facebook twitter instagram pinterest google+

Love Your Life

  • Home
  • About
  • Literature
    • Poem
    • Short Story
    • Essay
    • Photoshop
  • Travel Story
    • Korea
    • Kalimantan
    • Bali
    • Java
    • Coffee Shop
  • Vampire Academy
    • Spirit Bound
    • Blood Promise
    • Shadow Kiss
K atakanlah perasaanmu dengan bunga. Huhuhu ... terdengar lebai alai yah ... tapi serius ... memberikan bunga pada seorang wanita murapakan hal teromantis meski hanya setangaki saja. Dan bagaimanapun bentuk, sikap, kepribadian, pekerjaan, kesukaan, minat seorang wanita. Wanita tetaplah wanita. Suka disayang yang artinya suka hal romantis, meski hanya sekecil biji semangka. Hehehe.

Sebelum memberikan bunga pada seorang wanita lihat dulu artinya apa. Jangan-jangan niatnya mau ngasih ucapan selamat artinya bunganya malah cinta. Kan bahaya. Hehe. N bagi kaum hawa, kalau dapat bunga, liat bunga yang dikasih apa - kecuali bunga bank hehehe - trus langsung bisa tau perasaan si pengirim bunga lewat jenis bunganya. Hehehe. Tapi lain soal yah kalo yang ngirim ternyata gag ngerti artinya juga. Haghaghaghag.





:: Arti Bunga Mawar :: 


Mawar merah : melambangkan cinta yang tulus & penghormatan, Keberanian & Gairah
Kirimkan untuk seseorang yang kau cintai untuk mengatakan "aku cinta padamu"

Mawar Pink :melambangkan keanggunan & penghargaan
Kirimkan mawar pink tua untuk menyampaikan rasa penghargaan & terima kasih, dan kirim warna pink muda untuk menyampaikan rasa kagum & simpati.

Mawar kuning : zaman dulu mawar kuning itu melambangkan rasa cemburu, tetapi sekarang mawar kuning melambangkan persahabatan.

Mawar putih : melambangkan kesucian cinta untuk seseorang yang berharga.

Mawar ungu : melambangkan cinta pada pandangan pertama & rasa terpesona.

Mawar jingga : melambankan hasrat yang bergairah, rasa antusias, & daya tarik yang tinggi.

Berdasarkan jumlah mawar:
1 - cinta pada pandangan pertama , kamulah orang yang kucintai
2 - rasa saling cinta 
3 - aku cinta kamu
6 - aku ingin menjadi milikmu
7 - aku tergila-gila padamu
9 - cinta abadi selama kita hidup
10 - kau sempurna
11 - kaulah yang paling kucintai dalam hidupku
12 - jadilah pacarku
13 - pengagum rahasia
15 - aku sungguh minta maaf, maafkanlah aku
20 - percaya padaku, aku tulus mencintaimu
21 - aku setia padamu
24 - tidak bisa berhenti memikirkanmu sepanjang hari
33 - mau mngatakan kalau aku mencintaimu dengan kasih sayang yang besar
36 - aku akan ingat semua kenangan romantis kita
40 - cintaku padamu itu murni
50 - tidak menyesal mencintaimu
99 - aku akan mencintaimu sepanjang aku hidup
100 - harmonis bersama dalam satu abad
101 - kau lah cintaku dan satu-satunya
108 - tolong, menikahlah denganku
365 - tidak bisa berhenti memikirkanmu setiap hari sepanjang tahun
999 - cinta yang kekal dan abadi
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


M encari soal ujian tahun kemarin? Soal UN dan UAS 2009-2010? Download disini! Seperti yang udah kita ketahui sama-sama, soal-soal ujian (UN dan UAS) setiap tahunnya berulang setiap tahun, atau bisa dikatakan hampir memiliki pola yang sama. Biasanya hanya diganti angka dan bagaimana soal itu ditulis. Padahal, pada kenyataannya, materi dan cara mencari jawabannya sama saja setiap tahun. Untuk itulah, para siswa yang mau menempuh Ujian Nasional dan Ujian Akhir Sekolah diharuskan untuk belajar soal-soal ujian tahun-tahun terdahulu sebagai bentuk persiapan menghadapi ujian.





Nah, sekarang Ms. E mau bagi-bagi soal UN dan UAS 2010 (2009-2010) IPA dan IPS buat belajar!

:: Download soal UN dan UAS IPA IPS 2009 - 2010 disini ::
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
SEBAGIAN BESAR MASALAH KEDISIPLINAN
di Akademi diserahkan pada Kepala Sekolah Kirova. Dia mengawasi Moroi dan dhampir dengan cara yang sama dan sangat dikenal dengan kreativitasnya yang sering menggunakan sederat panjang hukuman. Dia tidak kejam, pastinya, tapi dia juga tidak lembut. Dia hanya memandang serius masalah sikap siswa dan menanganinya sesuai dengan apa yang ia lihat cocok dengan hukumannya.

Ada beberapa masalah yang berada di luar jangkauan kekuasaannya. Pengawal sekolah berkumpul bersama-sama membentuk komite displin yang jarang sekali terdengar, sangat jarang sekali. Kau harus melakukan sesuatu yang sangat serius untuk memancing respon mereka. Seperti, katakanlah, sengaja membahayakan seorang Moroi. Atau terhipnotis sengaja membahayakan seorang Moroi.


“Untuk terakhir kalinya,” aku mengeram, “aku tidak melakukannya dengan sengaja.” Aku duduk di salah satu ruang pertemuan pengawal, berhadapan dengan komiteku: Alberta, Emil, dan satu dari pengawal perempuan yang jarang ada di kampus, Celeste. Mereka duduk si sepanjang meja, terlihat penting, sedangkan aku duduk di kursi sendiri dan merasa sangat mudah diserang. Sebagian para pengawal lain duduk dan melihat, tapi untunglah, tidak satupun dari teman sekelasku ada disini melihatku dipermalukan. 



Dimitri duduk diantara para penonton itu. Dia bukan bagian komite dan aku berangan-angan jika mereka menjauhkan Dimitri karena dia berpotensi untuk memihakku karena ia mentorku.

“Nona Hathaway,” kata Alberta, berada dalam mode seorang kapten, “kau harus tahu mengapa kami sangat sulit untuk mempercayai semua itu.”

Celeste mengangguk. “Pengawal Alto melihatmu. Kau menolak untuk melindungi dua Moroi – termasuk orang yang secara spesifik adalah orang yang ditugaskan untuk kau lindungi.”

“Aku tidak menolak!” aku berteriak. “Aku...meleset.”

“Itu bukan meleset,” kata Stan dari kerumunan penonton. Dia melirik Alberta untuk meminta izin berbicara. “Bolehkah?” Dia mengangguk dan berbalik ke arahku.

“Jika kau menghalangiku atau menyerangku dan kemudian gagal, itu baru bisa dikatakan meleset. Tapi kau tidak menghalangi. Kau tidak menyerang. Kau bahkan tidak mencoba. Kau hanya berdiri disana seperti patung dan tidak melakukan apapun.”

Dapat dimengerti, aku merasa terhina. pemikiran mengenai aku yang dengan sengaja meninggalkan Christian dan Brandon untuk ‘dibunuh’ oleh seorang Strigoi adalah sangat tidak masuk akal. Tapi apa yang bisa aku lakukan? Aku mengaku kalau aku mengacaukan keseluruhannya atau telah melihat hantu. Tidak dari kedua pilihan itu yang menarik, tapi aku harus menghilangkan kerugianku: yang satu membuatku terlihat tidak mampu. Yang satunya membuatku terlihat gila. Aku tidak ingin dihubungkan dengan keduanya. Aku lebih memilih dikaitkan dengan gambaran diriku yang biasa seperti “gegabah” dan “pengacau”.

