facebook twitter instagram pinterest google+

Love Your Life

  • Home
  • About
  • Literature
    • Poem
    • Short Story
    • Essay
    • Photoshop
  • Travel Story
    • Korea
    • Kalimantan
    • Bali
    • Java
    • Coffee Shop
  • Vampire Academy
    • Spirit Bound
    • Blood Promise
    • Shadow Kiss
BANJARMASIN – Mempertanyakan pentingnya sebuah virginitas bukan lagi hal yang baru di Indonesia. Ketabuan jadi semakin longgar selaras dengan budaya asing yang full demokrasi perlahan masuk mengkontaminasi pikiran putra putri bangsa. Hal yang dulu dianggap 'famali' untuk dibicarakan, sekarang bebas untuk diteriakkan oleh siapapun. Bahkan anak kecil baru belajar bicara pun mulai tahu beberapa kosakata yang belum pantas untuk umurannya.

Terlepas dari pantas tidaknya kosakata tersebut, virginitas ibarat bunga yang menyeruak di tengah musim semi, selalu menjadi bahan perbincangan yang tidak pernah aus setiap detiknya. Meski berulang kali menjadi judul pembahasan yang hangat, penting tidaknya virginitas sebelum menikah selalu mendapat jawaban berbeda dari tiap sisi wajah.

Menurut Naning Pranoto dalam bukunya Virgin? Sex and Teens, keperawanan atau virginitas (virginity) disebut pula sebagai selaput dara atau hymen. Ia berupa selaput tipis yang menutupi 'pintu' rongga vagina. Selaput ini akan robek bila yang empunya melakukan hubungan seksual dengan lawan jenis. Itulah makanya, seorang cewek yang belum robek hymennya disebut masih gadis atau masih perawan.

Bagi masyarakat Banjarmasin sendiri, keperawanan merupakan hal yang perlu dipertahankan. Terlebih sebagian besar masyarakat di provinsi ini merupakan masyarakat agamis yang masih berpegang teguh pada norma agama.

Namun tak elak jika terjadi perbedaan pendapat antara kaum tua dengan kaum muda. Faktanya, di antara orang-orang yang masih menganggap keperawanan sebagai lambang kesucian yang sakral, yang harus dipertahankan sampai menginjak singgasana pelaminan, ada sebagian remaja yang tampak mulai mengikis anggapan itu.

Sebut saja Arini (bukan nama sebenarnya), gadis berdarah jawa-banjar ini mengaku sudah tidak perawan lagi sejak duduk di bangku SMA. Meski terkesan malu-malu, ia mengungkapkan alasan yang ia percaya sebagai dasar untuk membenarkan perbuatannya. "Keperawanan itu penting, namun cinta itu lebih penting," ujarnya. Ketika ditanya perihal apakah menyesal setelah tidak lagi menjadi seorang 'gadis perawan', Arini menjawab dengan mantap,"Saya tidak menyesal, karena saya memberikannya kepada orang yang saya cintai."

Apa yang terjadi terhadap Arini biasa disebut oleh masyarakat konvensional sebagai 'cinta buta'. Menurut Naning, apa yang dialami oleh Arini itu bukanlah cinta melainkan libido. Libido merupakan keinginan atau dorongan untuk melakukan hubungan seks. Di dalam bukunya, ia menjelaskan bahwa hampir 97% seseorang jatuh cinta pada lawan jenisnya karena didorong atau digerakkan oleh libidonya. Jadi, hanya 3% yang jatuh cinta pada lawan jenisnya karena pure atau murni jatuh cinta.

Lain Arini lain pula Isna. Gadis perantauan yang baru saja mengenal Banjarmasin ini juga mengaku sudah tidak perawan lagi. Setelah mengenal Andi, seorang pemuda gaul Banjarmasin, Isna kehilangan keperawanannya tepat sebulan setelah 'jadian'. "Mau gimana lagi, teman-teman di kost saya pada manas-manasin. Katanya rugi kalau nggak pernah ML. Mereka juga cerita kalau mereka sudah sering begituan," ujarnya dengan mata menerawang.
Karena tergoda oleh iming-iming kenikmatan sesaat oleh teman satu atap, Isna akhirnya tidak mampu mempertahankan kesuciannya. "Pacarku bilang katanya ini untuk pembuktian cinta. Trus dia bilang dia bakal bertanggung jawab kalau ada apa-apa," lanjutnya sambil memain-mainkan rambut rebonding-nya.

