facebook twitter instagram pinterest google+

Love Your Life

  • Home
  • About
  • Literature
    • Poem
    • Short Story
    • Essay
    • Photoshop
  • Travel Story
    • Korea
    • Kalimantan
    • Bali
    • Java
    • Coffee Shop
  • Vampire Academy
    • Spirit Bound
    • Blood Promise
    • Shadow Kiss

BAIKLAH. SEMPURNA.
Perlu beberapa saat untuk kami memutuskan aksi kami selanjutnya. Kami mencoba mengumpulkan beberapa ide untuk melacak Robert dan Victor, dan semua ide tersebut hanya akan mematikan langkah kami. Robert memiliki sebuah telepon seluler, dan karena CIA dapat melacak benda tersebut, kami jelas saja tidak mungkin menggunakannya. Meskipun alamat Robert tertulis di buku telepon itu, aku yakin Victor tidak akan kembali kesana. Dan sementara Adrian dan Lissa mampu merasakan aura pengguna roh, kami hampir tidak bisa pergi kesana-kemari tanpa tujuan di sebuah kota dan berharap menemukan sesuatu.

Tidak, kami sudah kehabisan keberuntungan dengan kedua orang itu. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain kembali ke Istana dan menghadapi hukuman apapun yang menunggu kami. Kami, aku, telah mengacaukan semuanya.

Dengan matahari yang akan segera terbit — dan melihat bahwa kami sudah tidak lagi memliki seorang kriminal yang dikenali bersama kami, yang bisa menyebabkan kami kembali masuk ke dalam masalah — kawananku dengan muram memutuskan untuk kembali ke Witching Hour untuk merancang rencana perjalanan kami.  Aku dan Lissa yang paling sangat mungkin dikenali disana, namun remaja wanita yang kabur tidak bisa disamakan dengan kategori buronan pengkhianat. Kami memutuskan untuk mengganti permainan dan mendekatkan diri disekitar para penjaga dari pada mengambil lebih banyak resiko terhadap serangan Strigoi sebelum kami bisa keluar dari Vegas.

Witching Hour tidak terlalu berbeda dengan kasino yang pernah kami datangi sebelumnya — kecuali kau tahu apa yang kau cari. Manusia-manusia disana lebih tertarik dengan daya tarik dari permainan dan kemewahan daripada segerombolan pengawal yang memiliki tinggi, kerampingan, dan kulit pucat yang seragam. Dan untuk kami para dhampir? Manusia tidak bisa membedakan bahwa kami bukanlah manusia. Hanya indera  yang luar biasa yang dimiliki para Moroi dan dhampir  yang bisa  membuat kami tahu siapa yang Moroi, Dhampir, atau manusia.

Ada beberapa pengawal berbaur dengan taburan sorakan, obrolan, dan kadang, ratapan diantara kerumunan. Dan seperti yang telah menjadi keharusan bagi para pengawal, hanya segelintir pengawal yang bisa ditempatkan secara penuh di tempat seperti ini. Untungnya jumlah mereka diperkuat oleh mereka yang kaya dan berkuasa yang datang untuk bermain. Para oroi yang gembira berseru-seru di atas mesin slot, atau bermain dalam diam, para pengawal berjaga di sekitar mereka, mengawasi segala hal. Tidak ada Strigoi yang akan datang kesini.

“Sekarang apa?” tanya Lissa, hampir berteriak di tengah suara berisik ini. Ini pertama kalinya kami bicara sejak kami memutuskan pergi ke tempat ini. Kami mendatangi sebuah meja, tepat di tengah-tengah kerumunan ini.

Aku menarik nafas panjang. Suasana hatiku terasa sangat kelam, aku bahkan tidak memerlukan efek energi roh manapun. I sudah kehilangan Victor. Aku sudah kehilangan Victor. Mental diriku yang terus-menerus menyalahkanku berputar tanpa henti.

“Kita cari pusat bisnis mereka dan memesan tiket untuk keluar dari sini,” ucapku. “Tergantung dari seberapa lama sampai kita bisa mendapatkan jadwal penerbangan, kita mungkin perlu menyewa sebuah kamar lagi untuk menunggu.”

Mata Adrian memindai semua tindakan di sekitar kami, matanya menatap berlama-lama di salah satu dari banyak bar yang ada. “Kita akan baik-baik saja jika ingin menghabiskan sedikit waktu disini.”

Aku membentak.”Sungguh? Setelah segala hal yang sudah terjadi, hanya itu yang bisa kau pikirkan?”

Pandangannya yang terpesona berbalik ke arahku dengan cemberut. “Ada banyak kamera disini. Orang-orang mungkin akan mengenalimu. Memiliki bukti bahwa kamu ada di kasino dan bukan di Alaska adalah sesuatu yang bagus.”

“Benar,” aku mengakui. Kurasa suasana khas yang selalu diciptakan Adrian menutupi rasa ketidaknyamanan situasi ini. Selain mengetahui alasan sesungguhnya mengapa aku datang ke Las Vegas, dia juga berhadapan dengan Strigoi langsung — dan Dimitri ada diantaranya. Tentusaja, hal itu bukanlah pengalaman yang gampang untuk Moroi manapun. “Meskipun kita tidak memiliki alibi bahwa kita sebenarnya ada di Alasaka.”

“Selama Victor tidak menampakkan dirinya di sekitar sini, tidak akan satu orang pun yang sadar.” Suara Adrian menjadi pahit. “Yang berarti menunjukkan betapa bodohnya mereka semua.”

“Kita menolong Victor untuk kabur,” kata Lissa. “Tidak akan ada yang berpikir bahwa kita segila itu untuk membantunya kabur.”

Eddie, tetap diam, dan menatapku tajam.

“Jadi semua sudah beres ,” kata Adrian. “Salah satu dari kita memesan tiket. Aku akan memesan minuman dan mencoba beberapa permaina dengan tanganku. Alam semesta memberiku keberuntungan.”

“Aku akan membeli tiket,” kata Lissa, memindai tanda yang memberikan arah ke kolam renang, toilet  dan pusat bisnis.

“Aku akan pergi bersamamu,” kata Eddie. Padahal tatapannya seperti menuduhku sebelumnya, sekarang dia terlihat menghindari tatapanku.

“Oke,” kataku, sambil menyilangkan tangan. “Kabari aku apabila kau sudah selesai, dan aku akan menemukanmu.” kuucapkan itu untuk Lissa, yang berarti dia harus mengabariku melalui ikatan kami.

