Spirit Bound ~ Bahasa Indonesia (Chapter 2)fin

Saturday, May 12, 2012 2 komentar
U JIANKU TERASA TERLIHAT SAMAR.
Kau pasti berpikir, mengingat ujian ini merupakan bagian paling penting dalam kehidupan pendidikanku di ST. Vladimir, sehingga aku harusnya mengingat segalanya dalam kesempurnaan, detil yang mengagumkan. Namun pikiran terbaruku sepertinya menyadarkanku. Bagaimana bisa semua ukuran ini sebanding dengan apa yang pernah aku alami? Bagaimana bisa pertempuran pura-pura ini dibandingkan dengan kepungan Strigoi yang pernah menyerbu sekolah kami? Aku harus berdiri memunggungi perasaan aneh yang melimpah, tidak mengetahui jika dia yang kucintai masih hidup atau telah mati.

Dan bagaimana bisa aku takut pada pertarungan menghadapi satu dari instruktur sekolahku setelah mengalami perkelahian dengan Dimitri? Dia sangat mematikan saat menjadi dhampir dan tambah parah saat menjadi Strigoi. Tidak satupun dari semua yang aku maksudkan itu bisa ditandingi oleh ujian ini. Ujian ini serius. Banyak novis yang gagal dalam ujian ini selama ini, dan aku menolak untuk menjadi salah satu dari mereka. Aku telah diserang dari segala sisi, oleh para pengawal yang telah bertarung dan melindungi Moroi sejak sebelum aku lahir. Arena pertarungan tidak datar, yang artinya begitu rumit di segala bagian. Mereka memenuhi arena dengan alat-alat aneh dan banyak rintangan, balok dan pijakan yang menguji keseimbanganku – termasuk sebuah jembatan yang telah mengingatkanku secara menyakitkan tentang malam terakhir aku melihat Dimitri. Aku mendorongnya setelah menancapkan sebuah pasak perak ke jantungnya – sebuah pasak yang jatuh saat ia terjerembab ke dalam sungai di bawah jembatan.


Jembatan di arena sedikit berbeda dengan jembatan kayu yang kuat seperti tempat dimana Dimitri dan aku berkelahi di Siberia. Jembatan yang ini reyot, jalan kecil dengan konstruksi yang buruk yang terbuat dari potongan kayu dengan hanya ada tali yang memagari sebagai dukungan terhadap jembatan itu. Setiap langkah membuat seluruh jembatan bergoyang dan mengayun, dan lubang-lubang di papan menunjukkan padaku dimana tempat para mantan teman sekelasku (bagi mereka yang tidak beruntung) menemui titik kelemahan.

Ujian yang mereka tugaskan untukku di jembatan mungkin adalah yang paling buruk diantara semuanya. Tujuanku adalah untuk mendapatkan “Moroi” dan menjauhkannya dari kelompok “Strigoi” yang sedang mengejar. Moroi sedang diperankan oleh Daniel, pengawal baru yang datang bersama pengawal lain ke sekolah untuk menggantikan para pengawal yang terbunuh dalam penyerangan. Aku tidak terlalu mengenalnya, tapi untuk ujian kali ini, dia berperan sungguh sangat jinak dan tidak berguna – bahkan sedikit ketakutan, sama seperti Moroi manapun yang mungkin akan ku kawal kelak.

Dia memberiku sedikit perlawanan saat menginjak jembatan itu, dan aku menggunakan keahlian ketenanganku, lebih banyak menggunakan suara membujuk agar membuatnya pada akhirnya mau berjalan di depanku. Sebenarnya mereka sedang menguji keahlian orang-orang sama baiknya dengan keahlian bertarung.
Tidak jauh di belakang kami di jalan itu, aku telah tahu para pengawal yang berperan sebagai Strigoi akan datang. Daniel melangkah dan aku membayanginya, masih memberikan jamina kemanan saat semua inderaku terus dalam kondisi waspada. Jembatan berayun menggila, mengatakan padaku dengan sebuah sentakan kalau para pengejar kami sudah bergabung. Aku melirik ke belakang dan melihat tiga “Strigoi” mendatangi kami. Para pengawal yang memainkan peran Strigoi telah melakukan pekerjaan yang mengagumkan – bergerak dengan ketangkasan dan kecepatan yang sama yang Strigoi asli bisa lakukan. Mereka akan menyusul kami jika kami tidak bergerak maju.

“Kau melakukannya dengan bagus sekali,” kataku pada Daniel. Sangat sulit untuk tetap menjaga nada suaraku dengan tepat. Berteriak kepada Moroi mungkin akan membuat mereka syok. Terlalu benayak kelembutan membuat mereka berpikir kalau in tidak seirus. “Dan aku tahu kau bisa bergerak lebih cepat lagi. Kita perlu mendahului mereka – mereka semakin dekat. Aku tahu kau pasti bisa melakukannya. Ayolah.”

Aku harus melewati bagian membujuk dari ujian ini karena dia jelas mempercepat langkahnya – tidak cukup cepat untuk menandingi kecepatan empat pengejar kami, tapi itu hanyalah awalnya. Jembatan bergerak menggila lagi. Daniel memekik dengan meyakinkan dan membeku, mencengkram sisi tali dengan kuat. Di depan dia, aku melihat pengawal lain – sebagai- Strigoi menunggu di sisi berlawanan dari jembatan. Aku yakin namanya adalah Randall, instruktur baru yang lain. Aku seperti roti lapis diantara dia dan gerombolan di belakangku. Tapi Randall tetap diam, menunggu di kayu pertama jembatan sehingga dia bisa menggoyangkan jembatan ini dan membuatnya semakin sulit bagi kami.

“Terus berjalan,” aku mendorongnya, pikiranku berputar. “Kau bisa melakukannya.”
“Tapi ada Strigoi disana! Kita terjebak,” Daniel berteriak.
“Jangan khawatir. Aku akan melawannya. Bergerak saja.”
Suaraku terdengar hebat kali ini, dan Daniel merangkak maju, terdorong oleh perintahku. Saat-saat berikutnya aku memerlukan perhitungan waktu yang tepat. Aku harus mewaspadai “Strigoi” di kedua sisi kami dan tetap membuat Daniel bergerak, semua itu dilakukan saat aku memperhitungkan dimana kami berada di jembatan. Ketika kami sudah berada hampir di tiga per lima jalan menyebrang, aku mendesis, “Berhenti di langkah keempat sekarang! Cepat!”

Dia menurut, bersiap berhenti. Aku berlutut, masih berbicara dengan nada rendah: “Aku akan berteriak padamu. Acuhkan saja.” dengan suara keras, agar mendapatkan keuntungan dari mereka yang mengejar kami, aku berseru, “Apa yang kau lakukan? Kita tidak bisa berhenti!”

Daniel tidak peduli, dan aku kembali berbicara dengan suara kecil. “Bagus. Lihat dimana tali itu terhubung dengan dasar pagar? Pegang tali-tali itu. Pegang sekuat yang kau bisa, dan jangan lepaskan, apapun yang terjadi. Belitkan di tanganmu jika itu perlu. Lakukan sekarang!”