"Tapi jangankan bertanggung jawab, sekarang aja kami udah nggak punya hubungan apa-apa lagi. Udah putus beberapa bulan yang lalu," katanya sambil tertawa kecil. Tidak terlihat rasa penyesalan sedikitpun di wajah cantiknya. Untungnya, Isna tidak merasa dunia akan segera kiamat setelah ia pisah dengan lelaki yang sudah merenggut harta keperempuanannya itu. Ia bahkan membanggakan pacar barunya yang 'katanya' menerima ia apa adanya.

Berbalik sudut pandang, tanggapan berbeda didapat ketika masalah virginitas ini ditanyakan kepada para kaum Adam. Keyya misalnya, cowok yang masih berstatus mahasiswa ini berpendapat tidak masalah kalau perempuan sudah tidak lagi perawan. Baginya kecocokan lebih penting dibanding mempermasalahkan keperawanan di dalam hubungan yang ia bina. "Toh aku juga udah nggak perjaka lagi, jadi nggak masalah sih bagiku kalau dapat pacar atau istri yang juga udah nggak perawan lagi," ungkapnya jujur. "Yang penting dalam hubungan itu adalah kesetiaan," lanjutnya lagi serius.

Laki-laki yang hanya bisa ditanyai via telepon ini mengaku sudah beberapa kali 'mecah duren' anak perawan. "Kami melakukannya lantaran sama-sama suka. Nggak ada unsur paksaan kok," ujarnya kalem.

Berbeda dengan Keyya, Ayan tidak sependapat jika keperawanan dijadikan masalah kesekian dalam membangun suatu hubungan. "Keperawanan itu penting karena merupakan bukti bahwa seorang gadis bisa menjaga dirinya dengan baik," kata mahasiwa disatu PTN di Banjarmasin itu. Saat ditanya bagaimana jika wanita yang ia cintai ternyata sudah tidak perawan lagi, Ayan menjawab dengan tegas, "Lebih baik putus saja. Jika dari awal tidak ada kejujuran, hubungan tidak bisa dilanjutkan ke arah yang lebih serius."

Ayan pun menambahkan, gadis baik-baik juga akan mendapat laki-laki yang baik pula. Menurutnya tidak pantas jika seorang lelaki yang tidak lagi perjaka mengharapkan gadis yang masih virgin. "Wanita sudah seharusnya menjaga harta mereka yang paling berharga dan sebagai laki-laki sudah sepantasnya menghargai seorang wanita."

"Keperawanan itu penting, tapi bukan yang utama," ujar Shesa. Gadis manis keturunan Cina ini berpendapat masih banyak hal yang lebih penting dari sekedar meributkan perawan tidaknya seorang gadis. Namun ia tetap setuju bahwa virginitas tetap harus dijaga sampai seorang gadis resmi berubah status menjadi seorang istri. "Saya tentu saja akan menyimpan keperawanan saya sebagai kado terindah untuk suami saya kelak,"lanjutnya pasti.
Serupa dengan Shesa, Rina pun berpendapat sama. Hanya saja ia tidak menolak jika seandainya harus menyerahakan keperawanannya kepada orang yang ia cintai. "Asalkan udah pasti seratus persen bakal nikah," kata gadis yang masih virgin ini sambil tertawa keras.

"Keperawanan adalah simbol kesucian seorang wanita. Apalagi sebagai gadis timur yang beragama, sudah sepatutnyalah kita menjaga apa yang memang seharusnya kita jaga. Malam pertama akan lebih berkesan jika dilakukan dalam suasana yang sakral atas restu orang tua serta sah di mata agama dan hukum. Tentu saja kita tidak bisa meniru masyarakat barat yang kebanyakan berpendapat kalau virginity hanyalah persoalan selaput dara semata. Sehingga mereka menghalalkan reparasi hymen hanya untuk mengembalikan selaput daranya seperti sedia kala. Padahal keperawanan tidak hanya berfokus pada rusak tidaknya selaput dara, tapi pernah tidaknya kita menyerahkan diri sepenuhnya kepada seseorang," papar Enna, seorang mahasiswa tingkat 3 di Banjarmasin.(Enoy)
Share
Tweet
Pin
Share
3 komentar