“Mengapa aku mendapatkan masalah untuk kekacauan ini?” aku bertanya hati-hati. “Maksudku, aku melihat Ryan lebih dulu mengacau. Dia tidak mendapatkan masalah. Apakah ini yang merupakan tujuan utama dari latihan ini? Praktek? Jika kami sudah sempurna, kalian pastilah sudah melepaskan kami ke dunia luar!”

“Tidakkah kau mendengarkan?” tanya Stan. Aku bersumpah melihat urat berdenyut di dahinya. Kupikir hanya dia yang memiliki kemarahan yang sama denganku. Di saat-saat paling akhir, dialah satu-satunya (selain aku) yang menujukkan emosinya. Yang lain menggunakan wajah bertaruh, tapi kemudian, tidak satupun dari mereka yang menyaksikan apa yang sedang terjadi. Jika aku berada di posisi Stan, aku mungkin memiliki pikiran yang lebih buruk terhadap diriku juga.

“Kau tidak mengacau, sebab ‘mengacau’ itu berarti kau telah melakukan sesuatu.”

“Baiklah kalau begitu. Aku membeku.” Aku menatapnya menantang. “Tidakkah itu dihitung sebagai tidak mengacau juga? Aku kalah di bawah tekanan dan kosong. Itu berarti aku tidak siap. Saat itu datang dan aku panik. Ini terjadi pada semua novis sepanjang waktu.”

“Untuk seorang novis yang sudah pernah membunuh strigoi?” tanya Emil. Dia dari Romania, aksennya sedikit tebal dari aksen Rusia Dimitri. Tidak terdengar bagus sebenarnya.

"Itu sungguh tidak dapat dipercaya.” 

Aku memberikat tatapan tajam padanya dan semua orang yang ada di ruangan itu. “Oh, aku mengerti. Setelah satu kali insiden, sekarang aku diharapkan sebagai ahli pembunuh Strigoi? Aku tidak boleh panik atau menjadi takut atau apapun? Masuk akal. Trims, teman-teman. Adil. Benar-benar adil.” Aku merosot kembali di tempat dudukku, tangan menyilang di dadaku. Tidak ada gunanya menentang mereka. Aku sudah cukup mengeluarkan isi hatiku. Alberta mengelus dan membungkuk ke depan.

“Kita sedang memperdebatkan arti dari ucapanmu. Masalah teknik bukan inti masalah disini. Apa yang terpenting adalah apa yang terjadi tadi pagi, kau memperjelas kalau kau tidak ingin menjaga christian Ozera. Faktanya ... kurasa kau bahkan berkata kalau kau ingin kami yakin kalau kami memahami bahwa apa yang kau melawan kehendakmu sendiri dengan menjaga Ozera dan dengan cepat kami tahu betapa mengerikannya ide itu.” Ugh. Aku sudah mengatakan itu. Sejujurnya, apa yang sedang aku pikirkan?

“Dan kemudian, ketika tes pertamamu datang, kami menemukan kau sama sekali dan benar-benar tidak merespon.”

Aku hampir terbang dari kursiku. “Jadi itulah inti dari semua ini? Kau pikir aku tidak melindungi dia karena beberapa jenis dendam aneh?” Mereka bertiga menatapku.
“Kau tidak dikenal sebagai orang yang bisa menerima sesuatu yang tidak kau suka dengan tenang dan anggun,” dia menjawab kecut.

Kali ini, aku berdiri, mengacungkan jariku ke arahnya. “Tidak benar. aku sudah mengikuti setiap aturan yang Kirova perintahkan untukku sejak aku datang kembali kesini. Aku sudah pergi ke semua latihan dan mematuhi setiap jam malam.” Well, aku berbohong dengan beberapa jam malamku tapi itu semua tidak disengaja. semua itu kulakukan untuk mendapatkan yang lebih baik.

“Tidak ada alasan untukku melakukan hal-hal tersebut hanya karena dendam! Hal baik apa yang bisa kudapatkan? Sta – Pengawal Alto tidak benar-benar menyakiti Christian, jadi ini tidak seperti aku melihatnya dipukul atau sesuatu. satu-satunya hal yang bisa membuatku accomplish adalah dibawa ke tengah situasi seperti ini dan kemungkinan akan berhadapan dengan pemberhentian dari ujian lapangan.”

“Kau sedang menghadapi pemberhentian dari ujian lapangan,” jawab Celeste datar.

“Oh.” aku terduduk, tiba-tiba tidak merasakan tidak seberani tadi. Sunyi menggantung di dalam ruangan untuk beberapa lama, dan kemudian aku mendengar suara dimitri berbicara dari belakangku.

“Dia benar,” katanya. Jantungku berdebar nyaring dalam dadaku. Dimitri tahu sekali kalau aku tidak akan mungkin mengambil resiko seperti ini. Dia tidak berpendapat kalau aku adalah orang yang berpikiran picik.

“Jika dia ingin protes atau balas dendam, dia akan melakukannya dengan cara lain. Well, tidak terlalu picik paling tidak.

Celeste mengerutkan dahi, “ Ya, tapi setelah apa yang ia lakukan tadi pagi ...”

Dimitri mengambil beberapa langkah ke depan dan berdiri di samping kursiku. Memiliki kehadirannya yang mendukung di dekatku, membuatku terhibur. Aku mendapatkan kilatan Dimitri déjà vu, kembali ke saat dimana Lissa dan aku kembali ke Akademi musim gugur yang lalu. Kepala sekolah kirova hampir mengusirku dan saat itu Dimitri berdiri untukku juga.

“Semua hal terperinci ini,” katanya. “Terlepas dari bagaimana mecurigakannya sesuatu yang kau lihat, tidak ada bukti. Mengeluarkannya dari ujian lapangan – dan khususnya menunda kelulusannya – sedikit keterlaluan tanpa adanya sedikitpun kepastian mengenai hal ini.” Komite terlihat memikirkan, dan aku memfokuskan perhatianku pada Alberta. Dia yang paling memiliki kuasa disini. Aku selalu menyukainya, dan dalam waktu kebersamaan kami, dia menjadi keras tapi selalu adil hingga ke hal-hal kecil. Kuharap hal itu benar ada dalam dirinya. Ia memberi isyarat Celeste dan Emil untuk mendekatinya, dan dua pengawal lain mencondongkan diri mendekatinya. Mereka melakukan pembicaraan berbisik. Aberta memberikan sebuah anggukan menyudahi dan yang lain mundur. 

"Miss Hathaway, apa kau memiliki sesuatu yang ingin kau katakan sebelum kami menyatakan keputusan kami?” Yang ingin kukatakan? Ya. Ada berton-ton hal yang ingin ku katakan. Aku ingin mengatakan kalau aku bukannya tidak mampu. Aku ingin mengatakan pada mereka kalau akan adah salah satu novis terbaik disini. Aku ingin mengatakan kalau aku melihat Stan datang dan hampir bereaksi. aku khususnya ingin mengatakan pada mereka kalau aku tidak ingin mendapatkan tanda ini dalam catatanku. Meski jika aku tetap melaksanakan ujian lapangan, aku pasti mendapatkan nilai F untuk tes pertamanku. Itu mempengaruhi keseluruhan nilaiku, dan setelah itu mempengaruhi masa depanku.

Tapi kemudian, pilihan apa yang aku punya? mengatakan pada mereka kalau aku baru saja melihat sesosok hantu? hantu dari seorang cowok yang pernah tergila-gila padaku dan mati karena kegilaan itu? aku masih tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan penghlihatan ini. Pertama kali aku bisa melupakannya dengan keletihan ... tapi aku masih melihatnya – atau itu – dua kali sekarang. apakah dia nyata? Akal tertinggiku mengatakan tidak, tapi sejujurnya, itu tidak masalah saat itu. Jika dia nyata dan aku mengatakan pada mereka, mereka akan berpikir kalau aku sudah gila. Jika dia tidak nyata dan aku mengatakan pada mereka, mereka akan menganggap aku sudah gila – dan mereka benar. aku tidak bisa menang disini.

