facebook twitter instagram pinterest google+

Love Your Life

  • Home
  • About
  • Literature
    • Poem
    • Short Story
    • Essay
    • Photoshop
  • Travel Story
    • Korea
    • Kalimantan
    • Bali
    • Java
    • Coffee Shop
  • Vampire Academy
    • Spirit Bound
    • Blood Promise
    • Shadow Kiss
MENURUTKU, DENGAN TIDAK MENYEBUT-NYEBUT PEMBICARAANKU TERHADAP IBUNYA adalah hal yang tepat untuk kulakukan terhadap Adrian. Aku tidak membutuhkan kekuatan gaib untuk merasakan perasaannya yang bercampur baur saat kami berjalan menuju kamar tamu. Ayahnya membuatnya kesal, namun penerimaan ibunya terlihat mampu membangkitkan semangatnya. Aku tidak ingin merusaknya dengan membiarkannya tahu kalau ibunya menerima kami berpacaran karena dia menduga kalau hubungan kami hanya sementara, cuma sebatas kesenangan.

“Jadi kau akan pergi dengan Lissa?” tanyanya saat kami sampai ke kamarku.

“Yup, maafkan aku. Kau tahu -- hal-hal cewek.” Dan dengan kata ‘hal-hal cewek’, maksudku adalah berpisah dan masuk. Adrian terlihat sedikit kecewa, tapi aku tahu dia tidak akan cemburu dengan persahabatanku dan Lissa. Dia tersenyum kecil dan melingkarkan tangannya di pinggangku, merunduk untuk menciumku. Bibir kami bertemu, dan kehangatan yang selalu mengejutkanku mengalir ke dalam tubuhku. Setelah beberapa saat yang manis, kami berpisah, namun tatapan matanya mengatakan kalau hal ini tidak mudah untuknya.

"Sampai jumpa lagi," kataku. Dia memberiku satu ciuman cepat dan kemudian kembali ke kamarnya.

Aku segera menemui Lissa, yang sedang santai di kamarnya. Dia sedang menatap sebuah sendok perak dengan tajam, dan melalui ikatan kami, aku bisa merasakan apa maksudnya melakukan hal itu. Dia sedang mencoba memasukkan kompulsi roh ke dalam sendok itu, jadi siapa pun yang memegangnya akan merasa bahagia. Aku menebak-nebak apakah dia melakukannya untuk dirinya sendiri atau hanya melakukan percobaan secara acak. Aku tidak menggali pikirannya untuk mencari tahu.

"Sebuah sendok?" tanyaku geli. Dia mengangkat bahu dan meletakkan sendoknya.

"Hey, tidak mudah untuk membuat roh masuk ke dalam perak. Aku harus menggunakan apa yang bisa aku dapatkan."

"Well, benda itu dibuat untuk pesta makan malam yang menyenangkan," dia tersenyum dan meletakkan kakinya di atas meja kopi eboni yang berada di tengah-tengah ruang tamu kecil mewahnya. Setiap kali aku melihatnya, aku tidak bisa menolak untuk tidak mengingat barang-barang berwarna hitam dan mengkilat yang berada di ruangan tahanan mewahku dulu di Rusia. Aku telah melawan Dimitri dengan sebuah pasak yang terbuat dari kaki meja yang memiliki bentuk yang sama.

"Ngomong-ngomong, bagaimana pesta makan malammu?"

"Tidak seburuk yang aku bayangkan," aku mengakui. "Meskipun aku tidak pernah mengira seberapa kurang ajarnya ayah Adrian. Tapi ibunya sebenarnya cukup keren. Dia tidak masalah mengetahui kalau aku dan Adrian berpacaran."

"Ya, aku sudah pernah bertemu dengannya. Dia baik, meskipun aku tidak pernah berpikir kalau dia cukup baik untuk menerima hubungan skandal. Tebakanku yang mulia tidak datang, kan?" Lissa bercanda, jadi responku mengagetkannya.
"Dia datang, dan ... sebenarnya tidak terlalu buruk juga."
"Apa? Apa kau baru saja bilang 'tidak terlalu buruk'?"
"Aku mengerti, mengerti. Terdengar gila memang. Sebenarnya itu hanya kunjungan cepat untuk Adrian, dan dia bereaksi seolah bukan masalah melihatku ada disana." Aku tidak menyebutkan tentang pandangan politik Tatiana tentang para Moroi yang berlatih untuk bertarung. "Tentu saja, siapa yang bisa tahu apa yang akan terjadi jika dia bertahan lebih lama lagi saat tu? Mungkin dia akan berubah menjadi dirinya yang biasa. Aku mungkin memerlukan satu set perlengkapan perak kalau begitu -- untuk menghentikanku melemparkan pisau kearahnya."
Lissa mengerang. "Rose, kau tidak bisa membuat lelucon dari hal seperti itu."
Aku menyeringai. "Aku mengucapkan hal yang tidak berani kau ucapkan." Ucapanku mengembalikan senyuman di wajah Lissa.
"Sudah lama aku tidak mendengarnya," katanya lembut.

Perjalananku ke Rusia telah meretakkan persahabatan kami -- yang berakhir dengan menunjukkan betapa berartinya persahabatan itu untukku. Kami menghabiskan sisa waktu santai kami dengan membicarakan Adrian dan gosip yang lain. Aku lega melihatnya mulai lupa dengan perasaannya tentang Christian, namun selama waktu berlalu, rasa pusingnya tumbuh karena misi tertuda kami bersama Mia.

“Ini akan baik-baik saja,” kataku saat waktunya tiba. Kami sedang menuju halaman istana, berpakaian jeans dan kaos yang nyaman. 
Rasanya menyenangkan bebas dari jam malam sekolah, dan lagi , keluar di bawah sinar matahari yang cerah tidak membuatku merasa sangat tersamarkan.
“Hal ini akan mudah.”

Lisa menatapku namun tidak berkata apa pun. Para pengawal adalah penjaga yang keras dan kuat dalam dunia kami, dan ini adalah markas besar mereka. Menerobos masuk tidak akan menjadi apa pun selain menjadi hal yang mudah.

Mia terlihat telah menetapkan hati saat kami bertemu dengannya, namun begitu, aku merasa terdorong oleh sikapnya -- dan dia mengenakan pakaian serba hitam. Benar, pakaian itu tidak akan bekerja terlalu banyak di bawah sinar matahari, namun seragam itu membuat semuanya terasa lebih resmi. Aku hampir mati penasaran karena ingin tahu apa yag terjadi dengan Christian, dan Lissa juga merasakannya. Lagi-lagi hal itu merupakan satu dari banyak topik yang lebih baik dibiarkan untuk tidak dijelaskan.

Namun, Mia menjelaskan rencananya pada kami, dan sejujurnya aku merasa hanya 65 persen kesempatannya kalau hal ini akan berhasil. Lissa merasa tidak nyaman dengan perannya karena memasukkan kompulsi di dalamnya, tapi dia adalah berperan sebagai seorang pengaman dan setuju melakukanya. Kami mempersiapakan segalanya secara rinci beberapa kali dan kemudian mlali bergerak ke arah bangunan yang merupakan tempat para penjaga beroperasi. Aku pernah sekali kesana, saat Dimitri membawaku untuk melihat Victor di sekat sel yang berdekatan dengan penjaga. Aku tidak pernah menghabiskan banyak waktu di kantor pusat sebelumnya, dan seperti yang telah diprediksikan Mia, hanya ada sedikit staf di siang hari.

Saat kami masuk, kami langsung bertemu dengan wilayah penerima tamu seperti yang sering kalian temui di kantor-kantor administrasi yang lain. Seorang pengawal yang terlihat galak duduk di sebuah meja dengan komputer, rak berkas, dan meja disekelilingnya. Dia mungkin tidak memiliki banyak hal untuk dilakukan di malam hari, tapi dia jelas masih dalam tingkat kewaspadaan yang tinggi. Dibelakang ada sebuah pintu, dan itu menarik perhatianku. Mia telah menjelaskan sebelumnya kalau pintu itu adalah jalan masuk ke semua rahasia pengawal, catatan-catatan mereka dan kantor utama -- dan merupakan daerah pengawasan yang mengawasi daerah-daerah beresiko tinggi di istana.

Galak atau tidak, laki-laki itu tersenyum kecil untuk Mia. “Bukankah sekarang sudah sedikit malam untukmu? Kau tidak berada disini untuk belajar, kan?”

Mia menyeringai balik. Dia pastilah satu dari pengawal yang akrab dengannya selama di istana. “Ah, hanya berjalan-jalan dengan beberapa teman dan ingin menunjukkan tempat disekitar sini.”

Dia mengangkat alisnya saat melihatku dan Lissa. Dia memberikan tundukan hormat kecil tanda mengenal. “Putri Dragomir. Pengawal Hathaway.”

Sepertinya reputasi kami telah mendahului kami. Itu adalah pertama kalinya aku dipanggil dengan gelar baruku. Itu mengejutkanku dan membuatku merasa sedkit bersalah karena mengkhianati kelompok dimana aku baru saja masuk di dalamnya.

“Ini Don,” kata Mia. “Don, Sang putri ingin meminta bantuan.” Dia menatap Lissa penuh arti. Lissa menarik napas panjang dan kemudian aku merasakan terbakarnya sihir kompulsi melalui ikatan kami saat ia memfokuskan tatapanya ke arah Don. 

“Don,” katanya sungguh-sungguh, “berikan kami kunci dan kode untuk berkas catatan di bawah. Dan kemudian pastikan kamera-kamera di daerah tersebut telah mati.”