Oleh Noor Sa'adah
Jika perempuan dan cinta bisa diibaratkan dengan sesuatu, maka kita seperti berhadapan dengan satu paket komplit yang isinya saling melengkapi. Ada wanita maka ada cinta, katanya. Kata siapa? Kata orang-orang yang sudah diliputi oleh paradigma perempuan pakai perasaan, lelaki pakai logika. Entah benar tidaknya, kembali kepada pengandaian semula ketika perempuan dan cinta disamadengankan dengan sesuatu. Sayangnya, tidak ada kata yang pantas untuk membandingkan kedua 'hal' tersebut dengan benda, barang atau bentuk-bentuk konkret yang lain. Bukannya bermaksud meninggikan, tapi perempuan dan cinta merupakan anugerah dari Tuhan yang patut dan seharusnya dijaga, jelas bukan barang yang mudah dibuang-buang.
Dari zaman baheula hingga era hi-tech seperti sekarang, anggapan tentang perempuan sebagai sosok yang lebih melankolis tidak pernah terkikis, meski Kartini-Kartini moderen telah lahir dan dengan gagah berani menentang diskriminasi, perempuan tetap saja perempuan. Makhluk Tuhan yang kerap kali tersakiti, baik karena kelemahannya maupun karena kesabarannya.
Bagi Perempuan, kaum Adam adalah kaum yang egosentris, sedang bagi laki-laki perempuan adalah bagian dari kehidupan yang sangat komplek. Memahami satu sama lain bukan hal yang mudah, tapi bukan hal yang tidak mungkin pula. Deskripsi perempuan di mata laki-laki dan perempuan di mata perempuan sering kali berbeda. Perbedaan pandangan ini dapat tercermin dari banyak hal yang sudah ada di sekeliling kita, misalnya lirik lagu, film, dan karya sastra. Namun secara umum dapat ditarik kesimpulan tetang bagaimana sosok perempuan digambarkan dari kacamata laki-laki yang memang berbeda dari sisi perempuan sendiri.
Kaitan antara perempuan dan cinta pun seumpama jarum dan benang, saling berhubungan satu sama lain. Perempuan membawa cinta dalam tiga masa kehidupannya, ketika ia menjadi seorang anak, seorang istri, dan seorang ibu. Ketiga sosok perempuan dengan cinta mereka itulah yang direfleksikan dengan apik oleh Oka Rusmini dalam Tarian Bumi. Sebuah novel yang menceritakan sosok perempuan Bali yang terkungkung dalam budaya patriarki dan adat budaya yang kental dari sudut pandang seorang penulis perempuan.
Novel karya penulis yang sering memperoleh penghargaan ini mengangkat tiga tokoh perempuan perkasa yang berjuang untuk meraih mimpi dan cinta meski itu berarti penderitaan seumur hidup bagi mereka. Mengagumakan sekaligus membingungkan. Itulah kesan pertama yang saya dapat ketika pertama kali membacanya. Saya baru menyadari daya tarik novel ini yang begitu kuat setelah membacanya untuk kedua kalinya.
Mengagumkan karena dalam novel ini perempuan digambarkan kuat di atas kelemahan yang mereka miliki. Mengagumkan karena sosok perempuan Bali tergambar jelas, nyata, tanpa terasa melebih-lebihkan. Novel ini serasa membawa Bali kehadapan kita dan seolah membuat kita seperti telah lama mengenal Bali bersama adat budayanya, tidak hanya sekedar pengetahuan dangkal tentang Bali dan pariwisatanya. Ibaratnya, jika dulu saya mengenal Bali lewat cover keindahan dan keunikan daerah dan masyarakatnya saja, sekarang saya benar-benar seperti diperbolehkan menyentuh bagian Bali yang rahasia.
Tiga perempuan Bali dalam novel ini, Ida Ayu Sagra Pidada, Luh Sekar (Jero Kenanga) dan Ida Ayu Telaga Pidada, cukup mewakilkan sosok perempuan bali meski mungkin belum semuanya. Konflik yang terjadi dalam novel yang membuat penulisnya terpilih sebagai "Penerima Penghargaan Penulisan Karya sastra 2003" Oleh Departemen Pendidikan Nasional Indonesia ini cukup rumit. Ada ambisi, ego, dan cinta yang mewarnai jalinan kisahnya.
Dalam novel ini, penggambaran positif tentang perempuan dan laki-laki memang agak kurang seimbang. Penulis cenderung memihak kepada kaum Hawa yang lebih banyak tertindas dan terjebak aturan. Meski kakek Telaga, Ida bagus Tugur, digambarkan baik pada bagian-bagian terakhir, tetap saja pada awalnya sosok Tugur digambarkan sebagai laki-laki yang egois. Saya merasa ini hanya taktik penulis untuk menyeimbangkan peran gender dalam novel ini, karena akan terasa jelek jika semua laki-laki dalam novel ini terus-terusan digambarkan sebagai makhluk kasar yang tidak pernah sadar. Kaum Adam seolah menjadi kaum antagonis yang egois dan suka merendahkan perempuan dalam beberapa bagian dalam novel ini. Seperti yang tergambar dalam percakan Luh Kenten, perempuan Sudra dengan ibunya berikut ini.
"Sungguh, Meme, aku ingin melakukannya. Bahkan kudengar laki-laki yang sering mencubit pantatku istrinya dua. Laki-laki tukang kawin. Padahal dia tidak punya pekerjaan yang bisa menopang keluarganya. Meme tahu apa yang dia katakana ke teman-temannya?"
"Bicara apa dia?!"
"Carilah perempuan yang mandiri dan mendatangkan uang. Itu kuncinya agar hidup laki-laki bisa makmur, bisa tenang. Perempuan tidak menuntut apa-apa. Mereka cuma perlu kasih sayang, cinta, dan perhatian. Kalau itu sudah bisa kita penuhi, mereka tak akan cerewet. Puji-puji saja mereka. Lebih sering bohong lebih baik. Mereka menyukainya. Itulah ketololan perempuan. Tapi ketika berhadapan dengan mereka, mainkanlah peran pengabdian, hamba mereka. Pada saat seperti itu perempuan akan menghargai kita. Melayani kita tanpa kita minta. Itu kata laki-laki di warung, Meme. Benarkah kata-kata itu?"