“Tidak ada, Pengawal Petrov,” kataku, berharap suaraku terdengar menurut. “Tidak ada yang ingin ditambahkan.”

“Baiklah,” katanya dengan lelah. “Inilah yang sudah kami putuskan. Kau beruntung memiliki pengawal Belikov yang membelamu, atau keputusan ini mungkin akan menjadi berbeda. Kami memberikan kau keuntungan dari keragu-raguan ini. Kau akan melanjutkan ujian lapangan dan tetap melanjutkan menjaga Tuan Ozera. Kau dalam semacam masa percobaan.”

“Baiklah,” kataku. Aku sudah banyak mendapatkan masa percobaan dalam kehidupan akademikku. “Terima aksih.”

“Dan,” dia menambahkan. Ooh. “Sebab kecurigaan belum sepenuhnya hilang, kau akan menghabiskan hari liburmu minggu ini untuk melakukan pelayanan komunitas.” aku meloncat lagi dari kursiku.

“Apa?” tangan Dimitri menahan lenganku, jari-jarinya hangat dan mengontrol. 

“Duduk,” dia mengumam di telingaku, menarik ku kembali ke kursi. “ambil apa yang bisa kau dapatkan.”

“Jika ini menjadi masalah, kami bisa menjadikannya dua minggu,” Celeste memperingatkan. “dan lima minggu berikutnya.” Aku terduduk dan menggelengkan kepala.

“Maafkan aku. Terima kasih.” 

Sidang bubar, dan aku pergi dengan perasaan lelah dan seperti habis dipukuli. kehilangan satu-satunya hari yang kupunya? Jelas sekali semangat yang kurasakan sebelum ujian lapangan beberapa minggu lalu tidak terjadi pagi ini. Alberta menyuruhku untuk menemukan Christian, tapi Dimitri berkata kalau dia punya waktu berdua denganku. Alberta setuju, tidak diragukan lagi kalau dia berharap Dimitri mengaturku untuk tetap lurus dan terkendali.
Ruangan kosong, dan kupikir dia akan duduk dan berbicara denganku seketika itu juga, tapi ia malah berjalan menjauh ke meja kecil dimana dispenser air berada, kopi, dan beberapa minuman.

“Kau ingin cokelat panas?” tanyanya.

Aku tidak menduganya sebelumnya. “tentu.”
Dia memasukkan empat bungkus cokelat panas instan ke dalam dua gelas Styrofoam dan kemudian menambahkan air panas.

“Menggandakannya adalah rahasianya,” katanya ketika gelasnya penuh.
dia menyerahkan miliku beserta pengaduk kayu dan kamudian berjalan ke arah sisi pintu. Memberanikan diri bahwa seharusnya aku mengikutinya, aku bergegas mengejarnya tanpa menumpahkan cokelat panasku. 

“Kemana kita akan – oh.”
aku melangkah menuju pintu dan menemukan diriku sendiri berada di teras kaca tertutup kecil yang dipenuhi oleh meja teras kecil. Aku tidak tahu teras ini berdekatan dengan ruang pertemuan, tapi meskipun begitu, ini adalah gedung tempat dimana pengawal mengerjakan segala kepentingan kampus. Novis sangat jarang dizinkan masuk. Aku juga tidak menyadari gedung ini dibangun mengelilingi halaman kecil, tempat yang diperlihatkan teras ini. Pada musim panas, aku membayangkan dapat membuka jendelanya dan dikelilingi oleh nuansa hijau dan udara yang hangat. Sekarang, terbungkus dalam kaca dan beku, aku merasakan seperti aku sedang berada di semacam istana es.

dimitri menyapukan tangannya ke kursi, menghilangkan debu. aku melakukan hal yang sama dan duduk di hadapannya. Sebenarnya ruangan ini tidak berguna banyak untuk digunakan dalam musim dingin. Sebab ruangan ini mengurung, udara dalam ruangan biasanyalebih hangat daripada di luar, tapi tidak terlalu panas sebenarnya. Udara terasa sejuk, dan aku menghangatkan kedua tanganku pada gelasku. kesunyian terasa diantara Dimitri dan aku. Satu-satunya suara datang dariku yang sedang meniup-niup cokelat panasku. Dia langsung meminum miliknya. Dia sudah membunuh Strigoi bertahun-tahun. Apakah panas airnya menjadi tidak terasa seketika juga? 

Saat kami duduk dan diam tumbuh, aku mempelajarinya dari tepi gelasku. Dia tidak menatapku, tapi aku tahu dia tahu aku sedang menatapnya. Seperti waktu-waktu yang lain ketika aku menatapnya, aku selalu terhenti saat manatapnya. rambut yang berwarna hitam lembut yang selalu ia sampirkan ke belakang telinganya tanpa ia sadari, rambut yang tidak pernah diam ingin selalu menjadi dasi yang melingkari lehernya. Matanya juga cokelat, yang entah bagaimana terlihat lembut dan ganas di saat yang sama. bibirnya memiliki kualitas yang berlawanan, kurasa. Ketika ia bertempur atau berurusan dengan sesuatu yang kejam, bibir itu akan licin dan keras. Tapi diwaktu yang lain ... ketika ia tertawa atau mencium ... well, bibir itu akan menjadi lembut dan mengagumkan.

Hari ini, lebih dari tampilan luarnya menyentuhku. Aku merasa hangat dan aman hanya karena bersamanya. dia membawa rasa nyaman setelah hari burukku. Sangat sering bersama orang lain, aku merasa butuh menjadi pusat perhatian, lucu, dan selalu punya hal pintar yang bisa kukatakan pada orang-orang. Itu adalah kebiasaan yang aku butuhkan untuk menjadi seorang pengawal, melihat pekerjaan itu membutuhkan lebih banyak diam. 

Tapi dengan dimitri, aku tidak pernah merasakan kalau aku harus menjadi sesuatu atau lebih dari apa yang aku punya. Aku tidak perlu menghiburnya atau memikirkan guraan atau bahkan menggoda. Sudah cukup kebersamaan dengannya, menjadi nyaman dengan keberadaan masing-masing – selain ketegangan seksual yang membara – yang menghilangkan pengedalian diri – kesadaran.

aku menarik nafas dan meminum cocoa ku.
“Apa yangs ebenarnya terjadi?” dia bertanya akhirnya, bertemu dengan tatapanku. “Perhatianmu tidak teralih di bawah tekanan.”

Suaranya terdengar penasaran, bukan menuduh. Kusadari dia tidak memperlakukanku sebagai seorang siswa sekarang. Dia menganggap kedudukan kami sama. Dia hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku. Tidak ada disiplin dan mengkuliahi disini. Dan itu membuat semua ini semakin buruk ketika aku harus berbohong padanya. 

“Tentu saja seperti itu,” kataku, menatap ke bawah ke arah gelasku. “Kecuali jika kau percaya aku benar-benar membiarkan Stan ‘menyerang’ Christian.”

“Tidak,” katanya. “Aku tidak percaya itu. Tidak pernah. aku tahu kau akan tidak bahagia ketika mengetahui tentang tugasmu, tapi aku tidak pernah sekalipun meragukan apa yang kalu lakukan untuk ujian lapangan ini. aku tahu kalau kau tidak akan membiarkan perasaan pribadi menghalangi tugasku.”
aku mendongak dan menatap matanya, sangat penuh dengan kesetiaan dan rasa percaya padaku.

“Aku tidak melakukan itu. Aku marah ... masih sedikit. tapi sekali aku mengatakan aku akan melakukannya, maka aku bersungguh-sungguh dengan perkataan itu. Dan setelah menghabiskan beberapa waktu dengan christian ... well, aku tidak membencinya. Aku sebenarnya berpikir kalau dia baik untuk Lissa, dan dia peduli padanya, jadi aku tdak bisa marah tentang semua itu. Dia dan aku betengkar kadang-kadang, hanya itu ... tapi kami benar-benar bagus bersama melawan Strigoi. Aku ingat ketika aku bersamanya hari ini dan berdebat mengenai tugas ini sangat terlihat konyol. Jadi aku memutuskan untuk melakukan pekerjaan yang terbaik yang bisa aku lakukan.” Aku tidak bermaksud untuk berbicara terlalu banyak, tapi aku merasa baik untuk membiarkan apa yang ada dalam diriku keluar, dan wajah dimitri terlihat mengerti apapu yang aku katakan. 