Dia merengut. “Mengapa aku harus --“ namun saat mata Lissa terus menatapnya, aku bisa merasakan kompulsi itu menguasainya. Garis-garis di wajahnya perlahan berubah penuh kerelaan, dan aku menghembuskan nafas lega. Beberapa orang cukup kuat untuk menolak kompulsi -- khususnya Moroi biasa. Kompulsi Lissa lebih kuat karena roh, meskipun kau tidak pernah tahu jika seseorang mungkin saja bisa melawannya.

“Tentu saja,” katanya, berdiri. Dia membuka sebuah laci meja dan menyerahkan satu set kunci kepada Mia yang dengan cepat ia serahkan kepadaku. 
“Kodenya adalah 4312578.”

Aku memasukkannya dalam ingatanku dan ia memberi isyarat kepada kami untuk mengikutinya melalui semua pintu yang berkuasa. Di belakangnya, koridor menyebar di semua arah. Dia menunjuka kepada satu koridor di sebelah kanan kami.

“Di bawah sana. Belok ke kiri di ujung lorong, turun dua kali dan pintunya tepat di sebelah kanan.” Mia melirik ke arahku, memastikan kalau aku mengerti. Aku mengangguk dan dia kembali berpaling pada Don. “Dan sekarang pastikan pengawasan wilayah itu dimatikan.”

“Bawa kami kesana,” kata Lissa kuat.
Don tidak bisa menolak perintahnya dan kemudian Lissa dan Mia mengikutinya, meninggalkanku sendiri. Ini adalah bagian rencana yang hanya ada aku sendiri di dalamnya, dan aku bergegas turun ke ruangan. Fasilitasnya mungkin dikelola dengan ringan saja, namun aku masih bisa ditangkap seseorang -- dan tidak memiliki kompulsi yang bisa membantuku bicara untuk keluar dari masalahku. 

Petunjuk arah yang dberikan Don memang tepat, tapi aku masih harus bersiap jika ada kemungkinan akan memukul kotak kode dan masuk ke brangkas tempat penyimpanan. Baris demi baris lemari pengarsipan berderet ke bawah di ruangan besar. Aku tidak bisa melihat dimana ujungnya. Laci-laci bersusun hingga lima tingkat, pencahayaan fluorescent samar dan keheningan menakutkan memberikan suasana seram, hampir terasa seperti dihantui. Semua informasi para pengawal jauh sebelum zaman digital sekarang. Hanya Tuhan yang tahu seberapa panjang deretan arsip ini dari zaman dulu. Hingga masa-masa pertengahan di Eropa? Aku mendadak merasa takut dan berandai-andai apakah aku bisa melalui ini semuanya.

Aku berjalan ke arah lemari pertama di sebelah kiri, merasa lega melihat rak tersebut diberi label. Labelnya terbaca sebagai AA1. Dibawahnya AA2 dan terus selanjutnya. Oh Tuhan. Hal ini membuatku harus mengambil beberapa lemari bahkan untuk keluar dari rak ‘AS’. Aku bersyukur pengorganisasian arsip sesederhana petunjuk alpabet, namun sekarang aku memahami mengapa lemari-lemari ini terus berlanjut selamanya. Aku harus berbali lebih dari tiga perempat dari jalan ke bawah ruangn untuk mendapatkan file ‘TS’. Dan itu tidak akan tercapai hingga aku mendapatkan lac TA27 yang telah ku temukan untuk arsip Tarasov Prison (Penjara Tarasov).

Aku mengap-mengap. Berkasnya tebal, dipenuhi oleh semua jenis dokumen. Ada halaman-halaman tentang sejarah penjara dan pola migrasi, sebaik tatanan lantai untuk setiap lokasinya. Aku hampir susah untuk percaya. Begitu banyak informasi .... tapi apa yang aku butuhkan? Apa yang akan berguna nantinya? Jawabannya datang dengan cepat: Semuanya! Aku menutup lacinya dan mengapit foldernya di bawah lenganku. Oke. Waktunya keluar dari sini. Aku berbalik dan mulai menuju jalan keluar di berjalan perlahan. Sekarang apa yang aku dapatkan adalah apa yang aku butuhkan, cara melarikan diri yang mendesak ini menekanku. Aku hampir sampai saat aku mendengar bunyi klik kecil dan pintu terbuka. Aku membeku sama seperti dhampir tak ku kenal yang baru saja masuk. Dia juga membeku, jelas sekali terheran-heran, dan aku menganggapnya sebagai berkah kecil karena ia tidak langsung mengunciku ke dinding dan mulai mengintrogasiku.

“Kau Rose Hathaway,” katanya. Tuhan begitu baik. Apa tidak ada orang yang tidak kenal dengan ku sebelumnya?
Aku menegang, tidak yakin apa yang akan terjadi sekarang, namun berbicara disaat pertemuan kami disini membuatnya sedikit terlihat masuk akal. “Ya begitulah seperti yang terlihat. Kau siapa?”
“Mikhail Tanner,” katanya, masih bingung. “Apa yang kau lakukan disini?”
“Melaksanakan perintah,” kataku lembut. Aku menunjukkan berkasnya. “Pengawal yang bertugas di sana membutuhkan sesuatu.”
“Kau berbohong,” katanya. “Aku lah pengawal yang bertugas untuk urusan berkas. Jika seseorang memerlukan sesuatu, mereka akan mengirimku untuk melakukannya.”
Oh, sial. Rencana berbicara dengan baik-baik gagal. Namun saat aku berdiri disana, pikiran yang aneh datang padaku. Penampilannya tidak kukenal sama sekali: rambut cokelat keriting, tinggi rata-rata, usia dua puluhan akhir. Cukup tampan, sungguh. Namun namanya ... sesuatu tentang namanya ....
“Nona Karp,” aku terkesiap. “Kau lah ... kau terlibat dengan Nona Karp.”
Dia membeku, mata birunya menatap tajam dengan hati-hati. “Apa yang kau tahu tentang itu?”

Aku menelan ludah. Apa yang telah aku lakukan -- atau yang aku coba lakukan adalah demi Dimitri -- bukanlah tanpa panutan. “Kau mencintainya. Kau pergi untuk membunuhnya setelah dia ... setelah dia berubah.”

Nyonya Karp telah menjadi seorang guru kami beberapa tahun yang lalu. Dia adalah seorang pengguna sihir roh, dan sebagaik efek penggunaanya, ia mulai menjadi gila, dia melakukan satu-satu nya hal yang bisa ia lalukan untuk menyelamatkan kewarasannya: menjaidi seorang Strigoi. Mikhail, kekasihnya, telah melakukan satu-satunya hal yang ia tahu untuk mengakhiri keadaan mengerikan itu: mencari dan membunuhnya. Terpikir olehku sekarang kalau aku tengah berhadapan dengan pahlawan dari sebuah kisah cinta yang hampir sedramatis kisah cintaku.

“Tapi kau belum menemukannya,” kataku lembut. “Iya kan?”
Lama sekali ia belum bisa menjawab pertanyaanku, matanya dengan berat mempertimbangkanku melalui tatapnnya. Aku menebak-nebak apa yang sedang ia pikirkan. Nona Karp? Rasa sakitnya sendiri? Atau sedang menganalisisku?

“Tidak,” katanya akhirnya. “Aku harus berhenti. Para pengawal lebih membutuhkanku.” Dia berbicara dengan tenang, terkontrol sebagaimana seorang pengawal yang memang harus menguasainya, namun di dalam matanya, aku melihat kesedihan -- sebuah kesedihan yang lebih kupahami. Aku ragu sebelum mengambil sebuah kesempatan yang aku punya untuk tidak di tangkap dan berakhir di dalam sel penjara.

“Aku tahu ... Aku tahu kau punya semua alasan untuk menyeretku keluar dari sini dan menangkapku. Harusnya kau melakukannya. Itulah yang memang seharusnya kau lakukan -- apa yang juga akan ku lakukan. Tapi sebenarnnya adalah, ini ...” aku kembali menganggukan kepalaku ke arah berkas yang kupegang. “Sebenarnya, aku sedang mencoba melakukan apa yang pernah kau lakukan sebelumnya. Aku sedang mencoba menyelamatkan seseorang.”

Dia diam. Dia mungkin sedang menebak siapa yang aku maksud dan mengasumsikan kata ‘menyelamatkan’ dengan ‘membunuh’. Jika dia mengenal siapa aku sebelumnya, dia pastilah tahu siapa mentorku sebelumnya. Beberapa orang telah mengetahui hubungan romantisku bersama Dimitri, tapi tentang aku yang mempedulikan Dimitri mungkin menjadi kesimpulan yang lebih dulu muncul. 

“Itu sia-sa, kau tahu,” Mikhail berkata pada akhirnya. Kali ini suranya pecah sedikit. “Aku telah mencoba ... aku telah mencoba sangat keras untuk menemukannya. Namun saat mereka menghilang ... saat mereka tidak ingin ditemukan ...” dia menggelengkan kepalanya. “Tidak ada yang bisa kita lakukan. Aku mengerti mengapa kau ingin melakukannya. Percalah padaku, aku sungguh-sungguh memahaminya. Namun itu tidak mungkin. Kau tidak akan pernah menemukannya jika dia tidak ingin ditemukan olehmu.”

Aku menimbang-nimbang seberapa banyak yang bisa aku katakan kepada Mikhail -- seberapa banyak yang seharusnya kukatakan. Terpikir olehku kemudian bahwa jika ada orang lain di dunia ini yang akan memahami apa yang tengah aku lalui sekarang, orang itu pastilah pria ini. Lagipula, aku tidak punya banyak pilihan disini. 

“Hal itu, kurasa aku bisa menemukannya,” kataku perlahan. “Dia sedang mencariku.”
“Apa?” alis Mikhail naik. “Bagaimana kau tahu?”
“Karena dia, um, mengirmiku surat tentang hal itu.”
Tatapan sengit pejuang tiba-tiba kembali dalam matanya. “Jika kau mengetahuinya, jika kau bisa menemukannya ... kau harusnya meminta bantuan untuk membunuhnya.”

