Fly to Seoul : N Seoul Tower & Sebuah Puisi tentang Cinta

Wednesday, November 12, 2014 0 komentar
Ketika merpati mengharapkan sang angsa.
Ketika kelopak sakura merindukan tanah basah. 
Ketika mentari mendamba rembulan. 
Dan ketika sabana bercumbu dengan ilalang. 
Aku masih mencintaimu serupa gembok yang memagut kunci mesra. 

Sebuah Puisi tentang Cinta 

Cinta itu ibarat udara di bumi ini, adalah sebuah energi potensial yang tidak akan pernah habis kecuali saat seluruh kehidupan di bumi ini berakhir. Bagaimanapun kondisinya, siapapun pelakunya, dimanapun dramanya terlukis, berapapun angka yang tertulis di kalender, cinta akan tetap lahir dan mati dan terlahir kembali. 

Namun, masih banyak orang yang mempertanyakan cinta. Saat seorang istri dan suami bertemu di persidangan, saat seorang pacar yang dicintai memilih pasangan baru, saat seorang mantan harus menangis pasrah di pelaminan orang yang dicintainya. Ada apa dengan 'cinta'? 

Sebenarnya pertanyaan yang tepat bukan terletak pada sang 'cinta', tapi si 'kita' yang memang sebenarnya belum menemukan orang yang tepat. Bisa jadi, orang yang selama ini menjadi pasangan, pacar, suami, istri, adalah teman seperjalanan, namun kita pada dasarnya belum menemukan sang kekasih jiwa. Dan pada akhirnya, saat telah menjalani jalan yang sama, berdua, bergerak seirama, ada kalanya teman seperjalanan itu merasa letih, atau malah ingin berlari lebih cepat saat kita ingin istirahat sejenak. Pada saat itulah terkadang kita memilih persimpangan yang berbeda, atau malah berjalan dengan teman yang berbeda. 

Akan beda ceritanya jika kita memilih berjalan dengan seorang kekasih - yang sesungguhnya - dari awal. Saat sang Romeo terpuruk, Juliet akan berhenti berjalan dan mengusap bahunya mesra. Saat Ratna ingin beristirahat, Galih akan membimbingnya untuk berteduh di bawah payung akasia. Saat Engtay ingin berlari, maka Sampek pun akan mendampingi dengan irama langkah yang sama sambil terus membisikkan puisi-puisi cinta ke telinganya. 

Dan kita pun bisa melihat, ada rantai terputus antara teman seperjalan itu dengan sang kekasih pujaan. Berjalan dengan seorang teman terkadang memang akan sampai ke tujuan dengan entah membawa rasa yang masih sama atau hanya karena tidak enak untuk pergi atau mencari yang lain. Sebuah rutinitas yang absurd namun mengikat atas dasar untung rugi. Untung karena tidak perlu repot lagi mencari. Untung karena di mata makhluk lain kita sudah lengkap dan terlengkapi. Rugi jika harus pergi meninggalkan jutaan milyar detik yang sudah dihabiskan bersama teman tersebut. Rugi jika harus kehilangan banyak hal yang kata orang - kelompok manusia yang hanya menilai kita dari luar, dari apa yang mereka lihat - hampir mendekati kesempurnaan. 

Sebuah perbedaan akan terjadi saat kita memilih berjalan berpagut mesra dengan kekasih. Berhenti bersama dan berlari bersama. Kerinduan akan selalu menjadi vitamin harian. Kecemburuan akan menjadi penghangat badan. Dan kata cinta tidak akan lagi disamakan dengan bahasa lebay kosong tak bermakna. Dia akan menjadi kebutuhan pokok yang tidak akan pernah habis sampai kita dan sang kekasih menua bersama. 

Maka pertanyaan-pertanyaan baru pun timbul. Apakah teman seperjalanan tersebut tidak bisa menjadi kekasih? Setelah mungkin sekian lama berjalan bersama dan ternyata mulai mencari sosok teman baru yang lebih bisa didambakan? Dan bagaimana dengan sekarang yang masih berjalan sendiri? Dengan tuntutan batas usia wajar berdiri di pelaminan? Haruskah secepatnya mencari kekasih itu? Atau wujud kekasih tersebut akan muncul setelah adanya ikatan? Bisakah dengan sosok kita yang sekarang, saat mungkin orang-orang disekeliling kita sudah memiliki pasangan, kita akan menemukannya tersembunyi di balik reruntuhan zaman? 

