facebook twitter instagram pinterest google+

Love Your Life

  • Home
  • About
  • Literature
    • Poem
    • Short Story
    • Essay
    • Photoshop
  • Travel Story
    • Korea
    • Kalimantan
    • Bali
    • Java
    • Coffee Shop
  • Vampire Academy
    • Spirit Bound
    • Blood Promise
    • Shadow Kiss

Seorang wanita muda duduk bersila di pinggir jembatan layang. Rambutnya yang panjang ber-higlight biru berkibar tak karuan ditiup angin. Helaiannya menari-nari kekiri kekanan, naik turun semerawut, membuat rambut yang mungkin semula lurus itu menjadi gimbal natural. Sesekali tangannya menyentuh helaian-helaian itu, mencoba merapikan, meski hal itu adalah kegiatan yang sia-sia karena angin akan kembali berpesta-pora dengan rambutnya lagi. Tak satu orang pun yang memperhatikan apa yang sedang dilakukannya. Apalagi untuk berandai-andai dengan apa yang sedang wanita itu pikirkan. Orang-orang di pinggir dan lewat jembatan asyik dengan pikiran dan aktivitasnya masing-masing. Sedangkan seorang wanita muda itu tetap duduk bersila di pinggir jembatang layang.

Gelombang kecil berarak di atas sungai Barito. Memantulkan bayangan langit dengan pantulan yang abstrak. Masalahnya, air-air itu tidak bertambah banyak literannya hanya karena ada beberapa tetes air mata yang jatuh dari dua bola mata seorang wanita muda yang  duduk sendirian. Tangannya memeluk erat palang-palang besi yang berbaris rapi.   Kepalanya menunduk pedih mempersilakan rambutnya yang mulai kusut menutupi separuh wajah putih susunya. Beberapa laki-laki muda dengan tampang di bawah rata-rata nekat mencoba menyapa wanita itu. Sekedar basa-basi bertanya kenapa sendirian atau mengapa bersedih. Ujung-ujungnya hanya ingin menambah panjang daftar buku telepon di ponselnya.  Sayangnya usaha mereka hanya dijawab oleh angin yang mulai mabuk arah. Dengan tampang kecewa, akhirnya beberapa laki-laki muda itu kembali ke posisinya semula sambil menunggu wanita muda lain yang mungkin kesepian.
Sebenarnya, wanita muda itu tidak sendirian. Dia juga tidak benar-benar duduk di pinggir jembatan. Dia ditemani oleh kenangan terburuk dan terberat di dalam kepalanya. Tubuhnya utuh tapi jiwanya tidak berhenti terseok-seok ke dalam masalalunya. Jatuh…jatuh…dan terus jatuh.
#      #     #
“Kenapa?” sebuah pertanyaan, lahir dari  bibir kering seorang wanita muda yang sembab kedua matanya.
“Kosong,” sebuah jawaban, respon dari  seorang lelaki yang duduk kaku dengan tatapan sekosong gelas dihadapannya.
“Apanya?” rupanya masih ada yang belum bosan untuk bertanya.
“Aku,” sebuah suara dengan nada lelah selelah wajah si empunya.
“Lalu?” masih ada harapan, mungkin begitu kata hati sang wanita.
“Ya, sudah,” kembali di jawab tanpa irama, datar.
“Sudah?” kali ini jelas bukan sebuah pertanyaan, mungkin hanya sekedar untuk meyakinkan.
“Iya, sudah. Kita sudahi saja,” terdengar tak sabar atau mulai kesal?
“Kenapa?” ada selaput tipis tiba-tiba menutupi kedua mata sang wanita.
“Kosong,”  ada jeda, ada jarak.
“Kenapa?” bibir wanita itu bergetar, air sudah tidak sabar untuk mengalir.
“Ada dia…”
Ada helaan nafas panjang di sudut ruang tamu sempit itu. Percakapan yang terjadi seakan dibuat bertele-tele seolah yang punya suara ogah untuk cepat-cepat mengakhirinya. Berbeda dengan tiga hari yang lalu disaat suara itu ditemani ribuan bunyi benda-benda saling bertubrukan di lantai dan dinding. Berbeda dengan seminggu yang lalu disaat suara itu hening dan hanya disela oleh  desahan panjang. Berbeda dengan sebulan yang lalu disaat tawa dan candaan bergema di antara sofa ruang tamu itu. Berbeda dengan setahun yang lalu disaat seorang bocah lelaki gugup menyatakan satu kata sesulit mengucapkan pidato kepada sang penguasa.
Laki-laki yang dulunya gugup itu kini berjalan angkuh penuh keyakinan seolah ia baru saja menemukan jalan yang benar. Kaki-kakinya mantap melangkahi pintu dan pergi dengan sedikit gerakan slowmotion seakan hatinya pun ikut terluka. Namun luka yang sebenarnya, ia tinggalkan di balik pintu itu. Diantara dinding-dinding yang pengap, diruang tamu sempit itu, di atas sofa biru.  Seorang gadis, dengan rambut panjang kusut masai dan berbau air mata, duduk tanpa gerakan sedikit pun. Ia mengerti semuanya berakhir, semuanya ada akhir. Tapi hatinya masih mengejar laki-laki yang kini sudah tak menghidangkankan apa-apa lagi untuknya.
Tak ada satu orang pun yang tinggal di rumah itu kecuali si gadis yang kini mengelus perlahan tiap inci dinding yang ia yakini masih meninggalkan sedikit kenangan. Hidungnya perlahan menghirup seluruh aroma lelaki itu yang mungkin masih tertinggal di sofa, di sprei, di dapur, di kamar mandi, dimana-mana. Ia baru menyadari bahwa semua yang ada di rumah itu beraroma sama seperti lelaki yang ia percaya sebagai kekasihnya itu. Tiba-tiba nafasnya sesak. Matanya rabun oleh bayangan. Tubuhnya kaku.
#   #   #
            Hari Sabtu. Satu minggu setelah kekosongan mengisi ruang tamu. Sang wanita tidak beranjak sedikitpun dari sofa biru berdebu. Hidupnya hanya seputar sofa-kamar mandi-dapur-sofa. Kadang dapur atau kamar mandi atau dua-duanya hilang dari siklus itu. Air mata seakan sampah. Terbuang dimana-mana. Tanpa harga.
Satu-satunya barang yang seakan hidup hanyalah televisi ukuran 14 inch. Wanita itu memandang hampa acara yang disiarkan. Jelas ia hanya menatap, tidak melihat. Mendadak rasa sakit meluap-luap dari dadanya. Sebuah lagu yang sering didendangkan seseorang yang pernah berharga, terdengar dari speaker televisi bervolume rendah.  Bayangan kenangan indah melesat sempurna. Wanita itu berdiri, berlari ke dapur seolah mengejar bayangan itu. Berhenti tepat di depan sebuah pisau pemotong sayur yang baru dibeli. Tangannya gemetar, namun jari-jarinya mantap mengenggam pisau tanpa karat itu. Tangan kirinya terulur pasrah ke depan. Siap menerima eksekusi dari tuannya sendiri. Telapak tangan kirinya berbalik, putih di atas hitam dibawah. Dingin menyentuh daging dekat nadi yang berwarna biru tua. Tangan itu terlalu kurus hingga jalur-jalur nadi terlihat dengan jelasnya. Getaran menguasai seluruh tubuhnya. Semenit kemudian terdengar kelontang keras suara jatuhnya si pisau. Sejenak, tidak terdengar suara nafas disitu. Hening, seolah Izrail baru saja lewat dan mengambil sisa-sisa kehidupan yang ada. Sungguh hening.
Seperempat menit kemudian, seseorang terbatuk-batuk. Memuntahkan air ke udara yang sudah terkontaminasi bau apak. Wanita itu masih hidup. Rasa sakit yang nyata telah menghalangi kesakitan hatinya. Ia pun perlahan berdiri dan mencoba untuk duduk tenang di sofa, sarangnya.  Televisi di depannya telah mati, bukan lewat remote control, melainkan dengan terjangan stileto yang haknya  setinggi 12 centimeter. Sukses membuat televisi itu menjadi kotak tanpa kaca yang tidak lagi berguna.
Mata wanita itu berjalan dari sudut kiri ke sudut kanan. Tidak mencari apapun. Hanya menjalari senti demi senti dinding dan lantai yang sudah mengkoleksi debu dari berbagai sumber. Setengah jam berlalu, perjalanan matanya tiba-tiba berhenti ketika bertemu dengan sebotol obat semprot anti nyamuk. Merangkak, ia menghampiri benda yang tidak ada nilai-nilai artistiknya itu. Ia mengguncangkannya pelan, terdengar gemerisik bunyi cairan di dalamnya. Mungkin masih ada setengah botol pikirnya saat itu.   Bergegas ia memutar tutup botol dan mendapati hidungnya bertemu dengan wewangian yang benar-benar tidak alami. Ia menahan nafas. Membuka mulut dengan enggan. Berpikir tentang penghianatan seseorang selama beberapa detik. Lalu…