Selain percakapan di atas masih banyak lagi sifat negatif laki-laki yang dimunculkan dalam novel ini. Namun dengan lihai pula, penulis memunculkan sedikit perilaku negatif kaum Hawa sebagai penyeimbangnya.
Tokoh perempuan yang digambarkan dalam novel ini penuh konflik yang berasal dari diri mereka masing-masing serta pengaruh faktor 'x' dari lingkungan dan laki-laki mereka. Konflik itu dipengaruhi oleh 'id, ego, dan superego' (Teori Kepribadian Freud). Bahkan ada konflik batin tentang 'cinta terlarang' antara Luh Sekar dan Luh Kenten. Cinta yang tulus dari seorang perempuan untuk perempuan.
Menurut Freud, kepribadian seseorang dapat terbentuk dengan baik jika id, ego, dan superego-nya seimbang. Dalam Novel ini, yang paling seimbang struktur kepribadiannya adalah Telaga, sang tokoh utama. Perempuan ini digambarkan mampu mengatasi guncangan jiwanya dengan baik. Berbeda dengan dua tokoh yang lain, Sagra Pidada dan Luh Sekar, yang faktor id-nya lebih dominan daripada ego dan superego-nya sehingga membentuk pribadi yang keras dan tidak bisa mengontrol emosi. Ketidakstabilan merekalah yang menimbulkan kecemasan yang melahirkan konflik-konflik seru dan membuat warna tersendiri dalam cerita ini. Menariknya, ketiga tokoh perempuannyanya sama-sama memiliki ambisi yang kuat, Pidada yang ingin memurnikan kastanya, Sekar yang ingin menaikan derajatnya, dan Telaga yang rela melepas semua yang ia miliki demi mengejar cinta sejatinya.
Di tengah amukan konflik mengenai kebangsawanan, ternyata aroma cinta tidak bisa dihilangkan dalam novel ini sekalipun. Meski di kelilingi oleh sumpah serapah yang diedarkan secara lugas, baik oleh tokohnya maupun dari sisi penceritanya, cinta masih ada dalam bentuk aneka rupa. Cinta terpendam Pidada terhadap suaminya sendiri yang akhirnya berbuah bertepuk sebelah tangan. Cintanya terhadap anak laki-laki satu-satunya yang akhirnya juga menghancurkan hatinya sendiri. Cinta Luh Sekar terhadap sebuah kebangsawanan. Rasa sakit dan penderitaan yang membuatnya buta terhadap arti kebahagian yang sesungguhnya. Atau cinta Pidada kepada seorang pria Sudra yang membuatnya rela menghilangkan kebangsawanannya yang ironisnya didapatkanya dari seorang ibu yang mau menukar kebangsawaanaan itu dengan penderitaan sepanjang hayat.
Cinta dalam novel ini mengagumkan, bukan cinta yang 'Lebai', bukan cinta yang berderai-derai air mata. Tapi cinta yang disuguhkan dengan cara yang berbeda, cinta yang biasanya bukan menjadi doa setiap manusia. Jenis cinta yang biasanya tidak diharapkan oleh kebanyakan orang. Cinta yang hadir dalam sebuah realita bukan sekedar ilusi atau mimpi. Tiga versi cinta dalam novel ini, yakni cinta ibu kepada anak, perempuan kepada kekasihnya, dan anak kepada ibu, menunjukkan bahwa cinta itu murni meski tanpa disadari diracuni oleh ambisi.
Akan tetapi, selain mengagumi, ada hal-hal yang membingungkan dalam novel ini yakni dari sisi penceritaannya. Mungkin tidak terlalu masalah karena sudut pandangnya adalah sudut pandang pencerita. Namun, yang aneh adalah tokoh di dalam cerita akan menceritakan tokoh lain dari masa lalunya yang kemudian disambung dengan tokoh lain yang berbeda. Alhasil saya dibuat pusing menebak-nebak siapa yang saat itu sedang diceritakan. Mungkin, penulis bermaksid membuat novel ini sedikit berbeda, tapi bagi saya hal ini sedikit memusingkan. Untungnya hal ini tidak menjadi soal ketika saya membacanya sekali lagi.
Sayangnya, novel ini hanya memaparkan konflik perempuan-perempuan Bali bersama cintanya dalam 182 halaman saja. Jika dibandingkan dengan novel bertemakan perjuangan kaum Hawa yang lain, novel ini masih terbilang tipis.
Akhirnya memang tidak ada yang digambarkan sempurna dalam novel ini, tidak perempuannya tidak pula laki-lakinya. Memang tidak ada yang sempurna meski masih banyak orang yang masih saja mengejar-ngejar kesempurnaan itu. Tidak pula cinta, seperti satu dari beberapa pesan yang tertulis liar dalam buku ini.
"Kelak, Kalau kau jatuh cinta pada seorang laki-laki, kau harus mengumpulkan beratus-ratus pertanyaan yang harus kausimpan. Jangan pernah ada orang lain tahu bahwa kau sedang menguji dirimu apakah kau memiliki cinta yang sesungguhnya atau sebaliknya. Bila kau bisa menjawab beratus-ratus pertanyaan itu, kau mulai memasuki tahap berikutnya. Apa untungnya laki-laki itu untukmu? Kau harus berani menjawabnya. Kau harus yakin dengan kesimpulan-kesimpulan yang kau munculkan sendiri. Setelah itu, endapkan! Biarkan jawaban-jawaban dari ratusan pertanyaanmu itu menguasai otakmu. Jangan pernah menikah hanya karena kebutuhan atau dipaksa oleh sistem. Menikahlah kau dengan laki-laki yang mampu memberimu ketenangan, cinta, dan kasih. Yakinkan dirimu bahwa kau memang memerlukan laki-laki itu dalam hidupmu. Kalau kau tak yakin, jangan coba-coba mengambil resiko."
Cukup satu ungkapan yang bisa menggambarkan pesan di atas, luar biasa!
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Oleh Noor Sa'adah

