facebook twitter instagram pinterest google+

Love Your Life

  • Home
  • About
  • Literature
    • Poem
    • Short Story
    • Essay
    • Photoshop
  • Travel Story
    • Korea
    • Kalimantan
    • Bali
    • Java
    • Coffee Shop
  • Vampire Academy
    • Spirit Bound
    • Blood Promise
    • Shadow Kiss

Aku yang masih menatap segelas kopi itu
hingga dingin 
mengingat detakan jam dinding
yang terhitung
dan terbuang
dalam puing-puing
kenangan
- Miss Enoey

Menjamurnya tempat nongkrong di Banjarmasin, membuat masyarakat Banjarmasin semakin memiliki banyak pilihan untuk menghabiskan waktu dengan meminum kopi, mengobrol sejenak dan berbagi cerita dengan kawan lama, hingga hunting  foto di tempat-tempat yang 'instagramable'.

Salah satu tempat nongkrong yang baik rasa kopi dan suasana tempat yang menawarkan rasa nyaman, adalah Office Cofee yang terletak di Jalan Haryono MT No. 5 Banjarmasin. Menyuguhkan suasana ngopi yang santai, simple, casual, dan sangat photo-able sekali. Ada pojok buku yang menjadi tempat favorit para pengunjung untuk berfoto atau sekedar menggunakan bukunya untuk item pelengkap foto kopi mereka.


Untuk harga kopi dan cake, standar coffee shop sekitar 30 ribuan ke atas. Sesuai dengan rasa yang ditawarkan untuk segelas kopi dan kehangatan dari tempatnya.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

I'm not a Juliet, who can fall in love for the first time with a handsome strange guy in a mask ball.
I'm not a Cinderella, who can withstand with the pain, some torture, slavery, to get a prince who search his true love just by a glass slipper.
I'm not a Mermaid, who help her love to life but she is left by him for another woman and she became the froth in the sea.
I'm indubitably not a perfect woman who is pretty, smart, wise, understanding, and can do anything that you want. 
But I'm the one who will complete every your imperfection with my imperfection to make us perfect. -- a night poem by me 


Di tengah-tengah kesibukan yang melanda hari-hari kerja yang seringkali menjenuhkan otak, alam bisa menjadi obat penawar sejenak. Apalagi jika alam tersebut menghadirkan nuansa yang bisa mengundang kita untuk menjadi diri sendiri atau kembali menjadi anak kecil : berteriak, lompat, dan tertawa keras.

Salah satu lokasi yang bisa menjadi obat penawar itu ternyata seringkali bisa kita temukan tak jauh dari tempat kita bekerja, banting tulang demi sebongkah berlian. Haha. Adalah Danau Biru atau Blue Lake yang berlokasi di Pengaron, Kalimantan Selatan, lebih kurang 2 jam perjalanan dari Banjarmasin.

Danau ini merupakan danau bekas galian tambang batu bara, jadi sebenarnya tempat ini merupakan hasil dari kerusakan alam yang dibuat manusia namun diciptakan indah oleh Tuhan.


Seberapa besar pun kerusakkan yang telah diciptakan manusia di bumi ini, jika Tuhan berkehendak menjadikannya indah, maka ia akan terbentuk menjadi sebuah anugerah... dan seberapa besar pun manusia berusaha untuk menciptakan sesuatu yang baru dengan melahirkan kerusakan itu, jika Tuhan berkehendak menghancurkannya, jangankan bernafas, lahir pun ia tidak. -- a morning poem by me


Warna air danau yang biru jernih benar-benar mengundang para pengunjunnya untuk langsun terjun dan merasakan segarnya air disana. Apalagi saat kita datang dalam keadaan musim kemarau seperti sekarang ini, air genangan itu sangatlah menggoda. Adanya ikan-ikan Seluang kecil yang berenang di dalamnya bisa dijadikan indikator kalau air tersebut aman untuk diceburin. 

Namun, jika kita mengunjungi danau ini di musim kemarau, debit air di danau tidak setinggi di musim penghujan dan tumbuhan ilalang kering kerontang, bahkan tidak terlalu banyak terlihat seperti pada beberapa gambar di atas yang diabadikan dimusim tidak-se-kemarau-sekarang.