“Hoeeek…!” cairan itu sukses keluar, sesukses  masuknya ke dalam kerongkongan. Rasanya jelas berbeda dengan minuman soda  atau susu panas. Tapi cairan itu benar-benar membakar daging tenggorokannya.  Beruntung ada air dalam vas bunga di meja kecil yang tengah ia sandari. Meski rasanya juga tidak sebaik air mineral biasa, paling tidak, tidak seburuk anti serangga itu. Nafasnya naik turun tidak teratur.  Perlahan ia kembali duduk, bersandar pada ketidakempukkan sofa favoritnya, sofa biru.
“Tidak ada harapan untukku pergi,” bisiknya, entah pada siapa. Wanita itu kembali tenang dan menatap. Terlihat sedang berkonsentrasi memikirkan sesuatu. Dengung lalu lintas di depan rumahnya terdengar nyaring. Tidak seperti biasa, ada beberapa truk polisi yang mengangkut narapidana lewat di jalan itu. Memperdengarkan bunyi gaduh dari sekedar bunyi angkot atau taksi bandara. Ia terlonjak. Masuk ke dalam kamar dan bergegas berganti pakaian.
“Aku ingin terlihat cantik,” bisiknya lagi. Ada nada bahagia di situ. Ia mengambil gaun tipis selutut berwarna putih. Rambut yang biasa terikat, ia geraikan. Matanya berkaca-kaca. Jari-jarinya menggenggam telepon genggam. Ia meloncat keluar rumah, menekan tanda untuk  menelepon ke nomor seseorang kemudian berdiri tegak di pinggir jalan raya.
“Halo,” telepon itu diangkat diseberang sana. Sayangnya, bukan suara laki-laki yang wanita itu harapkan  berbicara, tapi suara gadis asing yang terdengar manja. Ironisnya, wanita itu tidak tahu. Ia hanya menggenggam telepon itu, tidak menempelkannya ke telinga. Lalu, ketika di ujung jalan terlihat sebuah mobil sedan keluaran terbaru dan terlihat mahal  melaju dengan kencang, ia merentangkan tangannya dan berdiri di tengah jalan.  Kejadian itu berdurasi kurang dari lima detik. Beberapa orang yang kebetulan berada di pinggir jalan berteriak memintanya untuk bergerak. Suara gesekan ban mobil dengan aspal melengking dan menusuk ke setiap pasang telinga yang ada di tempat itu. Sebuah telepon genggam terlempar dan menabrak kaca mobil. Meninggalkan nada putus dan kebingungan di seberang sana. Membuat retakan kecil tepat di depan tempat duduk sopir yang juga spontan berteriak. Seorang wanita muda histeris di sampingnya.
“Braaaak!” sesuatu tergilas ban mobil. Semua orang menahan nafas. Ketegangan yang muncul dipecahkan oleh suara pintu mobil dibanting berikut dengan kuliah singkat suara laki-laki tua. Seorang kakek-kakek berdiri dan memaki di hadapan wanita berbaju putih yang terduduk di aspal dengan hidung yang hampir mencium  mobil. Gadis muda lain masih berada dalam mobil, menutup mulutnya dengan tangan kiri. Tangan kanannya mengetikkan pesan singkat kepada seorang sahabat.
Jel, co ku hampir nabrak ce yg mw bunuh diri!
Seseorang menerima sms itu dengan tampang bingung. Baru saja aku menerima telepon yang aneh, sekarang temanku yang dapat kejadian aneh batinnya. Tiba-tiba  ada yang datang memeluknya dari belakang, membawakan seikat bunga sambil berbisik,
“Sayang, balikin kartu teleponku yah. Kalau dosenku telepon, gimana?”
#  #  #
            Seorang wanita berlari dan menghentikan sebuah ojek. Dengan bingung tukang ojek menyerahkan helm standar dan bertanya tujuan kepada si wanita. Diiringi isak tangis tertahan dan tubuh yang gemetaran, si wanita menjawab sambil menaiki motor itu,
“Jembatan, Paman.”
Sepanjang perjalanan menuju jembatan, wanita itu mereka ulang kejadian yang baru ia alami. Ia belum mati, itu sudah jelas. Ketika membuka mata, kakek pemilik mobil menceramahinya. Telepon genggamnya hancur, setelah menabrak kaca depan mobil, terbanting ke aspal, lalu terlindas ban mobil yang sama. Semua orang yang ada disitu menghampirinya. Membuat lingkaran kecil. Sebagian bertanya, sebagian menuduh. Dengan kesadaran di bawah rata-rata, ia tidak bisa mengingat kejadian setelah itu. Tiba-tiba saja tangannya melambai dan sekarang berada dalam sebuah perjalanan tidak terrencana.
Ketika ban motor menyentuh tepian jembatan Barito, tukang ojek mengeluh sambil berteriak. Kalimat ‘aku tak punya uang’ yang keluar dari bibir si gadis memicu emosi dari alam bawah sadar si tukang ojek. Setelah memuaskan hatinya hingga mulutnya letih dengan umpatan, ia pergi. Tahu tidak akan mendapat apa-apa, ia biarkan wanita itu sendirian. Berjalan dengan telanjang kaki. Sepasang sendalnya menjadi cindera mata yang sepadan bagi si tukang ojek.
#  #  #
            Jembatan ini punya banyak kenangan. Mungkin itu kemungkinan terbesar mengapa seorang wanita yang bingung menjadikannya sebagai tempat tujuan.
“Sekarang, dia pasti mengira aku sudah mati,” air mata kembali menyapa sungai di bawah jembatan. Entah masih utuh atau hanya berupa embunnya saja.  Keinginannya untuk terjun bebas dan merasakan terbang untuk sepersekian detik sudah lenyap beberapa menit yang lalu. Padahal, ia tahu bahwa jika ia melakukannya, ia tak akan gagal lagi. Karena saat it terjun, tidak  akan ada jalan kembali. Ketakutan, rasa yang tidak enak, atau manuver tepat yang dilakukan oleh seorang kakek-kakek tidak akan mungkin bisa menghalangi niatnya.  Bahkan meski jantungnya masih berdetak ketika ujung helai rambutnya menyentuh permukaan air. Ia pasti akan mati. Ia tidak bisa berenang.
Rasa tersia-sia muncul seiring tenggelamnnya matahari, seiring menghilangnya orang-orang. Hanya tersisa wanita itu dan beberapa pasang anak remaja. Menatap senja yang tidak terlalu indah. Angin rupanya buru-buru menarik awan hujan. Terlalu cemburu untuk membiarkan para pasangan berkencan malam ini.  Dari jauh, suara adzan Magrib terdengar sumbang. Seorang anak kecil berteriak memanggil orang-orang untuk bertemu Tuhan.
“…menemui Tuhan,” suaranya serak. Ia berdiri. Memandang satu pasangan yang tersisa dengan iri. Ia menaiki pagar jembatan dengan percaya diri. Pasangan tersebut kaget dan berteriak. Mereka yakin wanita itu sudah hampir melompat. Si pria berlari sambil berharap masih sempat menghalangi wanita itu untuk bunuh diri. Dan peristiwa itu terjadi begitu cepat.
#  #  #
            Sebuah gang geger. Orang-orang yang tinggal di sepanjang gang mengepung sebuah rumah kontrakan. Ada satu mobil polisi di sana. Membentangkan pita kuning di sekeliling rumah. Seorang wartawan surat kabar mencoba bertanya kepada beberapa orang warga dan kepala penyelidik. Menggeleng-gelengkan kepala sambil menuliskan beberapa kata pada buku  hitam kecilnya. Ia memotret sepasang anak manusia tanpa busana yang terbaring di lantai. Tanpa nyawa. Polisi memperkirakan mereka baru saja  dibunuh tadi malam. Saat hujan lebat menyapu bersih kota dan membiarkan semua orang tak ingin berpisah dari ranjang. Teman korban yang pertama kali menemukan kedua mayat itu masih menangis tidak percaya. Ia bersumpah baru kemarin ia menghubungi sahabatnya. Ia yakin mereka di bunuh dengan rencana karena sebelumnya ia masih sempat mendengar cerita kalau sahabatnya itu menerima telepon mengerikan. Suara jeritan seorang wanita. Kala wanita  itu bercerita, seorang wanita lain bergaun putih tipis selutut tanpa sendal, berjalan menjauh dari gerombolan orang-orang.