Jawabannya sebenarnya klise dan sederhana. Bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Artinya, teman seperjalanan tersebut bisa saja bertransformasi menjadi kekasih hati, jika dia dan kita sama-sama memutuskan, bertindak, dan merasakan apa yang seorang kekasih lakukan dan dapatkan. Jika ingin dia menjadi kekasih, maka kita pun harus bertindak dan berucap sewajarnya seorang kekasih. 

Dan saat kita masih menari sendiri, yang kata orang membuang waktu untuk menanti hal yang tidak ada. Yang kata orang melewatkan apa yang sebenarnya berharga, melepaskan tangan-tangan yang telah terulur ke arah kita, pahami saja bahwa itu adalah kata orang, yang sama sekali tidak ada pengaruhnya untuk hidup kita. Percaya saja bahwa kesendirian itu adalah kesempatan yang diberikan Tuhan untuk kita mempersiapkan diri menjadi orang yang pantas untuk kekasih kita kelak. Kesempatan kita untuk belajar dari pengalaman-pengalaman orang-orang di sekitar kita. Akan ada masanya dimana kita akan bertemu dengan sosok kekasih sebenarnya, yang sungguh-sungguh akan membimbing kita, yang meraih pundak kita untuk dipeluk, dan memberikan bahunya untuk disandarkan. Dan pada saat itu tiba, kita akan mengerti, apa alasan Tuhan menyimpan dia untuk kita.

Namsan Tower : Lock Your Love

Dan disinilah aku berdiri, menggagumi anggunnya kota Seoul dari atas gunung Namsan, menari bersama semilir angin musim gugur yang bersenandung mesra, menyanyikan lagu cinta di salah satu tempat paling romantis di Seoul, sendirian. 

Well, sebenarnya aku tidak sepenuhnya sendirian. Aku bersama temanku dari program AOA 2013, Tin Iglesias, memutuskan untuk menggunakan waktu bebas di hari terakhir kami di negeri gingseng ini dengan mengunjungi N-Seoul Tower sebelum sang burung besi membawa kami pulang.

Sekitar pukul setengah 7 pagi kami mepersenjatai diri dengan sarapan di hotel dan mulai memutuskan untuk berangkat menggunakan alat transportasi apa. Sebenarnya aku  berbarap mantanku,  Kim So Hyun datang dan menjemput kami dengan mobilnya. Hahahahaha

Berdasarkan pengalaman teman-teman di AOA, mereka menyarankan kami menggunakan bus atau taksi. Bus memang lebih  murah, tapi karena kami benar-benar harus berkompetisi dengan sang waktu, maka kami memutuskan menggunakan taksi. Cable Car tereliminasi secara otomatis dari kotak saran karena jam buka mereka adalah jam 8 pagi yang artinya, kami masih kepagian.

Jantungku sedikit berdebar, karena lagi-lagi ini adalah pengalaman pertamaku menaiki taksi di negeri asing. Sebuah taksi berwarna biru  berhenti di depan kami, dan seorang ahjussi - paman - berambut putih duduk dikursi sopir bertanya dalam bahasa Korea yang membuat kami bertatapan mata. Kami sama-sama belum mahir berbahasa Korea - yang membuatku bertekad untuk menguasai bahasa ini sebelum aku kembali lagi ke kota ulzzang ini - tapi kami yakin kalau ahjussi ini sedang bertanya tujuan kami - pastinya, memangnya pak sopir akan bertanya apa lagi sebelum berangkat, id Kakao Talk???. 

"Namsan Tower," ucapku namun ahjussi ini masih terlihat bingung, dan aku menyesal tidak menyimpan gambar  N-Seoul Tower di handphone-ku. "N - Seoul Tower," kataku lagi dengan logat di korea-koreakan. Dan ahjussi akhirnya mengerti. Ia pun mengetikkan  nama 'N 서울타워' (N - Seoul Tower) di perangkat GPS touch screen di taksi itu,  dan sebuah petunjuk jalan muncul  beserta suara pemandu wanita  berbahasa Korea.

Entah mengapa, meskipun terasa asing, perasan aman mengalir di dalam taksi ini. Padahal kami berdua sama-sama tidak mengenal wilayahnya maupun jalan-jalannya. Kami berekendara dalam hening, mengamati lalu lintas Seoul yang belum terlalu ramai di pagi hari. Mungkin sekedar menikmati Seoul di hari terakhir kami di kota cantik nan modern ini.