Dia menurut. Jam terus berdetik dan aku tidak ingin membuang waktu lagi. Dalam satu gerakan, ketika masih dalam posisi membungkuk, aku berbalik dan memotong tali dengan sebuah pisau yang diberikan sepaket dengan pasakku. Mata pisaunya begitu tajam, terima kasih Tuhan. Para pengawal yang bertugas dalam ujian ini tidak pernah mengacaukannya. Pisau ini tidak serta merta mengiris talinya, tetapi aku memotongnya dengan cepat sehingga si “Strigoi” di sisi kami yang lain tidak punya waktu untuk bereaksi.

Talinya bergemertaak saat aku kembali mengingatkan daniel untuk terus berpegangan. Jembatan yang membagi dua berayun menuju sisi dari tangga kayu, terbawa oleh beratnya orang-orang yang berada di atasnya. Sebenarnya, berat kami lah yang paling tidak membuat keadaannya jadi begitu. Daniel dan aku telah bersiap-siap. Ketiga pengejar di belakang kami tampaknya belum siap. Dua dari mereka jatuh. Yang satu hanya berusaha memegang sebuah papan, tergelincir sedikit sebelum memperbaiki pegangannya. Jarak jatuhnya sebenarnya setinggi enam kaki, tapi aku sudah di peringatkan untuk tetap menganggapnya berjarak 50 kaki – sebuah jarak yang mungkin akan membunuhku dan Daniel jika kami terjatuh.

Mengesampingkan semua keanehan, Daniel masih berpegangan pada tali. Aku juga berpegangan sebaik mungkin, dan sekali tali dan kayu itu rebah datar memunggungi sisi tangga-tangga itu, aku mulai berjuang menaikinya seolah yang kuinjak itu tangga. Tidak mudah untuk memanjat dengan menggunakan Daniel, tapi aku melakukannya, memberiku satu kesempatan lagi untuk mengatakan padanya agar terus bertahan. Randall, yang menunggu di depan kami, belum terjatuh. Dia berhasil memijakkan kakinya saat aku memotong jembatannya, dan cukup kaget saat ia kehilangan keseimbangannya. Pulih dengan cepat, dia bergoyang-goyang di tali, mencoba menaiki permukaan yang aman di atas. Dia lebih dekat dengan permukaan itu ketimbang aku, tapi aku menangkap kakinya dan menghentikannya. Aku menyentak dirinya ke arahku. Dia mencoba memperbaiki pegangannya pada jembatan, dan kami sama-sama berjuang. Aku tahu kecil kemungkinan aku bisa menjatuhkannya, tapi aku mampu untuk memperdekat jarak kami. Akhirnya, aku melepaskan pisau yang terus kupegang dan berusaha mengambil pasak dari ikat pinggangku – sesuatu menguji keseimbanganku. Posisi Randall yang canggung memberiku kesempatan untuk menusuk jantungnya, dan aku melakukannya.

Untuk ujian, kami diberikan pasak yang tumpul, tidak akan melukai kulit saat digunakan, namun pasak ini cukup kuat untuk meyakinkan lawan kita kalau kita tahu apa yang sedang kita lakukan. Posisiku sangat sempurna, dan Randall mengakui kalau ali ini merupakan pukulan yang membunuhnya, melepaskan pegangannya dan jatuh dari jembatan.

Meninggalkan tugas yang menyakitkan untuk membujuk Daniel naik. Butuh waktu yang cukup lama, tapi lagi-lagi, tingkahnya tidak mirip dengan karakter bagaimana seorang Moroi yang ketakutan berperilaku. Aku hanya bersyukur karena dia tidak memutuskan kalau Moroi yang sesungguhnya mungkin tidak akan tahan untuk bertahan dan akan jatuh.

Namun setelah semua rintangan yang datang semakin banyak, aku terus melawan, tidak pernah memperlambat seranganku atau membiarkan rasa lelah menggangguku. Aku masuk dalam tipe siap berperang, semua inderaku fokus terhadap insting terdasarku: lawan, menghindar, bunuh.

Dan saat terus mendengarkan insting itu, aku masih harus berinovasi dan untuk tidak hanyut dalam ketenangan. Sebaliknya, aku tidak akan mampu untuk bereaksi terhadap sebuah kejutan seperti di jembatan tadi. Aku mengatur semuanya, melawan dengan satu-satunya pikiran untuk terus mendahulukan tugasku daripada diriku sendiri. Aku mencoba untuk tidak berpikir kalau para instrukturku adalah orang-orang yang sduah aku kenal. Aku memperlakukan mereka seperti aku memperlakukan Strigoi. Aku menarik tanpa memukul.

Ketika ujian ini akhirnya berakhir, aku hampir tidak menyadarinya sama sekali. Aku terus saja berdiri di tengah-tengah arena tanpa adanya penyerang yang mendatangiku. Aku sendirian. Perlahan, aku menjadi lebih waspada dengan setiap detilnya. Para penonton di pinggir arena bersorak. Beberapa instruktur saling menganggukkan kepala saat mereka bergabung.

Jantungku berdetak keras.
Detakannya tidak berhenti sampai Alberta dengan seringaiannya menyentuh tanganku yang akhirnya menyadarkanku kalau ujian ini sudah selesai. Ujian yang aku tunggu selama ini, berakhir serasa dalam sekejap mata saja.

“Ayo,” katanya, merangkulkan tangannya di bahuku dan membimbingku ke arah pintu keluar.
“Kau perlu minum dan duduk.”

Bingung, aku membiarkannya membimbingku keluar dari arena, orang-orang di sekeliling kami masih bersorak dan meneriakkan namaku. Di belakang kami, aku mendengar orang-orang berkata kalau mereka harus istirahat dan memperbaiki jembatannya.

Alberta membawaku kembali ke ruang tunggu dan dengan lembut mendorongku ke sebuah kursi panjang. Seseorang duduk di sampingku dan menyerahkan sebotol air. Aku berpaling dan aku menemukan ibuku disampingku. Wajahnya mengekspresikan sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya: tulus, kebanggan yang luar biasa.

“Hanya itu?” tanyaku akhirnya.
Dia mengejutkanku lagi dengan tawa gelinya.

“Hanya itu?” dia mengulangi perkataanku. “Rose, kau ada di sana hampir selama satu jam. Kau melewati ujian ini dengan warna berbeda – mungkin satu dari ujian terbaik yang pernah diperlihatkan di sekolah ini.”

“Benarkah? Hanya saja ini terasa ...” mudah bukanlah kata yang cukup tepat. “ Terasa membingungkan, hanya itu.”

Ibuku meremas tanganku. “Kau luar biasa. Aku sangat sangat bangga padamu.”

Semua kenyataan ini benar-benar, benar-benar menyadarkanku kemudian, dan aku merasakan sebuah senyuman mekar di bibirku.
“Sekarang apa yang akan terjadi?” tanyaku
“Sekarang kau menjadi pengawal.”

Aku sudah sering kali ditato, tapi tidak satupun dari acara itu bisa disamakan dengan upacara dan keriuhan yang terjadi saat mendapatkan tanda sumpahku.

Sebelumnya aku mendapatkan tanda molinja karena telah melakukan pembunuhan yang tidak kuharapkan, kekacauan yang targis: bertarung dengan Strigoi di Spokane, penyerangan sekolah, dan misi penyelamatan yang menyebabkan duka cita, bukan perayaan.