Aku tersentak ketka mendengar kata terakhir itu dan kembali takut terhadap apa yang harus kukatakan selanjutnya.

“Apa kau memepercayaiku jika kukatakan kalau ada sebuah cara untuk menyelamatkannya?”
“Maksudmu dengan menghancurkannya.”
Aku menggelengkan kepalaku. “ Bukan ... maksudku benar-benar menyelamatkannya. Sebuah cara untuk mengembalikannya ke keadaannya semula.”
“Tidak,” kata Mikhail cepat. “Itu tidak mungkin.”
“Itu mungkin. Aku mengenal seseorang yang telah melakukannya -- yang mengubah kembali seorang Strigoi.” Oke, itu adalah kebohongan kecil. Aku sebenarnya tidak mengenal orang itu, tapi aku sedang mengikuti alur dari seseorang yang mengetahui seseorang yang telah mengenal seseorang. 

“Itu tidak mungkin,” kata Mikhail lagi. “Strigoi itu telah mati. Tidak pernah mati. Perbedaan yang sama.”
“Bagaimana jika memang ada sebuah kesempatan?” kataku. Bagaimana jika hal ini bisa dilakukan? Bagaimana jika Nona Karp -- jika Sonya -- bisa kembali menjadi Moroi lagi? Bagaimana jika kalian bisa kembali bersama lagi?” Ini juga berarti dia akan kembali gila, tapi hal itu adalah sebuah masalah teknis yang bisa dipikrkan nantinya. 

Rasanya seperti seabad menunggunya menjawab dan rasa pusingku semakin membesar. Lissa tidak bisa mengkompulsi seseorang selamanya, dan kukatakan pada Mia kalau aku akan menyelesaikan bagianku dengan cepat. Rencana ini akan hancur jika aku tidak segera keluar. Namun, melihatnya berusaha berhati-hati, aku bisa melihat topengnya mulai menghilang. Selama ini, dia masih mencintai Sonya-nya. 

“Jika apa yang kau katakan itu benar -- dan aku tidak mempercayainya -- maka aku akan ikut denganmu.”
Whoa, tidak. Tidak dalam rencana ini. “Kau tidak bisa ikut,” kataku cepat. “Aku sudah punya orang.” Kebohongan kecil yang lain. “Menambah lagi hanya akan mengacaukan rencananya. Aku tidak melakukannya sendirian,” kataku, memotong apa saja yang mungkin bisa menjadi argumennya selanjutnya.

“Jika kau sungguh-sungguh ingin membantuku -- benar-benar ingin mengambil kesempatan untuk mengembalikan Sonya -- kau harus membiarkanku pegi.” 
“Tidak mungkin hal seperti itu bisa menjadi kebenaran,” ulangnya. Namun ada keraguan dalam suaranya, dan aku memainkannya.

“Bisakah kau mengambil kesempatan?”
Keheningan lagi. Aku mulai berkeringat sekarang. Mikhail menutup matanya sesaat dan mengambil nafas dalam. Kemudian dia bergeser dan memberikan isyarat ke arah pintu. “Pergilah.”

Aku hampir melorot karena lega dan segera meraih tungkai pintu.
“Terima kasih. Sungguh terima kasih.”
“Aku bisa saja mendapatkan banyak masalah karena hal ini,” katanya letih. “Aku masih tidak percaya kalau hal ini mungkin.”
“Tapi kau berharap kalau ini mungkin.” Aku tidak butuh responnya untuk mengetahui kalau aku benar. Aku membuka pintu, namun sebelum aku melaluinya, aku berhenti sejenak dan meliriknya. Kali ini, dia tidak lagi menyembunyikan kesedian dan rasa sakit di wajahnya. 
“Jika kau serius ... jika kau ingin membantu ... ada satu hal yang bisa kau lakukan.” 

Bagian lain dari kepingan puzzle mulai tersusun sendiri untukku, jalan lain yang mungkin bisa kami lakukan. Aku menjelaskan apa yang aku butuhkan darinya dan terkejut mengetahui betapa cepatnya ia setuju. Aku tersadar kalau ia benar-benar mirip aku. Kami berdua telah mengetahui ide kalau mengembalikan Strigoi itu tidak mungkin .. namun kami sangat, sangat ingin mempercayainya bisa terjadi. 

Aku kembali ke atas sendirian setelah itu. Don tidak ada di mejanya dan aku berandai-andai apa yang Mia lakukan padanya. Aku tidak menunggu untuk mengetahuinya dan langsung keluar. Mia dan Lissa sudah menunggu disana, berjalan bolak balik. Tidak lagi terganggu oleh rasa pusing, aku membuka diriku ke dalam ikatan kami dan merasakan kegelisahan Lissa. 

“Terima kasih Tuhan,” katanya saat melihatku. “Kami pikir kau telah tertangkap.” 

“Sebenarnya ... ceritaya panjang.” Satu hal yang tidak ingin kuungkit-ungkit. “Aku mendapatkan apa yang kubutuhkan. Dan ... sebenarnya aku mendapatkan keseluruhannya. Kupikir kita bisa melakukannya.” 

Mia menatapku dengan pandangan masam sekaligus sedih. “Aku benar-benar berharap bisa tahu apa yang sedang kalian lakukan.” 

“Aku menggelengkan kepala saat kami bertiga berjalan pulang. “Tidak,” jawabku. “Aku tidak yakin kalau kau perlu mengetahuinya.”


Diterjemahkan langsung dari Novel Vampir Academy: Spirit Bound karya Richelle Mead oleh Noor Saadah. This is truly  fanmade and  no profit work.
Share
Tweet
Pin
Share
4 komentar
BEBERAPA HARI KEMUDIAN terasa aneh. Aku dan para novis yang lain mungkin memang mengalami acara kelulusan yang megah, tapi bukan hanya kami satu-satunya yang lulus dari St. Vladimir. Para Moroi juga mendapatkan acara kelulusan mereka, dan segera dipenuhi para pengunjung.

Kemudian, hampir secepat kedatangan mereka, para orang tua menghilang –sembari membawa serta putera dan puteri mereka. Bangsawan Moroi pergi untuk menghabiskan musim panas dengan para orang tua mereka di kediaman yang mewah – kebanyakan di bagian selatan Hemisphere, dimana siang hari lebih pendek disetiap tahunnya. Moroi ‘biasa’ pergi bersama orang tua mereka juga, kebanyakan bersembunyi di rumah sederhana, terkadang pula mendapatkan pekerjaan musim panas sebelum kuliah.

Dan tentu saja karena sekolah libur pada musim panas, semua siswa juga pergi. Beberapa yang tidak memiliki keluarga untuk pulang, biasanya para dhampir, tetap tinggal, mengambil mata pelajaran khusus, namun mereka jumlahnya sedikit. Kampus menjadi kosong setiap harinya saat aku dan teman-teman sekelasku menunggu hari dimana kami akan dbawa ke istana. Kami mengucapkan perpisahan kepada yang lain, para Moroi yang akan pergi atau para dhampir yang segera akan mengikuti jejak kami.


Seseorang yang membuatku sedih karena harus berpisah adalah Jill. Aku bertemu dengannya saat aku berjalan menuju asrama Lissa sehari sebelum perjalanku ke istana. Ada seorang wanita yang berjalan bersama Jill, kurasa dia adalah ibunya. Mereka berdua membawa banyak kotak. Jill mengangkat wajahnya saat melihatku.

“Hei Rose! Aku sudah mengucapkan salam perpisahan kepada semua orang tapi aku tidak bisa menemukanmu,” dia mengatakannya dengan jelas.
Aku tersenyum. “Well, aku senang kau menemukanku.” Aku tidak bisa mengatakan kalau aku akan mengucapakan salam perpisahan juga. Aku menghabiskan sisa-sisa hariku di St. Vladimir berjalan kesemua tempat yang kukenal, mulai dari kampus dasar dimana Lissa dan aku pertama kali bertemu di taman kanak-kanak. Aku menjelajahi tiap runagan dan sudut asramaku, berjalan-jalan di kelas favoritku, dan bahkan mengunjungi kapel. Aku juga banyak melewatkan waktu ku di tempat yang dipenuhi oleh kenangan suka duka, seperti tempat latihan dimana aku pertama kali mengenal Dimitri. Jalur tempat dimana ia pernah menyuruhku berlari mengelilingi lapangan. Kabin, tempat dimana kami akhirnya menyerah satu sama lain. Itu merupakan satu dari malam yang paling mengagumkan dalam hidupku, dan memikirkannya selalu membawaku ke dalam perasaan bahaia dan sakit.

Meskipun begitu, Jill tidak perlu direpotkan oleh hal seperti itu. Aku berpaling ke arah ibunya dan menawarkan tanganku untuk bersalaman sampai aku sadar kalau di tidak bisa menyalamiku dengan tangan yang penuh dengan kotak.

“Aku Rose Hathaway. Mari, biarkan aku membawanya.” Aku mengambilnya sebelum ia bisa protes karena aku yakin dia akan melakukannya.
“terima kasih,” jawabnya, terkejut senang. Aku mengiringi bersama mereka saat mereka mulai berjalan lagi.

“Aku Emily Mastrano. Jill sudah seringkali bercerita tentangmu.”
“Oh, benarkah?” tanyaku sambil menggoda Jill dengan senyuman.
“Tidak banyak. Hanya bagaimana aku terkadang jalan keluar bersamamu.” Ada sedikit peringatan di mata hijau Jill, dan ini membuatu berpikir kalau Emily mungkin tidak tahu tentang latihan terlarang formasi sihir membunuh Strigoi di waktu senggang putrinya itu.

