facebook twitter instagram pinterest google+

Love Your Life

  • Home
  • About
  • Literature
    • Poem
    • Short Story
    • Essay
    • Photoshop
  • Travel Story
    • Korea
    • Kalimantan
    • Bali
    • Java
    • Coffee Shop
  • Vampire Academy
    • Spirit Bound
    • Blood Promise
    • Shadow Kiss
"Pengalaman menerjemahkan memang sangat menyenangkan.
Terlebih lagi Moonlight benar-benar memaksaku untuk membuka kamus.
Banyak kata-kata yang masih asing di lidah dan ingatanku.
Dan sumpah, penerjemahan mungkin akan sedikit mengurangi nilai artistik dalam kata-katanya. Tapi aku sungguh menikmatinya.
Semoga suatu saat aku bisa jadi seorang penerjemah buku bestseller.
Amin."

Prolog

Cahaya bulan membasahi kami, membasahi Lucas dan aku.

Keheningan meresap ke dalam hutan. Pohon-pohon raksasa mengelilingi kami. Desir daun-daun mereka membisikkan peringatan dihangatnya hembusan lembut angin di malam musim panas. Tapi kami tak menghiraukan semua itu. Kami hanya peduli pada satu hal yang lain.

Dia lebih tinggi dariku dan aku harus menekuk kepalaku ke belakang untuk menatap mata peraknya.

Kedua mata itu menghipnotis, menyuruhku untuk menenangkan jantungku yang berdetak kencang tapi malahan membuatnya semakin cepat.
Atau semua itu dikarenakan bibirnya yang begitu dekat yang mengirim jantungku pada ritme yang kacau balau.


Dia mengambil langkah mendekat dan aku semakin mundur, tetapi sebuah pohon menghentikanku untuk pergi sejauh yang aku pikirkan.


Apa aku sudah siap untuk semua ini? Apa aku sudah siap untuk sebuah ciuman yang akan mengubah seluruh hidupku? Aku tahu jika dia menciumku aku tidak akan pernah menjadi sama lagi. Bahwa kami tidak akan pernah bisa menjadi sama. Bahwa hubungan kami akan berubah – 

Pikiranku tergagap oleh luasnya arti dari sebuah kata sederhana. Berubah. Ini berarti banyak untukku sekarang –
sekarang aku mengerti

Lucas tiba-tiba berdiri begitu dekat. Aku tidak melihat pergerakannya. Dia sudah berada disana. Dia dapat bergerak begitu cepat. Lututku melemah dan aku bersyukur aku sedang bersandar pada pohon yang kokoh.

Dia mengangkat tangannya dan menekankan lengan bawahnya pada kulit kayu di atas kepalaku seolah dia juga membutuhkan semacam penopang juga. Tingkahnya itu bahkan membuatnya semakin dekat. Aku merasakan sambutan rasa panas dari tubuhnya yang menyentuh tubuhku. Dalam situasi normal dia bisa saja menarikku untuk meringkuk manja padanya.

Dia sangat tampan di bawah sinar bulan. Indah, sungguh. Rambut lurus tebalnya – sebuah urutan warna-warna: putih, hitam, dan perak, dengan tambahan sedikit cokelat dalam ukuran yang pas – menggantung hingga bahunya. Ada dorongan kenekatan dalam diriku untuk menyentuhnya, untuk menyentuh dirinya.

Tapi aku tahu setiap gerakan yang aku lakukan akan menjadi tanda untuknya, sebuah tanda bahwa aku sudah siap. Dan aku belum siap.

Aku tidak menginginkan tawarannya. Tidak malam ini. Mungkin tidak selamanya.

Apa yang sebenarnya aku takutkan? Itu hanya sebuah ciuman. Aku sudah pernah berciuman dengan lelaki lain. Aku pernah mencium Lucas.

Jadi mengapa pikiran tentang ciuman Lukas malam ini membuatku takut? Jawabannya sederhana: Aku tahu kalau ciuman itu akan mengikat kami berdua selamanya.

Jari-jarinya dengan lembut menyisir rambut dari alisku. Dia pernah sekali berkata padaku kalau rambut yang menjuntai seperti ini mengingatkannya pada seekor rubah. Dia memikirkan semua yang berhubungan dengan hutan. Sangat cocok untuknya dan kehidupan menyendirinya.

Mengapa dia begitu sabar? Mengapa dia tidak mendorong saja? Bukankah dia merasakannya juga? Tidakkah dia mengerti betapa pentingnya peristiwa ini jika –

Dia menurunkan kepalanya. Aku tidak bergerak. Aku hampir tidak bisa bernafas. Mengesampingkan semua rasa keberatanku, aku menginginkannya. Aku mengharapkannya. Tapi aku masih berjuang untuk melawannya.

Bibirnya menyentuh bibirku. Hampir.

“Kayla,” ia bergumam mengundang, dan desah nafasnya yang panas membelai pipiku. “Ini waktunya.”

Air mata menyengat kedua mataku. Aku menggelengkan kepala, menolak untuk mengakui kebenaran dalam kata-katanya. “Aku belum siap.” 

Aku mendengar sebuah ketidaksenangan, mengeram serak dari jauh. Dia menjadi kaku. Aku tahu dia mendengarnya juga. Dia menjauhiku dan melirik ke belakang bahunya. Saat itulah aku melihat: selusin serigala beristirahat untuk menyerang di batas tepi hutan yang terbuka.

Lukas berbalik menatapku, kekecewaan terpancar di kedua mata peraknya. “Kalau begitu pilih salah satu. Tapi kau tidak akan bisa melalui semua ini sendirian.”

Dia membalikkan badannya dan mulai melangkah menuju para serigala.
“Tunggu!” aku berteriak memanggilnya.
Tapi sudah sangat terlambat.

Dia mulai membuang pakaian-pakaiannya dengan gerakan yang semakin cepat disetiap kalinya. Lalu dia berlari . Dia melompat ke udara –

Segera setelah dia membentur tanah, dia telah berubah menjadi seekor serigala. Dia bertransformasi dalam sekali kedipan berkilau dari laki-laki menjadi seekor binatang buas. Dia juga indah, sama indahnya seperti ketika ia dalam bentuk manusianya.

Dia memalingkan kepalanya dan mengonggong ke arah bulan, sebuah pertanda dari perubahan, pembawa takdir.
Suara kesedihan yang mendalam itu menggema hingga ke dalam diriku, memanggilku. Susah payah aku menolak untuk menjawab tetapi keliaran yang terletak jauh di dalam diriku terlalu kuat, terlalu teguh menginginkan jalan ini.

Aku mulai berlari kearahnya ....

Sangat sulit dipercaya bahwa kurang dari dua minggu yang lalu, aku menertawakan dan mengejek tentang pikiran bahwa werewolf itu memang benar-benar ada.

Dan sekarang, aku, Kayla Madison, akan menjadi salah satunya.



Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
ATAU, SEBENARNYA, DIA TERLIHAT SEPERTI MASON.

Dia – atau itu atau apapun – sangat sulit untuk dilihat. Aku harus memicingkan dan mengedipkan kedua mataku untuk memfokuskannya. Bentuknya seperti sebuah ilusi – hampir tembus cahaya – dan terus memudar dan hilang dari jarak pandangku.

Tapi ya, dari apa yang aku lihat, dia jelas terlihat seperti Mason. Roman wajahnya seolah memudar, membuat kulit putihnya semakin terlihat pucat dari yang pernah kuingat. Rambut kemerah-merahannya sekarang terlihat redup, seperti warna jeruk. Aku bahkan hampir tidak bisa melihat bintik-bintiknya. Dia mengenakan pakaian yang jelas sekali sama dengan yang terakhir kulihat: jeans dan jaket kuning dari bulu domba. Tepi sweater hijau mengintip dari ujung bawah lapisan jaketnya. Warna-warna itu, juga, terlihat sangat kabur. Dia terlihat seperti sebuah foto yang ditinggalkan seseorang di bawah matahari, membuatnya terlihat semakin memudar. Sebuah kilau yang sangat-sangat lemah terlihat disebagian besar roman wajahnya.

Bagian yang paling banyak mengenaiku – mengeyampingkan kenyataan bahwa dia seharusnya sudah mati – adalah bagaimana wajahnya terlihat. Wajahnya terlihat sedih – sangat, sangat sedih. Tegambar jelas dari matanya, aku merasa hatiku hancur. Semua ingatan mengenai apa yang telah terjadi beberapa minggu yang lalu mendadak kembali menyibukkan pikiranku.






Aku seakan melihat semuanya itu lagi: tubuhnya jatuh, wajah Strigoi yang kejam .... Sebuah gumpalan terbentuk di kerongkonganku. aku berdiri membeku, kaku dan tak mampu untuk bergerak. Dia menatapku juga, mempelajariku, ekspresinya tidak berubah. Sedih. Suram. Serius. Dia membuka mulutnya, seperti ingin bicara, dan kemudian menutup lagi. Beberapa kejadian berat menngantung diantara kami, dan dia mengangkat tangannya dan melambai padaku. Sesuatu dalam gerakan itu menghentakku keluar dari kelinglunganku. Tidak, ini tidak mungkin terjadi. Aku tidak benar-benar melihat semua ini. Mason sudah meninggal. Aku melihatnya meninggal. Aku memeluk jasadnya.

Jari-jarinya bergerak sedikit, seolah ia sedang memanggil, dan aku panik. Mempersiapkan beberapa langkah, aku memberi jarak diantara kami dan menunggu apa yang terjadi. Dia tidak mengejar. Dia hanya berdiri disana, tangan yang masih tergantung diudara. Hatiku meluncur dan berbalik, lalu lari. Ketika aku hampir meraih pintu, aku berhenti dan mengintip ke belakang, membiarkan nafasku yang tidak teratur menjadi tenang. Tempat dia tadinya berdiri sudah kosong. Aku berhasil mencapai kamarku dan membanting pintu di belakangku. Aku tenggelam di tempat tidurku dan mengulang apa yang baru saja terjadi. 

