpa diketahui.”

Ya, semua ini jelas merenggut semua rencanaku. Jika Dimitri tidak tinggal di kota ini, aku akan mendapatkan masalah serius. Aku tahu Strigoi suka kota besar, tapi entah mengapa, sebelumnya aku sangat yakin kalau Dimitri akan kembali ke tempat dimana ia dulu tumbuh.

Tapi jika Dimitri tidak ada disini ... tiba-tiba, besarnya daerah Siberia seolah menamparku. Aku sudah mempelajari Omsk bahkan bukanlah kota terbesar di daerah ini dan bahkan menemukan satu Strigoi pun disini pastilah sangat susah. Mencarinya di beberapa kota yang lebih besar? Semuanya akan menjadi sangat, sangat buruk jika firasatku selama ini ternyata salah.

Sejak bersikukuh untuk menemukan Dimitri, aku jarang memiliki saat-saat lemah dimana aku memiliki separuh keyakinan kalau aku tidak akan pernah menemukannya. Kenyataan kalau Dimitri adalah Strigoi masih saja menyiksaku. Aku juga masih dikunjungi oleh bayangan lain ... bayangan bagaimana rupa ia dulu dan kenangan dari waktu yang pernah kami habiskan bersama.

Kurasa ingatan yang berharga dan terbaikku adalah saat-saat sebelum ia berubah menjadi Strigoi. Kenangan itu merupakan satu dari saat-saat ketika aku menghisap efek jahat dari sihir roh dari Lissa. Aku menjadi lepas kendali, tidak mampu mendapatkan genggaman. Aku sangat takut menjadi seorang monster, takut kalau aku bisa membunuh diriku sendiri seperti apa yang terjadi dengan pengawal lain yang juga dicium-bayangan.

Dimitri berhasil membuatku sadar kembali, meminjamkanku kekuatannya. Aku menyadari kemudian betapa kuatnya hubungan kami, bagaimana kami bisa saling mengerti satu sama lain dengan sempurna. Aku pernah skeptis terhadap orang-orang yang menjadi belahan jiwa pada masa lalu, tapi pada saat itu, aku baru menyadari kalau itu benar. Dan dari datangnya hubungan emosi, datanglah hubungan fisik. Dimitri dan aku akhirnya menyerah pada ketertarikan kami satu sama lain. Kami telah bersumpah kalau kami tidak akan pernah melakukannya, tapi ... perasaan kami terlalu kuat. Menjauhkan diri satu sama lain berubah menjadi sesuatu yang tidak mungkin. Kami telah bercinta dan itu adalah pengalaman pertamaku. Terkadang aku merasa yakin kalau hal itu adalah kali terakhir aku melakukannya juga.

Apa yang kami lakukan terasa luar biasa dan aku tidak mampu memisahkan antara kesenangan fisik dan kesenangan emosional. Setelah itu, kami berbaring di kabin kecil selama kami memberanikan diri melakukannya, dan semua itu juga mengagumkan. Saat itu merupakan satu dari beberapa kenangan dimana aku merasa benar-benar memilikinya.

“Apa kau ingat sihir gairah milik Victor?” tanyaku, meringkuk mendekati dirinya.

Dimitri menatapku, seolah aku sudah gila. “Tentu saja.”

Victor Dashkov adalah seorang Moroi bangsawan yang sudah menjadi sahabat bagi Lissa dan keluargannya. Sedikit yang kami tahu kalau dia diam-diam mempelajari roh selama bertahun-tahun dan telah mengidentifikasi Lissa sebagai pengguna roh bahkan sebelum Lissa sendiri mengetahuinya. Dia menyiksa Lissa dengan semua permainan pikiran yang hampir membuat Lissa merasa sudah gila. Rencananya sepenuhnya memuncak saat ia menculik Lissa dan menyiksanya hingga Lissa mengobati penyakit yang akan membunuhnya.