Kami sampai disebuah pintu masuk, dengan N-Seoul Tower berdiri gagah di dekatnya.  Namun taksi tidak diperbolehkan masuk dan mengantar kami sampai kesana. Pilihan kami adalah berjalan kaki atau menaiki shuttle bus yang bolak-balik mengantarkan pengunjung hingga ke puncak bukit.

Untungnya sang penjaga pintu masuk ke wilayah N-Seoul Tower, fasih berbahasa Inggris - plus cakep dan masih muda hahaha. Dia menjelaskan kepada kami untuk menaiki bus dengan nomor bus tertentu dan memberikan selebaran informasi tentang peraturan baru pemerintah yang menutup jalan ke tower untuk angkutan umum agar udara disekitar tempat tersebut bebas dari polusi dan nyaman untuk dijadikan tempat bersantai, jalan sehat, ataupun lari-lari kecil.

Kami pun menaiki bus dengan ongkos sekitar ₩550 per orang dan duduk di bus yang hampir kosong itu. Jalanannya menanjak, tapi pemandangannya semakin indah. Dan sampailah kami di tempat yang hampir selalu muncul di drama romantis Korea.

Udara pagi begitu segar dan hanya beberapa orang yang terlihat. Petugas kebersihan dengan rajin merapikan sisa-sisa keseruan malam tadi, mungkin. Subhanallah, rasanya air mata tanpa permisi ikutan melongok menikmati keindahan Seoul dari sini. Aku ada disini, ditempat yang aku dambakan selama ini.

Restoran, cafee, Teddy Bear museum dan Cable Car masih belum buka memang, tapi sorakan riang kami tetap bergema di langit pagi Seoul kala itu saat melihat jutaan atau bahkan mungkin milyaran anak kunci terpasang di sepanjang pagar dan pohon-pohon buatan.

Ada sebuah mitos mengatakan kalau kita memasang sebuah gembok dengan nama kita dan pasangan disana dan melemparkan kuncinya jauh entah kemana, maka cinta kita akan bertahan selamanya. Meskipun sebenarnya banyak juga pasangan yang pada akhirnya berpisah meskipun sudah memasang puluhan kunci disini. Seperti puisi yang kutulis sebelumnya, bahwa cinta itu adalah rasa yang lahir dan berkembang bersama sang kekasih, bukan yang terkunci melalui mitos. Tapi ini pilihan.

Aku hanya mengambil pulpen dan menuliskan namaku, adikku, dan sahabat-sahabatku di sebuah kursi dan papan nama. 
Semoga, saat aku kembali kesana, tulisan ini masih ada.
 
Coba tebak, yang mana tulisanku?
 
Boleh dibawa pulang?
Kami juga mengunjungi museum Teddy Bear yang sayang sekali pada saat itu belum buka karena masih pagi. Tapi ada beberapa boneka beruang lucu di pintu depan museum yang bisa diajak berfoto bersama. 

Untungnya toko souvenir di depan museum sudah buka. Aku membeli sebuah gantungan handphone teddy bear untuk adikku dan sebuah passport case bergambar sang ratu. Yang sekarang kusesali, mengapa tidak membeli lebih banyak, padahal gantungannya imut sekali.

Sebelum pulang, kami duduk santai di bawah pohon rindang tempat lokasi Gu Jun-pyo menunggu Jan Di *hahahaha. Dan disanalah, di kursi berbeda, duduk seorang pria muda  nan tampan sedang membaca buku sambil mendengarkan entah apa dari earphone-nya sendirian. Hembusan angin meniup rambutnya pelan, seolah bergerak slow motion seperti di drama-drama romantis biasanya. Kami ingin menyapanya, sekedar basa-basi minta difotokan, dan ....

Tidak terjadi apa-apa. Ternyata mewujudkan kisah cinta spontan dan romantis itu memang hanya bisa terjadi di dunia fiksi saja. Dan keberanian memang diperlukan  dalam memulai segala hal. Tanpa keberanian, kita akan takut memulai, dan ketika takut, kita akan memilih untuk tidak melakukan apapun sama sekali, dan ketika tidak ada apapun yang dilakukan, maka tidak akan terjadi hal-hal yang menakjubkan dalam hidup kita. Itu pelajaran yang bisa kuambil dari kisah  cintaku yang tidak ada di Korea. Haha.