Setelah semua pembunuhan itu, kami tidak lagi bisa menghitung jumlahnya, dan saat pelukis tato masih mencoba untuk menghitung setiap orang yang dibunuh, mereka akhirnya memberiku sebuah tanda berbentuk bintang yang dengan cara hebat menyatakan kalau kami tidak lagi bisa menghitung berapa Strigoi yang sudah kubunuh.

Membubuhkan Tato bukan proses yang cepat, meskipun kau hanya mendapatkan ukuran yang kecil, dan seluruh teman sekelasku yang lulus mendapatkannya. Upacaranya berlokasi dia gedung yang biasanya menjadi ruang makan Akademi, sebuah ruangan yang  dengan mengagumkan diubah menjadi sesuatu yang semewah dan seluas ruangan yang pernah kami temukan di istana.

Para undangan – teman-teman, keluarga, dan para pengawal – memenuhi ruangan saat Alberta memanggil nama kami satu persatu dan membacakan nilai kami saat kami mendekati penato. Nilai ini sangat penting. Nilai ini diumumkan dan bersamaan dengan keselurahan peringkat kami, jumlah nilainya akan mempengaruhi penugasan kami selanjutnya. Moroi bisa menentukan nilai khusus agar bisa menjadi pengawalnya. Lissa sudah memintaku, tentu saja, tapi meski dengan nilai terbaik di dunia sekalipun, nilai itu tidak akan bisa dibandingkan dengan semua nilai kelakuan buruk di dalam catatanku.

Tidak ada Moroi dalam upacara ini, meskipun begitu, ruangan ini dipenuhi oleh orang-orang yang diundang sebagai tamu oleh para lulusan baru. Kelompok lain yang berkumpul adalah para dhampir: baik yang sudah menjadi pengawal maupun yang akan menjadi pengawal seperti aku.

Para tamu duduk di bagian belakang, dan para pengawal senior duduk di depan. Teman-teman sekelasku dan aku berdiri sepanjang acara, mungkin sebagai ujian terakhir dalam hal daya tahan.

Aku tidak keberatan. Aku sudah mengganti pakaianku yang sobek dan kotor menjadi pakaian kedur dan sebuah sweater, pakaian yang terlihat resmi saat masih merasakan perasaan khidmat. Pakaian ini cukup enak dikenakan karena udara di dalam ruangan dipenuhi ketegangan, semua ekspresi wajah merupakan campuran kebahagian karena keberhasilan kami tapi juga rasa khawatir tentang peran baru dan mematikan kami di dunia luar. Aku menonton dengan mata bersinar saat teman-temanku dipanggil naik, terkejut dan terkesan dengan beberapa nilai temanku.

Eddi Castile, seorang teman dekatku, mendapatkan sebuah nilai tinggi khusus dalam perlindungan Moroi satu lawan satu. Aku tidak bisa menahan senyum saat melihat penato memberikan Eddie tatonya.
“Aku penasaran bagaimana ia menangani Moroinya di atas jembatan,” aku berbisik dengan nada rendah. Eddie cukup cerdik biasanya. Disampingku, temanku yang lain, Meredith, menatapku bingung.

“Apa yang sedang kau bicarakan?” Suaranya juga sama rendahnya.
“Saat kita dikejar di jembatan bersama Moroi kita. Moroiku adalah Daniel.” Dia masih terlihat bingung, dan aku menambahkan. “Dan mereka menempatkan Strigoi di masing-masing sisinya?”

“Aku melintasi jembatan,” dia berbisik, “Tapi hanya aku sendiri yang dikejar. Aku menempatkan Moroiku melalui jalan memutar.”

Sebuah tatapan dari teman sekelas di dekat kami membuat kami diam, aku menyembunyikan ekspresi ketidaksukaanku. Munkin bukan aku satu-satunya yang kebingungan melewati ujian ini. Meredith mendapatkan kenyataan kalau ia mengacau dalam tesnya sendiri.

Saat namaku dipanggil, aku mendengar beberapa suara decak kagum saat Alberta membacakan nilaiku. Aku mendapakan nilai tertinggi sejauh ini. Aku senang dia tidak menyebutkan nilai akademikku. Mereka pasti akan menarik kembali kekaguman di sisa penampilanku. Aku selalu menyelesaikan kelas bertarungku dengan baik, tapi matematika dan sejarah ... sebenarnya, kedua hal itu sangat memprihatinkan, khususnya sejak aku keluar masuk dari sekolah.

Rambutku digelung ketat, dengan setiap helainya dijepit sehingga penato tidak akan menemukan gangguan saat ia bekerja. Ia membungkukkan tubuhku dan memberinya pemandangan bagus dan mendengar sungutan keterkejutan. Leher belakangku telah ditutupi banyak sekali tanda, dia harus lebih cerdik menempatkan tanda baruku. Biasanya, pengawal baru memberikan kanvas kosong. Pria ini cukup pintar dan pada akhirnya menempatkan tandaku dengan hati-hati di tengah-tengah leherku. Tanda sumpah itu terlihat berbentuk huruf S yang memanjang dan renggang dengan bentuk ikal diujungnya. Dia menempatkannya diantara tanda molinja, membiarkannya terlihat seperti dikelilingi seolah seperti depeluk. Proses tatonya menyakitkan, tapi aku tetap menjaga wajahku agar tetap tanpa ekspresi, tidak membiarkan wajahku mengerutkan dahi. Hasil akhirnya ditunjukkan padaku dari sebuah kaca sebelum dia menutupnya dengan perban sehingga luka tato ini bisa sembuh dengan bersih.

Setelah itu, aku bergabung kembali dengan teman-teman sekelasku dan menonton sisa dari mereka yang akan menerima tato. Ini artinya berdiri untuk dua jam lagi, tapi aku tidak keberataan. Otakku masih berputar mengingat semua yang terjadi hari ini. Aku telah menjadi pengawal. Pengawal yang akan membawa kebaikan yang tulus dan sungguhan. Dan bersamaan dengan pemikiran tentang itu munculah banyak pertanyaan, Apa yang akan terjadi sekarang? Akankah nilaiku cukup baik untuk menghapus catatan kelakuan burukku? Akankah aku menjadi pengawal Lissa? Dan bagaimana tentang Viktor? Bagaimana dengan Dimitri?

Perasaanku berubah menjadi tidak nyaman saat efek penuh dari upacara pengawal ini menimpaku. Semua ini bukan hanya tentang Dimitri dan Viktor. Ini tentang aku – tentang sisa hidupku. Kehidupan sekolah telah berakhir. Aku tidak akan lagi memiliki guru yang mengikuti setiap gerakanku atau memperbaiki saat aku melakukan kesalahan. Semua keputusan akan bergantung pada diriku sendiri saat aku melindungi seseorang. Moroi dan dhampir yang lebih muda akan menganggapku memiliki kekuasaan. Dan aku tidak lagi mendapakan kemewahan dari latihan bertarung satu menit dan bersantai di kamarku setelah itu. Tidak ada lagi jeda istirahat saat kelas berlangsung.
Aku akan bertugas sepanjang waktu. Pemikiran itu menakutkanku, tekanannya hampir terlalu menyenangkan. Aku selalu menyamakan kelulusan dengan kebebasan. Sekarang, aku tidak lagi yakin. Bentuk baru seperti apa yang akan diambil dalam hidupku? Siapa yang akan memutuskan? Dan bagaimana aku bisa menjangkau Victor jika aku ditugaskan untuk menjaga seseorang selain Lissa?