Diterjemahkan langsung dari Novel Vampire Academy : Spirit Bound karya Richelle Mead oleh Noor Sa'adah. This is truly fanmade and no profit work here.
Share
Tweet
Pin
Share
8 komentar
Para manusia itu menemukan kami. Aku tidak yakin dengan kesan apa yang muncul setelah mereka melihat kami. Beberapa lelaki menyerang remaja? Mereka berteriak agar kami semua saling melepaskan diri dan berbalik ke arah mereka, menginstruksikan agar kami bertiga menghentikan pertandingan tarik-menarik ini. Kemudian mereka mencoba menangani Dimitri. Dia masih mencengkramku, namun pegangannya cukup mengendur sehingga sekali tarikan kuat Eddie dan sedikit lompatan kecilku mampu membebaskanku. Aku dan Eddie bahkan tidak menatap ke belakang, meskpun para keamanan sedang berteriak ke arah kami sekarang

Bukannya hanya mereka yang sedang berteriak. Tepat sebelum aku membuka pintu, aku mendengar Dimitri memanggilku. Ada nada tawa dalam suaranya. “Ini belum berakhir, Roza. Apa kamu sungguh berpikir bahwa ada tempat di dunia ini untuk mu melarikan diri dimana aku tidak bisa menemukanmu?” Peringatan yang sama, selalu peringatan yang sama itu lagi.

Aku melakukan hal terbaik yang aku bisa untuk mengacuhkan rasa takut dari kata-kata yang menginspirasi itu. Aku dan Eddie berhamburan ke dalam udara kering berkabut, saat sinar matahari masih bergelantungan disana, meski hari sudah sore. Kami berada di area parkir Luxor — yang tidak cukup ramai untuk bisa menyembunyikan kami. Dengan komunikasi tanpa bicara, aku dan Eddie  menerobos jalan yang sibuk, paham kalau kemampuan fisik kami mampu melampaui para manusia yang mengejar kami dan membiarkan kami menghilang di antara penuhnya orang-orang.

Dan itu berhasil. Aku tidak lagi menemukan pengejar kami. Tebakanku, para staf keamanan itu sudah memfokuskan perhatian mereka ke pria tinggi yang telah membunuh orang-orang di hotel mereka.  Suara-suara yang berteriak mengejar kami memudar, gerakanku dan Eddie akhirnya melambat dan berhenti di depan New York-New York, dan kembali, bahkan tanpa berbicara, kami segera masuk ke dalam hotel.  Bangunan hotel ini memiliki tata letak yang memutar dan memiliki lebih banyak kerumunan dari pada di Luxor, dan kami dengan mudah membaur di dalamnya sampai kami bisa menemukan dinding kosong yang bearda di bagian sisi kasino hotel.

Pelarian ini sangat sulit bahkan untuk kami, dan perlu waktu untuk kami agar bisa bernafas normal saat kami berdiri disini.  Aku tahu segalanya menjadi serius saat Eddie akhirnya berbalik ke arahku, dan api kemarahan menyala di wajahnya, Eddie selalu memberikan gambaran tenang dan terkontrol, bahkan sejak penculikan pertama oleh Strigoi yang dialaminya tahun lalu. Kejadian itu membuatnya keras, membuatnya lebih kuat untuk menghadapi segala tantangan. Tapi oh, apakah dia sedang marah padaku sekarang?

“Apa maksudnya tadi?” seru Eddie. “Kau membiarkannya kabur!”

Aku menampilkan ekspresi wajah yang keras sebaik yang aku bisa, tapi sepertinya dia akan mengalahkanku hari ini. “Apa? Apakah kau lupa bagian dimana aku menyayatnya dengan pasakku?”

“Aku sudah memiliki jantungnya! Aku sudah hampir sukses menikam jantungnya, dan kau menghentikanku!”

“Keamanan sudah datang. Kita tidak punya cukup banyak waktu. Kita harus pergi dari sana, dan kita tidak bisa membiarkan para keamanan itu melihat kita yang melakukan pembunuhan.”

“Aku tidak yakin diantara mereka masih ada yang tersisa untuk melaporkan bahwa mereka melihat sesuatu,” sambar Eddie sama kerasnya. Dia terlihat mencoba mengembalikan ketenangan dirinya. “Dimitri meninggalkan setumpuk mayat disana. Kau tahu itu. Mereka mati karena kau tidak membiarkanku menusuk jantungnya.”

Aku tersentak, sadar bahwa Eddie benar. Seharusnya tidak berakhir disana. Aku tidak benar-benar melihat berapa jumlah para penjaga keamanan itu. Sudah berapa banyak yang tewas? Mereka tidak ada hubungannya. Hanya fakta bahwa orang-orang yang tidak berdosa tewas disana. Bahkan satu pun sudah terlalu banyak. Dan semua itu karena kesalahanku. 

Diamku membuat Eddie menekanku. “Bagaimana bisa dari semua orang, kau yang malah melupakan pelajaran itu? Aku tahu dia pernah menjadi instrukturmu - dulu. Tapi dia bukan lagi orang yang sama. Mereka mengulangi pelajaran itu berulang-ulang kali kepada kita. Jangan pernah ragu. Jangan pernah berpikir bahwa dia adalah orang yang sama.”

“Aku mencintainya,” aku berkata tanpa berpikir. Eddie tidak pernah tahu, Hanya sedikit orang yang tahu mengenai kisah romantisku dengan Dimitri dan apa yang terjadi di Siberia.

“Apa?” Eddie berteriak dengan terengah-engah. Kemarahannya berubah menjadi kekagetan yang luar biasa.

“Dimitri… dia lebih dari sekedar instrukturku…”

Eddie kembali menatapku untuk beberapa detik yang berat. “Dulu” katanya akhirnya.

“Hah?”

“Dia dulu lebih dari sekedar instruktur bagimu. Kau pernah mencintainya.” Saat kebingungan Eddie menghilang. Dia kembali menjadi seorang pengawal, tanpa simpati. “Aku minta maaf, namun itu semua sudah masa lalu, apa pun yang pernah terjadi antara kalian berdua. Kau harus tahu itu. Orang yang kau pernah cinta sudah tiada. Lelaki yang baru saja kau lihat itu? Bukan lah orang yang sama.”

Perlahan aku menggelengkan kepalaku. “Aku… aku tahu. Aku tahu itu bukan dia. Aku tahu dia sudah menjadi monster, tapi kita bisa menyelamatkannya…jika kita bisa melakukann apa yang Robert katakan pada kita tentang…”

Mata Eddie melebar, untuk sesaat, dia terkesiap. “Jadi semua hal ini tentang itu? Rose, itu konyol! Kau tidak bisa mempercayainya. Strigoi itu sudah mati. Mereka sudah tidak ada bagi kita. Robert dan Victor cuma mengumpani kita dengan bualan sampah.”

Sekarang aku yang kaget. “Lalu mengapa kau bahkan ada disini? Kenapa kau terlibat dengan kami?”