Sebelum pulang, aku berpamitan pada N-Seoul Tower. Kubisikkan padanya, kalau aku akan kembali lagi, dan jika saat itu tiba, aku akan membagikan kisah cintaku yang luar biasa untuknya.

Sebelum pulang kami menyempatkan diri untuk membeli beberapa banana uyu alias susu pisang. Sumpah, enak banget. Andai aku bisa membawa lebih banyak. :(
Sang Ahjussi yang baik hati.
Kami pulang dengan taksi lagi, yang lumayan lama kami tunggu. Aku sendiri sudah gelisah karena tepat jam 1 tim AOA akan diantar ke bandara untuk pulang. Untungnya kami mendapatkan taksi dan kali ini sang ahjussi - meskipun lagi-lagi tidak fasih  berbahasa Inggris - sangat ramah dan mencoba berkomunikasi dengan kami. Awalnya kami cukup kebingungan, karena sang ahjussi tidak kenal dengan hotel tempat kami menginap - atau tidak paham dengan nama hotel yang kami sebutkan. Untungnya, kami membawa sebuah kartu nama yang diberikan Key - guide tour kami yang cantik dan baik hati - untuk jaga-jaga jika kondisi semacam ini terjadi. Ahjussi pun menelepon nomor telepon di kartu tersebut dengan bahasa Korea yang panjang dan cepat dan akhirnya menemukan lokasi hotel kami. Alhamdulillah ketemu ahjussi yang baik hati. :)

Dan sampailah kami ke hotel dengan selamat, dan bersiap untuk kembali ke negara masing-masing. Sedih memang, tapi kami berjanji kalau kami akan kembali lagi kesini dan jika saat itu terjadi, aku ingin sekali pergi ke  N-Seoul Tower pada malam hari. Aku ingin menikmati berlian-berlian yang berkilauan dari cahaya lampu Seoul sambil duduk di dalam cable car bersama seseorang yang kucintai. ;)
Dengan uang koin ₩500, kita bisa menikmati pemandangan Seoul melalui
teropong ini. 

Sekilas tentang N-Seoul Tower

Seoul Tower dibuka untuk umum pada 15 Oktober 1980 dan sejak itu menjadi salah satu tujuan wisata utama di Seoul. N-Seoul Tower setinggi 236,7 m berdiri gagah di atas puncak gunung Namsan yang menyuguhkan panorama keindahan kota Seoul dan sekitarnya dari atas. Pemandanganya sangat indah dengan fasilitas modern dan  menyenangkan sehingga N-Seoul Tower bisa jadi menjadi salah satu menara terbaik di Asia.

Tiga puluh tahun kemudian, dengan jumlah pengunjung yang sudah tidak terhitung, nama Seoul Tower berganti menjadi N-Seoul Tower. Huruf  'N' pada nama tersebut diambil dari kata 'New' yang berarti simbol penampilan baru dari Seoul Tower yang memerlukan dana sekitar 15 miliar won untuk membuatnya secantik sekarang. Dengan sistem pencahayaan terbaru, koordinator N-Seoul Tower bisa mendekorasi menara sesuai dengan musim atau even tertentu.

Panduan N-Seoul Tower


1. N TOWER T5 : Restauran berputar 'N Grill'
Berlokasi di lantai paling atas menara, N Grill merupakan sebuah restauran yang unik karena bisa berputar 360° setiap 1 jam 40 menit. Dimanapun kita duduk, kita bisa melihat pemandangan Seoul dari semua arah. Restauran ini sangat popular dengan makan malam romantisnya beserta pemandangan malam yang spektakuler sehingga  biasanya setiap weekend, kursi di restauran ini sudah habis dipesan lebih dulu.

Tempat duduk yang paling populer adalah tempat duduk pasangan yang menghadap jendela. Masih ingat scene drama My Love Who Came From Another Star, saat Do Ming Jun mengajak Cheon Song Yi makan malam romantis sebelum dia menghilang? Disinilah tempatnya. :D 

Untuk memesan sebuah meja disini, sebaiknya kita sudah menelepon untuk memesan, paling tidak dua minggu lebih awal dan untuk makan disini, kita memang harus menyedikan dana yang lumayan. Sekitar ₩55.000 - ₩75.000  permenu dengan tambahan pajak 10%. Namun dengan kemewahan, keunikan, dan romantisme yang ditawarkan, sepertinya harga tersebut masuk akal, apalagi jika Anda adalah seorang pria yang akan melamar kekasihnya.