Di seberang ruangan, aku menemukan mata Lissa diantara para penonton. Kedua mata itu terbakar dengan kebanggaan yang sama dengan milik ibuku, dan dia menyeringai saat pandangan kami bertemu.

Coba lihat wajahmu, dia menghakimiku melalui ikatan kami. Kau tidak boleh terlihat gelisah seperti itu, tidak hari ini. Kau perlu merayakannya.

Aku tahu dia benar. Aku bisa menangani apa yang terjadi. Kekhawatiranku, yang begitu banyak, bisa menunggu satu hari lagi – khusunya sejak suasana hati yang gembira dari teman-teman dan keluarga yang meyakinkanku untuk merayakannya. Abe, dengan pengaruh itu, selalu terlihat bisa melakukannya, telah mengamankan sebuah ruangan banquet kecil dan membuatkankan sebuah pesta untukku yang terlihat lebih cocok untuk acara debutnya kalangan bangsawan, bukan untuk kalangan bawah, para dhampir yang ugal-ugalan.

Sebelum acara itu, aku kembali berganti pakaian. Pakaian pesta yang lebih cantik sekarang terlihat lebih pantas daripada kostum acara resmi molinja. Aku mengenakan sebuah atasan berlengan pendek, gaun ketat berwarna hijau jamrud dan menggantungkan nazar ku di leher, meskipun benda ini terlihat tidak cocok. Nazar ini adalah sebuah anting-anting kecil yang terlihat seperti sebuah mata, dengan corak yang berbeda dari warna biru yang mengelilinginya. Di Turki, tempat Abe berasal, benda ini dipercayai bisa memberikan perlindungan. Dia memberikannya kepada ibuku beberapa tahun yang lalu, dan kemudian ibuku memberikannya padaku.

Sepanjang waktu, aku mengenakan perias wajah dan menyisir rambutku yang kusut menjadi panjang, bergelombang hitam (karena perban tatoku sama sekali tidak cocok dengan gaunku), aku tidak terlihat seperti seseorang yang mampu melawan monster-monster atau bahkan melemparkan pukulan. Tidak – hal itu bahkan tidak terlalu benar, aku menyadarinya sesaat kemudian. Menatap lurus ke arah cermin, aku terkejut melihat tatapan menghantui dalam mata cokelatku. Ada rasa sakit disana, sakit dan kehilangan yang bahkan tidak bisa ditutupi oleh gaun yang sangat bagus dan riasan sekalipun.

Aku mengabaikannya dan bersiap untuk pesta itu, dengan cepat berlari ke tempat Adrian secepat yang aku bisa untuk melangkahkan kaki saat keluar dari asramaku. Tanpa sepatah kata, dia merengkuhku dalam dekapannya dan melimpahiku dengan sebuah ciuman. Aku jelas tidak waspada. Itu dapat diperhitungkan.

Makhluk yang tidak mati tidak bisa mengagetkanku, tapi satu orang Moroi yang sembrono bisa melakukannya. Dan kali ini adalah sebuah ciuman yang sesungguhnya, satu dari yang membuatku merasa bersalah karena tenggelam di dalamnya.
Aku telah memikirkan kapan kencan pertama dengan Adrian, tapi sebagian besar dari pikiran itu telah menghilang seiring berjalannya waktu. Setelah melihatnya menggoda tanpa rasa malu dan tidak beranggapan serius untuk waktu yang lama, aku tidak pernah mengira untuk melihat semacam kesetian darinya dalam hubungan kami. Aku juga tidak berharap menemukan perasaanku yang tumbuh untuknya –yang kelihatannya sangat bertolak belakang mengingat aku masih mencintai Dimitri dan membuat jalan yang tidak mungkin untuk menyelamatkannya.

Aku tertawa ketika Adrian melepaskannku. Disekitar kami, beberapa Moroi muda berhenti menonton kami. Moroi yang berpacaran dengan dhampir adalah hal yang sangat-sangat tidak umum di usia kami, tapi seorang dhampir yang terkenal dengan nama yang buruk yang mengencani keponakan kesayangan sanga ratu Moroi? Adalah hal yang tidak pernah terjadi – khususnya sejak begitu jelas betapa ratu Tatiana membenciku. Ada begitu banyak bukti saat terakhir kali aku bertemu dengannya, saat dia berteriak padaku untuk menjauhi Adrian, tetapi kata seperti itu selalu saja menghilang ditelan waktu.

“Seperti sebuah pertunjukkan?” aku menanyai penonton kami. Menyadari kalau mereka telah ketahuan, anak-anak Moroi itu bergegas melanjutkan langkah mereka. Aku berpaling ke arah Adrian dan tersenyum.

“Apa maksudnya yang tadi? Sejenis ciuman besar yang melemparkanku ke tengah tontonan publik.”
“Itu,”dia berkata dengan senang, “adalah hadiah untuk begitu banyak tendangan yang kau berikan di ujian tadi.” Dia terdiam sejenak. “Itu juga karena kau jelas sekali terlihat sangat seksi dalam pakaian ini.”

Aku memberinya tatapn masam. “Hadiah, huh? Pacar Meredith memberinya sepasang anting berlian.” Dia memegang tanganku dan mengangkat bahu saat kami berjalan ke arah pesta.
“Kau ingin berlian? Aku akan memberikanmu banyak berlian. Aku akan memandikanmu dengan berlian. Aku akan membuatkanmu gaun dari berlian. Tapi gaunnya tidak akan cukup menutupi badan.”

“Kurasa aku cukup mendapatkan ciuman itu saja,” kataku, membayangkan Adrian mendandaniku seolah aku modl pakaian renang. Atau penari galah. Perhiasan juga mendadak membawaku pada kenangan yang tidak kuinginkan. Saat Dimitri menawanku di Siberia, membuaiku dengan kebahagian sendiri karena gigitannya, ia juga memandikanku dengan perhiasan juga.

“Aku tahu kau hebat,” lanjut Adrian. Kehangatan musim panas bertiup sepoi-sepoi mengibarkan rambut cokelatnya yang selalu ia atur setiap harinya dengan sungguh—sungguh, dan dengan tangannya yang bebas, dia tanpa berpikir lagi mencoba mengaturnya kembali ketempatnya.

“Tapi aku tidak sadar berpa banyak sampai aku melihatmu menjatuhkan para pengawal disana.”

“Apakah itu maksudnya kalau kau akan menjadi lebi baik padaku?” godaku.

“Aku sudah begitu baik padamu,” katanya dengan angkuh. “Apa kau tahu betapa inginnya sebatang rokok sekarang? Tapi tidak. Aku dengan berani telah bertahan melalui penarikan diri dari nikotin – semuanya untukmu. Tapi kupikir melihatmu di luar sini membuatku harus sedikit berhati-hati untuk berada di sekitarmu. Ayahmu yang gila itu sejenis orang yang membuatku harus berhati-hati juga.”