Hampir apapun. “Apa yang terjadi selanjutnya?” tanyanya. “Dengan Stan?” Aku mengalihkan pandanganku dan bermain dengan gelasku lagi. Aku benci menyimpan rahasia darinya, tapi aku tidak bisa mengatakan hal ini padanya. dalam kehidupan manusia, vampir dan dhampir adalah makhluk mitos dan legenda – cerita sebelum tidur untuk menakuti anak-anak. manusia tidak tahu kami nyata dan berjalan di bumi. Tapi hanya karena kami nyata tidak berarti setiap makhluk dalam cerita misteri itu ada. Kami tahu itu dan memiliki mitos sendiri dan cerita pengantar tidur lain yang tidak kami percayai. Werewolf. Bogeyman. Hantu.

Hantu bermain dalam ketidaknyataan di dunia kami, menjadi makanan untuk bahan candaan dan cerita api unggun. Hantu pasti keluar di hari Hallowen dan beberapa legenda memudar bertahan bertahun-tahun. Tapi di kehidupan nyata? Tidak ada hantu. Jika kau kembali dari kematian itu karena kau adalah Strigoi.

Paling tidak, itulah yang selalu kupikirkan. aku sejujurnya tidak cukup tahu sekarang apa yang sedang aku katakan. Diriku membayangkan Mason terlihat lebih wajar daripada memikirkan dia menjadi hantu, tapi, itu artinya aku mungkin benar-benar serius berada pada daerah gila. selama ini, aku mengkhawatirkan Lissa kehilangan akal sehatnya. Siapa yang tahu aku yang malah mungkin kehilangan akal sehat?

Dimitri masih menatapku, menunggu jawabanku.
“Aku tidak tahu apa yang terjadi di sana. Niatku bagus ... aku hanya ... aku hanya mengacaukannya.”

“Rose. Kau pembohong yang buruk.” 

Aku meliriknya. “Tidak, aku tidak seperti itu. Aku sudah sering mengatakan kebohongan yang bagus dalam hidupku. Orang-orang mempercayainya.”

Dia tersenyum sedikit. “ Aku yakin. Tapi itu tidak terjadi padaku. Untuk satu hal, kau tidak menatap mataku. Untuk yang lain ... aku tidak tahu. Aku hanya dapat merasakannya.” Sial. dia bisa menyadarinya. Dia mengenalku sangat baik. Aku berdiri dan bergeser ke pintu, membiarkan punggungku menatapnya. Normalnya, aku menhargai setiap menitku bersamanya, tapi aku tidak bisa melakukan hal itu hari ini. Aku benci berbohong, tapi aku tidak ingin mengatakan kebenarannya terlalu cepat. Aku harus pergi.

“Dengar, aku menghargai kau mengkhawatirkanku ... tapi sungguh, aku baik-baik saja. aku hanya mengacaukannya. Aku malu tentang semua ini – dan maaf, aku sudah membuat latihan mengagumkanmu menjadi memalukan – tapi aku akan berusaha lagi. Lain waktu, pantat Stan milikku.”

Aku tidak mendengar dia berdiri, tapi tiba-tiba, Dimitri sudah berada di belakangku. Dia meletakkan tangannya di bahuku, dan aku membeku di depan pintu. Dia tidak menyentuhku di tempat lain. Dia tidak mencoba untuk menarikku mendekat. Tapi, oh, satu tangan yang menyentuh bahuku itu menggengam semua kekuasaan di dunia.

"Rose," katanya, dan aku tau dia tak lagi tersenyum. “Aku tidak mengapa kau berbohong, tapi aku tahu kau tidak akan melakukan kebohongan ini tanpa alasan yang bagus. Dan jika ada sesuatu yang salah – sesuatu yang kau takut untuk dibicarakan dengan orang lain – “ Aku berbalik cepat yang entah bagaimana peralihan poros itu tidak menggerakkan tangannya dari bahuku.

“Aku tidak takut,” tangisku. “aku punya alasan, dan percaya padaku, apa yang terjadi dengan Stan bukan apa-apa. Sungguh. semua ini hanyalah sesuatu yang bodoh yang meledak keluar dari bagian diriku. Jangan merasa bersalah untukku atau merasa kau harus melakukan apapun. Apa yang terjadi sangat payah, tapi aku menggulingkannya dan menerima tanda kesalahan. Aku menjaga semua hal. Aku menjaga diriku sendiri.” Ini mengambil semua kekuatanku agar akau tidak gemetar. Bagaimana mungkin hari ini menjadi sangat aneh dan lepas kendali?

Dimitri tidak mengatakan apapun. dia hanya menatapku, dan ekspresi di wajahnya tidak pernah kulihat sebelumnya. aku tidak bisa menafsirkannya. apa dia marah? Tidak menerima? aku tidak mengerti. Jari-jari dibahuku sedikit mengeras kemudian melemah. 

“Kau tidak harus melakukan ini sendirian,” dia berkata akhirnya. Suaranya hampir terdengar sedih, yang artinya tidak berarti apa-apa. dialah orang yang slema ini mengatakan kepadaku kalau aku harus menjadi kuat. Aku ingin melemparkan tubuhku sendiri ke pelukannya, tapi aku tahu aku tidak mampu. 

Aku tidak bisa menahan senyum. “Kau berkata seperti itu ... tapi katakan padaku yang sejujurnya. Apa kau berlari ke arah orang lain jika kau memiliki masalah?”

“Itu tidak sama – “

“Jawab pertanyaan itu, rekan.”

“Jangan panggil aku dengan sebutan itu.”

“Dan jangan mengelak dari pertanyaan.”

“Tidak,” katanya. “Aku mencoba untuk menghadapai masalahku sendiri.” 

Aku menyingkirkan tangannya. “Benarkan?”

“Tapi kau punya banyak orang dalam hidupmu yang bisa kau percaya, orang-orang yang peduli padamu. Itu merubah sesuatu.”

Aku menatapnya terkejut. “Kau tidak memiliki orang yang peduli padamu?”

Dia mengerutkan kening, jelas sedang memikirkan kembali kata-katanya sendiri. “Sebenarnya aku selalu memiliki orang-orang yang baik dalam hidupku ... dan orang-orang yang peduli padaku. Tapi itu tidak berarti aku bisa mempercayai mereka dan mengatakan semuanya.”

Aku selalu merasa terganggu dengan keanehan hubungan kami yang jarang terpikir olehku mengenai Dimitri sebagai seseorang yang memiliki kehidupan yang jauh berbeda dariku. Dia dihormati oleh setiap orang di kampus. Para pengajar dan murid mengenalnya sebagai pengawal yang mematikan disini. Kapanpun mereka pergi sebagai pengawal di luar sekolah, mereka tetap tahu dan menghormatinya juga. Tapi aku tidak pernah melihatnya bersosialisasi. Dia tidak muncul dengan teman dekat diantara para pengawal – hanya rekan kerja yang ia sukai. Keramahan yang pernah aku lihat darinya untuk orang lain hanya pada bibi Christian, Tasha Ozera, pengunjung. Mereka saling mengenal satu sama lain dalam waktu yang lama, tapi ternyata semua itu tidak cukup untuk Dimitri mengejar Tasha ketika kunjungannya selesai. 

Dimitri dalam kesendirian yang mengerikan, aku sadar, novel koboinya sebagai pengisi kekosongannya ketika ia tidak bekerja. Aku sering merasa sendirian, tapi sesungguhnya, aku hampir selalu dikelilingi banyak orang. Dengan dirinya sebagai pengajarku, aku cenderung melihat pada satu sisi: dia adalah seseorang yang selalu memberiku sesuatu, nasihat atau latihan. Tapi aku memberikannya sesuatu juga, sesuatu yang sulit untuk dijelaskan – hubungan dengan orang lain.