Victor sekarang berada di penjara seumur hidup, baik untuk apa yang sudah ia lakukan terhadap Lissa maupun karena rencana pengkhianatan untuk melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan Moroi. Dia adalah satu dari beberapa orang yang mengetahui hubunganku dengan Dimitri, sesuatu yang membuatku khawatir hingga detik ini. Dia bahkan memanfaatkan hubungan kami dengan membuat sihir hasrat – sebuah kalung yang di dalamnya dimasukkan sihir bumi dan kompulsi. Sihir itu penuh dengan kekuatan yang berbahaya yang membuatku Dimitri dan aku menyerah pada insting terdasar kami. Kami berhasil menarik diri pada detik-detik terakhir, dan hingga di malam kami berada di kabin, aku percaya kalau ketertarikan kami bergabung maka akan membentuk ketertarikan fisik yang tinggi pada akhirnya.

“Aku tidak pernah sadar kalau semua ini berubah menjadi lebih baik,” aku mengatakannya setelah kami benar-benar tidur bersama. Aku merasa sedikit malu membicarakan hal ini. “Aku telah memikirkan semua ini sepanjang waktu ... apa yang terjadi diantara kita.”

Dia berpaling ke arahku, menarikku untuk menutupi tubuhnya. Kabin terasa dingin, tapi ranjangnya memiliki selimut yang hangat. Kurasa kami bisa memasang pakaian kami, tapi itu adalah hal terakhir yang ingin kulakukan. Kulit yang saling bersentuhan terasa begitu menyenangkan.

“Aku juga melakukannya.”

“Kau juga?” tanyaku kaget. “Kupikir .... entahlah. Kupikir kau sangat disiplin untuk hal itu. Kupikir kau mencoba untuk melupakannya.” Dimitri tertawa kemudian mencium leherku.

“Rose, bagaimana bisa aku melupakan saat telanjang bersama seseorang secantik dirimu? Aku terjaga selama beberapa malam, mengulang setiap detilnya. Kukatakan pada diriku sendiri kalau semua itu salah, tapi kau begitu tidak mungkin untuk dilupakan.” Bibirnya bergerak di tulang selangkaku dan tangannya mengusap pinggulku. “Kau terpatri dalam pikiranku selamanya. Tidak ada apapun, apapun di dunia ini yang bisa mengubahnya.”

Dan kenangan seperti itulah yang membuatku sulit untuk memahami pencarian ini yang mengharuskan ku untuk membunuhnya, meskipun dia adalah Strigoi. Toh, saat yang sama, justru karena hal itulah aku harus menghancurkan dirinya. Aku harus mengingatnya sebagai seorang pria yang mencintaiku dan merengkuhku di ranjang yang hangat. Aku harus ingat kalau pria itu tidak ingin berubah menjadi seorang monster.

Aku terlalu tidak senang ketika Sydney menunjukkan mobil yang baru ia beli, khususnya karena aku yang memberikan uang untuk membeli mobil itu.

“Kita akan pergi dengan benda itu?” aku berseru. “Apa benda itu bisa bergerak?” Perjalanan ini akan memakan waktu 7 jam.

Dia memberiku tatapan terkejut. “Apa kau serius? Apa kau tahu mobil apa ini? Ini Citroën 1972. Mobil ini luar biasa. Apa kau tidak mengerti betapa sulitnya mendapatkan benda ini kembali ke kota ini di zaman Soviet? Aku tidak percaya pria itu menjualnya. Dia tidak mengerti apapun.”

Aku tahu sedikit tentang zaman Soviet dan lebih sedikit lagi tentang mobil klasik, tapi Sydney menarik tudung merah mengkilapnya seolah dia sedang jatuh cinta. Siapa yang menyangka? Dia adalah penggila mobil yang aneh. Mungkin sebenarnya benda ini berharga, hanya saja aku yang tidak bisa menghargainya. Aku lebih cenderung kepada mobil sport keluaran terbaru yang mulus. Supaya adil, mobil ini tidak ada penyok atau karatan, mengesampingkan tampilannya yang kuno, mobil ini terlihat bersih dan terawat.

Jika mungkin, ekspresinya menjadi lebih tidak percaya. “Tentu saja!”

Dan memang seperti itu. Mesin hidup dengan dengung yang mantap dan dengan cepat, aku mulai mengerti dengan daya tarik mobil ini bagi Sydney. Dia ingin mengemudi dan aku mendebatnya kalau uang ku lah yang dipakai untuk membeli mobil ini. Melihat ekspresi memelas dari wajahnya, akhirnya aku memutuskan untuk tidak berdiri diantara dia dan mobil itu.