Aku mengerang, mengingat kembali bagaimana Adrian dan Abe duduk bersama.
“Tuhan. Apa kau benar-benar harus bergaul dengannya?”
“Hey, dia mengagumkan. Sedikit sensitif, tapi mengagumkan. Kebersamaan kami menyenangkan.” Adrian membukakan pintu bangunan yang kami cari. “Dan dia hebat dengan cara dia sendiri juga. Maksudku, Seorang pria lain yang mengenakan scarf seperti itu? Dia akan ditertawakan di sekolah ini. Tapi bukan Abe. Dia melawan seseorang hampir seburuk yang akan kau lakukan. Kenyatannya ...” Suara Adrian berubah gugup. Aku terkejut menatapnya.

“Kenyatannya apa?”
“Well, Abe bilang dia suka padaku. Tapi dia juga dengan jelas menyampaikan padaku jika aku menyakitimu atau melakukan sesuatu yang jahat padamu.” Adrian meringis. “Kenyatannya, dia mendeskripsikan apa yang bisa dia lakukan dengan detil gambarannya. Kemudian, hanya dengan seperti itu, dia menggantinya dengan topik lain, acak, dan menyenangkan. Aku suka pria itu, tapi dia menakutkan.”

“Dia sudah keluar batasan!” Aku tertegun tepat di depan ruangan pesta. Melalui pintu itu, aku mendengar bunyi percakapan. Kami sepertinya merupakan yang terakhir datang. Kurasa itu artinya aku harus membuat sebuah langkah masuk yang berana dan pantas untuk menghargai para undangan.

“Dia tidak punya hak mengancam pacarku. Usiaku sudah delapan belas tahun. Aku sduah dewasa. Aku tidak butuh bantuannya. Aku bisa mengancam pacarku sendiri.”
Kejengkelanku membuat Adrian geli, dan membuatnya tersenyum malas padaku. “Aku setuju denganmu. Tapi itu bukan berarti aku tidak akan mendengarkan ‘sarannya’ dengan serius. Wajahku terlalu tampan untuk menempuh resiko itu.”

Wajahnya memang tampan, tapi itu tidak menghentikanku untuk menggoyangkan kepalaku dalam kejengkelan. Aku menggapai pemegang pintu, namun Adrian menarikku.

“Tunggu,” katanya.
Dia menarikku lagi ke dalam pelukannya, bibir kami bertemu dalam ciuman panas berikutnya. Tubuhku menempel keras padanya, dan aku menemukan diriku sendiri bingung dengan perasaanku senderi dan kesadaran bahwa aku mencapai sebuah titik dimana aku mungkin ingin lebih dari sekedar ciuman.

“Ok,” kata Adrian saat kami akhirnya selesai, “Sekarang kita bisa masuk.”

Dia masih memiliki nada ringan yang sama dalam suaranya, tapi mata hijau gelapnya, aku melihat hasrat yang menayal. Aku bukan satu-satunya yang berpikir tentang sesuatu yang lebih dari sekedar ciuman. Sejauh ini, kami menghindari diskusi tentang seks, dan dia sesungguhnya sangat baik dengan tidak menekanku. Kurasa ia tahu kalau aku belum siap setelah Dimitri, tapi di saat seperti ini, aku bisa melihat betapa sulitnya Adrian untuk menahan diri.

Hal ini melembutkan sesuatu di dalam diriku, dan aku berdiri di atas jari kakiku, aku memberikannnya ciuman yang lain.

“Apa maksudnya itu?” tanyanya beberapa saat kemudian.
Aku menyeringai. “Hadiahmu.”

Saat kami akhirnya sampai ke pesta itu, semua orang di ruangn itu menyelamatiku dengan sorakan dan senyuman bangga. Dahulu kala, aku tumbuh dengan baik sebagai pusat dari perhatian. Hasrat itu perlahan memudar, tapi sekarang, aku memasang wajah percaya diri dan menerima pujian kekasihku dengan angkuh dan bahagia. Aku mengangkat tanganku dengan perasaan berjaya, menghasilkan lebih banyak tepuk tangan dan persetujuan.

Pestaku juga hampir sekabur ujianku. Kau tidak benar-bear sadar berapa banyak orang yang peduli padamu hingga mereka semua berbali mendukungmu. Ini membuatku merasa rendah hati dan hampir menangis. Aku menyimpanperasaan itu untukku sendiri. Aku bisa mulai menangis dia pesta kemenanganku sendiri.

Semua orang ingin berbicara padaku, dan aku terus terkejut dan senang setiap kali orang yang baru menghampiriku. Tidak terlalu sering bagiku untuk bisa menemui semua orang yang begitu aku cintai dalam satu tempat, dan dengan gelisah, aku menyadari bahwa kesempatan ini mungkin tidak akan pernah datang lagi.

“Sebenarnya, kau akhirnya telah mendapatkan izin untk membunuh. Ini cuma masalah waktu.”
Aku berbalik dan bertemu mata jahil Christian Ozera, seseorang yang pernah begitu menyebalkan yang berubah menjadi seorang teman baik. Sangat menyenangkan, kenyatannya, dalam semangat kebahagianku, aku menarinya dan memeluknya – sesuatu yang sudah pasti tidak ia harapkan. Aku telah mengejutkan setiap orang hari ini.

“Whoa, whoa,” katanya melangkah mundur, wajahnya memerah. “Sangat terlihat. Kau satu-satunya cewek yang bisa begitu emosi tentang pikiran membunuh. Aku bahkan tidak ingin berpikir tentang apa yang akan terjadi ketika kau dan Ivashkov cuma tinggal berdua.”

“Hey, lihat siapa yang sedang bicara. Kau yang sudah tidak sabar untuk keluar sana.” Christian mengangkat bahu, setuju. Ini adalah aturan baku dalam dunia kami: Pengawal melindungi Moroi. Moroi tidak ikut serta dalam pertarungan. Namun setelah serangan Strigoi yang baru-baru ini terjadi, banyak dari Moroi – meskipun bukan mayoritas – telah mulai memperdebatkan kalau inilah saatnya bagi Moroi untu melangkah maju dan mulai membantu para pengawal. Pengguna api seperti Christian sesungguhnya sangat bernilai mengingat metode membakar adalah satu dari car terbaik untuk membunuh satu Strigoi (bersama dengan memasak dan pemenggalan kepala). Sekarang pergerakan untuk mengajari Moroi bertarung – dengan sengaja – terhenti di pemerintahan Moroi; tapi hal tersebut bukan berarti bisa menghentikan beberapa Moroi yang berlatih dalam kerahasiaan. Christian adalah satu diantaranya. Melirik kesamping dirinya, aku mengerjap dengan heran. Ada seseorang bersamanya, seseorang yang tidak aku sadari keberadaanya. Jill Mastrano menungu didekatnya seperti sebuah bayangan. Moroi yang baru masuk – sebenarnya, sebentar lagi menjadi siswa tingkat kedua – Jill maju sebagai seseorang yang ingin bertarung. Dia menjadi murid Christian.

“Hey, Jill,” kataku, memberikanya senyuman hangat. “Trims sudah datang.” Wajah Jill memerah. Dia memutuskan untuk belajar melindungi dirinya sendiri, tapi dia semakin menjadi kebingungan di antara yang lain – khususnya diantara ‘selebritis’ seperti aku.