Eddie mengibaskan tangannya dengan jengkel. “Karena kau adalah temanku. Aku tetap disini bersamamu melalui semua ini… membebaskan Victor, mendengarkan ocehan gila saudaranya… karena aku tahu kau membutuhkan aku. Kalian semua melakukannya, untuk memastikan kau tetap aman. Aku pikir kau benar-benar memiliki alasan yang sesungguhnya untuk mengeluarkan Victor - dan bahwa kau akan mengembalikan dia ke penjara. Apakah ini terdengar gila? Ya! Tapi itu normal jika semua ini dari kau. Kau selalu memiliki alasan yang bagus dengan apa yang kau lakukan.” Eddie mendesah. “Tapi ini… ini sudah di luar batas. Membiarkan Strigoi pergi hanya untuk mengejar sebuah teori- sebuah teori yang mungkin tidak benar-benar bekerja - adalah sepuluh kali lebih buruk dari apa yang telah kita lakukan untuk Victor. Ratusan kali lebih buruk. Setiap hari Dimitri berjalan di dunia adalah hari-hari lain dimana orang-orang akan mati.”

Aku terduduk, bersandar di dinding dan menutup mataku, merasakan mual di perutku. Eddie benar. Aku sudah mengacaukan semuanya. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan membunuh Dimitri jika aku berhadapan dengannya sebelum kami menemukan solusi Robert. Harusnya semuanya berakhir hari ini… namun aku terhenti. Lagi.

Aku membuka mataku dan menaikkan wajahku, aku perlu menemukan tujuan baru sebelum aku meledak dengan air mata di tengah-tengah kasino. “Kita harus menemukan yang lain. Mereka di luar sana tanpa perlindungan.”

Mungkin hanya itu yang bisa menghentikan Eddie menceramahiku. Insting tugas kami kembali datang. Melindungi Moroi.

“Apa kau tahu dimana Lissa sekarang?”

Ikatanku tetap membuat ku terkoneksi dengan Lissa selama pelarian kami, namun aku tidak membiarkan diriku menyelidiki lebih dalam selain membenarkan bahwa dia masih hidup dan baik-baik saja. Aku memperluas ikatan itu sedikit lebih jauh. “Diseberang jalan, di MGM.” Aku telah melihat sebuah hotel saat kami berlari ke hotel yang ini, namun tidak menyadari bahwa Lissa ada di dalam sana. Sekarang aku bisa merasakannya, bersembunyi dibalik kerumunan seperti yang kami lakukan sekarang, ketakutan namun tidak terluka. Aku lebih memilih dia dan yang lain berada di bawah matahari, namun insting membuat Lissa mencari perlindungan di balik dinding-dinding. 

Eddie dan aku tidak lagi berbicara mengenai Dimitri saat kami menuju kesana dan menyebrangi jalanan yang padat. Langit sudah berubah berwarna kejingga-jinggaan, tapi aku masih merasa aman di luar sini. Jauh lebih aman dari pada di aula Luxor. Dengan ikatan kami, aku selalu bisa menemukan Lissa dan tanpa ragu, aku menuntun Eddie melalui lorong berputar MGM dan berbelok - sejujurnya,  tata ruang tempat ini terus dan terus membingungkan - hingga kami melihat Lissa dan Adrian berdiri di dekat jejeran mesin kasino. Adrian sedang merokok. Lissa melihatku, berlari, dan memelukku.

“Oh Tuhan. Aku sangat takut. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan kalian. Aku benci cara ikatan satu arah ini.”

Aku memaksa diriku tersenyum padanya. “Kami baik-baik saja.”

“Dengan memar,” Adrian merenungkan ucapanku sambil berjalan-jalan. Aku tidak meragukannya. Dalam perkelahian yang penuh adrenalin, sangat mudah untuk tidak menyadari adanya luka atau rasa sakit. Kemudian, setelah pertarungan usai, kau mulai menyadari apa yang telah kau dapatkan di tubuhmu. 

Aku sangat bersyukur bisa melihat Lissa baik-baik saja sampai aku menyadari apa yang hilang saat Eddie lebih dulu menyadarinya. “Kalian berdua, dimana Victor dan Robert?”

Wajah bahagia Lissa kusut, dan bahkan Adrian terlihat suram. “Sial,” kataku, tanpa perlu penjelasan lagi.