Aku senang kami segera berangkat. Hari sudah hampir senja. Jika jalan memang berbahaya seperti yang dikatakan orang-orang, kami tidak ingin berada disini ketika gelap. Sydney setuju tapi dia mengatakan kalau kami akan melalui sebagian besar perjalanan sebelum matahari terbenam dan kemudian menginap di tempat yang ia kenal. Kami akan berangkat ketujuan kami di pagi hari. Semakin cepat kami mendekati Omsk, semakin terpencil daerahnya. Sepanjang aku mempelajarinya, aku mulai mengerti mengapa Dimitri mencintai daerah ini. Tempat ini memiliki sebuah dataran hijau kerdil, nyata, yang dibawa musim semi , dan ada sesuatu yang indah sekaligus menyeramkan ketika melihat keliaran tak tersentuh dari tempat ini. Tempat ini mengingatkanku pada Montana dalam beberapa hal yang memiliki kualitas yang pasti yang hanya dimiliki oleh tempat ynag menakjubkan ini.

Aku tidak bisa berkata apa-apa selain akhirnya menggunakan ketertarikan Sydney pada mobil sebagai bahan percakapan.

“Kau tahu banyak tentang mobil?” tanyaku.

“Sedikit,” katanya. “Ayahku adalah seorang alkemis dalam keluarga kami, tapi ibuku adalah seorang mekanik.”

“Benarkah?” tanyaku, terkejut. “Sepertinya ... tidak umum.” Tentu saja, aku adalah orang yang dengan keras mendebat tentang aturan gender. berhubung hidupku didedikasikan untuk berkelahi dan membunuh, aku tidak benar-benar bisa mendapatkan pekerjaan wanita tradisional lain.

“Dia sangat pandai dan banyak mengajariku. Aku tidak keberatan melakukan hal itu untukku hidup. Tidak keberatan juga pergi kuliah.” Ada sedikit nada pahit dalam suaranya. “Kurasa ada banyak hal yang kuharap bisa aku lakukan.”

“Kenapa tidak?”

“Aku menjadi keturunan keluarga Alkemis berikutnya. Saudara perempuanku ...sebenarnya, dia lebih tua, dan biasanya anak tertua yang akan melakukan pekerjaan itu. Tapi, dia sejenis ...tidak berguna.”

“Itu sangat kasar.”

“Ya, mungkin. Tapi dia tidak bisa menangani hal ini. Ketika mengatur koleksi lip glossnya, dia tidak terhentikan. Tapi mengatur jaringan dan aksi orang-orang didalamnya? Tidak, dia tidak akan mampu melakukannya. Ayah bilang aku adalah satu-satunya yang mampu melakukan semua ini.”

“Paling tidak itu pujian.”

“Kurasa.” Sydney terlihat sangat sedih sekarang , membuatku merasa bersalah dan ingin menghiburnya.

“Jika kau bisa kuliah, apa yang ingin kau pelajari?”

“Arsitektur Yunani dan Roma.” Kuputuskan kemudian kalau berada di belakang putaran kisah itu adalah hal terbaik, sebab mungkin aku akan mengemudikan mobil di jalanan. “Benarkah?”

“Apa kau tahu tentang hal itu?”

“Um, tidak.”

“Sangat mengagumkan.” Ekspresi sedih digantikan oleh sebuah hasrat – dia terlihat terpikat sama seperti ketika dia memuja mobil tadi. Aku mengerti mengapa dia menyukai stasiun kereta.

“Kecerdikan ini diambil sebagian dari sana ...well, hanya saja tidak nyata. Jika para Alkemis tidak mau mengirimku kembali ke Amerika setelah ini, aku berharap aku bisa ditugaskan ke Yunani atau Italia.”

“Itu pasti keren.”

“Ya.” Senyumnya memudar. “Tapi tidak ada garansi kamu akan mendapatkan apa yang kamu inginkan dalam pekerjaan ini.” Dia terpuruk dalam kesunyian setelah itu dan kuputuskan sudah cukup untuk membujuknya ke dalam percakapan kecil ini. Kutinggalkan ia dengan pikirannya sendiri tentang mobil klasik dan arsitektur ketika pikiranku melayang ke dalam pikiranku sendiri. Strigoi. Kewajiban. Dimitri. Selalu Dimitri ...