Bertele-tele adalah reaksinya ketika ia gugup. “Aku memang harus datang,” katanya, menyampingkan rambut cokelat muda panjangnya yang menjuntai di wajahnya. Seperti biasa, jalinannya terlihat keriting. “Maksudku,apa yang telah kau lakukan itu sangat keren. Di ujian. Semua orang kagum. Aku dengar satu dari pengawal berkata kalau mereka belum pernah melihat yang seperti dirimu, jadi saat Christian menanyaiku apakah aku akan datang, tentu saja aku harus datang. Oh!” Mata hijau mudanya melebar. “Aku bahakan lupa mengucapkan selamat padamu. Maafkan aku, Selamat ya.”

Disampingnya, Christian berjuang untuk menjaga agar ekspresi wajahnya tidak berubah. Aku tidak berusaha sama sekali untuk menahannya dan tertawa sambil memeluk Jill juga. Aku akan berada dalam masalah serius jika berubah menjadi hangat dan berbulu. Status pengawalku bisa langsung dicabut jika aku masih seperti ini. “Terima kasih. Apa kalian berdua sudah siap menangani pasukan Strigoi?”

“Segera,” sahut Christian. “Tapi kami mungkin memerlukan bantuanmu.” Dia tahu benar sama seperti aku kalau Strigoi adalah jalan keluar dari persekutuan mereka. Sihir apinya sangat membantuku, tapi kalau dia hanya sendiri? Akan menjadi cerita yang berbeda. Dia dan Jill mengajari diri mereka sendiri untuk menggunakan sihir sebagai alat perlawanan, dan saat aku punya waktu diantara dua kelas, aku mengajari mereka beberapa gerakan bertarung.

Wajah Jill sedikit memuram. “Latihan ini akan berhenti ketika Christan pergi.”
Aku berbalik ke arah Christian. Bukan hal yang mengejutkan kalau ia akan pergi. Kami semua akan pergi.

“Apa yang akan kau lakukan dengan dirimu?” tanyaku.
Dia mengangkat bahu. “Pergi ke istana bersama kalian. Bibi Tasha bilang kami harus membicarakan masa depanku.” Dia meringis. Apapun rencana yang ia miliki, sepertinya tidak sama dengan rencana milik Tasha. Sebagian besar Moroi bangsawan akan pergi ke kampus elit. Aku tidak yakin apa yang adalam pikiran Christian sekarang. Adalah sebuah latihan standar setelah kelulusan untuk pengawal baru untuk mergi ke istana Moroi bangsawan untuk orientasi dan mendapatkan tugas mereka. Kami semua akan meninggalkan tempat ini dalam beberapa hari. Mengikuti tatapan Christian, aku melihat bibinya yang melintasi ruangan, dan tolonglah aku, dia sedang berbicara dengan Abe.

Tasha Ozera berusia dua puluh tahunan, dengan rambut hitam berkilau yang sama dan mata biru yang dimiliki Christian. Namun, wajah cantinya telah dirusak oleh hal yang mengerikan di satu sisi wajahnya – hasil dari luka yang diakibatkan oleh orang tua Christian. Dimitri telah menjadi Strigoi melawan kehendaknya, tapi Ozera dengan sengaja memilih untuk berubah menjadi Strigoi agar hidup abadi. Ironisnya harga hidup mereka terlalu sebentar setelah para pengawal memburu dan menjatuhkan mereka. Tasha membesarkan Chrsitian (saat dia tidak berada di sekolah) dan merupakan satu dari pemimpin utama dari pergerakan yang mendukung Moroi untuk bertarung melawan Strigoi.

bekas luka atau bukan, aku mengaguminya dan masih berpikir kalau ia begitu cantik. Dari tingkah yang ditunjukkan ayahku, dia juga terlihat berpikir begitu. Dia menuangkan segelas champagne untuk tasha dan berkata sesuatu yang membuat wanita itu tertawa. Dia memajukan tubuhnyam seolah sedang mengatakan sebuah rahasia, dan kemudian tertawa sabagai balasannya. Rahangku jatuh.

Bahkan meskipun dari melihatnya dari jauh, sangat jelas sekali kalau mereka sedang saling menggoda.

“Oh Tuhan,” aku menucapkannya dengan ngeri, tergesa-gesa berbalik ke arah Christian dan Jill. Wajah Christian terpecah antara puas karena ketidaknyamananku dan kegelisahannya sendiri melihat seorang wanita yang ia hormati seperti ibunya sendiri terperangkap serangan seorang pria mafia pembajak. sesaat kemudia, ekspresi Christian melembut saat ia berbalik ke arah Jill dan melanjutkan perbincangan kami.

“Hey, kau tidak perlu aku,” katanya. “Kau akan menemukan yang lain di sekitar sini. Kau akan mendapatkan klub superheromu sendiri sebelum kamu menyadarinya.”

Aku mendapati diriku tersenyum lagi, tapi rasa kesenangan mendadak hancur dengan sentakan kecemburuan. Kaget, aku melirik ke sekitarku dan mendapati dirinya di seberang ruangan, memberikan tatapan kematian saat Christian berbicara pada Jill.

Bisa dibilang cukup bernilai jika mengingtkan kalau Christian dan Lissa pernah berpacaran. Lebih dari sekedar berpacaran. Mereka benar-benar jatuh cinta dengan sangat dalam, dan sejujurnya, mereka masih merasakannya. sayangnya, kejadian yang baru-baru saja terjadi dengan sangat burut memporak-porandakan hubungan mereka, dan Christian memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka. Dia masih mencintai Lissa namun telah kehilangan kepercayaan padanya.

Lissa berbalik tidak terkontrol saat pengguna roh lain yang bernama Avery Lazar mencoba mempengaruhinya. Kami sebenarnya telah menghentikan Avery, dan kabar terakhir yang kudengar adalah kalau dia saat ini telah dikurung jauh di institusi sakit jiwa. Sekarang Christian sudah tahu alasan perilaku buruk Lissa, namu kerusakan telah selesai. Pada awalnya Lissa depresi, namun penderitaannya telah berubah menjadi kemarahan sekarang. Dia menyatakan kalau dia tidak ada urusan lagi dengan Christian, namun ikatan kami mengatakan hal sebaliknya. Dia selalu cemburu pada setiap gadis yang diajak Christian mengobrol – khususnya Jill, seseorang yang telah menghabiskan banyak waktu bersamanya. Aku tahu pada kenyataannya tidak ada hal romantis yang terjadi diantara keduanya. Jill mengidolakannya sebagai guru yang bijak, tidak lebih. Jika dia jatuh cinta pada seseorang, maka Adrian lah orangnya, yang selalu memperlakukannya seperti seorang adik kecil. Kami semua melakukannya, sungguh.

Christian mengikuti pandangan mataku dan ekspresinya mengeras. Menyadari dirinya mendapatkan tatapan Christian, Lissa segera berpaling dan mulai mengobrol dan lelaki pertama yang ia temukan, seorang dhampir ganteng dari kelasku. Dia mengaktifkan pesona godaannya yang muncul dengan mudah bagi seorang pengguna roh seperti dia, dan segera, mereka berdua tertawa dan mengobrol serupa Abe dan Tasha. Pestaku telah berubah menjadi sekumpulan kencan kilat.