Cerpen ini telah terbit di Media Kalimantan.
Oleh Noor Saadah
Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar
Sebelum duniaku benar-benar gelap, udaraku benar-benar pengap, dan segalanya menjadi tak bergerak, aku ingin mengingat satu hal, satu hal yang mungkin tak berarti bagi siapapun, satu hal yang tak kan pernah diingat, satu hal yang akan kembali berulang, satu hal yang bagiku adalah satu-satunya ingatan terindah tentang seseorang. 
“Ibu...Ibu...Ibu...tak ada ayah” 

 * * * 

Semenjak usiaku menginjak dua minggu, aku baru mengerti akan arti dari dunia, hidup dan kehidupan. Orang-orang di sekelilingku memujiku dengan berkata bahwa aku cantik, aku imut, aku manis dan aku bahagia mendengarnya. Perjalanan hidupku tak panjang, hanya setengah semester. Namun suka citaku dalam mengerti arti hidup melebihi wanita jalang yang seloyoran tak karuan di jalan. 

Ibu adalah orang yang kucintai sebelum aku mengerti arti dunia, hidup, dan kehidupan. Ia membelaiku sayang di tiap-tiap malam penuh bintang, berlonjak-lonjak bersamaku sampai beberapa kali aku harus membenahi posisiku yang telanjang. Ia memberiku makan yang enak-enak, berbagai macam buah, berjenis-jenis sirup yang membuatku sedikit melayang hingga berbagai bentuk permen yang tak kumengerti apa rasanya. Tapi aku bahagia. 

Ibuku begitu cantik. Kulitnya bersih, matanya bulat, rambutnya panjang bersambung dengan helaian-helaian sintetis tergerai indah hingga punggung. Ia mengenakan gaun yang berwarna putih abu-abu di setiap paginya sambil terus memandangi aku di depan kaca. Meski muka ibu putih sepucat awan ia tetaplah wanita menawan. 