Bagaimana mungkin? Itu semua tidak nyata. Tidak mungkin. Mason sudah mati, dan semua orang tahu orang yang mati tidak mungkin kembali. Well, ya, aku memang hidup lagi ... tapi situasinya berbeda.

Jelas sekali aku hanya berimajinasi. Pasti begitu. Aku pasti begitu. Aku terlalu lelah dan masih berputar-putar pada masalah Lissa dan Christian, juga ketidakjelasan kabar Victor Dashkov. Mungkin cuaca dingin sudah membekukan sebagian otakku juga. Ya, semakin aku memikirkannya, semakin aku bisa memutuskan bahwa ada seribu penjelasan mengenai apa yang sudah terjadi. 

Tidak peduli seberapa sering aku mengatakan pada diriku sendiri, aku tidak bisa kembali tidur. Aku berbaring di tempat tidur, menutupi diriku sendiri hingga ujung daguku sebagai usahaku untuk menghilangkan gambaran menyeramkan dari pikiranku. Aku tak mampu. Segala yang mampu kulihat hanyalah kesedihan, mata yang sedih, mata itu seakan ingin mengatakan, Rose, kenapa kau biarkan ini terjadi padaku?

Aku memaksa mataku menutup, mencoba untuk tidak memikirkan Mason lagi. Semenjak pemakaman Mason, aku bekerja sangat keras untuk melanjutkan hidup dan bersikap seolah-olah aku kuat. Tapi kenyataannya adalah, aku begitu dekat dan tidak berdaya saat ia meninggal. Aku menyiksa diriku sendiri hari demi hari dengan pertanyaan bagaimana jika? Bagaimana jika seandainya aku bisa lebih cepat dan lebih kuat selama penyerangan strigoi itu? Bagaimana jika seandainya aku tidak mengatakan padanya dimana sarang Strigoi? Dan bagaimana jika seandainya aku menerima cintanya? Yang manapun dari pengandaian itu akan membuat Mason tetap hidup, tapi tidak satupun dari semua itu terjadi. Dan semua adalah salahku.

“Aku hanya menghayal,” aku berbisik nyaring pada kegelapan kamarku. Aku pastilah sedang berkhayal. Mason sudah menghantui mimpi-mimpiku. Aku tidak ingin melihatnya ketika aku terbangun juga. 

“Itu bukan dia,” satu-satunya yang mungkin adalah ...well, itu adalah hal yang tidak ingin aku pikirkan. Sebab ketika aku mempercayai adanya vampir, sihir, dan kekuatan fisik, aku harusnya tidak boleh percaya dengan keberadaan hantu. Tampaknya aku tidak bisa percaya pada ‘tidur’ juga, karena aku tidak cukup bayak mendapatkannya setiap malam. Aku terhempas dan berputar, tidak mampu untuk mendiamkan pikiranku sendiri. Aku akhirnya merasa melayang , tapi ini sepertinya dikarenakan aku mematikan alarmku dengan cepat supaya aku bisa tidur lebih lama beberapa menit lagi.

Bagi manusia, cahaya siang hari cenderung jauh dari kejaran mimpi buruk dan ketakutan. Aku tidak punya cahaya siang semacam itu, aku bangun dalam kegelapan. Tapi hanya terjadi apabila aku menjadi manusia normal untuk bisa merasakan efek yang sama, dan selama aku sudah sarapan dan melakukan latihan pagiku, aku menemukan bahwa apa yang aku lihat malam tadi – atau apa yang aku pikir lihat malam tadi – semakin tumbuh menakutkan dan semakin menakutkan dalam ingatanku.

Keanehan dalam pertemuan itu sudah tergantikan oleh sesuatu yang lain: kehebohan. Inilah saatnya. Hari besar. Latihan lapangan kami dimulai. Selama enam minggu ke depan, aku tidak perlu belajar di kelas. Aku akan menghabiskan waktuku bersama Lissa. Dan hal yang harus kulakukan saat itu hanyalah menulis laporan harian sepanjang setengah halaman saja. Mudah. Dan ya, tentu saja aku akan bertugas sebagai pengawal, tapi aku tidak terlalu memikirkannya. Karena hal tersebut adalah hal kedua yang sudah tumbuh alami dalam diriku. Dia dan aku sudah pernah hidup diantara manusia selama dua tahun, aku sudah melindunginya sepanjang waktu. Selain itu, ketika aku masih siswa baru, aku pernah melihat para pengawal merencanakan jenis tes latihan ini untuk para novis. Cobaannya hanyalah pura-pura, tentu saja. Seorang novis harus selalu waspada dan tidak boleh lengah – dan selalu siap untuk bertahan dan menyerang jika diperlukan. Tidak satupun dari semua itu membuatku khawatir. Lissa dan aku sudah ketinggalan tahun pertama dan kedua kami di sekolah. Terima kasih untuk latihan tambahanku dengan Dimitri, aku berhasil dengan cepat mengejar ketinggalanku dan menjadi yang terbaik di kelas sekarang. 

“Hey, Rose.”
Eddie Castile menyapaku ketika aku berjalan ke arah tempat latihan dimana pembukaan ujian lapangan akan dimulai. Selama beberapa saat, melihat Eddie seperti membuatku merasakan keberadaan Mason lagi, menatap dengan wajahnya yang terlihat menderita. 

Eddie – berjalan bersama pacar Lissa, Christian, dan seorang Moroi bernama Mia – merupakan bagian grup kami yang ikut tertangkap oleh Strigoi. Eddie tidak mati, tentu saja, tapi ia hampir mati. Strigoi yang memanfaatkan kami menggunakannya sebagai makanan, ia merupakan umpan dari Strigoi selama kami ditangkap dengan maksud untuk menggoda Moroi dan menakuti para dhampir. Ia berhasil, aku sangat ketakutan. 

Eddie yang malang sama sekali tidak sadar ketika siksaan itu terjadi, terima kasih pada darah yang hilang dan hormon endorfin yang datang dari gigitan vampir. Dia adalah sahabat Mason yang sama-sama lucu dan periang.

Tapi semenjak kami terbebas, Eddie berubah, sama seperti aku. Dia masih suka tersenyum dan tertawa, tapi ada sebuah aura suram dalam dirinya sekarang, dan tatapan matanya yang gelap dan serius seolah ia selalu waspada terhadap hal buruk yang mungkin terjadi setiap saat. Semua itu dapat dimengerti, tentu saja. Dia memang sudah melihat hal yang buruk pernah terjadi. Sama seperti kematian Mason, aku merasa bertanggung jawab atas perubahan dalam diri Eddie dan untuk semua penderitaannya ketika dalam genggaman Strigoi. Ini mungkin tidak adil bagiku, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku merasa seakan aku berhutang padanya sekarang, seakan aku harus melindunginya atau entah bagaiamana dekat dengan nya. 

Dan lucunya, aku merasa kalau Eddie juga berusaha melindungiku. Dia seperti membuntutiku atau apapun itu, tapi aku tidak terlalu memperhatikan tindakan pengawasannya. Kurasa setelah apa yang sudah terjadi, dia merasa berhutang terhadap mason dan membayarnya dengan cara menjaga pacarnya. Aku tidak terpikir untuk mengatakan kebenaran bahwa aku tidak pernah menjadi pacar Mason kepada Eddie, tidak dengan kata-kata langsung, sama seperti ketika aku tidak pernah memarahi Eddie untuk tingkahnya yang berulah seakan dia adalah kakakku. 

Aku bisa menjaga diriku sendiri. Tapi setiap kali aku mendengar ia memperingatkan cowok-cowok untuk tidak berani coba-coba mendekatiku, menunjukkan dengan sangat jelas kalau aku belum ingin berkencan dengan siapa pun, aku melihat kalau akau tidak punya alasan untuk menampik hal itu. Karena semuanya benar. Aku tidak siap untuk berkencan lagi.

Eddie memberikan senyuman miring di wajah panjang kekanak-kanakannya. “Apa kau bersemangat?”

“Tentu saja,” kataku. Teman-teman sekelas kami memenuhi satu sisi tempat latihan, dan kami menemukan area kosong di tengah-tengah ruangan. “Ini seperti mendapatkan perjalanan liburan. Aku dan Lissa, bersama-sama selama enam minggu.” Meski terkadang aku frustasi dengan ikatan yang ada di antara kami, namun ikatan itulah yang membuatku menjadi pengawal yang paling ideal bagi Lissa. Aku selalu tahu dimana ia berada dan apa yang sedang terjadi padanya. Ketika kami lulus dan melangkah ke dunia luar, aku akan menjadi pengawal resmi Lissa.

Eddie tiba-tiba terlihat berpikir. “Ya, kurasa kau tidak perlu terlalu khawatir. Kau tahu siapa yang akan menjadi tanggung jawabmu setelah lulus. Kebanyakan dari kami tidak seberuntung dirimu.”

“Kau sudah bisa menduga siapa keluarga kerajaan yang akan kau serang?” aku mengodanya. 

“Sebenarnya, itu bukan masalah. Kebanyakan dari para pengawal akan menjadi pengawal keluarga kerajaan sebenarnya.”
Dia benar. Kaum dhampir – setengah vampir seperti aku – jumlahnya sangat sedikit dan para keluarga kerajaalah yang mendapatkan kesempatan pertama untuk memilih pengawal. Memang pernah ada suatu masa dimana kaum Morai, baik keluarga kerajaan atau rakyat biasa, pasti memiliki seorang pengawal, dan para novis harus bersaing ketat untuk bisa menjadi pengawal resmi orang penting. Sekarang hampir tidak ada pemilihan karena setiap pengawal akan bekerja pada keluarga kerajaan. Kami tidak memiliki cukup banyak dhampir untuk keluarga yang kurang berpengaruh.