Christian berpaling kearahku, “Baiklah, sepertinya terlihat kalau dia mendapatkan banyak hal untuk membuatnya sibuk.” Aku memutar mataku. Lissa bukan satu-satunya yang cemburu disini. Sama seperti ketika Lissa menjadi marah kapanpun Christian bergaul dengan gadis lain, Christian berubah menjadi berduri saat Lissa berbicara dengan laki-laki lain. Semua ini membangkitkan amaran. Bukannya mengakui kalau mereka masih sama-sama memiliki perasaan dan hanya perlu memperbaiki dan mencocokan masalah yang ada, dua orang idiot ini malah terus-terusan menunjukkan peperangan diantara keduanya.

“Maukah kau menghentikan semua ini dan mencoba untuk berbicara padanya seperti orang yang waras suatu saat?” aku mengerang.
“Tentu,” katanya pahit. “Hari dimana dia bisa mulai bertingkah sepertin orang yang waras.”

“Oh Tuhan. Kalian berdua hanya akan membuatku menjambak rambutku sendiri.”
“Hal itu hanya akan menyia-nyiakan rambut yang bagus,” sahut Christian. “Lagipula, dia membuat sikapnya terlihat sangat jelas.”
Aku mulai menunjukkan ketidaksetujuanku dan mengatakan betapa idiotnya dia, tapi dia tidak tertarik dengan berdiri di sekitar sini dan mendengarkan kuliah yang telah aku berikan lusinan kali.

“Ayo, Jill,” katanya. “Rose perlu sedikit bergaul dengan yang lain.” dengan capat ia menjauh dan aku separuh memikirkan untuk membalas ungkapannya itu saat sebuah suara baru berbicara.
“Kapan kau akan memperbaiki hal ini?” Tasha telah berdiri di sampingku, menggoyangkan kepalanya ke arah mundurnya Christian. “Mereka berdua harus kembali bersama.”

“Aku tahu hal itu. Kau juga sudah tahu. Tapi mereka tidak terlihat bisa memikirkannyya dengan benar di dalam kepala mereka.”
“Well, kau yang sebaiknya melakukannya,” katanya. “Jika Christian pergi kuliah di negeri lain, semuanya akan terlambat.” Ada nada kering – dan gusar – dalam suaranya saat menyebutkan masalah Christian yang akan kuliah.

Lissa akan kuliah di Leigh, sebuah universitas yang dekat dengan istana, sengan sebuah perjanjian dengan Tatiana. Lissa akan memasuki universitas yang lebih besar dari yang biasa dimasuki oelh Moroi kebanyakan, dengan penukaran mengahbiskan waktunya di istana dan belajar politik istana.

“Aku tahu,” sahutku juga dengan gusar. “Tapi kenapa aku yang harus memperbaiki ini?”
Tasha menyeringai. “Karena kau satu-satunya yang cukup kuat untuk membuat mereka melihat alasannya.”

Aku memutuskan untuk membiarkan keangkuhan Tasha berlanjut, lebih banyak karena saat dia berbicara padaku berarti dia tidak berbicara dengan Abe. melirik keseberang ruangan, aku mendadak mengeras. Sekarang dia sedang berbicara dengan ibuku. Percakapan mereka terputus-putus sampai di pendengaranku melalui suara ribut di pesta.

“Janine,” katanya dengan suara tenang, “kau tidak terlihat menua sedikitpun. Kau bisa menjadi kakak Rose. Apa kau ingan malam di Cappadocia?”
Ibuku tertawa kecil. Aku tidak pernah mendengar ia tertawa seperti itu sebelumnya. Aku memutuskan untuk tidak ingin mendengarnya lagi. “Tentu saja. Dan aku ingat seberapa inginnya kamu menolongku saat tali gaunku rusak.”

“Oh Tuhan,” kataku. “Dia tidak terhentikan.”
Tasha terlihat bingung sampai dia melihat apa yang sedang aku bicarakan. “Abe? Dia sebenarnya sangat menarik.”

Aku mengerang. “Permisi.”

Aku melangkah kearah kedua orang tuaku. Aku terima kalau mereka pernah mengalami kisah romantis dulu – kejadian yang mengarah ke arah pembentukkanku – tapi itu bukan berarti aku ingin melihat mereka menghidupkan kisah itu kembali. Mereka sedang mengingat peristiwa di pantai saat aku sampai di tempat mereka.

Aku segera menarik lengan Abe. Dia berdiri terlalu dekat dengan ibuku.
“Hey, bisa aku bicara padamu?” tanyaku.

Dia terlihat kaget tapi tanpak tak acuh. “Tentu.” Dia memberi ibuku sebuah senyuman isyarat. “Kita bicara lagi nanti.”

“Apa tidak ada wanita yang aman disini?” aku menuntutnya saat aku membimbingnya menjauh.
“Apa yang sedang kau bicarakan?”
Kami sampai di tempat mangkuk punch. “Kau menggoda setiap wanita yang ada di ruangan!”

Tuduhanku tidak mengganggunya. “Well, ada banyak wanita canti disini ... apa itu yang ingin kau bicarakan padaku?”

“Bukan! Aku ingin membicarakan tentang kau yang mengancam pacarku. Kau tidak punya hak melakukannya.”
Alis hitamnya naik. “Apa? Itu? Itu bukan apa-apa. Hanya seorang ayah yang menjaga putrinya.”
“Kebanyakan ayah tidak mengancam untuk mengeluarkan isi perut pacar putrinya.”
“Itu tidak benar. Dan ngomong-ngomong, bukan itu yang aku ucapkan. Sebenarnya lebh buruk dari itu.”
Aku mendesah. Dia terlihat senang dengan kegelisahanku.
“Pikirkan ini sebagai sebuah kado kelulusan. Aku bangga padamu. Semua orang sudah tahu kalau kau hebat, tapi tidak ada yang tahu kalau kau bisa sehebat itu.” Dia mengedip. “Mereka jelas sekali tidak mengharap kau akan menghancurkan properti mereka.”
“Properti apa?”
“Jembatannya.”
Aku mengerutkan dahi. “Aku harus melakukannya. Itu jalan yang paling efektif saat itu. Tuhan, itu adalah tantangan jebakan. Bagaimana nilai yang lain? Apa mereka tidak benar-benar bertarung di tengah-tengah benda itu?”
Abe menganggukkan kepalanya, senang dengan setiap menit dari pengetahuan supernya.
“Tidak satupun dari peserta lain yang berada dalam situasi itu.”
“Tentu saja mereka juga mengalaminya. Kami semua menghadapi tes yang sama.”
“Kecuali kau. Saat merencanakan ujian, para pengawal memutuskan kalau kau perlu sesuatu yang ... lebih. Sesuatu yang spesial. Lagi pula, kau telah bertarung di duna nyata di keadaan sebenarnya.”
“Apa?” tingakt suaraku menarik perhatian beberapa orang. Aku menurunkan suaraku dan kata-kata Meredit sebelumnya datang kembali menghampiriku. “Itu tidak adil!”

Dia tidak terlihat memperhatikan. “Kau luar biasa dibandingkan yang lain. Membuat kau melakukan hal mudah lah yang tidak adil.”
Aku menghadapi banyak sekali hal konyol dalam hidupku, tapi hal ini luar biasa konyol.