Sebenarnya, Dimitri dan Lissa. Semua ini adalah undian yang selalu menambahkan rasa sakitku. Hari ini, ketika mobil klasik ini menidurkanku ke dalam sebuah kelinglungan, Lissa lah yang ingin kukunjungi, terima kasih banyak kepada Adrian yang sering mengunjungi mimpiku.

Malam di Rusia berarti pagi buta di Montana. Tentu, apalagi sekolah menjalankan jadwal malam, secara teknis matahari yang bersinar dianggap malam disana. Sudah dekat jam tidur, dan setiap orang harus segera kembali ke asrama mereka masing-masing.

Lissa bersama Adrian, berada di ruangan Adrian di rumah tamu. Adrian, seperti Avery, sudah lulus, tapi sebagai satu-satunya pengguna sihir roh yang diketahui, dia tinggal di sekolah dan bekerja bersama Lissa. Mereka menghabiskan malam yang panjang dan melelahkan mempelajari sihir berjalan di dalam mimpi dan duduk dilantai dengan saling berhadapan. Dengan menarik napas panjang, Lissa tersungkur dan berbaring, menggarukkan tangannya ke kepalanya.

“Ini sia-sia,” dia mengerang. “Aku tidak akan pernah bisa mempelajarinya.”

“Jangan pernah berpikir untuk berhenti, sepupu.” Suara Adrian sangat usil seperti biasa, tapi bisa kukatakan kalau ia lelah juga. Mereka tidak ada keterkaitan keluarga sebenarnya: panggilan 'sepupu' hanyalah sapaan bagi keluarga bangsawan yang biasa mereka gunakan.

“Aku tidak mengerti bagaimana kau bisa melakukannya.”

“Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Aku hanya memikirkannya, dan ... well, itu terjadi.” Ia menurunkan bahunya dan mengeluarkan rokok yang selalu ia bawa. “Apa kau keberatan?”

“Ya,” jawab Lissa. Aku kaget saat Adrian menyimpan rokok itu kembali. Apa-apaan ini? Dia tidak pernah bertanya padaku apakah aku keberataan atau tidak katika ia ingin merokok- yang pastinya selalu membuatku keberatan. Kenyataannya, selama ini, aku bersumpah dia melakukannya untuk membuatku kesal, dan sebenarnya tidak berarti bagiku. Adrian sudah pernah melalui segala hal ketika cowok-cowok lain mencoba untuk memikat gadis-gadis yang mereka suka dengan memilih mereka.

Dia mencoba menjelaskan prosesnya. “Aku hanya memikirkan siapa yang aku inginkan dan mendadak ... aku tidak tahu. Membentangkan pikiranku menuju mereka.”

Lissa duduk bersila. “Terdengar seperti bagaimana Rose menjelaskan cara ia membaca pikiranku.”

“Mungkin prinsipnya sama. Dengar, kau perlu beberapa lama untuk mempelajari aura. Hal ini juga tidak berbeda. Dan dirimu bukan satu-satunya orang yang belajar dengan tertatih-tatih. Akulah yang akhirnya hanya belajar menyembuhkan guratan-guratan kecil sedangkan kamu mengembalikan orang yang telah mati, yang mana – anggap aku gila – sangat susah.” Dia berhenti sejenak. “Tentu saja, beberapa akan mendebatku kalau aku sudah gila.”

Mengartikan aura, Lissa belajar dari Adrian dan memanggil kemampuan untuk melihat daerah yang bercahaya yang mengelilingi setiap benda yang bernyawa. Aura Adrian terlihat sangat jelas, dikelilingi oleh cahaya emas. Menurut Adrian, aura Lissa berwarna sama. Tidak ada Moroi lain yang memiliki warna emas murni seperti itu. Lissa dan Adrian menyimpulkan kalau ini merupakan warna khusus untuk pengguna roh.

Adrian tersenyum, menebak apa yang dilakukan Lissa. “Bagaimana kelihatannya?”