“Tetap saja,” kataku, “Rasanya tadi aku bertanya tentang keluarga kerajaan mana yang akan kau pilih, benarkan? Maksudku, sebagian dari mereka suka membanggakan diri, tapi banyak dari mereka yang tenang. Cari seseorang yang benar-benar kaya dan berkuasa dan kau akan tinggal bersama keluarga kerajaan dan bisa melakukan perjalanan ke tempat-tempat eksotis di dunia.” Bagian terakhir itu benar-benar menggambarkan tentang diriku. Aku selalu berfantasi kalau aku dan Lissa pergi keliling dunia.

“Yup,” Eddie setuju. Dia mengangguk pada beberapa cowok di deretan depan. “Kau tidak akan percaya kalau mereka bertiga menjilat beberapa keluarga Ivashkovs dan Szelskys. Padahal itu tidak akan berefek pada tugas kita disini, tentu saja, tapi kau bisa bilang kalau mereka mencoba mengatur rencana untuk mereka setelah kelulusan nanti.”

“Well, latihan lapangan memang dapat mempengaruhi. Nilai kita akan mempengaruhi catatan kita.”
Eddie mengangguk lagi dan mulai berbicara lagi ketika suara nyaring seorang wanita memutuskan percakapan kami. 

Kami berdua menengadah. Ketika kami bicara tadi, instruktur kami sudah berkumpul di bangku depan dan sekarang berdiri menatap ke arah kami yang sudah berbaris mengesankan.

Dimitri ada diantara mereka; gelap, mengagumkan, dan sangat menarik. Alberta sedang mencoba mendapatkan perhatian dari kami. Kerumunan kami mendadak diam. 

“Baiklah,” dia memulai. Alberta sebenarnya sudah terlihat berusia 50 tahunan. Melihat dia mengingatkanku pada percakapannya dengan Dimitri kemarin malam, tapi akan kusimpan itu untuk nanti. Victor Dashkov tidak boleh mengganggu momen ini.

“Kalian semua tahu kenapa kalian berada disini.” Kami menjadi semakin tenang, sangat menghayati dan bersemangat dengan suaranya yang bergaum di tempat berkumpul ini. “Ini merupakan hari terpenting dalam pedidikan kalian sebelum kalian menghadapai ujian akhir. Hari ini kalian akan mengetahui Moroi mana yang akan bersama kalian. Minggu lalu, kalian diberikan sebuah buku kecil dengan penjelasan penuh bagaimana enam minggu nanti berjalan. Aku percaya kalian akan membacanya dari sekarang.” Sebenarnya, aku sudah. Aku mungkin tidak pernah benar-benar mengahayati buku yang kubaca seperti itu sebelumnya dalam hidupku. 

“Hanya mengulang kembali, Pengawal Alto akan menerangkan bagaimana aturan utama dari latihan ini.” Dia menyerahkan sebuah clipboard pada Pengawal Alto. Dia adalah instruktur favorit terakhir dalam daftarku, tetapi setelah kematian Mason, beberapa ketegangan diantara kami sudah mulai membaik. Kami saling mengerti dengan lebih baik sekarang.

“Ini dia,” kata Stan dengan suara keras. “Kalian akan bertugas selama enam hari seminggu. Ini benar-benar sungguhan. Di dunia nyata, kalian biasanya bekerja setiap hari. Kalian akan menemani Moroi kalian kemanapun – ke kelas, asrama mereka, ketika mereka makan. Semua hal. Ini semua tergantung kalian untuk bisa beradaptasi dengan kehidupan mereka. Beberapa Moroi berinteraksi dengan pengawalnya seperti teman; sebagiannya lagi lebih memilih menganggap kalian seperti hantu yang tak terlihat yang tidak boleh berbicara dengan mereka.” Apakah dia benar-benar menyebut kata ‘hantu’? 

“Setiap situasi berbeda, dan kalian berdua akan menemukan penyelesaian terbaik bersama untuk memastikan keselamatan mereka. Serangan dapat datang kapan saja, dimana saja, dan kami akan berpakaian hitam ketika semua itu terjadi. Kalian harus selalu siap untuk melindungi. Ingat, meskipun kalian tahu benar kalau kamilah yang melakukan penyerangan, bukan Strigoi asli, tapi kalian harus merespon seakan hidup kalian dalam bahaya, bahaya yang datang mendadak. Jangan takut untuk menyakiti kami. Aku tahu sebagian dari kalian tidak ingin mendapat masalah nantinya karena menyakiti kami.” Beberapa siswa di dalam kerumunan terkikik.

“Sebagian dari kalian mungkin akan menahan diri karena rasa takut mendapatkan masalah. Jangan. Kalian akan semakin mendapat banyak masalah kalau kalian tidak melawan. Jangan khawatir. Kami bisa mengatasinya.”

Dia membalik lembar berikutnya di clipboard. “Kalian akan bertugas 24 jam perhari selama enam hari kerja, tapi kalian boleh tidur selama siang hari ketika para Moroi juga tidur. Waspadalah akan hal tersebut, meskipun Strigoi sangat jarang menyerang pada siang hari, mereka akan sangat mungkin berada di dalam ruangan, dan kalian tidak akan merasa ‘aman’ selama masa itu.”

Stan membaca beberapa masalah teknis lain dan aku menemukan diriku mengacuhkannya. Aku sudah tahu hal-hal itu. Kami semua tahu. Melirik kesekelilingku, aku bisa melihat bukan hanya diriku yang tidak sabar. Semangat dan kekhawatiran berderak di kerumunan. Tangan terkepal. Mata terbuka lebar. Kami ingin tahu siapa yang menjadi tanggung jawab kami. Kami ingin ini semua dimulai.

Ketika Stan selesai, dia mengembalikan clipboard kepada Alberta. “Baiklah,” katanya. “Aku akan memanggil nama kalian satu per satu dan akan mengumumkan dengan siapa kalian akan dipasangkan. Saat itu, silakan maju kesini dan Pengawal Chase akan memberikan paket berisikan informasi mengenai jadwal kegiatan Moroi kalian, masa lalu, dan lain-lain.”

Kami semua berdiri saat dia membalik kertasnya. Para siswa berbisik. Disampingku, Eddie menarik nafas berat. “Oh Tuhan. Kuharap aku mendapatkan seseorang yang baik,” dia menggumam. “Aku tidak ingin mendapatkan kisah menyedihkan untuk enam minggu mendatang.”

Aku meremas tangannya untuk menenangkannya. “Kau akan...” aku berbisik. “mendapatkan seseorang yang baik, maksudku. Tidak akan menjadi menyedihkan.”

“Ryan Aylesworth,” Alberta mengumumkan dengan jelas. Eddie tersentak dan aku langsung tahu mengapa. Dulu, Mason Ashford selalu menjadi yang pertama dipanggil dalam daftar kelas. Semua itu tidak akan terjadi lagi. “Kau berpasangan dengan Camille Conta.”

“Sial,” seseorang menggumam di belakang kami, siapa sebenarnya yang begitu berharap mendapatkan Camille. Ryan adalah orang yang berada di deretan paling depan dan dia menyeringai lebar ketika berjalan mengambil paketnya. Keluarga Conta adalah keluarga kerajaan yang sedang naik daun. Ada sebuah rumor mengatakan kalau ratu Moroi akan menuliskan keluarga Conta sebagai calon ahli warisnya. Ditambah lagi Camille sangat cantik. Mengikutinya kemana-mana bukanlah hal yang sulit bagi laki-laki manapun. Ryan berjalan dengan angkuh, terlihat sangat puas dengan dirinya sendiri.

“Dean Barners,” panggilnya lagi. “Kau dengan Jesse Zeklos.”

“Ugh,” Eddie dan aku sama-sama mengeram. Jika aku ditugaskan bersama Jesse, dia perlu pengawal tambahan untuk melindunginya. Dari aku.

Alberta terus menyebutkan nama, dan aku menduga Eddie berkeringat. “Tolong, tolong berikan aku orang yang baik,” dia menggumam.

“Kau akan mendapatkannya,”kataku. “Kau pasti akan mendapatkannya.”
“Edison Castile,” Alberta mengumumkan. Dia menelan ludah. “Vasilisa Dragomir.”
Eddie dan aku sama-sama membeku di lantai. Ketika ia melangkah melewati bangku-bangku, ia menatapku cepat, kepanikan terlihat diseluruh bahunya. Ekspresinya terlihat berkata, Aku tidak tahu apa-apa! Aku tidak tahu apa-apa!

Dunia disekitarku perlahan mengabur. Alberta terus memanggil nama-nama, tapi aku tidak mendengarkannya. Apa yang tengah terjadi? Jelas, seseorang telah membuat kesalahan. Lissa adalah tugasku. Dia harusnya menjadi tugasku. Aku akan menjadi pengawalnya ketika dia lulus nanti. Ini semua tidak masuk akal. Jantungku berdetak cepat, aku melihat Eddie melintasi Pengawal Chase dan mendapatkan paket dan tongkatnya. Dia segera melirik kearah kertasnya, dan aku menduga kalau dia sedang memeriksa ulang nama yang tertera disitu, memastikan kesalahan yang ada disana.

Ekspresi wajahnya ketika ia menengadah seakan mengatakan bahwa nama Lissa lah yang ia temukan. Aku mengambil nafas dalam. Oke. Jangan panik dulu. Seseorang melakukan kesalahan tulis disini, dimana masih bisa diperbaiki. Kebenarannya akan muncul, mereka harus segara memperbaikinya. Ketika mereka membaca namaku dan nama Lissa lagi, mereka akan sadar kalau mereka sudah mencatat dua kali nama Moroi yang sama.

Mereka akan segera meluruskannya dan memberikan Eddie Moroi lain. Selain itu, masih ada banyak Moroi yang bisa dipasangakan. Mereka lebih banyak daripada dhampir.