Bersama ibu, kudapatkan banyak arti, banyak hati, banyak caci maki. Namun senyum ibu selalu mengingatkanku bahwa ia menyayangiku dan tak ada satu pun yang perlu kukhawatirkan, karena aku memiliki ibu. “Kasih Ibu sepanjang jalan” begitulah yang kudengar dari seorang pemuda tampan yang mengaku sebagai guru yang kukenal sebagai ayahku. 

Ayah? 
Siapa dan bagaimana ia tak penting bagiku, karena yang penting adalah ibu. Selain kata-katanya yang kurasa memang benar, aku tak lagi mau tau apapun tentang ayah. Ibu pun tak pernah bercerita, hanya sorot matanya ketika aku bertanya, membuat aku mengerti bahwa aku tak perlu tahu apa yang dimaksud dengan kata “ayah”. Cukup Ibu. Hanya Ibu. 

Tetapi beberapa hari ini aku sedikit tak menyukai ibu. Bukan karena ia terus saja menangis dan merobek baju-baju dan menampar-nampar mukanya dan menendang-nendang pintu dan membanting-banting telponnya dan menginjak-injak buku dan menyayat-nyayat dagingnya dan....

Bukan ! Bukan itu! Aku sedikit tak menyukai ibu karena ia terus saja memukuliku. Sejak pagi hingga petang terus-terusan mengunciku dan dirinya di dalam kamar mandi. Membasahiku dan dirinya dengan air sedingin es. Aku hampir mati, hampir kehilangan nyawa. 
“Ibu kenapa?! Ibu kenapa?!” teriakku meronta-ronta menendang-nendang perut ibu. Aku sudah tak tahan dengan cairan menjijikkan berbau amis mengalir melewati tenggorokanku, melewati selangkangan ibu. 

“Sakit Bu, sakit!” isakku memohon pengampunan ibu, tapi ibu tak mau mendengar, tak mau mengerti. Aku menangis sejadi-jadinya, namun kali ini bukan karena badanku yang tak lagi berbentuk melainkan karena ibu yang juga menangis kesakitan. Deritanya menahan sakit menjalar sampai ke jantungku yang berdegup kian pelan. Meski aku masih tak mengerti mengapa ia marah kepadaku, aku membelainya sayang. Tak lagi kutendang perutnya, tak jua kupukul dadanya. Aku ingin menghiburnya, menyampaikan rasa sayangku untuknya, membuatnya terlelap dan tak lagi berupaya melukai dirinya sendiri. 

Dengan alasan apapun, aku tak mau terima, bagaimanapun juga aku tak mau melihat ibuku menderita. Kunyanyikan ibu dengan lagu tentang cinta, lagu kasih sayang yang pernah ku dengar sebelum aku bertemu dia, lagu surga, lagu untuk ibu. 

Beberapa saat kemudian dendangan ku terhenti, karena ada suara gedoran-gedoran ribut di pintu kamar mandi. Tampak seorang wanita tua masuk setelah memecah pintu dengan sebuah benda besar, lancip dan berkilau. Ia terbelalak sesaat melihat pemandangan nista aku dan ibuku. Ia berteriak histeris sambil mengguncang-guncang bahu ibu. 
“Ummi !! Ummi bangun!!! Bertahanlah Ummi...! Bertahanlah nak....” 

* * * 

Ibu pingsan dan mungkin aku juga pingsan. Karena hal yang kuingat setelah seorang wanita tua masuk dan memanggil ibu dengan nama Ummi, yang kurasa hanya gelap, kemudian berganti dengan terang. Sekelilingku terasa berwarna putih. Surga kah ini? 

Tidak, ini rumah sakit. Aku terbaring bersama ibu, lelah dan serasa kehilangan banyak nafas. Ibu terlelap, namun wajahnya tampak lebih segar dibanding tadi, sedang wanita tua yang memeluk ibu kemarin sedang berbicara sambil sesekali terdengar isak tangisnya dengan seseorang berpakaian putih. Mungkin malaikat. 

“Saya mohon, Dok. Lakukan saja, ini aib Dok, aib....” sesekali wanita tua itu menyeka matanya, orang yang dipanggil Dok itu masih diam, sesaat aku berpikir, mungkinkah nama orang itu Kodok? 

“Saya mau bayar berapa saja, asal aib itu hilang secepatnya, Ummi menderita Dok, keluarga kami menderita, saya mohon Dok....” wanita itu mengangkat sehelai kertas, si Dok itu menatap tajam kertas, kemudian ia mengangguk cepat sambil menyambar kertas itu. Barulah kusadar bahwa namanya mungkin benar-benar Kodok, karena barusan ia sekilas mirip makhluk yang melompat itu saat ia merasakan kehadiran nyamuk disekitarnya. 

Ibu masih belum bangun, namun aku sudah merasa sehat kembali. Apalagi luka yang kuderita akibat perlakuan ibu kemarin sudah tak berbekas lagi. Ibu, cepatlah bangun, aku ingin melihatmu kembali tersenyum sambil membelai kepalaku lagi. Aku ingin melihatmu bernyanyi, berlari, bahkan berlonjak-lonjak, meski itu agak sedikit tak mengenakkan untukku, tapi asal ibu kembali seperti dulu apapun akan kulakukan. Demi ibu. 

Sambil menunggu ibu bangun, aku melamun mengingat masa-masaku bersama ibu dan alasan-alasan mengapa ibu begitu sering memukuliku akhir-akhir ini. Hidupku bahagia lalu berubah menjadi aneh ketika suatu hari ibu menemukan dua garis merah di sebuah benda tipis persegi panjang di tangannya. 

Ia mendekap mulutnya kemudian menangis, duduk bersimpuh di depan kaca rias. Saat itu aku masih terlalu muda untuk mengerti tangis ibu, meski aku masih belum tau apa maksud tangisnya, tapi kurasa mungkin ibu bahagia mengetahui keberadaanku. Ia mengambil benda kecil berbentuk kotak hitam lalu meletakkan di telingannya. “Bi...Abi...a...aku hamil” Tangisnya kemudian pecah, ia membanting Hp-nya ke dinding. Saat itu gerimis sudah menjadi hujan lebat. Keremangan malam sudah mulai merambah ke dalam kamar ibu, dan semuanya menjadi benar-benar jelas. 