“Kami suka bersama Jill,”kataku, tidak membuka rahasianya. “Dan satu dari yang kami lakukan beberapa hari terakhir adalah mengajarinya untuk menjinakkan rambut itu.”
Emily tertawa. “Aku sudah mencoba hampir selama lima belas tahun. Semoga beruntung.” Ibu Jill sangat mempesona. Keduanya tidak terlalu mirip, paling tidak ukurannya berbeda. Rambut Emily yang berkilau lurus dan hitam, matanya berwarna biru dengan bulu mata yang panjang. Dia bergerak dengan kerampingan yang anggun, sangat berbeda dengan cara berjalan Jill yang hanya peduli pada dirinya sendiri. Namun, aku bisa melihat gen yang dibagikannya kepada Jill, bentuk wajah hati dan bibir yang berbentuk. Jill masih muda, dan saat ia tumbuh menjadi dirinya yang menonjol, dia akan menjadi penghancur hatinya sendiri suatu saat nanti – sesuatu yang mungkin ia lupa sekarang. Semoga kepercayaan dirinya akan tumbuh. 

“Dimana rumah untuk kalian?” tanyaku.
“Detrout,” sahut Jill, merubah ekspresinya sendiri.
“Tidak seburuk itu,” ibunya tertawa.
“Tidak ada gunung. Hanya jalan raya.”
“Aku bagian dari kelompok balet disana,” Emily menjelaskan. “Jadi kami tinggal di tempat dimana kami bisa membayar tagihan.” Kurasa aku lebih terkejut mendengar orang-orang ini pergi ke tempat balet di Detroit daripada mendengar Emily adalah seorang balerina. Akan cukup menyenangkan menontonnya, dan sungguh, dengan tubuhnya yang tinggi dan ramping, Moroi adalah penari ideal sejauh manusia memperhatikan.

“Hey, itu kota besar,” kataku pada Jill. “Nikmati kegembiraan saat kau bisa sebelum kau kembali ke tengah-tengah kebosanan antah berantah ini.” Tentu saja, latihan bertarung terlarang dan penyerangan Strigoi susah untuk dikatakan membosankan, tapi aku ingin membuat Jill merasa lebih baik.
“Dan itu tidk akan lama.” Perjalan musim panas Moroi paling tidak sekitar dua bulan. Orang tua biasanya tidak sabar untuk mengembalikan anak-anak mereka ke tempat yang aman di akademi.
“Kurasa seperti itu,” sahut Jill, tidak terdengar yakin. Kami sampai di mobil mereka, dan aku memasukkan kotak ke dalam bagasi.
“Aku akan mengirimimu e-Mail saat aku sempat,” janjiku. “Dan aku bertaruh Christian juga akan melakukannya. Mungkin aku bahakan bisa meminta Adrian melakukannya juga.”

Wajah Jill berbinar, dan aku senang melihatnya kembali ke sifat hebohnya yang biasa.
“Benarkah? Itu bagus sekali. Aku ingin mendengar semua yang terjadi di istana. Kau mungkin akan melakukan hal-hal keren bersama Lissa dan Adrian, dan aku bertaruh Christian akan menemukan beberapa hal...tentang sesuatu.”

Emily terlihat tidak sadar dengan usaha konyol Jill mengedit ucapannya dan langsung memberiku sebuah senyuman manis. "Terimakasih untuk pertolonganmu, Rose. Senang bertemu denganmu.”
“Senang bertemu denganmu juga – umph!” Jill melemparkan dirinya ke arahku dengan sebuah pelukan. “Semoga beruntung dengan segalanya,” katanya. “Kau sangat beruntung – kau akan mendapatkan hidup yang bahagia sekarang!”

Aku memeluknya kembali, tidak bisa menjelaskan bagaimana irinya aku padanya. Kehidupannya masih aman dan lugu. Dia mungkin akan marah karena menghabiskan musim panasnya di Detroit, tapi hal itu tidak akan lama, segera dia akan kembali ke dunia yang familiar dan mudah di St. Vladimir. Dia tidak akan keluar ke dunia yang tidak diketahui dan berbahaya.

Baru setelah dia dan ibunya pergi aku bisa mendorong diriku untuk merespon komentarnya. “Aku harap juga begitu,” guman ku, memikirkan apa yang akan terjadi nanti.
“Aku harap begitu.”

Teman sekelasku dan moroi terpilih terbang di pagi hari berikutnya, meninggalkan pegunungan berbatu Montana di belakang menuju bukit berderet Pennsylvania.

Istana bangsawan masih sama seperti yang kuingat, dengan bangunan mengesankan dan kuno yang sama dengan St. Vladimir dengan bangunan-bangunan menara dan arsitektur batu yang rumit. Namun saar sekolah juga terlihat memamerkan hawa bijaksana dan ketekunan, istana ternyata lebih pamer lagi. Seolah bangunan ini mencoba memastikan bahwa kami mnyadari kalau bangunan ini merupakan keukasaan dan kebangsawanan dinatara para Moroi. Istana bangsawa ini menginginkan kami untuk terkagum-kagum dan mungkin sedikit takut.

Dan meskipun aku pernah ke tempat ini sebelumnya, aku masih mereasa kagum. Pintu-pintu dan jendela di bangunan batunya berukir timbul dan dibingkai dengan emas murni. Mereka tidak terlihat secerah bangunan yang pernah kulihat di Rusia, tapi aku sadar kalau desain istana ini meniru bangunan-bangunan tua dari Eropa itu – benteng-benteng dari istana St. Petersburg. St. Vladimir memiliki bangku-bangku dan jalan-jalan setapak di lapangan dan halaman, namu istana ini memiliki yang lebih dari itu. Sejumlah air mancur dan patung-patung berbentuk rumit dari penguasa terdahulu menghiasi rumput, karya marmer indah yang tersembunyi di balik salju.

Sekarang, di dalam pergolakan musim panas, benda-benda seni itu terlihat bersinar dan memamerkan dirinya. Dan dimanapun, dimana-mana ada pohon-pohon berbunga, semak-semak, jalan-jalan kecil – sangat mempesona.

Masuk akal jika pengawal baru mengunjungi pusat administrasi pengawal, tapi ini terjadi di tengah musim panas. Mereka ingin aku dan teman-teman sekelasku melihat semua ini, membuat kami kewalahan dan menghargai saat dimana kami bertarung. Melihat wajah-wajah dari para lulusan baru ini, aku tahu taktik mereka berkerja seperti yang direncanakan. Sebagian besar dari temanku tidak pernah kesini sebelumnya. Lissa dan Adrian satu penerbangan denganku, dan kami bertiga berkelompok saat berjalan bersama kelompok yang lain. Nuansanya sehangat Montana, tapi kelembabannya lebih tebal terasa. Aku merasa berkeringat setelah sedikit berjalan-jalan santai.

“Kau sudah membawa gaun kali ini, kan?” tanya Adrian.
“Tentu saja,” jawabku. “Gaun-gaun itu layak mendapatkan kemewahan saat kita mengenakannya untuk pergi. Meskipun, mereka mungkin memberiku nuansa hitam-putih saat mengenakannya.”

Dia menganggukan kepala dan aku menyadari tangannya bergerak masuk ke kantongnya sebelum dengan ragu dia tarik kembali. Dia mungkin memiliki kemajuan untuk berhenti merokok, tapi aku cukup yakin kalau alam bawah sadarnya memerintahkannya secara otomatis untuk mengambil benad itu saat udara luara tersa sulit untuk disingkirkan dengan cepat.

“Maksudku untuk malam ini. Untuk makan malam.”

Aku melirik Lissa dengan penuh tanda tanya. Jadwalnya di istana selalu berfungsi sebagai tanda bahwa ‘orang biasa’ tidak diundang. Dengan statusku yang baru dan tidak pasti ini, aku tidak yakin aku akan pergi bersamanya. Aku merasakan kebingunagnnya melalui ikatan kami dan dia tidak tahu menahu tentang rencana makan malam spesial.

“Makan malam apa?” tanyaku.
“Makan malam yang aku atur bersama keluargaku.”
“Makan malam yang kau –“ aku berhenti dengan mata terbelalak, tidak suka dengan seringaian di wajahnya. “Adrian!” beberapa teman-teman lulusanku menatap kami dengan penasaran dan kemudian melanjutkan jalan-jalan mereka di sekitar kami.

“Ayolah, kita sudah pacaran beberapa bulan. Bertemu orang tua adalah bagian dari ritual berpacaran. Aku sudah bertemu ibumu. Aku bahkan sudah bertemu ayajmu yang menakutkan. Sekarang adalah giliranmu. Aku jamin tidak satupun dari keluargaku akan beranggapan seperti yang ayahmu lakukan.”

Sebenarnya aku sudah pernah bertemu ayah Adrian sebelumnya. Atau, sebenanrnya aku melihat dirinya di sebuah pesta. Aku ragu dia tahu siapa diriku – di samping reputasi gilaku. Aku khampir tidak tahu menahu tentang ibunya Adrian. Dia sebenarnya jarang sekali membicarakan anggota keluarganya – weel, hampir semua keluarganya. 

“Hanya Orang tuamu?” tanyaku hati-hati. “Ada keluarga lain yang harus kukenal?”
“Sebenarnya ...” tangan Adrian menejang algi. Kupikir ini saatnya ia menginginkan rokok sebagai perlindungannya dari nada peringatan di dalam suaraku.

Lissa, menurut pandanganku, terlihat geli dengan semua ini. “Tanteku mungkin akan mampir.”

“Tatiana?” aku berseru. Untuk beratus-ratus kali, aku bertanya-tanya bagaimana bisa aku begitu beruntung bisa berpacaran dengan lelaki yang memiliki ikatan keluarga dengan pemimpin dari seluruh dunia Moroi. “Dia membenciku! Kau tahu apa yang terjadi saat terakhir kali aku berbicara dengannya.” 

