Spirit Bound ~ Bahasa Indonesia (Chapter 10) Part 3 - Last

by - 6:55 PM

Para manusia itu menemukan kami. Aku tidak yakin dengan kesan apa yang muncul setelah mereka melihat kami. Beberapa lelaki menyerang remaja? Mereka berteriak agar kami semua saling melepaskan diri dan berbalik ke arah mereka, menginstruksikan agar kami bertiga menghentikan pertandingan tarik-menarik ini. Kemudian mereka mencoba menangani Dimitri. Dia masih mencengkramku, namun pegangannya cukup mengendur sehingga sekali tarikan kuat Eddie dan sedikit lompatan kecilku mampu membebaskanku. Aku dan Eddie bahkan tidak menatap ke belakang, meskpun para keamanan sedang berteriak ke arah kami sekarang

Bukannya hanya mereka yang sedang berteriak. Tepat sebelum aku membuka pintu, aku mendengar Dimitri memanggilku. Ada nada tawa dalam suaranya. “Ini belum berakhir, Roza. Apa kamu sungguh berpikir bahwa ada tempat di dunia ini untuk mu melarikan diri dimana aku tidak bisa menemukanmu?” Peringatan yang sama, selalu peringatan yang sama itu lagi.

Aku melakukan hal terbaik yang aku bisa untuk mengacuhkan rasa takut dari kata-kata yang menginspirasi itu. Aku dan Eddie berhamburan ke dalam udara kering berkabut, saat sinar matahari masih bergelantungan disana, meski hari sudah sore. Kami berada di area parkir Luxor — yang tidak cukup ramai untuk bisa menyembunyikan kami. Dengan komunikasi tanpa bicara, aku dan Eddie  menerobos jalan yang sibuk, paham kalau kemampuan fisik kami mampu melampaui para manusia yang mengejar kami dan membiarkan kami menghilang di antara penuhnya orang-orang.

Dan itu berhasil. Aku tidak lagi menemukan pengejar kami. Tebakanku, para staf keamanan itu sudah memfokuskan perhatian mereka ke pria tinggi yang telah membunuh orang-orang di hotel mereka.  Suara-suara yang berteriak mengejar kami memudar, gerakanku dan Eddie akhirnya melambat dan berhenti di depan New York-New York, dan kembali, bahkan tanpa berbicara, kami segera masuk ke dalam hotel.  Bangunan hotel ini memiliki tata letak yang memutar dan memiliki lebih banyak kerumunan dari pada di Luxor, dan kami dengan mudah membaur di dalamnya sampai kami bisa menemukan dinding kosong yang bearda di bagian sisi kasino hotel.

Pelarian ini sangat sulit bahkan untuk kami, dan perlu waktu untuk kami agar bisa bernafas normal saat kami berdiri disini.  Aku tahu segalanya menjadi serius saat Eddie akhirnya berbalik ke arahku, dan api kemarahan menyala di wajahnya, Eddie selalu memberikan gambaran tenang dan terkontrol, bahkan sejak penculikan pertama oleh Strigoi yang dialaminya tahun lalu. Kejadian itu membuatnya keras, membuatnya lebih kuat untuk menghadapi segala tantangan. Tapi oh, apakah dia sedang marah padaku sekarang?

“Apa maksudnya tadi?” seru Eddie. “Kau membiarkannya kabur!”

Aku menampilkan ekspresi wajah yang keras sebaik yang aku bisa, tapi sepertinya dia akan mengalahkanku hari ini. “Apa? Apakah kau lupa bagian dimana aku menyayatnya dengan pasakku?”

“Aku sudah memiliki jantungnya! Aku sudah hampir sukses menikam jantungnya, dan kau menghentikanku!”

“Keamanan sudah datang. Kita tidak punya cukup banyak waktu. Kita harus pergi dari sana, dan kita tidak bisa membiarkan para keamanan itu melihat kita yang melakukan pembunuhan.”

“Aku tidak yakin diantara mereka masih ada yang tersisa untuk melaporkan bahwa mereka melihat sesuatu,” sambar Eddie sama kerasnya. Dia terlihat mencoba mengembalikan ketenangan dirinya. “Dimitri meninggalkan setumpuk mayat disana. Kau tahu itu. Mereka mati karena kau tidak membiarkanku menusuk jantungnya.”

Aku tersentak, sadar bahwa Eddie benar. Seharusnya tidak berakhir disana. Aku tidak benar-benar melihat berapa jumlah para penjaga keamanan itu. Sudah berapa banyak yang tewas? Mereka tidak ada hubungannya. Hanya fakta bahwa orang-orang yang tidak berdosa tewas disana. Bahkan satu pun sudah terlalu banyak. Dan semua itu karena kesalahanku. 

Diamku membuat Eddie menekanku. “Bagaimana bisa dari semua orang, kau yang malah melupakan pelajaran itu? Aku tahu dia pernah menjadi instrukturmu - dulu. Tapi dia bukan lagi orang yang sama. Mereka mengulangi pelajaran itu berulang-ulang kali kepada kita. Jangan pernah ragu. Jangan pernah berpikir bahwa dia adalah orang yang sama.”

“Aku mencintainya,” aku berkata tanpa berpikir. Eddie tidak pernah tahu, Hanya sedikit orang yang tahu mengenai kisah romantisku dengan Dimitri dan apa yang terjadi di Siberia.

“Apa?” Eddie berteriak dengan terengah-engah. Kemarahannya berubah menjadi kekagetan yang luar biasa.

“Dimitri… dia lebih dari sekedar instrukturku…”

Eddie kembali menatapku untuk beberapa detik yang berat. “Dulu” katanya akhirnya.

“Hah?”