“Rosemarie Hathaway.” Aku menegang.”Christian Ozera.”
Aku menatap Alberta, tidak mampu bergerak atau merespon. Tidak. Dia tidak mengatakan apa yang sudah aku pikirkan. Beberapa orang yang menyadari lambatnya pergerakanku, menatapku. Aku kaget. Ini tidak mungkin terjadi. Khayalan Masonku malam tadi terlihat lebih nyata daripada semua ini. beberapa saat kemudian, Alberta juga menyadari aku tidak bergerak. Dia mengangkat wajahnya dari kertasnya dengan kesal, memindai kerumunan.

“Rose Hathaway?”
Seseorang menyikutku, seolah mungkin aku tidak menyadari namaku sendiri. Aku berdiri dan berjalan di belakang kursi-kursi itu, seperti robot. Ada yang salah. Pasti ada yang salah. Aku menuju Pengawal Chase, merasa seperti boneka yang dikontrol oleh seseorang. Dia menyerahkan paketku dan tongkat latihan yang dimaksudkan untuk ‘membunuh’ para guardian dewasa, dan aku menuju orang berikutnya. Tidak percaya, aku membaca nama yanga ada di paket itu tiga kali. Christian Ozera. 

Paket itu terbuka, aku melihat kisah hidup Christian terhampar di depanku. Foto terbaru. Jadwal kelasnya. Riwayat keluarganya. Biodatanya. Bahkan tertulis detil sejarah tragis orang tuanya, bagaimana mereka memilih untuk menjadi Strigoi dan sempat membunuh beberapa orang sebelum akhirnya di buru dan dibunuh.

Jalan cerita kami setelah ini telah terbaca berdasarkan berkas yang kami miliki, mengemas tas, kemudian bertemu dengan Moroi kami di saat makan siang. Semakin banyak nama-nama disebutkan, semakin banyak teman sekelsku yang bertahan di sekitar tempat berkumpul, berbicara dengan temannya dan menyombongkan paket mereka. Aku melayang-layang di dekat satu grup, diam-diam menunggu kesempatan untuk berbicara dengan Alberta dan Dimitri. Ini adalah tanda keberhasilan dari latihan kesabaranku karena aku tidak segera mendatangi mereka dan menuntut jawaban. Percaya padaku, aku ingin sekali. Malah, aku membiarkan mereka menyelesaikan daftar itu, tapi ini seperti selamanya, lama sekali. Sejujurnya, berapa lama sih waktu yang dibutuhkan untuk membaca semua nama itu?

Ketika novis terakhir mendapatkan nama Moroi yang ditugaskan kepadanya, Stan meneriaki kami yang sedang hiruk pikuk untuk bergerak ke tahap tugas berikutnya dan mencoba untuk mengeluarkan teman-teman sekelasku. Aku memotong kerumunan dan berjalan ke arah Dimitri dan Alberta , yang syukurlah sedang berdiri berdampingan. Mereka sedang berbicara mengenai hal administrasi dan tidak menyadari kehadiranku pada awalnya.

Ketika mereka akhirnya melirik padaku, aku menodongkan paketku dan menujuk. “Apa ini?” Wajah Alberta terlihat kosong dan bingung. Sesuatu dari gerakan Dimitri mengatakan bahwa ia tahu hal ini akan terjadi. 

“Itu adalah tugasmu, Nona Hathaway,” Alberta menjawab.

“Bukan,” aku berkata sambil mengertakkan gigi. “Bukan ini. Ini adalah tugas orang lain.”

“Tugas dalam latihan lapangan bukan pilihan,” katanya tegas.

“Sama seperti tugasmu di dunia nyata nanti. Kau tidak bisa memilih siapa yang akan kau pilih berdasarkan hasrat dan keinginan, tidak disini dan jelas tidak setelah kelulusan.”

“Tapi setelah kelulusan, aku akan menjadi pengawal Lissa!” aku berseru. “Semua orang tahu itu. Aku seharusnya memilikinya dalam hal ini.”

“Aku tahu bahwa hal tersebut merupakan ide yang bisa diterima kalau kalian akan bersama setelah kelulusan, tapi aku tidak bisa mengubah hukum wajib manapun yang mengatakan bahwa kau ‘sudah seharusnya’ memiliki dia atau siapapun yang ada disini, di sekolah. Kau harus menerima siapapun yang sudah menjadi tugasmu.”

“Christian?” aku melempar paketku ke lantai. “Kau sudah gila kalau kau berpikir aku mau melindunginya.”

“Rose!” bentak Dimitri, ikut dalam akhir pembicaraan. Suaranya yang sangat keras dan tajam mengejutkanku dan membuatku lupa dengan apa yang baru saja aku katakan. “Kau sudah kelewatan. Kau tidak boleh bicara seperti itu kepada instrukturmu.”

Aku benci disalahkan oleh orang-orang. Khususnya disalahkan olehnya. Dan aku sangat benci disalahkan olehnya ketika ia memang benar. Tapi aku tak mampu menolong diriku sendiri. Aku sangat marah dan korban dari kurang tidur. Sarafku terasa sakit dan tegang, membuat hal kecil terlihat sangat sulit untuk diterima. Dan hal besar seperti ini? Tidak mungkin untuk diterima.

“Maaf,” aku berkata dengan rasa enggan. “tapi ini sangat bodoh. Sama bodohnya dengan tidak membawa kami ke persidangan Victor Dashkov.”

Alberta mengedipkan mata, terkejut. “Bagaimana kau tahu – sudahlah. Kita akan membicarakannya nanti. Untuk sekarang, ini adalah tugasmu, dan kau harus melakukannya.”

Eddie tiba-tiba berbicara disampingku, suaranya dipenuhi keprihatinan. Aku sempat melupakannya beberapa saat yang lalu. 
“Dengar ... Aku tidak keberatan ... kita bisa bertukar ...”

Alberta menunjukkan tatapan batunya kepadaku dan Eddie. “Tidak, tentu saja kalian tidak bisa melakukannya. Vasilisa Dragomir adalah tugasmu.” Dia memandangku lagi. “Dan Christian Ozera adalah milikmu. Diskusi berakhir.”

“Ini sungguh bodoh!” aku mengulang lagi. “Kenapa aku harus membuang waktuku dengan Christian? Lissa lah yang akan bersamaku setelah kelulusan. Harusnya jika kalian ingin aku mampu melakukan tugasku dengan baik, kalian sudah semestinya memasangkan aku dengan Lissa.”

“Kau akan melakukan yang terbaik untuknya,” jawab Dimitri. “Sebab kau mengenalnya. dan kau memiliki ikatan. Tapi disuatu tempat, suatu hari, kau mungkin akan berakhir dengan Moroi yang berbeda. Kau perlu belajar bagaimana cara melindungi seseorang yang tidak pernah bersamamu sebelumnya.”

“Aku pernah bersama-sama dengan Christian,” aku menggerutu. “Itulah masalahnya. Aku membencinya.”Ok, sekarang memang sudah sangat berlebihan. Christian membuatku kesal, sungguh, tapi aku tidak benar-benar membencinya. Seperti yang sudah kukatakan, bekerja sama melawan Strigoi sudah mengubah banyak hal. Lagi, aku merasa sepertinya rasa kurang tidur dan rasa marah yang umum terjadi, membuatku seperi orang sinting yang mencari-carai kesalahan dimana saja.

“Itu lebih baik,” kata Alberta. “Tidak semua orang yang akan kau lindungi adalah temanmu. Kau harus mempelajari semua ini.”

“Aku perlu belajar bagaimana caranya melawan Strigoi,” jawabku. “aku sudah mempelajarinya di kelas.” aku meralat dengan tatapan tajam, siap untuk memainkan kartu truf ku. “Dan aku sudah melatihnya dengan seseorang.”

“Masih ada banyak hal lain yang harus dikerjakan dari pada hanya masalah teknis seperti ini, Miss Hathaway. Semua ini hanya karena aspek pribadi, jika kau bisa menyadarinya – yang artinya kami tidak akan menyetuh terlalu banyak di kelas. Kami mengajari mu bagaimana caranya berhadapan dengan Strigoi. Kau perlu tau caranya belajar menghadapi Moroi sendirian. Dan dalam kasusmu kau harus belajar bagaimana caranya menghadapi Moroi yang bukan menjadi teman baikmu selama bertahun-tahun.”

“Kau juga harus belajar bagaimana caranya bekerja dengan seseorang yang tidak bisa secara langsung kau ketahui dalam bahaya,” tambah Dimitri.

“Benar,” Alberta setuju. “Ini adalah rintangan. Jika kau ingin menjadi pengawal yang hebat – jika kau ingin menjadi pengawal yang unggul – berarti kau harus melakukan apa yang kami katakan padamu.”

Aku membuka mulutku untuk melawan semua ini, untuk menyatakan pendapat bahwa dengan berlatih bersama seseorang yang sudah kukenal baik akan membuatku lebih cepat menjadi pengawal yang hebat bagi Moroi manapun. Dimitri memotong keinginanku.

“Bekerja dengan Moroi yang lain juga akan menolong Lissa untuk tetap bisa bertahan hidup,” katanya. Membuatku menutup mulutku. Hanya itu satu-satunya alasan yang tidak bisa kusanggah, dan sialnya, Dimitri tahu itu.

“Apa maksudmu?” tanyaku.

“Lissa juga memiliki rintangan – kau. Jika dia tidak pernah belajar bagaimana rasanya dijaga oleh seseorang tanpa hubungan batin, dia mungkin akan mengalami banyak resiko ketika diserang. Melindungi seseorang adalah hubungan sesungguhnya antara dua orang. Tugas ini adalah latihan lapangan untuk kebaikanmu dan juga dirinya.”

Aku tetap diam ketika memproses kata-katanya. Kata-kata itu hampir menyentuhku.

“Dan,” Alberta menambahkan,”ini adalah satu-satunya tugas yang bisa kau dapatkan. Jika kau menolak, maka kau keluar dari latihan lapangan ini.”