“Sama.”

“Lihat betapa hebat kau sekarang? Bersabarlah dalam hal mimpi.”

Lissa sangat ingin bisa berjalan dalam mimpi seperti yang bisa Adrian lakukan. Mengesampingkan kekecewaan Lissa, aku senang ia tidak dapat melakukannya. Kunjungan Adrian dalam mimpiku sudah cukup berat untukku. Melihat Lissa bisa membuatku ...well, aku tidak sepenuhnya yakin, tapi itu akan mendinginkan suasana, perangai yang keras yang kucoba perbaiki di Rusia, sangat keras.

“Aku hanya ingin tahu bagaimana keadaannya,” kata Lissa dengan suara kecil. “Aku tidak bisa terima dengan ketidaktahuan.” Ini adalah pembicaraan yang sama dengan Christian.

“Aku melihatnya kemarin. Dia baik-baik saja. Dan aku akan melakukannya lagi segera.”

Lissa mengangguk. “Apa menurutmu dia akan melakukannya? Apa kau rasa dia bisa membunuh Dimitri?”

Adrian butuh waktu lama untuk menjawab. “Kurasa dia bisa. Pertanyaannya adalah kalau Dimitri membunuhnya dalam proses itu.”

Lissa tersentak dan aku sedikit terkejut. Jawabannya tanpa basa-basi sama seperti yang diberikan oleh Christian.

“Tuhan, aku selalu berharap ia tidak memutuskan untuk pergi mengejar Dimitri.”

“Berharap itu sia-sia sekarang. Rose harus melakukannya. Itulah satu-satunya cara untuk mendapatkan ia kembali.” Dia berhenti sejenak. “ Itulah satu-satunya cara agar dia bisa melupakan segalanya.”

Adrian terkadang mengejutkanku, tapi kali ini ia berhak mendapat hadiah. Lissa berpikir kalau mengejar Dimitri adalah hal bodoh dan merupakan upaya bunuh diri. Aku tahu Sydney juga akan setuju jika aku mengatakan alasan sejujurnya tentang perjalanan ini. Tapi Adrian ... konyol, dangkal, cowok pesta, mengerti? Mempelajari dirinya melalui mata Lissa, aku sadar kalau Adrian memang mengerti. Dia tidak menyukainya dan aku bisa mendengar nada terluka dari kata-katanya. Dia peduli padaku. Aku memiliki perasaan yang kuat untuk orang lain yang menyebabkan dirinya terluka. Dan kemudian ... dia sungguh-sungguh percaya kalau aku telah melakukan hal yang benar – satu-satunya hal yang bisa aku lakukan.

Lissa melihat jam dinding. “Aku harus pergi sebelum jam malam. Aku mungkin harus belajar untuk tes sejarah juga.”

Adrian menyeringai. “Belajar itu berlebihan. Coba temukan seseorang yang pintar dan contek saja jawabannya.”

Lissa berdiri. “Apa kau ingin mengatakan kalau aku tidak pintar?”

“Tentu tidak.” Adrian juga berdiri dan pergi untuk mengisi dirinya sendiri dengan minuman dari bar yang ia simpan sendiri. Pengobatan sendiri adalah cara menyimpang yang ia lakukan untuk menjaganya dari efek pengguna sihir roh, dan jika dia telah menggunakan roh sepanjang malam, dia akan membutuhkan kebiasan buruknya untuk mematikan rasa. “Kau adalah orang tercerdas yang pernah kukenal. Tapi itu bukan berarti kau harus melakukan pekerjaan yang tidak penting.”

“Kau tidak bisa sukses dalam hidup jika tidak berusaha. Mencontek dari orang lain tidak akan membawamu kemana-mana.”

“Terserahlah,” katanya menyeringai. “Aku selalu mencotek selama sekolah dan lihat apa yang sudah aku lakukan sekarang.”