Mungkinkah, mungkinkah ia membenciku? Seketika senyum di wajahku lenyap. Aku tidak ingin semua menjadi terang jika akhirnya akan menggelapkan hatiku, harapanku. Belum lama aku tersadar oleh hal yang kurasa seperti biji neraka jatuh di atas kepalaku, si Kodok tiba-tiba masuk bersama dayang-dayangnya. Membawa berbagai macam benda-benda aneh yang mengerikan. Tubuh ibu yang halus ditelanjangi, seluruh pakaiannya di lepas, diganti dengan selapis kain berwarna hijau. 

Semuanya terjadi begitu cepat. Si Kodok memasukan sesuatu dan menyetuh kepalaku keras. Sakit! Sungguh sakit. Tiba-tiba aku merasa seperti tercabik-cabik, terbelah-belah menjadi jutaan bagian, aku menangis pedih. Tubuhku sakit, jiwaku sakit, hatiku sakit. Teganya, teganya mereka melakukan semua ini padaku, apa salahku? Aku ingin hidup, aku hanya ingin terus memeluk ibu, aku ingini ibu yang sayang dan melindungiku. 

“Ibu, bangun Bu, mereka ingin membunuhku, mereka ingin memisahkan kita, ibu aku mencintaimu, aku ingin bersamamu, ku mohon ibu, bangun, hanya aku yang menyayangimu, bukan wanita tua itu, bukan pula seseorang yang kau panggil Abi yang tak pernah menghiraukanmu, bahkan tidak pula si Kodok ini, mereka membenciku Ibu, membenci kita berdua, bangun Bu...” aku berusaha membisikan cintaku ke telinga ibu, namun ibu tak juga membuka matanya. 

Dayaku semakin lemah, aku tak lagi bisa berontak. Tiap detik yang kurasakan hanya sakit. Semuanya terasa kabur. Bayang-bayang. Napasku sesak, pandanganku gelap, terasa pengap, aku tak bisa bergerak, dan sebelum semuanya benar-benar lenyap, kulihat terakhir kalinya senyum kemenangan si Kodok berubah menjadi raut tak sedap. 

“Ibu dan anak tidak bisa selamat” Dan kuakhiri hidupku dengan senyuman, Ibu ternyata menyertaiku, ia menyayangiku, kemudian semuanya terlihat tak ada. 

Usia cerpen ini sudah hampir 5 tahun, dan tersimpan rapi di laptop dan sebuah buku Antologi Sastra : Gelas Ibu Kelabu di Ujung Biru. Menjadi salah satu pengingat bagi saya untuk terus menulis, dimanapun saya berada. Menjadi kenangan manis, karena cerpen ini menjadi bagian dari buku pertama saya dan kawan-kawan seperjuangan. Fiksi memang hanya akan menjadi fiksi. Namun fiksi seringnya ada karena fakta yang tidak pernah aus dan terus bertelur di dunia ini. Teruslah menulis dan salam sastra.

Oleh Noor Saadah
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Oleh Noor Saadah

Aku menatap layar handphone-ku cukup lama, mungkin beberapa menit telah lewat. Hatiku terasa cukup hampa. Namun ini keputusanku karena aku ingin bahagia. Layar handphone-ku masih bererjap-kerjap, pertanda sudah beberapa kali sms masuk dan belum kubaca. Aku bukannya tidak ingin membalas pesan tersebut, hanya saja aku sudah tahu apa isinya. Akhirnya, setelah menghela napas panjang, dengan rasa lelah yang teramat sangat, aku membuka pesan singkat itu satu demi satu. Meski sebenarnya bisa dibilang ini bukanlah pesan singkat, terlihat dari karakternya yang sudah kelebihan batas minimal aturan sms, dan dikirim sebanyak tiga kali.

Dengan cepat kubaca sms itu, aku sudah cukup terbiasa dengan gaya sms-nya, jadi tak perlu kumasukkan kehati apa saja kata-katanya. Cukup intinya saja. Bahwa dia meminta ketegasanku. Aku sedikit geli dengan pertanyaannya, sudah jelas sekali sikapku padanya, masa sih dia tidak mengerti juga. Apa harus diucapkan dengan kata-kata? Sudah besar juga. Sudah sarjana juga. Masa tidak mengerti, bahwa menghilangnya aku selama beberapa hari, bahwa kealpaanku menelpon atau meng-smsnya, bahwa tidak adanya hidungku muncul dihadapannya, adalah karena aku sudah tidak ingin lagi bersamanya. Anak kecil pun akan segera paham dengan tanda-tanda yang kuberikan, dia yang katanya pintar itu, tidak?

From: 0852 48xx xxxx
Jangan perlakukan aku seperti ank SMA. Dgn menghilang n sama sekali td mmberi kbr. Beri aku kejelasan. Paling tdk begitu caramu menghargai aku yg sdh hampir 5 thn setia mendmpingi kmu.

Ah, sudah lima tahun, ya? Aku bahkan tidak menghitungnya lagi semenjak aku merasa tak lagi cocok dengannya. Padahal sudah sejak lama aku tak lagi ada rasa, namun rasa manusiawiku menghalangiku untuk segera meninggalkannya. Terkadang aku kasian. Terkadang aku sayang. Dan terkadang aku membutuhkannya, untuk mengerjakan tugas-tugasku, untuk mengantarkan paketku, untuk menemaniku jalan saat aku lagi nggak ada kegiatan. 

Tapi sejujur-jujurnya dan sesungguh-sungguhnya, aku sudah teramat bosan dengan rutinitas kami berdua. Terlebih setelah dia mulai sibuk dengan pekerjaannya. Dia tidak bisa begini, dia tidak bisa kesini. Jadi sulit untuk bertemu. Dan aku pun menemukan duniaku, dengan teman-teman baru yang memiliki langkah yang sama, yang seirama. Tempat dimana aku bisa menyatukan eksistensiku yang selama ini terserak, berarak. 

Pernah suatu kali saat aku tengah nongkrong dengan sahabat-sahabatku saat malam tahun baru, aku harus mematikan bunyi ringtone handphone-ku, karena terus berdering. Dia bak polwan, selalu ingin tahu aku ada dimana, aku dengan siapa, aku sedang apa. Loh apa urusannya, toh dia bukan istriku, bukan siapa-siapaku, cuma ‘pacar’ kala itu. Apalagi, kebetulan saat itu Dani temanku sedang mengenalkkanku kepada adik dari sepupunya temannya, Nia. Mahasiswi baru berambut halus seperti iklan shampo. Untungnya mereka percaya-percaya saja kalau aku tengah sendiri dari status yang kugadang-gadang di jejaring sosial pribadiku. Memang ada nilai positifnya aku jarang jalan dengannya, dengan begitu orang mengira aku sedang tak punya pacar. 