Keluar? Apa dia sudah gila? Ini bukan kelas yang bisa kutinggalkan pergi untuk satu hari. Jika aku tidak melakukan latihan lapanganku, aku tidak bisa lulus. Aku ingin meledak karena semua ketidakadilan ini, tapi Dimitri menghentikanku tanpa menggunakan sepatah kata pun. Ia terus menunjukkan tatapan mata yang tenang di kedua mata hitamnya yang menahanku untuk bertindak, mendorongku untuk menerimanya dengan hati lapang – atau semampu yang aku bisa. 

Dengan malas aku mengambil paketku. “Baik,” kataku dingin. “Aku akan melakukannya. Tapi aku ingin semua ini dicatat sebagai bentuk perlawananku atas penolakan kehendak.”

“Kurasa kami sudah bisa menduganya, Miss Hathaway,” Alberta berkomentar datar.

“Terserahlah. Aku masih berpikir kalau ini adalah ide yang buruk dan kau nantinya juga akan menyadarinya.”

Aku berbalik dan bergegas pergi melintasi ruang tersebut sebelum satu dari mereka bisa meresponnya. Dengan melakukan ini, aku mengerti benar kalau aku terlihat seperti pecundang kecil. Tapi jika mereka bisa menahan kehidupan seks sahabatnya, terlihat seperti hantu, dan selalu mendapatkesulitan ketika tidur, artinya mereka juga pecundang. ditambah lagi, aku akan menghabiskan enam minggu bersama Christian Ozera. Dia sinis, sangat menyulitkan, dan membuat lelucon mengenai semua hal.

Sebenarnya, dia sangat mirip denganku.
Ini akan menjadi enam minggu yang panjang.

Diterjemahkan langsung dari Novel Vampir Academy: Shadow Kiss karya Richelle Mead oleh Noor Saadah. This is truly  fanmade and  no profit work.
Share
Tweet
Pin
Share
5 komentar


Sebenernya gag bisa di bilang 'the movie' juga sih, karena ini animasi dari komik 'Honey x Honey Drops'. Imuuut bangeeeet,,,,hehehehe. Sayangnya ceritanya gag terlalu panjang *yang di upload d you tube.... Ada 2 volume yang dibagi menjadi 6 scene. Ceritanya juga agak sedikit berbeda dari komiknya, tapi tokoh dan arah cerita masih sama kok. Yang penting cute!!!! Honey x Honey Drops menceritakan tentang kehidupan cinta yang rumit antara Hagino Yuzuru dan masternya, Renge Kai. Apa itu master??? Gini nih, Sekolah Yuzuru, Hojo High School, memiliki dua tingkat sosial sehingga membaginyanya menjadi dua kelas, kelas normal & kelas Kuge. Nah, Yuzuru berasal dari kelas normal karena dia anak orang biasa-biasa saja. Suatu hari, ketika Yuzuru bekerja sambilan musim panas di sebuah hotel, dia terlibat perkelahian kecil dengan salah satu siswa kelas Kuge, Renge Kai. Tak disangka, Renge KAi membalas perlakuan tidak sopan Yuzuru dengan menjadikannya sebagai seorang "Honey"."Honey" adalah sebutan bagi para asisten siswa kelas Kuge. Siswa kelas Kuge merupakan anak-anak dari orang kaya. Sehingga mereka membutuhkan asisten untuk membuat mereka lulus meskipun mereka bersekolah dengan santai. Nah, para asisten ini biasanya dipilih berdasarkan kepintarannya dan mereka mendapatkan banyak bonus ekstra jika mau menjadi seorang Honey. Menjadi Honey para siswa Kuge merupakan sebuah anugerah besar karena mereka dianggap bekerja sehingga mendapatkan banyak tunjangan, dari bebas biaya sekolah, mendapatkan fasilitas mewah dalam belajar, mendapatkan uang ekstra, serta juga ikut sekelas dengan siswa Kuge.

Bedanya, Yuzuru dijadikan Honey oleh Kai hanya sebagai pengisi waktu luangnya saja. Karena Kai sangat pintar dan tidak membutuhkan seorang asisten, lagipula Yuzuru adalah siswa bodoh dan gaptek. hahaha.

Selama menjadi Honey, Yuzuru sering mendapat masalah, dari pelecehan yang dilakukan Kai, teman sekelas yang tidak suka keberadaannya, hingga game honey drops yang sangat aneh.

Game ini merupakan permainan basket antar siswa dan para Honey mereka. Dan bagi siapa saja saja yang berada di urutan terbawah, harus membuang Honey mereka. 

Untuk itulah, Yuzuru berusaha buntuk tidak dipecat sebagai Honey, dan berusaha berlatih basket dengan Kai. Apalagi rasa sayang sudah tumbuh diantara mereka berdua. Semakin hari Kai dan Yuzuru semakin dekat, hubungan mereka tidak lagi seperti tuan dan bawahan, tapi seperti pasangan kekasih. Hanya saja, mungkin terlihat seperti budak nafsu. hehehe

Disaat mereka berdua sudah menyadari perasaan masing-masing, masalah baru muncul lagi. Kai sudah ditunangkan!

Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Buku baru karya Stephenie Meyer udah terbit lagi. Mungkin buat menebus kekecewaan para 'Twilight Mania' atas tidak-jadi-terbitnya Midnight Sun. Sayangnya, nih buku masih belum terbit di Indonesia karena mungkin baru aja rilis di sono tanggal 5 Juni tadi. Yah, moga-moga aja, penerbit Indonesia dengan secepat kilat juga akan menerbitkannya di sini karena harga untuk buku aslinya lumayan mahal juga kalo ditambah ongkos kirimnya. Hehehe. Palagi kalo pake bahasa Inggris, rada susah buat ngehayatinnya *bagi diriku sieh ^ . ^ Novel ini merupakan bagian dari The Twilight Saga: The Official Guide, tapi novel yang dikatakan pendek ini sebenarnya cukup panjang juga. "The Short Second Life of Bree Tanner berisikan beberapa minggu keeksistensian newborn (vampir baru) sebelum pertarungan besar (antara The Cullens dan tentara vampir) di dalam cerita Eclipse," kata Meyer. "Ini bercerita tentang minggu terakhir sebelum Bree mati."

Di bawah judul, ada keterangan 'an eclipse novella'. Yang mungkin artinya jika dilihat dari kata 'novella'nya merupakan side story Eclipse yang bukan novel, tapi juga bukan merupakan novelet, jadi kmflik yang mucul tidak sebanyak novel, tapi cukup banyak dibandingkan cerpen.




Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Jari-jarinya meluncur disepanjang punggungku, memberikan penekanan–penekanan tertentu dibeberapa titik, mengirimkan gelombang gairah di seluruh daging yang menempel ditubuhku. Perlahan-lahan, tangannya bergerak diatas kulitku, turun ke samping perutku, kemudian berakhir di lekukan pinggulku. Tepat di bawah telingaku, kurasakan bibirnya menekan leherku, diikuti oleh ciuman-ciumannya, lalu yang lainnya,
kemudian yang lainnya....

Bibirnya bergerak lagi dari leherku kemudian pipiku dan akhirnya menemukan bibirku. Kami berciuman, berpelukan hingga kami begitu dekat. Darahku terbakar bersamaku, dan aku merasa lebih hidup saat ini daripada hidup yang pernah kurasakan sebelumnya. Aku mencintainya, sangat mencintai Christian yang –

Christian?




Oh tidak.
Beberapa bagian dari diriku tiba-tiba menyadari apa yang sebenarnya terjadi –dan ya Tuhan, hal ini membuatku kesal. Sebagiannya lagi, bagaimanapun juga, masih saja pasrah menikmati kejadian ini, menganggap bahwa akulah yang sedang disentuh dan dicium. Bagian dari diriku yang tidak mampu terlepas. Aku terlalu dekat dengan Lissa, dan karena segala kedekatan dan maksud inilah semua ini terjadi padaku.

Tidak, aku berbicara keras dengan diriku sendiri. 'Ini tidak nyata—tidak untukmu. Pergi dari sana.

Tapi bagaimana aku bisa mendengarkan logika ketika setiap inci dari tubuhku sedang terbakar gairah?

Kau bukan dia. Ini bukan kepalamu. Keluar.

Bibirnya. Tidak ada sesuatu apapun di dunia ini sekarang selain bibirnya.

Ini bukan dia. Keluar.

Ciumannya sama, benar-benar sama seperti ciuman yang kuingat kulakukan dengannya. …
Tidak, ini bukan Dimitri. Keluar!

Nama Dimitri seperti air dingin yang menampar wajahku. Aku berhasil keluar.
Aku duduk tegak di atas ranjangku, tiba-tiba merasa seperti habis tercekik. Ku coba menendang selimutku menjauh, tapi ternyata hanya berakhir dengan terlilit dikaki-kakiku. Jantungku berdetak cepat dalam dadaku, dan aku mencoba untuk menarik napas dalam-dalam, berusaha perlahan-lahan mengatur menenangkan diri dan kembali ke kehidupan nyataku sendiri. Zaman pastilah sudah berubah. Dulu, mimpi buruk Lissalah yang membangunkanku dari tidurku. Sekarang kehidupan seksnya lah yang melakukannya. Menganggap kedua hal tersebut tidak memiliki perbedaan terlalu jauh untuk bisa dimengerti. Aku sebenarnya sudah membatasi diriku sendiri untuk terlibat dari kehidupan cinta Lissa – sebenarnya hanya ketika aku bangun. Sekarang, Lissa dan Christian sedang (tanpa sengaja) mengakaliku. Ketika tidur, benteng pertahananku melemah, mengizinkan emosi yang kuat untuk melewati hubungan fisik terkoneksi antara aku dan sahabatku. Ini tidak akan jadi masalah jika kami berdua ada di atas ranjang dengan kegiatan seperti orang normal pada umumnya – dan “ada di atas ranjang” yang kumaksud adalah “tidur”.