“Dia dulu lebih dari sekedar instruktur bagimu. Kau pernah mencintainya.” Saat kebingungan Eddie menghilang. Dia kembali menjadi seorang pengawal, tanpa simpati. “Aku minta maaf, namun itu semua sudah masa lalu, apa pun yang pernah terjadi antara kalian berdua. Kau harus tahu itu. Orang yang kau pernah cinta sudah tiada. Lelaki yang baru saja kau lihat itu? Bukan lah orang yang sama.”

Perlahan aku menggelengkan kepalaku. “Aku… aku tahu. Aku tahu itu bukan dia. Aku tahu dia sudah menjadi monster, tapi kita bisa menyelamatkannya…jika kita bisa melakukann apa yang Robert katakan pada kita tentang…”

Mata Eddie melebar, untuk sesaat, dia terkesiap. “Jadi semua hal ini tentang itu? Rose, itu konyol! Kau tidak bisa mempercayainya. Strigoi itu sudah mati. Mereka sudah tidak ada bagi kita. Robert dan Victor cuma mengumpani kita dengan bualan sampah.”

Sekarang aku yang kaget. “Lalu mengapa kau bahkan ada disini? Kenapa kau terlibat dengan kami?”

Eddie mengibaskan tangannya dengan jengkel. “Karena kau adalah temanku. Aku tetap disini bersamamu melalui semua ini… membebaskan Victor, mendengarkan ocehan gila saudaranya… karena aku tahu kau membutuhkan aku. Kalian semua melakukannya, untuk memastikan kau tetap aman. Aku pikir kau benar-benar memiliki alasan yang sesungguhnya untuk mengeluarkan Victor - dan bahwa kau akan mengembalikan dia ke penjara. Apakah ini terdengar gila? Ya! Tapi itu normal jika semua ini dari kau. Kau selalu memiliki alasan yang bagus dengan apa yang kau lakukan.” Eddie mendesah. “Tapi ini… ini sudah di luar batas. Membiarkan Strigoi pergi hanya untuk mengejar sebuah teori- sebuah teori yang mungkin tidak benar-benar bekerja - adalah sepuluh kali lebih buruk dari apa yang telah kita lakukan untuk Victor. Ratusan kali lebih buruk. Setiap hari Dimitri berjalan di dunia adalah hari-hari lain dimana orang-orang akan mati.”

Aku terduduk, bersandar di dinding dan menutup mataku, merasakan mual di perutku. Eddie benar. Aku sudah mengacaukan semuanya. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan membunuh Dimitri jika aku berhadapan dengannya sebelum kami menemukan solusi Robert. Harusnya semuanya berakhir hari ini… namun aku terhenti. Lagi.

Aku membuka mataku dan menaikkan wajahku, aku perlu menemukan tujuan baru sebelum aku meledak dengan air mata di tengah-tengah kasino. “Kita harus menemukan yang lain. Mereka di luar sana tanpa perlindungan.”

Mungkin hanya itu yang bisa menghentikan Eddie menceramahiku. Insting tugas kami kembali datang. Melindungi Moroi.

“Apa kau tahu dimana Lissa sekarang?”

Ikatanku tetap membuat ku terkoneksi dengan Lissa selama pelarian kami, namun aku tidak membiarkan diriku menyelidiki lebih dalam selain membenarkan bahwa dia masih hidup dan baik-baik saja. Aku memperluas ikatan itu sedikit lebih jauh. “Diseberang jalan, di MGM.” Aku telah melihat sebuah hotel saat kami berlari ke hotel yang ini, namun tidak menyadari bahwa Lissa ada di dalam sana. Sekarang aku bisa merasakannya, bersembunyi dibalik kerumunan seperti yang kami lakukan sekarang, ketakutan namun tidak terluka. Aku lebih memilih dia dan yang lain berada di bawah matahari, namun insting membuat Lissa mencari perlindungan di balik dinding-dinding. 

Eddie dan aku tidak lagi berbicara mengenai Dimitri saat kami menuju kesana dan menyebrangi jalanan yang padat. Langit sudah berubah berwarna kejingga-jinggaan, tapi aku masih merasa aman di luar sini. Jauh lebih aman dari pada di aula Luxor. Dengan ikatan kami, aku selalu bisa menemukan Lissa dan tanpa ragu, aku menuntun Eddie melalui lorong berputar MGM dan berbelok - sejujurnya,  tata ruang tempat ini terus dan terus membingungkan - hingga kami melihat Lissa dan Adrian berdiri di dekat jejeran mesin kasino. Adrian sedang merokok. Lissa melihatku, berlari, dan memelukku.

“Oh Tuhan. Aku sangat takut. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan kalian. Aku benci cara ikatan satu arah ini.”

Aku memaksa diriku tersenyum padanya. “Kami baik-baik saja.”

“Dengan memar,” Adrian merenungkan ucapanku sambil berjalan-jalan. Aku tidak meragukannya. Dalam perkelahian yang penuh adrenalin, sangat mudah untuk tidak menyadari adanya luka atau rasa sakit. Kemudian, setelah pertarungan usai, kau mulai menyadari apa yang telah kau dapatkan di tubuhmu. 

Aku sangat bersyukur bisa melihat Lissa baik-baik saja sampai aku menyadari apa yang hilang saat Eddie lebih dulu menyadarinya. “Kalian berdua, dimana Victor dan Robert?”

Wajah bahagia Lissa kusut, dan bahkan Adrian terlihat suram. “Sial,” kataku, tanpa perlu penjelasan lagi.


Lissa mengangguk, matanya melebar dan putus asa. “Kami kehilangan mereka.”
Diterjemahkan langsung dari Novel Vampire Academy : Spirit Bound karya Richelle Mead oleh Noor Sa'adah. This is truly fanmade and no profit work here.

You May Also Like

2 komentar