Lissa mengangguk, matanya melebar dan putus asa. “Kami kehilangan mereka.”
Diterjemahkan langsung dari Novel Vampire Academy : Spirit Bound karya Richelle Mead oleh Noor Sa'adah. This is truly fanmade and no profit work here.
Share
Tweet
Pin
Share
9 komentar
Jeritan menusuk tajam tiba-tiba berdering di kedua telingaku.  Kami berdua mengernyit. Bunyi-bunyian  yang dimaksudkan untuk mengagetkan manusia akan menyiksa kami yang memiliki pendengaran teramat sensitif. Namun aku merasa lega. Pintu tahan apinya. Akhirnya, para idiot itu meninggalkan gedung - dan ya, aku tidak cemas memanggil teman-temanku idiot saat mereka bertindak seperti itu. Aku merasakan sinar matahari melalui ikatan ku dan Lissa dan meraskan nyaman karenanya saat taring Dimitri mendekati arteriku yang akan menumpahkan darah kehidupan dari leherku.
Aku berharap alarm itu akan mengalihkannya, namun dia terlalu lihai. Aku mencoba berontak sekali lagi, berharap aku bisa menggunakan unsur kejutan terhadap Dimitri, tapi tidak berhasil. Apa yang bisa mengejutkannya ternyata adalah pasak Eddie yang menacap di sisi perutnya.
Dimitri mengeram kesakitan dan melepaskanku dan berbalik menatap Eddie. Wajah Eddie mengeras, tidak berkedip. Ia tidak menunjukkan rasa terganggu sedikitpun dengan berhadapan dan menatap Dimitri secara langsung. Selama yang aku tahu, Eddie bahkan tidak ikut serta dalam hal ini karena Dimitri. Mungkin apa yang dia lihat di hadapannya sekarang adalah Strigoi biasa. Begitulah cara kami dilatih. Melihat monster, bukan manusia yang kami kenal dulu.
Perhatian Dimitri teralihkan dariku selama beberapa waktu. Dia ingin mencabut kematianku. Eddie adalah semacam gangguan kecil yang perlu ia bersihkan sehingga ia bisa melanjutkan permainan.
Eddie dan Dimitri menari dalam gerakan yang sebelumnya kulakukan bersama Dimitri, yang berbeda adalah Eddie tidak memahami gerakan Dimitri seperti yang aku lakukan tadi. Sehingga Eddie tidak benar-benar bisa menghindari cengkraman Dimitri di bahunya dan melemparkannya ke dinding. Gerakan itu untuk menghancurkan tengkorak Eddie, namun Eddie cukup bisa mengelak sehingga hanya tubuhnya yang merasakan efek tersebut. Masih terasa sakit, namun ia bertahan hidup.
Semua kejadian ini terjadi dalam sekian milidetik. Dan dalam kejadian sekilas itu, sudut padangku berubah. Saat Dimitri menjulang di atas tubuhku, hendak menggigitku, aku bisa menguasai rasa untuk berpikir bahwa dia adalah Dimitri, orang  yang pernah aku cintai. Terus menerus berjuang di posisi sebagai korban, dengan hidup yang hampir berakhir, aku terus menempatkan diriku sendiri dalam mode bertarung dan bertarung.
Sekarang, melihat orang lain melawan Dimitri… melihat pasak Eddie mencuat keluar dari tubuhnya… mendadak, aku kehilangan pandangan objektifku. Aku ingat mengapa aku datang kesini. Aku ingat apa yang baru saja aku pelajari dari Robert.
Rapuh. Dia sungguh masih sangat rapuh. Aku  bersumpah pada diriku sendiri bahwa saat aku menemukan kesempatan dimana Dimitri akan membunuhku dan aku belum mempelajari bagaimana cara mengembalikan Strigoi, aku akan melakukannya. Aku akan membunuhnya. Dan ini adalah kesempatanku. Antara Eddie dan aku, kami bisa melumpuhkan Dimitri. Kami bisa mengakhiri bentuk iblis ini, sesuai dengan yang dulu pernah ia inginkan.
Namun… kurang dari setengah jam yang lalu, aku telah diberikan sekeping bagian kecil harapan bahwa Strigoi masih bisa diselamatkan. Benar bahwa bagian mengenai pengguna roh melakukannya merupakan konsep yang absurd, namun Victor percaya. Dan jika seseorang seperti dia percaya …
Aku tidak bisa melakukannya. Dimitri tidak boleh mati. Tidak sekarang.
Aku berteriak bersama pasakku, sebuah serangan keras yang mendesak titik perak dibagian belakang kepala Dimitri. Dia mengaum marah dan berhasil berbalik dan mendorongku saat sedang menangkis Eddie menjauh. Dimitri memang sangat  mahir. Namun pasak Eddie semakin dekat dengan jantung Dimitri, dan tatapan mata temanku ini sangat teguh untuk membunuh Dimitri.
Perhatian Dimitri melayang diantara kami berdua, dan dalam jeda yang singkat - hanya setengah tarikan nafas - aku melihat Eddie siap dengan pasak di zona targetnya, siap untuk menusuk tepat di jantung Dimitri. Sebuah tancapan yang terlihat sekali akan sukses ditempat dimana aku gagal sebelumnya. 
Dan karena itulah, dengan gerakan yang luwes, aku menyerang dengan pasakku, menggeseknya di sepanjang wajah Dimitri dan menggeser pergelangan Eddie saat aku melakukannya. Wajah Dimitri sangat tampan. Aku benci karena aku harus merusaknya tapi aku tahu bahwa Dimitri akan sembuh. Saat aku melakukan serangan itu, aku mendorongnya, mendesaknya ke arah Eddie sehingga aku dan dia tersandung menuju pintu api yang masih menjeritkan peringatannya. Wajah dingin Eddie terkejut, dan untuk sekejap kami menemui jalan buntu: Aku yang mendorong Dimitri ke pintu, dan Eddie yang mendorong balik Dimitri. Meskipun, aku melihat keraguan di dalamnya.  Posisi ini begitu salah, dan Eddie di ambang keinginan untuk mendorong aku ke Strigoi yang mana dalam latihan yang ia pelajari hal tersebut tidak diizinkan.
Dan Dimitri telah merebut kesempatan itu. Tangannya menggapai dan meraih bahuku, mencoba menyentakkanku balik. Eddie memegang lenganku dan menarikku. Aku berteriak karena rasa kaget dan sakit. Rasanya seperti mereka sedang mencoba merobekku menjadi dua bagian. Dimitri jauh lebih kuat, namun meskipun terjebak di tengah-tengah, beratku memainkan perannya, dan aku meminjamkan kekuatanku kepada Eddie, yang menolong kami untuk mendapatkan lebih banyak pijakan. Namun masih terlalu lamban. Seperti berjalan di dalam madu. Setiap langkah maju yang kudapatkan, Dimitri berhasil menariku kembali.
Namun Eddie dan aku membuat kemajuan yang lambat dan sangat sangat menyiksa menuju pintu yang terus menjerit itu. Beberapa saat kemudian, aku mendengar dentuman langkah dan suara-suara, “Keamanan,” dengus Eddie, membuatku tersentak.
“Sial,” keluhku.
“Kau tidak akan bisa menang,” desis Dimitri. Dia berhasil mencengkram bahuku sekarang dengan kedua tangannya dan menjadi lebih kuat daripada kami.
“Benarkah? Kami akan memiliki semua pasukan Luxor Attack disini.”

“Kami akan menumpuk semua tubuh disini. Manusia,” jawabnya tidak peduli.
Diterjemahkan langsung dari Novel Vampire Academy : Spirit Bound karya Richelle Mead oleh Noor Sa'adah. This is truly fanmade and no profit work here.

Share
Tweet
Pin
Share
3 komentar
DAN SATU DIANTARA MEREKA … SATU DARI MEREKA …

“Tidak,” aku menarik napasku, bahkan saat aku melompat ke arah salah satu yang terdekat denganku — seorang wanita. Jumlah mereka telah bertambah menjadi tiga di hadapan kami.

Eddie pun sudah bergerak, dan kami berdua mencoba untuk mendorong Moroi dibelakang kami. Mereka tidak perlu banyak peringatan untuk memahami kode itu. Saat Strigoi menampakkan diri, para Moroi harus segera dilindungi — menciptakan sebuah kemacetan. Diantara refleks spontan Eddie dan kepanikan para Moroi, aku sangat yakin tidak ada satupun dari mereka menyadari apa yang sudah aku lihat.

Dimitri ada diantara mereka.

Tidak, tidak, tidak, kataku, kali ini untuk diriku sendiri. Dia memperingatkanku. Berkali-kali dia menyampaikan di suratnya bahwa segera aku berada di luar zona aman, dia akan datang untukku. Aku mempercayainya, namun… melihat kenyataannya langsung ternyata adalah sesuatu yang berbeda. Sudah tiga bulan, namun dalam jangka waktu yang singkat itu, jutaan kenangan berlari melewati pikiranku dalam tampilan tajam yang sangat jelas. Saat Dimitri menahanku. Cara bibirnya — yang sangat, sangat hangat meskipun kulitnya begitu dingin — mencium bibirku. Sensasi taringnya yang menancap ke leherku dan kenikmatan yang manis yang mengikuti setelahnya …

Dia terlihat sama, dengan suasana warna pucat seputih kapur dan merah - mata yang bulat yang sangat berlawanan dengan kelembutan, rambut cokelat sedagu, dan garis wajah yang menawan di wajahnya. Dia bahkan memakai mantel kulit yang sepertinya masih baru, mengingat mantel lamanya telah benar-benar hancur saat pertarungan terakhir kami di jembatan dulu. Dimana dia bisa mendapatkan mantel-mantel itu?

