Spirit Bound ~ Bahasa Indonesia (Chapter 10) Part 2

by - 12:34 PM

Jeritan menusuk tajam tiba-tiba berdering di kedua telingaku.  Kami berdua mengernyit. Bunyi-bunyian  yang dimaksudkan untuk mengagetkan manusia akan menyiksa kami yang memiliki pendengaran teramat sensitif. Namun aku merasa lega. Pintu tahan apinya. Akhirnya, para idiot itu meninggalkan gedung - dan ya, aku tidak cemas memanggil teman-temanku idiot saat mereka bertindak seperti itu. Aku merasakan sinar matahari melalui ikatan ku dan Lissa dan meraskan nyaman karenanya saat taring Dimitri mendekati arteriku yang akan menumpahkan darah kehidupan dari leherku.
Aku berharap alarm itu akan mengalihkannya, namun dia terlalu lihai. Aku mencoba berontak sekali lagi, berharap aku bisa menggunakan unsur kejutan terhadap Dimitri, tapi tidak berhasil. Apa yang bisa mengejutkannya ternyata adalah pasak Eddie yang menacap di sisi perutnya.
Dimitri mengeram kesakitan dan melepaskanku dan berbalik menatap Eddie. Wajah Eddie mengeras, tidak berkedip. Ia tidak menunjukkan rasa terganggu sedikitpun dengan berhadapan dan menatap Dimitri secara langsung. Selama yang aku tahu, Eddie bahkan tidak ikut serta dalam hal ini karena Dimitri. Mungkin apa yang dia lihat di hadapannya sekarang adalah Strigoi biasa. Begitulah cara kami dilatih. Melihat monster, bukan manusia yang kami kenal dulu.
Perhatian Dimitri teralihkan dariku selama beberapa waktu. Dia ingin mencabut kematianku. Eddie adalah semacam gangguan kecil yang perlu ia bersihkan sehingga ia bisa melanjutkan permainan.
Eddie dan Dimitri menari dalam gerakan yang sebelumnya kulakukan bersama Dimitri, yang berbeda adalah Eddie tidak memahami gerakan Dimitri seperti yang aku lakukan tadi. Sehingga Eddie tidak benar-benar bisa menghindari cengkraman Dimitri di bahunya dan melemparkannya ke dinding. Gerakan itu untuk menghancurkan tengkorak Eddie, namun Eddie cukup bisa mengelak sehingga hanya tubuhnya yang merasakan efek tersebut. Masih terasa sakit, namun ia bertahan hidup.
Semua kejadian ini terjadi dalam sekian milidetik. Dan dalam kejadian sekilas itu, sudut padangku berubah. Saat Dimitri menjulang di atas tubuhku, hendak menggigitku, aku bisa menguasai rasa untuk berpikir bahwa dia adalah Dimitri, orang  yang pernah aku cintai. Terus menerus berjuang di posisi sebagai korban, dengan hidup yang hampir berakhir, aku terus menempatkan diriku sendiri dalam mode bertarung dan bertarung.
Sekarang, melihat orang lain melawan Dimitri… melihat pasak Eddie mencuat keluar dari tubuhnya… mendadak, aku kehilangan pandangan objektifku. Aku ingat mengapa aku datang kesini. Aku ingat apa yang baru saja aku pelajari dari Robert.
Rapuh. Dia sungguh masih sangat rapuh. Aku  bersumpah pada diriku sendiri bahwa saat aku menemukan kesempatan dimana Dimitri akan membunuhku dan aku belum mempelajari bagaimana cara mengembalikan Strigoi, aku akan melakukannya. Aku akan membunuhnya. Dan ini adalah kesempatanku. Antara Eddie dan aku, kami bisa melumpuhkan Dimitri. Kami bisa mengakhiri bentuk iblis ini, sesuai dengan yang dulu pernah ia inginkan.
Namun… kurang dari setengah jam yang lalu, aku telah diberikan sekeping bagian kecil harapan bahwa Strigoi masih bisa diselamatkan. Benar bahwa bagian mengenai pengguna roh melakukannya merupakan konsep yang absurd, namun Victor percaya. Dan jika seseorang seperti dia percaya …
Aku tidak bisa melakukannya. Dimitri tidak boleh mati. Tidak sekarang.