Kebangsawanannya ini tanggalkan saat berhadapan denganku, berteriak tentang bagaimana aku begitu tak sederajat berhubungan dengan keponakannya dan bagaimana dia memiliki ‘rencana’ besar untuk Adrian dan Lissa. 
“Kurasa dia hanya akan mampir sebentar.”
“Oh, ayolah.”
“Tidak juga,” Adrian hampir terlihat seperti akan mengatakan yang sesungguhnya. “Aku berbicara pada ibuku suatu hari, dan ... aku tidak tahu. Tante Tatiana tidak terlihat begitu membencimu.”
Aku cemberut, dan kami bertiga mulai berjalan lagi.
“Mungkin dia mengangumi hasil kerja main hakimmu sendiri,” goda Lissa.
“Mungkin,” kataku. Tapi aku tidak benar-benar mempercayainya. Jika begitu, aku akan akan bertindak nakal dan harus membuat diriku semakin hina di mata sang ratu. Aku merasa dikhinatai saat Adrian membawakan makan malam ini untukku, tapi tidak ada apapun yang bisa kulakukan tentang hal ini sekarang. Sisi terangnya hanyalah aku mendapatkan perasaan kalau isu kedatangan tantenya itu hanyalah untuk menggodaku. 

Diterjemahkan langsung dari Novel Vampir Academy: Spirit Bound karya Richelle Mead oleh Noor Saadah. This is truly  fanmade and  no profit work.
Share
Tweet
Pin
Share
7 komentar
D ENGAN BEGITU BANYAK MOROI yang menemukan akar hidup mereka berasal dari Eropa Timur, Kristen Ortodok menjadi agama yang dominan di akademi. Kepercayaan yang lain juga ditunjukkan, dan seperti semua yang sudah kukatakan sebelum sebelumnya, hanya separuh dari jumlah siswa yang datang untuk menghadiri semacam doa harian. Lissa adalah satu diantaranya yang datang. Dia pergi ke gereja setiap hari Minggu sebab dia percaya. Christian juga datang, Dia melakukannya karena Lissa melakukannya dan karena ini membuatnya terlihat lebih baik dan tidak seperti seseorang yang akan berubah menjadi Strigoi. Karena Strigoi tidak bisa memasuki tanah suci, gereja menjadi tempat yang cukup dihormati. Ketika aku tidak bisa tidur, aku datang ke gereja sebagai aspek sosial. Lissa dan teman-temanku biasanya jalan bareng dan melakukan sesuatu yang mengasyikan sesudahnya, jadi gereja menjadi tempat pertemuan yang bagus. Jika Tuhan keberatan kalau aku menggunakan kapelnya sebagai jalanku untuk meningkatkan kehidupan sosialku, Dia tidak akan membiarkanku tahu. Kalau tidak, berarti Dia sedang menunggu waktu yang tepat untuk menghukumku. Ketika pelayanan berakhir di hari minggu, aku harus tetap tingal di kapel, karena inilah saatnya hukuman pelayanan masyarakatku terjadi. Ketika tempat ini menjadi kosong, aku terkejut melihat masih ada yang tinggal bersamaku: Dimitri.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanyaku.

“Kupikir kau mungkin membutuhkan beberapa bantuan. Kudengar pendeta ingin melakukan banyak pembersihan gereja.”

“Ya, tapi kau bukan orang yang terhukum disini. Dan ini adalah hari liburmu juga. Kita – sebenarnya, setiap orang – menghabiskan sepanjang minggu dengan bertarung, tapi kalian para penjaga adalah orang yang menentukan kapan pertarungan itu sepanjang waktu.” Nyatanya, aku menyadari sekarang, kalau Dimitri juga mendapatkan beberapa lebam – meskipun tidak sebanyak yang didapatkan Stan. Ini sudah menjadi minggu yang panjang untuk setiap orang, dan ini baru minggu pertama dari enam minggu yang seharusnya.

“Apa yang bisa aku lakukan hari ini?”

“Aku bisa memikirkan seratus hal lain,” kataku kering. “Mungkin saja ada film John Wayne di suatu tempat yang tidak kau ketahui.”

Dia menggelengkan kepala. “Tidak ada. Aku sudah melihat semuanya. Lihat – pendeta menunggu kita.”

Aku berbalik. Cukup bagus. Bapa Andrew berdiri di depan, memandang kami dengan penuh harap. Dia melepaskan jubah kebesarannya yang ia pakai selama pelayanan dan sekarang berdiri dengan anggun dan dengan kaos berkancing. Dia terlihat sudah sangat siap untuk berkerja juga dan aku sedang membayangkan apa yang terjadi pada hari Minggu yang seharusnya menjadi hari libur menjadi hari kerja.
Selama Dimitri dan aku melakukan tugas kami, aku menduga-duga apa yang sebenarnya yang membuat Dimitri tinggal disini. Jelas sekali dia tidak benar-benar menginginkan bekerja pada hari liburnya. Aku masih tidak bisa menebaknya. Keinginananya biasanya selalu ditunjukkan langsung, dan aku harus berpikir kalau ada penjelasan yang sederhana sekarang. Hanya saja aku belum bisa menebaknya.

‘Terima kasih untuk pertolongan suka rela kalian berdua untuk membantuku.” Bapa Andrew tersenyum kepada kami. Aku berusaha untuk tidak terlihat mengejek pada kata “suka rela” itu. Dia adalah seorang Moroi berusia empat puluh tahunan dengan rambut abu-abu tipis. Meski tanpa keyakinan yang banyak terhadap agama, aku tetap menyukai dan menghormatinya.

“Kita tidak melakukan hal-hal yang terlalu sulit hari ini,” tambahnya. “Sedikit membosankan, sungguh. Kita harus melakukan pembersihan rutin, tentu, dan kemudian aku akan menyusun kotak-kotak dari benda-benda tua yang ku simpan di loteng.”

“Kami senang melakukan apa yang kau butuhkan,” Dimitri berbicara sungguh-sungguh. Aku menahan untuk tidak mengeluh dan tidak berpikir tentang semua yang mungkin bisa kulakukan. Kami mendapatkan tugas kami masing-masing. Aku dengan tugas mengepelku dan Dimitri membersihkan debu dan mempelitur kursi gereja kayu. Dimitri terlihat bijaksana dan menikmati kegiatan bersih-bersihnya, terlihat seperti bangga dengan pekerjaannya. Aku masih menebak-nebak kenapa dia ada disini. Jangan salah duga, aku senang dia ada disini. Kehadirannya membuatku merasa lebih baik dan tentu saja aku sangat senang melihatnya.

Kurasa mungkin dia ada disini untuk mendapatkan informasi lebih tentang aku mengenai apa yang terjadi dengan Stan, Christian, dan Brandon. Atau mungkin dia ingin menghakimiku mengenai apa yang terjadi di hari lain dengan Stan, ketika aku dituduh melompat ke pertarungan untuk alasan egois. Semua ini seperti beberapa penjelasan, tapi dia tidak mengatakan sepatah kata pun. Bahkan ketika pendeta pergi dari altar ke kantornya, Dimitri tetap melanjutkan pekerjaannya dalam diam. Aku menerka-nerka jika ada yang mungkin ia ingin katakan, sudah ia lakukan dari tadi.

Ketika kami selesai membersihkan, Bapa Andrew meminta kami untuk menyeret kotak demi kotak barang dari loteng ke ruang penyimpanan di belakang kapel. Lissa dan Christian sering menggunakan loteng itu sebagai pintu rahasia, dan aku berandai-andai apakah loteng yang bersih akan mendukung atau mengurangi selingan nuansa romantisme mereka. Mungkin mereka akan meninggalkan loteng ini, dan aku bisa mulai mendapatkan sesi tidurku yang nyaman.

Dengan semua barang yang diturunkan bersama kami, kami bertiga duduk di lantai dan mulai menyortir semuanya. Bapa Andrew memberi kami instruksi benda mana saja yang harus kami simpan dan mana yang kami buang, dan ini memberikan kesempatan untuk kakiku merasakan istirahat dari sepanjang minggu ini. Dia membuat percakapan kecil diantara kami selama bekerja, menayakanku tentang kelas dan hal yang lain. Itu tidak buruk.

Selama kami bekerja, sebuah pikiran muncul di kepalaku. Aku sudah menyelesaikan pekerjaan bagus untuk meyakinkan diriku sendiri kalau Mason adalah ilusi yang datang karena kurang tidurku, tapi mendapatkan jaminan dari seorang pengarang kalau hantu tidak nyata membuatku merasa semakin lebih baik.

“Hey,” kataku pada bapa Andrew. “Apa kau percaya hantu? Maksudku, ada beberapa cerita mengenai mereka di – “ aku mengarahkan bahasa tubuhku ke sekeliling kami. “ – di barang-barang ini?”
Pertanyaan itu membuatnya terkejut, tapi dia tidak menunjukkannya rasa tersinggung menyebutkan pekerjaan dan panggilan hidupnya sebagai ‘barang-barang ini’. Atau fakta bahwa aku sangat jelas terlihat tidak peduli mengenai semua ini sepanjang tujuh belas tahun aku duduk dalam doa di gereja. Ekspresi kaget melintang di wajahnya dan dia menghentikan pekerjaannya.

“Begini ... menurutku, semua itu tergantung dari bagaimana kau mengartikan makna ‘hantu’ itu sendiri.”
Aku mengetukkan jariku di sebuah buku teologi. “Keseluruhan inti mengenai semua ini adalah ketika kau mati, kau pergi ke surga atau neraka. Itu membuat hantu hanyalah cerita khayalan, kan? Mereka tidak ada di Kitab atau apapun.”

“Lagi,” katanya, “itu tergantung dari defenisimu. Takdir kita selalu memiliki roh setelah mati, roh terpisah dari raga dan mungkin masih tertinggal di dunia ini.”