Puisi selain sebagai refleksi bisa juga disebut sebagai replika kehidupan namun dalam bentuk lain, tulisan. Kebanyakan puisi berdiri di atas fondasi realitas yang kemudian di-metafora-kan dalam bentuk-bentuk lain. Bentuk-bentuk yang kadang-kadang keluar dari batas-batas realitas itu sendiri. Bisa dibilang ini adalah hak veto seorang penyair untuk mengaduk-aduk imajinasi dengan kenyataan menjadi sebuah adonan kental yang akhirnya dinikmati oleh para pembacanya. Meski akhirnya (seperti sekarang ini) akan terus dikritik untuk melihat ketidaklogisannya, penyimpangan bait demi baitnya, puisi akan terus mengalir terlahir dengan bebas, sebebas sang pengarang berpikir. Apa yang tercipta tentulah tegak lurus dengan apa yang terlintas dalam hati dan otak mereka masing-masing saat itu karena memang pikiran dan perasaan mereka milik mereka sendiri, dan Tuhan tentunya.

Akan tetapi ada hal yang tak bisa dielakkan ketika seseorang membaca sebuah puisi, yakni akan munculnya pemikiran-pemikiran baru, yang secara sengaja atau tidak, menyikapi puisi tersebut. Wajar jika kekaguman dan kebingungan berjalan beriringan dan berupaya saling mengalahkan satu sama lain saat itu juga. Hal ini lah yang membuat saya menganggap sajak M. Nahdiansyah Abdi , "Tak Habis Ibu", dalam Antologi Puisi Pistol Air (hlm. 73) menarik minat saya untuk berpikir lebih dalam tentang figur wanita yang selalu menjadi simbol keagungan, sosok seorang ibu. Membuat saya kagum, sekaligus bingung di sisi yang lain.