Aku berteriak bersama pasakku, sebuah serangan keras yang mendesak titik perak dibagian belakang kepala Dimitri. Dia mengaum marah dan berhasil berbalik dan mendorongku saat sedang menangkis Eddie menjauh. Dimitri memang sangat  mahir. Namun pasak Eddie semakin dekat dengan jantung Dimitri, dan tatapan mata temanku ini sangat teguh untuk membunuh Dimitri.
Perhatian Dimitri melayang diantara kami berdua, dan dalam jeda yang singkat - hanya setengah tarikan nafas - aku melihat Eddie siap dengan pasak di zona targetnya, siap untuk menusuk tepat di jantung Dimitri. Sebuah tancapan yang terlihat sekali akan sukses ditempat dimana aku gagal sebelumnya. 
Dan karena itulah, dengan gerakan yang luwes, aku menyerang dengan pasakku, menggeseknya di sepanjang wajah Dimitri dan menggeser pergelangan Eddie saat aku melakukannya. Wajah Dimitri sangat tampan. Aku benci karena aku harus merusaknya tapi aku tahu bahwa Dimitri akan sembuh. Saat aku melakukan serangan itu, aku mendorongnya, mendesaknya ke arah Eddie sehingga aku dan dia tersandung menuju pintu api yang masih menjeritkan peringatannya. Wajah dingin Eddie terkejut, dan untuk sekejap kami menemui jalan buntu: Aku yang mendorong Dimitri ke pintu, dan Eddie yang mendorong balik Dimitri. Meskipun, aku melihat keraguan di dalamnya.  Posisi ini begitu salah, dan Eddie di ambang keinginan untuk mendorong aku ke Strigoi yang mana dalam latihan yang ia pelajari hal tersebut tidak diizinkan.
Dan Dimitri telah merebut kesempatan itu. Tangannya menggapai dan meraih bahuku, mencoba menyentakkanku balik. Eddie memegang lenganku dan menarikku. Aku berteriak karena rasa kaget dan sakit. Rasanya seperti mereka sedang mencoba merobekku menjadi dua bagian. Dimitri jauh lebih kuat, namun meskipun terjebak di tengah-tengah, beratku memainkan perannya, dan aku meminjamkan kekuatanku kepada Eddie, yang menolong kami untuk mendapatkan lebih banyak pijakan. Namun masih terlalu lamban. Seperti berjalan di dalam madu. Setiap langkah maju yang kudapatkan, Dimitri berhasil menariku kembali.
Namun Eddie dan aku membuat kemajuan yang lambat dan sangat sangat menyiksa menuju pintu yang terus menjerit itu. Beberapa saat kemudian, aku mendengar dentuman langkah dan suara-suara, “Keamanan,” dengus Eddie, membuatku tersentak.
“Sial,” keluhku.
“Kau tidak akan bisa menang,” desis Dimitri. Dia berhasil mencengkram bahuku sekarang dengan kedua tangannya dan menjadi lebih kuat daripada kami.
“Benarkah? Kami akan memiliki semua pasukan Luxor Attack disini.”

“Kami akan menumpuk semua tubuh disini. Manusia,” jawabnya tidak peduli.
Diterjemahkan langsung dari Novel Vampire Academy : Spirit Bound karya Richelle Mead oleh Noor Sa'adah. This is truly fanmade and no profit work here.

You May Also Like

2 komentar

  1. Ya ampyuuunnn kakakk... Akhirnya lanjut jg nerjemahinnya... Lamaaa bgt yakk 😂😂 mudah2an stlh ini gak lama...
    Oia kakak punya VA yg ke 3 smpe yg ini versi ebook gak?? Kalo ada minta donk kak... Ato aq beli jg gapapa dehh... Cz penasaran bgt, nyari terjemahannya yg lengkap susahhh....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Ika,
      Terima kasih untuk tetap setia membaca terjemahan ini. Untuk VA ebook nya sudah tidak ada lagi. Yang beredar secara online yang hanya versi bahasa Inggri dan Spanyol. Sebenarnya masih berharap ada penerbit yang mau melanjutkan penerbitan novel ini. Karena sayang sekali kalau tidak dilanjutkan. Ada banyak fans VA yang ingin tahu cerita lanjutan atau mengoleksi novelnya dari awal.

      Delete