“Keluar!” aku berteriak. Kata-kataku kutujukan untuk para Moroi, bahkan saat pasakku sedang kutusukkan ke jantung si Strigoi wanita. Kondisi kebingungan yang terjadi pada kami semua di lorong memberikan efek yang lebih merugikan untuk strigoi wanita itu dari pada untukku. Aku mendapatkan kesempatan yang pas terhadapnya, dan jelas sekali ia tidak menyangka kalau aku bisa begitu cepat. Aku telah membunuh banyak Strigoi karena mereka meremehkanku.

Eddie tidak memperoleh keberuntungan yang aku punya. Dia tersandung saat Victor mendorong melewatinya, membuat Strigoi yang lain - seorang laki-laki - yang berada di depan memiting Eddie ke dinding. Namun, ini adalah hal yang selalu aku dan Eddie hadapi, dan Eddie bisa menanggapinya dengan cantik. Eddie mendadak berbalik dari pukulan itu dan dengan Moroi yang sudah menyingkir, Eddie mampu menerjang strigoi itu dan bertarung melawannya. 

Dan aku? Perhatianku tertuju pada Dimitri.

Aku melangkahi Strigoi wanita yang tumbang itu tanpa melihat ke arah si Strigoi. Dimitri tengah menunggu dibagian belakang, mengirimkan kaki tangannya ke garis depan pertarungan. Mungkin karena aku sudah mengenal Dimitri terlalu dalam, tapi aku menduga bahwa dia tidak terkejut saat aku begitu cepat melumpuhkan salah satu kaki tangannya dan Eddie memberikan perlawanan yang menyiksa untuk yang satunya. Aku ragu kalau Dimitri peduli apakah mereka hidup atau mati. Baginya, mereka hanyalah pengecoh untuk mendapatkan aku.

“Aku sudah menyampaikan kepadamu,” kata Dimitri, matanya tajam sekaligus terlihat senang. Dia memperhatikan setiap gerakanku, kami berdua secara bawah sadar menirukan gerakan masing-masing saat kami menunggu serangan pembuka. “Aku sudah bilang bahwa aku akan menemukanmu.”

“Ya,” jawabku, mencoba mengabaikan geraman Eddie dan Strigoi  yang satunya. Eddie bisa mengatasinya. Aku tahu dia mampu. “Aku membaca memonya.”

Senyuman hantu melingkar di bibir Dimitri, menunjukkan taring yang entah mengapa memicu campuran antara kerinduan dan kebencian di dalam diriku. Segera, aku mendorong perasaan itu menjauh. Aku pernah ragu sebelumnya saat aku bersama Dimitri dulu dan hampir mati karenanya. Aku menolak membiarkan itu terjadi lagi, dan adrenalin yang memompa keras melalui tubuhku menjadi pengingat yang bagus bahwa ini adalah situasi dengan pilihan lakukan atau mati.

Dia memulai serangan dan aku mengelak — hampir menyadari bahwa dia memang akan menyerang. Itu adalah masalah kami berdua. Kami terlalu saling memahami — saling mengenal baik gerakan masing-masing. Tentu saja, itu bukan berarti bahwa kami adalah lawan yang seimbang. Bahkan saat ia masih hidup, dia memiliki pengalaman yang lebih banyak dari diriku, dan kemampuan Strigoinya menaikkan skalanya.

“Namun kau ada disini,” katanya, masih dengan tersenyum. “Dengan konyolnya keluar dimana seharusnya kau tetap tinggal di istana yang aman. Aku bahkan hampir tidak percaya saat  mata-mataku menginformasikan hal ini padaku.”

Aku tidak menjawab apapun, dan mencoba menusukkan pasakku dengan keras ke arahnya. Dia telah menyadarinya dan menghindarinya juga. Dia yang ternyata memiliki mata-mata tidak mengejutkanku - bahkan di siang hari. Dia mengendalikan sebuah jaringan Strigoi dan manusia, dan aku tahu dia punya mata dan telinga yang mengamati istana. Pertanyaanya adalah: Bagaimana bisa dia masuk ke hotel ini di tengah hari bolong? Meskipun dengan mata-mata manusia yang mengamati kami di bandara atau memonitor kartu kredit seperti yang dilakukan Adrian, Dimitri dan teman Strigoinya harusnya menunggu hingga malam tiba untuk sampai kesini.

Tidak, itu tidak penting, aku baru menyadarinya kemudian. Strigoi biasanya memiliki kaki tangan. Truk dan mobil van dengan ruang yang benar-benar gelap dan tertutup. Melalui jalur bawah tanah. Moroi yang ingin mencoba bermain kasino dari Witching Hour tahu tentang lorong rahasia yang menghubungkan gedung-gedung tertentu. Dimitri pastinya tahu tentang hal ini juga. Jika dia menungguku untuk keluar dari istana dia pastinya sudah melakukan cara apapun untuk mendapatkanku. Aku tahu lebih baik dari orang lain bagaimana cerdasnya dia. 

Aku juga tahu bahwa dia sedang mengalihkan perhatianku dengan berbicara.

“Dan yang paling aneh adalah,” lanjutnya, “kau tidak datang sendirian. Kau membawa Moroi. Kau selalu mengambil resiko dengan hidupmu, tapi aku tidak menyangka kalau kau menjadi begitu gegabah dengan hidup mereka.”

Sesuatu terjadi padaku kemudian. Disamping dengungan samar dari kasino di ujung lorong dan suara pertarungan kami, yang lain terasa sunyi. Kami melupakan sebuah suara keributan yang penting. Katakanlah seperti suara dari alarm pintu kebakaran.

“Lissa!” teriakku. “Keluar dari sini! Bawa semuanya keluar dari sini!”

Dia harusnya tahu lebih baik. Mereka seharusnya sudah tahu lebih jelas. Pintu itu mengarah ke lantai atas - tempat terbuka. Matahari masih terang. Tidak masalah jika alarm membawa pihak keamanan hotel ke arah kami. Mungkin akan menakut-nakuti para Strigoi. Yang terpenting adalah, para Moroi bisa aman.

Namun kesadaran cepat dari ikatan kami berdua menyampaikan sebuah masalah. Lissa membeku. Kaku. Dia tiba-tiba menyadari dengan siapa aku bertarung, dan kekagetan itu terlalu banyak untuknya. Mengetahui Dimitri telah menjadi Strigoi adalah satu hal. Melihatnya langsung — benar-benar melihat ke arahnya — rasanya berbeda. Aku tahu dari pengalaman pribadiku. Bahkah setelah mempersiapkan diri untuk melihatnya, penampilannya masih membuatku terkesima. 

Cukup dengan sekali detakan jantung aku bisa menilai bagaimana perasaannya, namun di dalam sebuah pertarungan melawan Strigoi, satu detik bisa menjadi faktor yang menentukan antara hidup dan mati. Taktik omongan Dimitri berhasil, dan meskipun aku sedang menatapnya dan berpikir kalau kewaspadaanku sudah terpasang, dia berhasil meraihku dan mendorongku ke arah dinding, tangannya menjepit lenganku dengan sangat menyakitkan sehingga aku kehilangan pegangan ke pasakku.