Penyair kelahiran Durian Gantang, Kabupaten Hulu Sungai Tengah ini adalah alumni Fakultas Psikologi UGM Yogyakarta (1998-2003). Terlihat jelas jika ilmu yang ia dapat ketika ia kuliah di fakultas itu banyak mempengaruhi keseluruhan dari sajak-sajak yang tercipta di dalam antologi ini. Meski begitu bukan berarti Abdi lupa pada kampung halamannya, ia bahkan sempat berterimakasih dengan orang-orang Sambang Lihum (RSJ), tempat ia bekerja, dalam Kesaksian yang ia tulis di halaman belakang buku ini.
Sajak-sajak dalam buku ini tampak sekali tidak ingin menonjolkan sisi keindahan sebuah puisi. Porsi 'kenyataan dalam kehidupan' lebih banyak ditonjolkan dengan kalimat-kalimat lepas tanpa perlu terikat rima dan sebagainya. Benar-benar tidak ingin menggunakan kata-kata puitis, namun tentu saja tidak menghalangi pembaca untuk tetap merasa miris.

Abdi mengangkat sebuah tema yang memang sangatlah umum, namun ia berhasil mendeskripsikan sosok ibu lewat kacamatanya sendiri. Pandangan Abdi terhadap sosok ibu di dalam sajak ini memang sedikit terasa berbeda dibanding sajak-sajak pendahulunya yang bertemakan sama. Biasanya, sosok ibu digambarkan tegar, agung, dan tanpa pamrih. Tetapi, dilihat dari puisi ini, Abdi ternyata punya presepsi sendiri tentang sosok ibu.
Citra seorang ibu yang digambarkan oleh Abdi di sajaknya membangkitkan dilema dalam pikiran saya. Disatu sisi benar jika kebanyakan ibu berkorban begitu banyak demi sang buah hati, namun disisi lain penggambaran ibu rasanya tidak sesuai dengan kenyataan karena seorang ibu tidaklah selemah itu, tidaklah semenderita itu.

Tak habis ibu
meregang kesakitan dan mengalirkan susu
Not-not yang tak sempurna
Bermain pada tubuh yang lelah
yang ingin bersandar
sejenak pada detik yang tercurah
Tangis si anak bagai kupu-kupu mungil
Bagai kupu-kupu mungil

Di dalam bait pertama ini seorang ibu seperti terdeskripsikan sebagai sosok yang sudah terlalu lelah untuk berusaha. Penggambaran Abdi tentang anak sebagai penghiburan kecil bagi sang ibu menjadi ironis dengan ibu yang begitu sakit, menderita dan ingin istirahat. Padahal bukankah seorang anak lah yang akan mengobati rasa letih dan luka seorang ibu? Pada baris kelima, sosok ibu yang ingin bersandar untuk beberapa saat, seolah ingin menujukkan sosok ibu yang tidak sanggup lagi menahan rasa letihnya dan sesaat ingin menyerah pada keadaan, pada rasa lelah. Seorang ibu yang benar-benar seorang ibu (bukan seorang wanita yang hanya bisa melahirkan namun tidak bertanggung jawab), tidak akan pernah menganggap anaknya sebagai sumber masalah, tapi lumbung kebahagiaannya.

Tak habis ibu
merayakan kasih pilu
Doa-doa terlambung
di malam-malam yang limbung
Airmata tak tertafsirkan
Sungguh tak tertafsirkan
Dekaplah si anak sepenuh lelahmu
Tanganmu yang lembut mendamaikan

Dalam bait kedua, seorang ibu kembali digambarkan dengan penuh kepedihan. Saya menjadi berpikir, apakah seorang ibu sebegitu tidak ikhlasnya ketika memelihara anaknya sendiri sehingga kasih sayang pun menjadi seperti sebuah keterpaksaan. Kemudian pada baris terakhir pada tanganmu, pronomina –mu membuat sedikit kerancuan pada siapa yang dirujuk oleh pronomina –mu itu. Karena dari bait pertama, puisi ini menggambarkan tentang ibu, bukan berusaha berbicara dengan sosok ibu, akan lebih logis jika pronomina –mu itu diganti dengan pronomina –nya. Jadi, kalimatnya bisa menjadi seperti ini :
Mendekap si anak sepenuh lelahnya
Tangannya yang lembut mendamaikan