“Apa?” Mangkuk berdebu yang kupegang terlepas dari tanganku. Untungnya, mangkuk itu terbuat dari kayu dan tidak pecah. cepat-cepat kuambil kembali. Bukan itu jawaban yang aku ingin dengar.

“Untuk berapa lama? Selamanya?”

“Tidak, tidak, tentu saja tidak. Sesuatu yang melayang di wajah kita dari penghancuran dan penyelamatan, merupakan bentuk dari kepercayaan kita. Tapi semua ini meyakini kalau jiwa bisa tinggal di bumi untuk tiga sampai empat puluh hari setelah meninggal. Jiwa ini pada akhirnya akan menerima pertimbangan sementara, yang akan mengirimkan jiwa-jiwa tersebut dari dunia ini ke surga atau neraka – meskipun tidak satupun yang akan mungkin benar-benar mengalami hingga Hari Pertimbangan itu, ketika jiwa dan raga bersatu kembali untuk meninggalkan keabadian sebagai satu kesatuan.”

Hal-hal mengenai penyelamatan hilang dari perhatianku. kata-kata ‘tiga sampai empat puluh hari’ menangkap perhatianku. Aku sepenuhnya lupa mengenai penyortiran barang-barang.

“Ya, tapi apa semua ini benar atau tidak? Apa roh benar-benar bisa berjalan di bumi setelah empat puluh hari kematian mereka?”

“Ah, Rose. Mereka harus diintai jika takdir benar-benar siap membuka cerita mengenai keberadaan mereka.” Aku merasa kalau dia benar. Aku mendesah dan kembali menatap kotak di hadapanku.

“Tapi,” katanya lembut, “jika ini membantumu, beberapa cerita mengenai kepercayaan lama dari Eropa Timur mengenai hantu itu benar-benar ada sebelum Kristen menyebar. Beberapa tradisi memiliki hubungan yang lama dengan kepercayaan kalau roh masih tinggal disekeliling kita setelah meninggal – khususnya jika orang yang meninggal itu masih muda atau dibunuh.”

Aku membeku. Kemajuan apapun yang kubuat untuk menyakinkanku kalau Mason datang akibat rasa stress langsung terhapus. Muda atau dibunuh.

“Kenapa?” aku beratanya dengan suara yang kecil. “Mengapa mereka ingin tinggal? Apa ini ... ini untuk balas dendam?”

“Aku yakin ada sebagian yang percaya akan hal itu, seperti sebagian yang percaya kalau jiwa itu mempunyai masalah untuk menemukan kedamaian karena sesuatu sehingga tidak tenang.”

“Yang mana yang kau percayai?” tanyaku.

Dia tersenyum. “Aku percaya kalau jiwa terpisah dari raganya, sama seperti yang selalu pendeta ajarkan kepada kita, tapi aku ragu saat roh itu tinggal di bumi bisa membuat orang-orang yang hidup bisa merasakannya. Ini tidak seperti dalam film, dengan para hantu meneror bangunan atau datang untuk mengunjungi orang-orang yang mereka kenal. Aku membayangakan roh-roh ini sebagai bentuk energi yang hadir diantara kita, sesuatu yang ada jauh dari bayangan kita hingga mereka pergi dan menemukan kedamaaian mereka. Lebih lagi, apapun yan terjadi jauh di bumi ini ketika kita mencapai hidup abadi, penyelamat kita menebus kita dengan pengorbanan terbesarnya. Itu yang terpenting.”

Aku membayangakan bagaimana bisa Bapa Andrew menarik kesimpulan secepat itu jika dia pernah melihat apa yang aku lihat. Muda dan dibunuh. Keduanya merujuk kepada Mason, dan dia meninggal kurang dari empat puluh hari yang lalu. Kesedihan itu, wajah yang sedih kembali muncul di kepalaku, dan aku mengira-kira apa maksudnya. Dendam? Atau mungkin dia sungguh belum menemukan kedamaiannya?

Dan bagaimana mungkin teologi Bapa Andrew mengenai surga dan neraka bisa cocok dengan seseorang seperti aku, yang pernah mati dan hidup kembali? Victor Dashkov pernah mengatakan kalau aku sudah pernah menghilang ke dunia orang mati dan kembali ketika Lissa menyembuhkanku. Apa itu dunia orang mati? Apa itu Surga atau neraka? Atau ini sesuatu yang lain yang berarti suatu tempat diantara belahan dunia seperti yang Bapa Andrew bicarakan?

Aku tidak mengatakan apapun setelah itu, sebab ide mengenai pembalasan dendam Mason sangat mengejutkanku. Bapa Andrew merasakan perubahan dalam diriku, tapi dia jelas sama sekali tidak memahami apa yang sebenarnya terjadi. Dia mencoba membujukku untuk bicara.

“Aku mendapatkan beberapa buku baru dari temanku. Cerita yang menarik menegnai St. Vladimir.” Dia memiringkan kepalanya.

“Apa kau masih tertarik tentangnya? Dan Anna?”
Secara teori, aku masih tertarik. Sampai kami bertemu Adrian, kami hanya mengetahui mengenai dua pengendali roh lain. Satu adalah guru kami, Ms. Karp, yang berakhir dengan kegilaan akibat roh dan menjadi Strigoi untuk menghentikan kegilaan itu. Yang lain adalah St. Vladimir, pendiri sekolah. Dia hidup berabad-abad yang lalu dan membawa pengawalnya, Anna, kembali dari kematian, sama seperti Lissa membawaku. Itu membuat Anna dicium bayangan dan menciptakan ikatan diantara mereka berdua juga.

Normalnya, Lissa dan aku mencoba semampu kami untuk mendapatkan apa pun menganai Anna dan Vlad, daripada mencoba mempelajari diri kami sendiri. Tapi, sama luar biasanya mengenai semua tentang roh ini bagiku, aku memiliki masalah yang lebih besar sekarang daripada segala hadiah dan teka-teki fisik yang pernah terhubung antara Lissa dan aku. Semua ini seolah tergantikan oleh sesosok hantu yang mungkin sangat marah terhadapku disepanjaang kematiannya.

“Ya,” kataku datar, menghindari kontak mata. “Aku tertarik .. tapi aku tidak berpikir bisa memahaminya langsung. Aku sibuk dengan semua ini ... kau tahu, hal-hal mengenai ujian lapangan.”

Aku merasakan keheningan lagi. Dia menerima petunjuk itu dan membiarkanku bekerja tanpa interupsi lagi. Dimitri tidak mengatakan sepatah kata pun selama semua ini berlangsung. Ketika kami selesai menyortir barang, Bapa Andrew mengatakan kalau kami masih punya satu tugas lagi sebelum selesai. Dia menunjuk ke beberapa kotak yang kami susun dan bungkus ulang.

“Aku butuh kalian untuk mengangkat semua ini ke kelas dasar,” katanya. “Tinggalkan kepada Moroi yang tinggal disitu. Ms. Davis mengajar untuk sekolah Minggu untuk anak-anak pra sekolah dan mungkin memerlukannya.”

Ini paling tidak memerlukan dua kali perjalanan bolak-balik bagi aku dan Dimitri, dan kelas dasar cukup jauh jaraknya. Masih, semua ini membuatku sedikit lebih dekat dengan kebebasan.

“Mengapa kau tertarik pada hantu?” Dimitri bertanya padaku pada perjalanan pertama kami.

“Hanya membuat obrolah saja,” kataku.

“Aku tidak bisa menatap wajahmu sekarang, tapi aku merasa kalau kau sedang berbohong lagi.”

“Jeez, semua orang memikirkan hal-hal yang buruk tentang diriku terus akhir-akhir ini. Stan menuduhku pencari ketenaran.”

“Aku sudah mendengar hal itu,” kata Dimitri, saat kami memutar di sudut bangunan. Bangunan kelas dasar sudah nampak di depan kami.

“Hal itu mungkin sedikit dari sikap ketidakadilannya.”

“Sedikit, huh?” Mendengar pengakuannya menggetarkan hatimu, tapi itu tidak merubah rasa marahku terhadap Stan. Kegelapan, rasa mengerutu yang menggodaku akhirnya bersemi.

“Baiklah, terima kasih, tapi aku mulai menyerah pada nasib dalam ujian lapangan ini. Terkadang untuk seluruh akademi ini.”

“Kau tidak bermaksud seperti itu.”

“Aku tidak tahu. Sekolah hanya terlihat terlalu terikat dengan peraturan dan hukum yang tidak terjadi dalam kehidupan nyata. Aku melihat apa yang terjadi di luar sana, Komrad. Aku pergi tepat ke sarang monster. Terkadang terlihat ... aku tidak merasa kalau semua ini bisa mempersiapkan kita.” Aku berharap dia mendebatku, tapi ia mengejutkanku dengan perkataannya,

“Terkadang, aku setuju.”
Aku hampir tersandung ketika kami memasuki satu dari bangunan dalam asrama Moroi kelas dasar. Ruang depannya sama seperti kelas menangah lain.

“Benarkah?” tanyaku.

“Benar,” katanya, senyuman kecil di wajahnya. “Maksudku, aku tidak setuju kalau para novis harus dilepas ke kehidupan nyata pada usia sepuluh tahun atau apapun, tapi terkadang aku berpikir kalau ujian lapangan haruslah benar-benar dilakukan di lapangan. Aku mungkin bisa mempelajari lebih banyak hal di tahun pertamaku sebagai pengawal dari pada seluruh tahun yang kudapat dari latihan. Baiklah ... mungkin tidak semua. Tapi ini situasi yang berbeda, tentu saja.”