Dengan memutar mata, Lissa memberikannya pelukan perpisahan dengan cepat dan kemudian pergi. Setelah dia keluar dari pandangan Adrian, senyum Lissa memudar. Nyatanya, pikirnannya berubah menjadi gelap. Mengungkit masalah aku telah membangkitkan perasaan bersalah dalam pikiran Lissa. Dia mengkhawatirkan aku – sangat khawatir. Dia mengatakan pada Christian kalau dia merasa bersalah dengan apa yang terjadi diantara kami berdua, tapi kekuatan itu tidak mengenaiku hingga sekarang. Dia dipenuhi oleh rasa bersalah dan kebingungan, terus merutuki dirinya sendiri atas apa yang telah dia lakukan. Dan di atas semua itu, dia merindukanku. Dia memiliki perasaan yang sama denganku - seolah salah satu bagian dari dirinya menghilang.

Adrian tinggal di lantai empat, dan Lissa lebih memilih berjalan lewat tangga ketimbang naik lift. Sepanjang itu, seluruh pikirannya disapu oleh kekhawatiran. Khawatir karena dia belum menguasai sihir roh sepenuhnya. Khawatir padaku. Khawatir kalau dia sebenarnya masih belum bisa menghindari efek gelap dari penguasaan roh yang membuatya berpikir jika akulah yang menyerap efek itu sama seperti yang Anna lakukan. Anna hidup berabad-abad lalu dan terikat dengan St. Vladimir, pendiri sekolah. Anna menyerap efek jahat roh dari Vladimir - dan menjadi gila.

Di lantai kedua, Lissa mendengar suara teriakan dari pintu yang memisahkan tangga dan ruang tengah. Merasa kalau hal itu tidak ada hubungannya dengan dirinya, Lissa ragu-ragu. Rasa penasaran memenuhi dirinya. Beberapa saat kemudian, diam-diam dia mendorng pintu untuk membukanya dan melangkah masuk ke dalam ruang itu. Suara itu berasal dari sekitar sudut ruangan. Dia hati-hati mengintip sekitarnya – sebenarnya tidak ia inginkan. Dia mengenali suara itu.

Avery Lazar berdiri di ruangan itu, tangannya di pinggang ketika ia menatap tajam ayahnya. Ayahnya berdiri di depan pintu yang merupakan ruang tidurnya. Sikap mereka kaku dan terlihat bermusuhan, dan api kemarahan berderak di antara mereka.

“Aku ingin melakukan apa yang aku inginkan,” ia berteriak. “Aku bukan budakmu.”

“Kau putriku,” katanya denga suara tenang dan meremahkan. “Meskipun saat ini aku berharap kau bukan anakku.”

Ouch. Baik Lissa maupun aku terkejut.

“Jadi mengapa kau membuatku tetap tinggal di liang neraka ini? Biarkan aku kembali ke istana!”

“Dan semakin mempermalukanku? Kita baru saja keluar tanpa merusak reputasi keluarga ini – sedikitnya. Tidak mungkin aku mau mengirimkanmu kesana sendirian dan membiarkanmu melakukan segala hal yang cuma Tuhan yang tahu.”

“Kalau begitu kirim aku ke ibuku! Switzerland lebih baik dari pada tempat ini.”

Ada jeda di sana. “Ibumu ... sedang sibuk.”

“Oh, manis sekali,” kata Avery, suaranya berat dengan nada sarkasme di dalamnya. “Itu adalah cara yang sopan untuk mengatakan kalau dia tidak menginginkanku. Aku tidak kaget. Aku pernah mengganggunya dengan lelaki yang tidur dengannya.”

“Avery!” Suara ayahnya nyaring dan marah. Lissa tersentak dan melangkah mundur.

“Pembicaraan ini selesai. Kembali ke kamarmu dan sadarlah sebelum seseorang melihatmu. Kuharap kau ada dalam jamuan makan pagi besok, dan kuharap kau bisa sedikit lebih hormat. Kita memiliki beberapa tamu penting.”

“Ya, dan hanya Tuhan yang tahu kalau kita terus saja memalsukan penampilan.”

“Masuk ke kamarmu,” dia mengulang. “ Sebelum aku memanggil Simon dan menyuruhnya untuk menyeretmu kesana.”

“Ya, Tuan,” kata Avery tersenyum simpul. “Segera, Tuan. Apapun yang kau katakan, Tuan.”