Sampai di Danau Biru ini terasa sangat memuaskan dan sebanding dengan jalan yang harus dilalui - naik-turun-naik jalan berbatu dan berpasir yang sedikit 'horror'. Terakhir kesana, ada orang-orang yang memanfaatkan tempat ini sebagai lahan mencari penghasilan. Jadi, mereka mengenakan tarif masuk yang tidak menggunakan standar tertentu, alias bisa ditawar. Sebut saja mereka mawar-melati yang menunggu di depan tanjakan masuk dan meminta uang 'tiket' sekitar 20 ribu rupiah. Sebagai saran, dikasih saja daripada bikin kunjungan wisata ribet. Hehe.



Foto-foto dalam postingan ini no-filter alias original dari jepretan kamera Samsung Galaxy Note 2 tanpa filter apa pun, yang artinya, danaunya benaar-benar sebiru dan sejernih difoto tersebut.

Direction to Blue Lake, Pengaron:
Dari Banjarmasin, terus jalan ambil arah ke Martapura. Dari Martapura, terus saja menuju Binuang.  Sebelum Binuang, ada sebuah mesjid sebelah kiri bernama Mesjid Jami Simpang Empat, diseberang mesjid tersebut atau tepatnya di sebelah kanan terdapat jalan menuju Pengaron - ada papan nama petunjuk arah bertuliskan Pengaron di depannya. Masuk saja terus hingga menemukan simpang empat, belok kiri dan ikuti jalan menanjak ke daerah pertambangan. Terus saja ikuti jalan tersebut dan kita akan menemukan beberapa bekas galian tambang. Sebelum ke Danau Biru di atas, kita akan melewati sebuah Danau Biru besar. Tepat di sebuah jalan bercabang - kiri menurun dan kanan ke atas - ambil jalur sebelah kanan dan naik. Di sebuah jalan bercabang ambil cabang ke kanan dan naik. Disana kita akan menemukan sebuah warung dan area parkir liar. Dan kita sudah sampai di Danau Biru, Pengaron.



Direction to Blue Lake, Pengaron:
From Banjarmasin, go straight to Martapura.  From Martapura, continue further to Binuang. Before Binuang, there is a mosque on our left named Jami Simpang Empat Mosque. There is a road across the Mosque to Pengaron - or in our right side. There is a signboard in front of the street which is written 'Pengaron' on it. Go straigth on this road till we find an intersection. Turn left and follow the uphill road to the mining areas. Before we find the small Blue Lake in my pictures above, we will find the big one on our right. Just go straight till you find t-junction which is left to the downhill and left to the uphill. Choose the uphill or our right and then you will find other t-junction again. Turn left where we'll find another uphill road and then follow the uphill one and we'll find a stall and the park area and we are in Blue Lake, Pengaron.

See you again, Blue Lake!
Share
Tweet
Pin
Share
3 komentar
Masih ingat dengan Tinky Winky, Dipsy, Lala, & Po? Keempat sohib warna-warni di zaman kita masih unyu-unyunya? Yep, they are teletubbies, empat boneka lucu--- makhluk berantena yang di perutnya bisa muncul televisi hahaha --- yang muncul dari dalam bukit-bukit hijau bersama sang mentari berbentuk kepala bayi yang lagi ketawa-ketiwi --- yang entah mengapa pada saat itu terlihat lucu banget, padahal dia memiliki konsep yang sama dengan makhluk astral yang beken di pulau Kalimantan, Kuyang :D. Tapi bukan kepada Teletubbies-nya objek pembicaraan saya akan menuju, melainkan pada bukit tempat tinggal merekalah tulisan ini akan bermula, Bukit Teletubbies.

Well, sebenarnya saya sedang tidak mengajak Anda untuk bernostalgila. Hanya saja saya ingin berbagi nostalgia yang saya alami saat ke sebuah tempat yang dinamai 'Bukit Teletubbies' ini.

Bukit Teletubbies --- bukan nama sebenarnya hehehe --- atau Bukit Rimpi adalah sebuah lokasi perbukitan hijau yang sedang hits saat ini di wilayah Banjarmasin dan sekitarnya. Tepatnya berlokasi di kabupaten Tanah Laut, Pelaihari dengan jarak sekitar ... km dari kota. Jalan yang dilalui lumayan bagus, didominasi dengan jalan beraspal, jadi kita bisa mengendarai mobil hingga ke kaki bukit. Ada banyak tempat parkir mobil dan kendaraan bermotor yang disediakan oleh masyarakat setempat. Dari tempat parkir tersebut, kita langsung bisa berjalan kaki untuk mendaki bukit yang sebenarnya sangat dekat dengan pemukiman warga. Bentuknya yang mirip dengan tempat hidup kawan lama kita, si Tinky Winky bersaudara, membuatnya mendapat julukan Bukit Teletubbies.