“Tuhan,” aku berkomat-kamit sendiri, duduk tegak dan mengayun-ayunkan kakiku di samping tempat tidur. Suaraku sudah diikuti diriku yang menguap. Tidakbisakah Lissa dan Christian benar-benar bisa menjaga tangan mereka masing-masing hingga waktunya bangun?

Lebih buruk daripada terbangun, meski, itulah yang aku rasakan sekarang. Tentu, tidak satupun dari semua hal itu terjadi padaku. Bukan kulitku yang sedang disentuh atau bibir ku yang sedang berciuman. Meskipun begitu tubuhku lah yang terlihat seperti sedang melakukannya. Sebenarnya sudah terlalu lama aku tidak lagi terjebak dalam situasi seperti itu. Aku merasa sakit dan hangat diseluruh tubuh. Ini semua sungguh idiot, tapi tiba-tiba, dengan sangat menyedihkan, aku menginginkan seseorang untuk menyentuhku, meski hanya dengan memelukku saja. Tapi tentu saja aku tidak mengharapkan Christian yang melakukannya. Ingatan tentang bibir yang menyentuh bibirku seolah tergambar ulang dalam pikiranku, bagaimana rasanya, dan bagaimana imajinasiku menganggap dengan pasti bahwa Dimitrilah yang sedang menciumku.

Aku berdiri dengan kaki gemetar, merasa putus asa dan...well, sedih. Sedih dan hampa. Berusaha pergi dari suasana hatiku yang aneh, aku memasang jubah dan sendalku dan pergi kekamar mandi di bawah. Aku memercikkan sebanyak mungkin air dingin ke wajahku dan menatap kaca. Bayanganku menatapku dengan rambut kusut dan mata merah. Aku terlihat kurang tidur, tapi aku tidak ingin kembali ke ranjangku. Aku tidak ingin mengambil resiko dan jatuh tertidur lagi. Aku butuh sesuatu untuk membuatku tetap bangun dan menghapus semua yang sudah aku lihat.


Aku meninggalkan kamar mandi dan menuju tangga , setiap langkah kakiku terasa ringan seperti aku turun tangga tadi. Lantai pertama asramaku masih tenang dan sunyi. Sebenarnya  ini sudah hampir tengah hari – tengah malam waktu vampir,  sejak mereka menyesuaikan jadwal nokturnal mereka. Mengintai  dari pinggir pintu,  aku memindai  lobi. 

Ruangan itu kosong, selain seorang laki-laki Moroi yang sedang duduk di meja depan. Dia membuka-buka majalahnya dengan malas, dihadapkan pada kebenaran, hanya sebagai selingan saja. Dia sampai pada lembar terakhir majalahnya dan kemudian menguap lagi. Dia memutar kursinya, melemparkan majalahnya ke meja di belakangnya, dan menggapai sesuatu untuk dibaca lagi. Ketika punggungnya berbalik, aku meluncur melewatinya menuju pintu double yang terbuka di luar. Berdoa pintu itu tidak akan berderit, aku hati-hati membukanya dalam satu tarikan, asal cukup untukku menyelinap keluar. Setelah diluar, aku kemudian menutup pintu itu selembut yang aku bisa. Tanpa suara. Biasanya, anak-anak lelaki akan merasa seperti anak panah. Merasa seperti seorang ninja, aku melangkah ke arah terangnya hari.

Angin dingin menampar wajahku, tapi ini lah yang memang aku butuhkan. Dahan pohon tak berdaun  mengayun bersama angin, menggaruk dinding batu asrama seperti jari-jemari. Matahari mengintip padaku diantara awan yang berwarna,  membuatku ingat seharusnya aku sedang tertidur lelap diranjangku. Memicingkan mata terhadap cahaya, aku menyentakkan jubahku dan berjalan disisi gedung, menuju sebuah titik diantara sisi ini dengan tempat latihan yang tidak terlalu begitu terkena efek cuaca ini. Lumpur salju disisi jalan menyembur karena sendalku, menyemprot pakaianku, tapi aku tak peduli.

Yeah, ini benar-benar tipikal hari-hari musim dingin yang kacau di Montana, tapi itulah intinya. Udara segar banyak membantu membangunkanku dan mengehentikanku mengejar  sisa-sisa adegan cinta virtual. Ditambah lagi, semua ini menjagaku untuk tetap sadar agar tetap berada dalam tubuhku sendiri. Fokus terhadap tubuhku yang membeku lebih baik daripada mengingat bagaimana rasanya ketika tangan Christian menyentuhku. 

Berdiri disitu, menatap jejeran pohon-pohon tanpa benar-benar melihatnya, aku cukup syok ternyata terdapat percikan kecil kemarahan dalam diriku untuk Lissa dan Christian. Seharusnya hal tersebut bukan masalah, kepahitan yang kurasakan ketika memikirkannya, melakukan apapun yang kau ingin lakukan.  Lissa selalu berkata kalau ia berharap ia bisa merasakan pikiranku juga dan mengalami bagaimana aku merasakan dirinya juga.

Kebenarannya adalah, dia tidak tau betapa beruntungnya dia. Dia tidak mengerti bagaimana rasanya ketika pikiran orang lain mengambil alih pikiranmu sendiri, Pengalaman orang lain mengacaukan milikmu . Dia tidak tahu bagaimana rasanya hidup dengan pengalaman kesempurnaan cinta seseorang dalam kepalamu  saat kau sendiri tidak memilikinya. Dia tidak mengerti bagaimana rasanya ketika dirimu dipenuhi oleh cinta yang kuat yang mampu menyakiti dadamu – sebuah cinta yang hanya bisa kau rasakan dan tidak bisa kau tunjukkan. Menjaga cinta agar tetap terkubur seperti mengurung kemarahan, aku belajar. Ini semua memakanmu dari dalam hingga kau ingin berteriak dan menendang sesuatu.

Tidak, Lissa tidak akan mengerti satu pun dari semua itu. Dia tidak mungkin bisa. Dia bisa menghadapi segala masalah percintaannya, tanpa sedikitpun  perduli dengan apa yang sudah ia lakukan padaku.

Aku sadar kemudian ketika aku menarik nafas dalam-dalam, kali ini dalam kemarahan. Pancaran perasaan sentimentil tengah malam yang kurasakan dari Lissa dan Christian sudah hilang. Semua itu sudah digantikan oleh rasa marah dan cemburu, lahir perasaandari apa yang tidak bisa kumiliki dan apa yang begitu mudah ia dapatkan.  Aku mencoba semampuku untuk menelan emosi –emosi itu kembali; aku tidak ingin merasakan hal itu terhadap sahabatku.

“Apa kau tidur sambil berjalan?” sebuah suara bertanya di belakangku.
Aku berputar mencari-cari, kaget. Dimitri berdiri memandangku, terlihat antara terhibur dan penasaran. Aku membayangkan ketika aku kesal terhadap segala masalah ketidakadilan kehidupan cintaku, sumber masalah itu ternyata  menjadi satu-satunya yang menemukanku.

Aku tidak menyadari kehadirannya sama sekali. Benar-benar berarti banyak untuk kemampuan ninjaku. Dan sejujurnya,  apakah kemampuan tersebut akan membunuhku jika kucoba untuk mengambil sisir sebelum aku keluar tadi? Buru-buru, aku menyisirkan jariku ke rambutku yang panjang, tahu kalau itu semua sudah terlambat.  Rambutku pastilah terlihat seperti ada seekor binatang mati yang berada di atas kepalaku.

“Aku hanya menguji keamanan asrama,”kataku. “Payah sekali ternyata.”
Sebuah senyuman tersembunyi bermain dibibirnya.  Udara dingin kini mulai merembes masuk ke dalam tubuhku sekarang, dan aku tidak bisa berbuat apa-apa selain memikirkan betapa hangatnya jaket panjangnya itu kelihatannya. Aku tidak keberatan untuk merampasnya.

Seperti bisa membaca pikiranku, dia berkata,” kau pasti kedinginan. Kau ingin jaketku?”

Aku menggelengkan kepala, memutuskan untuk tidak mengatakan kalau aku sudah tidak bisa merasakan kakiku juga. “Aku baik-baik saja. Apa yang kau lakukan di luar sini? Apa kau juga sedang mencoba menguji keamanan juga?”

“Akulah yang sedang tugas menjaga keamanan. Ini jam kerjaku.” Penjaga sekolah bergantian berpatroli ketika semua orang sudah tidur. Strigoi, vampir yang tidak mati yang selalu mengintai vampir Moroi seperti Lissa, tidak keluar pada siang hari, tapi para siswalah yang melanggar peraturan- seperti, curi-curi keluar dari asrama – adalah masalah malam dan siang.

"Well, kerja yang bagus," kataku. "Aku senang bisa membantu menguji kemampuanmu yang mengagumkan. Aku harus pergi sekarang.”

"Rose—" Dimitri menangkap tanganku, dan melenyapkan semua angin dan udara dingin dan lumpur salju, demam menyerangku mendadak. Dia melepaskanku dengan tiba-tiba, seolah dia juga terbakar. “Apa yang sebenarnya sedang kau lakukan disini?”

Dia menggunakan suara ‘berhenti membodohi sekitarmu’, jadi aku berikan dia jawaban yang paling meyakinkan yang kupunya. “Aku bermimpi buruk. Aku butuh udara segar.”

“Dan kau seenaknya keluar. Kau melanggar  peraturan, apakah semua itu tidak terlintas dipikiranmu –dan sama sekali tidak memakai jaket.”

“Ya,” kataku.”Rangkuman yang bagus.”

“Rose, Rose.” kali ini dengan suara  putus asanya. “Kau tidak pernah berubah. Selalu melompat dulu sebelum berpikir.”

“Itu tidak benar,” aku protes. “Aku sudah banyak berubah.”