Nia pun langsung menyambut senyum tulusku. Gadis mana sih yang tak mau denganku? Tampan, gagah, keren, pintar, punya motor gede pula. Dari anak SMA sampai dosen pun kalap mata, kalap hati kalau melihatku berjalan sendiri. Bahkan kata temanku, ini serius kata temanku lho, aku ini mirip artis pendatang baru. Tampang baik-baik, cocok jadi pemeran protagonis. Sekali tersenyum, dapat saja pin BB dua tiga gadis. Cara berpikir wanita zaman sekarang memang praktis. Sepertinya aku harus berterimakasih pada sinetron-sinetron dan drama-drama Korea yang telah mereka tonton. Semacam membentuk kepribadian yang homogen pada setiap gadis belia dan wanita di usia mereka yang masih ayu-ayunya. Mempermudahku untuk menjadi pangeran impian mereka. 

Sayangnya si Nia tak bertahan lama. Suka merengek dan merajuk. Ah, membuatku kesal saja. Menghilangkan debaran-debaran, rasa rindu, dan lagu romantis dalam kepalaku. Tak tahu apa kalau aku banyak yang diurus. Ngurusin Ika, Rini, Putri, Ayu, plus si dia. Tapi lagi-lagi untungnya, aku tidak pernah ‘jadian’ dengan mereka. Hanya teman dekat, teman buat diajak nongkrong, teman diajak makan, teman diajak nonton, teman diajak curhat. Jadi tak salah dong kalau kubilang aku ini masih sendiri, yah selain dia. Tapi dia pun sebenarnya bukan pacarku kan? Kisah romantis kami itu sudah berakhir dari lama dan hanya tersisa rasa perlu saja. Dia kadang perlu aku. Aku kadang perlu dia. Nah, berarti kami ini bukan pacaran, hanya keperluan semata. 

Makanya setelah menelan banyak referensi, dari novel, film, curhatan di twitter, hingga saran dari si anonim, aku memutuskan cara terbaikku untuk lepas dari hubungan keperluan ini adalah dengan menghilang sedikit demi sedikit dari hidupnya, menghilangkannya sedikit demi sedikit dari hidupku. Itu akan membuatnya terbiasa, membuatku juga terbiasa. Membuatnya tak merasa begitu sakit sehingga dia tak perlu mengeluarkan aura psikopat seperti yang ada di film-film pembunuhan di bioskop. Membuatku tidak begitu merasa bersalah untuk mengatakan dengan jelas kalau aku tidak lagi tertarik padanya. Yah, sudah cukuplah waktu yang selama ini kuberikan padanya, meskipun memang tak semuanya untuknya, Sudah cukuplah aku bertahan dan mengorbankan perasaanku untuk tetap bersamanya, padahal jelas aku menginginkan yang lain. Aku sudah cukup lelah dan sakit. Makanya, disinilah saatnya untuk berhenti dan mengambil jalan dan menuju ke arah yang lain. So sorry… 

To: 0852 48xx xxxx
Maaf, mungkin ini memang jalannya utk kita berjalan sendiri2. Kita sudah mencoba bertahan tapi tidak bisa. Mungkin memang sebaiknya kita jalan masing2. Insyallah, kalau memang jodoh tidak kemana.

Lima menit dua puluh tiga detik kemudian…

From: 0852 48xx xxxx 
Terima kasih sudah bersamaku selama hampir 5 thn ini. Aku berdoa semoga kmu bahagia. Dan semoga kamu mendapatkan yg kamu inginkan. Amin.

 Aku melongo beberapa saat membaca balasan sms-nya. Tumben dia menerimanya dengan ikhlas. Ada apa ya? Apa jangan-jangan dia sudah punya lelaki baru? Apa jangan-jangan telah habis cintanya padaku? Atau ini hanyalah akting semata sebelum dia kembali membombardirku dengan sms dan lusinan telepon? 

To: 0852 48xx xxx 
:(

### 

Ada setumpuk kerjaan di rak tiga papan di sudut kamarku. Melihatnya saja sudah membuat mataku kesemutan, apalagi kalau harus menyentuhnya. Tapi harus selesai minggu ini, harus dibuat laporannya. Kalau minta tolong teman, pastinya minta traktir. Kalau minta tolong gebetan baru, tak enak lah. Dia pun sedang banyak tugas. Maklum mahasiswi baru jurusan bahasa inggris. Tiap hari kerjaannya komat-kamit nyanyi lagu bahasa Inggris. Katanya biar cepat hapal, soalnya mau jalan-jalan ke Singapore buat study tour bulan depan. Orang kaya. 

Aku menghela nafas panjang. Sambil memutar-mutar handphone-ku yang tidak berbunyi dari magrib tadi. Kicauan si gebetan sudah dikicau ulang. Sms adik angkatan sudah di balas sejak tadi siang. Apa lagi yang harus aku lakukan? Sudah jam sebelas malam. Main game, malas. Main futsal, libur. Karena ada istri teman yang sedang melahirkan. Nonton film, nggak ada yang baru. Bosan. 

Tanganku otomatis memencet-mencet layar touchscreen, yang sebenarnya memang bergerak berdasarkan perintah otak kanan. Secara sadar sejujurnya, aku membuka-buka akun si dia. Apa kabar ya dia sekarang? Biasanya, mantan-mantanku tak pernah tahan untuk tidak lagi kembali meng-smsku dalam waktu seminggu, terhitung dari tanggal putus. Paling tidak untuk bilang “met pagi” atau “apa kabar”. Jangankan yang baru satu minggu putus, mantan-mantanku yang lama masih kerap kali meng-smsku. Kadang bilang “jangan lupa makan”, kadang bilang “jangan lupa sholat”. Ah, padahal mereka pastinya pengen bilang “jangan lupain aku”. Yang satu ini nihil, masih dendam mungkin. 