“Jadi mereka malahan membuatku melakukan adegan gila ketangkasan di jembatan? Dan jika mereka kaget karena aku memotong benda itu, lalu hal bodoh apa yang mereka harapkan untuk kulakukan? Cara lain apa yang harusnya kulakukan agar bisa bertahan?”

“Hmm.” Dia memegang dagunya tanpa sadar. “Sejujurnya aku tidak yakin mereka tahu caranya.”
“Oh, Tuhan. Ini sangat tidak bisa dipercaya.”
“Mengapa kau begitu marah? Kau telah lulus.”
“Karena mereka meletakanku pada sebuah situaasi yang bahkan mereka sendiri tidak tahu bagaimana cara menanganinya.” Aku menatapnya dengan curiga. “Dan bagaimana kau bahakan bisa tahu tentang hal ini? Ini semua urusan para pengawal.”

Sebuah ekspresi yang tidak aku suka muncul di wajahnya. “Ah, sebenarnya, aku bersama ibumu malam sebelumnya dan –“

“Whoa, baiklah. Hentikan saja,” aku memotong perkatannya. “Aku tidak ingin mendengan apa yang kau dan ibuku lakkan malam tadi. Kurasa hal itu lebih mengerikan dari pada kejadian di jembatan.”

Dia menyeringai. “Keduanya adalah hal yang telah lewat, jadi jangan khawatir sekarang. Nikmati kesuksesanmu.”

“Aku coba. Cukup dengan tidak melakukan apapun lagi dengan Adrian, ok? Maksudku, aku senang kau datang dan mendukungku, tapi itu sudah lebih dari cukup.”

Abe menatapku dengan tatapan licik, mengingatkanku dengan betapa angkuh dirinya sebagai lelaki yang licin dan berbahaya. “Kau lebih bahagia karena aku melakukan sesuatu untukmu setelah kembali dari Rusia.”

Aku meringis. Dia mendapatkan maksdnya, melihat ia telah mengaturkan untuk mendapatkan pesan ke dalam penjara dengan pengamanan super ketat. Meskipun pembicaraanku sama sekali tidak mengarah ke arah itu, dia masih bisa mendapatkan intinya.

“Baik,” aku mengakui. “Itu sangat mengesankan. Dan aku sangat bersyukur. Aku masih belum tahu bagaimana kau bisa melakukannya.” Mendadak, seperti sebuah mimpi yang kau ingat sehari kemudian, aku ingat pikiran yang aku pikirkan sebelum ujianku. Aku merendahkan suaraku. “Kau tidak benar-benar pergi kesana kan?”

Aku mendengus. “Tentu idak. Aku tidak akan melangkahkan kakiku di tempat seperti itu. Aku cukup menggerakkan jaringanku.”
“Dimana tempat itu?” tanyaku, berharap aku terdengar lembut.
Dia tidak tertipu. “Mengapa kau ingin tahu?”
“Karena aku penasaran! Kriminal terhukum selalu menghilang tanpa bekas. Aku pengawal sekarang dan aku bahkan tidak tahu apapun tentang sistem penjara kita. Apa hanya ada satu penjara? Apa ada banyak?”

Abe tidak langsung menjawabnya. Dia tengah mempelajariku baik-baik. Dalam bisnisnya, dia mencurigai maksud tersembunyi setiap orang. Sebagai putrinya, aku mungkin bisa curiga dua kali lipat. Ada di dalam genku.

Dia pastilah meremehkan potensi ketidakwarasanku karena dia berbicara pada akhirnya, “Ada lebh dari satu. Victor adalah satu dari yang terburuk. Penjaranya dinamakan Tarasov.”
“Dimana itu?”
“Sekarang?” dia mempertimbangkan. “Di Alaska, kurasa.”
“Apa maksudmu dengan sekarang?”
“Penjara itu berpindah sepanjang tahun. Sekarang di Alaska. Nanti, mungkin di Argentina.” dia memberiku sneyum licik, sebenarnya sedang mengira-ngira seberapa cerdik diriku. “Bisa kau tebak mengapa?”
“Tidak, aku – tunggu. Cahay matahari.” Itu membuat dugaan sempurna. “Alaska hampir mendapatkan siang terus-terusan di sepanjang tahun – tapi malam terus-terusan di musim dingin.” Kurasa dia lebih bangga dengan kesadaranku dari pada ujianku.
“Beberapa tahanan yang mencoba untuk kabur akan mendapatkan kesulitan.” Dengan terus bermandikan cahaya Matahari. tidak ada Moroi yang bisa kabur jauh. “Tidak satupun yang bisa kabur dengan tingkat keamanaan itu.” Aku mencoba mengabaikan bagaimana informasi itu tedengar seperti ramalan. “Seolah mereka di letakan cukup jauh di utara di Alaska,” kataku, berharap bisa mengeluarkan lokasi yang tepat secara tidak langsung. “Kau bisa mendapatkan banyak cahaya dengan seperti itu.”

Dia tetawa kecil. “Meskipun begitu, aku tidak akan mengatakannya padamu. Informasi ini di jaga para pengawal untuk tetap menjadi rahasia, terkubur di dalam markas mereka.”

Aku membeku. Markas....
Abe, meskipun biasanya memindai seseorang, tidak menyadari reaksiku. Matanya menatap seseuatu di seberang ruangan. “Apa itu Renee Szelsky? Oh, oh, ... dia tubuh menjadi cantik setelah bertahun-tahun.”
Denga enggan aku menyikngkir darinya, sebagian besar karena aku ingin mengejar rencana baru ini di dalam pikiranku – dan karena Renee bukanlah seseorang yang benar-benar aku kenal, yang membuatnya terkena kejutan perempuan itu.
“Well, jangan biarkan aku menghentikanmu. Pergilah pikat lebih banyak lagi wanita dalam jaringmu.”

Abe tidak membutuhkan banyak dorongan. Sendirian, aku membiarkan otakku berputar, mengira-ngira apakah skema penemuanku memiliki kesempatan untuk sukses. Kata-kata Abe memercikkan rencana baru dalam pikiranku. Rencana kali nin tidak segila rencana ku yang lain. Di seberang ruangan, aku bertemu mata hijau zamrud Lissa lagi. Dengan Christian di luar pandangan, suasana hatinya meningkat. Dia menikmati keadaan dirinya sendiri dan sedang sangat senang tentang petualangan yang akan kami lakukan, sekarang kami bebas dan ke dunia luar.

Pikiranku melayang kembali ke rasa sakit yang ku rasakan di pagi hari. Kami mungkin bebas sekarang, namun kenyataan akan menangkap kami segera. Jam berdetik. Dimitri menunggu, mengintai. Aku mengira-ngira dengan berani jika aku masih mendapatkan surat mingguannya, sekarang aku akan meninggkalkan sekolah.

Aku tersenyum padanya, merasa sedikit bersalah karena telah menghancurkan suasana hatinya saat aku mengatakan padanya kalau sekarang kami mungkin memiliki kesempatan yang sesungguhnya untuk menerobos penjara Victor Dashkov.

2 comments:

  1. Apakah sudah ada Spirit Bound terjemahan bahasa Indonesia di Jakarta??

    ReplyDelete
  2. Kalo untuk yang berbahasa Indonesia sih sepertinya belum terbit...

    ReplyDelete

 

Blog archive

Please, Keep in Touch!

©Copyright 2011 Love Your Life | TNB