Wajah menghiburnya tiba-tiba memudar, ekspresinya berubah menjadi bermasalah. Dia mempelajari aku selama  beberapa saat. Terkadang aku merasa kalau matanya itu seperti bisa menembus kedalam jiwaku. “Kau benar. Kau sudah berubah.”

Dia tidak terlihat senang dengan semua itu. Dia tadi mungkin sedang memikirkan apa yang terjadi tiga minggu yang lalu, ketika aku dan beberapa orang teman ditangkap oleh Strigoi. Hanyalah sebuah keberuntungan kami bisa berhasil melepaskan diri – dan tidak semua berhasil. Mason, seorang teman baik dan cowok yang tergila-gila padaku, terbunuh, dan sebagian dari diriku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri, meskipun aku sudah membunuh pembunuh Mason.

Semua itu memberikan ingatan terburuk dalam hidupku. Sebenarnya, semua itu memberikan kenangan buruk  pada semua orang di Akademi St. Vladimir, tapi aku pada khususnya. Yang lain mulai menyadari perbedaan dalam diriku. Aku tidak suka Dimitri mengkhawatirkanku, jadi, aku bermain dengan candaanku.

“Well, jangan khawatir. Ulang tahunku akan segera tiba. Sebentar lagi usiaku 18 tahun, aku akan menjadi orang dewasa, ya kan? Aku yakin aku akan bangun di pagi hari dan menemukan semua didiriku menjadi lebih dewasa.”

Seperti yang kuharap, dia menunjukkan senyuman kecilnya. “Ya, aku yakin itu. Kapan ulang tahunmu, bulan apa?”

“Tiga puluh-satu hari lagi,” aku mengumumkannya.

“Kamu tidak seharusnya menghitung.”

Aku mengangkat bahu, dan dia tertawa.

“Aku menebak kau sudah mempunyai daftar permohonan juga. Sepuluh halaman? satu spasi? Diurutkan berdasarkan prioritas?” senyumnya masih ada di wajahnya.
Ini semua membuatku lebih santai, keseriusannya untuk menghiburku  seperti ini dulu jarang terjadi padanya.

Aku hampir mau memulai candaan yang lain, tapi gambaran Lissa dan Christian berkobar di pikiranku lagi. Rasa sedih dan hampa  berlanjut di perutku.  Segala yang aku inginkan – pakaian baru, iPod, apapun – tiba-tiba terlihat sepele. Materi apa yang bisa dibandingkan dengan satu-satunya hal yang paling ingin kudapatkan? Tuhan, aku benar-benar sudah berubah.

“Tidak,” kataku dalam suara kecil.”Tak ada daftar.”

Ia memiringkan kepalanya agar bisa benar-benar melihat wajahku, membuat sebagian rambut sebahunya menyapu wajahnya. Rambutnya cokelat, seperti rambutku, tapi tidak terlalu gelap. Rambutku terkadang terlihat hitam. Dia menyisir untaian rambutnya kesamping, hanya membuat rambut itu kembali menyapu wajahnya lagi. 

“Aku tak percaya kau tidak menginginkan apapun. Ini akan menjadi ulang tahun yang paling  membosankan.”

Kebebasan, pikirku. Hanya itu hadiah yang aku nantikan. kebebasan untukku membuat pilihan sendiri. Kebebasan untuk mencintai seseorang yang aku inginkan.

“Bukan masalah,” kataku langsung.

“Apa yang kau –“ dia berhenti. Dia mengerti. Dia selalu mengerti. Ini adalah bagian mengapa kami selalu bisa terhubung seperti sebelum-sebelumnya,  selain perbedaan 7 tahun usia kami.  Kami sudah sama-sama saling menjatuhkan semenjak dia menjadi instruktur  bertarungku. Meski sudah ada yang memanas diantara kami berdua, kami menemukan banyak hal untuk dikhawatirkan selain perbedaan usia itu.  Kami berdua akan menjadi penjaga Lissa setelah dia lulus,  dan kami tidak bisa membiarkan perasaan yang kami alami ini mengganggu kami ketika Lissa lah yang seharusnya menjadi prioritas.

Tentu saja, semua itu lebih gampang diucapkan daripada dilakukan sebab aku tidak jamin perasaan kami ini benar-benar akan hilang. Kami punya saat-saat dimana kami begitu lemah, saat ketika kami mencuri ciuman atau berbicara mengenai hal-hal yang tidak seharusnya kami katakan.

Setelah aku dapat melarikan diri dari Strigoi, Dimitri berkata bahwa ia mencintaiku dan dengan sungguh-sungguh bersumpah kalau dia tidak akan bersama orang lain karena cinta itu. Namun, semua itu memperjelas keadaan kalau kami memang tidak bisa bersatu, dan kami harus kembali pada aturan lama yaitu menjaga jarak satu sama lain dan berpura-pura kalau hubungan kami hanyalah hubungan profesional yang tidak bisa diganggu gugat.

Dalam usaha mengubah subjek pembicaraan secara halus, ia berkata,”Kau dapat menyanggah semaumu, tapi aku tahu kau membeku. Ayo masuk ke dalam. Aku akan mengikutimu dari belakang.” 

Aku tidak dapat menyembunyikan perasaan terkejutku. Dimitri sangat jarang menghindari subjek yang tidak menyenangkan. Faktanya,  dia lebih terkenal dengan kegemarannya mendorongku untuk masuk dalam  topik pembicaraan yang tidak ingin kuikuti. Tapi membicarakan tentang ketidakmampuan kami? Hubungan terlarang? Akan menjadi topik yang tidak ingin ia bicarakan sekarang. Ya. Segalanya benar-benar berubah.

“Menurutku kaulah satu-satunya yang benar-benar dingin,” aku menggodanya ketika kami berjalan di sisi asrama dimana para novis tinggal. “Harusnya kan kau selalu berpikir dan bertindak dengan dingin karena kau dari Siberia?”

“Aku tidak yakin dengan kondisi Siberia yang kau bayangkan.”

“Aku membayangkannya seperti sebuah negara di bagian Kutub Utara,” kataku jujur.

“Jadi memang bukan itulah yang kau bayangkan.”

“Apa kau merindukannya?” aku bertanya, melirik ke belakangku tepat dimana ia berada. Itu merupakan sesuatu yang tidak pernah terpikirkan olehku. Dalam pikiranku, semua orang menginginkan tinggal di Amerika Serikat, well, mereka tidak mungkin mau tinggal di Siberia.

“Setiap waktu,” katanya, suaranya sedikit sedih. “Terkadang aku berharap –“

“Belikov!” Sebuah suara dibawa oleh angin yang muncul dari belakang kami. Dimitri merasakan sesuatu, dan kemudian dia mendorongku lebih jauh ke sudut dimana aku berdiri.

“Tetap di bagian yang terang.” Aku merunduk dibalik  deretan pohon holy yang diapit bangunan. Tidak ada buah,  tapi rantingnya tajam, daun yang runcing menggores kulitku. Menyadari temperatur yang membeku dan kemungkinan ditemukannya perjalanan tengah malamku,  beberapa goresan hanya akan menjadi masalah terakhirku.

“Ini bukan jam kerjamu,” aku mendengar Dimitri berbicara beberapa waktu yang lalu.

“Bukan, tapi aku perlu berbicara denganmu.” aku mengenali suara itu. Suara milik Alberta, Kepala penjaga Akademi.

“Hanya beberapa menit. Kita butuh pengaturang ulang jam kerja ketika kamu sedang dalam persidangan.”

“Aku mengerti,” katanya. Sangat lucu, hampir nada-nada tidak nyaman muncul dalam suaranya.

“ Ini akan membuat semua orang tegang –waktu yang tidak tepat.”

“Ya, sebenarnya, sang ratu berjalan sesuai dengan yang  dijadwalkan.” Alberta terdengar frustasi dan aku mencoba mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi. “Celeste akan menggantikan jam kerjamu, dia dan Emil akan berbagi waktu untuk jadwal latihanmu.”

Jadwal latihan? Dimitri tidak akan memegang pelajaran latihan apa pun minggu depan karena – Ah. Tentu semua itu, aku mengerti. Ujian lapangan. Besok akan membuang enam minggu pelajaran teori bagi para novis seperti kami. Kami tidak memiliki kelas dan akan melindungi Moroi siang dan malam sementara para orang dewasa akan menguji kami. “Masa persidangan” adalah masa dimana Dimitri pastilah mengambil bagian. Tapi pengujian seperti apa yang sebenarnya Alberta maksudkan? Apakah maksudnya seperti ujian akhir yang harus kami lalui ketika berada di tingkat akhir sekolah?

“Mereka bilang tidak masalah harus memiliki kerja tambahan,” Alberta melanjutkan, “Tapi aku berharap bisakah  kalau kau mengecek dan mengambil jadwal kerja mereka sebelum kau pergi?”

“Tentu saja,” katanya, selalu saja singkat dan kaku.

“Terima kasih. Kupikir ini akan membantu.” Alberta mendesah. “Aku berharap aku tahu berapa lama  sidang ini akan berlangsung. Aku tidak ingin semua ini terlalu lama. Kau pikir ini sebuah kesepakatan dengan Dashkov, tapi sekarang sang ratu menjadi ragu mengenai pemenjaraan anggota kerajaan.”

Aku membeku. Udara dingin di musim dingin yang menyelimutiku sekarang tidak perlu melakukan apapun. Dashkov?

“Aku yakin mereka melakukan hal yang benar,” kata Dimitri. Aku sadar pada saat itu mengapa dari tadi  dia tidak berkata banyak. Ini semua mengenai hal yang tidak ingin kudengar.

“Aku harap juga begitu. Dan kuharap ini hanya akan berlangsung beberapa hari, seperti yang mereka katakan. Lihat, semua jadi kacau sekarang. Maukah kau ke kantor sebentar untuk melihat jadwalnya?”