Status dia masih single. Tulisan di akunnya tidak terlalu banyak. Malah kebanyakan iklan. Membosankan. Dia lebih sering upload foto. Foto dengan si ini, foto di tempat baru, pamer gigi. Mungkin pamer kebahagiaan. Jari-jariku lagi-lagi bergerak tanpa sadar, yang sebenarnya memang diperintah oleh si otak kanan lewat izinku. Kemudian aku menunggu, dan menunggu. Tidak terjadi apa-apa

To: 0852 48xx xxxx
Nite.

No new message.

The End

Cerpen ini telah terbit di Media Kalimantan
Oleh Noor Saadah
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Oleh : Noor Sa’adah
Terinspirasi oleh
Cerpen-cerpen Djenar
Dan
Pengalaman pribadi.


Namaku Nazmi. Anak nakal zaman ini, disingkat ‘NaZmI’. Aku bukan laki-laki, namun aku juga bukan perempuan. Bukan perempuan baik-baik tapinya. Jalan hidupku biasa, namun kubuat luar biasa. Bosan soalnya. Aku tidak cantik, tapi aku punya daya tarik. Rahasia tentunya. Namun ku jamin, lelaki manapun akan tergoda, bahkan yang punya bini pun juga. Tapi sungguh, ini bukan karena aku bukan perempuan. Bukan perempuan baik-baik sebenarnya.

Jujur ya, aku punya aura, namun aku tak punya kekasih. Mungkin karena itulah hidupku jadi menyenangkan. Karena aku bisa menggoda siapa saja, bahkan yang punya bini pun juga. Baru punya pacar apalagi. Mudah untukku merayunya. Tapi sungguh, ini bukan karena aku bukan perempuan. Memang bukan perempuan baik-baik kenyataannya.

Aku bukan peselingkuh. Aku tak suka difitnah seperti itu. Sampai liang kubur pun aku tidak rela dicap tidak setia. Aku kan bukan tukang selingkuh! Aku bisa jamin itu. Aku hanya suka jadi selingkuhan. Jelas bedakan?

Pernah suatu ketika, aku menggoda seorang pria. Dia tak tampan, tapi cukup rupawan. Menggoda pria mapan namun masih sendiri itu mah gampang. Tapi menggoda pria beristri, itu baru namanya tantangan. Namanya Iwan. Laki-laki yang baru naik daun dan punya banyak kebimbangan. Tapi bukan dia yang menarik minatku untuk meluncurkan jurus-jurus simpanan warisan keturunan. Istrinya yang galak bak macan siap perang itu yang bikin cerita ini jadi menyenangkan. Ambisinya yang melindungi suaminya yang tidak setia itu, benar-benar mengherankanku. Sebegitu besarkah cintanya pada suaminya? Atau sebegitu bodohnya dia mau-mau saja punya suami seperti itu? Kalau aku sih, paling bertahan dua tiga bulan, habis itu sudah siaplah untuk dibuang. Kasian juga, tapi mau bagaimana lagi? Aku kan bukan perempuan. Bukan perempuan baik-baik kan?

Cukup dengan perhatian penuh senyuman, ditambah lakon pengertian yang dilebih-lebihkan, si Iwan sudah klepek-klepek mabuk kepayang. Sudah mulai tak sayang dengan istrinya yang garang. Awal-awalnya Cuma smsan. Curhat-curhat ringan. Terus telpon-telponan. Akhirnya janjian ketemuan. Foto bininya pun tak lagi dipajang di dompet. Wah, ini lampu hijau. Kalau lelaki sudah mulai berkeluh kesah, itu artinya dia mulai goyah. Mudah dipatah-patah. Akhirnya, sungguh mudah memutar balikkan otaknya. Yang salah jadi benar, yang benar jadi salah. Lalu, aku cukup menjadi malaikat bersayap perak yang menanti kedatangannya dengan tangan terbuka dan sajian lezat penghilang dahaga. Kutunjukkan saja kebaikan-kebaikan berlipat ganda agar dia merasa aku lebih baik dari istrinya. Kuberikan saja apa yang tidak dipunyai bininya agar dia merasa Cuma aku yang memahaminya. Kusampaikan perhatian dan kasih penuh palsuku padanya hingga Cuma aku yang dia rasa bisa menghargainya. Gampang saja memberikan janji-janji fatamorgana di awal-awal hubungan. Toh masih lama lagi juga dia baru akan sadar kalau aku bukan perempuan. Bukan perempuan baik-baik tentunya.

Si Iwan sudah bimbang. Namun yang namanya lelaki, takut salah jalan mikirnya jadi kelamaan. Sang istri garang sudah mulai curiga tak tenang. Lalu, pada suatu malam munculah ancaman lewat ratusan karakter di layar telepon genggam. Aku kalang kabut karena tak ada persiapan. Akhirnya aku pura-pura lemah, dan ceritanya jadi perempuan baik-baik. Padahal aku kan bukan perempuan. Bukan,…yah apalah itu.

Diam-diam kususun rencana. Kupancing-pancing si istri supaya dia jadi lebih marah, lebih heboh penuh amarah. Kubeberkan curhatan-curhatan suaminya. Biar dia ngerasa kalah. Kataku, “ Bilang sama suamimu, fotomu di pajang donk di dompet. Kemarin kulihat nggak ada tuh.”

Seharusnya dia berterimakasih, aku sudah memberitahu apa yang dia tidak tahu. Sebagai perempuan, ehm, baik baik aku hanya menyampaikan apa yang disembunyikan suaminya. Kan tujuannya jelas. “Bercerai dengan suamimu biar bisa jadi milikku untuk sementara waktu.” Tapi aku toh berbaik hati untuk tetap menyimpan kalimat itu di dalam hatiku saja untuk kunikmati bersama seringaian-seringaian kemenanganku nanti. Aku baik kan?

Setelah puas dengan koleksi sms penuh sumpah serapah si istri itu, paham adu dombaku pun keluar dengan wajar. Ku kirimkan sms-sms itu ke suaminya, biar hancur hubungan itu. Status itu. Luluh saja, tak perlu lantak, karena aku yang akan melanjutkannya, untuk sementara waktu. Si Iwan tentunya marah. Si Iwan dan si istri itu tentunya akan pisah. Ceritaku akan happy ending yang kukhususkan untukku. Persetan dengan mereka, aku tak kenal istrinya, dan suaminya, paling kupacari beberapa bulan. Habis itu terserahlah, aku kan bisa cari yang lain lagi. Cari-cari pengalaman dengan yang lain lagi. Tidak masalah bagiku yang bukan perempuan. Bukan perempuan baik.