Dia mengarahkan wajahnya tepat ke wajahku, sangat dekat sehingga dahi kami bersentuhan.
“Roza …” dia berbisik. Napasnya hangat dan manis di kulitku. Harusnya nafasnya beraroma kematian atau busuk, namun tidak. “Kenapa? Kenapa kau harus mempersulit semua ini? Kita bisa menghabiskan keabadian ini bersama…”

Jantungku bergumuruh di dadaku. Aku takut, ketakutan akan kematian yang aku tahu hanya berjarak beberapa detik saja sekarang. Pada waktu yang sama, aku dipenuhi rasa penyesalan karena telah kehilangan dirinya. Menatap wajahnya, mendengar aksen yang sama dari suaranya yang bahkan sekarang membungkusku seperti beludru … aku merasakan hatiku kembali hancur. Kenapa? Kenapa ini harus terjadi kepada kita berdua? Kenapa alam semesta begitu kejam kepada kita?

Aku berhasil menghidupkan  kesadaranku kembali, sekali lagi membunuh fakta bahwa dia adalah Dimitri. Kami adalah predator dan mangsa - dan aku sedang dalam bahaya sebagai mangsa yang akan segera dimakan.

“Maaf,” jawabku melalui gigiku yang bergemeretak, mendorongnya keras - dan gagal - untuk melepaskan cengkramannya. “Keabadianku tidak termasuk menjadi bagian mafia mayat hidup.”

“Aku tahu,” katanya. Aku bisa bersumpah kalau aku baru saja melihat kesedihan di wajahnya namun kemudian aku meyakinkan diriku sendiri bahwa aku hanyalah sedang berhalusinasi. “Keabadian akan menjadi sepi tanpa dirimu.”

Bersambung ke Chapter 10 part 2 .: Coming Soon :.
Diterjemahkan langsung dari Novel Vampir Academy: Spirit Bound karya Richelle Mead oleh Noor Saadah. This is truly  fanmade and  no profit work.
Share
Tweet
Pin
Share
5 komentar
Keterkejutan sekejap di wajah Victor yang biasanya terkendali. Dia jelas tidak pernah menduga akan pertanyaan ini.
“Darimana kau mendengar semua ini?” desak Robert.
“Dari pasangan yang kutemui di Rusia. Nama mereka adalah Mark dan Oksana.”
“Mark dan Oksana…” Lagi, tatapan Robert mengembara jauh sebentar. Aku rasa hal ini sering terjadi, bahwa dia tidak terlalu banyak menghabiskan waktu di kehidupan nyata.  “Aku tidak tahu kalau mereka masih bersama.”

“Mereka masih bersama. Dan mereka sangat bahagia.” Aku memerlukan dia kembali ke masa sekarang. “Apakah itu benar? Apa kau memang pernah melakukan apa yang mereka ceritakan? Apa itu mungkin?”  Respon Robert diawali dengan sebuah jeda.
“Wanita itu.”
“Huh?”
“Dia adalah seorang wanita. Aku telah membebaskannya.” Aku terkesiap dan terlupa akan diriku sendiri,  nyaris tak berani memproses kata-katanya.
“Kau berbohong.” itu suara Adrian, dengan nada yang kasar.
Robert melirik ke arahnya dengan ekspresi geli dan sinis.
“Dan siapa kau berani berkata seperti itu? Bagaimana kau bisa mengatakannya? Kau telah begitu banyak menggerus dan menyalahgunakan kekuatanmu, sangat  mengherankan karena kau masih bisa menyentuh kekuatan itu lagi. Dan semua hal yang kau lakukan terhadap dirimu sendiri … tidak benar-benar membantumu, kan? Hukuman roh masih mempengaruhimu … segera, kau tidak akan bisa membedakan antara kenyataan dan mimpi …”

Kata-kata itu membekukan Adrian sesaat, namun ia tetap berbicara.
“Aku tidak perlu tanda fisik apapun untuk melihat kalau kau sedang berbohong. Aku tahu kau berbohong karena apa yang kau gambarkan itu tidak mungkin. Mereka telah mati. Selamanya.”
“Ini adalah cerita yang mana yang telah mati tidak selamanya akan mati…”  Kata-kata Robert tidak ditujukan kepada Adrian. Kata-kata itu berbicara kepadaku. Aku mengigil.
“Bagaimana? Bagamana cara kau melakukannya?”
“Dengan sebuah pasak. Dia terbunuh dengan sebuah pasak, dan dengan itu pula, dia dikembalikan ke kehidupan.”
“Baiklah,” kataku. “Itu kebohongan. Aku sudah pernah membunuh banyak Strigoi dengan pasak, dan percaya padaku, mereka tetap saja mati.”
“Bukan sekedar pasak biasa.” Jemari Robert menari di pinggiran gelasnya. “Sebuah pasak khusus.”
“Sebuah pasak yang dimantrai oleh roh,” kata Lissa tiba-tiba.

Robert mengangkat matanya ke arah Lissa dan tersenyum. Itu adalah senyum yang menakutkan. “Ya. Kau gadis yang pintar, gadis yang pintar. Seorang gadis yang lembut dan pintar. Lembut dan baik. Aku bisa melihatnya dari auramu.”

Aku menatap ke luar meja, pikiranku mengarah entah kemana. Sebuah pasak yang dimantarai oleh roh. Pasak perak yang telah di mantrai oleh empat element utama kaum Moroi: tanah, udara, air, dan api. Itu merupakan infusi kehidupan yang bisa menghancurkan kekuatan yang tidak mati di dalam diri Strigoi. Dengan penemuan terbaru kami tentang bagaimana cara memantrai sebuah objek dengan roh, menginfusi sebuah pasak tidak pernah terpikirkan dalam benak kami sebelumnya. Roh menyembuhkan. Roh telah membawaku kembali dari kematian. Dengan bergabung bersama elemen yang lain di dalam sebuah pasak, apakah mungkin benar kegelapan yang berbelit-belit  yang mencengkram Strigoi bisa dilenyapkan, hingga mengembalikan seseorang ke keadaannya yang semula? Aku bersyukur saat makanan datang sebab otakku masih bergerak dengan malasnya. Telur gulung memberikan kesempatan yang hangat untuk berpikir.

“Apakah benar bisa semudah itu?” tanyaku akhirnya.
Robert mengejek. “Tidak semudah itu.”
“Tapi tadi kau bilang … kau baru saja bilang kita memerlukan sebuah pasak dengan mantra roh. Dan kemudian aku membunuh satu Strigoi dengan pasak bermantra itu.” Atau baiklah, bukan membunuh. Teknisnya tidak seperti itu.
Senyumnya kembali merekah. “Bukan kau. Kau tidak bisa melakukannya.”
“Lalu siapa…” aku berhenti, sisa kata-kata yang ingin kuucapkan sekarat di bibirku. “Tidak. Tidak.”
“Seorang Shadow-Kissed tidak memiliki anugerah kehidupan. Hanya untuk yang dianugerahi oleh roh.” Dia menjelaskan. “Pertanyaannya adalah: Siapa yang mampu melakukannya? Si Gadis Lembut atau Si Tanah Mabuk?” matanya mengibas antara Lissa dan Adrian. “Aku bertaruh untuk Si Gadis Lembut.”