Adindaku, ketahuilah
Anak-anak yang tak henti mengalir
dari rahimmu
adalah sejarah yang bergelora
adalah kemenangan fana cinta: sebagaimana
hidup yang singkat, drama yang penuh retak
tertidur pulas dalam rahim-Nya

Pada bait ketiga ini ada beberapa hal yang terlihat janggal yakni adindaku, rahimmu, dan rahim-Nya. Pronomina –ku, -mu, dan –Nya serasa salah tempat mengingat pada bait-bait sebelumnya hanya menceritakan lelahnya seorang ibu, bukan lelahnya 'adinda' menjadi seorang ibu atau tentang Tuhan yang punya banyak taqdir dalam 'rahim'-Nya. Mungkin ini hanya permainan kata-kata agar puisi menjadi lebih menarik dan enak ketika dibaca, tapi bukan berarti berhak untuk menggunakan kata-kata yang kelak akan membingungkan siapa pun yang membacanya. Lalu, dalam bait ketiga ini tersirat tentang hal melahirkan anak yang tidak dibatasi. Penyair sepertinya menganggap itu adalah hal biasa baginya (sebagai laki2), tapi apa dia yakin bahwa sang wanita juga sependapat? Apa wanita hanya terlahir sebagai media reproduksi semata? Tentu tidak, sekarang kita memahami betul betapa peran wanita begitu penting meski ia berstatus sebagai seorang ibu.

Namun, mengesampingkan hal-hal teknis di atas, puisi ini layak untuk menjadi bahan renungan, utamanya bagi kaum hawa yang akan, sedang, ataupun sudah menjadi seorang ibu. Melihat betapa banyaknya wanita yang marak menyia-nyiakan anak mereka, baik yang sudah berbentuk manusia maupun jabang bayi, sosok ibu yang meski tergambar sangat lelah dalam puisi ini ternyata masih tetap bisa mengusung rasa sayangnya terhadap anaknya. Sebesar apapun rasa lelahnya, sosok ibu dalam puisi ini digambarkan terus bertahan untuk tetap menjaga anaknya, meski tak dapat dipungkiri akan adanya keluhan-keluhan kecil yang memarakkan suasana kehidupan seorang ibu. Hal yang benar-benar hampir hilang di mata ibu-ibu muda sekarang yang mulai belajar tidak bertanggung jawab. Puisi ini merupakan tunas yang 'tak habis' berusaha untuk tumbuh di tanah yang begitu gersang.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
KODE
Istilah netral yang mengacu pada bahasa atau variasi bahasa.
Istilah ini dapat dipakai untuk mengacu pada sistem apapun yang digunakan dua orang atau lebih untuk berkomunikasi.
Sosiolinguistik tertarik pada faktor pemilihan kode tertentu untuk kesempatan tertentu.

PILIH KODE

Meliputi: Diglosia, alih kode, dan campur kode.
Latar: situasi bilingual dan multilingual.
Tak mudah menyatakan dengan tepat mengapa seseorang menggunakan kode X pada satu saat dan kode Y di saat lain, dan di saat lain lagi mencampur X dan Y jadi kode Z baru.

DIGLOSIA

Sebutan untuk keadaan masyarakat yang memakai 2 variasi dari satu bahasa yang sama, dan setiap variasi punya peranan tertentu.
Situasi kebahasaan ini relatif stabil, gramatikanya kompleks, terkodifikasi dengan baik, dipelajari dan digunakan secara formal, tidak di ranah publik.

DIGLOSIA (Ferguson)

Kriteria fungsi sangat penting dalam hal ini.
Dalam masyarakat diaglosis ada 2 variasi dari satu bahasa: variasi tinggi (T) dan variasi rendah (R).
Distribusi fungsional dialek T dan R sangat situasional.

ALIH KODE (Code Switching)

Appel: gejala peralihan pemakaian bahasa karena perubahan situasi. Terjadi antarbahasa.
Hymes: bisa terjadi antar ragam atau gaya dalam satu bahasa. Mis. Dari ragam baku ke nonbaku, dsb.

SEBAB ALIH KODE

FISHMAN: Keragaman bahasa terjadi atas dasar "siapa bicara dengan bahasa apa kepada siapa, kapan, di mana, dan untuk apa."
Alih kode pun demikian. Secara umum disebabkan: (1) Perubahan partisipan, (2) Perubahan situasi, dan (3) perubahan topik.