Aku bersenandung riang menanti detik berganti jam. Gugup seperti akan menerima penghargaan atas drama antagonisku yang sungguh spektakuler. Bukan film horor, tapi benar-benar menegangkan. Tentu saja bukan film romantis, tapi benar-benar melankolis. Tapi, sori ya, jangan harap aku mau menangis. Dalam hal ini aku hanya kenal dengan kata tertawa saja. Kan bukan perempuan. Bukan perempuan sebaik-baik perempuan.

Ngomong- ngomong soal penghargaan, tentu saja si Iwan jadi pialanya. Kan yang menang yang dapat Iwan. Dan sudah jelas dong siapa yang akan naik panggung, mengambil hadiah, kemudian berkoar-koar tentang terima kasih pada si anu, terima kasih pada si itu, dan terima kasih pada diri sendiri. Orang itu tentu saja aku. Aku! Aku si Nazmi, si anak nakal zaman ini, yang berhak untuk menang atas perjuanganku menarik ulur suami orang. Aku kan memang layak, karena aku sudah keluar banyak siasat. Kita terbuka saja, tidak mudah mendapatkan hati yang sudah di rantai dan di ikat di atas tiang bendera. Mereka berkibar-kibar dan erat terlilit di ujung sana sedang aku harus menanti di ujung yang lain. Jelas ini perlu strategi yang matang, meski terkadang berjalan secara spontan. Mungkin efek genetik, keturunan dari nenek moyang. Dan tentu saja perlu kesabaran ekstra banyak, karena tekadang aku juga capek sendiri terus-terusan bersandiwara dengan mengusung-usung topeng di wajahku yang muda. Kadang harus berlari. Kadang harus tau waktunnya mengerem. Pokoknya susah lah menjadi seperti aku yang bukan perempuan. Perempuan yang ….

Oke, sekarang aku sudah cukup bosan menunggu. Sementara orang-orang di sekitarku berteriak, “Ingat karma! Ingat karma!”, aku sih senyum-senyum saja. Mau apa lagi? Paling anak cucuku nanti juga bakal mengikuti jejak ke-bukan perempuan-an ku. Atau paling-paling suami-suaminya direbut oleh orang-orang seperti aku. Ah, itu masalah gampang. Masalah nanti setelah aku mati. Menurutku sih, semakin banyak orang seperti aku hidup, maka semakin tidak membosankannya dunia. Makanya, sembari menunggu award yang akan kudapat, aku gencar mengkampanyekan paham bukan perempuan ini ke orang tuaku, ke adik kakakku, ke kawan-kawanku, dan orang-orang yang ada di sisi kanan dan kiriku. Cuek saja, dengan begini, makin banyak yang mendukung pahamku, makin kecil kemungkinan aku dipersalahkan. Paling-paling sisi buruknya aku jadi banyak saingan, karena membludaknya jumlah penganut aliran ini yang mulai tidak terkontrol. Seperti kataku tadi cuek saja.

Akhirnya batas cuekku habis. Si Iwan tidak datang-datang lagi. Cuma sesekali sms, itupun demi kepentingan konfirmasi. Takut salah ngomong sama istri.

“Udah, cerai saja,” pintaku manis sekali ia datang lagi.

“Aku masih sayang,” jawabnya bimbang.

“Tapi dia tidak baik buat kamu, dia cuma mengekang kreatifitas kamu, kebebasan kamu. Beda denganku. Jika kamu bersama aku, kamu bebas, tidak perlu ada aturan-aturan seperti itu. Aku tidak seperti istrimu. Iya kan?” senyumku lagi, manis sekali.

“Aku tidak tau. Aku Cuma bisa menjalani saja,” katanya, lagi-lagi bimbang. Entah mengapa aku mulai tidak sabar. Bagaimana caranya istrinya bisa bertahan dengan laki-laki seperti ini. Tinggal pilih aku saja apa susahnya. Ribuan kali aku sudah mendengar kata lelah dari bibirnya ketika ia bercerita tentang sang istri. Tapi tetap saja dia susah sekali meninggalkan perempuan entah baik entah bukan itu.

Habis sudah pertahananku. Saat si istri itu kembali menghubungiku dan memintaku untuk menjauhi suaminya dan berharap aku bisa berpikir seandainya aku berada di posisinya, aku mengeram marah. Dia yang sudah mengganggu hubunganku dengan Iwan. Status istri saja bangga. Toh suaminya masih sempat main hati denganku. Lupalah aku akan sandiwaraku, lupalah aku dengan teks skenario yang sudah baik-baik kususun. Situasi tiba-tiba berbalik menghakimiku, menjadi tidak sesuai dengan apa yang kubayangkan. Posisiku jadi tidak menguntungkan. Dan tanpa kusadari, iwan berbalik menusukku dari belakang. Menjauhiku dan memilih perempuan itu. Apa? Aku tidak terima. Kenapa perempuan itu bisa menghalangi kemauanku, aku ini kan Nazmi, bukan perempuan! Yang sudah jelas-jelas bukan perempuan baik-baik!

Akhirnya aku jalan mundur saja. Bukannya mengalah, tapi memulai dari awal lagi. Laki-laki mana yang tak bisa ku goda, bahkan yang punya bini pun juga. Jadi selingkuhan Iwan lagi pun tak masalah. Nanti kan ada lagi waktunya menyusun rencana. Saat mereka tidur dan tak mengerti apa-apa. Aku akan kembali memainkan peranku dengan lebih sempurna. Menipu Iwan atau siapa saja, tak ada bedanya. Mereka sama-sama pria. Tapi sungguh, ini bukan karena aku bukan laki-laki, bukan pula karena aku bukan perempuan. Bukan perempuan baik-baik sebenarnya.

Cerpen Oleh Noor Saadah
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

AUTHOR

AUTHOR
TWILIGHT HUNTER, AN AUTHOR & AN ORDINARY ACOUSTIC PERFORMER WHO'S CRAVING FOR BEAUTY PICTURES

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • pinterest
  • google+
  • instagram
  • bloglovin

Labels

  • BOOK
  • CATATAN KULIAH
  • CHICKEN SOUP
  • CONTEST
  • FASHION
  • MOVIE
  • MUSIC
  • REVIEW
  • TES POTENSI AKADEMIK
  • TRAVEL STORY
  • VAMPIRE ACADEMY

Total Pageviews

Powered by Blogger.
Facebook Twitter Instagram Pinterest Bloglovin

Created with by BeautyTemplates