Kata-kata itu menamparku keluar dari kondisi bengalku. Pada kenyataannya, pilihan itu menghancurkan semuanya, mimpi yang mengada-ada untuk menyelamatkan Dimitri.
“Tidak,” ulangku. “Meskipun itu mungkin — dan aku tidak yakin apakah aku bisa mempercayaimu — dia tidak bisa melakukannya. Aku tidak akan mengizinkan dia melakukannya.”

Lissa berpaling ke arahku, kemarahan membanjiri ikatan kami. “Dan sejak kapan kau yang menentukan apa yang bisa dan tidak bisa aku lakukan?”
“Sejak aku ingat bahwa kau tidak pernah mengikuti latihan pengawal dan belajar menusukkan pasak ke Strigoi.” Aku mengembalikan kata-katanya dengan imbang, mencoba menjaga suaraku agar tetap tenang. “Kau hanya pernah menonjok Reed, dan itu cukup keras.” Saat Avery Lazar pernah mencoba mengambil alih pikiran Lissa, dia mengirimkan saudara laki-laki Shadow-kissed nya untuk melakukan beberapa pekerjaan kotor. dengan bantuanku, Lissa menonjok  laki-laki itu dan membuatnya menjauh. Kejadian eksekusi yang indah, namun Lissa membencinya.

“Aku telah melakukannya, kan?” seru Lissa.
“Liss, menonjok seseorang tidak sama dengan menancapkan pasak ke Strigoi. Dan itu tidak termasuk hitungan bahwa faktanya kalau kau harus berada dekat dengan mereka. Apa kau pikir kalau kau bisa berada di dalam jarak tersebut sebelum satu dari mereka menggigitmu atau mematahkan lehermu? Tidak.”
“Aku akan belajar.” Kesungguhan dari suara dan pikirannya sangatlah mengagumkan, namun perlu sepuluh tahun dari usia pengawal untuk mempelajari apa yang telah kami lakukan — dan sebagian besar telah terbunuh.

Adrian dan Eddie  terlihat tidak nyaman di tengah-tengah pertengkaran kami, namun Victor dan Robert terlihat tertarik dan geli. Aku tidak suka itu. Kami disini bukan untuk menjadi hiburan.

Aku mencoba membelokkan topik berbahaya itu dengan kembali kepada Robert. “Jika seorang pengguna roh mengembalikan Strigoi, itu berarti orang tersebut akan menjadi seorang Shadow-kissed (dicium bayangan).”

Aku tidak menunjukkan kesimpulan yang jelas kepada Lissa. Bagian yang membuat Avery gila (disamping penggunaan roh dengan normal)  adalah terikat dengan lebih dari satu orang. Melakukannya menciptakan sebuah situasi yang sangat tidak stabil yang akan sering kali mengantarkan semua orang yang terkait di dalamnya ke dalam kegelapan dan kegilaan.

Mata Robert tumbuh mengawang-awang saat dia menatap langsung ke arahku. “Bentuk ikatan saat seseorang mati — saat jiwa mereka sebenarnya sudah pergi dan berpindah ke dunia kematian. Membawanya kembali membentuk mereka menjadi Shadow-kissed. Tanda kematian menempel pada mereka.” Pandangannya mendadak menusukku. “Sama seperti yang terjadi padamu.”

Aku menolak untuk menghindari matanya, meskipun rasa dingin melalui kata-katanya terkirim menembus diriku. “Strigoi telah mati. Menyelamatkan satu berarti mengembalikan jiwanya dari dunia kematian juga.”

“Tidak,” sanggahnya. “Jiwa mereka belum berpindah ke dunia  kematian. Jiwa-jiwa mereka  masih hidup… tidak di dunia ini juga tidak pula di dunia setelahnya. Kondisinya salah dan tidak alami. Itulah yang membentuk jati diri mereka sekarang. Membunuh atau menyelamatkan satu Strigoi, akan mengirimkan jiwanya ke kondisi semula. Tidak ada ikatan.”
“Jadi tidak ada bahaya,” kata Lissa padaku.
“Selain Strigoi yang akan membunuhmu,” aku menekankan.
“Rose —“
“Kita aka menyelesaikan percakapan ini nanti.” Aku memberinya tatapan tajam. Kami bertatapan sebentar, dan kemudian dia berpaling ke arah Robert. Masih ada sedikit sifat keras kepala di dalam ikatan kami yang membuatku tidak suka.
“Bagaimana caramu memantrai pasak itu?” tanyanya. “Aku masih belajar.”

Aku mulai menilai Lissa dan kemudian berpikir lebih baik dari ini.  Mungkin Robert keliru. Mungkin semua hal  tentang mengubah Strigoi ini sebenarnya tentang sebuah pasak yang diisi energi roh. Dia hanya berpikir bahwa pengguna roh yang harus melakukannya karena dia telah melakukannya. Kata orang. Selain itu, aku lebih memilih Lissa menyibukkan dirinya sendiri dengan memantrai daripada bertempur. Jika bagian memantrai terdengar sulit, dia mungkin akan menyerah untuk bertarung.
Robert menatapku dan kemudia Eddie. “Salah satu dari kalian pastinya memiliki sebuah pasak sekarang. Aku akan menunjukkannya pada kalian.”

“Kau tidak boleh menunjukkan sebuah pasak di muka umum,” seru Adrian, dan itu adalah observasi yang sungguh bijaksana. “Benda itu akan terlihat aneh bagi manusia, tapi jelas terlihat kalau benda itu adalah sebuah senjata.”
“Dia benar,” kata Eddie.
“Kita bisa kembali ke kamar setelah makan malam,” kata Victor. Wajahnya terlihat senang dan lembut dengan sempurna. Aku mempelajarinya, berharap bahwa ekspresiku bisa menunjukkan rasa tidak percayaku. Meskipun dengan semangat Lissa, aku bisa merasakan keraguan di dirinya juga. Dia masih tidak senang mengikuti apapun saran dari Victor. Kami telah melihat di masa lalu bagimana mati-matiannya Victor melakukan sejauh yang ia bisa untuk memenuhi rencananya. Dia meyakinkan anak perempuannya sendiri untuk merubah dirinya menjadi Strigoi dan membantunya keluar dari penjara. Dan dari semua yang kami tahu, dia merencanakan hal yang sama untuk —
“Itu dia,” aku menarik nafas, merasakan mataku melebar saat aku menatap Victor.
“Itu dia apa?” tanya Victor.
“Itulah mengapa kau mengubah Natalie. Kau pikir … kau sudah tahu tentang semua ini. Apa yang telah Robert lakukan. Kau akan menggunakan kekuatan Strigoinya dan meminta Robert untuk mengembalikannya lagi.”
Wajah Victor yang sudah pucat semakin pucat, dan dia terlihat begitu tua di mata kami. Tatapan percaya dirinya menghilang dan ia mengalihkan jauh pandangannya. 
“Natalie sudah mati dan telah lama hilang,” katanya kaku. “Tidak ada hubungannya mendiskusikan dia.”