“Apa kau mempercayaiku?” tanyaku.

Keragu-raguan sangat singkat. “Ya.”

“Jadi percayalah padaku sekarang dan jangan khawatirkan aku sekali ini saja.” Aku berjalan menjauh, diluar jangkauan tangannya, dan dia tidak berkata apapun lagi untuk mencoba menghentikanku. memotong jalan di ruangan sidang ini, aku menju pintu keluar utama gedung, melemparkan sisa-sisa cokelat panas ke tong sampah sembari aku berjalan menjauh.

Diterjemahkan langsung dari Novel Vampir Academy: Shadow Kiss karya Richelle Mead oleh Noor Saadah. This is truly  fanmade and  no profit work.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


U dah pada pernah nonton film Vampire Suck nggak?? Kalo belon ayo cepetan nonton, soalnya film ini adalah film plesetan dari Twilight N New Moon. Bagi penggemar Twilight Saga The Movie pasti bakalan ngakak, soalnya nih pilem konyol banget. 



Film ini merupakan plesetan berbagai macam film dan budaya remaja tapi kebanyakan adalah mengenai Twilight the Saga, dimana remaja Becca (plesetannya Bella) menemukan dirinya terjebak diantara dua orang cowok. Ketika dia dan teman-temannya kebingungan pada drama berbeda, semuanya terlihat jelas pada saat puncak acara proms.


Dari Bahasa, gaya ngomong, baju ampe mobil semua sama, bahkan rumah Bella pun juga sama. Gila ni film bikin ngakak ajah. Nih screenshotnya, untunglah, filmnya udah bagus bin jernih, jadi puas nontonnya.


Ini si Eduard Solon lagi buka baju di acara Festival.

Keluarga Volturi yang konyol abis.

Naah ini niy Jacob. Sumpah gayanya mirip. Except konyolnya.

Naah,,,inilah si Becca waktu adegan kipas angin n bau badan.Hihihi





Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Y ou change your mind
Like a girl changes clothes
Yeah you, PMS
Like a bitch
I would know


And you over think
Always speak
Crypticly


I should know
That you're no good for me

Cause you're hot then you're cold
You're yes then you're no
You're in then you're out
You're up then you're down
You're wrong when it's right
It's black and it's white
We fight, we break up
We kiss, we make up
(you) You don't really want to stay, no
(but you) But you don't really want to go-o
You're hot then you're cold
You're yes then you're no
You're in and you're out
You're up and you're down

We used to be
Just like twins
So in sync
The same energy
Now's a dead battery
Used to laugh bout nothing
Now your plain boring

I should know that
You're not gonna change

[CHORUS]

Someone call the doctor
Got a case of a love bi-polar
Stuck on a roller coaster
Can't get off this ride

You change your mind
Like a girl changes clothes

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

O uch! Akhirnya, paket komik ku tiba juga. Setelah 'maju-mundur' mau mesan komik via online, finally aku nekat juga order di Kinanti Komik. Kebetulan, komik Honey x Honey Drops dijual disitu and asih segel alias bukan bekas rental. Paket ini terdiri dari volume 1 - 8 complete alias udah ampe ending story, jadi gag penasaran lagi dan gag perlu bikin minus mata baca online. Hahaha. Palagi di situs online, Honey x Honey Drops masih volume 4. trus volume 3 nya cuma ada bahasa spanyol.Haghaghaghag. Harga satu paket Honey x Honey Drops (@ 9500) Rp. 76.000. Murah banget kaah. Palagi sekarang komik di toko buku udah naik jadi Rp. 15.000. Ongkos kirimnya - berhubung daku berlokasi di Banjarmasin - sebesar Rp. 23.000. Jadi total transfernya Rp. 99.000. Dan viola, dua hari kemudian, Honey x Honey Drops udah berada di tanganku. Hahahaha.





Sayangnya, kekurangan terdapat pada isi buku, bukan kesalahan toko onlinenya, tapi kayaknya kesalahan cetaknya. hehehe. Gambarnya bagus - dan kadang di sensor T . T - tapi translate-an nya alias terjemahannya rada ngaco. Jujur, aku lebih ngerti ceritanya waktu baca online di Mangafox, ketimbang baca komiknya. Hahahaha. Apa perlu nih aku yang jadi penerjemahnya ya???? After all, aku nggak jera beli online tapi buat temen-temen yang suka beli komik online kayaknya perlu beberapa tips biar nggak rugi:



1. Cek dulu ceritanya di read-online website kayak Mangafox ato Stoptazmo. Udah sesuai belum sama kesukaan kamu.
2. Pilih Genrenya - sesuaikan dengan umur ya!- bagi genre ecchi, smut, ato yaoi hanya boleh dibaca untuk usia 18+ - thanks God I'm 21 hahahaha. (sttt for attention, Honey x Honey Drops bergenre smut)
3. Kalo perlu cek di wikipedia, masukin aja kata kunci pengarangnya, karena biasanya kamu bisa nemuin rekomendasi komik bagus yang lain.
4. Setelah membuat keputusan final mau beli yang mana, search deh di om Google, toko komik online mana yang menjual. Dalam hal ini, aku merekomendasikan Kinanti Komik karena aku dah nyobain dan kita bisa liat foto kondisi komiknya. Jadi aman dan gak akan merasa ketipu.
5. Untuk toko komik online yang lain, diharapkan liat-liat dulu keasliannya, soalnya ada beberapa kasus yang kejadian ama teman, mereka kecewa dengan barangnya dan bahkan ada yang ketipu. Jadi, hati-hatilah dalam memilih  dan selamat menikmati!!!
Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar


Lihat Kartu Ucapan Lainnya
(KapanLagi.com)
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
INI DIMULAI.

Pada awalnya, semuanya tidak terlalu berbeda dari hari-hari sebelumnya. Dhampir dan Moroi menghadiri kelas-kelas terpisah di setengah hari pertama sekolah, lalu bergabung setelah makan siang.

Christian memiliki sebagian besar kelas siang yang sama yang pernah aku ambil semester lalu, jadi ini hampir seperti mengulang jadwalku sekali lagi. Perbedaannya adalah aku bukan lagi siswa di kelas ini. Aku tidak duduk di sebuah kursi atau melakukan sesuatu untuk dikerjakan. Aku juga merasa sangat tidak nyaman sejak aku harus berdiri di belakang kelas sepanjang waktu, bersama novis yang lain yang juga sedang menjaga Moroi. Diluar sekolah, hanya seperti apa yang biasa dilakukan. Moroi datang pertama. Pengawal adalah bayangan.

Ada godaan besar untuk berbicara dengan teman novis kami, terutama ketika sepanjang waktu kaum Moroi melakukan apa yang harus mereka lakukan dan berbicara diantara kaum mereka sendiri. Meskipun begitu, tidak ada satu pun dari kami yang memulai. Tekanan dan adrenalin di hari pertama membuat kami bersikap baik.

Setelah kelas Biologi, Eddie dan aku mulai menggunakan teknik pengawal yang disebut ‘mengawal pasangan’. Aku mengawal dalam jarak dekat dan berjalan bersama Lissa dan Christian sebagai pertahanan jarak dekat. Eddie, menjadi pengawal jauh, berjalan jauh dan memindai area yang lebih besar untuk melihat ancaman yang mungkin ada. 





Kami melakukan pola ini selama sisa hari ini sampai kelas terakhir tiba. Lissa memberikan Christian ciuman cepat di leher, dan aku baru menyadari kalau mereka mengambil kelas terpisah.