2. N TOWER T3 : Digital Observatory, Shocking Edge, dan Digital High-powered Telescope
Difasilitasi dengan teleskop berteknologi canggih pastinya bisa membuat pengunjung melihat Seoul dengan lebih indah. Ditambah lagi dengan tulisan nama kota dan nama jalan disetiap jendela kaca, membuat para pengunjung semakin penasaran untuk mencoba mencari kota-kota tersebut melalui teleskop super canggih ini.

3. N TOWER T2: Analogue Observatory, Sky Restrooms, dan Toko Suvenir.
Analogue  Observatory adalah area santai sambil ngemil dan menikmati pemandangan dari jendela kaca dengan setiap panel jendela yang memiliki panduan berbagai tempat menarik di Seoul yang dapat dilihat melalui teleskop. Hal unik lain di N Seoul Tower adakah toiletnya, sky restroom. Dari namanya saja kita sudah bisa membayangkan keunikan apalagi yang ditawarkan menara ini. Mungkin karena temanya adalah menikmati Seoul dan Seoul akan mendatangi kita disini, maka kita bahkan bisa melihat pemandangan Seoul dari toiletnya! Luar biasa :D 

Di lantai ini kita juga bisa berbelanja di toko souvenir yang disediakan. Sekedar mencari oleh-oleh khas dari Seoul, secara spesifik, khas N-Seoul Tower. :)

4. N TOWER T1: Restauran Korea Hacook
Meskipun restauran ini tidak berputar seperti N Grill, Hancook pun merupakan sebuah tempat yang keren untuk makan. Restauran bergaya Korea ini menawarkan set makan siang lengkap serta full-course set menu.
Menu: 
Full-course set menu ₩32,000 (sekitar Rp356.000)
Lunch set menu ₩22,000 (sekitar Rp245.000)
Buffet for Children untuk usia 7-12 tahun ₩9.900 (sekitar Rp111.000)
untuk usia 3-6 tahun ₩6,800 (sekitar Rp76.000)
*belum termasuk pajak
Jalan menanjak dengan berjalan kaki dari area parkir Bus ke N Seoul Tower.

Papan tanda di lantai kayu, klasik!

 Pohon kunci, ada yang ingin mencoba menghitung jumlah anak kuncinya?

 Menikmati Seoul dari atas sambil ngemil, mengapa tidak?

Beberapa pilihan cara untuk ke N Seoul Tower

(1) Cable Car 
Akses dengan taksi atau mobil pribadi memang dilarang, jadi pilihannya jalan kaki sekalian olahraga, naik bus, atau menggunakan cable car.

Dari stasiun Myeongdong, cukup perlu waktu 10 menit dengan jalan kaki ke  peron Cable Car. Menaiki Cable Car, kita akan disuguhkan pemandangan Seoul yang cantik berserta pengalaman menarik. 

Sayangnya, karena kami datang terlalu pagi, jadi Cable Car masih belum buka. Haha. Transportasi ini tersedia dari jam 10 pagi sampai jam 10.30 malam dengan biaya ₩6.300 untuk perjalanan bolak-balik dan ₩4.800 untuk sekali jalan saja.

(2) Bus
Kita juga bisa menggunakan bus berwarna kuning di stasiun Chungmuro atau stasiun di Universitas Dongguk yang akan membawa kits langsung ke area parkir N Seoul Tower. 

Dalam kasusku, aku naik taksi dari Marigold Hotel dengan biaya sekitar ₩10.000 kemudian naik bus dari area bawah gunung ke atas. Hoho. Namun meskipun mungkin tidak seseru menggunakan Cable Car, pemandangan menanjak dari dalam bus tetap memukau kok. Untuk turun lagi, kita bisa menggunakan bus yang sama yang akan datang setiap 6 menit dari jam 8 pagi sampai jam 12 malam. dengan biaya hanya ₩550. Wow.

Intinya, kalau kamu ke Seoul, pastikan kamu mengosongkan sebagian waktumu untuk menikmati kota ini dari N Seoul Tower!

This opportunity is given in Asian On Air Program 2013 by Korea Tourism Organization and Korean Air. Thanks a lot for helping me to reach my dream. I love Korea, I love my life.

Sumber: pengalaman pribadi & VisitKorea.or.kr

0 komentar:

Post a Comment

 

Please, Keep in Touch!

©Copyright 2011 Love Your Life | TNB