PARTISIPAN dan ALIH KODE 

Alih kode bisa menguntungkan.
Alih kode karena penutur ingin mengimbangi lawan bicara.
Kehadiran orang ketiga dengan bahasa yang beda dengan partisipan 1 dan 2 bisa sebabkan alih kode.
Status orang ke-3 bisa sebabkan alih kode.

SITUASI dan  ALIH KODE 

Situasi formal ke nonformal atau sebaliknya.
Kehadiran orang lain yang beda bahasa.
Situasi rileks ke serius atau sebaliknya.

TOPIK dan ALIH KODE

Topik sukar ke topik gampang.
Topik ilmiah ke non-ilmiah.
Topik sederhana ke topik kompleks.

ALIH KODE: SEBAB LAIN

Ingin dianggap terpelajar.
Ingin menjauhkan/mendekatkan jarak.
Menghindari bentuk kasar/halus dalam bahasa.
Mengutip kata-kata orang lain.
Menyembunyikan identitas.
Pengaruh media komunikasi.

ALIH VS CAMPUR KODE

Persamaan: menggunakan dua bahasa atau varian bahasa dalam satu masyarakat tutur.
Perbedaan: Pada AK
à ragam bahasa masih memiliki fungsi otonomi masing-masing, dilakukan dg sadar karena sebab tertentu. Pada CK
à kode dasar punya otonomi, kode lain hanya serpihan yang tak otonom.


Thelander (Chaer, 152): ukuran klausa à bila dalam peristiwa tutur terjadi peralihan dari satu klausa dari satu bahasa ke klausa bahasa lain, ini Alih Kode. Bila klausa itu hibrid, terdiri frase atas frase campuran, tak mendukung fungsi dasar, ini Campur Kode.


Fasold (Chaer, 152): Kriteria Gramatika. Sulit dipahami tetapi tak jauh beda idenya denga ide Thelander.

CAMPUR KODE (Code Mixing)

Percampuran kode dua bahasa secara cepat, dalam satu kalimat, secara sadar ataupun tidak disadari.

Mis.: Oke kita makanan sama-sama (Banjar)


INTERFERENSI

Perubahan sistem bahasa (B1) karena persentuhan dengan unsur bahasa lain (B2) yang dilakukan penutur bilingual.
Kemampuan penutur bilingual: kemampuan sejajar dan kemampuan majemuk.

INTERFERENSI (Fokus Sosiolinguistik)

Interferensi sistemik: interferensi yang tampak dalam perubahan sistem bahasa (fonologi, morfologi, sintaksis, dan sistem lainnya).
Di satu sisi dianggap pengacauan, di sisi lain mediasi pengembangan.

INTERFERENSI Vs CAMPUR KODE

Interferensi: penyimpangan sistem bahasa yang dianggap salah oleh para puris.
Campur kode: penyimpangan bahasa karena kesengajaan.

INTERFERENSI (BA – BIND – BD)

BI dan BD: resiprokal, bolak-balik.
BI dan BA: Bind selalu jadi penerima, tak pernah jadi pemberi (Soewito dalam Chaer, hlm. 167)

INTERFERENSI à INTEGRASI
Integrasi: unsur bahasa lainyang dianggap bagian bahasa sendiri, dan tidak dianggap lagi sebagai pinjaman atau serapan dari bahasa lain. Perlu waktu lama.
Apakah setiap unsur pinjaman via interferensi pasti terintegrasi?

IMPLIKASI INTERFERENSI à INTEGRASI
Bahasa penerima tak mengalami apa-apa, tak terpengaruh.
Bahasa penerima mengalami perubahan sistem (baik secara fonologis, morfologis, dan sintaksis.
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Newer Posts
Older Posts

AUTHOR

AUTHOR
TWILIGHT HUNTER, AN AUTHOR & AN ORDINARY ACOUSTIC PERFORMER WHO'S CRAVING FOR BEAUTY PICTURES

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • pinterest
  • google+
  • instagram
  • bloglovin

Labels

  • BOOK
  • CATATAN KULIAH
  • CHICKEN SOUP
  • CONTEST
  • FASHION
  • MOVIE
  • MUSIC
  • REVIEW
  • TES POTENSI AKADEMIK
  • TRAVEL STORY
  • VAMPIRE ACADEMY

Total Pageviews

Powered by Blogger.
Facebook Twitter Instagram Pinterest Bloglovin

Created with by BeautyTemplates