Kami bertukar pandangan, puas dengan pendapat kami. Terkadang kehangatan merasuki diriku, menyingkap kemarahanku yang terdahulu. Dimitri mengerti rasa frustasiku terhadap sistem sekolah, tapi kemudian, Dimitri benar-benar mengerti aku. Dia melirik kesekeliling, tapi tidak ada satu orang pun di meja. beberapa siswa remaja kecil sedang bekerja atau mengobrol di lobi.

“Oh,” kataku, mengalihkkan bobot kotak yang kupegang. “Kita ada di asrama sekolah menengah sekarang. Anak-anak yang lebih muda ada digedung sebelahnya.”

“Yan tapi Nona Davis tinggal di gedung ini. Biarkan aku mencarinya dan bertanya dimana dia ingin semua ini diletakkan.” Dia menempatkan kotaknya hati-hati. “Aku akan segera kembali.”

Aku melihatnya pergi dan kuturunkan kotakku ke bawah. Menyender ke dinding, aku melirik daerah sekitarku dan hampir saja melompat ketika aku melihat seorang gadis Moroi hanya beberapa kaki jaraknya dari diriku. Dia berdiri dalam diam yang sempurna, aku sampai tidak merasakan kehadirannya. Dia terlihat masih berusia pertengahan remaja – 13 atau 14 tahun – tapi dia tinggi, lebih tinggi dariku. Bentuk tubuh Moroinya yang ramping membuatnya semakin terlihat tinggi. Rambutnya seperti awan cokelat yang keriting, dan dia memiliki bintik-bintik kecil –sangat jarang dimiliki oleh kaum Moroi kebanyakan – membentang di wajahnya. Matanya melebar ketika dia melihatku menatapnya.

“Oh, Tuhan. Kau Rose Hathaway, kan?”
“Ya,” kataku terkejut. “Kau kenal aku?”
“Semua orang kenal kamu. Maksudku, semua orang pernah mendengar tentang dirimu. Kaulah yang melarikan diri. Dan kemudian kau kembali dan membunuh Strigoi. Itu keren. Apa kau mendapatkan tanda Molinja?” Kata-katanya keluar dalam satu pengucapan. Dia tidak bernafas saat berbicara.

“Ya. Aku punya dua.” Memikirkan tato kecl di belakang leherku membuat kulitku terasa gatal.

Mata hijau pucatnya – jika mungkin – semakin melebar. “Oh Tuhanku. Wow.”
Aku biasanya menjadi berang ketika orang-orang mempermasalahkan tanda Molinja ku. Pada akhirnya, keadaan tidak akan menjadi nyaman lagi. Tapi gadis ini begitu muda, dan ada sesuatu yang menarik mengenai dirinya.

“Siapa namamu?” tanyaku.

“Jillian – Jill. Maksudku, hanya Jill. Bukan keduanya. Jillian adalah nama lengkapku. Semua orang memanggilku Jill.”

“Baiklah,” kataku, menyembunyikan senyumku. “Aku akan mengingatnya.”

“Kudengar ada Moroi yang menggunakan sihir pada perjalanan itu untuk bertempur. Apa itu benar? Aku akan sangat senang melakukan hal itu. Aku berharap seseorang akan mengajarkanku. Aku pengguna udara. Apa menurutmu aku bisa melawan Strigoi dengan sihirku itu? Semua orang menganggapku gila.” Selama berabad-abad, Moroi yang menggunakan sihir untuk berkelahi dilihat sebagai dosa. Semua orang percaya kalau sihir itu harus digunakan dengan damai. Baru-baru ini, sebagian mulai mempertanyakan hal itu, khususnya setelah Christian membuktikan kegunaannya dalam pelarian diri di Spokane.

“Aku tidak tahu,” kataku. “Kau harus bertanya pada Christian Ozera.”

Dia menganga. “Apa dia mau berbicara denganku?”

“Jika kamu mebawa topik pertarungan, ya, dia akan berbicara denganmu.”

“Baiklah, keren. Apa itu pengawal Belikov?” tanyanya, menganti topik serta merta.

“Ya.”
Aku bersumpah kalau aku berpikir kalau dia terlihat seperti akan pingsan saat itu juga. “Benarkah? Dia bahkan lebih tampan dari yang pernah aku dengar. Dia mentormu, kan? Seperti, mentor pribadi?”

“Ya.” Aku menerka-nerka dari mana saja Dimitri. Berbicara dengan Jill sudah menghabiskan tenagaku.

“Wow. Kau tahu, kalian berdua tidak terlihat seperti guru dan murid. Kalian terlihat akrab seperti teman. Apa kalian berdua jalan bersama ketika sedang tidak latihan?”

“Er. Seperti itu lah. Kadang-kadang.” Aku ingat pikiran terbaruku, mengenai bagaimana aku menjadi satu dari beberapa orang yang menjadi bagian kehidupan sosialnya di luar tugasnya sebagai pengawal.

“Aku benar kan! Aku tidak bisa membayangkan kalau – aku bisa menjadi gila sepanjang waktu kalau ada didekatnya. Aku tidak pernah menyelesaikan apa pun, tapi kau sangat terlihat biasa dengan semua itu, seperti, ‘Ya, aku bersama cowok yang sangat keren ini, tapi terserahlah, bukan apa-apa.’”

Aku tertawa, lebih untuk diriku sendiri. “Kurasa kau memberikan terlalu banyak pujian melebihi yang pantas aku dapatkan.”

“Tidak mungkin. Dan aku tidak percaya pada semua cerita itu, kau tahu.”

“Um, cerita?”

“Ya, tentang kau yang melawan Christian Ozera.”

“Trims,” kataku. Sekarang gosip yang mempermalukanku sudah merambah ke ampus yang paling bawah. Jika aku berjalan di asrama kelas dasar, beberapa anak berumur enam tahunan mungkin akan berpikir kalau aku telah membunuh Christian.

Ekspresi Jill berubah menjadi tidak yakin. “Tapi aku tidah tahu dengan cerita yang lain.”

“Cerita yang mana?”

“Tentang kau dan Adrian Ivashkov yang –“

“Tidak,” aku memotong, tidak ingin mendengar sisanya. “Apapun yang kau dengar, tidak benar.”

“Tapi itu sangat romantis.”

“Makanya hal itu sangat tidak benar.”
Wajahnya jatuh, dan kemudian kembali memercik bahagian beberapa detik kemudian. “Hey, bisakah kau mengajariku untuk meninju seseorang?””

“Tung – Apa? Kenapa kau inging tahu cara melakukannya?”

“Well, aku membayangkan jika suatu hari aku akan bertarung dengan menggunakan sihir, aku harus belajar caranya bertarung dengan cara biasa juga.”

“Aku mungkin bukan orang yang tepat untuk kau tanyai ,” kataku padanya. “ Mungkin kau harus, um, tanyakan pada guru P.E. mu.”

“Aku sudah melakukannya!” wajahnya terlihat putus asa. “Dan dia bilang tidak.”
Aku tidak bisa menyembunyikan tawaku. “Aku hanya bercanda menyurhmu untuk bertanay kepada gurumu.”
“Ayolah, itu bisa menolongku untuk melawan Strogoi suatu hari nanti.” Tawaku berhenti. “Tidak. Kau tidak benar-benar memerlukannya.”

Dia mengigit bibirnya, masih setengah mati membujukku. “ Well, paling tidak itu akan membantu untuk melawan psikopat.”

“Apa? Psikopat?”

“Orang-orang mulai berkelahi disekitar sini. Minggu lalu ada Dane Zeklos, dan baru kemarin si Brett.”

“Dane ...” aku mengejar pengetahuanku mengenai keturunan Moroi. Ada sedikit Zeklos yang menjadi siswa disini. “Adik Jesse, ya?”

Jill mengangguk. “Yup. Satu dari para guru kami sangat marah juga, tapi Dane tidak mengatakan sepatah kata pun. Juga Brett.”

“Siapa Brett?”

“Ozera.”
Aku butuh pengecekan ulang. “Ozera?”
Aku merasa kagum dia bisa sangat bersemangat mengatakan apa yang tidak ku ketahui. “Dia teman dari pacarnya Aimee. Dia dapat banyak lebam kemarin - ada beberapa hal aneh juga di wajahnya seperti bilur-bilur juga. Mungkin terbakar? Tapi dia tidak seburuk Dane. Dan ketika Ibu Callahan menanyakan hal itu padanya, Breet meyakinkannyya bahwa semua itu bukan apa-apa, dan Bu Callahan membiarkannya pergi, hal itu sangat aneh. Dia juga selalu memiliki suasana hati yang baik – yang juga terlihat sangat aneh, umumnya kalau kau habis kalah berkelahi akan membuatmu merasa kesal kan.”

Disuatu tempat di pikiranku, kata-katanya menggelitik sebuah ingatan. Ada sebuah hubungan yang harus kulakukan, tapi aku tidak bisa benar-benar memahaminya. Antara Victor, hantu, dan ujian lapangan, sejujuranya semua itu adalah sesuatu yang tidak mampu kurangkai lagi.

“Jadi bisakah kau mengajariku jadi aku tidak akan dipukuli?” Jill bertanya, jelas berharap kalau dia bisa meyakinkanku. Dia mengepalkan tinjunya ke atas. “Aku hanya perlu melakukan ini, kan? Jempol menutupi jari-jari yang lain dan mengayunkannya?”

“Uh, sebenarnya, hal itu lebih rumit dari pada kelihatannya. Kau harus berdiri dengan cara yang tepat atau kau akan lebih menyakiti dirimu sendiri dari pada orang lain. Ada banyak hal yang perlu kau lakukan dengan siku dan pinggulmu.”

Tolong tunjukkan padaku?” dia memohon. “Aku bertaruh kau sangat bagus dalam hal itu.” Aku memang bagus, tapi memberikan pelajaran tambahan adalah satu kejahatan yang tidak pernah kulakukan sebelumnya, dan aku memilih untuk tetap membiarkannya seperti itu. Untungnya, Dimitri datang bersma Nona Davis.