Beberapa dari kami  berusaha untuk makan setelah itu, namun telur gulungku terasa hambar sekarang. Lissa dan aku berpikir hal yang sama. Diantara semua dosa-dosa Victor, aku selalu berpikir bahwa usahanya untuk meyakinkan putrinya sendiri untuk berubah menjadi Strigoi adalah yang terjahat. Itu yang membuatku setuju untuk meberikan ia label sebagai monster. Mendadak, aku dipaksa untuk mengevaluasi kembali banyak hal — dipaksa untuk mengevaluasi dia kembali. Jika dia tahu bahwa dia bisa membawa putrinya kembali, itu membuat apa yang telah ia lakukan buruk — namun tidak buruk yang seperti itu. Dia masih menjadi sosok iblis di dalam pikiranku, tidak ada pertanyaan. Namun jika dia percaya kalau dia bisa membawa Natalie kembali, itu berarti dia percaya dengan kekuatan Robert. Aku masih belum bisa mengizinkan Lissa mendekati Strigoi, tapi ini adalah dongeng yang tidak dapat dipercaya menjadi bisa dipercaya. Aku tidak bisa membiarkannya tanpa investigasi lebih jauh.

“Kita bisa pergi ke kamar setelah ini,” kataku akhirnya. “Tapi tidak untuk waktu yang lama.”
Kata-kataku untuk Victor dan Robert. Robert terlihat menghilang masuk ke dalam dunianya sendiri lagi, namun Victor mengangguk.

Aku meberikan tatapan cepat ke arah Eddie and mendapatkan anggukan singkat yang berbeda dari dirinya yang biasa. Dia paham dengan resiko membawa kedua saudara ini kesebuah ruangan pribadi.  Eddie sudah pernah berkata padaku bahwa ia akan ekstra waspada — bukan berarti dari tadi dia tidak waspada.  Akhirnya kami menghabiskan makan malam kami, aku dan Eddie merasa kaku dan tegang. Dia berjalan didekat Robert, dan aku disamping Victor. Kami menjaga Lissa dan Adrian diantara kedua bersaudara itu. Meskipun menjaganya untuk tetap dekat, namun agak susah saat kami harus melewati kasino yang padat. Orang-orang berhenti di jalur kami, berjalan di sekitar kami, melewati kami … sangat kacau. Dua kali, grup kami terpisah oleh turis yang lupa daratan. Kami tidak terlalu jauh dari lift, namun aku merasa tidak nyaman tentang kemungkinan bahwa Victor dan Robert bisa melarikan diri melalui gerombolan orang-orang.

“Kita perlu keluar dari keramaian ini,” teriakku pada Eddie.  Dia mengangguk cepat dan mengambil arah kiri mendadak yang membuatku terkejut. Aku pun mengarahkan Victor ke arah yang sama, Lissa dan Adrian berjalan disamping untuk menyeimbangi kami. Aku masih belum tahu apa rencana Eddie sampai aku melihat bahwa kami mendekati sebuah lorong dengan tulisan PINTU DARURAT di depannya. Jauh dari kasino yang sibuk, level suara ribut meredup.

“Aku menduga kemungkinan adanya tangga disini,” jelas Eddie.
“Penjaga yang ahli.” aku mengerjapkan senyuman ke arahnya.
Belokan selanjutnya menunjukkan kami lemari kebersihan di sebelah kanan dan di depan kami: sebuah pintu dengan simbol tangga. Pintu itu menunjukkan baik ke arah luar maupun ke lantai atas.l
“Cerdas,” kataku.
“Kalian ada di lantai sepuluh,” tegas Adrian. Itu pertama kalinya dia berbicara sejak tadi.
“Anggap saja latihan kecil — sial.” aku berhenti mendadak di depan pintu. Ada sebuah tanda peringatan kecil bahwa alarm akan berbunyi jika pintu dibuka. “Perhitungkan.”
“Maaf,” kata Eddie seolah dia secara pribadi yang bertanggung jawab.
“Bukan salahmu,” kataku, berbalik. “Kita kembali.” kami harus mencoba kesempatan kami dengan melalui kerumunan orang-orang.  Mungkin jalan memutar ini membuat Victor dan Robert cukup lelah dan menganggap kabur adalah sesuatu hal yang tidak menarik. Tidak ada dari mereka berdua yang masih muda, dan Victor masih dalam kondisi yang buruk.

Lissa begitu tegang untuk terlalu berpikir tentang diarahkan kembali, namun Adrian menatapku  bahwa jelas dia berpikir berjalan tak tentu arah seperti ini membuang waktunya. Jelas sekali, dia berpikir bahwa segala tentang Robert ini membuang waktunya. Sejujurnya, aku cukup kaget saat dia mengikuti kami kembali ke kamar. Aku mengira dia akan tinggal di kasino dengan rokok dan minumannya.
Eddie, memimpin grup kami, melangkah  kembali menuju kasino di bawah. Dan kemudian sesuatu menghantamku.
“Berhenti!” aku berteriak.

Dia merespon segera, berhenti di bagian ruangan yang sempit. Sedikit kebingungan mengikuti. Victor tersandung ke arah Eddie dengan terkejut, dan kemudian Lissa tersandung ke arah Victor. Insting membuat Eddie mengambil pasaknya, namun pasakku sudah lebih dulu keluar. Aku memegang pasakku saat rasa mual menyapuku. Ada Strigoi diantara kami dan kasino.

Bersambung ke Chapter 10 .: Coming Soon :.
Diterjemahkan langsung dari Novel Vampir Academy: Spirit Bound karya Richelle Mead oleh Noor Saadah. This is truly  fanmade and  no profit work.
Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar
Older Posts

AUTHOR

AUTHOR
TWILIGHT HUNTER, AN AUTHOR & AN ORDINARY ACOUSTIC PERFORMER WHO'S CRAVING FOR BEAUTY PICTURES

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • pinterest
  • google+
  • instagram
  • bloglovin

Labels

  • BOOK
  • CATATAN KULIAH
  • CHICKEN SOUP
  • CONTEST
  • FASHION
  • MOVIE
  • MUSIC
  • REVIEW
  • TES POTENSI AKADEMIK
  • TRAVEL STORY
  • VAMPIRE ACADEMY

Total Pageviews

Powered by Blogger.
Facebook Twitter Instagram Pinterest Bloglovin

Created with by BeautyTemplates