“Kalian tidak mengambil jadwal yang sama kali ini?” aku bertanya kaget, mundur ke samping ruang depan untuk menghindari lalu lintas siswa. Eddie sudah menyimpulkan kalau kami akan berpisah dan berhenti melakukan penjagaan jarak jauh untuk datang dan bergabung berbicara dengan kami. Aku tidak tahu bagaimana jadwal Lissa dan Christian berjalan di semester ini.

Lissa menyadari kekecewaanku dan memberikan senyuman simpati. “Maaf. Kami tetap akan belajar bersama setelah sekolah, tapi sekarang, aku harus pergi ke kelas menulis kreatif.”

“Dan aku,” Christian mengumumkan dengan angkuh, “harus pergi ke kelas ilmu kuliner.”

“Ilmu kuliner?” aku berteriak merana. “Kau memilih ilmu kuliner? Itu merupakan kelas yang tidak pernah memakai otak.”

“Tidak seperti itu,” ia membalas.” Dan jika memang seperti itu....sebenarnya, hey, ini kan semester terakhirku?” Aku mengerang.

“Ayolah, Rose,” Lissa tertawa. “Hanya satu kelas saja. Tidak akan menjadi – “ dia memotong pembicaraan ketika sebuah keributan datang dari dalam gedung aula. Kami dan setiap orang yang berada di dekat kami berhenti dan melihat. Satu dari instruktur pengawalku, Emil, praktis sedang keluar tidak dari manapun dan – berakting sebagai Strigoi – menangkap seorang gadis Moroi. 

Dia memutar gadis itu menjauh, menekan dadanya dan memaparkan lehernya seolah dia akan menggigitnya. Aku tidak bisa melihat siapa gadis itu, hanya rambut cokelat kusut, tapi pengawalnya adalah Shane Reyes. Penyerangan itu membuatnya terkejut – ini merupakan yang pertama dalam hari ini – tapi dia hanya meleset sedikit ketika menendang Emil ke samping dan merebut gadis itu. Dua pria berhadapan, dan semua orang melihat dengan antusias. Beberapa bahkan bersiut dan berteriak, menyemangati Shane. Satu diantaranya adalah Ryan Aylesworth. Dia begitu terpaku pada pertarungan itu – dimana Shane sedang menggunakan pasak latihannya, yang menyiratkan kemenangan – sehingga dia tidak menyadari dengan dua pengawal dewasa lain yang menyelinap diam-diam kearahnya dan Camille. Eddie dan aku menyadarinya pada saat yang bersamaan dan membeku, insting waspada kami berkembang menjadi ingin maju.

“Tetap bersama mereka,” Eddie berbicara padaku. Dia berhati-hati ke arah Ryan dan Camille yang baru saja mengetahui kalau mereka telah menjadi sasaran. Ryan tidak bereaksi sehebat Shane, terutama ketika dia harus mengahadapi dua penyerang sekaligus. Satu dari pengawal itu membuat Ryan lengah ketika yang satunya – Dimitri, sekarang aku melihatnya – menangkap Camille. Dia berteriak, tidak memalsukan ketakutannya. Dia jelas tidak menemukan perasaan menggetarkan hati ketika berada dalam rengkuhan tangan Dimitri seperti yang terjadi padaku. Eddie berhati-hati ke arah mereka, mendekati dari belakang, dan mendaratkan sebuah pukulan di sisi kepala Dimitri. Hal itu tidak mengganggu Dimitri, tapi tetap saja mengagumkan. Aku bahkan hampir tidak pernah bisa mendaratkan satu pukulan pun untuk Dimitri di semua latihan kami. Eddie seolah menyerang Dimitri untuk membebaskan Camille, dan Dimitri menghadapi ancaman baru ini. Dia berputar, anggun seperti seorang penari, dan maju ke arah Eddie.

Sementara itu, Shane sudah “menusukkan pasak” nya ke Strigoinya dan melompat untuk menolong Eddie, bergerak disekeliling sisi Dimitri yang lain. Aku menonton, Mengepalkan tangan terpengaruh, minatku bangkit dengan pertarungan pada umumnya dan dengan menonton Dimitri pada khususnya. Membuatku terpesona ketika melihat seseorang yang sangat mematikan bisa terlihat begitu indah. Aku berharap kalau aku merupakan bagian dari kehebohan ini tapi aku tahu aku harus waspada pada keadaan sekitarku kalau-kalau ada “Strigoi” lain yang menyerang kesini.

Tapi mereka tidak muncul. Shane dan Eddie dengan sukses “menyelesaikan” Dimitri. Sebagian dari diriku sedih karenanya. Aku ingin Dimitri selalu hebat dalam segala hal. Akan tetapi, Ryan yang mencoba menolong, gagal. Dimitri secara teknis sudah “membunuh”nya, jadi aku masih merasakan rasa senang memikirkan kalau Dimitri masih pembasmi Strigoi yang hebat.

Dia dan Emil memuji Shane karena kecepatan kakinya dan Eddie yang cepat tanggap dan berusaha keras dalam menghadapi ancaman dalam kelompok daripada ketika ia dalam latihan satu-satu. Aku mendapatkan sebuah anggukan karena waspada di belakang Eddie, dan Ryan mendapat hukuman karena tidak memperhatikan Moroinya.

Eddie dan aku saling menyeringai, senang karena mendapat penghargaan tinggi pada tes pertama ini. Aku tidak pernah menganggap tugas ini mudah, tapi tadi bukanlah permulaan latihan lapangan yang buruk. Kami bertos ria dan aku melihat Dimitri mengganggukkan kepala ketika ia pergi.

Dengan berakhirnya drama ini, kelompok berempat kami berpisah. Lissa memberikan satu senyuman dari balik bahunya dan berbicara padaku melalui ikatan kami, Selamat bersenang-senang di kelas kuliner! Aku memutar mataku tapi dia dan Eddie sudah melewati sudut gedung. ‘Ilmu Kuliner’ terdengar sangat menarik, tapi sungguh, ini hanyalah kelas mengkhayal indah mengenai betapa pentingnya kelas memasak. Meskipun aku mengatakan pada Christian kalau ini kelas yang tidak memerlukan otak, tapi aku harus menghormatinya. Aku bisa merebus air paling tidak. Tetap saja, ini sangat berbeda dengan kelas pilihan yang lain misalnya menulis kreatif atau kelas debat, dan aku tidak meragukan kalau Christian mengambil kelas ini hanya untuk membolos dari kelas lain dan bukan karena dia ingin menjadi koki suatu hari nanti. 

Paling tidak aku mendapatkan kesenangan melihatnya memasak kue atau sebagainya. Mungkin dia bahkan akan memakai celemek. Ada tiga novis lain di kelas itu yang sedang menjaga Moroi. Karena ruangan ilmu kuliner besar dan terbuka, dengan banyak jendela, kami berempat bekerja sama untuk menggabungkan penjagaan kami dan mengamankan seluruh ruangan. Ketika aku melihat para novis melakukan latihan lapangan mereka tahun lalu, aku bahkan tidak tertarik melihat pertarungannya. Aku tidak pernah terpikir kalau kerja tim dan strategi harus selalu dijalankan. 

Secara teori, kami berempat berada disini hanya untuk menjaga Moroi kami, tapi kami terjebak dalam tugas dimana kami melindungi seluruh kelas. Posku di dekat pintu darurat yang pasti menuju ke luar sekolah. Tidak sengaja, posku tepat di dekat dimana Christian melakukan tugasnya. Normalnya mereka memasak secara bekelompok di kelas, tapi tiga dari kelompok tersebut memiliki anggota yang lebih dari seharusnya. Dari pada memilih bekerja bertiga dalam kelompok, Christian dengan suka rela bekerja sendirian. Tidak satupun dari mereka yang mempertanyakannya. Banyak dari mereka yang masih memandang Christian dengan ketidakadilan yang sama seperti yang dilakukan Jesse. Dan yang membuatku paling kecewa adalah, Christian tidak membuat kue.

“Apa itu?” aku bertanya, melihatnya mengambil semangkuk sesuatu yang terlihat mentah, daging giling dari kulkas.