“Tentu,” katanya.” Biarkan aku mengecek sesuatu terlebih dahulu.”

“Baiklah. Sampai ketemu lagi.”

Keheningan menyelimuti, dan aku menyimpulkan kalau Alberta sudah berjalan menjauh. Sangat yakin, Dimitri mengitari sudut dan berdiri tepat di depan pohon holy. Aku muncul dari tempat persembunyianku. Apa yang terlihat diwajahnya menggambarkan kalau dia sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Rose –“

“Dashkov?” aku memastikan, mencoba menjaga suaraku tetap kecil supaya Alberta tidak mendengarnya.

Dan dia pun tidak menyanggahnya sama sekali. “Ya. Victor Dashkov.”

“Dan kalian membicarakan tentang ... maksudmu ...” aku sangat kaget, sangat merasa dibodohi, bahwa pikiranku bisa kosong bersama-sama. Ini sungguh tidak bisa dipercaya.

“Kupikir dia sudah dipenjara! Apa maksudmu dia belum disidang?”
Ya. Ini sungguh sangat tidak bisa dipercaya. Victor Dashkov. Lelaki yang membuntuti  dan menyiksa pikiran dan tubuh Lissa untuk menggunakan kekuatan Lissa.

Setiap Moroi bisa menggunakan salah satu sihir dari empat elemen: bumi, udara, air, atau tanah. Lissa, sayangnya, memiliki sihir kelima yang hampir punah bernama roh. Dia dapat menyembuhkan apapun – termasuk yang sudah mati. Inilah alasan mengapa aku secara fisik terhubung dengannya –“dicium bayangan’’, begitulah sebutannya. Dia menghidupkanku kembali dari kecelakaan mobil yang menewaskan orang tua dan kakaknya, mengikat kami selalu sehingga mengizinkanku untuk merasakan pikiran dan apa pun yang sedang ia lakukan.

Victor sudah mengetahuinya jauh sebelum kami tahu bahwa Lissa bisa menyembuhkan,  dan dia ingin mengasingkan Lissa dan menggunakannya sebagai pengembali masa mudanya untuk dirinya sendiri. Dia bahkan tidak ragu untuk membunuh orang-orang yang menghalangi jalannya – atau dalam hal ini Dimitri dan aku, menggunakan berbagai cara licik untuk menghentikan lawannya.

Aku punya banyak musuh dalam tujuh belas tahun ini, tapi aku sangat yakin kalau tidak ada seorang pun yang bisa mengalahkan kebencianku terhadap Victor Dashkov- sepanjang dia masih hidup.

Wajah Dimitri menunjukkan ekspresi yang aku kenal. Ekspresi ketika dia berpikir aku mungkin meninju seseorang.

“Dia harusnya dikurung—tapi tidak, belum ada sidang. Proses hukum terkadang memerlukan waktu yang lama.”

“Tapi seharusnya sudah ada sidang sekarang? Dan kau akan pergi?” Aku berbicara dengan gigi terkatup, mencoba untuk tenang. Aku menduga aku masih punya wajah yang terlihat aku akan meninju seseorang.

“Minggu depan. Mereka memerlukan aku dan beberapa orang pengawal untuk bersaksi mengenai apa yang telah terjadi dengan kau dan Lissa malam itu.”  Ekspresinya berubah ketika menyebutkan kejadian empat bulan yang lalu itu, dan lagi, aku mengenali ekspresi itu.  Itu adalah ekspresi sengit, saat dia ingin memberikan perlindungan ketika orang yang ia pedulikan dalam masalah.

“Sebut aku sudah gila karena menanyakan hal ini, um, apakah Lissa dan aku akan pergi bersamamu?” aku sudah menduga jawabanya, dan aku sungguh tidak suka.

“Tidak.”

“Tidak?”

“Tidak.”

Aku meletakkan tangan dipinggang. “Dengar, bukankah masuk akal jika kau pergi untuk mengatakan apa yang terjadi pada kami, kau berarti juga harus membawa kami kesana?”

Dimitri sepenuhnya berubah menjadi instruktur yang keras sekarang, ia menggelengkan kepala. “Sang ratu dan beberapa penawal beranggapan kalian tidak perlu pergi karena ini demi kebaikan kalian. Sudah banyak cukup bukti dari kami, disamping itu, penjahat atau tidak, dia adalah – atau pernah menjadi – satu dari keluarga kerajaan yang berkuasa di dunia. Itulah mengapa sidang ini dilakukan sembunyi-sembunyi.”

“Jadi apa? Kau pikir jika kami ikut kami akan memberitahukan kepada semua orang?” aku berseru.

“Ayolah, rekan. Apa kau pikir kami akan benar-benar melakukannya? Satu-satunya yang kami inginkan hanyalah melihat Victor dipenjara. Selamanya. Mungkin dalam waktu yang sangat lama. Dan jika suatu saat ada kemungkinana dia akan keluar dengan bebas, kau harus membiarkan kami pergi.”

Setelah Victor ditangkap, di dipenjarakan, dan kupikir cerita itu sudah berakhir. Aku membayangkan ia membusuk di penjara. Ini tidak mungkin terjadi padaku – karena kupikir memang sudah seharusnya begitu – ia masih memerlukan sebuah sidang terlebih dahulu. Saat itu, kejahatannya sudah terlihat sangat jelas.  Tapi, meskipun pemerintahan Moroi merupakan pemerintahan rahasia dan tidak tergabung dengan pemerintahan milik manusia, tetap saja dijalankan dengan cara yang sama. Karena adanya proses dan semua itu.

“Ini bukan keputusanku,” Dimitri berkata.

“Tapi kau punya pengaruh. Kau dapat berbicara untuk kami, khususnya jika ...” sebagian kecil kemarahanku mereda, digantikan oleh rasa takut yang tiba-tiba dan mengejutkan. Aku hampir tidak bisa mengucapkan kata-kata berikutnya. “Khususnya jika dia memiliki kemungkinan untuk bebas. Apa itu benar? Apa ada kemungkinan sang ratu akan membiarkannya bebas?”

“Aku tidak tahu. Terkadang apa yang dilakukan sang ratu dan keluarga kerajaan yang lain tidak dapat kita prediksikan.” Mendadak dia terlihat sangat lelah. Dia merogoh sakunya dan menarik satu set kunci.

“Dengar, aku tahu kau marah, tapi kita tidak bisa membicarakan ini sekarang. Aku harus pergi menemui Alberta, dan kau juga harus kembali ke dalam. Kunci yang kotak akan membuka pintu samping. Kau tahu yang mana.”

Aku tahu.”Ya. Trims.”

Aku merajuk dan benci situasi kami menjadi seperti ini –khususnya sejak menyelamatkanku dari masalah – tapi aku tak mampu menolong diriku sendiri. 


Victor Dashkov adalah penjahat keji – bahkan ia adalah seorang bajingan. Dia lapar kekuasaan dan serakah dan tidak peduli siapapun yang menghalangi jalannya. Jika dia mendapat kelonggaran lagi ... well, tidak ada yang bisa dikatakan apa yang mungkin akan terjadi pada Lissa atau Moroi yang lain. Pikiran bahwa aku bisa saja membantu mengenyahkan dia tapi tak seorangpun yang membiarkanku melakukannya, membuatku sangat marah.

Aku baru saja mengambil beberapa langkah menjauh ketika Dimitri memanggilku dari belakang.

“Rose?” Aku melirik ke belakang.

“Aku minta maaf,” katanya. Dia terdiam, dan ekspresi penyesalannya berubah menjadi ekspresi waspada.

“Dan kau sebaiknya mengembalikan kunci-kunci itu besok.”

Aku berbalik dan melanjutkan langkah. Ini semua mungkin tidak adil, tapi bagian kekanak-kanakanku percaya kalau Dimitri dapat melakukan apapun. Jika dia benar-benar menginginkan aku dan Lissa dipersidangan, aku yakin dia bisa melakukannya.

Ketika aku hampir berada di pintu samping, aku menangkap bayangan pergerakan yang tidak kukenali. Suasana hatiku langsung berubah. Bagus. Dimitri memberikan kunci untukku menyelinap masuk, dan sekarang orang lain yang akan menangkapku. Ini merupakan tipikal keberuntungaku.  Setengah berharap seorang guru akan menuntut untuk tahu apa yang sebenarnya sedang kulakukan, aku berbalik dan mempersiapkan sebuah alasan.
Tapi, itu bukanlah seorang guru.

“Tidak,” kataku pelan. Ini pastilah sebuah lelucon. “Tidak.”

Selama beberapa saat, aku berharap jika aku benar-benar sudah bangun. Mungkin aku sebenarnya masin berada di tempat tidur, sedang lelap, dan bermimpi.

Sebab pastinya, pastinya ada sebuah penjelasan untuk apa yang aku lihat sekarang  dihalamaan Akademi di hadapanku,  bersembunyi di bawah bayangan sebuah benda kuno, monggol pohon ek.

Adalah Mason.

Diterjemahkan langsung dari Novel Vampir Academy: Shadow Kiss karya Richelle Mead oleh Noor Saadah. This is truly  fanmade and  no profit work.
Share
Tweet
Pin
Share
8 komentar
Newer Posts
Older Posts

AUTHOR

AUTHOR
TWILIGHT HUNTER, AN AUTHOR & AN ORDINARY ACOUSTIC PERFORMER WHO'S CRAVING FOR BEAUTY PICTURES

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • pinterest
  • google+
  • instagram
  • bloglovin

Labels

  • BOOK
  • CATATAN KULIAH
  • CHICKEN SOUP
  • CONTEST
  • FASHION
  • MOVIE
  • MUSIC
  • REVIEW
  • TES POTENSI AKADEMIK
  • TRAVEL STORY
  • VAMPIRE ACADEMY

Total Pageviews

Powered by Blogger.
Facebook Twitter Instagram Pinterest Bloglovin

Created with by BeautyTemplates