Bukit ini sendiri originalnya adalah tempat para warga melepas sapi-sapi mereka untuk merumput. Jadi, tak heran kita bisa menemukan kotoran sapi dimana-mana. Hahaha. Namun, hal tersebut ternyata tidak menjadi pantangan bagi masyarakat yang ingin mengunjungi bukit ini. Terbukti dengan jumlah pengunjung yang ternyata cukup banyak dengan rentang usia yang bervariasi.

Entah karena masyarakat sudah mulai bosan dengan wisata pantai, atau karena sudah mulai jengah dengan tempat-tempat wisata yang semakin hari semakin kotor dan mulai berubah menjadi tempat pembuangan sampah, masyarakat Kalimantan Selatan, dari anak-anak sampai orang dewasa, sepertinya mendapat mainan baru --- atau mungkin tempat sampah baru --- untuk dikunjungi.

Ada dua hal yang bisa kita soroti dari Bukit Rimpi a.k.a Teletubbies ini. Bahwa yang pertama, Kalimantan Selatan ini memiliki titik-titik wisata yang tidak kalah keren dengan tempat-tempat wisata di Pulau Jawa. Namun yang kedua bahwa, sangat disayangkan sekali ternyata faktanya tempat-tempat wisata di Kalimantan Selatan ini tak ubahnya pasar malam. Keseruannya meninggalkan tumpukan sampah dimana-mana dan kerusakan ekosistem yang ada di dalamnya. Luar biasa dan luar binasa!

Dan satu hal yang harusnya bisa kita ingat bahwa ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah sebagai pengelola yang bertanggung jawab atas kekayaan alam yang berada di dalam wilayahnya, tapi juga merupakan tanggung jawab kita sebagai masyarakat --- terutama yang suka mengunjungi tempat-tempat wisata tersebut.

Indahnya alam jika kita bisa menjaganya, hanya dengan langkah kecil seperti dengan membuang sampah pada tempatnya --- atau kalau perlu dikantongin dulu sampai menemukan tempat sampah. Bayangkan atau rasakan, betapa indah, keren, dan nyamannya tempat-tempat wisata di Kalimantan Selatan ini jika dalam keadaan terawat, bersih, dan rapi.  Kita pasti tidak akan bosan untuk mengunjungi tempat-tempat wisata sendiri, sehingga tidak perlu iri dengan pulau Bali. Bahkan tidak hanya wisatawan lokal, wisatawan luar pun bisa jadi akan sangat tertarik dengan wisata kita yang ada di sini.

Jangan sampai kita --- terutama masyarakat Kalimantan Selatan --- hanya menjadi pengunjung dan  penikmat alam yang aslinya adalah perusak masal kekayaan alam sendiri. Namun, jadilah pengunjung yang bijak dan mencintai alam.

Yuk jaga alam kita, sehingga bisa terus kita nikmati indahnya dan supaya kita bisa berbagi dengan dunia. Indonesia itu kaya, dan Kalimantan Selatan ini Bungas (cantik), dan sudah seharusnya kita jaga sehingga dunia melihat ke arah kita. Jangan biarkan anak cucu kita nanti tergila-gila dengan keindahan negara-negara lain, tanpa mengenal keindahan negaranya sendiri. ;)
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

AUTHOR

AUTHOR
TWILIGHT HUNTER, AN AUTHOR & AN ORDINARY ACOUSTIC PERFORMER WHO'S CRAVING FOR BEAUTY PICTURES

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • pinterest
  • google+
  • instagram
  • bloglovin

Labels

  • BOOK
  • CATATAN KULIAH
  • CHICKEN SOUP
  • CONTEST
  • FASHION
  • MOVIE
  • MUSIC
  • REVIEW
  • TES POTENSI AKADEMIK
  • TRAVEL STORY
  • VAMPIRE ACADEMY

Total Pageviews

Powered by Blogger.
Facebook Twitter Instagram Pinterest Bloglovin

Created with by BeautyTemplates