“Daging,” katanya, melemparkannya ke atas papan pemotong.

“Aku tahu itu, idiot. Daging apa?”

“Daging sapi cincang.” dia menarik wadah yang lain kemudian yang lain. “ Dan ini daging anak lembu. Dan ini daging babi.”

“Apa kau punya seperti T-Rex contohnya, yang bisa kau makan?”

“Hanya jika kau menginginkannya. Ini untuk daging cincang gulung."

Aku menatapnya. “Dengan tiga jenis daging?”

“Kenapa memakan sesuatu yang disebut daging cincang gulung jika kau sebenarnya tidak mendapatkan beberapa jenis daging dari semua itu?"

Aku menggoyangkan kepalaku. “Aku tidak percaya ini hari pertamaku bersamamu.”

Dia melirik ke bawah, serius memotong tiga daging kreasinya bersama-sama. “Kau yakin sudah membuat keputusan yang benar mengenai semua ini? Apa kau sungguh sangat membenciku? Aku dengar kau berteriak sekencang-kencangnya setelah keluar dari tempat berkumpul.”

“Tidak, aku tidak melakukannya. Dan ... aku tidak membencimu,” aku mengaku.

“Kau melemparkannya ke arahku karena kau tidak berpasangan dengan Lissa.” Aku tidak menjawab. Tebakannya tidak terlalu jauh.

“Kau tahu,” ia melanjutkan “ ini mungkin sebenarnya sebuah ide yang bagus untukmu berlatih dengan orang yang berbeda.”

“Aku tahu. Itu yang dikatakan Dimitri juga.” Christian meletakkan daging ke mangkuk dan mulai menambahkan beberapa bumbu.

“Lalu kenapa mempertanyakannya? Belikov tahu apa yang dia lakukan. Aku mempercayai apapun yang ia katakan. Sangat menyedihkan karena kita akan kehilangannya setelah kita lulus, tapi aku lebih suka melihatnya bersama Lissa.”

“Aku juga.” Dia berhenti dan menengadah, menatap kedua mataku. Kami berdua tersenyum, menggelikan bagaimana secara mengejutkan kami menyetujui hal yang sama. Sesaat kemudian, dia kembali melanjutkan pekerjaannya. 

“Kau juga hebat,” katanya, tidak terlalu pendendam. “Cara kau menangani sendiri ...” Dia tidak melanjutkan ucapan itu, tapi aku tahu tentang apa yang ia bicarakan. Spokane. Christian tidak bersamaku ketika aku membunuh Strigoi, tapi dia merupakan bagian alat untuk membantu kami bebas. Dia dan aku bekerja sama, menggunakan sihir apinya agar aku bisa melawan penawan kami. Kami bekerja sama bersama dengan baik, semua rasa permusuhan kami terkesampingkan.

“Kurasa kau dan aku punya hal lain yang lebih baik untuk dilakukan daripada berkelahi seanjang waktu,” aku merenung. Seperti mengkhawatirkan sidang Victor Dashkov, aku baru tersadar. Beberapa waktu, aku memutuskan untuk mengatakan pada Christian apa yang aku pelajari. Dia ada pada malam saat Victor jatuh, tapi aku memutuskan untuk menunda kabar itu. Lissa harus mengetahuinya terlebih dahulu.

“Yup,” Christian berkata tanpa mempedulikan pikiranku. “Tahan dirimu sendiri, tapi kita tidak terlalu berbeda. Maksudku, aku lebih pintar dan sangat lebih lucu, tapi di hari akhir nanti, kita sama-sama ingin dia selamat.” Dia ragu-ragu. “Kau tahu... Aku tidak akan mengambilnya darimu. Aku tidak bisa. Tidak ada satupun yang bisa, tidak selama kalian berdua memiliki ikatan itu.” 

Aku terkejut dia membicarakan hal ini. Sejujurnya aku menduga ada dua alasan mengapa dia dan aku selalu saja berselisih. Pertama kami sama-sama memiliki sifat yang sama, yaitu suka berdebat. Alasan yang lain – yang terbesar – adalah kami sama-sama cemburu dengan hubungan kami dengan Lissa masing-masing. Tapi, seperti yang ia katakan, kami memiliki motif yang sama. Kami peduli pada Lissa.

“Dan jangan berpikir kalau ikatan itu bisa memisahkan kalian,” kataku. Aku tahu ikatan itu mengganggunya. Bagaiman bisa kau merasakan suasana romantis dengan kekasihmu ketika pasanganmu memiliki koneksi dengan orang lain, meski orang itu hanyalah seorang teman?

“Dia peduli padamu ...” Aku tidak bisa memaksa diriku untuk mengatakan ‘Cinta’. “Dia memiliki sebuah tempat khusus untukmu dihatinya.”

Christian meletakkan adonanya di oven. “Kau tidak perlu mengatakannya. Aku punya perasaan kalau kita berada di batas saat kita mungkin akan berpelukan dan masing-masing mulai menyebutkan nama panggilan yang lucu.” Dia mencoba terlihat jijik dengan rasa sentimentalku, tapi aku bisa bilang kalau dia ingin mengatakan Lissa memang peduli padanya.

“Aku sudah punya nama panggilan untukmu, tapi aku akan mendapat masalah kalau mengatakannya di kelas.”

“Ah,” dia berkata bahagia. “Itulah Rose yang kukenal.” Dia kemudian berbicara dengan teman yang lain ketika daging cincang gulungnya masak, dimana sebenarnya mungkin lebih baik. Pintuku dalam keadaan mudah diserang, dan aku tidak seharusnya mengobrol, meski saisi kelas melakukannya. Diseberang ruangan, aku melihat Jesse dan Ralf berkerja bersama. Seperti Christian, mereka juga memilih kelas yang santai.

Tidak ada penyerangan yang terjadi, tapi seorang pengawal bernama Dustin datang dan membuat catatan untuk kami para novis yang siaga di posisi kami. Dia tepat berdiri disampingku ketika Jesse memilih pergi berjalan-jalan. Awalnya, kupikir semua itu hanya kebetulan – hingga Jesse berbicara.

“Aku menarik kembali apa yang sudah aku katakan, Rose. Aku sudah memikirkannya. Kau tidak marah karena Lissa atau Christian. Kau marah karena peraturan yang mengatakan kalau kau harus bersama seorang siswa, dan Adrian Ivashkov terlalu tua untuk jadi seorang siswa. Sepanjang yang aku dengar, kalian berdua sudah melakukan banyak praktek untuk mempelajari tubuh masing-masing.”

Candaan itu bisa jadi sangat lucu, tapi aku sudah belajar banyak untuk tidak berharap terlalu banyak dari Jesse. Aku tahu kenyataannya kalau dia tidak peduli padaku dan Adrian. Aku juga menduga kalau ia bahkan tidak mempercayai semua itu benar-benar terjadi. Tapi Jesse masih merasa kemarahan terhadapku yang sudah mengancamnya sebelumnya, dan ini adalah kesempatannya untuk kembali melanjutkannya. 

Dustin berdiri dibawah jangkauan jarak untuk mendengar, tidak tertarik dengan tingkah idiot Jesse. Dustin mungkin akan tertarik, jika aku meninju wajah Jesse hingga ke dinding. Tapi tidak berati aku harus diam . Pengawal berbibara dengan Moroi sepanjang waktu; Mereka hanya cenderung bersikap sopan dan tetap waspada pada keadaan sekitar. Jadi, aki memberikan Jesse sebuah senyuman kecil dan ucapan sederhana, “ Candaanmu selalu terasa menyenagkan, Mr. Zeklos. Aku hampir tidak bisa memperkirakannya.” Aku lalu berbalik dan mensurvey sisa ruangan.

Ketika Jesse menyadari kalau aku tidak melakukan hal lain, dia tertawa dan berjalan menjauh, tampaknya berpikir kalau dia sudah memenangkan kemenangan yang bagus. Dustin pergi sesaat setelah itu.