Bersamaan dengan itu, ayah Avery membanting pintu. Lissa menyembunyikan dirinya di sudut ruangan, masih tidak percaya dengan apa yang lelaki itu katakan kepada anaknya sendiri. Untuk beberapa saat, hanya ada keheningan disana. Kemudian, Lissa mendengar suara langkah kaki- mendekatinya. Avery mendadak berhenti di sudut ruangan, tepat di depan Lissa, menatap kami untuk pertama kalinya.

Avery sedang mengenakan gaun pendek ketat yang terbuat dari kain berwarna biru yang bersinar keperakkan di terpa cahaya. Rambutnya tergantung panjang dan tidak tertata, air matanya berceceran dai mata biru-abu-abunya yang menghancurkan riasan yang ia kenakan. Aroma alkohol tercium jelas dan keras. Dia tergesa-gesa menyapukan tangannya ke matanya, jelas sekali kalau ia malu terlihat seperti ini.

“Well,” katanya datar. “Kurasa kau menikmati drama keluarga kami.”

“Lissa merasa bersalah tertangkap menguping pembicaraan mereka. “A – Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud menguping. Aku hanya lewat ...”

Avery tertawa kasar. “Sebenarnya, aku rasa itu bukan masalah. Semua orang yang tinggal dalam bangunan ini mungkin mendengar pembicaraan kami.”

“Maafkan aku,” ulang Lissa.

“Tidak perlu. Kau tidak melakukan kesalahan apapun.”

“Tidak ... maksudku, aku ikut prihatin ketika dia ... kau tahu, mengatakan hal seperti itu padamu.”

“Itu adalah bagian dari menjadi keluarga ‘baik’. Setiap orang punya sifat sedih di lemari mereka.” Avery menyilangkan tangannya dan bersandar ke dinding. Meskipun sedang marah dan berantakkan, dia masih tetap kelihatan cantik. “Tuhan, terkadang aku membenci ayahku. Bukan bermaksud menghina, tapi tempat ini sangat membosankan. Aku menemukan beberapa kakak kelas pria untuk di ajak jalan malam ini, tapi ... mereka juga sangat membosankan. Satu-satunya hal yang bagus dari mereka adalah bir mereka.”

“Mengapa ... mengapa ayahmu membawamu kesini?” tanya Lissa. “Mengapa kau tidak ... entahlah, pergi kuliah?”

Avery tertawa kasar. “Dia tidak cukup percaya padaku. Ketika kami berada di istana, aku berhubungan dengan seorang cowok tampan yang bekerja di sana – jelas bukan bangsawan, tentu saja. Ayah sangat marah dan takut orang-orang mengetahuinya. Jadi, ketika ia mendapat pekerjaan disini, dia membawaku bersamanya agar bisa terus mengawasiku – dan menyiksaku. Kupikir dia takut aku akan kabur bersama manusia jika aku kuliah.” Dia mengehela nafas. “Aku bersumpah pada Tuhan, jika Reed ada disini, aku pasti sudah langsung kabur.”

Lissa tidak berkata-kata dalam waktu yang lama. Dia memikirkan sikapnya selama ini yang terus menghindari sikap gigih Avery untuk dekat dengannya. Dengan semua perintah sang ratu yang diberikan kepada Lissa akhir-akhir ini, apa yang terjadi pada Avery adalah pemikiran yang bagus sebagai jalan satu-satunya bagi Lissa untuk melawan balik dan menghentikan sang ratu yang terus mengontrol dirinya. Tapi sekarang, dia berpikir jika dia salah mengenai Avery. Avery bukanlah mata-mata dari Tatiana. Dia tidak terlihat seperti seseorang yang ingin membentuk Lissa untuk menjadi bangsawan sempurna. Sebagian besar, Avery terlihat seperti seorang gadis yang sedih dan terluka yang hidupnya berputar tak terarah. Seseorang yang juga terus diperintah seperti dirinya.

Dengan nafas berat, Lissa buru-buru mengucapkan kalimatnya. “Apa kau ingin makan siang bersamaku dan Christian besok? Tidak ada yang keberatan jika kau mau datang saat jam makan siang kami. aku tidak bisa janji ini akan menjadi, um, semenyenangkan yang kamu inginkan.”