“Hey, “ sapaku. “Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu. Dimitri, ini Jill. Jill, Dimitri.”
Dimitri terlihat terkejut, tapi dia tersenyum dan menjabatkan tangannya. Muka Jill memerah dan menjadi diam dalam kesempatan itu. Segera setelah Dimitri melepaskan tangnnya, dengan gagap ia mengucapkan selamat tinggal dan lari. Urusan kami sudah selesai dengan Nona Davis dan kembali ke kapel untuk tugas kedua kami.

“Jill tahu siapa aku,” kataku ketika kami berjalan. “Dia sejenis pemuja hal-hal yang bersangkut paut dengan pahlawan.”

“Apa itu mengejutkanmu?” tanyanya. “Siswa yang lebih muda mengetahui tentang dirimu?”

“Aku tidak tahu. Aku hanya tidak pernah memikirkannya. Aku rasa aku bukan contoh peraturan yang baik.”

“Aku tidak setuju. Kau luar biasa, berdedikasi, dan cerdas disetiap apapun yang kau lakukan. Kau pantas dihormati lebih dari yang kau pikirkan.”

Aku memberikannya lirikan menyamping. “Tapi masih belum cukup untuk bisa masuk k e persidangan Victor.”

“Jangan tentang hal ini lagi.”

“Ya, memang hal ini lagi! Kau kau tidak pernah mengerti betapa besar hal ini? Victor adalah gangguan besar.”

“Aku tahu siapa dia.”

“Dan jika mendapatkan kebebasa, dia akan mulai melakukan rencana gilanya lagi.”

“Sepertinya dia tidak akan bebas, kau tahu. Sebagian besar gosip tentang sang ratu akan membebaskannya hanyalah – gosip. kau dari kebanyakan orang harusnya tidak mempercayai semua yang kau dengar.”

Aku menatapnya membatu, menolak untuk menerima pandangannya. “Kau sebaiknya memiarkan kami pergi. Atau” – aku menarik nafas panjang – “Kau paling tidak membiarkan Lissa pergi.”

Sangat sulit bagiku untuk mengatakan kata-kata itu daripada seharusnya, tapi hanya itu yang bisa kupikirkan. Aku tidak berpikir kalau aku pencari ketenaran seperti yang dikatakan Stan, tapi ada bagian dalam diriku yang selalu ingin menjadi bagian yang berada di tengah pertarungan. Aku ingin buru-buru memimpin, melakukan sesuatu yang baik dan menolong orang lain. Sama seperti aku ingin berada di persidangan Victor. Aku ingin melihatnya lewat mataku sendiri dan memastikan kalau dia dihukum. Tapi setelah waktu berlalu, semua terlihat tidak akan terjadi. Mereka tidak akan mengizinkan kami untuk pergi. Mungkin, mereka mau mengizinkan satu sari kami untuk datang, dan jika itu berarti seseorang, dia adalah Lissa. Dia yang menjadi targey dari rencana Victor, dan memikirkan dia yang harus berdiri sendiri dengan ide yang menggelisahkan tentang dia yang tidak memerlukanku untuk mengawalnya, aku masih memiliki kesempatan untuk melihatnya dihukum.

Dimitri, yang mengerti keinginanku yang terburu-buru ingin ikut dan mengambil tindakan, terlihat terkejutdengan sikap tidak biasaku.

“Kau benar – dia seharusnya ada disana, tapi lagi, tidak ada yang bisa kuperbuat. Kau terus berpikir kalau aku bisa mengatur hal ini tapi aku tidak bisa.”

“Tapi, bukankah kau melakukan apapun yang bisa kau lakukan?” aku memikirkan kata-kata Adrian lagi dalam mimpiku, tentang bagaimana Dimitri bisa melakukan hal yang lebih dari iktu. “Kau memiliki banyak pengaruh. Pasti ada sesuatu. Apapun.”

“Tidak sebanyak yang kau pikirkan. Aku mendapatkan posisi yang tinggi di akademi, tapi di dunia pengawal, aku masih terlalu muda. Dan ya, aku sebenarnya sudah berbicara untukmu.”

“Mungkin kau seharusnya berbicara lebih keras.” Aku bisa merasakan dia mati langkah. Diskusinya memang beralasan tapi tidak akan bisa membujukku ketika aku menjadi perempuan keras kepala. Jadi, aku berusaha untuk menjadi lebih terlihat masuk akal.

“Victor tahu mengenai hubungan kita,” kataku. “Dia bisa mengatakan sesuatu.”

“Victor memiliki hal yang lebih besar untuk dikhawatirkan dalam persidangannya daripada masalah kita.”

“Ya, tapi kau kenal dia. Dia benar-benar tidak bertindak seperti orang normal lakukan. Jika dia berpikir kalau dia kehilangan semua harapan untuk keluar, dia mungkin memutuskan untuk menjebak kita sebagai tindakan balas dendamnya.”

Aku tidak pernah mampu menceritakan hubunganku dengan Dimitri kepada Lissa, tapi musuh terburuk kami mengetahuinya. Ini sangata aneh bahkan ketika Adrian tahu akan hal itu. Victor sudah menduganya dengan memata-matai kami dan mengumpulkan data. Kurasa ketika kau menjadi penjahat livik dengan rencana busuk, kau akan menjadi penjahat yang lihai menguasai hal-hal seperti itu. Dia tidak menyebarkannya ke orang lain. Sebaliknya, dia menggunakannya kepada kami berdua dengan mantera nafsu yang dia buat dari sihhir tanah. Sebuah mantera yang tidak akan bekerja jika tidak ada ketertarikan di dalamnya. Manteranya hanya melepaskan hasraat itu. Dimitri dan aku sudah saling ‘menyerang’ dan hanya tinggal satu detakan jantung saja sebelum kami melakukan seks. Ini menjadikan cara Victor sangat cerdas dengan menganggu kami tanpa bisa membuat kami melawan. Jika ada orang yang menyerang kami, kami bisa melawannya dengan baik. Tapi membuat kami kehilangan kendali atas diri kami? Kami punya maslaah dalam hal itu.

Dimitri diam untuk beberapa saat. Aku tahu dia paham maksudku. “Kalau begitu kita akan mencari jalan terbaik yang bisa kita lakukan,” katanya akhirnya. “Tapi jika Victor ingin mengatakannya, dia akan melakukannya dengan atau tanpa kehadiranmu.”

Aku menolak mengatakan apa pun hingga kami sampai di gereja. Ketika kami sampai, Bapa Andrew mengatakan kepada kami kalau setelah kami pergi mengangkut semua itu, dia memutuskan dia hanya perlu satu kotak lagi untuk diangkut ke tempat Nona Davis.

“Aku akan melakukannya,” kataku pada Dimitri dingin saat pendeta tidak mendengarnya. “Kau tidak perlu ikut membantu.”

“Rose, tolonglah, jangan memperbesar masalah.”

“Ini masalah besar!” aku mengejek. “Dan kau terlihat tidak mengerti semua ini.”

“Aku mengerti. Apa kau benar-benar berpikir kalau aku ingin Victor bebas? Apa kau pikir aku ingin kita semua menanggung resiko lagi?” Ini pertama kalinya aku melihat Dimitri terlihat diambang pengedalian. “Tapi sudah kukatakan padamu, aku sudah melakukan segala yang aku bisa. Aku tidak seperti mu – aku tidak bisa membuat sesuatu ketika hal itu tidak berjalan seperti yang kuinginkan.”

“Aku tidak seperti itu.”

“Kau melakukannya sekarang.” Dia benar. Ada bagian dalam diriku yang paham kalau aku sudah kelewat batas ... tapi seperti yang basa terjadi sebelum-sebelumnya, aku tidak bisa berhenti bicara.

“Kenapa kau bahakn menolongku hari ini?” aku menuntut. “Kenapa kau disni?”

“Apa itu begitu aneh?” tanyanya. Dia hampir terlihat terluka.

“Ya. Maksudku, apa kau mencoba memata-mataiku? Menduga mengapa aku mengacau? Memastikan kalau aku tidak masuk pada masalah lainnya?”

Dia mempelajariku, menyapukan rambut di matanya. “Mengapa harus ada maksud tersembunyi seperti itu?

Aku ingin mengatakan banyak hal tanpa berpikir. Seperti, jika itu buka tujuannya, lalu apakah itu berarti dia hanya ingin menghabiskan waktunya bersamaku. Dan semua itu tidak berarti apapun, sebab kami berdua tahu kalau kami hanya boleh memiliki hubungan guru-murid. Dia tahu hal itu. Dia lah yang memberitahukanku.

“Sebab semua orang punya tujuan.”

“Ya. Tapi tidak selalu maksud yang kau pikirkan.” dia mendorong pintu. “Sampai jumpa lagi.”
Aku melihatnya pergi, perasaanku bercampur antara bingung dan marah. Jika situasinya tidak tyerlalu aneh, aku mungkin hampir mengatakan kalau kami seperti sedang berkencan.

:: Download this e book in my Library ::
Share
Tweet
Pin
Share
11 komentar
Older Posts

AUTHOR

AUTHOR
TWILIGHT HUNTER, AN AUTHOR & AN ORDINARY ACOUSTIC PERFORMER WHO'S CRAVING FOR BEAUTY PICTURES

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • pinterest
  • google+
  • instagram
  • bloglovin

Labels

  • BOOK
  • CATATAN KULIAH
  • CHICKEN SOUP
  • CONTEST
  • FASHION
  • MOVIE
  • MUSIC
  • REVIEW
  • TES POTENSI AKADEMIK
  • TRAVEL STORY
  • VAMPIRE ACADEMY

Total Pageviews

Powered by Blogger.
Facebook Twitter Instagram Pinterest Bloglovin

Created with by BeautyTemplates