“Bajingan,” Christian mengumam, kembali pada tempat kerjanya. Kelas berakhir liman menit lagi.

Mataku mengikuti Jesse ke seberang ruangan. “Kau tahu sesuatu, Christian? Aku sangat senang mengawalmu.”

“Jika kau membandingkan aku dengan Zeklos, aku tidak akan benar-benar menganggapnya sebagai pujian. Tapi kesini, cobalah ini. Lalu kau akan benar-benar senag karena bersamaku.” Karya terbesarnya sudah selesai dan dia memberikan aku sepotong. Aku tidak bisa membayangkannya, tapi sesaat sebelum meatloaf itu habis, dia membungkusnya dengan bacon. 

“Hebat,” kataku. “Ini adalah makanan sampingan vampir terbaik yang pernah ada.”

“Hanya jika mentah. Bagaimana menurutmu?”

“Ini enak,” Aku berkata dengan malas. Siapa yang tahu kalau bacon bisa membuat perbedaan? “Kupikir kau bisa menjadi suami rumah tangga yang menjanjikan di masa depan ketika Lissa bekerja dan menghasilkan uang jutaan dolar.”

“Lucu, memang itulah mimpiku.”

Kami meninggalkan kelas dengan suasana hati yang ringan. Sesuatu telah tumbuh menjadi persahabatan diantara kami berdua, dan aku memutuskan kalau aku bisa mengatasi enam minggu ke depan untuk menjaganya.

Dia dan Lissa akan bertemu di perpustakaan untuk belajar – atau berpura-pura untuk belajar – tapi pertama-tama dia harus berhenti ke asramanya dulu. Jadi aku mengikutinya melintasi lapangan, kembali ke udara musim dingin yang semakin dingin sejak matahari terbenam tujuh jam yang lalu. 

Salju di atas jalan kecil, yang mencair di bawah matahari, kembali membeku dan membuat perjalanan berbahaya. Sepanjang jalan, kami bergabung dengan Brandon Lazar, seorang Moroi yang tinggal satu ruangan dengan Christian. Brandon tidak sedikitpin bisa menahan dirinya, mengulang serita petarungan yang ia saksikan di kelas matematikanya. Kami mendengarkan cara bicaranya, kami semua tertawa ketika memikirkan Alberta menyelinap melalui jendela. 

“Hey, dia mungkin sudah tua, tapi dia bisa menangani hampir dari kita semua,” kataku pada mereka. Aku memberikan Brandon wajah teka teki. Dia mendapatkan memar dan banyak noda merah di wajahnya. He had bruises and red splotches on his face. Dia juga mendapatkan beberapa bekas aneh di dekat telinganya.

"Apa yang terjadi padamu? Pernahkah kau bertarung dengan para pengawal juga?”
Senyumnya mendadak menghilang dan terlihat menjauh dariku.

“Ah, hanya terjatuh.”

“Ayolah,” kataku. Moroi mungkin tidak dilatih untuk bertarung layaknya kaum dhampir tapi mereka juga ikut masuk dalam pertarungan dengan sesamanya sama seperti yang terjadi pada yang lain. Sebagian besar, Brandon memang lebih menyenangkan.

“Itu adalah jawaban yang tidak memuaskan yang merupakan alasan paling palsu di dunia "

“Itu benar,” katanya, masih menghindari kedua mataku.

“Jika seseorang bercinta dengan mu, Aku bisa memberikan beberapa petunjuk.” Dia kembali menatapku, matanya terkunci.

“Biarkan saja.” Dia menghindari perseteruan atau apapun, tapi ada nada keras di dalam suaranya. Hampir seperti sia percaya jika mengatakan kalimat itu bisa membuatku menurut padanya.

Aku terkikik. “Apa yang sebernya kau ingin lakukan? Memaksa ku – “

Tiba-tiba aku melihat pergerakan di sisi kiriku. Sebuah bayangan bercampur dengan gelap di jejeran pohon pinus – tapi gerakannya cukup untuk menarik perhatianku. Wajah Stan muncul dari kegelapan melompat ke arah kami. Akhirnya, tes pertamaku.

Adrenalin memuncak dalam diriku sama kuatnya jika Strigoi asli memang muncul. Aku spontan bereaksi, mejangkau Brandon dan Christian. Gerakan pertama yang harus dilakukan adalah mengorbankan hidupku sendiri untuk mereka. Aku menyentak mereka berdua untuk menghentikan dan membalikan mereka dari penyerangku, meraih pasakku untuk melindungi Moroi - dan saat itulah ia muncul.
Mason.
Dia berdiri beberapa kaki di depanku, tepat di kanan Stan, terlihat seperti malam itu. Tembus pandang. Berkilauan. Sedih.

Rambut di tengkukku berdiri. Aku membeku, tidak bisa bergerak atau menyelesaikan serangan pasakku. Aku lupa dengan apa yang sedang aku lakukan dan sama sekali kehilangan perhatian terhadap orang-orang dan keributan yang ada disekitarku. Dunia bergerak lamban, segalanya memudar disekitarku.

Janya ada Mason – hantu, kilauan Mason bercahay dalam gelap dan terlihat dia sangat ingin mengatakan sesuatu. Perasaan keputusasaan yang sama yang aku alami di Spokane kembali padaku. Aku tidak bisa menolongnya saat itu. Aku tidak bisa menolongnya sekarang. Perutku terasa dingin dan kosong. Aku tidak bisa melakukan apapun selain berdiri disana, menduga-duga apa yang sebenarnya ingin ia katakan. 

Dia mengangkat satu tangan transparannya dan menunjuk ke arah sisi kampus, tapi aku tidak tahu apa maksudnya. Ada banyak hal disana dan sangat tidak jelas dia menunjuk ke arah mana. Aku menggelengkan kepalaku, tidak mengerti tapi mati-matian berharap aku bisa mengerti.

Penderitaan dalam wajahnya terlihat semakin dalam. Tiba-tiba, sesuatu membanting bahuku dan aku tersandung ke depan. Dunia kembali pada kenyataan lagi, menggertakku keluar dari keadaan alam mimpi dimana aku berada. Aku hanya bisa sempat melemparkan tanganku untuk membuat diriku tidak terhempas ke tanah. Aku menengadah dan melihat Stan berdiri di atasku.

“Hathaway!” ia menyalak. “Apa yang kau lakukan?” Aku mengerjap, masih mencoba melepaskan keanehan ketika melihat Mason lagi. Aku merasa lemas dan pusing. Aku melihat wajah marah Stan dan kemudian melirik ke arah dimana Mason tadi berada. Dia sudah menghilang. Aku mengembalikan perhatianku lagi pada Stan dan menyadari apa yang sudah terjadi. 

Dalam kebingunganku, aku sepenuhnya berjarak dari Stan ketika dia melancarkan serangannya. Dia sekarang sudah melingkarkan satu tangan ke leher Christian dan satunya lagi di leher Brandon. Dia tidak menyakiti mereka. Tapi hasil akhirnya sudah diputuskan. 

“Jika aku adalah Strigoi,” dia mengeram,” ada dua yang akan mati.”

Diterjemahkan langsung dari Novel Vampir Academy: Shadow Kiss karya Richelle Mead oleh Noor Saadah. This is truly  fanmade and  no profit work.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

AUTHOR

AUTHOR
TWILIGHT HUNTER, AN AUTHOR & AN ORDINARY ACOUSTIC PERFORMER WHO'S CRAVING FOR BEAUTY PICTURES

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • pinterest
  • google+
  • instagram
  • bloglovin

Labels

  • BOOK
  • CATATAN KULIAH
  • CHICKEN SOUP
  • CONTEST
  • FASHION
  • MOVIE
  • MUSIC
  • REVIEW
  • TES POTENSI AKADEMIK
  • TRAVEL STORY
  • VAMPIRE ACADEMY

Total Pageviews

Powered by Blogger.
Facebook Twitter Instagram Pinterest Bloglovin

Created with by BeautyTemplates