Avery tersenyum lagi, tapi kali ini, lebih terlihat seperti senyuman pahit. “Well, rencanaku yang lain adalah mabuk sendirian di dalam kamarku.” Dia mengangkat sebuah botol yang terlihat seperti whiskey dari dalam tas kecilnya. “Mencetak beberapa barang sendiri.”

Lissa tidak begitu yakin dengan jawaban itu. “Jadi ... aku akan bertemu denganmu saat makan siang?”

Sekarang Avery terlihat ragu. Tapi perlahan, harapan yang samar bersinar dan rasa tertarik muncul di wajahnya. Konsentrasi, Lissa berusaha untuk melihat aura Avery. Dia kesulitan untuk pertama kalinya, mungkin kekuatannya agak berkurang dari latihan bersama Adrian tadi. Tapi ketika akhirnya mampu mendapatkan aura Avery, dia melihat beragam warna: hijau, biru, dan emas. Tidak biasa. Sekarang lebih cenderung berwarna merah, seperti yang sering terjadi kepada orang yang sedang marah. Tapi tepat di hadapan mata Lissa, warna merah itu memudar.

“Ya,” Avery berkata akhirnya. “Pasti menyenangkan."

“Kurasa hanya sejauh itu yang bisa kita lakukan hari ini.”

Di belahan dunia yang lain, suara Sydney mengeluarkanku dari pikiran Lissa. Aku tidak tahu seberapa lama aku bermimpi siang hari ini, tapi Sydney sudah berganti jalan dari jalan utama dan mengantar kami ke kota kecil yang benar-benar persis seperti gambaran Siberia yang pernah aku bayangkan. Faktanya, sebutan ‘kota’ sungguh sangat berlebihan. Hanya ada beberapa rumah, sebuah toko, dan sebuah pom bensin. Area ternak memanjang di sekitar bangunan dan aku melihat lebih banyak kuda daripada mobil. Beberapa orang yang sedang menatap kami terlihat kagum. Langit berubah berwarna jingga tua, dan matahari mulai merapat sedik demi sedikit di horizon. Sydney benar. Hari mulai malam dan kami harus singgah.

“Perjalanan kita hanya beberapa jam saja lagi,” lanjutnya. “Waktu perjalanan kita sudah bagus dan kita harus secepatnya berangkat pada saat pagi hari.” Dia menegmudikan mobil menuju sebuah desa – yang mana hanya memakan waktu beberapa menit - dan memarkir tepat di depan sebuah rumah putih sederhana dengan sebuah lumbung gandum di sebelahnya. “Disini kita bermalam.”

Kami keluar dari mobil dan mendekati rumah. “Apa mereka temanmu?”

“Bukan. Aku tidak pernah mengenal mereka. Tapi mereka mengharapkan kita.”

Semakin banyak koneksi misterius dari para Alkemis. Pintu membuka menampakkan seorang manusia yang berumur dua puluh tahunan yang memperingatkan kami agar secepatnya masuk ke dalam. Dia hanya berbicara beberapa kata dalam bahasa Inggris, tapi keahlian menerjemahkan Sydney membawa kami masuk. Sydney lebih ramah dan menarik dari pada biasanya, mungkin karena tuan rumah ini bukan keturunan vampir ganas. Kau tidak akan berpikir kalau menumpang di sebuah mobil sepanjang hari akan sangat melelahkan, tapi aku merasa sangat letih dan cemas karena harus memulai perjalan besok pagi-pagi. Jadi setelah makan malam dan sedikit menonton TV, Sydney dan aku pergi ke ruangan yang dipersiapkan untuk kami. Kamar ini kecil dan sederhana tapi memiliki dua ranjang kembar yang ditutupi oleh selimut tebal dan halus. Aku merapat di selimutku, bersyukur untuk rasa lembut dan hangatnya dan mengira-ngira jika aku akan bermimpi tentang Lissa atau Adrian.

Aku tidak bermimpi. Ya aku terbangun dalam gelombang rasa mual yang mengitari diriku – rasa mual yang mengatakan padaku kalau ada Strigoi yang sedang mendekat.

2 comments:

  1. kaka. yang selanjut.a mana nihh. aku penasaran.

    ReplyDelete

 

Please, Keep in Touch!

©Copyright 2011 Love Your Life | TNB